16 April 2019

Cerita Tentang AKA Bogor

Saya masih nggak nyangka, tulisan saya tentang cerita perjuangan semasa SMA bakal banyak berujung pada DM di Instagram. Sedikit menceritakan, pada waktu itu saya punya niat menulis cerita saya tentang kehidupan pra kampus. Tulisan itu niatnya mau saya kumpulkan dan, kalau khilaf, mau saya bukukan. Paling nggak, saya pernah nulis hal besar yang pernah saya alami.



Kali ini saya mau bahas salah satu tulisan, yang menceritakan tentang pengalaman saya ikut tes masuk Politeknik AKA Bogor. Itu adalah tulisan terakhir—hingga saya sekarang sudah semester 4—dan belum dilanjutkan. (Mohon maaf buat kalian yang nunggu ujung dari cerita saya. Hehehe.)

Sepertinya saya butuh mengakhiri cerita itu, tetapi tidak ingin detail. Meskipun sebenarnya beberapa kali saya sudah menyampaikan bahwa saya tidak kuliah di AKA Bogor, saya rasa ini (nggak terlalu) penting (juga sih) untuk disampaikan.

Jadi, Alhamdulillah, di tes masuk AKA Bogor saya lolos. Nggak lama berselang, hasil tes SBMPTN juga diumumkan. Alhamdulillah, saya lolos juga di Pendidikan Kimia UNJ. Karena sejak awal keinginan saya adalah kuliah di UNJ, maka AKA Bogor saya lepas.

Begitulah kira-kira. Kalau sempat, nanti akan saya ceritakan. Sambil nginget-nginget tentunya.
Sebetulnya, tulisan tersebut lahir karena melihat peluang. Dulu, sewaktu mencari informasi kampus, saya jarang sekali menemukan tulisan tentang AKA Bogor di internet. Begitu juga dengan mencari contoh soal tesnya. Sulit sekali. Sampai akhirnya saya bertemu dengan satu blog yang mengupload soal.

Hal ini saya lihat sebagai peluang. Bakal banyak Robby lain yang bernasib sama nih, begitu pikir saya. Maka, muncullah ide untuk membuat tulisan tentang AKA Bogor, khususnya pengalaman ikut tes masuknya. Plus, saya upload juga soalnya. Dan sekarang tulisan tersebut jadi tulisan terbanyak dibaca di blog ini. Di luar dugaan memang. Saya kira, nggak banyak yang pengin baca walaupun sempat optimis karena bicara soal peluang tadi.

Sebenarnya, untuk blog ini, saya punya beberapa post yang nggak kalah banyak jumlah viewsnya dan nangkring di halaman pertama pencarian. Misalnya, ada satu post yang ternyata linknya masuk ke dalam referensi di Wikipedia. Gimana nggak gokil jumlah viewsnya!

Satu lagi, post yang paling banyak dibaca adalah, tulisan fenomenal tentang mengupas lagu “Bad” milik Young Lex dan Awkarin (pembaca lama pasti tau gimana “resenya” saya nulis itu, hehehe).

Balik ke bahasan AKA Bogor.

Hampir dua tahun terakhir, menjelang masa-masa penerimaan mahasiswa baru, saya mendapat pesan yang kurang lebih isinya sama: pertanyaan tentang soal tes AKA Bogor, kelanjutan saya kuliah di mana, dan sampai yang paling keren, laporan kalau dia sedang berjuang buat masuk AKA Bogor. Rata-rata mereka di awal perkenalan bilang, “Saya abis baca blog kakak.”

Pesan-pesan itu bikin saya balik ke masa SMA. Nggak pernah tau informasi tentang AKA Bogor sebelumnya, cuma bermodalkan buku dari guru BK. Itu juga cuma nama dan tempat: sebuah politeknik yang khusus di bidang kimia—bernama AKA Bogor—dan bertempat di .... Bogor. Udah.

Lalu saya bilang ke kakak saya, ada nih pilihan kampus Robby selain di UNJ. Memang saat itu saya pengin banget masuk UNJ. Kemudian ngurus ini-itu di sekolah, nekat ngirim fotokopi rapor semester 1 sampai 5. Kalau ngelihat lagi rapor zaman SMA, berasa nggak sadar diri. Nilai-nilai yang udah sejak lama bikin saya yakin, “Nggak mungkin bisa tembus kampus mana pun.” Benar saja, setelah nggak masuk kuota SNMPTN, tes jalur rapor AKA Bogor pun nggak tembus.

Kemudian, gimana akhirnya saya dipaksa buat terus maju buat ikut tes tulisnya. Alhamdulillah, dibantu banget sama kakak saya. Inget banget, pagi-pagi naik kereta dari Bekasi ke Bogor, nyambung naik grabcar. Dateng 15 menit sebelum tesnya dimulai, ngerjain 100 soal dalam waktu 2 jam dari 3 jam yang disediakan.

“Alhamudulillah lolos,” ujar saya di atas kasur setelah melihat pengumuman. Kaget. Nggak pernah terbayang bakal lolos. Sebenarnya antara pengin dan nggak pengin lolos di sana. Pengin ... karena belum jelas mau kuliah di mana. Nggak pengin ... karena hati masih berharap UNJ.

Dulu-dulu juga nggak pernah nyari strategi ngerjain soal. Semua soal saya jawab. Nggak pernah tau peraturan penilaiannya. Nggak kayak SBMPTN saat itu, benar-benar tertulis aturan penilaiannya. Ini pula yang pernah  ditanyakan di DM. Saya bilang, “Jawab aja semua.”

Semoga dengan saya tuliskannya cerita ini bisa memotivasi orang-orang yang mau ikut tes AKA Bogor. Siapa tau ada tulisan lain yang bermunculan.