06 August 2017

Kenapa Pendidikan Kimia?

Karena sebuah kejadian, tertanamlah akar besar yang nantinya menjadi cita-cita gue. Hingga saat ini, gue masih ingat betul bagaimana kejadiannya.

Naik ke kelas 5 SD sebenarnya memberi sedikit ketakutan bagi gue dan beberapa teman sekelas. Kriteria wali kelas yang gue (dan beberapa teman) takuti saat itu adalah wali kelas yang galak. Wali kelas di SD adalah orang yang akan selalu ketemu karena hampir semua mata pelajaran dia yang mengajar. Mendapat wali kelas yang galak, untuk ukuran anak SD tentunya, artinya bakal sering merasa nggak betah di kelas.

Dilihat dari wajahnya, guru gue ini sudah punya modal menjadi guru galak. (Anggap saja ini adalah Robby zaman SD. Waktu itu belum kenal guru killer, cuma tahu guru galak.) Tatapannya tajam. Setiap kali menjelaskan materi di kelas, gue nggak berharap dia melihat gue dan memberi pertanyaan. Ucapannya juga pedas. Pernah sekali gue jadi petugas upacara, dia ngomentarin gue dengan kesarkasannya, “Jalan kamu kayak robot kurang batere!”

Empat tahun gue sekolah SD belum pernah merasakan digalakin begitu. Gue terlalu halus dan terlalu lemah buat diomelin. Bisa dibilang, gue selalu aman di mata guru. Dapat komentar begitu gue koreksi diri di rumah. Apa iya gue kurang batere? Masa harus minta ortu beliin Alkaline?

Pagi itu di kelas kami sedang ada ulangan harian. Biar nggak ada yang saling nyontek, posisi antarkursi diberi jarak 10-15 cm. Kami semua disuruh menggeser sedikit meja dan kursi, agak menjauh dari teman sebangku. Beberapa orang, saking takutnya disontekin, bahkan membuat pagar dengan menegakkan buku di atas meja. Ada teman sebelahnya melirik, dia langsung menutupi meja dengan tubuhnya. “Jangan dilihat!” Padahal lembar jawaban belum dibagi.

Wali kelas menunjuk gue dengan spidolnya. Gue menengok ke belakang, memastikan kepada siapa spidol itu mengarah. Gue menunjuk diri sendiri. “Saya, Bu?” tanya gue lirih.

Beliau tetap mengacungkan spidolnya. “Geser kiri!” perintahnya. Gue melihat lagi ke belakang, masih bertanya-tanya siapa yang beliau maksud. Siapa sebenarnya yang beliau tunjuk.

“KAMU GESER!” Beliau melempar spidol ke gue. Tutupnya terlempar dan terpisah, ujungnya menyoret tangan gue.

Gue berjalan menuju mejanya sambil menundukkan kepala untuk mengembalikan spidol. Gue cuma membatin, “Apa guru harus begini? Menyuruh tanpa sebut nama, no mention begini, lalu melempar spidol ke muridnya. Guru nggak seharusnya begini. Gue bisa lebih baik dari guru ini.” Gue menutup spidol dan mengembalikannya kepada beliau, lalu kembali ke meja untuk menggeser bangku. Hari itu rasanya berat buat melanjutkan ulangan. Kok gue sakit hati, ya?

Sejak saat itu gue punya cita-cita menjadi guru.



^^^

Naik ke kelas 6, tentu saja lepas dari guru galak, ketertarikan gue terhadap Matematika meningkat. Ulangan Matematika pertama di kelas 6, gue mendapat nilai 90. Guru gue bertanya tentang tips gue dalam belajar. Maksudnya, supaya teman-teman di kelas termotivasi. “Kamu belajar berapa jam?” tanyanya. Gue tahu arah dari jawaban ini akan diteruskan ke mana. Gue nggak mau dianggap sebagai role model dengan bilang, “Wah, saya kalau belajar lama banget, Pak. Bisa sampai 15 jam nonstop.” Tapi, gue jawab aja sejujurnya, “Dua jam.” Rasanya dua jam cukup standar bagi anak SD. Malah aslinya itu bukanlah waktu bersih belajar. Dalam dua jam, waktu belajar gue paling cuma 15 menit. Sisanya main game di handphone.

Di ulangan selanjutnya barulah gue sadar bahwa selama ini gue belum kerja keras. Nilai ulangan Matematika turun, dan di rumah gue terus belajar. Rasanya, kemarin, setelah dapat nilai 90, gue sedang sombong-sombongnya. Giliran teman gue, Aulia, yang ditanya. “Kamu belajar berapa jam?”

^^^

Sampai SMP gue masih menyukai Matematika. Setiap ketemu pelajaran Matematika gue selalu bahagia. Nilai-nilai gue selalu memuaskan, meskipun nggak selalu 100. Berkaitan dengan keinginan cita-cita gue dulu ingin jadi guru, mulai saat itu gue berkeinginan jadi guru matematika. Alasannya karena saat itu gue menyukai Matematika.

Masuk jenjang SMA, gue merasakan Matematika menjadi pelajaran yang sangat susah. Masalah masing-masing orang berbeda dalam pelajaran ini. Masalah gue dengan Matematika adalah kurang paham materi yang diajarkan di kelas. Akhirnya berdampak pada PR jarang dikerjain (ini salah gue sendiri sebenarnya) dan ulangan selalu kesulitan. Bahkan pernah sekali ulangan harian Matematika, gue cuma ngisi 3 soal... dari 30.

Reputasi buruk di ulangan Matematika tidak terlalu berdampak pada remedial. Gue bersyukur jarang merasakan namanya remedial pelajaran Matematika. Sekalipun pernah, cuma disuruh mengerjakan ulang soal ulangan semester. Bayangkan kalau guru gue ngasih remedial, dan gue tetap nggak tuntas? Soalnya ada guru gue, mapel lain, yang suka banget minta muridnya untuk remedial. Muridnya mah minta juga. Minta dituntasin aja, remedialnya nolak.

Di kelas, gue sering kepikiran, kenapa gue bisa seturun ini minatnya terhadap Matematika. Suka sih, masih. Matematika masih seperti Matematika yang gue kenal saat 6 SD dulu (ini kesannya kayak cerita nostalgia cinta ya?). Tapi, apa yang salah sebenarnya? Atau Matematika bukanlah minat gue sesungguhnya?

^^^

Sudah sejak bangku sekolah dasar gue ingin jadi guru. Gue harus lanjutin cita-cita itu, tapi keinginan gue waktu SMP adalah jadi guru Matematika, sedangkan sekarang belajar Matematika susahnya setengah mati. Teman gue di kelas 11, sebut saja namanya Papan Tulis [(bukan nama sebenarnya) dan (bukan sebenarnya nama)], pernah nanya, “Rob, lulus SMA mau nerusin ke mana?”

“Nggak tau, nih,” jawab gue. “Yang deket aja. UNJ mungkin.”

“Lu mau jadi guru?”

Gue mengiyakan. “Meskipun gajinya kecil.”

Papan Tulis, bagusnya, mendukung gue. Dia sepertinya tahu gue punya ketertarikan pada pelajaran Kimia, dia langsung menebak, “Mau jadi guru Kimia?”

Gue mengangguk. Kebetulan saat itu kami sedang belajar Kimia di kelas. Kalau saja ketahuan ngobrol sama Bu Iin, guru Kimia, bisa ditegur.

Sambil melihat rapor, gue masih meratapi nilai Matematika yang hanya pas KKM. Itu pun gue yakin berasal dari nilai kasihan. Dulu nilai Matematika gue tidak serendah ini, batin gue.

Bersamaan dengan frustrasinya akan nilai Matematika di rapor, gue belajar menyukai apa yang sepertinya menjadi petunjuk untuk pilihan gue. Melihat rapor, gue seperti mendapat suara-suara alam.

“Matematika memang bukan jalanmu. Cobalah lihat dua kolom di bawah Matematika. Ada Kimia, yang sepertinya cocok denganmu. Meskipun kamu tidak tahu kenapa nilai sebagus itu bisa ada di rapor kamu, coba saja kamu pelajari dan nikmati setiap bab yang ada. Buktikan pada gurumu bahwa kamu layak mendapat nilai setinggi itu.”

^^^

Telanjur menyukai Kimia, gue melanjutkan untuk bercita-cita menjadi guru kimia dan suatu saat, gue kuliah akan mengambil program studi Pendidikan Kimia. Gue percaya, untuk mengambil jurusan kuliah nanti, gue harus memilihnya dari apa yang gue suka dan minati. Saat itu, gue belum mengenal Gita Savitri, youtuber yang pernah kuliah Kimia di Jerman. Jadi, keputusan gue ini belum terpengaruh dengan kariernya sebagai mahasiswi jurusan Kimia.

Setelah tahu jurusan apa yang gue incar, selanjutnya gue harus punya kampus tujuan. Itu pasti. Tentunya, yang menyediakan program studi Pendidikan Kimia. Gue sudah punya beberapa nama universitas, termasuk yang berada di kota tempat gue tinggal. Tidak cukup satu, gue mencari kampus lain yang punya prodi sesuai dengan incaran.

Saat masih semester awal kelas 12, gue sempat tergoda dengan jurusan lain. Namanya masih dalam proses pencarian, gue mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang jurusan apa saja yang berkaitan dengan Kimia.

“Lulusan Teknik Kimia gede gajinya, By,” kata kakak gue. Selain Teknik Kimia, gue juga sempat tertarik dengan Kehutanan, Peternakan, bahkan Ilmu Gizi. Kimia Murni juga sempat membuat gue tambah pusing dengan menambahnya daftar jurusan kuliah incaran. Tapi gue mengingat lagi apa cita-cita gue sejak kecil.

Dalam sebuah peringatan hari nasional, di sekolah gue saat itu ada perlombaan menghias kelas. Kelas dibuat warna-warni dengan banyak ornamen. Salah satu ornamen di kelas gue adalah logo-logo perguruan tinggi di Indonesia. Logo-logo itu nantinya akan digantungkan di langit-langit kelas. Maknanya, biar antara kami dengan kampus impian nggak jauh banget dan bisa digapai dari dalam kelas. Nggak tahu, sih, siapa yang memberi arti seperti itu. Gue sendiri asal-asalan aja ngetik barusan.

“Eh, gue mau nempel itu dong!” kata gue ke seorang teman, menunjuk sebuah logo universitas yang sudah ditempeli tali. Tali itu berfungsi agar logo bisa menggantung di langit-langit kelas. Sebuah logo Universitas Negeri Jakarta (UNJ), universitas impian gue, gue pegang untuk ditempel di langit-langit kelas. Sejak pertama masuk kelas 12, saat disuruh menuliskan harapan ingin berkuliah di mana, gue memang sudah menuliskan “Pendidikan Kimia – UNJ” sebagai pilihan pertama.

Gue berdiri di atas meja lalu menempelkannya di langit-langit sekolah, yang tepat di bawahnya adalah meja guru. Maknanya, karena UNJ banyak menghasilkan guru-guru terbaik, dan semoga gue bisa menjadi seperti mereka. Belakangan gue sadari ternyata gue sebenarnya nggak sopan. Meja yang gue injek untuk tempat berdiri adalah meja guru.

“Nah, cocok di sini,” gue berkata sendiri. Gue turun dari meja lalu melihatnya dari bawah. Logo itu bergoyang-goyang tertiup AC. Gue memandangi logo yang tergantung, sebuah harapan yang jaraknya masih dalam dunia gue, di kelas. Dan mulai dari sini, di dalam kelas, harapan itu mulai gue kejar.

Mengutip sebuah peribahasa dan merombaknya, “Gantungkanlah logo universitas impianmu setinggi langit-langit kelas.”


--
Cerita ini masih melanjutkan cerita gue sebelumnya. Kalau terlewat silakan baca:
How I Meet Chemistry (cerita tentang kenapa gue suka pelajaran Kimia)

--
Sumber gambar: https://pixabay.com/en/boys-school-teacher-education-asia-1782427/