26 February 2019

Kebersamaan dalam Perjalanan

Pernah melihat sekumpulan anak-anak menumpang mobil bak terbuka? Biasanya seumuran anak sekolah. Di Jakarta hal ini dikenal dengan berani mati (BM). Di lain kalangan, istilah BM malah diartikan dengan “keinginan kuat akan suatu hal”. Jadi, kalau dua kalangan itu bergabung dan mengatakan “BM BM”, mungkin artinya: pengin cepet-cepet mati.

Nggak gitu deh kayaknya.

Saya cuma pengin bahas BM yang pertama. BM pada zaman itu dianggap sebagai lambang lelaki sejati. Tentu di kalangan anak SMP saat itu dianggap keren dan macho. Bayangkan, sekumpulan anak muda beramai-ramai di pinggir jalanan, nunjuk-nunjukin kayu atau besi dari pinggir jalan, menyetop mobil yang melintas, lalu secara kompak naik ke atasnya. Prinsip kerja samanya kental, solid, dan berani.

Pemandangan seperti itu hampir setiap hari saya lihat setiap pulang sekolah. Tentunya bukan sebagai pelaku, tetapi sebagai pengamat. Mengamati mereka sambil bersepeda dan nyanyi lagu-lagu JKT48, terutama “Aitakatta”. Kenapa lagu yang itu? Karena ada “ku kayuh sepeda” di dalam liriknya. Entahlah.

Saya kepo dengan mereka. Bagaimana caranya mereka bisa semudah itu buat bisa nyetopin mobil-mobil? Saya pernah dapat jawaban dari seorang teman, “Kan rame-rame.” Ya, benar sih. Namun, tetap mengerikan bila mobil itu malah melaju kencang dan nabrak mereka semua.
Saya juga pernah tanya, “Biasanya kalau BM gitu ke mana aja?”
Pada satu kesempatan, saya mendapat jawaban, “Bebas. Terserah sopirnya mau bawa ke mana.” Ngeri juga, kata saya. Kalau mobilnya benar-benar sampai ke pabrik entah berantah, apa mereka bisa balik lagi? Gimana kalau mereka malah diculik, terus jadi pekerja di situ?
Perjalanan BM-an seperti ini adalah perjalanan yang nggak menentu tujuannya. Bisa jadi kita diturunkan di tempat yang nggak pernah kita tahu sebelumnya. Kalau lagi beruntung, kata teman saya, bisa nyampe deket rumah langsung turun sepulang sekolah. Keuntungannya adalah gratis. Kerugiannya lebih banyak.

Andai saya boleh ambil pesan positif dari fenomena tersebut, saya katakan kalau kebersamaan akan selalu menyenangkan. Kalau mereka saat itu nggak punya tujuan jelas, sekarang, saya—yang kian dewasa—bisa mengevaluasi agar setiap kebersamaan yang saya jalin di perjalanan ini membuahkan tujuan yang jelas. Tujuan yang sudah Allah janjikan, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S Ali ’Imran: 103)

Kebersamaan itu juga lebih menyenangkan. Dibanding saya yang asyik dengan sepedaan sendiri sambil nyanyi. Menurut saya lebih seru rame-rame di pinggir jalan panas-panasan seperti mereka. Hanya saja, saya nggak bilang nodongin benda tumpul itu hal yang baik.
Saya pernah dengar sebuah nasihat, “Jika kau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun, bila kau ingin berjalan lebih lama, berjalanlah bersama.”

Oke. Inilah waktunya.

02 February 2019

Dari Comdev Turun ke Hati (Part 1)


“Mau ikut apa aja nih Robby?” tanya seorang kakak sewaktu masa-masa pengenalan kampus.
Saya bersemangat menjawab, “Saya mau ikut komunitas berkebun kak!”
Satu alasan mengapa saya ingin ikut komunitas berkebun karena berkebun adalah hobi dan obsesi saya. Berkebun adalah kegiatan kesukaan saya selain bermain air di kolam pembuangan (alias comberan) sewaktu tinggal di rumah lama. Hobi yang nggak pantas disebut hobi.

Hobi berkebun terasa semakin menyenangkan lewat kegiatan rutin yang dilakukan bapak saya setiap sore: merapikan lahan pembuangan sampah dan menyulapnya menjadi kebun singkong. Hasilnya luar biasa. Beberapa kali keluarga kami makan hasil dari sana.

Bisa dibilang orang tua saya sangat menyukai kegiatan menanam. Mama saya pernah punya satu pot tanaman cabai dan buahnya banyak (sebelum akhirnya lenyap dipetik tetangga). Bapak saya, seperti yang telah diceritakan, berhasil memberi manfaat dari tempat yang tidak terurus menjadi sepetak sumber makanan. Selain kedua orang terdekat di rumah, orang terdekat di samping rumah alias tetangga saya pun menyukai tanam-menanam. Tetangga saya memiliki beberapa tanaman obat.
Selama itu, ketika saya kecil, hanya satu yang sedang saya tanam: kejujuran.

Oke, yang ini nggak terlihat hijau.

Melihat jurusan kuliah saya masih punya hubungan dengan alam, saya melihat potensi saya dapat kembali diasah. Meskipun bukan kuliah di kampus pertanian, tidak membuat niat saya kendor untuk melanjutkan hobi berkebun.

Sejak awal kuliah saya menanti organisasi itu membuka pendaftaran anggota. Saya hanya ingin ikut ini. Titik. Tekad saya bulat. Walaupun dulu sewaktu pengenalan kehidupan kampus banyak sekali organisasi yang memikat hati saya, tetapi belum sekuat ini rasanya.

***

Sampai tiba suatu momen yang akhirnya membawa saya ke sebuah perjalanan panjang...

Pada sebuah perkenalan ormawa:

“Kalau community development tau nggak?”
“Hmmm,” saya berusaha berpikir, “Pengembangan komunitas.” Akhirnya hanya itu yang bisa saya katakan. Terjemahannya saja.

Singkat cerita, ternyata di kampus ini dikenal yang namanya comdev atau community development. Bukan seperti comdev yang dikenal secara umum, comdev di sini adalah ormawa yang bergerak dalam bidang pengembangan masyarakat di suatu daerah dan menjadi wadah mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Kerennya adalah di setiap fakultas punya comdev-nya sendiri. Di FMIPA UNJ, ada namanya Desa Binaan FMIPA UNJ. Kegiatannya seputar pengajaran anak-anak.
Kurang lebih itulah kesan pertama yang saya dapatkan ketika mendapat perkanalan seputar Desa Binaan (lebih akrab disebut DB).

Jauh setelah hari itu, saya pernah bertemu dengan mahasiswa dari kampus lain yang di kampusnya memiliki kegiatan serupa. Di IPB namanya IPB Mengajar, ITB namanya Skhole, dan skala yang lebih luas, ada Indonesia Mengajar. Kurang lebih kegiatannya serupa.

“Saya belum tertarik kak.”

Itulah yang saya katakan untuk DB kepada kakak fasilitator sewaktu perkenalan ormawa. Alasannya sederhana: saya nggak ngerti cara komunikasi sama anak-anak. Misalnya, seorang anak yang diam di pojokan. Saya nggak paham apa yang sedang dia rasakan dan saya nggak pernah punya rasa inisiatif buat nanya dia kenapa. Entah. Saya nggak paham sama sekali! Bahkan ketika saya masih anak-anak, saya jarang ngobrol dengan teman seumuran. Kecuali kalau sudah menyangkut obrolan dan permainan sepak bola, rasanya semua bahasa jadi mudah terjemahkan. Namun, teman-teman saat itu jarang yang mengerti bola. Akhirnya, saya lebih sering ngobrol sama bapak-bapak yang memang paham bola.

Sepertinya DB bukanlah pilihan saya saat itu.