Kenangan Sebelum Naik Kelas

Memasuki bulan April, sekolah gue mengadakan berbagai lomba dalam rangka memperingati hari Bumi. banyak lomba yang diadakan. Ada lomba kebersihan kelas, menghias tempat sampah, dan membuat slogan. Padahal gue mengharapkan ada lomba balap kelomang. Atau lomba panjat pinang, tapi pinangnya dibelah dua. Karena gak ada hubungannya dengan hari Bumi, makanya ditiadakan.

Sebagai ketua kelas, gue diwanti-wanti oleh guru penyelenggara lomba buat merencanakan lomba secara serius. Karena gue orangnya juga suka dengan hal-hal serius, akhirnya gue nikah dengan guru tersebut.

Yaelah, serius amat bacanya. Gue gak serius nikah sama guru itu.

Nah, ketauan deh kalau gue orangnya gak serius.

Oke, sekarang baru serius.

Jadi, setelah upacara (gue lupa tanggalnya), penyelenggara lomba memberikan info tentang apa aja yang dilombakan (udah gue sebutin di atas). Gue lebih memfokuskan untuk lomba menghias tempat sampah karena lomba yang lain cuma butuh waktu yang singkat. Saat ada jam pelajaran kosong, gue langsung mencari orang yang kira-kira mau dan ada waktu buat nge-cat tempat sampah. Karena gue gak mau nyari orang yang ogah-ogahan, gak niat, dan males buat ikutan. Malah jadi beban nantinya. Gue gak mau aja terjadi kejadian kayak gini:

'Rob, gue males ikutan ngehias tempat sampah. Pala gue pusing, mual-mual, sakit perut'
'Oh..... LU HAMIL???'
'IYAAAA, ROB. INI BENIHH KAMUUU. CEPAT TANGGUNG JAWAB!!! NIKAHI AKU SEKARANG JUGA!!!'
'TAAAAPI, AKU GAK KENAL SAMA KAMU. DASAR TUKANG CAKWE GILA!


Sungguh fantastis, dari ekspektasi gue yang cuma ngarep ada 15-an orang yang ikut, ternyata gue mendapati 26 dari 36 orang yang mau ikut ngehias tempat sampah. Setelah mendapatkan nama yang berniat tulus ikut serta, gue langsung mendiskusikan kira-kira konsep apa yang bagus buat menghias tempat sampah. Gue juga belum kepikiran saat itu.

'Gini. kan lomba menghias tempat sampah nantinya ada dua tempat sampah, sampah organik dan anorganik, kira-kira bagusnya kayak apa tempat sampahnya?' 'Cari hal yang sepasang'
'Itu aja, air dan api. Kan itu sepasang'
'Hmmm.. boleh juga' 'Ada yang lain?'
'
'Kalau gue sih, mending ondel-ondel aja. Kan sepasang tuh, sekalian kita membawa budaya di tempat sampah' 'Bukan berarti ondel-ondel itu tempat sampah'

Ternyata mimpi gue malam sebelumnya punya pertanda dalam pemberian ide ini. Di mimpi gue, gue dikejar dua ondel-ondel dan salah satunya gue kenal. Akhirnya, gue lari dengan membuka celana, barulah dua ondel-ondel itu pergi karena melihat gue yang menjijikan. Mantap!

'Nah iya, tuh, Rob. Gue setuju'
'Setuju'
'Haaah... setuju apa?'

Hening

Akhirnya disepakati kalau kita akan menggambar ondel-ondel di tempat sampah kita.

Langkah selanjutnya, cari tempat sampah yang seukuran pinggang orang dewasa. Gue gak tau mau cari itu dimana. Gue coba tanya ke orang-orang yang gue kenal di mana tempat beli tempat sampah yang seukuran itu. Hasilnya, banyak yang menjawab: di pasar. Sisanya: gak tau.
Gue sempet bingung kenapa mereka jawab di pasar. Gue lebih setuju kalau tempat sampah dijual di toko. Bener gak, sih?

Gue sempet males juga beli tempat sampah itu. Di hari Selasa, gue ngajak Mubarok, temen sekelas sekaligus wakil ketua kelas buat beli. Tapi menurut dia terlalu sore mengingat kita berdua ada lintas minat saat itu. Akhirnya, kita sepakat beli di hari Rabu.
Sesuai yang dijanjikan sebelumnya, gue mau beli tempat sampah usai pulang sekolah. Tapi apa mau dikata, semesta tak merestui. Hari itu hujan dari siang sampai sore. Rencana dipindahkan ke hari Kamis.

Singkat cerita, di hari Kamis gue udah bersiap membawa uang yang bendahara kelas kasih ke gue. Gue harap gak ada lagi hambatan hari ini. Gue tunggu Mubarok lintas minat sampai pukul 15.30 karena gue udah gak ada jam pelajaran lagi. Selesai sholat Ashar, kita pergi ke pasar.

Di pasar A (gue lupa namanya), kita cari-cari toko yang jualan tempat sampah. Setelah keliling pasar sampai seisi pasar kenal kita berdua, ternyata hasilnya gak ada. Kita memutuskan buat nyari ke pasar B, pasar yang gue yakini ada penjual tempat sampah.
Di pasar B, gue sempet bingung mau cari kemana. Soalnya, terkahir kali gue ke pasar ini setahun yang lalu. Pasar yang setahun lalu dengan yang sekarang jauh berbeda. Sekarang lebih rapi dan tentunya lebih baru tampilannya.
Setelah gue masuk ke dalamnya, ternyata gak ada yang beda. Beda cuma di luar aja, kalau dalamnya masih sama. Masih ada toko baju langganan mama gue, masih ada tukang es krim woody di pinggiran toko, dan masih ada koruptor merajalela di negeri ini. Cihuuuy!

****

Yang gue kesel kalau ke pasar ini (mungkin di pasar lain juga sama) adalah saat kita jalan di depan toko, pasti ada mbak-mbak yang bilang 'Boleh, kak. Masuk aja. Cari apa, ya?'. Masih enak kalau yang ditawari orang baik, coba kalau yang digituin orang jahat.

'Boleh, kak. Masuk aja. Cari apa, ya?'
'Bener nih? Gak ada orang kan?'
'Iya, kak. Masuk aja. Cari apa, ya?'
'Cari apa? Saya cari kepuasan HUAHAAHAHA. Akhirnya aku bisa menikmati tubuhmu, manis'
'Ohhh, jangan mas. Jangan apa-apain saya. Cakwe saya belum laku sama sekali di rumah'

Oh, ternyata tukang cakwe ini yang gila karena diperkosa.

****

Barusan adalah sepenggal cerita karangan, biar gak bosen gitu. Oke, balik lagi ke dunia nyata.
Gue masuk ke lantai satu pasar gak nemu toko yang jual tempat sampah. Gue nyaris pesimis saat itu.

'Gimana, nih. Gak ada tokonya yang jual tempat sampah?'
'Iya, gak ada. Lu mau cari pasar lain?'
'Yaudah deh. Cari aja di pasar lain'

Akhirnya kita jalan menuju keluar pasar. Karena Mubarok gak paham pasar ini dan gue udah lupa jalan keluar lewat mana, terpaksa kita nyasar sebentar. Gue baru inget kata mama gue saat gue kelas 4. Mama gue bilang 'Kalau mau makan, jangan lupa piringnya yang biasa aja. Jangan pake piringan hitam'. (Oke, gak ada hubungannya).
Kita berdua jalan terus ke sisi Timur pasar. Dan seketika, kita nemu tangga buat turun. Setelah menuruni tangga, kita dikejutkan oleh suatu hal. Bukan, tukang cakwe gila itu dateng terus kentut di depan muka gue, tapi kita dihadapkan oleh sebuah toko.... yang ada tempat sampah di sana. Ngapain naik ke lantai satu kalau ternyata di lantai dasar ada, batin gue.
Tanpa pikir panjang, gue dan Mubarok langsung ke toko tu. Singkat cerita, demi ketikan yang gak terlalu panjang, gue membawa dua tempat sampah yang diinginkan. Polos dan setinggi pinggang.

Karena gue ketua kelas jujur dan terbuka, akan gue laporkan berapa uang yang dikelurakan buat beli tempat sampah ini, biar temen sekelas gue gak penasaran ataupun menaruh curiga.
Teruntuk warga kelas X MIA 3, harga dari dua tempat sampah adalah Rp 130.000,00 (Seratus tiga puluh ribu rupiah). Gue rasa cukup.

Singkat cerita, sampai di hari Sabtu, hari dimana menghias tempat sampah. Gue udah janjian sama orang terpilih dan yang mau merelakan waktu buat menghias tempat sampah di sekolah. Semua bahan siap  dan pola gambar ondel-ondel di gambar oleh Laras, orang yang gue percayai punya sentuhan dalam menggambar. Tapi sangat disayangkan, ternyata Laras lebih mirip gambar muka gue daripada gambar ondel-ondel.
Karena gue ada les, gue gak bisa ikutan ngehias tempat sampah bareng mereka. Semua kerjaan yang gue tinggalkan, gue percayakan kepada Owi, sang maestro X MIA 3.

***

Setelah pulang les, gue ke belakang sekolah buat ngeliat apa masih ada orang disana. Setelah gue liat, ternyata masih ada dan hampir selesai. Setelah selesai, gue angkat tempat sampahnya dan bergumam, 'Kok, mirip gue dalam ukuran mini'
Lalu, setelah dirasa cukup kering, gue titipkan tempat sampah (yang mirip gue) ke sekolah karena gak mungkin dibawa pulang ke rumah.
Gue yang baju warna biru. Ada di belakang
Keliatan pala doang

Lagi

Sekitar 3 minggu kemudian.....

Sekitar 3 minggu berlalu, tepatnya di tanggal 21 April kemarin, diadakan apel memperingati hari Kartini sekaligus penilaian dan pengumuman pemenang lomba. Gue udah pesimis dengan lomba slogan. Karena slogan dari kelas gue 'gak banget'. Cuma kertas dengan tulisan 'Sampah jadi polusi, bersih jadi solusi'. Gue gak yakin kayak gitu bisa menang.

Lain lagi dengan tempat sampah, gue sangat optimis. Ngeliat tempat sampah kelas lain, gue sebenernya sempet jiper dengan tempat sampah dari anak kelas 11 IIS berapa gitu lah, gue lupa. Di tempat sampahnya, bener-bener dilukis kayak di kertas kanvas. Gue udah yakin, pasti yang bikin bukan gue. (Yaiyalah).

Hingga akhirnya, pengumuman dibacakan.

'Juara 2 lomba menghias tempat sampah... kelas X MIA 3'

Sontak temen sekelas teriak-teriak, gue lompat-lompat, tetangga gue sunat, sunatnya teriak-teriak sambil lompat-lompat.
Gue disuruh maju dan menerima hadiah berupa bingkisan dan piagam penghargaan. Untuk foto penyerahan hadiah, gue gak punya. Tapi piagam ini mungkin cukup memberi bukti
Juara 2. Gak apa lah..

Maling kotak amal a.k.a Robby Haryanto

Dan... inilah kenangan kita sebelum naik kelas. Insha Allah kita semua naik kelas. Aamiin

Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing, ingatlah hari ini.


10 komentar:

  1. Semoga di kelas XI nanti jadi semakin tergerak untuk banyak mengias tempat sampah ya! Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohoho itu pun kalo ada lomba serupa. Mungkin tahun depan menghias sekolah hahaha

      Delete
  2. Sebentar lagi ane UN gan,doain biar ane Naik Kelas :) xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga bisa naik kelas dan sukses dunia akhirat

      Delete
  3. Sepertinya, perjalanan hidup lu akan segera dimulai, rob. Meskipun sebelumnya lu udah hidup dan berjalan.

    Setelah SMA adalah masa di mana dirimu harus mandiri (mandi pake tangan sendiri), ngerjain sesuatu harus mampu sendiri. Banyak masalah harus belajar menyelesaikan sendiri. Kalo udah gak kuat, lambai tangan aja, ke nyokap sama bokap. :D

    Selamat atas kelulusannya rob. Semoga, dengan kenangan ini. Seorang Robby akan bertemu dengan temannya lagi. Suatu saat nanti dan temen-temen bakalan bilang "Robby makin keren, ya (kancingnya)."

    Sukses terus, ya rob. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga kita semua sukses! *lempar mouse ke langit-langit rumah*

      Tapi, kok cuma kancingnya aja, bang? Resletingnya juga dong. Biar gak ngiri satu sama lain.

      Delete
  4. wihihihihihi, gaul abis. coba di gambarin logo android, pasti keren..
    mumpung masih awal SMA, semua harus dinikmati bro.
    meskipun nanti ada pelajar susah atau kejadian2 kampret, nikmatin aja. karena lo bakal kangen masa ini setelah masa sma ini berakhir :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Jeff. Tadinya sih gue mau gambar gitu, tapei terlalu kekinian *Apasih*

      Bener banget, besok-besok mah belum tentu bisa. Pasti sibuk segala macem. Kejadian kampret itulah yang bikin kangen, untung kita punya blog biar bisa dibaca lagi suatu saat nanti. Hidup blogger! Yiahahaha

      Delete
  5. Kenapa foto kamu nyempil? Antara ada dan tiada. Bahahah! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ada ide ajaib dari orang tersembunyi. Ehem

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.