17 October 2017

Minta Ongkos Pulang

Meskipun gue nggak terlalu suka dengan fitur timeline yang ada di Line, gue beberapa kali membukanya untuk sekadar baca-baca artikel dari official account atau status dari teman-teman. Status yang di-like teman pun ikut-ikutan muncul di timeline sehingga mau nggak mau ikutan kebaca. Bagus kalau yang muncul kontennya menarik. Bagaimana kalau sebaliknya?

Berarti, kalau begini jadinya, siasatnya adalah: selamat pilih-pilih teman.



Gue terpikirkan dua jenis tulisan berbentuk curhat yang sering muncul di timeline Line. Entah kenapa, curhat ini kebanyakan ditulis oleh akun dengan foto atau nama perempuan. Jenis post itu adalah: 1) Post pelecehan seksual dan 2) Post cerita orang asing minta uang. Untuk yang pertama, gue jarang baca sampai selesai karena baru sampai pertengahan atau saat bagian konflik, gue ngilu bacanya.

Untuk contoh yang kedua, gue beberapa kali nggak terlalu permasalahin. Cuma ada orang tua, entah pura-pura atau sungguhan, minta uang. Jadi, cerita lengkapnya kira-kira begini:

Penulis bercerita sedang dalam perjalanan. Dalam perjalanan dia bertemu seseorang yang tidak dia kenal, lalu orang itu meminta ongkos untuk pulang dengan alasan yang beragam (misalnya, habis dijambret, dicopet, dipalak, digendam).

Sampai pada suatu hari, gue ikut-ikutan menulis seperti orang yang dimaksud.

^^^

Saat itu gue pulang lebih awal dari hari-hari biasanya. Biasanya gue baru keluar dari UNJ setelah Magrib, kali ini gue pulang sekitar pukul 4. Perkiraan sampai di halte tujuan gue terakhir sekitar pukul 6. Dengan begitu gue masih sempat mampir ke masjid untuk salat Magrib.

Agak tanggung sebenarnya untuk pulang berbarengan dengan jam pulang kantor. Di jalan hampir pasti ada kemacetan. Di Jakarta, jarak sedekat apa pun yang akan ditempuh, dalam keadaan macet, akan sama waktunya dengan perjalanan mencapai gelar doktor.

Di jalan sudah pasti macet. Gue khawatir nggak sempat salat Magrib. Maka dari itu, gue agak ragu pulang pada saat jam pulang kantor.

Benar saja. Di sekitar daerah Semanggi jalanan sudah macet. Jalanan dipenuhi kendaraan yang kebasahan kena hujan. Gue di dalam bus kedinginan. Kondisinya mendukung banget buat makan mi rebus. Ditambah pemandangan menghibur dari pengendara yang bingung mau neduh di mana.

(Oh, bukan menghibur ya?)



Waktu azan Magrib sudah hampir dekat. Sedangkan gue tidak kunjung sampai di halte Grogol untuk selanjutnya transit ke halte Rawa Buaya. Sebenarnya di halte Grogol ada tempat kecil untuk salat tanpa perlu tap out kartu. Jadi, nggak usah tap in dan saldo kartu kepotong. Gue harus bisa sampai sana, tapi jalanan masih macet banget dan halte Grogol masih jauh. Daripada nggak kebagian salat Magrib, lebih baik gue turun.

Setelah turun dan keluar dari halte, yang harus gue lakukan adalah: mencari musala atau masjid. Sayangnya, gue nggak tau adanya di mana. Sepanjang jalan gue susuri, melewati jalan-jalan yang gelap sambil nahan rasa takut. Ya, gimana nggak takut. Setiap ada cerita kejahatan yang tersebar di media sosial tempat paling banyak terjadi, ya, di jalan.

Sekitar lima belas menit berjalan di sepanjang trotoar Slipi, akhirnya gue menemukan satu musala. Entahlah, itu tempat perbelanjaan atau bank. Yang penting, gue ketemu musala. Gue merasa sedikit lebih tenang.

^^^

Selepas salat Magrib, gue kembali menyusuri trotoar untuk mencari halte terdekat untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan Transjakarta. Langkah kaki gue yang begitu cepat tak terasa mengantarkan gue sedikit lagi menuju sampai halte. Di antara langkah gesit gue, ada suara yang membuat langkah gue melambat.

“Mas, mas.”

Gue melanjutkan jalan sambil menggeleng. Gue sadar waktu ngetik ini, kenapa waktu itu gue ngegeleng ya? Itu spontan gue lakukan.

“Mas, mau tanya,” kata seorang berkemeja merah buah persik. Kemejanya lusuh, khas kemeja para pekerja keras. Gue segera menghampirinya sambil beristigfar. Gue waswas banget di jalan seperti ini diberhentikan seseorang. Kendaraan semuanya ngebut. Jadi, kalau gue diapa-apain, nggak ada yang bisa dengar teriakan gue.

“Mas, kalau mau ke Jawa Barat ke mana ya?”

“Hah?” Jujur, gue bingung. Ini apa, sih, maksud pertanyaan doi?

“Ke Bandung, Mas. Tau arahnya nggak?”

“Hmmmm.”

Ah, gila. Gila. Bener-bener gila. Masalahnya, INI JAKARTA. BARAT PULA. Ngapain nanya yang jelas-jelas jauh? Kedengarannya kayak temen gue lagi bercanda di sekolah, terus nanya, “Kalau mau ke Swedia ke arah mana ya?”

“Ke ... ke ... ya, ke arah sana, Pak.” Gue asal-asalan mengarahkan tangan. Gue nunjukin ke arah dari mana gue berasal. Kira-kira ke “sana” artinya makin ke timur.

“Oh, gini deh.” Si bapak berhenti sejenak bicara. “Adek bisa bantu bapak nggak?”

Gue hanya diam, tapi dia telanjur mengartikannya “bisa”.

“Jadi, boleh anterin saya ke sana nggak?”

Gue masih nggak ngerti orang ini ngomong apa dari tadi. Tadi nanya jalan, sekarang minta antar. Lho, kenapa dia malah manja sama gue? Untuk beberapa saat yang gue lakukan hanya diam, mikir, dan istigfar. Ngeri aja kalau ending-nya gue kena gendam.

“Saya cuma mau dianterin aja, Dek.” Mukanya kini memelas. “Jadi, saya ini dari Bandung. Baru tadi pagi ke sini, mau ketemu saudara di Slipi tapi alamatnya nggak ketemu. Siang tadi, tas saya dicopet di bus yang warna ijo itu, tuh.” Dia mengingat-ingat sesuatu. “Kopaja. Nah, iya.”

“Sudah seharian ini saya cari alamat rumahnya, tapi nggak ketemu. Tas isinya dompet sama surat-surat hilang semua.”

Gue masih menyimak. Masih mencari pola dan maksud dari apa saja yang si bapak omongin. Gue sampai-sampai lupa, halte Transjakarta sudah semakin dekat, begitu juga deadline laporan praktikum semakin mepet.

“Dari kering, basah kena hujan, sampai kering lagi ini, Dek, baju saya. Nggak ketemu-ketemu alamatnya.”

“Terus, Pak?”

“Iya, Dek, nggak ketemu alamatnya. Saya bingung. Saya bingung mau ke mana.”

“Hmmm., gitu ya.”

“Cuma adek yang ada di sini, sekiranya adek bisa nolong saya.”

“Iya, Pak. Ngerti, ngerti.”

Padahal gue bingung dari tadi lagi ngapain di sini sama bapak-bapak kebingungan.

^^^

“Saya bisa bantu apa, Pak?”

Gue harus segera minta kejelasan dari permasalahan ini. Gue malas dengar kalimat-kalimatnya yang membingungkan. Entah bingungin atau karena gue lagi nggak nyambung, pokoknya gue harus cepat pulang.

“Saya mau pulang, Dek. Tapi saya bingung, nggak punya apa-apa lagi. Rumah saudara nggak ketemu-ketemu. Saya harus pulang besok, Dek.”

“Hmmmm.”

Apa yang si bapak ucapkan selama 5 menit terakhir membuat otak gue kesulitan berpikir. Apalagi hal-hal lain yang membuat gue merasa terdesak, membuat gue kebingungan.

“Gini aja deh, Dek,” si bapak mulai mendapat solusi atas masalahnya sendiri. “Kamu tahu nggak dari sini naik apa ke Bandung?”

“Nggak tau.”

Lalu kami sama-sama diam. Gue nggak betah ditahan-tahan begini. Masalah harus segera selesai.

“Saya mau pulang, Dek. Saya harus ke Bandung besok. Karena adek ada di sini, saya mohon adek bisa bantu orang tua kesusahan seperti saya. Coba adek bayangkan, orang tua adek kena musibah seperti saya.”

Skakmat. Kenapa gue mendadak merasa ada di acara renungan malam?

“Saya nggak punya uang,” katanya.

Gue hanya mengangguk, udah nggak mampu berpikir mau melakukan apa. Gue sudah tertahan cukup lama dan sulit keluar dari sini.

“Saya mohon sama adek. Cuma adek yang ada di sini.” Si bapak mukanya semakin memelas. Di pojok matanya ada air yang mau netes, tapi tertahan. “Saya harus pulang. Saya mohon adek mau bantu saya ngasih ongkos pulang. Berapa saja yang penting ikhlas, Insya Allah nanti saya ganti. Saya besok datang ke rumah adek bawa mobil sekeluarga.”

Lho? Hah? Gue makin nggak paham kenapa dia mau ke rumah gue. Tolong, ini gue lagi diapain, sih? Jangan-jangan dia mau ... ngelamar gue?

“Maksud bapak?” tanya gue yang makin kebingungan. “Atau ikut saya dulu aja ke rumah. Tapi rumah saya kecil, cuma kontrakan aja, sih.”

“Nggak, nggak. Bukan gitu maksud saya.” Dia melambaikan tangannya secepat kilat. “Intinya saya malam ini harus pulang, Dek. Tapi saya bingung mau ke mana.” Dia menatap jalanan untuk waktu yang lama, lalu berkata, “Ternyata Jakarta lebih jahat daripada ibu tiri ya, Dek.”

Pak, kalimatnya nggak begitu kalau mau melucu....

Belum sempat gue mau bilang begitu, dia semakin merengek seperti anak kecil. Rengekannya bukan sambil gosek-gosekin kaki ke tanah dan guling-guling. Lebih menyedihkan daripada itu.

“Saya takut, Dek. Saya bingung mau ke mana sekarang.”

“Coba, Pak ... Bapak ke masjid dulu.”

Kalimat ini sering gue keluarkan untuk menenangkan teman-teman di sekolah dulu ketika gelisah mau ulangan. Siapa tau ampuh buat mengurangi kecemasan si bapak.

“Ke masjid mah nggak bakal bisa nyampe ke Bandung, Mas.”

Astagfirullah. Saran gue ditolak mentah-mentah.

“Ya sudah, kalau adek memang nggak mau menolong saya, nggak apa-apa. Saya nggak maksa. Tapi, coba bayangin aja kalau posisi orang tua adek ada seperti pada posisi saya. Kalau saya jadi adek, pasti saya tolong orang tua itu.”

“Gimana ya, Pak? Saya juga bingung ini.”
“Gini aja, Dek. Saya minta uang sedikit aja. Nanti saya ganti, tenang aja. Saya dateng ke rumah adek. Berapa pun, Dek.”
“Sebentar ya, Pak.” Gue membuka tas dan membuka dompet di dalamnya.
“Aduh, saya jadi nggak enak, Dek. Saya kesannya kayak minta-minta gini.”

Gue berikan si bapak dua lembar uang lima ribuan.

“Cuma sepuluh aja, ya, Dek? Saya butuh tiga puluh ribu buat naik bus ke Bandung.”
“Nggak ada lagi, Pak. Beneran deh.” Gantian gue yang memelas. Sukurin lu.
“Ya, tapi gimana ya. Saya harus pulang, Dek.”

“Aduh, saya juga bingung, Pak.” Gue benar-benar bingung saat ini. Kalau gue kasih semua uang yang ada di dompet, gue nggak akan bisa naik angkot nanti. Perjalanan dari halte Rawa Buaya untuk sampai ke rumah masih berjarak 4,5 km lagi dan butuh naik angkot. Mana mungkin gue jalan kaki? Capek.

“Terserah, Dek. Tapi coba dipikir-pikir lagi aja. Masa iya, saya nipu orang, saya lagi kesusahan begini. Saya mohon, Dek. Saya harus pulang ke Bandung, ke Jalan Dago.”

Wait, wait. Gue mau berhenti nulis ini sebentar mumpung masih dalam keadaan bercermin atas kejadian waktu itu.

Awalnya si bapak nanya jalan, nah sekarang KENAPA JADI MALAK YA? Udah dikasih sepuluh ribu malah minta tambah.

“Sebentar, Pak.” Gue mengambil uang tiga ribu dan memberikannya ke si bapak. Itulah uang terakhir gue di dompet. Pupus sudah untuk naik angkot. Mau nggak mau jadinya jalan kaki deh.

“Ini masih kurang sebenarnya, Dek. Saya butuh tiga puluh ribu.”


BODO AMAT!

^^^

Akhirnya, gue berhasil pergi dari si bapak. Nggak tau kenapa, gue masih nggak ikhlas dan mulai kepikiran kalau dia itu menipu. Dari cerita-cerita yang pernah gue baca di timeline Line, kebanyakan modus-modus “minta ongkos pulang” sudah banyak tersebar. Tapi setelah di bus, gue pelan-pelan mulai berusaha berpikiran positif. Bagaimana kalau beneran dia kecopetan? Bagaimana kalau ternyata dia beneran tersesat? Pikiran negatif gue usir jauh-jauh.

Sembari duduk di dalam bus, gue nanya ke teman-teman di grup kelas. Rata-rata teman gue bilang mereka pernah ketemu dengan hal serupa. Namun, sesuatu hal yang aneh muncul dalam kepala gue. Setelah curhat di grup kelas, gue mulai mikir ... eh iya, nyesek juga ya duit abis begini? Mana harus pulang jalan kaki pula.

LAH INI GUE DIHIPNOTIS BUKAN, SIH?! Kalau bukan, kenapa gue dari tadi nggak sadar? Kalau benar dihipnotis, kenapa gue masih ingat percakapan-percakapannya?

Gue mulai mikir negatif lagi sepanjang trotoar di perjalanan pulang. Asem bener, lah.

^^^

Sampai rumah, gue langsung cerita ke Mama.

“Ya udah, ikhlasin aja. Di mes (rumah gue yang dulu) juga pernah ada kayak gitu. Mama ngasih aja. Pas di pabrik ada temen yang cerita, ternyata orangnya sama dan ngomongnya sama.”

Gue harus segera merasa biasa saja. Nggak usah menyesali banget. Kalau benar nyasar, bagus (lho, kenapa malah bagus?). Kalau bohong, anggap saja gue sedang bayar pembicara buat Renungan on The Road sekaligus drama. Biaya pembuatan naskah itu mahal.

Sumber gambar:
https://giphy.com/gifs/romy-monkey-bus-famous-8yyJH4yzqgx0Y
http://houzbuzz.com/2789-2/
https://tenor.com/search/angry-gifs

20 comments:

  1. Rasanya pengin nyanyi, "Lo kemas cerita sedih, jualan lontong sayur. Melacur demi iba air mata orang yang mengguyur."
    Tapi liriknya diganti jadi: "Lo kemas cerita sedih, katanya habis dicopet. Padahal lu itu cuma malak gue, kampret!"

    Nggak apa, Rob. Lumayan jadi ide cerita buat di blog. Besok-besok kalau ada lagi, kasih aja semampunya. Dua ribu juga gak apa. Berasa ngasih tukang parkir. Wq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu lagu siapa? :(

      Iya, ya. Akhirnya bisa nulis lagi setelah ada kejadian kayak begini. Hahaha. Tadinya mau gitu. Tapi nggak enak, dua lembar gocengan muncul begitu aja di dompet.

      Delete
  2. Biaya bikin naskah emang mahal, tapi nggak sepuluh ribu jugaaaaa... kalo ketahuan junjungan bisa didebat ini. konten placement aja mestinya minimal 100K.

    kasian bapaknya. untung nyasarnya di wilayah slipi, coba kao nyasar di TMII, 30 rebu cuma bisa muter2 TMII naik kereta doang.

    Kalo di kalomantan sini, jarang sih ada yg bilang nyasar buat nipu. palingan yang klasik kayak belom makan dari kemaren. tapi kalo urusan tipuan, nggak ada yg sehebat tukang asusarnsi sih. mereka ampe nyewa bayar di lorong tempat masuk penumpang kapal di pelabuhan. dia duduk sendiri dan nyediain meja dna berkoar2 kalo gak bayar asuransi nanti kalo terjadi apa2 gak bakal dibantu. dgn lalu lalang org yg sebanyak itu, dan sepanik itu, dia malah memeperkeruh dan mengambil keuntungan dari org yg panik. pinter dan bangsat kan...

    untuk situasi yg uangnya gak bisa balik lagi, ya ikhlas adalah pilihan yg baik. soalnya kalo nggak ikhlas malah nambahi masalah. udah uang ludes, ketenangan juga ludes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Haw: Oh iya dimarahin junjungan nanti kalau bercandain fee. Khilaf.
      Itu masih inget aja dah yang TMII. Inget kopdar pertama. xD

      Kak Icha: Dia kan idola WIRDY.

      Delete
  3. Awalnya aku juga ngga percaya sama yang beginian, Rob. Terus pas pernah ngalamin sendiri, baru tau dah rasanya "kurang ikhlas" pas ngasih duit ke penipu macam ini. Mana orangnya udah sepuh juga. Mau nggak nolong juga kasihan. Tapi pas habis sampai kostan, dipikir-pikir lagi, sayang banget duit segitu dikasih ke orang lain.

    Terus sekarang mulai hati-hati kalau ada orang asing yang tetiba SKSD, terus nanya-nanya daerah gitu. Pinter-pinter ngeles biar bisa kabur aja XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan kan kan, kepikirannya setelah di rumah. Ngeselin emang! Ini kenapa makin emosi deh? :(

      Harus pake alasan yang keren nih. *catet jadi ide postingan*

      Delete
  4. ((BAWA MOBIL SEKELUARGA))

    Masih bikin ngakak aja anjis. Padahal dah diceritain di grup WA juga. Hahahahahak.

    Ih aku awalnya kasihan sama si Bapak, tapi makin ke bawah makin ngeselin ya. Iya bener tuh. Kayak malak. Katanya berapapun mau aja diterima. Tapi dikasih dua lembar lima ribuan kok protes? Hhhhh.

    Seperti kata Yoga dan Haw, nggak papa, Rob. Lumayan bisa punya pengalaman dimintain ongkos pulang gitu. Jadi kalau ngebaca artikel di Line Today soal kayak gitu, bakal ngerasa relate. Bacanya jadi sampe habis deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serba salah dan bikin curiga kan jadinya? Huhuhu, enaknya ditinggal aja harusnya.

      Lumayan, buat bahan nulis blog.

      Delete
  5. katanya udah gapapa berapa aja sengasihnya, eh waktu dikasih sepuluribu, malah minta nambah. keenakan apa gimana? dikasih tambahan tigaribu, minta lagi biar bulet duapuluhribu. ya, ini jelas sih modus. tambahan, waktu disarankan nunggu di masjid, malah nolak mentah-mentah. padahal kan lumayan di masjid ada kotak amal. *lho

    kejadian kayak gini makin banyak. seperti yang Robby bilang, modus penipuan seperti yg kamu alami banyak d share di grup-grup line dan broadcast pesan. bahaya sih. orang makin lihai dalam mencari kesempatan "malak". bahaya. lain kali mawas diri aja, kalau ada yang begituan, tinggalin. tapi kalau digendam kayaknya enggak deh. kamu lagi banyak pikiran, capek, keinget laporan praktikum. jadi blank dan sempat hanyut dalam percakapan.

    ya udah, ikhlas aja. anggap saja bapak tadi butuh ongkos makan. doakan yg baik-baik agar tak melakukan hal yg sama dan kalau ke jakarta bawa mobil sekeluarga aja sekalian. jadi nggak ada yg bisa nyopet dompetnya lagi di kopaja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, beneeeer. Kan kalau di masjid uangnya lebih banyak. Astagfirullah.

      Mesti jaga-jaga pikiran ya. Nggak boleh kosong biar nggak ditepok pundaknya (digendam) raib juga nih hape. :(

      Delete
  6. Sebenernya emang banyak solusi sih, yang pergi ke masjid iu bener banget. Soalnya di masjid itu kan ada pengurusnya dan ada uang sedekah, nah si orang tua ini nih lagi kena musibah. Seharusnya dia mau diajak ke masjid siapa tau bisa dibantu. Kalo nolak gitu patut curiga.

    Tapi kalo mau lebih aman sih, anterin ke pos polisi. Apalagi kata dia, dia kecopetan di bis kan?

    Entah dia nipu atau engga, hal kaya gini nih yang bikin apatis lagi sama keadaan sekitar. Ehm..

    ReplyDelete
  7. iyalah, kalau dia nipu , dia yang odsa kan, yang penting kita ikhlas saja ditipu, hiiii

    ReplyDelete
  8. kalo gasalah pernah baca cerita orang soal modus penipuan begini, lucunya si korban dan si penipu malah ketemu lagi besoknya, si penipu mungkin lupa, tapi si korban inget wajah si penipu. Masa kecopetan 2 hari berturut-turut. :')))

    kadang ya gitu, mau nolong tapi takut penipuan. yaudah, ikhlasin, aja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah ceritanya kayak karangan gitu yak? Hahaha kalau beneran lucu bener itu.

      Delete
  9. Modus penipuan jaman now macem2 aja ya. Makin kreatip. Coba ke-kreativannya disalurkan mnjadi karya apa kek gtu, gak begini caranya. Yegak? Sok bet dah ah gue. :'D

    Mgkin lu bukan dihipnotis, Rob. Tp emg kbtulan aja lu pas lagi capek ato pas lg laper, makanya jd linglung bgtu. Haha.
    Gue tdnya baca lu ngasih duit 50rb-an 2 loh. Taunya gocengan dua, ceban. Wkwk. Mna gaktau diri bgt lg tu org, katanya sruh seikhlasnya, udh dksh sgtu malah mnta 30rb. Dih. Eh, kok jd gue yg kzl si?

    ReplyDelete
  10. wah kudu hati2 rob. istigfar aja or dzikir kalo lagi dijalan, jangan bengong walopun lg cape. insyaAllah terlindungi dari godaan setan n manusia.

    ReplyDelete
  11. Gilssss aja wakakakakakkk xDDDD

    Kayak gue...nggak sih.
    Jadi tuh pernah kan di medsos rame yg ibu2 naek motor belok kiri lampu sen ke kanan. Ya gue iyain aja. Sampe beberapa bulan/tahun [?] masih ada aja meme kaya begitu.

    Nah barusan gue ngelihat langsung ada ibu2 yg begitu di depan mata gue xD seketika ngakak guling2 sama temen.

    Maksudnya.....memang medsos itu temmpat tertuangnya gambaran kejadian2 luar bisa di sekeliling kita.

    Kayak mama lu Rob, yaudah sih ikhlasin aja. Jangan2 emang lu lagi ga sedekah, makanya lewat orang itu. Meski gedeg juga sih.

    Gue tahu lo kuat :)

    ReplyDelete
  12. gile lu rob, dimintain tolong dibilang manja wkwk

    tapi ami setuju nih, banyak banget modus minta ongkos pulang
    ami juga dulu pernah dimintain uang sama orang yang gak dikenal
    mana di cadar pulaa.. gak bisa dikenalin

    tapi kata bapa ami, kaloo kita niatnya nolong berarti kan kita dapet pahal
    kalo dianya ternyata cuma nipu, ya tetp ikhlasin.. biar tetp dapet pahala, dianya yang dapet dosa

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.