February 2018 - JURNAL PEMBALIK
22 February 2018

Diangkat dari Buku Harian

Sudah 53 hari blog ini nggak ada postingan baru. Setelah postingan terakhir berjudul “Menghadapi Pingsan”, nggak ada lagi update tulisan di blog ini. Mungkin blog ini sengaja gue “pingsankan”. Ini pun sebenarnya masih belum benar-benar sadar karena cuma nyolong waktu-waktu senggang. Memanfaatkan libur semester 1 yang tersisa hingga 28 Februari. Sekaligus ini adalah update blog pertama di tahun 2018.



Saat-saat seperti ini, banyak juga orang-orang yang kayak gue. Setelah lama nggak posting, bingung mau nulis apa. Bingung mau mulai dari mana. Gue pun sedang merasa begitu. Kebiasaan menulis untuk blog pelan-pelan terkikis menjadi kebiasaan membuat broadcast message undangan rapat atau informasi organisasi. Mungkin ke depannya gue mau update blog lagi. Nggak akan sering juga. Ngisi blog biar stamina menulis kembali pulih. Soalnya ke depannya gue butuh ketahanan nulis yang tinggi. Iya, iya, terlalu dini kalau gue bilang skripsi.

Selama vakum, gue sempat mikir perihal stamina itu. Stamina yang terlatih sejak kelas 10 SMA hingga banyak banget menghasilkan tulisan yang banyak juga jumlahnya. Nggak sebentar membentuk itu semua. Meskipun gue tahu, tulisan-tulisan yang terdahulu itu nggak terlalu penting, tapi gue merasa ada hikmahnya, yaitu terbentuknya ketahanan gue menulis.

Gue bisa membandingkan dengan beberapa teman ketika disuruh mengarang. Saat teman-teman gue baru menulis satu halaman, gue bisa mencapai satu setengah halaman. Kebiasaan menulis itu gue dapat dari ngeblog, terutama dulu nulis cerita sehari-hari. Berarti bisa diambil kesimpulan, penulis-penulis yang rajin banget ngeluarin buku, ketahanan nulisnya udah teruji. Pasti mereka juga dulu pernah pada masanya nulis buku harian.

Bicara soal buku harian, ada beberapa buku yang berangkat dari suatu buku harian dan berhasil meninggalkan kesan buat gue. Atau genre yang dulu bener-bener jadi kesukaan gue, yaitu personal literature. Entah itu genre atau merek dagang, tetapi tulisan-tulisan yang menceritakan tentang diri sendiri selalu mengajak gue untuk mengambil hikmah dari setiap cerita. Buku-buku yang diangkat dari buku harian adalah Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan, Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh, dan Catatan Seorang Demonstran.

1. Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan
Pernah dengar Ernesto Guevara? Gue cuma pernah dengar namanya, tapi nggak banyak tau. Dari buku itu, ternyata dugaan gue kalau dia orang Kuba adalah salah. Dia adalah orang Argentina. Guevara juga seorang penjelajah Amerika Latin. Di buku itu, dia menjelajahi Argentina, Bolivia, Ekuador, dan Peru bersama Carlos Ferrer, sahabat sekaligus yang menjadi narator dalam buku tersebut.

Buku ini ditulis oleh Calica (panggilan dari Carlos Ferrer). Beberapa kali Calica mengutip apa-apa yang ada di dalam buku pribadi maupun surat yang ditulis Guevara kepada keluarganya sebagai pendukung jalannya cerita. Dari beberapa tulisan di buku pribadinya Guevara, terlihat dia sering menceritakan keresahannya seputar kepemerintahan yang ada di negara-negara Amerika Latin. Kediktatoran terutama yang membuat Guevara gerah. Membandingkan kondisi Guevara dengan gue, di buku harian gue paling-paling gerah karena mati listrik. Kipas nggak bisa nyala.
Meskipun nggak diceritakan langsung oleh Guevara, jalan cerita di buku ini terasa dekat dengan Guevara. Hal itu mungkin dikarenakan ditulis oleh sahabatnya sendiri. Lain kali mungkin gue akan membahas buku ini di postingan terpisah.

2. Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Bisa dibilang Kambingjantan adalah buku yang banyak menginspirasi orang untuk menulis diari komedi di internet. Salah satunya gue. Apalagi waktu itu gue sedang duduk di bangku SMA, masa yang kata orang indah dan banyak gejolak. Halah gejolak.

Kambingjantan yang dibuat berformat benar-benar seperti buku harian, membuat gue membacanya seperti sedang tukeran diari, meskipun gue nggak pernah melakukan itu. Gue inget waktu itu baca Kambingjantan kelas 9 SMP. Lagi stres-stresnya mau UN, gue malah baca buku yang bikin stres ketawa.

Walaupun ejaan yang dipakai di buku ini nggak baku dan banyak bahasa slangnya, gue belajar nulis dari buku ini. Bukan belajar ejaannya mungkin, tapi belajar semangat menulisnya. Susah, lho, kalau mau nulis nggak bermodalkan semangat. Mau sejago apa pun kita nulis, pemahaman soal ejaan kita udah hebat, tapi semangatnya kurang, gue kira suatu tulisan nggak akan sampai selesai.


3. Catatan Seorang Demonstran
Buku ini sebenarnya belum selesai gue baca. Gue masih baca buku ini pelan-pelan. Karena banyak hal yang bikin ngantuk, misalnya kalau buku ini sedang bahas soal filsafat. Buku ini diambil dari catatan harian milik seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Sosok yang begitu dikenal, terutama di kalangan mahasiswa, karena sangat lantang mengkritik pemerintahan saat itu.

Buku ini formatnya mirip Kambingjantan—benar-benar dibuat mirip buku harian. Dari beberapa bagian yang gue baca, buku ini banyak mengungkapkan protes terhadap pemerintah, kepesimisan hidup, dan hal-hal filsafat. Soe Hok Gie juga menunjukkan betapa pentingnya manusia belajar sejarah.

Meskipun bahasan di buku ini terdengar serius, ada juga cerita-cerita anak sekolah pada masanya. Misalnya, ketika Gie berdebat dengan gurunya mengenai lamanya kepemerintahan Ken Arok. Gue seakan-akan sedang berada di kelas itu, duduk di pojokan, nontonin mereka berdua adu argumen.
Di antara cerita anak-anak sekolah yang pernah gue baca di buku ini, gue sempat ngakak di bagian Gie menceritakan temannya madol alias bolos. Entah kenapa gue bisa ketawa gara-gara baca kata “madol”. Tulisan itu ditulis tahun 1960-an dan sampai gue SMA, gue masih dengar kata “madol”. Ternyata “madol” emang udah lama banget dilestarikan.

Satu bagian yang menggelitik adalah saat Gie merasa miris.
 “... aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Inilah salah satu gejala yang mulai nampak di ibukota. Dan kuberikan Rp2,50 dari uangku...
Ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik.”

Bahkan sampai sekarang, hal semacam itu masih terjadi. Orang-orang yang berkuasa sedang gembira, orang yang kesulitan sedang menaggung lara.

Buku harian bagi beberapa orang menjadi hal tabu untuk diketahui orang banyak. Namun, menulis buku harian bisa sebagai sarana melatih kelancaran menulis. Siapa tahu, cerita kita yang ditulis di buku harian bisa jadi lahan ide untuk lahirnya suatu karya.

Pertanyaan untuk diri pribadi: Nggak jadi vakum ngeblog, Rob?