Akhirnya bisa update blog lagi.

Karena kebetulan lagi senggang nungguin info pengisian kartu rencana studi (KRS) kuliah, dan lagi megang laptop juga, gue mau nulis sedikit-sedikit tentang giveaway yang gue buat awal bulan Agustus ini.

Secara singkat aja, benar gue senang akhirnya bisa update blog lagi. Alasannya adalah karena beberapa hari yang lalu gue disibukkan dengan urusan masa pengenalan akademik (MPA) di kampus. Selayaknya mahasiswa baru, gue juga mendapat perpeloncoan.

Kaget?

Oh, jangan dulu. Karena perpeloncoan artinya, di dalam KBBI versi V, adalah:

Perpeloncoan (n) perihal pelonco

Pelonco (v Jw) pengenalan dan penghayatan situasi lingkungan baru dengan mengendapkan tata pikiran yang dimiliki sebelumnya.

Sebenernya ini gue cuma nerusin kata-kata mantan ketua BEM kampus aja, sih. Gue juga awalnya kaget waktu dia bilang, “Kalian semua ini dipelonco!” Padahal kakak tingkatnya baik-baik semua. Dia tambahkan, “Kalau pelonco yang kalian masksud adalah kekerasan, itu beda lagi. Yang itu namanya perundungan (bullying).”

Kalau diselami lebih dalam, makna acara MPA buat mahasiswa baru kayak gue dalem banget. Gue jadi tahu kebiasaan di kampus bagaimana. Sedikit-sedikit tahu budaya anak FMIPA di UNJ seperti apa. Karena sudah terkenal dengan keramahan dan kereligiusannya, jadi gue nggak bisa banyak cerita soal kejadian aneh atau kacau di sini, selayaknya kebiasaan waktu SMA dulu. Bawaannya adem terus ketemu anak FMIPA UNJ.

Cerita soal MPA bisa kapan-kapan lagi deh. Gue mau bahas tentang buku yang gue jadikan hadiah di giveway yang gue adakan.

Untuk yang belum tahu sebelumnya, gue sedang ngadain giveaway berhadiah buku sampai dengan tanggal 11 September, sedangkan dimulainya tanggal 10 Agustus. Durasinya memang lama—sebulan—karena gue sengaja merencanakan itu. Salah satu alasannya adalah karena ada agenda MPA yang bener-bener padat.

Mengenai buku yang gue jadikan hadiah, ada satu cerita unik di dalamnya.

Buku untuk pemenang pertama cuma punya sedikit cerita. Gue beli buku itu saat gencar-gencarnya pengin beli novel terjemahan. Terpilihlah rak bukunya John Green di Gramedia. Pilihannya ada Paper Towns dan The Fault in Our Stars. Gue mengambil buku yang kedua, lalu pergi ke kasir. Di kasir gue ketemu teman kelas 10. Dia bertanya, “Beli buku apa, Rob?” Sebetulnya gue kaget ketemu teman di sini. Jadi, ketemu teman satu sekolah bikin gue nggak siap ngomong. Dia nanya pun hanya gue balas dengan menunjukkan buku yang baru saja gue ambil dari rak.

“Oh, baca John Green juga?”

Gue cuma ngangguk-ngangguk sok paham. Tahu John Green juga baru 10 menit yang lalu.

Hadiah untuk pemenang ketiga adalah buku berjudul Tetanus: Catetan Harian Arya Novrianus yang ditulis oleh Arya Novrianus (ya, dari judul aja udah ketahuan). Mungkin banyak yang belum mengenal orang ini. Dia lebih dikenal sebagai komika dan komikus. Gue beli bukunya karena sebelumnya pernah nonton dia stand up di Stand Up Festival 2015 di Tennis Indoor Senayan. Waktu itu bener-bener gila penampilannya, seperti yang biasanya dia tampilkan saat off air. Materinya banyak blue material.

Bukunya sendiri gue beli secara online. Agak khawatir (sekaligus menaruh harapan) sebenarnya bakal ada hal-hal seperti dalam set stand up-nya. Ternyata tidak ada. Tenang, tapi agak ada kesan, “Yah, kok nggak ada blue material-nya.” Jadi, secara keseluruhan buku ini aman, tidak ada blue material-nya.

Namun, hal yang tidak diharapkan malah gue dapatkan dari buku ini.

Pada pembelian buku ini, gue tidak sempat mengikuti pre-order Tetanus yang diadakan beberapa hari sebelum gue beli. Bonus dari pre-order Tetanus adalah tanda tangan penulisnya. Gue baru kesampaian beli bukunya beberapa hari setelah pre-order ditutup. Tanpa menunggu berhari-hari, buku itu sudah sampai di tangan gue. Betapa terkejutnya gue mendapati di halaman pertama buku itu ditanda-tangani penulisnya.




Sewaktu pemesanan pun nggak ada tulisan “special TTD”. Entah dari mana buku itu malah ditanda-tangani penulisnya. Rezeki kali, ya. Hehehe.

Selain Tetanus, buku Romeo Gadungan juga punya cerita sendiri. Seingat gue, buku yang ditulis Tirta Prayudha alias @romeogadungan ini gue dapatkan dari voucher salah satu e-commerce di Indonesia. Vouchernya sendiri gue dapatkan dari job menulis gue yang kedua di blog, sekaligus yang terakhir. Ya, beratus-ratus tulisan di blog ini baru ada dua yang mendapatkan diganjar materi, baik uang maupun voucher belanja. Voucher belanja senilai Rp200.000 gue belanjakan membeli Romeo Gadungan, dan dua buku soal SBMPTN.

Nah, gue memberi kesempatan pada kamu untuk mendapatkan buku-buku gue dengan ikutan giveaway yang masih gue adakan. Syaratnya sangat gampang. Coba buka di sini buat tau lebih jelas.
Read More »

Gue mulai rajin beli buku sejak kelas 9 SMP. Dengan kondisi keuangan yang cukup saat itu, gue mulai beli novel. Sampai sekarang, novel yang gue punya di lemari jumlahnya sekitar dua puluhan. Masih sedikit, sih. Tapi gue merasa udah banyak banget untuk kapasitas lemari yang nggak terlalu besar di rumah.

Daripada terlalu lama bertahan di lemari gue, alangkah baiknya buku-buku itu gue berikan ke orang lain yang ingin membacanya, yang dekat hubungannya dengan blog ini, yaitu pembaca blog robbyharyanto.com.

(Basa-basinya gini doang, kok. Maklum, gue amatir dalam membuat giveaway. Baru pertama kali.)

Jadi, gue mengajak kamu yang baca postingan ini, terutama yang sering mampir ke blog robbyharyanto.com, buat ikutan giveaway yang sedang gue adakan. Hadiahnya adalah buku koleksi gue. Jangan salah, walaupun bukunya bekas, gue punya kebiasaan baik merawat buku, kok. Buku gue kebanyakan disampul. Jadi, nggak terlalu jelek-jelek amatlah. Paling warna kertasnya aja yang sedikit menguning, kayak buku yang udah lama pada umumnya.

Nah, jadi bagaimana caranya mengikuti giveaway ini?

Pertama, buat postingan di media menulis online. Tulisan yang baru dan belum dipublikasikan di manapun, juga bukan arsip lama. Terserah mau di Blogger, Wordpress, Tumblr, Medium, Inspirasi.co, Hipwee, Wattpad dan semacamnya. Tema tulisannya adalah “Aku dan Buku”. Kembali lagi, terserah mau nulis dalam bentuk apa. Mau curhat, cerpen, puisi, pamflet iklan, skripsi, tesis, dan lain-lain. Yang penting sesuai tema.

Kedua, kirim link tulisanmu melalui mention Twitter @robby_haryanto. Kalau nggak punya Twitter, kirim link-nya lewat email robbyharyanto1@gmail.com. Kalau nggak punya email gimana? Jangan bercanda! Bikin dulu sana.

Ketiga, tungguin deh pengumumannya.

Untuk persyaratan, gue tidak memberatkan kalian untuk minimal lulus S1 dan berpengalaman kerja 3 tahun. Syarat utamanya adalah... ikutin aja langkah-langkah di atas. Mau nulis panjang silakan, cuma judul silakan. Tapi, nggak akan gue menangin! Hahaha. Gampang banget ya giveaway ini. Makanya buruan ikutan. (lho, maksa.)

Hadiah dari giveaway ini adalah:

Juara 1: The Fault in Our Stars - John Green (Qanita, 2015)


Novel terjemahan dari John Green, penulis bestseller dunia, yang menceritakan tentang kisah cinta sepasang kekasih yang tidak sempurna dalam fisiknya. Siapa, sih, yang nggak tahu buku ini? Bukunya sudah difilmkan!

Juara 2: Romeo Gadungan – Tirta Prayudha aka @romeogadungan (GagasMedia, 2016)


Kumpulan cerita memoar komedi yang menceritakan kisah patah hati Tirta aka @romeogadungan. Dia adalah selebtwit dan selebask yang lumayan rame, juga seorang blogger.

Juara 3: Tetanus – Arya Novrianus (Bukune, 2015)



Buku personal litterature komedi tentang kehidupan seorang Arya Novrianus, seorang stand up comedian dan finalis SUCI 7. Ceritanya dibumbui komedi hingga tragedi yang melibatkan perasaan dan emosi—sedikit mengutip testimoni di buku ini.

Hadiahnya memang nggak mengenyangkan. Anggap saja kamu dapat tema menulis, lalu, kalau beruntung, dapat hadiah.

Periode giveaway ini dimulai tanggal 11 Agustus 2017 berakhir tanggal 11 September 2017. Pemenang gue umumkan tanggal 17 September 2017... lewat kuping. Jadi, gue nyamperin ke rumah para pemenang, lalu gue bisikin, “Gokil! Elo menang!” Bahaha. Nggak gitu. Para pemenang gue umumkan di blog ini.

Selamat mengikuti giveaway sederhana ini. 
Read More »

Karena sebuah kejadian, tertanamlah akar besar yang nantinya menjadi cita-cita gue. Hingga saat ini, gue masih ingat betul bagaimana kejadiannya.

Naik ke kelas 5 SD sebenarnya memberi sedikit ketakutan bagi gue dan beberapa teman sekelas. Kriteria wali kelas yang gue (dan beberapa teman) takuti saat itu adalah wali kelas yang galak. Wali kelas di SD adalah orang yang akan selalu ketemu karena hampir semua mata pelajaran dia yang mengajar. Mendapat wali kelas yang galak, untuk ukuran anak SD tentunya, artinya bakal sering merasa nggak betah di kelas.

Dilihat dari wajahnya, guru gue ini sudah punya modal menjadi guru galak. (Anggap saja ini adalah Robby zaman SD. Waktu itu belum kenal guru killer, cuma tahu guru galak.) Tatapannya tajam. Setiap kali menjelaskan materi di kelas, gue nggak berharap dia melihat gue dan memberi pertanyaan. Ucapannya juga pedas. Pernah sekali gue jadi petugas upacara, dia ngomentarin gue dengan kesarkasannya, “Jalan kamu kayak robot kurang batere!”

Empat tahun gue sekolah SD belum pernah merasakan digalakin begitu. Gue terlalu halus dan terlalu lemah buat diomelin. Bisa dibilang, gue selalu aman di mata guru. Dapat komentar begitu gue koreksi diri di rumah. Apa iya gue kurang batere? Masa harus minta ortu beliin Alkaline?

Pagi itu di kelas kami sedang ada ulangan harian. Biar nggak ada yang saling nyontek, posisi antarkursi diberi jarak 10-15 cm. Kami semua disuruh menggeser sedikit meja dan kursi, agak menjauh dari teman sebangku. Beberapa orang, saking takutnya disontekin, bahkan membuat pagar dengan menegakkan buku di atas meja. Ada teman sebelahnya melirik, dia langsung menutupi meja dengan tubuhnya. “Jangan dilihat!” Padahal lembar jawaban belum dibagi.

Wali kelas menunjuk gue dengan spidolnya. Gue menengok ke belakang, memastikan kepada siapa spidol itu mengarah. Gue menunjuk diri sendiri. “Saya, Bu?” tanya gue lirih.

Beliau tetap mengacungkan spidolnya. “Geser kiri!” perintahnya. Gue melihat lagi ke belakang, masih bertanya-tanya siapa yang beliau maksud. Siapa sebenarnya yang beliau tunjuk.

“KAMU GESER!” Beliau melempar spidol ke gue. Tutupnya terlempar dan terpisah, ujungnya menyoret tangan gue.

Gue berjalan menuju mejanya sambil menundukkan kepala untuk mengembalikan spidol. Gue cuma membatin, “Apa guru harus begini? Menyuruh tanpa sebut nama, no mention begini, lalu melempar spidol ke muridnya. Guru nggak seharusnya begini. Gue bisa lebih baik dari guru ini.” Gue menutup spidol dan mengembalikannya kepada beliau, lalu kembali ke meja untuk menggeser bangku. Hari itu rasanya berat buat melanjutkan ulangan. Kok gue sakit hati, ya?

Sejak saat itu gue punya cita-cita menjadi guru.



^^^

Naik ke kelas 6, tentu saja lepas dari guru galak, ketertarikan gue terhadap Matematika meningkat. Ulangan Matematika pertama di kelas 6, gue mendapat nilai 90. Guru gue bertanya tentang tips gue dalam belajar. Maksudnya, supaya teman-teman di kelas termotivasi. “Kamu belajar berapa jam?” tanyanya. Gue tahu arah dari jawaban ini akan diteruskan ke mana. Gue nggak mau dianggap sebagai role model dengan bilang, “Wah, saya kalau belajar lama banget, Pak. Bisa sampai 15 jam nonstop.” Tapi, gue jawab aja sejujurnya, “Dua jam.” Rasanya dua jam cukup standar bagi anak SD. Malah aslinya itu bukanlah waktu bersih belajar. Dalam dua jam, waktu belajar gue paling cuma 15 menit. Sisanya main game di handphone.

Di ulangan selanjutnya barulah gue sadar bahwa selama ini gue belum kerja keras. Nilai ulangan Matematika turun, dan di rumah gue terus belajar. Rasanya, kemarin, setelah dapat nilai 90, gue sedang sombong-sombongnya. Giliran teman gue, Aulia, yang ditanya. “Kamu belajar berapa jam?”

^^^

Sampai SMP gue masih menyukai Matematika. Setiap ketemu pelajaran Matematika gue selalu bahagia. Nilai-nilai gue selalu memuaskan, meskipun nggak selalu 100. Berkaitan dengan keinginan cita-cita gue dulu ingin jadi guru, mulai saat itu gue berkeinginan jadi guru matematika. Alasannya karena saat itu gue menyukai Matematika.

Masuk jenjang SMA, gue merasakan Matematika menjadi pelajaran yang sangat susah. Masalah masing-masing orang berbeda dalam pelajaran ini. Masalah gue dengan Matematika adalah kurang paham materi yang diajarkan di kelas. Akhirnya berdampak pada PR jarang dikerjain (ini salah gue sendiri sebenarnya) dan ulangan selalu kesulitan. Bahkan pernah sekali ulangan harian Matematika, gue cuma ngisi 3 soal... dari 30.

Reputasi buruk di ulangan Matematika tidak terlalu berdampak pada remedial. Gue bersyukur jarang merasakan namanya remedial pelajaran Matematika. Sekalipun pernah, cuma disuruh mengerjakan ulang soal ulangan semester. Bayangkan kalau guru gue ngasih remedial, dan gue tetap nggak tuntas? Soalnya ada guru gue, mapel lain, yang suka banget minta muridnya untuk remedial. Muridnya mah minta juga. Minta dituntasin aja, remedialnya nolak.

Di kelas, gue sering kepikiran, kenapa gue bisa seturun ini minatnya terhadap Matematika. Suka sih, masih. Matematika masih seperti Matematika yang gue kenal saat 6 SD dulu (ini kesannya kayak cerita nostalgia cinta ya?). Tapi, apa yang salah sebenarnya? Atau Matematika bukanlah minat gue sesungguhnya?

^^^

Sudah sejak bangku sekolah dasar gue ingin jadi guru. Gue harus lanjutin cita-cita itu, tapi keinginan gue waktu SMP adalah jadi guru Matematika, sedangkan sekarang belajar Matematika susahnya setengah mati. Teman gue di kelas 11, sebut saja namanya Papan Tulis [(bukan nama sebenarnya) dan (bukan sebenarnya nama)], pernah nanya, “Rob, lulus SMA mau nerusin ke mana?”

“Nggak tau, nih,” jawab gue. “Yang deket aja. UNJ mungkin.”

“Lu mau jadi guru?”

Gue mengiyakan. “Meskipun gajinya kecil.”

Papan Tulis, bagusnya, mendukung gue. Dia sepertinya tahu gue punya ketertarikan pada pelajaran Kimia, dia langsung menebak, “Mau jadi guru Kimia?”

Gue mengangguk. Kebetulan saat itu kami sedang belajar Kimia di kelas. Kalau saja ketahuan ngobrol sama Bu Iin, guru Kimia, bisa ditegur.

Sambil melihat rapor, gue masih meratapi nilai Matematika yang hanya pas KKM. Itu pun gue yakin berasal dari nilai kasihan. Dulu nilai Matematika gue tidak serendah ini, batin gue.

Bersamaan dengan frustrasinya akan nilai Matematika di rapor, gue belajar menyukai apa yang sepertinya menjadi petunjuk untuk pilihan gue. Melihat rapor, gue seperti mendapat suara-suara alam.

“Matematika memang bukan jalanmu. Cobalah lihat dua kolom di bawah Matematika. Ada Kimia, yang sepertinya cocok denganmu. Meskipun kamu tidak tahu kenapa nilai sebagus itu bisa ada di rapor kamu, coba saja kamu pelajari dan nikmati setiap bab yang ada. Buktikan pada gurumu bahwa kamu layak mendapat nilai setinggi itu.”

^^^

Telanjur menyukai Kimia, gue melanjutkan untuk bercita-cita menjadi guru kimia dan suatu saat, gue kuliah akan mengambil program studi Pendidikan Kimia. Gue percaya, untuk mengambil jurusan kuliah nanti, gue harus memilihnya dari apa yang gue suka dan minati. Saat itu, gue belum mengenal Gita Savitri, youtuber yang pernah kuliah Kimia di Jerman. Jadi, keputusan gue ini belum terpengaruh dengan kariernya sebagai mahasiswi jurusan Kimia.

Setelah tahu jurusan apa yang gue incar, selanjutnya gue harus punya kampus tujuan. Itu pasti. Tentunya, yang menyediakan program studi Pendidikan Kimia. Gue sudah punya beberapa nama universitas, termasuk yang berada di kota tempat gue tinggal. Tidak cukup satu, gue mencari kampus lain yang punya prodi sesuai dengan incaran.

Saat masih semester awal kelas 12, gue sempat tergoda dengan jurusan lain. Namanya masih dalam proses pencarian, gue mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang jurusan apa saja yang berkaitan dengan Kimia.

“Lulusan Teknik Kimia gede gajinya, By,” kata kakak gue. Selain Teknik Kimia, gue juga sempat tertarik dengan Kehutanan, Peternakan, bahkan Ilmu Gizi. Kimia Murni juga sempat membuat gue tambah pusing dengan menambahnya daftar jurusan kuliah incaran. Tapi gue mengingat lagi apa cita-cita gue sejak kecil.

Dalam sebuah peringatan hari nasional, di sekolah gue saat itu ada perlombaan menghias kelas. Kelas dibuat warna-warni dengan banyak ornamen. Salah satu ornamen di kelas gue adalah logo-logo perguruan tinggi di Indonesia. Logo-logo itu nantinya akan digantungkan di langit-langit kelas. Maknanya, biar antara kami dengan kampus impian nggak jauh banget dan bisa digapai dari dalam kelas. Nggak tahu, sih, siapa yang memberi arti seperti itu. Gue sendiri asal-asalan aja ngetik barusan.

“Eh, gue mau nempel itu dong!” kata gue ke seorang teman, menunjuk sebuah logo universitas yang sudah ditempeli tali. Tali itu berfungsi agar logo bisa menggantung di langit-langit kelas. Sebuah logo Universitas Negeri Jakarta (UNJ), universitas impian gue, gue pegang untuk ditempel di langit-langit kelas. Sejak pertama masuk kelas 12, saat disuruh menuliskan harapan ingin berkuliah di mana, gue memang sudah menuliskan “Pendidikan Kimia – UNJ” sebagai pilihan pertama.

Gue berdiri di atas meja lalu menempelkannya di langit-langit sekolah, yang tepat di bawahnya adalah meja guru. Maknanya, karena UNJ banyak menghasilkan guru-guru terbaik, dan semoga gue bisa menjadi seperti mereka. Belakangan gue sadari ternyata gue sebenarnya nggak sopan. Meja yang gue injek untuk tempat berdiri adalah meja guru.

“Nah, cocok di sini,” gue berkata sendiri. Gue turun dari meja lalu melihatnya dari bawah. Logo itu bergoyang-goyang tertiup AC. Gue memandangi logo yang tergantung, sebuah harapan yang jaraknya masih dalam dunia gue, di kelas. Dan mulai dari sini, di dalam kelas, harapan itu mulai gue kejar.

Mengutip sebuah peribahasa dan merombaknya, “Gantungkanlah logo universitas impianmu setinggi langit-langit kelas.”


--
Cerita ini masih melanjutkan cerita gue sebelumnya. Kalau terlewat silakan baca:
How I Meet Chemistry (cerita tentang kenapa gue suka pelajaran Kimia)

--
Sumber gambar: https://pixabay.com/en/boys-school-teacher-education-asia-1782427/
Read More »

Hilang... ragaku melayang... jauh tak terbayang, ke angkasa ku akan terbang.

Tumben-tumbenan sopir angkot nyetel lagu band Kotak. Lagu itu rasanya jadi dekat maknanya buat gue dalam menjalani hari ini.

Turun dari angkot, kami bertiga—gue, kakak gue dan istrinya—melanjutkan perjalanan ke Ancol naik Metromini. Ini adalah pengalaman kedua gue naik Metromini bernomor 84, sekaligus pengalaman kesekian kalinya naik Metromini. Agak kaget sekaligus tambah percaya dengan pengalaman beberapa teman yang mengatakan sopir Metromini suka kebut-kebutan. NGERI BANGET ANJER! Belum ngerasain wahana di Dufan, udah dikasih dosis rendahnya duluan.

Metromini = dosis rendah halilintar.

Ini bukan wahana


Singkat cerita kami telah sampai di depan pintu barat Dunia Fantasi (Dufan). Tempat yang dulunya gue anggap hanya orang kaya (dan bernyali besar) saja yang bisa berlibur ke sini, akhirnya hari itu kesampaian juga menginjakkan kaki di Dufan. Ada rolling door-nya, wah, bisa muter. Gila, gila, gila. Dari jauh kedengaran suara orang teriak-teriak, kayak lagi disiksa di dalam kubur. Gila, gila, gila. Keren banget tempat ini. Mau sujud syukur tapi kok malu ya?

Kami di sana bertemu Rian dan omnya (gue lupa kenalan). Rian adalah adik dari istrinya kakak gue. Jadi, gue punya kakak, dia udah nikah. Nah, istrinya itu punya adik namanya Rian. Nah, kalau kayak begitu, antara gue dengan Rian apa namanya dalam silsilah? AAAAH, MUMET!

Melihat wahana dan suara teriakan berbarengan dengan mesin-mesin yang bekerja membuat muka gue pucat. Sudah dari awal gue nggak berniat berlibur ke sini. Satu-satunya alasan yang membuat gue tetap pergi ke Dufan adalah karena tiketnya gratis dari kakak gue. Sekalian pengalaman berharga seumur hidup (udah kayak naik haji aja!).

“Mau ke mana dulu?”

“Terserah.”

“Udah masuk Zuhur,” kata omnya Rian, “Salat aja dulu.”

Alhamdulillah. Gue bisa berdoa lebih lama buat menghadapi wahana-wahana di Dufan.

^^^

Setelah salat Zuhur, kami langsung masuk ke wahana Arung Jeram. Agak salah sebenarnya dalam penyusunan daftar urutan wahana yang ingin dicoba. Karena wahana ini bakalan membuat basah, menaruh wahana ini di awal berarti harus siap-siap kebasahan selama main wahana lain.

Wahananya sendiri lumayan seru. Kami mengarungi sungai buatan dengan perahu bulat bermuatan delapan orang. Jalannya berkelok-kelok dengan pemandangan gelombang air yang menggulung. Gulungan itu menghantam badan perahu, lalu menciprat ke dalam. Gue kebagian cipratan lumayan banyak. Untungnya hanya basah sedikit.

Muka gue harus begitu ya? Pengin banget kena kamera.


Level ketegangan: 5/10

Selepas bermain di Arung Jeram, kami makan siang untuk mengisi tenaga. Kecuali gue, yang entah kenapa nggak pengin makan, malah ngelihatin wahana Halilintar. Wahananya keren, banyak orang teriak-teriak, dan memancing gue untuk belajar Fisika. Ah, jangan belajar dulu. Ini waktunya liburan.

“Mau main itu, By?”

“Ah, nggg... nggak deh,” tolak gue, cepat. “Hehehe, takut.”

“Udah, nggak apa-apa. Bareng Rian situ.”

“Iya, sekalian ngeringin baju,” tambah omnya Rian. Wah, ngeringin baju mah nggak gini, Om, caranya, batin gue.

Gue mulai mempertimbangkannya. Selagi ada temannya gue masih berani. Oke, Halilintar. Gue siap dan gue nggak takut!

Tanpa perlu mengantre—karena sedang sepi, gue dan Rian langsung masuk ke kereta halilintar. Gue sangat yakin akan sukses melewati wahana ini (ya, kalau nggak sukses status hidup gue dipertanyakan). Mulai sekarang lupakan semua ketakutan demi Halilintar.

“Udah pernah main ini?” tanya Rian.

“Belum,” gue menggeleng, lalu menelan ludah. “Baru pertama.”

Saat itu juga gue mulai mengatur napas. Pengaman mulai dipasang, gue mulai membaca surat Al-fatihah. Kereta mulai berjalan. Di belakang gue, sekumpulan remaja 20-an tahun berteriak-teriak, “KITA PASTI BISA!” Gue mempercepat bacaan zikir.

KITA PASTI BISA!

KITA PASTI BISA!

Kereta mulai melaju pada jalur lurus, lalu masuk ke lintasan menanjak. Orang-orang di belakang gue teriak-teriak lagi. “KITA PASTI BISA! WOHOOO! KITA PASTI BISA!”

Gue ikut-ikutan semangat dalam hati,

KITA PASTI BISA! HAHAHA, INI SAMA AJA KAYAK LAGI DI ATAS MOTOR NAIK FLY OVER! HAHAHA.

Kini kereta berada di titik tertinggi, mulai masuk ke lintasan menurun. Orang di belakang gue teriak histeris, “AAAAAAAK.” Rian ikut-ikutan teriak. Gue masih diem. Kereta turun begitu cepat. Tidak ingin ketinggalan momen, gue ikutan teriak, “AAAAAAAK!” sambil menahan mulut agar kata-kata kotor tidak keluar.

ANJER! ANJER! TURUNNYA TAJEM AMAT! FLY OVER NGGAK KAYAK GINI!

Kereta mulai melaju dengan liar. Gue cuma bisa pegangan ke penahan tubuh saja, nggak berani teriak. Masih takut ngeluarin kata-kata kotor, dan nggak ada yang tahu, di depan ada bentuk lintasan seram macam apa lagi, dan gue jatuh, meninggal dalam keadaan ngomong kotor. Tidak, tidak. Gue cuma menutup mata sepanjang perjalanan. Yang gue ingat, gue merasakan kepala gue sudah dekat banget dengan tanah.

Kereta sampai lagi di tempat awal. “Udah ini?” tanya gue ke Rian. Dia menjawab, sudah. “Astagfirullah!” Maksud ingin mengucap syukur, tapi mulut mengucap istigfar. Bisa segitunya efek naik halilintar. Gue memegang bagian baju yang basah, sekarang sudah sedikit mengering. Keluar dari kereta, gue nggak sanggup berdiri. Kaki gue gemeteran.

Hilang... ragaku melayang... jauh tak terbayang, ke angkasa ku akan terbang.

Level ketegangan: 9.9/10

Gak ada hubungannya sama wahana Halilintar, sih. Cuma mau naruh foto di sini aja.

Setelah halilintar, gue berjanji pada diri gue sendiri untuk tidak naik Tornado, Hysteria, dan wahana lain yang bikin badan benyek. Dengar orang lain jerit-jerit gue merasa ngilu duluan.

Wahana selanjutnya nggak terlalu seru, tapi cocok buat orang-orang kayak gue. Wahana Perang Bintang jadi selingan untuk mengurangi ketegangan. Wahananya cuma masuk ke dalam ruangan gelap, naik ke semacam kendaraan, lalu (ceritanya) menembaki lawan yang menempel di dinding dengan pistol mainan. Walaupun sudah ditembak berkali-kali, gue nggak melihat ada perubahan pada lawan gue. YA, TERUS PISTOLNYA BUAT APAAN DEH KALAU NGGAK NGARUH?!

Padahal gue ngarep ada hadiah di ujung rel setelah mengalahkan banyak musuh. Ternyata tidak ada.

Level ketegangan: 1/10. Satu-satunya yang bikin tegang adalah tempat ini gelap. Udah. Tapi cocoklah buat gue yang nggak suka wahana ekstrem.

Sebelumnya ada wahana yang membuat kami penasaran. Kami langsung masuk ke dalam antrean wahana itu, namanya Ice Age. Di dalamnya, kita diajak masuk ke dalam sebuah cerita seekor tupai di kartun Ice Age (gue nggak tau siapa namanya). Yang gue ingat, menjelang permainan selesai ada suara yang menyuruh kami segera keluar karena tempat ini (ceritanya) akan musnah. Lintasan menanjak setinggi empat meter sudah siap di depan. Seperti menaiki halilintar, gue kira wahana ini cuma kayak naik fly over biasa. Ternyata, turunnya kenceng banget! Gue ngerasa ada sesuatu yang menarik gue dan membujuk, “Ayolah, mati suri dulu.”

Sampai di bawah airnya menciprat para penumpang. Gue duduk paling depan, kebagian air banyak banget kayak habis mandi. Gue menoleh ke belakang, seseorang tertawa, “Wahaha, yang depan kayak mandi.” Gue teriak seraya melihat dia, “Wohooo!” Nggak ada maksudnya memang.

Level ketegangan: 8/10.


Sebetulnya masih banyak wahana yang belum gue coba. Namun karena keterbatasan keberanian, gue jadi selektif terhadap wahana yang mau gue coba. Di dekat pintu keluar wahana Ice Age ada Tornado. Lebih dekat lagi, ada Bianglala. Atas dasar keberanian yang ada, gue mengusulkan naik Bianglala saja.

Di atas Bianglala, TERNYATA SAMA AJA SEREMNYA!

Ceritanya motret ke bawah. Ini aja takut banget hapenya bakalan jatuh.

Nggak seram sebenarnya kalau gue tidak takut ketinggian. Lha, gue di sekolah aja, di lantai tiga, ngeri ngelihat ke bawah. Menutupi rasa takut ini, gue cuma memandang ke depan. Nggak peduli ada sebuah pepatah “Hidup harus sering melihat ke bawah”. Di atas Bianglala nggak bisa begitu, Pak!

Level ketegangan: 7.8/10.

Sehabis naik Bianglala, kami sempat mengantre untuk naik bom-bom car (di Dufan nama wahananya Baku Toki), kecuali omnya Rian yang ngejagain tas. Namun, di tengah perjalanan mengantre, hanya gue dan Rian saja yang melanjutkan antrean untuk main bom-bom car. Emang dasarnya nggak pernah nyetir, gue kayaknya paling cocok sama wahana ini. Sifat urakan gue tunjukkan, seolah-olah wahana ini menganjurkan untuk mengeluarkan perilaku pengendara selepas mabuk, dengan nabrak-nabrakin mobil ke pengendara lain. Ya, memang begitu tujuannya.

Agak susah memang awalnya untuk main di wahana Baku Toki. Apalagi secara pengalaman gue belum pernah nyetir mobil. SIM juga nggak punya. Akhirnya semua berjalan alami tanpa paksaan. Gue tabrak-tabrakin mobil ke mobil orang lain. Meskipun wahana ini tujuannya memang untuk main tabrak-tabrakan, gue nggak habis pikir dan sulit menahan tawa, setelah melihat ada orang yang sengaja nggak mau nabrakin mobilnya ke mobil orang lain. DIA MALAH BELAJAR NYETIR! Setiap kali mau ditabrak dan menabrak, dia menghindar. Gak apalah. Setiap orang punya alasan sendiri untuk bersenang-senang.

Level ketegangan: 4/10

Puas nabrakin orang tanpa perlu diminta pertanggungjawaban, gue dan Rian melanjutkan ke wahana Niagara-gara. Wahananya mirip-mirip di Ice Age, tapi yang ini outdoor dan tidak terlalu menonjolkan jalan cerita. Pertama, perahu berjalan tenang, sampai kemudian menaiki tanjakan lagi. Di dalam perahu ini, ada gue, Rian, dan dua anak kecil yang duduk di depan gue dan Rian.

Satu di antara anak kecil itu melihat gue. Gue sok-sokan menasihati, “Pegangan, Dek.” Perahu mulai masuk ke lintasan menanjak, air di dalam perahu mengalir ke bawah semua membasahi celana Rian yang duduk paling belakang. Sampai di puncak berjalan perlahan, lalu WUUUUSSSSHH perahu meluncur dengan cepat di bawah rel. “AAAAAAAK!” gue menjerit. Seperti sebelumnya, sama sekali beda dengan naik fly over. Di bawah, perahu menabrak air dan menciprat masuk ke dalam perahu. Anak kecil tadi terlihat lebih bahagia daripada gue yang masih ketakutan.

Wahana Niagara-gara, bagi gue, lebih cocok disebut "Ni nyari gara-gara".

Sebuah usaha menutupi ketakutan

Level ketegangan: 8/10

Langit sudah mulai gelap, petang hampir tiba. Kami masih sempat masuk ke wahana. Wahananya nggak ekstrim, sih. Cuma masuk ke semacam labirin yang di dalamnya berdinding kaca. Kami sempat tersesat, namun Rian berpisah. Keluar dari labirin itu, Rian sudah ada di bawah pohon bermain handphone. Dari mana dia keluar?

Meskipun cuma dari tiket gratisan, akhirnya gue bisa ngerasain juga main di Dufan. Bakal jadi pengalaman tak terlupakan jerit-jerit di Halilintar sampai mata nggak berani buat melek. Tidak perlu main ke wahana Hysteria, Tornado, dan semacamnya, semuanya sudah terangkum lewat Halilintar.

Wahana Istana Boneka. Satu yang terlewatkan.

Jalan-jalan ke Dufan setidaknya sedikit memberi energi baru. Energi berupa kepercayaan diri untuk berani menghadapi rintangan. Gue jadi lebih tahu bentuk bersenang-senang banyak sekali macamnya. Meskipun, beberapa wahana membuat gue hampir mau pingsan, tapi secara keseluruhan gue senang.

Salah satunya karena tiket gratis.

Gue pulang naik bus Transjakarta. Bus mulai berjalan menanjak di fly over. Gue deg-degan, kemudian bus mulai berjalan menurun, gue refleks meraih mencengkram erat pegangan. Efek Halilintar memang luar biasa.
Read More »