Maaf, motonya pake flash kamera belakang.
Andai saja ada kata yang benar-benar bisa menggantikan judul postingan ini, mungkin gue nggak akan menulis ratusan atau ribuan kata ke depan nanti.

Ini seperti ingin mengatakan "Bu, ulangannya ditunda dulu dong, please" kepada guru Fisika dulu.

Butuh hening yang lama. Butuh kertas buram untuk menulis salinan rumus. Butuh waktu untuk berpikir sedemikian rupa, sampai akhirnya gue benar-benar bisa mulai untuk menuliskan ini.

Andai saja postingan ini dites menggunakan Turnitin, percayalah, tulisan ini akan dicap plagiat. Dari judul dan tiga paragraf sudah menunjukkan penjiplakan.

Maaf untuk keputusan ini.

^^^

Entahlah, gue masih belum habis pikir harus memulai pembicaraan ini dari mana. Padahal guru mengaji selalu berpesan untuk memulai pengajian diawali taawuz dan basmalah. Gue masih sulit untuk mengeluarkan unek-unek pada tulisan ini.

Apa yang membuat gue begitu sulit untuk bicara?

Gue sadar beberapa hari ini. Mungkin beberapa orang ada yang merasa tulisan gue jadi lebih berbeda rasanya. Gue pun sama, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari tulisan gue di blog. Gue menulis tidak seperti biasanya dengan gaya bahasa yang berbeda. Semua itu hanya alibi gue untuk tetap bisa menjadi konsisten.

Gue tidak menemukan sentuhan ngeblog seperti dulu yang begitu lepas bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Padahal gue sudah mencoba memeras ide mentah menjadi sebuah cerita yang patut untuk dipertimbangkan. Namun setelah selesai, gue tidak sanggup mem-publish-nya dan lebih memilih untuk menghapus.

Memang sampai paragraf ini, kalian bingung dengan apa yang gue katakan. Gue masih berusaha menyalin teks asli dari postingan referensi “blogger minta maaf” di blog milik Heru Arya, yang berjudul “Maaf untuk Keputusan Ini”.

^^^

Kini gue tidak terlalu ingin bercerita tentang keseharian. Sangat berbanding terbalik sebagai seorang personal blogger dengan subpeminatan curhat (Halah, dikira mata kuliah pake peminatan peminatan segala!). Waktu gue tidak banyak untuk mengetik cerita-cerita gue yang garing. Gue seperti mengalami fase saat semua hal yang telah gue lakukan hanya berbuah sia-sia.

Ketika gue mengetik postingan di dalam bus, gue tetap tidak sanggup melanjutkannya, apalagi saat kaki terjepit pintu bus. Benar. Itu sakit.

Gue lebih memilih untuk menjalani dunia kuliah dengan senang hati. Tidak seperti dulu yang banyak ngeluhnya, menuliskannya di blog, dan menyelipkan reflek tawa yang membuat perut tergelitik.

Gue hanya ingin berkata kalau gue sedang dipadatkan kegiatan perkuliahan.

Dari sibuknya kuliah, gue senang bisa banyak melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat ketimbang gegoleran di kasur sambil skip-skip Instastories. Aksi di feeds juga begitu terpengaruh. Dibanding dulu, gue lebih jarang tap-tap foto orang. Sekarang lebih sering tap kartu di mesin tap out Transjakarta.



Padahal, gue dulu sudah bertekad untuk tidak terlalu banyak mengikuti agenda di kampus. Namun, di sisi lain, gue harus membuka mata. Banyak agenda di sini yang bakal menyelamatkan gue suatu saat nanti. Penyelamat itu bernama pengalaman. Gue tidak akan kaget saat masuk dunia kerja. Biarlah kaget sekarang saat menjadi mahasiswa baru.

Istilahnya “kupu-kupu”: kuliah pulang-kuliah pulang. Begitulah yang gue bayangkan saat SMA tentang kuliah. Nyatanya, kuliah dan sekolah sangatlah berbeda. Di perkuliahan jam belajar di kelas sangatlah sedikit. Bahkan ada dalam satu hari, gue belajar di kelas hanya 150 menit. Lebih lama perjalanan berangkat dari rumah ke kampus dibanding belajar di kelas.

Dunia kampus dan sekolah benar-benar beda. Sudah sebulan gue belum sepenuhnya masuk ke dunia perkuliahan.

^^^

Ada sedikit rasa ingin balas dendam, berbarengan saat gue menonton parade unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus. UKM di kampus ternyata jauh lebih keren dibandingkan ekstrakurikuler di SMA dulu. Sehingga membuat gue yang dulunya nggak banyak aktif kegiatan di SMA memiliki tekad untuk aktif di banyak organisasi.

Namun, kenyataannya tidak semulus demikian.

Sudah minggu keempat kuliah, gue belum menemukan arah untuk menyeimbangkan antara kuliah dan organisasi, meskipun semuanya belum dimulai. Gue sudah ketakutan duluan.

Di acara parade UKM itu, ada satu yang menarik gue untuk tercebur ke dalamnya. Tidak terlalu memikat penampilannya, tetapi dari namanya sudah membuat gue tertarik. Ibarat orang jatuh cinta, gue jatuh cinta hanya lewat mencium parfumnya saja. Tanpa perlu dilihat, gue ingin masuk ke organisasi itu.

Kata teman, jangan sibuk-sibuk di kampus. Kamu udah kurus, nanti tambah kurus. Apa hubungannya? Justru dengan gue sibuk bisa jadi malah tambah gemuk karena rezeki datangnya dari mana saja. Ikut organisasi, berarti ketemu banyak orang. Makin sering ditawarin makan dong? Ditawarin aja sebenarnya, buat basa-basi.

UKM impian gue ini seringkali muncul dari broadcast message-nya di grup kelas. Isinya tentang ajakan mengikuti UKM tersebut. Pelan-pelan broadcast message itu berhasil menggoda gue untuk ikut. Jujur saja, dari awal memang gue sudah tertarik dengan UKM yang konsentrasi kegiatannya ke penelitian. Niat gue ikut UKM tersebut adalah agar gue bisa belajar meneliti.

Pada Selasa pagi gue memberanikan diri ke sekretariat UKM penelitian. Sambil membawa formulir, dengan langkah suka cita gue mengetuk pintu gedung tersebut. Seorang perempuan menghampiri dan menerima formulir dari gue. Gue memandangi markas UKM itu banyak sekali orang-orang duduk di depan laptopnya masing-masing. Entah mereka sedang menulis jurnal ilmiah atau menulis JURNAL PEMBALIK.

Header blog kesukaan kita: robbyharyanto.com

Jauh setelah gue berikan formulir tadi, gue bertanya-tanya, apa gue kuat buat ikut UKM ini? Tugas kuliah udah seabrek, ditambah penelitian bikin makalah dan karya ilmiah. Belum lagi nanti praktikum. Ah, kok rasanya sulit ya?

Gue berusaha berpikir positif. Anak jurusan MIPA memang seperti ini bidangnya; meneliti. Hitung-hitung biar terbiasa saat nanti menyusun skripsi.

Sebenarnya, rasa cemas gue lebih besar. Mengingat perjalanan pulang memakan waktu yang lama, gue takut nggak bisa mengimbangi antara kuliah dan UKM. Takut berat sebelah. Apalagi gue sebelumnya sudah daftar di organisasi lain setingkat fakultas. Apakah seperti ini rasanya poligami? Eh, bukan. Ini poliorganisasi.

Beberapa hari kemudian, gue resmi masuk menjadi anggota UKM penelitian. Gue disambut baik di grup WhatsApp. Kalau ini di dunia nyata, harusnya gue dikalungin bunga. Tapi, ini hanya di WhatsApp. Cukup dengan kalimat “selamat datang”, gue sudah merasa disambut baik.

Setelah gue masuk, seorang admin mengirimkan banyak file berformat pdf dan ppt. Isinya kebanyakan tentang pengenalan penelitian. Lalu, ada file berjudul “Panduan Laporan Penulisan”. Admin juga bilang kalau anggota baru harus menyusun karya ilmiah sampai bab III secara kelompok.

Gue nggak tau harus berbuat apa.

Gue belum banyak pengalaman tentang meneliti. Untuk proses menulis, gue sudah berpengalaman menulis di blog pribadi. Tapi, ini adalah tulisan serius. Sedangkan yang gue tulis di blog adalah hal ringan. Rasanya gue nggak sanggup buat ngerjain tugas itu. Gue memikirkan ke depannya juga, bagaimana sibuknya kegiatan ini.

Gue mulai mempertimbangkan keberadaan gue di grup ini.

“Kak, saya izin keluar karena nggak sanggup buat ngikutin kegiatan ini.”

Pesan terkirim. Pesannya berceklis dua. Gue langsung keluar dari grup.



Ini bukan jalan gue.

... karena ini Jalan Malioboro.

Ya, mungkin gue saat ini belum sanggup untuk masuk ke ranah yang serius seperti masuk UKM penelitian. Bagi gue butuh dedikasi waktu yang tinggi untuk meneliti. Toh, gue pun bisa belajar dari sumber lain. Jadi, nggak ada ceritanya gue nggak bisa belajar meneliti.

Selain gue, masih ada blogger lain yang minta maaf atas keputusannya.
1. Haris Firmansyah
2. Yogaesce
3. Firman
4. Febri Dwi C.
5. Icha Hairunnisa



Sumber gambar:
https://en.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro
https://soulofjakarta.com/mobile/index.php?modul=17-agustus-2016-uji-coba-sistem-tap-out-transjakarta-.html&id=MTEwMTk=

Daftar pustaka:
Arya, Heru. 2016. "Maaf untuk Keputusan Ini", https://tulisanwortel.com/maaf-untuk-keputusan-ini/, diakses pada 29 September 2017 pukul 19.48.
Read More »

sumber:instagram.com/ilookisee - Sunrise di Punthuk Setumbu 
Setiap pulang ke kampung halaman Bapak, gue selalu bertanya-tanya kota-kota apa saja yang akan dilewati. Hal itu sudah gue lakukan sejak kecil. Itu semua dipengaruhi oleh kesukaan gue melihat jalan dari balik jendela, lalu melihat spanduk yang biasanya dipasang di depan warung.

“Abis Semarang, nanti ke mana, Pak?”

Bapak gue mengingat-ingat. “Batang."

Batang yang beliau maksud adalah kota di Jawa Tengah. Bukan salah satu bagian tumbuhan.

Berbeda dengan bapak gue, mama gue adalah orang yang nggak terlalu suka menjawab pertanyaan, apalagi yang datangnya berentetan.

“Ma, katanya dulu di sini (Alas Roban—daerah perhutanan di Jawa Tengah) sepi, nyeremin, ya?”
“Iya.”
“Lah, kok sekarang banyak lampu? Dulu perasaan gelap. Kenapa sekarang jadi rame?” tanya gue penuh rasa penasaran.
Mama gue menjawab, “Nggak tau. Tanya aja orang sini!”
Gue merengut dan bungkam. Gue kembali ngelihatin jalan dengan menyisakan pertanyaan tak terjawab tadi.

Makanya, gue lebih sering bertanya kepada Bapak untuk hal-hal berbau geografi dan politik. Kadang-kadang juga bertanya pada Bapak buat apa berlapar-lapar puasa.

Bapak gue memang sumber ilmu bidang IPS paling terdepan deh pokoknya. Sekali waktu gue bertanya, “Pak, kalau Magelang itu masuk DIY atau Jawa Tengah?” Karena seringkali kota ini bikin gue bingung terdapat di provinsi mana. Beberapa versi (kebanyakan dari teman seumuran) bilang Magelang ada di Jawa Tengah, sebagian lagi di DIY, dan sebagian sangat kecil bilang di Jawa Timur (jangan salah, ada yang ngira gitu, lho).

“Magelang mah di Jawa Tengah. Tempatnya Candi Borobudur itu.”

Gue berusaha meyakinkan jawaban beliau. Beberapa sumber gue baca, mulai dari baca atlas sampai RPUL (waktu itu belum kenal internet). Ternyata benar jawaban beliau setelah gue mengumpulkan informasi yang ada. Gue curiga, bapak gue emang rajin baca RPUL.

Mendengar nama Magelang, destinasi tempat wisata pertama yang terbayang tentu saja Candi Borobudur. Apalagi tempat itu dinobatkan sebagai candi terbesar di Asia Tenggara dan menjadi warisan dunia yang dijaga oleh pemerintah dan juga PBB. Nama Borobudur membuat Magelang ikut mendunia, gue ikut bangga.

Namun, kalau dijelajahi lebih jauh lagi, sebenarnya Magelang tak hanya punya Candi Borobudur saja sebagai tempat wisata. Ada banyak destinasi wisata lainnya yang nggak kalah seru dan keren di kota militer ini.


1. Gardu Pandang Silancur

Dari sini, pemandangan Gunung Sumbing yang megah nampak amat mengagumkan. Puncaknya terlihat jelas, dengan bukit-bukit hijau menghampar yang membuat mata terpana atas keindahannya.

Berlokasi di Mangli, Kaliangkrik, Gardu Pandang Silancur bisa jadi destinasi pilihan buat kamu yang ingin jalan-jalan sambil merasakan udara sejuk di bawah kaki Gunung Sumbing.


2. Gereja Ayam

sumber:pikiran-rakyat.com
Coba datang ke Gereja Ayam ketika menjelang matahari terbit. Dari puncak bangunan gereja yang tak terpakai ini, kamu akan melihat pemandangan pagi di Magelang yang menakjubkan. Lokasinya berada di Bukit Rhema, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur. Dari puncak gereja, kamu bisa melihat Candi Borobudur dari kejauhan. Kalau beruntung, kamu bisa melihat jodohmu dari sini.


3. Punthuk Mongkrong

Pesona matahari terbit yang muncul di balik pegunungan bisa terlihat dengan cantiknya. Beberapa waktu belakangan, Punthuk Mongkrong menjadi salah satu tempat liburan ngehits di Magelang, khususnya di pagi hari.


4. Pemandian Air Hangat Candi Umbul

Kolam ini dulunya adalah pemandian para puteri raja, dengan air yang selalu hangat sepanjang waktu. Karena airnya yang hangat, pemandian di Candi Umbul ini selalu ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati mandi ala puteri raja.


5. Candi Selogriyo

sumber:specialpengetahuan.blogspot.com

Dibandingkan dengan Candi Borobudur, ukuran Candi Selogriyo memang lebih kecil. Namun pamandangan di sekitar candi ini indah, dengan taman-taman yang ditata rapi. Terletak di Kecamatan Windusari, Candi Selogriyo bisa menjadi alternatif liburanmu di Magelang.


6. Punthuk Setumbu

Bukit ini memang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah di pagi hari. Dari kejauhan, Candi Borobudur nampak megah ketika matahari baru terbit di ufuk Timur.

Namun sebenarnya Punthuk Setumbu juga memiliki keindahan lain di sore dan malam hari. Ketika matahari sudah terbenam, Punthuk Setumbu memberimu pemandangan Borobudur yang megah dan lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan. Menakjubkan.


7. Ketep Pass

sumber:piknikasik.com
Dari kawasan ini, puncak Merapi nampak dengan jelas dan indah. Tak heran kalau Ketep Pass menjadi salah satu tempat wisata favorit di Magelang, Selain rutenya yang mudah dijangkau, pemandangan di Ketep Pass pun sangat menakjubkan, terutama ketika matahari baru terbit atau akan tenggelam.



8. Candi Borobudur

Tempat wisata yang satu ini tentu saja nggak boleh dilewatkan bagi kamu yang ingin berwisata ke Magelang. Jelajahilah warisan budaya yang masih berdiri dengan tegak ini. Setelah berkeliling Borobudur, pasti kamu bakal merasa selalu bersyukur dan ingin ikut melestarikan bangunan yang sudah berdiri selama ratusan tahun itu.

Borobudur dibangun dengan tenaga manual manusia pada ratusan tahun silam. Hebatnya, hingga saat ini Candi Borobudur masih berdiri dengan megahnya, dan tentu saja mendapatkan perawatan dan pemeliharaan dari pemerintah dan juga PBB.

Yang namanya tenaga manual gitu, lho. Pastinya keren banget karena bangunannya masih berdiri megah. Bangunan yang gue buat dengan tenaga manual paling lama bertahan 10 menit; bikin istana dari pasir.

Sudah sejak bertahun-tahun lalu Candi Borobudur masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia. Tak heran kalau Candi megah ini menjadi kebanggaan masyarakat Magelang, dan semua warga Negara Indonesia.

Masih banyak daerah wisata di Magelang yang mungkin belum terekspos. Coba telusuri dan kumpulkan informasi tempat wisata di negeri kita agar selalu merasa beruntung menjadi warga negara Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Main ke Magelang yuk!
Read More »

Hampir tiga minggu gue mulai aktif kuliah. Rasanya masih ringan-ringan aja (atau gue yang ngeringanin?). Maklum gue bilang begitu karena gue belum ketemu yang namanya praktikum. Praktikum, khususnya bagi anak kimia, adalah sebuah santapan istimewa.


Bukan berlebihan, memang praktikum buat anak kimia adalah hal yang rasanya campur aduk antara menyenangkan, menakutkan, membosankan dan misterius. Kami bakal ketemu zat-zat yang jenisnya banyak. Salah penggunaan bisa bikin kulit melepuh. Salah hirup bisa bikin mabuk. Salah tiga nilai tujuh puluh.

Sebelum praktikum, para praktikan—orang yang mengikuti praktikum—disuruh membuat laporan awal. Isinya dari latar belakang sampai ke tabel kosong untuk mencatat data yang diperoleh dari percobaan.

Kemudian dilanjutkan praktikum. Praktikum sendiri durasinya berbeda-beda. Praktikum mata kuliah Fisika Dasar misalnya, butuh waktu 2 jam untuk praktikum saja. Untuk praktikum biologi gue belum tahu. Dan yang paling istimewa adalah praktikum bidang kimia. Bisa sampai 4 jam! Untungnya semester ini cuma kebagian 1 SKS. Untuk semester dua atau tiga, ada praktikum kimia yang bobotnya 2 SKS. Satu SKS durasinya 4 jam, 2 SKS sama dengan 8 jam. Sepertiga hari mengabdi pada laboratorium. Pulang-pulang kepala teleng.

Belum lagi membuat laporan akhir yang konon bikin mahasiswa jadi layaknya jin pekerja Candi Sewu. Semalaman mengerjakan satu proyek yang dikumpulkan paginya.

Itu trailer buat postingan selanjutnya. Sekarang gue mau cerita tentang pengalaman tiga minggu kuliah. Sekalian ngelatih tulisan lagi karena beberapa postingan gue yang terakhir terasa kaku. Gue ngeledek diri sendiri, “Mentang-mentang udah jadi mahasiswa jadi jaim lu, Rob.”


Mencatat
Gue nggak tau sejak kapan gue punya inisiatif mencatat pelajaran. Semenjak kuliah, gue pelan-pelan mulai rajin mencatatat dan merangkum. Sudah jadi kebiasaan sepertinya bagi gue untuk ngebingungin diri sendiri, muncullah sebuah perdebatan yang nggak seharusnya datang:

Mau nyatet di binder atau buku tulis?

Nggak penting banget memang. Tapi pada suatu siang gue sempat merenungkan hal ini.

Kenapa sih, anak kuliah senengnya punya catatan di binder? Kan, buku tulis ukuran 24 x 18 cm aja ada yang tulisannya “Campus”, masa anak kuliah nggak peka kalau itu maksudnya buat anak kampus?

Buku wajib anak kampus (seharusnya)

Akhirnya seorang teman jawab, “Biar gampang dipindahin!”

Ya, segampang itu dijawabnya. Padahal buat munculin pertanyaan butuh merenung segala, lho.

Tapi, gue nggak menerima jawabannya begitu saja. Gue tetap menulis di buku tulis, seperti selama 12 tahun sekolah, lalu sesempatnya gue pindahkan catatan ke binder serapi-rapinya. Secara gak langsung, gue mengulang pelajaran yang diberikan hari ini.

Semoga rajin begini terus.


Lift
Dulu ada keluhan teman di SMA yang gue ingat, bunyinya begini, “Capek banget naik turun tangga. Sekolah nggak mau pasang lift, apa?” Waktu itu kami moving class, yang artinya setiap pindah pelajaran berarti pindah ruang kelas. Nggak jarang, kami bukan hanya pindah ruang, tetapi pindah gedung. SMA gue ada dua gedung yang terpisah.

Denah gedung salah satu SMA

Jadi, terbayang gimana malesinnya kalau ada kelas di lantai 3 gedung A lalu harus pindah ke lantai 3 gedung B.

Gue, yang tadinya biasa-biasa aja menanggapi moving class, jadi ikut-ikutan ngeluh karena. Malas juga kalau naik tangga terus-terusan. Padahal, dulu gue bercita-cita sekolah di sekolah tingkat.

Sampai pada dunia perkuliahan, akhirnya gue ketemu yang namanya lift. Awal masuk kuliah, beberapa kali gue nggak sempat kebagian lift. Niatnya waktu itu untuk mencicipi fasilitas kampus sekaligus gaya-gayaan. Biar kalau ditanya orang di kelas, “Tadi berangkat ke sini naik apa?” gue jawab, “Naik lift dong!” Padahal dari rumah mah naik bus.

Malas ngantre lift, gue mencoba jalan terakhir. Untuk mengurangi kemungkinan telat masuk kelas, akhirnya gue harus naik tangga karena antrean panjang. Sialnya, waktu itu kelas gue ada di lantai 7. Sampai di kelas, kaki gue gemeteran.

Naik lift bagi gue ada enak dan nggak enaknya. Enaknya sudah pasti, tinggal berdiri di dalam lalu sampai. Nggak enaknya... saat ketemu orang yang resek.

Pernah sekali gue satu lift dengan teman-teman cowok sekelas selepas mata kuliah. Kami masuk lift bareng berombongan dan mau turun ke lantai 1. Saat itu kami ada di lantai 4. Agung, teman gue yang baik hati (ceritanya pernah gue tulis di sini), mengambil inisiatif dengan menekan angka “10”. Akhirnya lift naik terus sampai ke lantai teratas gedung ini.

Teman-teman gue protes. “KENAPA LO PENCET?!”

“Gue bayar UKT (uang kuliah tunggal)—uang semesteran—mahal nih. Harus manfaatin fasilitas.”

Bener, sih. Namanya udah bayar segala yang ada harus dimanfaatkan. Toh, nanti akhirnya memang turun lagi ke lantai 1. Tapi, setelah di lantai 1, kok gue merasa mual? Kayaknya kena jet lag deh.


Lupa
Ceritanya, Salsa adalah seorang teman yang satu dosen pembimbing bareng gue. Niatnya, dia mau minta tanda tangan dosen pembimbing buat lomba karya tulis, sedangkan gue mau minta tanda tangan kartu rancangan studi (KRS). Kebetulan, gue adalah penanggung jawabnya, otomatis gue sudah ada kontak dengan sang dosen pembimbing.

Gue samperin dia di kursi barisan belakang. “Eh, nanti mau ketemu Pak Agung?”

Pak Agung adalah dosen pembimbing kami. Bukan, bukan Agung yang suka mencetin angka 10 di lift.

“Dosen pembimbing gue bukan Pak Agung.”
“Lho?” Gue kaget. Sejak kapan dia ganti dosen pembimbing?
“Gue mah sama Bu Maria,” ujarnya.
“Kok? Bukannya bareng gue?”
“Apaan, sih?”

Mukanya kebingungan setelah gue samperin. Apa dia kaget tiba-tiba gue samperin? Gue mulai mikir, jangan-jangan ada yang nggak beres. Perasaan tadi pagi nggak lupa pake deodoran deh.

“Lu Salsa bukan?” tanya gue.
“Bukan.” Mukanya menolak tegas. Pertanyaan tadi kayak pertanyaan “kamu maling ya?”
“Wah, parah lu nggak inget temen sekelas,” tambahnya, sambil mengacungkan telunjuk. Kemudian anak cewek yang duduk di depannya menoleh ke gue dan tertawa. Gue ngelihat di pojokan, dekat colokan ada orang paling sibuk di situ.

Itu Salsa beneran.

Parah banget, parah. Udah ketemu tiga minggu ditambah waktu MPA masih aja belum kenal teman sekelas.

Untuk satu hal ini, gue benar-benar sadar gue saat ini sedang kena culture shock. Harus disadari, manusia di kampus banyak banget! Apalagi waktu MPA diumumkan jumlah mahasiswa baru 2017 ada 5.000 orang lebih. Salah manggil orang adalah hal pemakluman.

Dulu di SMA teman satu angkatan cuma ada 200-300 orang. Itu pun masih banyak yang nggak gue kenal, padahal satu jurusan. Di perkuliahan, teman satu jurusan memang kurang dari 115 orang, tapi entah kenapa mereka sulit dikenali satu-satu mukanya. Terutama cewek.

Lain cerita. Suatu kali, gue sedang jalan menuju kampus. Dua orang cewek membawa binder berdiri di depan gedung. Satu di antara mereka memanggil nama seseorang sesaat setelah gue melewati mereka. Gue menoleh. Satu orang di antara mereka menutup mulut, diiringi kalimat, “Eh, salah orang.”

Nah, lho. Emang susah deh ngenalin orang di kampus.


Banyak mau
Menjadi mahasiswa baru ternyata bagi gue bisa menjadi sebuah langkah awal untuk mencoba hal baru yang nggak pernah gue temui di sekolah dulu. Satu di antaranya adalah ikut organisasi.

... lebih dari satu.

Waktu sosialisasi yang diadakan fakultas, mahasiswa baru dikenali banyak organisasi. Ada yang kerohanian, ada yang ilmiah banget (karena memang basisnya di Fakultas MIPA), ada yang kerjaannya berkebun, ada yang lucu-lucu karena kegiatannya main sama anak kecil, sampai organisasi yang dipandang militan karena bergerak di bidang sosial-politik.

... dan kepengin semuanya.

Dasar maruk.

Gairah ini muncul karena sebuah tuntutan dari program beasiswa yang gue dapat. Dalam salah satu syaratnya disebutkan bahwa beswan harus aktif di organisasi. Maka dari itu, gue jadi kepengin buat aktif di organisasi. Tapi, alasan tadi nggak jadi mentah-mentah bikin gue banyak mau ikut organisasi. Justru, gue mau belajar dari bergabung dalam organisasi. Sekalian dengan alasan minta uang saku tambahan tentunya. Kan enak, tinggal bilang, "Ma, bakal pulang malem, nih."

Karena merasa nggak akan sanggup, pelan-pelan gue coret organisasi yang sekiranya cuma punya alasan “pengin ikut aja” buat ngikutinnya.


Selebihnya, perkuliahan gue berjalan aman-aman aja. Banyakan waktu di perjalanan soalnya. Lari ngejar bus, berdiri di pintu paling depan biar dapat tempat duduk, tidur di bus. Begitu terus. Berusaha menikmati perjalanan Kalideres sampai Rawamangun.

---

Penting buat peringatan pribadi, gue nggak akan membawa predikat "langganan remedial" lagi. Takutnya kebawa di perkuliahan. Karena "remedial" akan berarti mengulang satu semester lagi. Males amat tua di kampus.

Sumber gambar:
https://www.tokopedia.com/toserbarep/buku-tulis-campus
Read More »

Sekarang bentuk komedi sebagai media hiburan di internet sudah dikemas dalam beragam bentuk. Bentuk lelucon yang sedang kekinian setahu gue adalah meme. Tapi entah kenapa, gue tidak terlalu tertarik dengan meme. Bagi gue meme hanya sekadar lucu, nggak terlalu meninggalkan kesan. Apalagi kalau meme itu udah jadi bahan lawakan orang-orang di sekitar.

Gue lebih tertarik dengan cerita seseorang, entah dia sengaja atau tidak menambahkan bumbu komedi di dalam ceritanya. Lebih unik, lebih punya kesan. Baca blog personal rasanya kayak duduk sama seseorang di taman, lalu dengerin sepuasnya dia bercerita sambil ditemani pemain debus. Kan biar berkesan gitu.

Dari awal gue suka bacain blog orang lain, gue ketemu dengan blog-blog yang keren di bawah ini.

1. dijehtheory.blogspot.com
Blog milik Doni Jaelani ini rajin bikin gue ketawa. Bentuk postingannya kebanyakan berupa listicle ala-ala Hipwee, tapi lucunya ngalahin Hamtaro yang berlari di roda kehidupan. Banyak juga tulisannya yang berupa sebuah set stand up. Beberapa kali juga dia pernah cerita soal pengalamannya ikut open mic. Oh iya, di blognya juga ada ebook yang isinya nggak jauh-jauh bentuknya seperti di blognya.


2. howhaw.com
Dalam lingkaran pertemanan blogger yang ada gue di dalamnya, sepertinya sosok Hawadis adalah orang yang paling sering dibicarakan. Bagaimana nggak, blognya sering menjadi topik pembicaraan. Apalagi di grup WIRDY. Gue termasuk yang suka ngomongin juga.

Sebuah rahasia grup WIRDY baru saja gue bongkar. Hahaha. Sebagai anak baru di grup tersebut, gue merasa songong.

Pantaslah blognya Bang Haw sering dibahas. Meskipun blognya adalah pengecualian dari blog catatan lepas, jenis blog kesukaan gue. Blognya lucu, apalagi kalau udah bahas sesuatu yang sempat-sempatnya diselipin konsep fisika. Bikin kita mikir, “Kok bisa nyambung ke sana ya?” Guru fisika harus baca blognya biar nggak dianggap kaku.


3. yogaesce.com
Blog yang dulunya beralamat di silumancapung.blogspot.com ini baru gue kenal dari sebuah grup bernama WPS. Blogwalking yang membawa gue ke blog jenaka ini.

((blog jenaka))

Blog yang banyak diisi cerita sehari-hari dan kebanyakan ceritanya apes ini menjadi blog yang digandrungi masyarakat Lampung. Salah satunya adalah pemuda bernama Attar, yang mengaku sampai terinspirasi karena blognya.



Pemilik blognya, Yoga C. Putra, yang juga seorang sarjana ekonomi ini sudah pernah melahirkan sebuah buku berjudul Senior High Stress. Icha (2017) mengatakan bahwa Yoga suka membeberkan jati dirinya sebagai pengabdi fake taxi.


4. keriba-keribo.com
Gue lupa ketemu blog ini dari mana. Kemungkinannya: gue masuk ke sebuah komunitas blogger, mencari blog lain di kolom komentar, bertemulah dengan blog ini.

Gue berani jamin, orang yang sekali baca blognya bakal ketagihan buat baca lagi. Sambil memperbanyak istigfar karena kebanyakan ketawa ngakak. Mulai dari cerita sehari-hari sampai opini serius, blog ini rasanya bisa jadi kayak sahabat. Sahabat dalam artian angan-angan seseorang yang sering gue dengar dari teman-teman: “Gue pengin punya sahabat yang bisa serius banget, tapi lucu banget kalau lagi melucu.”


5. mycocolatos.blogspot.com
Blog yang dikuasai Niki Setiawan ini selalu membahas hal yang remeh. Selalu. Ceritanya banyak yang nggak tahu apa alasannya kenapa ditulis. Herannya, gue ketawa. Bayangin aja, saat gue terakhir buka blognya, ada satu judul postingan teratas “Cara Membuat Api Rebus”. Udah bisa dibayangkan bagaimana reseknya tulisan itu. Gue nggak berani buka, takut kepala tiba-tiba pusing.

Di luar ngaconya blog Niki Setiawan tersebut, banyak keajaiban yang bisa dipetik dari perenungan tulisan seaneh itu. Ya, mengajarkan bagaimana hidup ini sebenarnya gue rasa. Asik.

Selain blog-blog keren dan lucu di atas, gue juga akan membuat daftar blog keren lainnya. Hal itu gue predikatkan karena blog-blog di bawah ini adalah blog yang ikutan giveaway blog robbyharyanto.com sebulan lalu.


Setelah satu bulan lamanya, sekarang waktunya gue mengumumkan pemenang dari giveaway berhadiah buku. Harusnya gue umumin tanggal 17 September kemarin. Berhubung ada kegiatan di luar kota, gue baru bisa umumin sekarang di postingan ini.

Pemenangnya adalah Mbak Mayang Dwinta sebagai juara ketiga, Kakak Icha Hairunnisa sebagai juara kedua, dan Bang Hawadis sebagai juara pertama. Hadiahnya sesuai dengan ketentuan yang gue buat di beberapa postingan yang lalu. Mungkin dalam pengirimannya akan ada sedikit penundaan karena gue masih bingung kapan ke jasa pengiriman barang. Maklum, mahasiswa baru senengnya cari-cari kesibukan. Tapi, nggak sampai bulan depan gue kirim, kok.

Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan tulisan bertema dari grup WIRDY. Seseorang bertanya tentang siapa blog favorit mereka, maka inilah blog-blog yang gue favoritkan. Sebenarnya masih banyak blog keren lainnya. Salah satunya gue buat di blog ini daftarnya di navbar “Teman” dari blog ini (posisinya di bawah gambar header).

Itu adalah blog pilihan gue, lain halnya dengan menurut Yoga Akbar, Icha Hairunnisa, Rahayu Wulandari, dan Darma Kusumah. Coba buka di blog mereka masing-masing, siapa blog favoritnya.
Read More »

Setelah Ujian Nasional, gue menjadi try out maniac. Mengetahui ada informasi try out SBMPTN di mana saja, selama ada di Jakarta, gue ikutin. Gue percaya, selama ada di Jakarta masih banyak akses untuk menuju ke lokasi tertentu. Akan beda cerita bila gue sotoy, lalu kena batunya hingga menemukan tugu bertuliskan "SELAMAT DATANG DI KOTA CIREBON".

Jauh sebelumnya gue sudah dua kali mengikuti try out online yang diadakan akun-akun di LINE. Dilihat dari hasil-hasilnya yang nggak pernah mencapai target, gue sedikit ragu sama diri gue sendiri. Masalahnya, hampir semua try out yang gue ikuti berbayar. Sudah sering ikut try out, tapi nilainya nggak pernah mencapai target program studi incaran. Lama-lama bikin kesal, uang habis tanpa menghasilkan progres. Nilai try out gue konsisten. Konsisten nggak mencapai target.

Nilai try out nggak pernah memuaskan, sedangkan SBMPTN tinggal menghitung hari. Gue, yang pengin banget masuk PTN, apa kabar?

^^^

Sudah dua minggu terakhir gue pergi untuk ikut try out SBMPTN. Tanggal 16 April, tiga hari setelah Ujian Nasional selesai, gue mengikuti try out di Universitas Pertamina, walaupun sempat takut nyasar karena internet mati di tengah jalan dan berimbas nggak bisa buka Google Maps. Syukurnya, gue dapat menemukan lokasi bermodalkan kepekaan melihat penumpang ojek online.

(Ceritanya pernah gue tulis di sini: Karena Peka Itu Harus)

Seminggu setelahnya, gue mengikuti try out di GOR Lokasari, Jakarta Barat, dan di sini terjadilah percakapan sebelum try out yang cukup lama antara gue dengan seorang bapak yang mengantar anaknya try out. Mereka berasal dari Bekasi. Gue membayangkan dari Bekasi ke Jakarta Barat hanya untuk try out SBMPTN, rasanya mental petualang gue dalam dunia try out belum sampai segitunya. Kalau ada try out di Portugal, gue... hmmm... nggak deh. Lain kali aja.

Gue jadi teringat sebuah istilah. Kalau anak punk bisa disebut “anak acara” karena mereka tahu jadwal konser berada, gue sekarang merasa menjadi “anak try out” karena gue bisa tahu di mana ada try out diselenggarakan. Sampai-sampai gue bilang ke seorang teman, “Lu kalau mau tau ada try out di mana, tanya gue.” Seolah hanya gue yang paling tahu.

^^^

Tiga minggu berturut-turut gue mengikuti try out di luar dan semuanya berbayar. Di bimbel sendiri, setelah dibukanya program intensif pasca-UN, try out diselenggarakan setiap hari Senin sebanyak empat kali dalam sebulan.

Tanggal 30 April gue kembali ikut try out di luar bimbel. Tujuan gue bukan semata-mata hanya untuk try out. Lebih dari itu, gue sedang berkunjung ke calon kampus, perguruan tinggi negeri incaran gue: Universitas Negeri Jakarta.

Beberapa kali gue merasa iri dengan teman-teman SMA yang bisa kesampaian kunjungan ke kampus impiannya. Teman-teman yang mengincar Universitas Indonesia bisa ke kampus impiannya setiap ada acara UI Open House. Gue sudah lama menunggu “UNJ Open House”, namun tidak pernah terdengar kabarnya.

Di pameran kampus juga begitu. Gue pernah ke JCC Senayan, saat itu ada pameran kampus yang diisi banyak sekali universitas negeri maupun swasta di Indonesia, bahkan stand program beasiswa juga ada di sana. Tetapi, gue tidak melihat stand UNJ di sana. Agak sedih sebenarnya. Gue malah berdiri di stand UGM. Motoin orang dari belakang.



^^^

Kembali lagi ke try out di UNJ. Try out ini diadakan bekerja sama dengan sebuah lembaga beasiswa yang ada di Indonesia. Sebelum dibagikan kertas soal dan jawaban, panitia menampilkan video profil kampus UNJ. Sebuah video yang memberikan gue motivasi.

Setelah try out selesai, acara dilanjutkan dengan ishoma. Sebetulnya try out di sana sama saja dengan try out SBMPTN yang gue ikuti sebelumnya di manapun. Aura asli SBMPTN yang khas ada juga di sini: tegang, panik, dan gugup.

Setelah ishoma dilanjutkan acara bedah kampus. Gue nggak tahu bagaimana acaranya berjalan karena gue memutuskan untuk pulang lebih dulu. Dibanding ishoma, gue malah ishobut. Istirahat, sholat, cabut (alias pergi). Gue harus ke sekolah untuk hadir dalam acara lomba yang ekskul gue adakan.

Setelah salat Zuhur di Masjid Alumni (itu nama yang gue lihat di dinding masjid), gue jalan terburu-buru agar segera meninggalkan lokasi. Tidak ada panitia berseragam yang melihat gue. Atau, sebenarnya mereka nggak mengira gue adalah peserta try out, melainkan mahasiswa sini. Semuanya aman sampai ada seorang cewek menghentikan langkah gue. Aduh, siapa dia? Jantung gue semakin cepat berdetak, perpaduan dari dihentikan langkahnya oleh seorang cewek dan kabur dari acara. Sambil menyembunyikan gugup, ia bertanya, “Masjid Alumni di mana, ya, Kak?”

“Kenapa dia manggil ‘Kak’?” tanya gue dalam hati. Gue bergeming. Masih dalam perasaan panik, takut, dan jengkel karena nggak terima dipanggil “Kak”. Agar gue cepat kembali pada tujuan awal, gue segera memberikan arahan menuju tempat yang dia maksud. Dia pergi meninggalkan gue sambil tersenyum. “Makasih, Kak.”

Gue kira, yang mengira gue mahasiswa bukan hanya seseorang di kopdar Blogger Jabodetabek saja. Nah ini, cewek yang ketemu di UNJ manggil gue “Kak”.

Apa dia kira gue mahasiswa sini? Apakah muka gue udah cocok banget jadi mahasiswa? Muka semester-5-padahal-masih-kelas-12 ini sanggup membuat gue dipanggil “Kak”.

Tapi... aminin aja deh. Siapa tahu gue beneran jadi mahasiswa di sini.

--

Ditulis bulan April 2017 dengan sedikit penyempurnaan kronologis.

Baca rangkaian cerita selama menuju PTN di bawah:
1. How I Meet Chemistry
2. Kenapa Pendidikan Kimia?


Read More »

Anak kos itu keren. Memang keren setelah dengar beberapa cerita perjuangan mereka. Bagaimana caranya ngatur uang sampai ngatur waktu, anak kos biasanya punya triknya masing-masing. Beda kamar, beda strategi.

Anak kos lebih akrab dengan mahasiswa. Setelah menjadi mahasiswa, gue pengin merasakan jadi anak kos. Walaupun agak aneh rasanya (tapi tidak menutup kemungkinan) kuliah di kota sendiri harus ngekos.

Sebenarnya masuk akal kalau gue ngekos. Rumah di Jakarta Barat sedangkan kampus di Jakarta Timur. Jaraknya lumayan jauh, apalagi letak kami sama-sama di ujung. Barat ke timur. Kalau berangkat kuliah diartikan sama dengan terbitnya matahari dan pulang diartikan terbenam, artinya selama perjalanan gue kuliah artinya MENUJU KIAMAT!

Jangan deh, jangan. Jangan sampai. Kuliah harus terus menyenangkan.

Apalagi setelah gue hitung jumlah waktu perjalanan dari kampus ke rumah menghabiskan paling cepat tiga jam untuk berangkat dan pulang. Itu paling cepat. Mungkin, waktu paling lama bisa-bisa membuat gue berhasil menuliskan tiga laporan praktikum sekaligus. Sudah pasti gue akrab dengan permen selama perjalanan biar nggak ngantuk dan tidak kecurian. Juga dengan balsem, buat ngobatin nyeri di kaki karena harus berdiri terus di bus Transjakarta.

Selama masa pengenalan akademik (MPA) di kampus, gue ngekos untuk beberapa hari. Hampir disebut begitu, walaupun kenyataannya gue cuma numpang di kosan orang.


Perjalanan

Pukul 19.30 gue masih di rumah. Siap-siap mau ngejilid spiral tugas yang dikasih untuk MPA. Pesan broadcast sudah disebar ke grup WhatsApp, isinya tentang informasi jam kedatangan pukul 5.30. Gue nggak menyangka harus sepagi itu.

Gue panik.

Masalahnya, sepagi itu nggak ada angkutan. Bus Transjakarta yang selama ini jadi andalan juga belum beroperasi. Mau naik ojek online pasti nggak sanggup karena lebih dari 25 kilometer. Masa harus naik taksi? Biayanya pasti mahal. Mati gue, mati, kalau gini caranya. Apalagi ini kegiatan semacam ospek, yang artinya: TELAT = HUKUM SIAP MENANTIKU.

Gue langsung kepikiran sebuah rencana: Nanti tengah malam gue berangkat, naik angkot apa pun. Kalau nggak ada, jalan aja sampai kampus. Tidur di SPBU, mandi di sana, lalu sampai sana tepat waktu.

Sewaktu gue jabarkan rencana itu ke kakak pendamping gue di jurusan, dia malah panik. Dia melarang gue untuk melanjutkan rencana. “Jangan begitu, Rob. Banyak kriminal jam segitu. Kamu cari teman kamu yang ngekos dekat kampus deh.” Lalu dia mengirimkan kontak seseorang. “Nah, coba kamu hubungi Agung.”

Agung adalah teman seprodi gue di Pendidikan Kimia.

Tanpa banyak mikir, gue langsung minta tumpangan malam ini—setidaknya sampai besok pagi. Agung langsung mengiyakan dengan syarat gue harus bawa laptop buat dia ngerjain tugas. Gue ngomong dalam hati, “Gila juga ini anak. Tugas buat besok belum dikerjain.”

Gue lihat di jam dinding rumah, waktu menunjukkan pukul 21.15. MALAM. Benar, malam hari. Gue memastikan semua perlengkapan buat MPA sudah masuk ke tas semua. Sebotol teh manis tak lupa menghangatkan tas gue.

Saat beberapa rute bus mulai ditutup, gue baru berangkat.

Orang-orang masuk ke dalam bus dengan suka cita karena baru saja menyelesaikan rutinitasnya yang membosankan, gue sebaliknya. Gue malah murung sekaligus khawatir karena berangkat semalam ini.

Keluarga mereka sudah siap di rumah menyambut kedatangan anggota keluarganya, sedangkan gue baru saja pamit untuk pergi.

Ya Allah, ini kenapa sedih begini?

Rasanya semua kesedihan itu nggak ada apa-apanya setelah gue ketemu seseorang di halte Grogol.

“Mau ke mana, Mas?” tanya gue. Mungkin atas dasar senasib (karena nunggu bus malam-malam) membuat gue berani sok akrab.

“Mau ke sana.” Dia menyebutkan sebuah tempat. Gue lupa. Nama tempatnya asing bagi gue.

“Baru pulang kerja?”

“Iya,” jawabnya. “Tadinya mau sekalian nginep aja di tempat kerjaan. Pulang jam segini pasti nyampe tengah malam juga.”

Beginilah waktu nunggu bus

Dia bahkan belum tahu kapan sampai rumah. Gue ikutan sedih. Lebih sedih lagi ada seorang wanita yang nunggu bus ke arah BSD, Tangerang. Dia nunggu bus lebih dulu daripada gue, tapi nggak dapat-dapat. Akhirnya dia keluar halte, lalu nunggu taksi sendirian. Saat itu pukul 11 malam.

Gue bisa menyaksikan bagaimana cemasnya orang-orang saat malam hari. Bingung nyari angkutan umum.

Seharusnya, dari halte ini ada satu bus yang bisa langsung mengantarkan ke kampus. Mungkin pukul 11 malam sudah tidak beroperasi lagi. Semakin panik lagi setelah Agung bilang kosannya cuma buka sampai pukul 11.

“Tungguin dulu,” kata gue.

“Buruan sini. Ibu kosan gue udah marah-marah,” balas Agung.

Setelah naik bus seadanya—tidak langsung sampai tujuan—dan bermodalkan uang Rp17.000 untuk naik Gojek, gue berhasil sampai ke kosan Agung pukul 0.20. Bagus. Nggak ada orang bertamu sepagi ini.

Di balik gerbang sudah ada seorang ibu dan anjing di dalam kandang yang menggonggong. “Dari rumah jam berapa kamu?”

“Jam 9, Bu.”

“Ah, iya. Pantas itu. Nggak mungkin dia berangkat jam 8.” Kayaknya si Agung bohong deh bilang gue berangkat jam 8.

“Mau sampai kapan di sini?” tanyanya. Gue paham betul apa maksud dari pertanyaan itu.

“Sampai pagi aja, Bu. Nanti langsung pulang,” jawab gue agar tidak dimintai uang tambahan, seperti yang diterapkan di beberapa tempat kos. Tak lupa gue meminta maaf dan langsung masuk ke kamar Agung. Berdua. Di dalam kos.

***

Di kosan Agung

Di kosan Agung gue cuma ngerjain beberapa tugas yang belum selesai karena pagi nanti semuanya harus dikumpulkan. Bau-bau deadliner sudah tercium dari tubuh gue. Gue sedikit merasakan haus. Gue melihat seisi kosan Agung, tidak ada tanda-tanda kesegaran di sini. Air di botol minum isinya tinggal setengah. Kalau dihabiskan, gue bakal kehausan. Botol gue simpan ke dalam tas, habiskan di kampus, dan nanti minta sama orang-orang dermawan di kampus. Kalau mendesak, botol ini siap menampung air dari keran masjid.

Punggung udah ngerasain sakit ketusuk-tusuk angin malam. Pukul 2 gue masih melek bareng Agung yang masih sibuk ngetik tugas. Dia lebih deadliner daripada gue. Gue tertidur, bangun lagi pukul 4 untuk segera ke kampus mengikuti briefing MPA.

Permasalahan air minum rasanya jadi terselesaikan setelah gue menemukan seorang teman duduk di samping dispenser. Tanpa ragu dia menekan dispenser dan menadahkan air ke botolnya. Gue ikuti cara dia. Botol kosong tadi kini terisi setengah.

Sungguh indah oase di tengah padang pasir. Sungguh menyejukkan dispenser beserta galonnya di tengah masjid.

Briefing MPA selesai sampai sore dan belum masuk ke acara inti. Keluar dari kampus gue ke rumah Agung untuk mengambil barang, seperti pakaian kotor. Gue langsung pulang untuk menyiapkan tenaga untuk MPA hari selanjutnya. Besok masih ada jeda sekitar tiga hari, barulah sampai ke acara MPA.



Di kosan Rian

Masih ingat Rian? Dia adalah partner seperjalanan gue di Halilintar sewaktu jalan-jalan ke Dufan. Orang yang masih gue bingung, sebenarnya dalam silsilah keluarga antara gue dengan dia itu apa namanya.

Tidak usahlah mempermasalahkan itu. Intinya, dia adalah saudara yang kebetulan satu kampus. Dan orang yang berbaik hati mau gue tumpangi selama MPA.

Untuk masalah izin, bahkan sampai sekarang gue belum izin ke yang punya kosan tempat Rian tinggal. Licik memang, licik. Demi menghindari dimintai uang tambahan, gue diem-diem aja. Gue masih dihitung tamu, padahal gue numpang di kosan dia sampai tiga hari. Tamu tidak beradab.

MPA dimulai sangat pagi. Pukul 5.00 para maba harus sampai kampus. Masih nggak memungkinkan bila gue berangkat dari rumah untuk sampai pukul segitu. Makanya gue tetap memutuskan untuk menumpang. Kerjaan gue di sini cuma ngerjain tugas dan tidur. Oh iya, di sini enak. Minumnya disediain tuan rumah. Jadi gue nggak perlu pura-pura ke kamar mandi terus ngisi botol pakai air keran.

Satu-satunya masalah adalah asupan. Yang pernah diceritakan kakaknya Rian, sekaligus kakak ipar gue, adalah Rian adalah tipe orang yang pilih-pilih makanan. Gue, selama disediain, nggak pernah pilih-pilih. Paling ada beberapa makanan yang, sekalipun mereka bilang enak, gue nggak akan makan.

Benar saja. Di kosannya, Rian nggak pernah makan. Begitu pun gue. Cocok deh keduanya buat sama-sama kelaparan. Gue mau ke luar nyari makan sendiri, nggak enak. Mau ngajak makan bareng, agak malu karena kami baru banget kenal. Harusnya saat itu gue ajak, sih, biar sekarang akhirnya nggak gue tulis di blog. Lihat sekarang. Jadinya gue ngeluh dan nulis postingan blog. Ah, hidup.

Nggak makan, akhirnya nahan lapar. Nahan nangis juga. Yang ditangisin karena kangen orang-orang di rumah. Heran, meskipun jaraknya nggak jauh-jauh amat—masih satu kota, rasa kangennya jadi dalam banget sewaktu gue menemukan banyak kesulitan di sini. Masih belum bisa tinggal sendiri. Masih selalu harus diingetin makan. Masih ngerasa payah. Abisnya, gue takut kalau nanti semisal sedang sibuk ngerjain tugas, selama nggak ada yang ingetin gue makan, gue tidur dalam keadaan lapar.

Selama gue di kosan dua orang di atas, gue nggak makan nasi. Agak kurang, makanya gue bilang jarang makan. Sebagaimana slogan makan yang berlaku di Indonesia berlaku: Belum disebut makan kalau belum makan nasi.

Begitu selesai rangkaian acara MPA, gue puas-puasin makan di rumah. Terus terang, gue langsung nambah dua kali makan nasi pertama di rumah setelah tiga hari di kosan orang. Setelah makan, Mama nanya ke gue, “Terus jadi mau ngekos?”

Gue menjawab, “Nggak, Ma. Nggak apa-apa deh tua di jalan daripada harus nahan lapar terus.”


Sumber gambar:
http://spongebob.wikia.com/wiki/Rock_Bottom
Read More »