How I Meet Chemistry

Di sekolah, kita pasti kenal dengan anak yang minimal menyukai satu pelajaran bahkan sampai menguasainya. Untuk beberapa guru, mereka akan memanfaatkan kemampuan muridnya untuk disuruh-suruh.

Sandro, teman di SMA, paling sering disuruh maju mengerjakan soal Matematika di papan tulis. Teman gue yang lain, Silvi, sering diminta mencontohkan bagaimana cara men-dribble bola basket yang baik saat mata pelajaran Penjaskes.

Keahlian gue saat itu hanyalah di pelajaran kosong.



Tidak ingin hanya menguasai pelajaran kosong, gue bertekad untuk dapat menguasai minimal satu mata pelajaran di SMA. Gue berkaca pada sembilan tahun sebelumnya selama bersekolah, lalu muncul sebuah pertanyaan: pelajaran apa yang gue kuasai selama ini? Maksud dari pertanyaan itu agar gue tinggal melanjutkan dan meneruskan mapel kesukaan sampai lulus SMA bahkan kuliah.

Sewaktu SMP gue paling suka Matematika dan IPA. Gue berpikir bakal selamanya seperti begitu. Kenyataannya enggak. Menjalani satu bulan pertama di SMA, gue sudah punya firasat nggak akan sanggup menyukai dan menguasai Matematika karena SUSAH BANGET, BANG!

Gue ingat kali pertama belajar Matematika di SMA. Sangat susah melawan rasa kantuk karena AC di kelas dihidupkan. Padahal, semangat untuk belajar Matematika waktu itu sangat menggebu, apalagi gue sedang bersekolah di sekolah yang lumayan favorit. Pastinya gue sudah membayangkan serunya belajar Matematika di sini. Nggak nyangka, karena AC setitik rusak niat belajar Matematika.

Sedangkan IPA, di SMA sudah nggak ketemu lagi dengan pelajaran IPA, melainkan sudah menjadi sebuah jurusan. Yang ada hanyalah pecahan dari IPA, yaitu Fisika, Biologi, dan Kimia. Kenyataan semakin suram setelah tahu ketiga pelajaran itu punya kesusahan yang beda-beda: Fisika susah pada analisis, Biologi pada hafalan, dan Kimia susah pada keduanya. Kebanyakan orang bilang, Kimia adalah pelajaran paling sulit di SMA.



Inilah yang membuat gue merasa salah jurusan di IPA. Matematika susah nangkep, pelajaran jurusan (Fisika, Biologi dan Kimia) nggak ngerti. Kesulitan itu terus melekat hingga semester satu selesai. Nilai rapor yang kebanyakan pas KKM menambah frustrasi.

Namun, ada yang menarik perhatian gue. Di rapor, nilai Kimia-lah satu-satunya pelajaran di jurusan yang mendapat nilai 8. Padahal, selama satu semester gue nggak ngerti apa aja yang gue pelajari di Kimia. Satu semester sudah habis, dan gue nggak ngerti apa-apa.

Seolah mendapat pencerahan, gue jadi percaya ini adalah pertanda gue harus serius di mata pelajaran ini, walaupun gue nggak pernah tahu kenapa Kimia bisa dapat nilai 8 di rapor. Kebetulan gue nggak punya pelajaran favorit lagi setelah tahu Matematika jadi menyebalkan.

Semester dua gue mulai ikut bimbel. Sama seperti belajar di sekolah, Fisika, Matematika, dan Biologi tetap sulit dimengerti. Sedikit timbul rasa minder berada di jurusan IPA. Gue bertanya dalam hati, “Apa gue masih layak ada di jurusan ini?” Apa yang gue ambil dulu harusnya sudah gue pertimbangkan bagaimana risikonya. Karena sudah telanjur mengambil jurusan IPA, gue harus terus menjalani semuanya di sini. Toh, perjalanan masih panjang buat menemukan minat gue terhadap mata pelajaran.

Namun, kegundahan itu sedikit terkikis dengan keyakinan gue pada satu mapel. Kimia membuat gue punya harapan. Belajar Kimia di bimbel lebih menyenangkan lagi. Semangat gue untuk belajar jadi naik. Waktu itu gue memang belum menguasai, tapi gue punya modal awal buat bisa bertahan, yaitu minat.



Kesukaan gue terhadap Kimia semakin tumbuh saat kelas 11. Sambil ikut bimbel, gue selalu serius mengikuti pelajaran di kelas. Kadang gue malah sengaja mencari tempat duduk paling depan di pelajaran Kimia. Duduk bareng cewek-cewek bikin gue nggak ngobrol dan serius menyimak penjelasan guru. Tapi seringnya cewek-cewek itu duduk bareng teman sekelompoknya. Gue nggak kebagian tempat, akhirnya duduk di belakang. Sedih memang, tapi nggak mengurangi semangat gue belajar Kimia.

Selain karena nilai rapor, pengaruh besar dalam minat gue terhadap Kimia adalah karena seorang guru.

Waktu itu, di kelas 11, kami sedang belajar tentang tata nama senyawa hidrokarbon. Guru gue, Bu Iin, yang pindahan dari sekolah tetangga, melempar pertanyaan ke muridnya, setelah sebelumnya dia menampilkan gambar struktur molekul di layar proyektor. “Ada yang tahu apa namanya?” tanya Bu Iin kepada muridnya.

Banyak teman-teman gue yang angkat tangan. Gue memberanikan diri ikutan, padahal deg-degan setengah mati, seperti kebiasaan orang-orang gugup.

Bu Iin menunjuk teman gue yang duduk di barisan tengah. Gue yang duduk di hadapan Bu Iin merasa kalah. "Mungkin lain waktu", batin gue, kecewa.

Teman gue yang ditunjuk lalu menjawab. Jawabannya dia salah. Lalu Bu Iin menunjuk gue.

“Kamu apa?”

Gue deg-degan waktu Bu Iin menunjuk gue. Dengan hati-hati gue menjawabnya, mengucapkan pelan-pelan nama senyawa tersebut, seperti seorang lelaki yang sedang mengikrarkan akad nikah. Di luar dugaan jawaban gue benar. Dia bertanya ke gue, “Siapa nama kamu?”

“Robby, Bu. Absen 28.”

Sepertinya nama gue ditandai untuk dapat nilai plus. Gue girang bukan main. Senangnya masih terasa sampai sekarang. Alasannya: karena itulah kali pertama dan terakhir gue menjawab pertanyaan di kelas Kimia. Selebihnya tidak pernah.

Karena Bu Iin juga, gue jadi semakin tertarik dengan Kimia. Beliau tipikal guru yang disiplin. Nggak jarang, kedisiplinannya bikin kami deg-degan, takut kena semprot. Teman-teman gue yang sering diomelin waktu praktikum, cuma ketawa-ketawa aja setelah belajar Kimia. Untungnya, gue nggak pernah diomelin.

Peringkat gue di kelas 11 masuk dalam sepuluh besar terbawah, tetapi satu nilai Kimia di atas 80 membuat gue senang. Berapa nilai yang gue dapat sebanding dengan apa yang gue dapat di kelas. Dari sekian banyaknya nilai kasihan di rapor, rasanya Kimia-lah satu-satunya pelajaran yang berani gue pertanggungjawabkan nilainya karena gue yakin gue mampu.

^^^

Mendekati Ujian Nasional, semua orang di kelas sibuk dan pusing pilih-pilih mapel apa yang mau diambil saat UN. Di luar Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, anak kelas 12 harus pilih satu mapel di jurusan buat UN nanti.

Gue tanpa ragu memilih Kimia. Setelah semua anak sudah memilih mapel, gue mendapat kabar dari seorang teman.

“Rob, UN yang milih Kimia di kelas cuma lu doang.”

Hah?

Hal unik seringkali gue rasakan ketika try out berbasis komputer. Karena saat itu jadwalnya sesuai mata pelajaran yang kami pilih, seorang guru mendata mata pelajaran apa yang diambil para siswa.

“Coba angkat tangan yang pilih UN Fisika.”

Yang angkat tangan belasan orang.

“Yang UN Biologi?”

Yang angkat tangan lebih banyak dari sebelumnya.

“Yang UN Kimia?”

Teman-teman gue bisik-bisik mulai tertawa. Gue cuma tersenyum sambil mengangkat tangan dengan percaya diri. Hanya gue seorang di kelas itu yang mengangkat tangan.

“Sendirian?” tanyanya. Gue mengiyakan dari bangku barisan belakang. “Kasihan.”

“....”

Pada akhirnya, satu angkatan di jurusan IPA yang berisi empat kelas, siswa yang memilih UN Kimia sebagai mapel pilihan hanya ada 10 orang. Bebas, itu pilihan.

UN menghitung hari, ayo kerjain soal lebih banyak! Latihan lebih sering lagi.

---

Tulisan ini adalah sebuah kilas balik selama SMA. Kalau sempat, gue bakal lanjutin terus ceritanya sampai SBMPTN, meskipun pembaca lama udah tahu gimana endingnya. Hehehe. Insya Allah bakal gue lengkapin ceritanya seperti apa.


22 komentar:

  1. Bagus, Rob. Ini lanjutin terus walo udah ketahuan endingnya. karena apa yg terjadi sebelum ending itu, kami--(kecuali mungkin Wirdy--nggak tau. apalagi ada klimaks kamu sendirian ngambilnya.

    kalo saya pake caramu, mungkin akan berakhir di kimia juga. di nilai UN/raport, itu pelajaran yg paling tinggi. masalahnya, saya nggak terllau ngerti pelajaran kimia. terutama mengingat nama molekul, unsur, senyawa gitu. makanya sering bingung pas proses oksidasi. sukanya ama fisika, tapi untuk nilai, fisika malah jadi pelajaran yg nilainya paling rendah. xD

    kalo di perkuliahan, kimia itu hahahaha... banyak nyalin/nulis tangan sih buat laporan. tapi karena kamu orangnya disiplin dan suka nyicil, bisa lah. kalo gasalah, menjelang akhir studi, mesti milih organik atau anorganik, anorganik lebih susah kabarnya. tapi gatau deh... xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, niatnya lebih dari tiga part untuk menceritakan ini semua. Hehehe.

      Wah, apa guru-guru kimia murah nilai ya? Fisika saya selalu rendah, jadinya emang nggak pernah mau belajar buat ngejar. :D

      NAH IYA! Pernah denger cerita kakak kelas yang kuliah di Kimia begitu, emang banyakan nulis tangan. Yang dua hal itu memang bikin galau, sama susahnya. Eh, nggak tau juga deh. :'D

      Delete
  2. Itu un cuma ngerjain mata pelajaran yg dipilih?
    Wah kenapa g ngambil mata pelajaran kosong, rob?
    .
    Entah kenapa guru kimia yg udah ibu2 sukanya ngomel y
    Pas saya masih sekolah juga gitu, guru kimia yg ibu2 sukanya ngomel beda sama guru kimia yg bapak2, sukanya cerita yg nyerempet2 ke pelajaran biologi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma boleh yang ada di jurusan, Bang Nik. Kalau ada juga saya ambil itu.

      Wahaha, nggak tau deh ya. Kebanyakan begitu mungkin. :))

      Delete
  3. Baru tahu gue kalau bisa milih salah satu gitu. Dulu pas zaman gue, kalau nggak salah anak SMA semuanya kedapetan deh. Misal Senin Matematika sama Fisika, besoknya Bahasa Indonesia sama Biologi, dan seterusnya. Gue berasa tua anjir. :)

    Rasanya jadi pengin bercerita juga untuk mengenang masa SMK. Gimana rasanya nggak suka SMK, terlebih lagi sama Pemasaran karena dari dulu kekeuh pengin SMA jurusan Bahasa Indonesia, eh lama-lama malah menikmatinya. Haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru tahun gue dibikin begitu. Jadi lu nggak tua-tua amat, Bang. :))

      Ceritain dong lengkapnya. Secuil doang waktu itu sambil makan mi aceh. :))

      Delete
  4. Wah jaman saya semuanya diujikan rob, tapi selama kamu suka dan kamu nikmati semuanya bakal jalan baik baik aja kan ya?
    Ditunggu kisah semester pertama kuliahnya rob! Semangat terus belajarnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bisa menikmati itu. Makasih Mas Eko. :)

      Delete
  5. orang yang sukses biasanya memang beda sendiri, rob. Ntapss

    ReplyDelete
  6. Gpp rob, Sendirian bukan berarti salah.

    Kuliah kimia juga peluang kerjanya gede. Misalnya bantuin Jimmy Neutron bikin bom dari buah mengkudu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan bom mulu atuh, Bang. Pangan juga harus dibenahi. :(

      Delete
    2. AHAHAHAHAHAHAHA KURANG AJAR EMANG IKSAN. :)))

      Rapi banget rob. Gue pikir mau dijadiin tulisan kayak di buku-buku gitu.

      Delete
    3. Bang Adi: Maunya begitu. Hehehe. Gak tau gimana lanjutannya.

      Delete
  7. Itu keren bet sumpah kamu jadi satu-satunya yang milih Kimia. Terharu bacanya. Baguslah berani jadi beda. Dan itu emang demi kebaikan sendiri kan. :')

    Aku jadi ngerasa kalau kita punya satu mapel favorit, otomatis guru dari mapel itu jadi favorit kita juga. Atau bisa jadi kebalikannya. Suka gurunya otomatis jadi suka sama mapel yang beliau ajarkan. Hmmm. Dulu aku sukanya pelajaran Bahasa Inggris (dan sekarang ngerasa bego banget sama pelajaran itu satu huhuhu), terus suka sama guru mapelnya yaitu Bu Dina. Banyak yang gak suka sama beliau karena beliau galak dan semaunya suka nunjuk-nunjuk murid buat jawab pertanyaan atau maju ke depan. Sampe ada yang bikin jokes kalau ada murid yang nggak bisa jawab pertanyaan beliau, bakal dimasukin ke tas ranselnya yang segede kulkas itu. Huhuhu. Ngakak sih aku. Tapi itu yang dulu bikin aku seneng sama beliau. Bahkan dulu aku minta tolong sama beliau buat ngerjain Owi, teman sekelasku yang lagi ulang tahun. Dan berhasil. Jadi Owi waktu itu dipanggil ke depan kelas dan dimarah-marahin sama beliau. Pas Owinya nangis, baru deh sekelasan bilang selamat ulang tahun plus Ibu Dinanya juga. HUAAAA JADI KANGEN SEKOLAAAAAAAH :((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abisnya itu aja yang cocok. Hehehe. :))

      SETUJU! Masih ngebayangin sih, segede apa tasnya Bu Dina. Jangan-jangan yang dia bawa koper? Waduh, itu keren amat cara ngerjainnya. Kirain Bu Dina bakal marah-marah karena disuruh marah-marah.

      Delete
  8. Bentar deh. Jadi yg di UN in cuma 4? EMPAT SERIUS?
    Wasem kok enak banget -_-

    Jaman gue kaga enak banget yak kayanya.
    Tante gue yg lulus 2007 (atau 2009 ya) mapel UN nya 4; bhs Inggris, bhs Indonesia, Matematika, dan IPA.

    Nah kamu juga 4.

    Nah gue 6 -_-

    Apaan. Mengapa sistem pendidikan ini begitu pilih kasih :'
    Sampai kapan anak-anak Indonesia menjadi percobaan sistem pendidikan?

    Oh no.

    Btw masih inget banget dulu pelajaran Kimia, gue duduk depan. Pelajaran pertama tuh, gue duduk depan sendiri. Tapi ngantuk buanget. Trus gue nguap. Trus si ibu guru nyuruh gue cuci muka. Trus seketika kesadaran gue balik karena takut si ibu guru lapor ke emak karena mereka temenan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, tetep lulus, kan? Aturan tiap tahun sering beda ya. Jarang netapnya. :D

      Nah ini, gurunya malah temenan sama orang tua. Potensial nilai bagus ini mah. :))

      Delete
  9. Iya sih, kadang juga kalo sudah ketemu chemistry, pelajaran yg dulunya kita ngga suka, kita paksain buat tahu. Gue contohnya, dulu suka pelajaran Matematika juga. Di SD, sering jadi panutan, selalu pertama terus kalo ada soal. Sekarang, jangankan kumpul pertama, bisa juga masih jadi pertanyaan~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Chemistry yang saya maksud Kimia, Hul. Itu bahasa Inggrisnya. Mungkin yang kamu maksud "chemistry = kemistri"--ya, itu deh. :))

      Setuju kan kalau matematika makin ke sini makin susah? Huahaha.

      Delete
  10. Wuiih alig alig. Pertanyaan gue adalah, kok lu demen sih ama Kimiaaa :((
    Masa gara-gara Bu Iin doang hahaha.

    Anyway, serius itu 10 orang doang yang UN Kimia? DAEBAAAAKKK.

    Bagian yang "Keahlian gue saat itu hanyalah di pelajaran kosong." lucu hahahaha.

    Lanjutin dong ceritanyaaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau juga. Huehehe. Kayaknya lagi butuh sesuatu yang potensial, ngeliat rapor... ambil Kimia deh. :))

      Iyak. Kaget, sih, setiap PM ngiranya lagi ada bimbel dadakan. :D

      Siap! Lagi dinget-inget dulu, Kak. :))

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.