Jembatan Antara Cemas dan Tenang - JURNAL PEMBALIK
19 July 2018

Jembatan Antara Cemas dan Tenang

Perasaan ini semakin menguat. Baru kali ini saya merasa secampur aduk ini.

Tentang rindu. Membuat saya bingung, cemas, sedih.

"Emang nggak kangen?" ujar wanita itu pada suatu malam.
"Kangen sih, tapi gimana lagi ya." Saya cuma senyum, berusaha mengobati momen-momen yang hilang di antara kami.

Bukan hal yang biasa bagi kami. Sudah terlalu lama kami tidak bertukar senyum. Saya hampir lupa rasanya deg-degan untuk mengawali cerita atau berkeluh kesah sejenak. Untuk hal sesederhana minum teh bareng, kami pun tak sempat. Terlalu sering saya meninggalkannya dengan senyum. Entah, rasanya seperti senyum yang berat karena harus menahan suatu beban.

Wanita itu adalah ibu saya.

Mungkin, kalau saya boleh membandingkan, lebih kangen lagi teman-teman saya yang berasal dari luar kota, yang jaraknya lebih jauh dari saya. Jarak rumah saya ke tempat menimba ilmu ini hanya 25 km. Naik bus Transjakarta, transit sekali, dilanjut naik angkot, jalan sebentar, sampai. Terbayang teman-teman saya yang asalnya dari luar Jawa. Harus menunggu berbulan-bulan untuk menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Saya, bahkan bisa setiap hari nginjek-nginjek tanah depan kontrakan.

Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa sekuat itu menahan rindu?

Malam tak pernah sanggup memberi ruangnya untuk saya menuntaskan rindu. Selalu saja berakhir di kasur, tertidur, lalu paginya--hal yang sangat memberatkan--harus berangkat lagi.

Seorang kakak di kampus pernah berkata kepada saya, "Kalau kondisinya kita lagi jarang di rumah, pastiin kita tetap yakin. Allah yang jaga mereka (keluarga)."

Saya sedikit tenang. Apalagi setelah saya tahu, berkabar adalah obat dari rasa cemas itu sendiri. Saya akan dengan mudah bercerita tentang apa saja kesibukan di kampus dan beberapa kesulitannya. Alhamdulillah, dukungan dari mereka selalu menemani saya.

"Intinya, kamu yakin aja. Inget Allah. Jangan tinggalin salat. Kepercayaan ini jangan disalahgunakan buat melakukan hal-hal gak bermanfaat," nasihat ibu saya.


***

(Dalam rangka ingin mengisi blog sambil menumpangi bus Transjakarta rute TUGAS - Grogol)

8 comments:

  1. Kalau kata temen di daerah saya adalah, sebelum pergi bayangin dulu kalau kamu akan sampai ke tempat tujuan dan pulang dengan senyum merekah. Percaya sama Allah, insya Allah mereka akan terjaga di tangan-Nya. Benar juga nih, saya kadang juga bertanya-tanya kok mereka bisa tahan rindu itu yah padahal mereka udah di sini berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang-orang yang merindu selalu diberi kekuatan lebih oleh-Nya, ya, sepertinya. :)

      Delete
  2. Jadi nulisnya pake hape apa laptop, Rob?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih pake hape nih. Doain segera punya laptop, Bang. :)

      Delete
  3. Hangat sekali tulisan ini. :3

    Saya juga suka diingetin begitu, sih. Ketika orang tua udah memercayakan anaknya nggak macam-macam, saya nggak mau mengecewakannya sekalipun beliau nggak tau. Tetep ada Allah Yang Maha Melihat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hangatan susu jahe di angkringan, Mas. Hehehe.

      Mantap. Membayar sebuah kepercayaan.

      Delete
  4. Pun saya begitu. Jarak rumah dengan kampus 2 jam perjalanan. Dulu ketika tahun 1-2, masih sering kangen.

    Sekali pernah ikut teman pulang ke rumahnya yang beda pulau. Saya tertegun. Ratusan kilo dia lewati, ratusan ribu juga yang dihabiskan untuk menghidu aroma rumah. Sedang saya hanya 2 jam yang mana bisa bolak-balik tiap minggu.

    Jadi semakin menghargai dan mensyukuri segalanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Kita masih bisa pergi-pulang dengan waktu dan biaya terjangkau.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.