November 2017 - JURNAL PEMBALIK
25 November 2017

Teman yang Jauh Jaraknya

Gue sebenarnya introvert.

Eh, sebentar....


Apakah orang-orang introvert itu ngaku dirinya introvert? Kata orang, introvert itu malu buat nunjukin siapa dirinya. Apakah karakternya itu benar-benar layak disebut sebagai introvert? Halah, ini pembukaan malah bikin diri sendiri bingung.

Lewatin aja, lewatin.

Apa ya, cara nyebutnya? Mungkin gue lebih pantas disebut textrovert: orang-orang yang bawel di ketikan. Di antara sela-sela keyboard, banyak banget omongan yang mau gue sampaikan. Dari ketikan pula, gue sedikit-sedikit bisa menjadi orang yang keluar dari zona lama gue sebagai anak yang pendiam. Namun, beberapa kondisi membuat gue tetap menjadi seorang pendiam kembali. Misalnya, kalau lagi ziarah. YA MASA GUE HARUS ORASI!

Dari ketikan, gue belajar gimana caranya kenalan. Sewaktu main, ehem, ... Omegle, gue suka banget nyapa orang duluan. Begini:
“Hi.”
“Hi.”
“Asl.”

Iya, sih. Nggak bakal kepake juga di dunia nyata “asl” itu.

Bukan di Omegle mungkin yang kultur kenalan pake “asl”-nya begitu kuat, melainkan di Skout atau di, ehem, ... Tinder (GUE AHLI BANGET SOAL APLIKASI STRANGER CHATTING YA. HUAHAHA). Skout atau Tinder nggak bikin gue lebih asing karena antara gue dan lawan chat bisa ngelihat foto masing-masing. Meskipun itu cuma foto kartun atau artis, gue sedikit bisa menebak ke mana arah pembicaran seharusnya. Belum lagi adanya fitur profil yang ngasih referensi topik apa yang bakal siap dibicarakan.

Misalnya, bio si lawan chat ada keterangan “anime”. Kurang lebih, gue harus tau dunia anime itu kayak apa. Karena gue nggak ngerti anime-anime-an, mentok-mentok gue cuma nanya, “Kamu jagoin Hyuga atau Tsubasa?”



Satu kali gue pernah ketemu orang Spanyol di Skout. Nggak biasanya gue bisa sampai balas-balasan tiga kali dengan orang luar, tentunya dengan bahasa Inggris seadanya. Chat hanya berputar pada pertanyaan “Where are you come from?”, “What are you doing?”, dan “Don’t smoking”. Yang ketiga nggak deh.

Ketika gue tanya umurnya, dia baru 12 tahun. Gokil juga. Apa karena anak ini nggak punya temen main di lingkungan rumah makanya main Skout?

Lalu, ada lagi orang Thailand. Agak mengejutkan sewaktu dia membalas bukan dengan bahasanya, dan dia langsung bisa menebak gue adalah orang Indonesia. Apa jangan-jangan orang Indonesia yang main Skout itu tujuannya sama, ya, makanya bisa terciri?

“Foto kamu ngingetin aku sama orang sebelum kamu,” jawabnya dengana bahasa Inggris, sewaktu gue tanya kenapa bisa tahu kalau gue orang Indonesia. Keren juga orang ini. Berarti muka gue Indonesia banget di mata dia.

Ekspresi gue:



Karena sudah dianggap ahli dalam kenalan lewat ketikan, gue nyoba menantang diri untuk nerapin ke dunia nyata ketika menjadi maba. Namun, nggak seperti Tinder dan Skout, kenalan dengan sesama maba lebih mirip Omegle. Gue nggak pernah tau gimana isi “bio”-nya. Hanya ada wajah saja. Mustahil gue ketemu orang langsung bilang “Asl?”. Dikira gue lagi kumur-kumur. Maka gue mencoba pertanyaan, “Asalnya dari mana?”

Dan gue selalu tertarik ketika melempar pertanyaan itu.

Gue pernah ketemu sesama maba sewaktu pendaftaran ulang di kampus. Dia bertopi, tasnya besar dan penuh, berjaket hitam. Gue kira dia abis turun dari gunung.

“Permisi,” sapanya ke gue. “Kalau mau daftar ulang di mana, ya, Bang?”
Oke. Untuk ke sekian kalinya, gue nggak pernah bisa terima dipanggil “Bang”, “Pak”, atau “Pakde”.
“Nanti lurus, belok kanan, nah, belok kiri deh,” jelas gue. “Nanti bareng saya aja, Mas. Sama-sama maba, kok.”

Dia lalu mengikuti gue. Dia cerita, asalnya dari Sidoarjo. Di sini tinggal ngekos dan belum tau banyak soal Jakarta. Sekalinya tau Jakarta, dia malah ngobrol sama gue—orang Jakarta yang nggak tau-tau amat soal Jakarta.
“Lho, kalau gitu, kenapa nggak ngambil kampus yang di daerahnya aja, Mas?” tanya gue sambil jalan menuju lokasi.
“Mau sekalian yang jauh, Mas,” jawabnya.

Beda banget deh sama alasan gue kuliah di UNJ. Berbeda juga dengan teman-teman gue yang merantau ke luar Jakarta.  Alasan “mencari sesuatu yang jauh”, bagi gue, cuma bisa dilakukan lewat dunia maya. Kenalan di Skout, Tinder, atau Omegle. Hanya itu yang bisa gue lakukan. Begitu pun dalam berteman. Karena selama koneksi internet masih ada, sejauh apa pun gue dengan orang lain, akan terus nyambung.

(Kalimat yang bagus, kan, buat jadi iklan provider?)

***

Banyak teman gue yang tahu apa itu WIRDY. Dua orang. Ya, senggaknya lebih dari satu, kan, disebutnya banyak. Rata-rata mereka nanya, “WIRDY itu siapa?” Lalu gue jelaskan pelan-pelan apa itu WIRDY. Dari pertanyaan dan jawaban itu, hampir selalu berakhir dengan kalimat: “Wah, bisa kenal gitu, ya.”

WIRDY bagi gue adalah kelompok kecil terenak buat bahas soal blog dan lika-likunya. Orang-orang di dalamnya seneng curhat, jadi buat gue tempat ini cocok. Kenal cuma lewat blog, belum pernah ada meet up semua orangnya. Beberapa orang ada yang pernah saling ketemu. Pernah ngobrol rame-rame sewaktu vidcall-an.

WIRDY cuma tempat ngobrol biasa di grup WhatsApp (Line juga ada, tapi jarang dipake). Nggak beda jauh sama grup-grup chat lainnya. Jadi, kalau kamu mau masuk grup ini, ya ... bakalan sama aja kayak grup WhatsApp-mu. Lagipula nggak ada sistem perekrutan di sini. Emangnya grup kepanitiaan, pake perekrutan segala.

Sampai saat gue mengetik tulisan ini, gue tiba-tiba kangen Jamban Blogger, terutama forumnya. Saat itu gue masih kelas 10, masa-masa nyari komunitas blogger biar kenal banyak orang. Gue inget banget momennya: Gue online, membuka forum, di saat bersamaan, gue nelantarin PR. Suram banget masa itu.

Gue ngelihatin orang-orang, mau ikutan nimbrung malu. Mau komen, “Bw balik, Gan” takut dikira salah forum. Itu, kan, bahasanya Kuskus, eh Kaskus.

Memang dunia blog sekarang nggak serame dulu. Gue ngelihat ramenya dunia blog lewat Jamban Blogger. Tapi bukan berarti dunia blog sudah mati. WIRDY, gue akui, nggak serame beberapa bulan lalu. Sebelum namanya jadi WIRDY—dulu WIDY—grup ini rame banget dengan cerbungnya. Setelah jadi WIRDY, kebetulan gue anak baru di sini, kami rame-rame bikin e-book. Di grup WhatsApp beberapa kali muncul pertanyaan: “Udah berapa yang download?”. Wah, gue kangen betul itu. Hehehe.

WIRDY adalah teman-teman jauh gue. Gue di Kalideres, Jakbar. Cuma Bang Yoga aja yang paling deket di Palmerah, Jakbar. Selebihnya, Kakak Icha di Samarinda, Kakak Wulan di Pekanbaru, dan yang paling jauh Bang Darma di Turki. Usia pun cukup jauh. Cuma gue yang belum masuk usia kepala dua (meskipun sering dibilang mahasiswa semester lima).

Meskipun jauh, tapi gue merasa dekat. Rasa-rasanya kayak lagu Zivilia. Dekat dalam artian ada banyak lingkaran yang bikin gue dan mereka ada di dalamnya. Atau, antara masing-masing orang, minimal ada satu persamaannya, yaitu sama-sama ngeblog.

Misalnya, antara gue dengan Bang Yoga yang tinggalnya di Jakbar. Mungkin gue orang yang paling histeris ketika denger Jakbar. Ketika Stand up Indo Jakbar ikut LKS Kompas TV, gue girang bukan main. Padahal bukan bagian dari mereka. Paling sering, saat ketemu orang nyebutin dia tinggal di Jakbar, jantung gue bakal terpacu lebih cepat buat kenal lebih jauh sama orang itu.

Di kampus apalagi. Bagi gue, orang Jakbar kuliah di Jaktim dan sanggup pergi-pulang adalah orang tangguh. Ketemu orang Jakbar, gue langsung nyambut, “AH, SERIUS? JAKBARNYA MANA?!” Beberapa orang penting di kampus ada yang tinggal di Jakbar. Motivasi gue jadi makin nambah ... buat nyari temen dari Jakbar. Siapa tau aja, kalau gue ditakdirkan lanjut kuliah di luar negeri, gue ketemu orang Jakbar juga. Nggak ada yang tahu.

Lalu Bang Darma. Dia satu almamater sama gue di UNJ. Bedanya, dia udah lulus, gue masih maba. Beberapa kali dia nanyain atau ngomongin soal kehidupan kampus di grup atau personal chat. Mungkin naluriah sebagai senior, pengin tau mantan kampusnya.

Kalau kedua wanita di grup ini nggak tau apa kesamaannya. Hahaha. Paling itu tadi, sama-sama ngeblog.

Seandainya kami bisa ketemu berlima, gue mungkin yang paling diem. Ini dibuktikan sewaktu beberapa bulan lalu, saat ada voice call segrup. Handphone gue yang kebetulan lagi rusak saat itu nggak bisa ngeluarin suara dengan jernih. Gue coba online di laptop, mendengarkan lewat earphone, tetap nggak bisa. Mau ikutan ngomong, tapi suara gue nggak nyampe. Nyari-nyari lubang masuknya suara. Deketin mulut ke speaker, nggak bisa. Deketin ke kabel juga nggak bisa. Akhirnya gue jadi yang paling diem.

Gue mengambil kesimpulan dengan menganalogikan pertemanan ini dengan susunan tim Program Kreativitas Mahasiswa atau PKM.

Dalam sebuah kesempatan, gue pernah dengar seorang pembicara berkata bahwa sebuah tim PKM yang ideal adalah tim yang isinya (anggotanya) berasal dari berbeda-beda jurusan, fakultas, dan angkatan. Dengan begitu saling melengkapi ilmunya, kesempatannya, dan pembagian tugasnya. Kalau senior lagi sibuk, juniornya bisa bantu ngeprint proposal. Begitu juga sebaliknya.

Gue ngelihat WIRDY sebagai “tim PKM”. Kami berbeda-beda umur, daerah tinggal, dan latar belakang pekerjaan. Entah sampai kapan begini. Tapi, cuma makasih yang bisa gue ucapkan kepada kalian karena gue bisa ngerasain punya teman yang jauh jaraknya.

---

WIRDY lagi ulang tahun yang kedua, bertepatan sama Hari Guru. Ada yang mau disampaikan?

Sumber gambar:
https://pixabay.com/en/notebook-pen-eyewear-article-note-2672467/
https://www.duniaku.net/2015/06/06/captain-tsubasa-hyuga-final-liga-champions/
http://popkey.co/m/DDeM-happy-spongebob-cartoon-lol-shy-lolz

18 November 2017

Potret Kehidupan Pagi

Untuk masa-masa seperti sekarang, gairah dan semangat sedang tinggi-tingginya, momen yang gue suka adalah waktu antara Subuh hingga matahari mulai terbit. Dibanding sore yang menenangkan—tentunya diiringi lagu-lagu Payung Teduh, gue menyukai pagi karena memberikan rasa semangat. Mungkin nggak hanya gue yang menyukai pagi. Orang-orang yang bekerja pun suka. Meskipun dalam benaknya, entahlah, sedikit muncul pikiran, “Yah elah, udah pagi lagi. Waktu terasa pendek.”



Sebagai orang yang sering memulai hari dari pagi-pagi gelap, gue bisa melihat manusia dan interaksinya lebih banyak dibanding orang-orang yang bangun siang. Pemandangan “lomba lari di jembatan penyeberang orang (JPO)” sudah biasa gue lihat, bahkan gue suka “nantang” diri sendiri buat ngebalap siapa aja yang ada di depan gue. Mirip kayak Viru Sahastrebuddhe, dosen killer di film 3 Idiots yang nggak pernah mau ada yang ngedahuluin dia. Pokoknya harus selalu terdepan.

Lalu di tangga JPO. Seringkali gue ngelihat dua orang yang jalannya lambat banget, menuhin lorong. Bukan karena mereka pacaran, tapi mereka menghalangi jalan gue. Gue harus nahan-nahan diri buat bilang “Air panas, air panas!” biar mereka mau minggir.

Pindah ke angkot. Gue hampir selalu menemukan satu orang ini. Orang yang gue maksud ini nggak selalu gue lihat. Tapi, sekalinya gue lihat lagi orang ini, gue benar-benar kagum.

Dia adalah seorang ibu penjual makanan—entah kue, entah ikan mentah. Ibu ini membawa dagangannya dalam bak plastik, lalu ditaruh di atas kepala. Ya, kepalanya sendiri! Bukan kepala suku. Kepalanya dililit kain berlapis buat menopang bak—yang gue yakin ada isinya. Nggak mungkin kosong. Lagian kalau kosong, kurang kerjaan amat yak!

Kerennya, dia jalan biasa aja. Nggak goyah. Meskipun gue nggak bisa jamin, kalau gue senggol atau gue kelitikin pinggangnya, baknya masih bisa bertahan atau nggak. Gue kagum ... sekaligus ngilu.
Dulu pun gue pernah ngelihat orang seperti itu sewaktu TK. Pertanyaan gue selalu sama: apa kepalanya nggak sakit? Apa nggak merasa oleng? Secara, ini kepala, lho. Petinju aja kena tampol di kepala bisa teleng. Nah, ini ada ibu-ibu bawa makanan di bak di atas kepalanya. Gue bangun tidur kena salah bantal aja ngeluhnya sepanjang hari.

Itulah kekuatan yang telah Allah kasih kepada hamba-hamba-Nya. Masya Allah.

Pindah lagi ke objek lain.

Setiap kali gue berangkat ke kampus, dekat halte Transjakarta gue selalu menemukan pemandangan yang selalu sama. Salah satunya adalah pemandangan matahari mulai terbit. Selain itu, gue juga melihat pemandangan yang nggak kalah keren dan bikin gue geleng-geleng. Saking takjubnya. Pemandangan itu adalah seorang bapak yang mengatur lalu lintas, sambil sesekali merokok, dan berkaos dengan sablon tulisan “GOOD PEOPLE DRINK GOOD BEER” di bagian depannya. Yang membuat gue takjub adalah ... kaosnya itu lagi, itu lagi.

Mungkin dia cuek. Tapi gue, yang sering merhatiin sepele kayak gini, selalu memperhatikan hal ini. Kaos yang sama. Aktivitas yang sama. Respons dari gue yang sama: “Bau kaosnya kayak apa ya?”
Astagfirullah ngomongin orang.

Lanjut.

Gue berlari untuk dapat antrean bus paling depan. Niatnya biar bisa dapat tempat duduk lalu tidur. Walaupun sudah berlari dengan gesit, menghindari orang-orang, tetap saja ketika masuk bus harus berdiri. Itu sama rasanya kayak Messi gocek bola sana-sini, ngelewatin lawan (nggak pake permisi tentunya), udah di depan gawang, mau nge-shoot bolanya kempes.

Bagusnya setelah transit gue selalu dapat tempat duduk. Tapi, gue nggak langsung tidur. Pertama, baca buku dulu biar semua orang di bus ngasih pemakluman: “Oh, lagi belajar. Gak papa deh duduk.” Setelah satu halte dilewati, baru deh gue tidur. Orang-orang di bus, setelah gue bangun, pandangannya jadi beda: “Si kampret bohongan ternyata!”

Sampai di kampus, gue mampir sebentar ke perpus buat nulis laporan sekalian ketemu temen-temen. Sambil mengerjakan laporan, satu pesan WhatsApp masuk membuat konsentrasi gue hilang. Gue sempatkan untuk melihatnya sebentar.



Hanya berselang satu menit, ada pesan balasan.



Untung lagi di perpus. Kalau di luar, bisa-bisa gue ketawa, marah, nangis, dan guling-guling secara
bersamaan.

Jangan-jangan, orang ini baca judul postingan gue yang “Kamu Mau Nikah?”. Padahal itu, kan, tentang lagu “Akad”-nya Payung Teduh. Oh iya, ngomongin Payung Teduh, kaget juga karena vokalisnya keluar. Ditambah kaget setelah baca ini.

Kira-kira begitulah potret kehidupan pagi yang gue temui. Masih banyak hal-hal yang bisa ditulis sebenarnya. Bagi gue, pagi hari adalah langkah awal buat ngejalanin aktivitas seharian. Kalau hal buruk dianggap buruk padahal waktu masih pagi, patut dipertanyakan beberapa jam ke depan kayak gimana cara ngejalanin aktivitasnya.
14 November 2017

Namanya Juga Belajar

Halo, apa kabar?

Gue kangen membuka postingan seperti itu. Hal yang sama sebelumnya dikatakan Yoga Akbar di grup WhatsApp WIRDY. Setelah gue sadari, apakah perubahan ini menuju ke arah bagus atau jelek? Nggak tau deh.

Gue juga kangen membuka postingan dengan bilang, "aduh mau cerita banyak nih. Kalau kalian nggak mau baca lama-lama mending close tab aja". Makin ke sini gue nggak pernah bilang-bilang dulu kalau mau cerita panjang.

Gue juga kangen, memulai cerita dengan paragraf yang gak penting dulu. Nah, sekarang gue mulai cerita. Tapi mulai dari mana? Oh iya, bagian "bingung mau mulai dari mana" termasuk hal yang gue kangenin.

Begini...

Gue nggak pernah ikut OSIS. Namun, gue pernah ikut LDKS--yang biasanya jadi syarat masuk OSIS. Kelanjutannya gimana? Ya, tentu gue nggak lolos seleksi OSIS setelah LDKS.

Waktu itu, kelas 7, gue cuma nulis nama dan ekskul yang gue ikuti. Semua orang di kelas pun melakukan hal yang sama. Beberapa hari kemudian, secara acak, gue masuk dalam daftar orang yang ikut LDKS. Entah apa pertimbangannya, gue tiba-tiba ikutan LDKS. Yang makin bikin gue bingung waktu itu, GUE NGGAK TAU LDKS ITU APAAN.

Saat LDKS, lebih tepatnya LDKS jilid I karena ada jilid selanjutnya, gue ngelakuin apa aja yang dibilang senior. Disuruh jalan jongkok, hayuk. Makan permen dicelup garem, hayuk. Abis itu permennya digilir dari mulut ke mulut, hayuk! Saking polos dan nurutnya, gue dulu nggak ngerti jijik. 

Seiring dengan perkembangan otak, gue mengingat lagi kegiatan itu dan gue mikir, itu adalah acara aneh yang pernah ada. Nggak jelas dan kejam. Ada satu momen yang rasanya nggak akan pernah gue lupakan. Ketika itu, kelompok gue habis lari. Di ujung gang sudah ada kakak kelas lelaki berbaju batik sekolah. Dia nawarin sebotol air dalam botol 1,5 liter. “Kalian haus?”

“Iya, Kak.”

“Nih.” Dia nyodorin ke gue sambil senyum-senyum. Rasa haus telah menguasai diri, gue tenggak banyak sekali air itu, yang ternyata AIR GARAM! Ini percobaan pembunuhan gue rasa. Tenggorokan gue kena radang seminggu. 

Hah, terkutuk!

Astagfirullah.

Dan LDKS, bagi gue, selalu bikin orang nangis. Hal itu gue simpulkan setelah kakak-kakak OSIS (pura-pura) berantem. Gue hanyut dalam drama mereka. Ikutan nangis deh. Cengeng memang.

Masuk ke SMA, gue pelan-pelan ngerti maksud dan tujuan LDKS. Sesuai dengan namanya, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa, LDKS bertujuan untuk pelatihan kepemimpinan. Namun, di SMA pun gue nggak ikutan karena ... kegiatan tidur di kelas lebih enak.

Di dunia perkuliahan barulah gue merasa selama SMA kegiatan gue kosong. Nggak banyak modal kehidupan yang gue punya. Gue merasa sekolah begitu-begitu aja: datang, ngobrol, dengerin guru, tidur, pulang. Beda banget sama teman gue yang OSIS, misalnya Diki. Dia adalah ketua OSIS pada masanya. Pulangnya selalu Magrib. Hidupnya di sekolah nggak ngebosenin. Keren aja ngelihat dia.

Beberapa hari lalu gue ikut pelatihan kepemimpinan dari prodi di kampus. Salah satu alasan gue untuk ikut adalah banyak temen gue yang ikut. Hahaha. 

Foto-foto seperti ini harus nyelip di blog pribadi

Wajar, tahap-tahap maba masih harus bareng temen dulu.

Bukan hanya itu. Alasan paling mendasar adalah buat lebih tahu gimana caranya menata diri. Gue merasa, setiap kali ada banyak tekanan, gue nggak bisa nyelesain dengan baik. Akhirnya, gue malah kabur dari masalah itu lalu makin kepikiran terus. 

Lokasi acaranya ada di daerah Puncak. Jujur saja, ini baru pengalaman pertama gue ke Puncak. Selama ini, seperti yang gue tahu dari berita, gue taunya Puncak cuma daerah yang sering macet. Sekarang, lebih dari itu. Gue tau Puncak itu ... dingin! Keren juga lagi. Di balik kaca jendela bus, gue terkagum-kagum melihat pemandangan di luar yang isinya vila, pohon, dan kaleng kaca berisi asinan. “Wah, gila. Kenapa gue baru tahu sekarang, ya, kerennya Puncak?” batin gue. Sekaligus sebagai pengakuan kalau gue gagal jadi anak ibukota yang terkenal sering bikin macet Puncak.

Acaranya sendiri padet banget. Bangun sekitar pukul 2.30 pagi untuk salat Tahajud. Karena berada di daerah yang dingin, pertama kali berwudu badan gue langsung gemeteran. Udara dingin bikin gue pengin meluk magic com. Semua dilakukan sambil nahan-nahan ngantuk.

Pelatihan kepemimpinan mahasiswa (PKM), seperti namanya, isinya nggak jauh-jauh dari kepemimpinan, manajemen diri, dan organisasi. Buat gue, hal ini bisa jadi modal buat menghadapi dunia perkuliahan yang ada aja rintangannya. Pelatihan ini adalah ilmu yang aplikatif buat kehidupan sehari-hari. Beda dengan LDKS yang gue ikuti waktu SMP, saat ini gue lebih siap dan lebih ngerti apa makna yang didapat. Nggak sekadar asal dipilih dan ikutan.

---

Hari itu hari Minggu. Pulang dari PKM, di bus, gue mendapat satu pesan dari kakak gue. 

“Ke Puncak ada acara apa, Bi?”

“Pelatihan kepemimpinan, Mas,” jawab gue. 

“Ada tugas nggak buat Senin?”

DUAAARRR!

Sebenarnya gue sudah nyelesain tugas untuk hari Senin. Hanya ada beberapa laporan praktikum saja yang belum di-print. Gue berniat ngeprint di kampus. Denger-denger dari teman, di sana ada tempat ngeprint yang murah. Tapi entahlah. Gue malah ragu buat bisa ngeprint di kampus. Jadwal kuliah mulai dari pukul 7 sampai 9.40, lalu tugas laporan Fisika dikumpul pukul 10. Sepertinya nggak akan keburu ngeprint.

“Ada. Udah selesai, kok.”

Sampai di rumah, gue langsung mindahin file ke flashdisk kemudian pergi ngeprint ke warnet pukul 22.30. Jam-jam segini adalah hal biasa bagi gue untuk ngeprint. Bagusnya, di sana masih buka. Satu laporan telah tuntas. Masih ada satu laporan lagi yang belum dirapiin dan di-print. Nggak apa, kalau besok harus telat, maka telatlah.

Tugas laporan gue belum berhenti sampai di situ. Besok dua laporan praktikum Kimia harus dikumpul. Masih ada sedikit lagi bagian yang belum selesai. Gue membuat rencana bakal bangun tengah malam, sekitar pukul 2, seperti yang biasa dilakukan saat PKM, buat ngerjain laporan. Alarm sudah disetel. Nggak cuma satu, tapi ada tiga alarm dengan jeda masing-masing 15 menit. Gue tidur dengan nyenyak.

... sampai pukul 4.30. 

TUGAS GUE GIMANA DONG?! 

Mau nggak mau gue harus ngerjain di kampus atau di bus. Pukul segitu gue harus siap-siap berangkat. 

Gue mencoba berpikir tenang. Di kelas, gue nggak mau dosen lagi ngejelasin tapi gue malah asyik nulis laporan. Kalau kata pembicara sewaktu Kuliah Umum beberapa waktu lalu, itu namanya nggak here and now. Atau, kata guru Bahasa Inggris di SMP nyebutnya “lagi selingkuh”. Biar nanti aja ngebut ngerjain setelah praktik Fisika sebelum praktik Kimia lalu dikumpulkan.

Rencana gue gagal karena selesai praktikum pukul 12 lewat karena suatu hal (oh tentu, ini adalah bagian yang sensitif buat ditulis di blog muahaha). Praktikum selanjutnya, praktik Kimia, kelas gue harus pindah ke kampus B yang jaraknya sekitar 1,5 km. Butuh waktu paling cepat 15 menit kalau jalan kaki. Keluar dari lab gue berlari di pinggir jalan Rawamangun di antara teriknya panas matahari. Teman gue, Septi, memanggil dari jauh, “Sini bareng aja (sekelas) naik (angkutan). Pakai uang kas.” Gue hanya menggeleng dan terus berlari.

Di kampus B, gue datang lebih dulu daripada teman-teman yang naik Transjakarta atau angkutan lainnya. Dilanjutkan dengan salat Zuhur, kemudian gue ambil kertas laporan yang sudah gue cicil beberapa hari yang lalu. Plastik fotokopian di tas gue keluarkan untuk mengambil laporan dan melanjutkannya. Lembaran-lembaran kertas gue buka satu per satu, ternyata nggak gue bawa.

AAAARRRGH!

Akhirnya gue ngerjain laporan sejadi-jadinya. Nggak tanggung-tanggung, dua laporan gue kerjain dengan ngasal. Analisis dari laporan akhir gue tulis sedikit aja. Kesimpulan dari praktikum minggu kemarin gue tulis cuma tiga poin. Untuk hal paling gampang, yaitu cara kerja, gue lupa menulisnya. Ngaco banget pokoknya.

Namun, pada akhirnya, gue malah mendapat pelajaran paling penting dari PKM kemarin. Bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu, barulah bisa memimpin orang lain dan memengaruhinya. Dalam kasus gue, untuk memimpin diri sendiri aja gue masih belum maksimal. Laporan nggak selesai, kelabakan nggak jelas, dan tentunya manajemen waktu yang payah, mengingat beberapa hari yang lalu gue lebih milih main game daripada nulis laporan. Dodol emang.

Harapan gue setelah PKM adalah salah satunya biar bisa ngatur diri lebih baik lagi.  Yah, namanya juga belajar. Kayaknya, Nelson Mandela, pemimpin pergerakan Afrika Selatan, bakal bilang begitu kalau denger cerita gue.  
05 November 2017

Rencana Cadangan Kuliah

Kata orang-orang bijak, sebuah rencana harus punya rencana cadangan biar seandainya gagal masih punya harapan. Begitu juga dengan memilih jurusan kuliah, yang nggak ada habis-habisnya disampaikan guru BK di kelas, “Kamu boleh fokus dengan satu jurusan. Tapi, nggak kalah penting buat punya rencana cadangan.” Begitu kira-kira yang dibilang.

Mengenai mencari rencana cadangan kuliah, gue masih bingung mau kuliah di jurusan apa selain Pendidikan Kimia. Jurusan itu masih jadi satu-satunya yang gue yakin bakal meraihnya. Tapi, kalau semuanya gagal, gue harus bagaimana? Setiap kali melihat grup-grup sharing tentang masuk kuliah, banyak banget orang yang cerita tentang kegagalannya berkali-kali buat masuk PTN. Rasa takut mulai menghantui gue. Apalagi setelah tau kalau gue nggak dapat jatah kuota jalur undangan.

Disuruh SBMPTN. 

Saya sudah mencoba SBMPTN (tes tulis) tahun kemarin. Hasilnya gagal. Saya pernah coba jalur undangan gagal juga. Ini tahun terakhir saya punya kesempatan ikut jalur tes masuk PTN. Kalau gagal juga ... saya berjuang di arena Benteng Takeshi aja deh. :(

Ungkapan itu seringkali punya dua makna buat gue: 1) Memotivasi gue buat terus berjuang, 2) KOK NAKUTIN YA?

Mungkin orang itu nggak bisa masuk PTN, tapi nunggu setahun, mengisi waktu dengan bekerja. Gue sendiri sadar, gue nggak punya keahlian apa-apa. Kalau gue maksa untuk kerja, gue bakalan sering nggak betah karena keinginan gue tetap mau kuliah.

Ketika itu, Yoga Akbar nanya gue untuk sedikit diskusi di motornya yang sedang melaju. “Menurut lu, setelah lulus SMA itu bagusnya langsung kuliah atau jeda dulu kuliahnya?”

Obrolan ini mengingatkan gue sebelumnya pada salah satu episode di Podcast Awal Minggu. Adriano Qalbi, host-nya, ngomongin soal kuliah versus kerja dulu. Diberi pertanyaan begini, gue merasa lagi ngepodcast bareng Yoga Akbar di motor.

“Kalau menurut gue, sih, lebih baik langsung. Soalnya ilmunya masih inget. Kalau dijeda dulu takut lupa-lupa,” jawab gue.

Gue memang lebih memilih kuliah daripada kerja. Hal yang juga didukung oleh Mas Arif, kakak gue.

“Masuk swasta aja kalau nggak dapat negeri. Ngapain kerja dulu, nanti lupa kuliah kalau udah kenal duit.”
“Tapi, kan, mahal.”
“Cari yang murah.”

Setiap inget perkataan “cari yang murah”, gue selalu ingat brosur-brosur kampus swasta yang nggak bisa gue bedain dengan brosur cicilan motor.

***

Kakak gue adalah seorang guru. Dia peduli banget sama pendidikan gue. Waktu SMP, dia mau gue masuk SMP yang bagus. Beranjak ke SMA, gue ditekan terus untuk masuk SMA favorit. Untuk kasus di SMA, gue malah sependapat karena SMA itu juga jadi incaran gue. Tapi, untuk kuliah, entah kenapa dia suka ngasih saran yang nggak pernah satu tujuan sama gue.

“Lu kenapa nggak nyoba STAN? Noh, Mas Itu (menyebut nama saudara) aja bisa masuk STAN.”
“Nggak ah. Mau jadi guru,” jawab gue, yakin.
“Jadi guru mah gajinya kecil.” Sepertinya dia lupa kalau profesinya adalah seorang guru. Gue kabur setiap dia bilang kayak gitu. Bahkan sampai-sampai gue lari ke kamar mandi karena nggak tahan dengan penilaiannya dengan cita-cita menjadi guru. Di kamar mandi, gue ngeguyur kepala sesering-seringnya, sambil nahan suara biar nggak ketahuan sedang nangis. Memang cengeng.

Omongannya itu pelan-pelan membuat gue mikir ulang buat nyari jurusan kuliah yang lain. Pernah satu kali gue bilang, “Mau Pertanian!” setelah dia tanya “Mau masuk jurusan apa?”—yang ke sekian kalinya. Dia cuma jawab, “Ngapain? Nggak bisa kerja di kota.”
“Tapi, kan...”
“Teknik Kimia aja. Bagus, nih,” katanya sambil scrolling di laptop gue. Dia membaca artikel “Jurusan Potensial Kimia”.
“Nggak bisa Fisika, Mas,” kata gue.
“Ya udah, STAN aja, STAN.”

Gue kabur lagi ke kamar mandi.

***

Menjelang tes-tes perguruan tinggi banyak orang yang jadi doyan bahas dan tanya soal. Gue bukannya nggak suka, tapi kesel aja waktu temen gue nanya, “Tadi soal ulangan gimana?” saat gue mau takbiratul ihram. Ini mau solat, lho, padahal.

Orang-orang bukannya istirahat malah ngisi buku soal latihan. Gue mau berusaha ngikutin gaya mereka, tapi nggak sanggup dan lebih milih baca buku Sherlock Holmes yang disimpan di loker kelas. Baru dua halaman baca, gue gelar karpet di belakang kelas. Tidur. Rasanya emang paling enak siang-siang tidur di kelas nungguin guru masuk.

Kebiasaan di lingkungan gue yang begitu aneh ini membuat gue sedikit terpengaruh. Gue jadi ikut-ikutan doyan ngerjain soal latihan buat UN. Untuk persiapan SBMPTN sendiri, paling yang gue kerjakan cuma latihan soal-soal Tes Potensi Akademik (TPA). Artinya, gue juga aneh dong? Bodo amat deh.

Lingkungan juga memengaruhi gue untuk ikut-ikutan mau coba STAN. Apalagi setelah dua teman sekelas, Rohim dan Diki, bilang mau nyoba daftar STAN. Saat itu, kondisi gue sangat tidak ada minat ke STAN.
“Ayolah, coba aja, By,” hasut Diki
“Iya. Coba aja dulu yuk.” Rohim ikutan menghasut.
“Gue bingung, nih. Gue tetep mau perjuangin pilihan sejak lama.”

Yang gue maksud adalah Pendidikan Kimia.

Diki mengatakan nasihat bijaknya sebagai mantan ketua OSIS. “Coba aja semuanya yang bisa dimasukin. Nggak ada yang tahu nanti kita masuk mana.”

Meskipun kalimatnya agak ambigu, perkataannya benar adanya ketika gue ingat lagi salah satu event di game Harvest Moon Back To Nature. Event itu adalah lomba balap kuda. Kita sebagai pemain hanya dapat bertaruh di event tersebut dan bebas memilih mana saja tanpa batasan. Semua kuda bisa dipertaruhkan, tapi yang membedakan adalah kuda itu akan membawa keuntungan yang beda-beda—harga menangnya berbeda.

Gue melihat hal ini sebagai salah satu jalan buat menghindari nganggur, eh buat kuliah. Coba dulu aja deh, biar nggak penasaran.

***

Pada suatu kelas pelajaran BK, di hadapan gue ada buku fotokopian yang di halamannya ada banyak banget nama-nama perguruan tinggi, baik negeri maupun kedinasan. Semua yang ada di buku tersebut tetap nggak ada yang menarik hati gue. Waktu itu keinginan gue masih mantap mau masuk Pendidikan Kimia. Jadi, setelah lihat semua jurusan yang ada, gue nggak tertarik lagi. Lagipula, sebelumnya gue sudah googling mengenai kampus yang punya program studi Pendidikan Kimia, utamanya Pendidikan Kimia UNJ.

Sembari menghabiskan waktu, gue membuka lembar-lembar berikutnya. Lembar itu isinya daftar perguruan tinggi kedinasan. Tertulis paling atas “Akademi Kimia Analisis”.

Kedinasan bidang kimia? Demi apa ada yang kayak gini? batin gue.

Pulang sekolah gue segera mencari informasi mengenai Akademi Kimia Analisis (AKA) yang letaknya ada di Bogor. Setelah gue cari tahu, AKA Bogor bukanlah perguruan tinggi kedinasan, melainkan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian. Entah benar atau nggak apa yang gue tahu saat itu, gue mulai tertarik mencoba daftar hanya karena ada kimia-nya. Di website-nya, masih ada jalur rapor untuk masuk. Cukup SNMPTN saja yang menutup kesempatan gue kuliah lewat jalur rapor, AKA Bogor jangan.

Setelah melengkapi pemberkasan dan mengirimnya ke kantor pos, gue masih harus menunggu waktu sekitar 1,5 bulan untuk menanti pengumuman. Kakak gue mendukung apa yang gue lakukan. “Bagus!” serunya. “Kalau masuk situ, lu bisa langsung kerja di Badan POM.”
“Ehm, nggak cuma itu, sih,” sanggah gue. “Paling di pabrik makanan.”

Ketika mendaftar AKA Bogor, gue diharuskan memilih dua pilihan jurusan. Di Politeknik AKA Bogor, hanya ada tiga jurusan, yaitu Analisis Kimia, Penjaminan Mutu Industri Pangan, dan Pengolahan Limbah Industri. Ketiganya adalah program diploma III. Pilihan pertama gue sudah pasti Analisis Kimia. Sekarang gue bingung milih apa di slot kedua.
“Pak, menurut Bapak, Robby pilih apa? Limbah industri atau pangan?” tanya gue kepada Bapak. Dia paling jago ketika dimintain saran. Terutama saran atas pertanyaan paling sering gue tanyakan di rumah: “Pak, sayur tadi pagi boleh dimakan lagi nggak?”

Sejujurnya, gue nggak mau bertanya hal ini. Gue punya kebiasaan nggak akan pernah cerita ke siapa-siapa tentang apa yang sedang gue lakukan dan rencanakan. Di akhirnya, gue tinggal minta izin untuk beraksi. Jadi, bagi gue, izin adalah nomor terakhir. Namun, minta pendapat kali ini rasanya penting.
“Limbah industri malah bahaya. Pangan aja lebih enak. Limbah kan banyak terpapar bahan kimia, gitu.”

Gue mengikuti perkataannya tanpa banyak ngomong “tapi”. Siapa tau, dengan gue mengikuti perkataannya gue bisa masuk sini dan terhindar dari nganggur.

Pilihan pertama: Analisis Kimia
Pilihan kedua: Penjaminan Mutu Industri Pangan.

Kirim deh lewat kantor pos!

***

Sekarang gue sudah punya pilihan untuk kuliah: Pendidikan Kimia, AKA Bogor, dan STAN.
Di antara ketiga itu, sama sekali gue nggak masukin target “Nilai UN rata-rata 9” dalam tujuan jangka pendek. Bagi gue, UN udah nggak ada rasanya lagi karena nggak menentukan kelulusan. Nggak peduli banget pokoknya. Yang ada di pikiran gue hanyalah tiga hal tadi. Bagaimana cara gue buat masuk sana?

Untuk STAN, mengikuti langkah awal teman-teman gue yang lain, gue membeli buku latihan soal masuk STAN di alumni yang berhasil masuk STAN. Setelah buku berhasil didapatkan, gue bersemangat 45 membuka lembar-lembar buku itu. Baunya enak. Jangan-jangan begini baunya parfum anak STAN. Halah, berkhayal kejauhan.

Paket soal pertama gue coba. Gue langsung lompat ke soal Bahasa Indonesia karena gue paham kemampuan Matematika gue tidak sehebat Einstein. Soalnya masih gue mengerti. Lalu gue pindah ke soal hitung-hitungan. Berkali-kali baca soalnya gue nggak ngerti, lalu kabur guyuran ke kamar mandi.

Mungkin di situ kesalahannya: Niat gue mau masuk STAN cuma ikut-ikutan. Selain itu, mungkin gue hanya mau membuktikan ke kakak gue bahwa gue siap (pura-pura) berjuang masuk STAN. Tanpa pikir panjang, gue nggak akan melanjutkan perjuangan untuk masuk STAN. STAN dan kimia sangatlah beda. Gue melihat buku soal bersampul hitam itu—buku soal STAN. Enaknya diapain, ya, ini buku?

***

Dengan menjual buku latihan soal STAN ke seorang teman, gue resmi mundur dari persaingan masuk STAN. Pilihan gue sekarang tinggal AKA Bogor dan Pendidikan Kimia. Pengumuman AKA Bogor pun sudah semakin dekat.

Gue sengaja bangun pagi untuk melihat pengumuman seleksi rapor AKA Bogor. Dengan kecepatan 4G dari Bolt, sangat mudah untuk gue mengetahui pengumuman dari AKA Bogor. Pengumuman dibuat dalam format pdf. Dua file pengumuman program studi D3 Analisis Kimia dan D3 Penjaminan Mutu Industri Pangan gue download. Gue harus melihat nama gue di pilihan pertama: Analisis Kimia.

Scroll.

Scroll.

Halaman kedua.

Scroll.

Halaman ketiga.

Scroll.

Habis.

Nama gue nggak ada. Oke, mungkin di pilihan kedua.

Gue lakukan hal yang sama seperti sebelumnya, hasilnya sama. Nama gue tetap tidak ada. Gue patah hati lagi setelah nggak dapat kuota jalur undangan PTN (SNMPTN). Gue melihat pengumuman lanjutan yang memberikan sedikit harapan:

“Bagi yang belum berhasil dalam jalur rapor, silakan mencoba kembali di tes tertulis pada tanggal 13 Mei 2017 tanpa membayar uang pendaftaran”.

Gue nggak lari lagi ke kamar mandi untuk guyuran.

---

Tulisan ini masih berupa kilas balik beberapa bulan lalu saat gue kelas 12. Cerita yang lain sebelumnya sudah gue tulis di label "Menuju PTN".