28 October 2017

Gue melihat tumbuhan sebagai makhluk yang menyenangkan. Dibanding memelihara hewan, gue lebih jago dalam merawat tumbuhan. Dapat dilihat dari track record, selama memelihara hewan gue lebih sering nyiksa dibanding merawat.

Tetangga gue juga bilang begitu. Dia seringkali mergokin gue sedang nyirem tanaman. Bukan, bukan disiram pake gula merah. Itu mah serabi. Yang ini disiram pakai air sumur.

Seorang tetangga bilang ke Mama sambil memerhatikan gue menyiram tanaman. “Robby ini seneng ngerawat tanaman, ya.” Mama gue cuma mengiyakan. “Ya, begitu deh.”

“Nanti kuliahnya di pertanian aja, tuh. Bagus.”

Waktu itu gue masih kelas 4 SD. Mendengar saran itu dari tetangga, jelas gue sedikit senang sekaligus gondok. Cita-cita gue mau jadi pemain bola!

Belakangan cita-cita itu pudar setelah ngelihat teman yang setiap kali main bola mimisan kegebok bola.

Meskipun nggak bisa gerak ke sana kemari seperti hewan, bagi gue, tumbuhan memberi kesan meneduhkan. Mungkin itu juga alasannya kenapa orang melihara ikan louhan; caranya berenang bikin adem. Coba, apa lagi alasannya kalau bukan yang meneduhkan dan membuat nyaman? Emang pernah denger ada bilang, “Gue melihara louhan biar hubungan keluarga jadi retak dong.”

Dibanding teman-teman seumuran juga, gue termasuk anak yang paling tertarik dengan tumbuhan. Gue pun memikirkan apa sebutan yang cocok untuk hal itu. Mungkin plantosexual. Lho, itu mah orientasi seksual ke tumbuhan dong? Mau kawin sama kaktus?

Bukannya sombong, saat gue merenungkan apa yang pernah gue lakukan saat masa kecil, gue bisa menilai waktu itu gue pencinta tumbuhan banget. Kalau diseriusin mungkin gue bisa jadi aktivis reboisasi. Gue melihat tumbuhan sebagai seorang kawan yang selalu merindukan siraman air sumur dari gue, sedangkan teman-teman gue ngelihat tumbuhan sebagai benda yang layak ditebas, disiksa, dan dipretelin tanpa harus ketakutan bakal melawan.

Padahal, tumbuhan adalah salah satu makhluk yang bisa melawan zombie.

Siap di garda terdepan

Kebetulan rumah gue (dulu) ada sedikit lahan yang diisi berbagai tumbuhan dalam pot. Cabe, pandan, suji, dan daun pecah beling ada di tempat yang gue anggap seperti panti asuhan ini. Tumbuhan-tumbuhan itu berkumpul layaknya anak-anak dalam asuhan gue sebagai kepala pantinya. Halah. Apaan itu.

Beberapa orang juga pernah memanfaatkannya untuk keperluan obat dan masak. Dari situ, gue merasa banyak sekali manfaatnya merawat tumbuhan.

Gue senang bermain-main dengan tumbuhan. Beberapa kali gue membuat eksperimen dari teman-teman gue ini (ya, memang kesannya jahat menjadikan teman sebagai bahan eksperimen).

Beberapa momen yang dengan banyak tumbuhan di lingkungan rumah ada yang masih gue ingat.

Pertama, ilmu menyambung tumbuhan. Gue lupa pernah dapat ilmu ini dari mana. Seingat gue, pada suatu hari gue menonton informasi yang menjelaskan tentang menyambung tumbuhan. Sampai akhirnya gue mengenal metode itu bernama cangkok. 

Guru SD gue saat kelas 6 pernah menyinggung soal mencangkok. “Kan enak ya, kalau kita bisa mencangkok ubi dan padi. Jadi, nanti ada padi yang segede ubi. Bisa sekali makan kenyang.” Mendengar hal itu membuat gue penasaran. Apa lagi waktu itu gue dibilang anaknya polos banget dan gampang percaya. Gue masih ingat betul beliau bilang begini di kelas:

“Kalian tau nggak teroris itu asalnya dari mana? Dari orang-orang yang polos, nanti otaknya dicuci. Nah, di kelas nih kayaknya ada yang begitu.” Dia mencari wajah-wajah muridnya yang sebentar lagi akan lulus SD ini. “Nih, Robby kayaknya, nih.”

Gue jelas nggak terima dibilang polos. Teman-teman gue selalu bilang “Wah, Robby udah nggak polos” sewaktu mereka ngomongin hal-hal jorok. Tuh, kan, teman-teman gue aja bilang begitu. Guru gue salah dong. Tapi waktu itu gue sempet bingung, maksudnya otak dicuci itu kayak gimana.

Rasa penasaran juga semakin memuncak setelah melihat anak sekolah tetangga ujian praktik IPA melakukan cangkok. Sedangkan gue cuma merangkai lampu secara seri dan paralel. Mana lampunya nggak nyala. Gue makin kesel. Setelah UN, gue mencobanya sendiri di rumah. Tentunya dengan modal kesotoyan.

Langkah awal gue adalah: mencari tumbuhan yang (harapannya) bagus kalau dicangkok. Berkat perkataan guru di sekolah, gue langsung mengambil objeknya adalah pohon pepaya. 

Awal yang bagus. 

Setelah itu, gue harus mencari tumbuhan yang kira-kira tumbuhnya cepat. Di antara tumbuhan yang berhasil tumbuh besar dari mulai benih sampai ke pohon yang pernah gue coba adalah pohon jarak. Pohon yang biasanya diambil buahnya buat bahan bakar ini lumayan banyak ditanam di sekitar rumah gue. Gue segera mencari pohon jarak yang sudah setinggi pinggang untuk disambung ke pohon pepaya.

Sampai sini, gue sudah membayangkan pohon pepaya yang tumbuhnya cepat. Atau, sejelek-jeleknya menjadi pohon pepaya yang buahnya jadi bahan bakar. Penemuan besar! Gue akan jadi ahli botani cilik saat itu.

Gue segera memotong pohon pepaya setinggi pinggang. Bagian atasnya gue sambungkan ke pohon jarak yang batang bagian atasnya gue buang. Gue mengambil gulungan solasi bening untuk menyambung keduanya. Namun, sambungan itu malah letoy. Gue coba berkali-kali disangga dengan kayu, tetap saja lemah sambungannya. Tenang, tenang. Ini langkah awal untuk hal besar. Robby Kecil sangat optimis saat itu.

Seminggu kemudian, kedua tanaman itu layu. Gue mendapati keduanya sudah tergeletak di tanah. Semangat gue juga layu. 

Ah, bener. Mending jadi pemain bola aja, batin gue

***

Mungkin waktu di rumah gue yang dulu pohon jarak adalah primadona. Gue seneng dengan pohon ini karena tumbuhnya cepat dan cara nanamnya lebih gampang. Tinggal diambil buahnya, dipendem di tanah, tunggu beberapa hari, tumbuh deh. 

Lalu tebas.



Di mes, gue bersama Sofyan adalah penggerak penanaman pohon jarak. Gue perintahkan dia buat menanam pohon jarak bersama. Biji yang kami tanam didapatkan dari pohon jarak milik Abah. Suatu malam, gue pernah nguping obrolan seputar buah jarak.
“Buah jarak itu bisa dimakan. Enak. Rasanya kayak kacang. Bijinya dibakar dulu, baru dikupas dalamnya.”

Sebuah info yang menarik. Beberapa hari kemudian, di sore hari, gue mencoba hal itu di antara bakaran sampah. Gue tawarkan buah jarak yang sudah dibakar ke Sofyan. “Lu nggak mau coba nih?” Sudah seharusnya seorang aktivis seperti dia menerima itu.
“Nggak deh. Buat lu aja.”

Gue menggetok batu ke biji itu, kemudian dikupas. Di dalamnya ada bagian daging berwarna putih. Benar-benar mirip kacang, batin gue. Gue mencicipinya, ternyata nggak terlalu buruk rasanya. Memang, sih, rasanya nggak mirip kacang. Setidaknya cukup enak buat dimakan.

Kebiasaan itu ternyata memberi efek candu buat gue. Beberapa kali setiap ada pembakaran sampah gue selalu nebeng api dari sana buat ngebakar buah jarak. Sofyan sesekali ikutan makan. 
Gue ingat malam itu. Sepertinya menjadi malam yang paling keren buat gue karena gue sudah menyiapkan empat buah jarak untuk dikonsumsi malam ini. Gue ke pembakaran sampah, lalu melempar buah jarak seperti biasanya. Satu bijinya gue ambil untuk dikupas kulitnya dan dimakan. Daging putih biji jarak gue makan. Kira-kira sudah melewati kerongkongan, gue mulai merasa mual. 

Akhirnya muntah. 

Sambil nyari tahu tentang buah jarak, untungnya nggak ada efek lebih jauh dari makan buah jarak. Gue baca di salah satu artikel, ceritanya persis tentang dia makan buah jarak. Penulisnya sempat ngerasain pusing. Kalau begini caranya, gue belum layak jadi petualang yang sekitarnya tumbuhan semua. 

Jadi pemain bola aja, udah!


Sumber gambar:
http://www.mangyono.com/2014/02/makan-buah-jatropha-curcas-jarak-pagar.html
https://www.bukalapak.com/products/s/buah-tanaman-jarak-pagar

17 October 2017

Meskipun gue nggak terlalu suka dengan fitur timeline yang ada di Line, gue beberapa kali membukanya untuk sekadar baca-baca artikel dari official account atau status dari teman-teman. Status yang di-like teman pun ikut-ikutan muncul di timeline sehingga mau nggak mau ikutan kebaca. Bagus kalau yang muncul kontennya menarik. Bagaimana kalau sebaliknya?

Berarti, kalau begini jadinya, siasatnya adalah: selamat pilih-pilih teman.



Gue terpikirkan dua jenis tulisan berbentuk curhat yang sering muncul di timeline Line. Entah kenapa, curhat ini kebanyakan ditulis oleh akun dengan foto atau nama perempuan. Jenis post itu adalah: 1) Post pelecehan seksual dan 2) Post cerita orang asing minta uang. Untuk yang pertama, gue jarang baca sampai selesai karena baru sampai pertengahan atau saat bagian konflik, gue ngilu bacanya.

Untuk contoh yang kedua, gue beberapa kali nggak terlalu permasalahin. Cuma ada orang tua, entah pura-pura atau sungguhan, minta uang. Jadi, cerita lengkapnya kira-kira begini:

Penulis bercerita sedang dalam perjalanan. Dalam perjalanan dia bertemu seseorang yang tidak dia kenal, lalu orang itu meminta ongkos untuk pulang dengan alasan yang beragam (misalnya, habis dijambret, dicopet, dipalak, digendam).

Sampai pada suatu hari, gue ikut-ikutan menulis seperti orang yang dimaksud.

^^^

Saat itu gue pulang lebih awal dari hari-hari biasanya. Biasanya gue baru keluar dari UNJ setelah Magrib, kali ini gue pulang sekitar pukul 4. Perkiraan sampai di halte tujuan gue terakhir sekitar pukul 6. Dengan begitu gue masih sempat mampir ke masjid untuk salat Magrib.

Agak tanggung sebenarnya untuk pulang berbarengan dengan jam pulang kantor. Di jalan hampir pasti ada kemacetan. Di Jakarta, jarak sedekat apa pun yang akan ditempuh, dalam keadaan macet, akan sama waktunya dengan perjalanan mencapai gelar doktor.

Di jalan sudah pasti macet. Gue khawatir nggak sempat salat Magrib. Maka dari itu, gue agak ragu pulang pada saat jam pulang kantor.

Benar saja. Di sekitar daerah Semanggi jalanan sudah macet. Jalanan dipenuhi kendaraan yang kebasahan kena hujan. Gue di dalam bus kedinginan. Kondisinya mendukung banget buat makan mi rebus. Ditambah pemandangan menghibur dari pengendara yang bingung mau neduh di mana.

(Oh, bukan menghibur ya?)



Waktu azan Magrib sudah hampir dekat. Sedangkan gue tidak kunjung sampai di halte Grogol untuk selanjutnya transit ke halte Rawa Buaya. Sebenarnya di halte Grogol ada tempat kecil untuk salat tanpa perlu tap out kartu. Jadi, nggak usah tap in dan saldo kartu kepotong. Gue harus bisa sampai sana, tapi jalanan masih macet banget dan halte Grogol masih jauh. Daripada nggak kebagian salat Magrib, lebih baik gue turun.

Setelah turun dan keluar dari halte, yang harus gue lakukan adalah: mencari musala atau masjid. Sayangnya, gue nggak tau adanya di mana. Sepanjang jalan gue susuri, melewati jalan-jalan yang gelap sambil nahan rasa takut. Ya, gimana nggak takut. Setiap ada cerita kejahatan yang tersebar di media sosial tempat paling banyak terjadi, ya, di jalan.

Sekitar lima belas menit berjalan di sepanjang trotoar Slipi, akhirnya gue menemukan satu musala. Entahlah, itu tempat perbelanjaan atau bank. Yang penting, gue ketemu musala. Gue merasa sedikit lebih tenang.

^^^

Selepas salat Magrib, gue kembali menyusuri trotoar untuk mencari halte terdekat untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan Transjakarta. Langkah kaki gue yang begitu cepat tak terasa mengantarkan gue sedikit lagi menuju sampai halte. Di antara langkah gesit gue, ada suara yang membuat langkah gue melambat.

“Mas, mas.”

Gue melanjutkan jalan sambil menggeleng. Gue sadar waktu ngetik ini, kenapa waktu itu gue ngegeleng ya? Itu spontan gue lakukan.

“Mas, mau tanya,” kata seorang berkemeja merah buah persik. Kemejanya lusuh, khas kemeja para pekerja keras. Gue segera menghampirinya sambil beristigfar. Gue waswas banget di jalan seperti ini diberhentikan seseorang. Kendaraan semuanya ngebut. Jadi, kalau gue diapa-apain, nggak ada yang bisa dengar teriakan gue.

“Mas, kalau mau ke Jawa Barat ke mana ya?”

“Hah?” Jujur, gue bingung. Ini apa, sih, maksud pertanyaan doi?

“Ke Bandung, Mas. Tau arahnya nggak?”

“Hmmmm.”

Ah, gila. Gila. Bener-bener gila. Masalahnya, INI JAKARTA. BARAT PULA. Ngapain nanya yang jelas-jelas jauh? Kedengarannya kayak temen gue lagi bercanda di sekolah, terus nanya, “Kalau mau ke Swedia ke arah mana ya?”

“Ke ... ke ... ya, ke arah sana, Pak.” Gue asal-asalan mengarahkan tangan. Gue nunjukin ke arah dari mana gue berasal. Kira-kira ke “sana” artinya makin ke timur.

“Oh, gini deh.” Si bapak berhenti sejenak bicara. “Adek bisa bantu bapak nggak?”

Gue hanya diam, tapi dia telanjur mengartikannya “bisa”.

“Jadi, boleh anterin saya ke sana nggak?”

Gue masih nggak ngerti orang ini ngomong apa dari tadi. Tadi nanya jalan, sekarang minta antar. Lho, kenapa dia malah manja sama gue? Untuk beberapa saat yang gue lakukan hanya diam, mikir, dan istigfar. Ngeri aja kalau ending-nya gue kena gendam.

“Saya cuma mau dianterin aja, Dek.” Mukanya kini memelas. “Jadi, saya ini dari Bandung. Baru tadi pagi ke sini, mau ketemu saudara di Slipi tapi alamatnya nggak ketemu. Siang tadi, tas saya dicopet di bus yang warna ijo itu, tuh.” Dia mengingat-ingat sesuatu. “Kopaja. Nah, iya.”

“Sudah seharian ini saya cari alamat rumahnya, tapi nggak ketemu. Tas isinya dompet sama surat-surat hilang semua.”

Gue masih menyimak. Masih mencari pola dan maksud dari apa saja yang si bapak omongin. Gue sampai-sampai lupa, halte Transjakarta sudah semakin dekat, begitu juga deadline laporan praktikum semakin mepet.

“Dari kering, basah kena hujan, sampai kering lagi ini, Dek, baju saya. Nggak ketemu-ketemu alamatnya.”

“Terus, Pak?”

“Iya, Dek, nggak ketemu alamatnya. Saya bingung. Saya bingung mau ke mana.”

“Hmmm., gitu ya.”

“Cuma adek yang ada di sini, sekiranya adek bisa nolong saya.”

“Iya, Pak. Ngerti, ngerti.”

Padahal gue bingung dari tadi lagi ngapain di sini sama bapak-bapak kebingungan.

^^^

“Saya bisa bantu apa, Pak?”

Gue harus segera minta kejelasan dari permasalahan ini. Gue malas dengar kalimat-kalimatnya yang membingungkan. Entah bingungin atau karena gue lagi nggak nyambung, pokoknya gue harus cepat pulang.

“Saya mau pulang, Dek. Tapi saya bingung, nggak punya apa-apa lagi. Rumah saudara nggak ketemu-ketemu. Saya harus pulang besok, Dek.”

“Hmmmm.”

Apa yang si bapak ucapkan selama 5 menit terakhir membuat otak gue kesulitan berpikir. Apalagi hal-hal lain yang membuat gue merasa terdesak, membuat gue kebingungan.

“Gini aja deh, Dek,” si bapak mulai mendapat solusi atas masalahnya sendiri. “Kamu tahu nggak dari sini naik apa ke Bandung?”

“Nggak tau.”

Lalu kami sama-sama diam. Gue nggak betah ditahan-tahan begini. Masalah harus segera selesai.

“Saya mau pulang, Dek. Saya harus ke Bandung besok. Karena adek ada di sini, saya mohon adek bisa bantu orang tua kesusahan seperti saya. Coba adek bayangkan, orang tua adek kena musibah seperti saya.”

Skakmat. Kenapa gue mendadak merasa ada di acara renungan malam?

“Saya nggak punya uang,” katanya.

Gue hanya mengangguk, udah nggak mampu berpikir mau melakukan apa. Gue sudah tertahan cukup lama dan sulit keluar dari sini.

“Saya mohon sama adek. Cuma adek yang ada di sini.” Si bapak mukanya semakin memelas. Di pojok matanya ada air yang mau netes, tapi tertahan. “Saya harus pulang. Saya mohon adek mau bantu saya ngasih ongkos pulang. Berapa saja yang penting ikhlas, Insya Allah nanti saya ganti. Saya besok datang ke rumah adek bawa mobil sekeluarga.”

Lho? Hah? Gue makin nggak paham kenapa dia mau ke rumah gue. Tolong, ini gue lagi diapain, sih? Jangan-jangan dia mau ... ngelamar gue?

“Maksud bapak?” tanya gue yang makin kebingungan. “Atau ikut saya dulu aja ke rumah. Tapi rumah saya kecil, cuma kontrakan aja, sih.”

“Nggak, nggak. Bukan gitu maksud saya.” Dia melambaikan tangannya secepat kilat. “Intinya saya malam ini harus pulang, Dek. Tapi saya bingung mau ke mana.” Dia menatap jalanan untuk waktu yang lama, lalu berkata, “Ternyata Jakarta lebih jahat daripada ibu tiri ya, Dek.”

Pak, kalimatnya nggak begitu kalau mau melucu....

Belum sempat gue mau bilang begitu, dia semakin merengek seperti anak kecil. Rengekannya bukan sambil gosek-gosekin kaki ke tanah dan guling-guling. Lebih menyedihkan daripada itu.

“Saya takut, Dek. Saya bingung mau ke mana sekarang.”

“Coba, Pak ... Bapak ke masjid dulu.”

Kalimat ini sering gue keluarkan untuk menenangkan teman-teman di sekolah dulu ketika gelisah mau ulangan. Siapa tau ampuh buat mengurangi kecemasan si bapak.

“Ke masjid mah nggak bakal bisa nyampe ke Bandung, Mas.”

Astagfirullah. Saran gue ditolak mentah-mentah.

“Ya sudah, kalau adek memang nggak mau menolong saya, nggak apa-apa. Saya nggak maksa. Tapi, coba bayangin aja kalau posisi orang tua adek ada seperti pada posisi saya. Kalau saya jadi adek, pasti saya tolong orang tua itu.”

“Gimana ya, Pak? Saya juga bingung ini.”
“Gini aja, Dek. Saya minta uang sedikit aja. Nanti saya ganti, tenang aja. Saya dateng ke rumah adek. Berapa pun, Dek.”
“Sebentar ya, Pak.” Gue membuka tas dan membuka dompet di dalamnya.
“Aduh, saya jadi nggak enak, Dek. Saya kesannya kayak minta-minta gini.”

Gue berikan si bapak dua lembar uang lima ribuan.

“Cuma sepuluh aja, ya, Dek? Saya butuh tiga puluh ribu buat naik bus ke Bandung.”
“Nggak ada lagi, Pak. Beneran deh.” Gantian gue yang memelas. Sukurin lu.
“Ya, tapi gimana ya. Saya harus pulang, Dek.”

“Aduh, saya juga bingung, Pak.” Gue benar-benar bingung saat ini. Kalau gue kasih semua uang yang ada di dompet, gue nggak akan bisa naik angkot nanti. Perjalanan dari halte Rawa Buaya untuk sampai ke rumah masih berjarak 4,5 km lagi dan butuh naik angkot. Mana mungkin gue jalan kaki? Capek.

“Terserah, Dek. Tapi coba dipikir-pikir lagi aja. Masa iya, saya nipu orang, saya lagi kesusahan begini. Saya mohon, Dek. Saya harus pulang ke Bandung, ke Jalan Dago.”

Wait, wait. Gue mau berhenti nulis ini sebentar mumpung masih dalam keadaan bercermin atas kejadian waktu itu.

Awalnya si bapak nanya jalan, nah sekarang KENAPA JADI MALAK YA? Udah dikasih sepuluh ribu malah minta tambah.

“Sebentar, Pak.” Gue mengambil uang tiga ribu dan memberikannya ke si bapak. Itulah uang terakhir gue di dompet. Pupus sudah untuk naik angkot. Mau nggak mau jadinya jalan kaki deh.

“Ini masih kurang sebenarnya, Dek. Saya butuh tiga puluh ribu.”


BODO AMAT!

^^^

Akhirnya, gue berhasil pergi dari si bapak. Nggak tau kenapa, gue masih nggak ikhlas dan mulai kepikiran kalau dia itu menipu. Dari cerita-cerita yang pernah gue baca di timeline Line, kebanyakan modus-modus “minta ongkos pulang” sudah banyak tersebar. Tapi setelah di bus, gue pelan-pelan mulai berusaha berpikiran positif. Bagaimana kalau beneran dia kecopetan? Bagaimana kalau ternyata dia beneran tersesat? Pikiran negatif gue usir jauh-jauh.

Sembari duduk di dalam bus, gue nanya ke teman-teman di grup kelas. Rata-rata teman gue bilang mereka pernah ketemu dengan hal serupa. Namun, sesuatu hal yang aneh muncul dalam kepala gue. Setelah curhat di grup kelas, gue mulai mikir ... eh iya, nyesek juga ya duit abis begini? Mana harus pulang jalan kaki pula.

LAH INI GUE DIHIPNOTIS BUKAN, SIH?! Kalau bukan, kenapa gue dari tadi nggak sadar? Kalau benar dihipnotis, kenapa gue masih ingat percakapan-percakapannya?

Gue mulai mikir negatif lagi sepanjang trotoar di perjalanan pulang. Asem bener, lah.

^^^

Sampai rumah, gue langsung cerita ke Mama.

“Ya udah, ikhlasin aja. Di mes (rumah gue yang dulu) juga pernah ada kayak gitu. Mama ngasih aja. Pas di pabrik ada temen yang cerita, ternyata orangnya sama dan ngomongnya sama.”

Gue harus segera merasa biasa saja. Nggak usah menyesali banget. Kalau benar nyasar, bagus (lho, kenapa malah bagus?). Kalau bohong, anggap saja gue sedang bayar pembicara buat Renungan on The Road sekaligus drama. Biaya pembuatan naskah itu mahal.

Sumber gambar:
https://giphy.com/gifs/romy-monkey-bus-famous-8yyJH4yzqgx0Y
http://houzbuzz.com/2789-2/
https://tenor.com/search/angry-gifs

07 October 2017

“Lihat ke depan deh.”
“Ibunya tidur?” tanya gue menunjuk seorang guru.
“Iya.” Teman gue mengangguk. “Kata mama gue, orang yang capek bisa tidur di mana aja kalau ada kesempatannya.”

Percakapan itu kira-kira membentuk sebuah pola pikir baru di kepala gue: Sibuk artinya bisa tidur di mana saja. Seandainya gue seperti ibu guru tadi, orang-orang ngelihat gue penuh rasa kagum, dan pasti mengira gue adalah orang sibuk ketika melihat gue tertidur di emperan toko, sekaligus bakal melapor satpol pp.

Pola pikir itu akhirnya benar-benar terwujud saat SMA. Sudah beberapa kali gue menceritakan di blog kalau gue sering tidur tidak hanya di kasur rumah saja. Sekadar mengingatkan kembali, sewaktu SMA gue sering tidur di angkot, di masjid, di bangku yang dipepetkan, dan di lantai beralaskan jaket. Bangun-bangun langsung terasa kayak dilumurin ulet bulu. Gatel.

Gue pernah merenungi suatu hal tentang kebiasaan itu.

Rasanya gue sering banget tidur sewaktu SMA. Harusnya, sesuai dengan pola pikir yang terbentuk, gue adalah orang yang super sibuk. Ya, nggak? Masalahnya, setelah gue lulus SMA, gue dulu nyibukin apa aja, sih, sampai suka tidur di tempat sembarangan? Belajar nggak, ngerjain PR nggak, membantu nenek menyeberang jalan juga nggak. Kalau biar dianggap blogger sejati, gue bisa pakai alasan “sibuk ngeblog”. Kenyataannya, nggak juga. Heran juga, dulu gue ngapain aja, ya.

Makanya, gue pengin benar-benar memahami pola pikir itu dengan aksi nyata. Artinya, gue harus sibuk biar bisa tidur sembarangan. Bravo! (ini biar apa, sih?)

Selama kuliah barulah gue merasakan yang namanya tidur sembarangan. Seringnya di angkot. Kalau tidur sambil jalan, alhamdulillah belum pernah.

Berjemur, dulu...
Pertama, waktu ospek. Hari itu ospek cuma sampai siang. Sesiang-siangnya gue keluar dari kampus, tetap saja sampai di rumah sore hari. Badan gue sakit gara-gara masuk angin. Di perjalanan pulang gue ketiduran di angkot, kelewatan dua gang.

Semakin ke sini, rasanya kebiasaan gue tidur di bus semakin ekstrem. Hampir dipastikan, setiap kali gue naik bus dan dapat tempat duduk, pasti gue tertidur. Gue padahal sudah bertekad untuk tidak tidur di bus, apalagi setelah tahu banyak banget kejahatan yang terjadi di bus. Mirisnya, gue sering banget dapat tempat duduk. Mau nggak mau gue harus manfaatkan ini. Serba salah. Mau ngasih tempat duduk ke orang tua, tapi mikir-mikir lagi. Emang dasar anak muda yang nggak punya kepekaan sosial.

Sore itu, gue benar-benar bertekad untuk nggak tidur. Tekad yang rasanya semakin semangat untuk diwujudkan karena gue ingin belajar untuk praktikum keesokan harinya. Gue mengeluarkan buku panduan praktikum Biologi dari tas. Sungguh menyenangkan belajar di dalam bus. Halaman pertama dilahap dengan keceriaan. Gue senyum-senyum sendiri.

Entah kenapa, tangan ini sulit untuk membalikkan ke halaman berikutnya. Ah, nggak apalah baca dari atas lagi, biar makin paham, batin gue. Gue baca ulang dari paragraf pertama, sampai di pertengahan, gue nggak ingat apa-apa setelahnya.

BUKAN KENA HIPNOTIS WOY!

Gue ketiduran.

Gue cuma sadar selama tidur tadi mulut gue terbuka. Kebiasaan tidur dengan gaya seperti itu sudah pasti membuat gue tertidur pulas. Benar saja, gue sadar cukup lama gue tertidur. Buku yang tadi gue baca masih berada di halaman pertama. Bersamaan dengan bus berhenti, gue melihat ke luar jendela.

“INI DI MANA?” tanya gue dalam hati.

Gue segera bangun dari kursi, lalu keluar bus buat transit ke rute selanjutnya. Agak pusing rasanya kalau diingat kejadiannya. Lagu anak-anak juga jadi berubah karena gue: Bangun tidur kulangsung transit.

Keesokannya, gue mengikuti praktikum Biologi. Sebelum praktikum, kami harus melewati tahap pre-test. Pre-test adalah rintangan pertama sebelum praktikum. Bila lancar dalam pre-test, semua lancar jaya tanpa perlu mikir yang namanya post-test. Nah, post-test adalah kesempatan kedua bagi mereka yang nggak mencapai KKM di pre-test.

Asisten laboratorium atau aslab bersiap membacakan soal pre-test. “Siapkan selembar kertas di atas meja,” kata seorang aslab.

Gue cuma bawa sebatang pulpen. Tidak ada persiapan sama sekali.

“Agung, bagi kertas dong.” Agung langsung mengambil kertas dari bindernya. Agung, entah kenapa, selalu jadi penolong di setiap tulisan gue akhir-akhir ini.

Aslab selesai membacakan lima buah soal. Rata-rata soalnya gampang karena cuma disuruh menyebutkan. Berbekal belajar kemarin di bus dan sedikit pada malam harinya, gue merasa aman-aman saja melewatinya.

“Kerjakan ya.”

AH, TAK SABAR.

“... waktunya lima menit.”

Mau nangis darah rasanya.

Lima soal tadi yang harusnya mudah tiba-tiba jadi sulit. Timbul banyak keraguan dalam mengerjakannya. Otak jadi blank. Gue ngisi sebisa gue.

“Sembilan... delapan... tujuh.”

Gue masih nungguin sampai dia nyebut tiga.

“Lima... masih nggak ada yang mau ngumpulin, nih?”

Gue ngelihat dua soal belum diisi. Aduh, apa ya? Apa ya?! Tujuan dalam penggunaan mikroskop apa, ya ampun?! Lima detik ini gue harus menjawab apa?!

“Untuk mengamati remah-remah hati yang sukses dipatahkan.”

KENAPA SEMPET MIKIR KE SANA?! Kalau aslab ngoreksi ini, kemungkinan responsnya ada dua: 1) Dia ikutan baper, 2) Gue ditolol-tololin.

Gue isi cuma satu tujuan, padahal yang diminta lebih banyak dari itu. Masih nyisa satu soal lagi. Pasrah saja.

***

Selama praktikum harusnya teman-teman gue waswas melihat keadaan gue (mau banget diperhatiin?).

Gue ngeluh ke teman di sekitar gue, tentunya dengan nada kepasrahan. Biar diperhatiin. “Gue cuma ngisi empat. Satu soal cuma ngisi dikit banget.”

“Sama gue juga,” jawab seorang teman. Sedikit ada kelegaan karena punya teman senasib. “Gue satu soal ngisi sedikit banget. Tapi ngerjain semuanya, sih.”

“Itu mah aman namanya, bangkai,” batin gue.

Benar, harusnya mereka perhatian ke gue. Selama praktikum, benda yang gue pegang adalah silet. Jadi, mereka nggak ada rasa khawatir apa ke gue?

Praktikum hari itu tentang mengamati sel tumbuhan. Dalam kelompok, gue kebagian membuat preparat atau bahan yang akan diamati. Preparat yang digunakan adalah sayatan tipis daun adam hawa (Rhoeo discolor). Menyayat daun ini butuh keterampilan khusus buat mendapatkan hasil setipis mungkin. Salah-salah menyayat, jari bisa-bisa kesilet.

Kalau kata Pangeran Wortel, "F5, dulu..."

Sepanjang praktikum gue jarang mencoba mengamati lewat mikroskop. Beberapa kali mengamati dan make mikroskop, biar kelihatan ikutan kerja.

***

Selesai praktikum, aslab ngasih hasil pre-test. “Tenang aja, yang post-test cuma tiga orang kok.” Aslab itu membuka-buka lembaran kertas jawaban tadi. “Yang pre-test adalah...”

Meskipun cuma ngisi empat, gue masih bisa berharap untuk tuntas.

“... Robby.”

Ah elah.

***

Post-test sendiri ternyata tetap diuji oleh aslab, yang juga seorang mahasiswa. Gue dari awal sudah takut post-test bakal diuji dosen. Post-testnya berjalan dengan banyak ketawa. Ya, aslabnya yang ketawa. Gue mah gugup, karena banyak nggak taunya.

“Tadi kamu ikutan praktikum nggak?”

“Ikut, Kak.”

“Apa aja yang kamu amati?”

“Dinding sel. Udah, itu aja.”

“Masa nggak ada lagi?”

“Saya nggak tau nama-nama bagiannya, Kak.”

Abis bilang begitu, gue khawatir bakal dikasih surat pengembalian mahasiswa kembali ke SMA.

Ya, pokoknya pada akhirnya gue malu karena nggak ngerti-ngerti bagian di dalam sel. Padahal selama SMA udah sering diajarin.

Gue keluar laboratorium dengan lesu. Sedikit nyesel juga karena belajar kurang lama dan kurang pahamin semua materi. Tapi, dengan kejadian kayak begini gue punya peringatan buat diri sendiri. Di luar laboratorium, masih ada teman-teman yang tadi tuntas pre-test. Mereka semua ngasih ucapan semangat.

Oh, ternyata... mereka peduli. Silet di dalam kantong gue simpan baik-baik deh.


***

Pulang dari kampus, gue berniat untuk tidur di dalam bus. Gue tipikal orang yang mudah sedih, dan sedihnya mudah hilang setelah tidur. Jadi, untuk melepas rasa sedih ini gue ingin tidur di bus. Nggak apa deh walaupun nggak bisa nyenderin kepala ke bahu, dan kepala harus membentur kaca jendela terus-terusan, yang penting nggak sedih lagi.

Bus datang. Di dalamnya, tempat duduk tidak ada yang kosong. Terpaksa gue harus berdiri. Karena sudah diniatkan, gue malah benar-benar ngantuk. Sambil berdiri memegang hand grip, gue sempat tertidur. Untung gue cepat tersadar setelah bus ngerem mendadak. Nggak jadi deh tidur sambil berdiri. Tidur di tempat sembarangan boleh, posisi yang sembarangan jangan.

Setelah menunggu lama, akhirnya gue dapat tempat duduk yang kosong. Gue segera menyambar bangku kosong itu dan memejamkan mata. Nggak perlu waktu lama, gue langsung tertidur. Saat kesadaran gue berkurang, ada yang menepuk bahu gue. Gue tersadar. Aduh, kenapa ini? Gue melihat seisi bus. Cuma gue yang masih duduk.

“Mas, udah di tujuan terakhir, Mas.”

Gue langsung keluar bus. Juga, bangun dan keluar dari kegagalan praktikum pertama.

--
Sumber gambar:
https://twitter.com/idpatrickstar/status/263623501305495553
https://www.tripadvisor.co.uk/TravelersChoice-Beaches-cTop-g1
https://www.aryanto.id/artikel/id/651/mengenal-khasiat-dan-manfaat-daun-adam-hawa-bagi-kesehatan