03 July 2017

Lebaran (Terlalu) Bersemangat

Lebaran tahun ini gue sangat bersemangat. Mudik ke kampung Bapak di Grobogan, Jawa Tengah dengan rumah yang baru memberi suntikan semangat buat gue. Walaupun hanya di rumah saja, gue tetap tidak kehabisan cara buat bersenang-senang. Ngetik entri blog termasuk kegiatan gue dalam bersenang-senang di kampung. Sesekali gue melakukan olahraga ringan di sini.

Kameranya emang jelek, tapi itu asli gue kok. Bukan stuntman.

Bukannya pergi keliling untuk bersalam-salaman minta maaf, pulang dari salat Ied, gue langsung buka laptop, lalu ngetik di bangku panjang meja makan. Seorang lelaki berjalan ngelewatin gue keluar lewat pintu belakang, bertanya, “Belajar, Mas?”

Gue menutup laptop. Mau jawab “Garap skripsi!” tapi nyadar ospek aja belum dimulai.

Tanpa mengganti baju koko, gue berkeliling ke rumah-rumah tetangga bersama keluarga. Selesai dari sana kami langsung kembali ke rumah untuk bersiap menyambut tamu. Siapa tahu ada yang ngasih gue uang persenan, meskipun jatuhnya jadi ngarep dot com.

Sekitar 5-10 tahun yang lalu gue masih dapat persenan di kampung. Melihat usia sekarang yang hampir menginjak 18, sangat sulit mendapatkan “selipan” uang saat cium tangan sama orang-orang tua. Itulah alasan gue untuk tidak membawa dompet: nggak ada yang ngasih uang.

(Padahal mah lupa. Sampai-sampai lupa bawa KTP bikin gue gagal naik kereta, padahal tiket udah dibeli dari jauh hari.)

Ada salah satu kalimat yang membuat gue dulu bertanya-tanya pada Mama.

“Ma, kok di sini orang pada minta seribu, sih, tiap lebaran?”

“Hah?” Mama nggak nangkap apa pertanyaan gue.

“Iya, itu orang-orang pada ngomong ‘nyuwun sewu’. Artinya, kan, ‘minta seribu’,” ujar gue. “Nyuwun artinya minta, sewu artinya seribu.”

Mama ngetawain gue. Dia ngejelasin kalau “nyuwun sewu” yang ini maksudnya minta maaf. Aneh. Bahasa Jawa sama susahnya dengan bahasa Meksiko.

Sama susahnya dengan mempelajari silsilah keluarga, yang sampai sekarang gue nggak hafal-hafal.

Salahnya menjadi gue adalah gue jarang ketemu mereka dan lupaan. Padahal, gue sering nanya ke Bapak, “Pak, kalau manggil mas itu apa harusnya?”

“Panggil aja ‘Pakdhe’.”

Seperti yang terjadi di kampung saat hari lebaran kemarin. Gue tahu, tetangga gue ini umurnya hanya setahun lebih tua daripada gue. Itu aja yang gue ingat. Tapi, karena silsilah menentukan segalanya, gue harus manggil dia “Bude”. Entah gimana cara ngejelasinnnya, gue sendiri nggak ngerti. Untungnya gue belum sempat manggil “Kak” atau “Mbak”. Pasti gue diketawain.

Pokoknya, kalau ketemu orang, gue selalu membatin, “Ini orang kalau di silsilah lebih tua daripada gue nggak, ya?” Ketemu orang jadi kayak main kartu remi. Harus nebak-nebak dulu apa “kartu” yang dia punya sebelum ngeluarin kartu sendiri. Apakah itu kartu pelajar, kartu tanda penduduk, atau kartu keluarga.

Selain tebak-tebakan dalam hal menemukan kata sapaan yang tepat, momen lebaran juga berarti harus menebak-nebak “gue harus jabat tangan atau cium tangan?”.

Tebak-menebak itu membuat gue harus nurunin ego buat cium tangan. Waktu masih kecil, gue nggak mikir jauh-jauh tentang hal itu. Ketemu orang yang lebih tua langsung cium tangan. Kalau cuma jabat tangan biasa takut dibilang nggak sopan dan bakal diomongin.

Sekarang, walaupun sudah 18 tahun, gue terkadang masih mempertahankan kebiasaan itu. Hampir selalu cium tangan dengan semua orang yang kira-kira mukanya lebih tua daripada gue. Terlalu cetek bila menilai umur dari muka. Nggak usah jauh-jauh, gue udah ngerasain sendiri dikira mahasiswa semester lima padahal masih kelas 10 SMA saat itu.

Pagi itu banyak sekali tamu yang datang. Rumah gue, karena ada orang yang dituakan, yaitu kakek—gue sebut Mbah, selalu rame didatangi orang dari mana saja. Kebanyakan gue nggak kenal siapa mereka. Saat orang-orang datang menghampiri, gue lebih dulu melihat wajahnya, lalu mencium tangan sebagai tanda menghormati.

Seorang wanita berkacamata berada di barisan ketiga di belakang sepasang suami istri, yang menurut gue ialah orang tuanya, lalu menyalami gue. Sejak rombongan ini masuk, batin gue, muka mereka lebih tua daripada gue. Di kepala gue seperti sudah tercatat apa yang akan dilakukan, dan nantinya kepala gue akan bergerak otomatis. Di kepala gue tercatat: “Tiga orang lebih tua, gue harus cium tangan ketiga-tiganya.”

Cewek yang tadi menjabat tangan gue, lalu gue menundukkan kepala dengan semangat untuk mencium tangannya, seperti perlakuan gue terhadap orang tua lainnya.

BRUK! Tanpa aba-aba dia juga ingin mencium tangan gue. Akhirnya kepala kami saling menyundul. Kami sama-sama gagal mencium tangan. Aroma parfumnya yang kuat membuat kepala gue semakin pusing.

“Aduh,” ucapnya, refleks. “Hehehe.”

Dia cengengesan. Gue juga. Suasana jadi canggung.

“Hehehe.”

Kejadian ini mengingatkan gue dengan kejadian beberapa bulan lalu di halte Transjakarta, saat gue sedang pergi jalan berdua dengan teman gue. Gue duduk bersebelahan dengannya. Karena gregetan dengan perkataannya, tanpa merasa berdosa, gue refleks menyundulnya. Tidak terlalu parah, kepala gue hanya mengenai ujung jilbabnya. Dia tidak merespons dan asyik dengan handphone-nya. Sesampainya di rumah dia bilang di WhatsApp, “Tadi lu nyundul gue?”

Nampaknya sundulan itu baru mulai bereaksi. Momen nyundul-nyundul begini enaknya langsung dikasih soundtrack lagu-lagu cinta yang biasa diputar di FTV.

Anaknya terlalu bersemangat.

34 comments:

  1. Bhahahaha awkward banget ya pas adegan saling nyundul, By. Hahahaha
    Btw aku jd pernah ngalamin gitu, tp ga sampe saling nyundul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sundulan dong kalau gitu. Sana ulangi lagi, Kak!

      Delete
  2. Silsihan menentukan segalanya itu relate sama aku, kampret. Hahaha. Spontan ngakak pas baca itu. Aku juga bingung sebenarnya aku sama Kak Ira itu sepupuan apa enggak. Karena menurut silsilah keluarga, Kak Ira itu harusnya manggil aku dengan sebutan Tante. Terus juga selama ini dia manggil Mamaku dengan sebutan Nenek. Dan yang anehnya lagi, katanya aku ini sepantaran sama Mamanya Kak Ira. HELLOOOOWWWW YANG BENER AJAAAA?! Silsilah keluarga di Indonesia sama susahnya dengan bahasa Meksiko :(((

    Uuuuh Lebarannya berasa Lebaran banget ya cium-ciuman gitu. Cium tangan maksudnya. Aku nggak ngerasain itu tahun ini. Malah ngebo di kamar sampe siang karena malamnya begadang ngegarap kerjaan. Huhhuhu. Btw kalau umur seseorang dilihat dari muka, seandainya WIRDY kopdar dan lebaranan, aku paling cium tangannya kamu, Yoga, sama Darma (ini sih udah jelas tua). Sama Wulan doang aku ngerasa dia muda. HAHAHAHA.

    CIYEEEEEEEEEE SUNDULIN UJUNG JILBABNYA TEMAAAAN. TEMAN KOK BIKIN GREGETAN? TEMAN APA TEMAN TUH, ROB???!!!!! Kalau bukan sekedar teman, sundul lagi, Gan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. INI INDONESIA, SISTER! Eh, khilaf. :(

      Walah, liburan tetep ngegarap kerjaan juga. Setia banget sama kerjaan. Hehehe. Eh, tapi itu kok gak enak amat andai-andai kopdarnya? Hmmmm. :/

      Now playing: Gregetan - Sherina.

      Delete
  3. ha, adu kepala rupanya , wah apsti mukanya menjadi semu merah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau abis sundulan langsung kepengin makan semur, jawabannya iya.

      Delete
  4. Gregetan karena perkataannya dan timbul hasrat untuk nyundul... ini mah orang penting yang bisa diperlakukan begitu. siapamu dia Rob? sebgian dari bidadari yg ngirim poto selfienya kah? dan lagi.. itu SUNDUL apa SUN, DULS?

    kujuga ngalamin perihal sama-sama ngadu kepala pas niat mau sopan-sopanan ini. Gegara sama-sama kepedean nganggep diri masih muda. Kan memang harus saliman sambil cium tangan kan kalo ketemu keluarga. Karena salah terka (saya juga gak inget punya dua pupu yg sepantaran), jaidnya nyoba nyium tangan ke semuanya, eh dia juga mikirnya gitu. yaudah jadinya gantian nyiumin tangannya.

    Kalo tentang panggilan dalam silsilah keluarga, ribet emang. ada yg umurnya 5 tahun di bawah kita, tapi kita mesti manggil dia makngah (tante tengah). Yang jelas, kalo masih saudraan kandung ama bapak atau emak, kita harus sopan manggil dia meskipun dia lebih kecil.

    maaf lahir batin, Rob~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini nggak ada bidadari-bidadarian, Bang. Hehehe, itu bisa-bisanya dapet sun duls. :))

      Bingung manggilnya doang sebenernya. Dia itu mbak atau budhe, samar karena silsilah. :(

      Mohon maaf lahir dan batin, Bang Haw.

      Delete
  5. Dan kalo menurut silsilah keluarga, gue justru udah jadi nenek gara-gara persilangan dari saudara jauh ke saudara deket dan kemudian semua menjadi pernikahan keluarga besar. Terus aja gitu sampe bikin dinasti sendiri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Nek. Tapi emang curiga situ emang nenek-nenek ya? Nenek-nenek yang suka ngulas. :p

      Delete
  6. OMG!!! Aku paling benci sebenarnya kalo masalah silsilah. Masalahnya aku udah punya cucu, anak dari keponakanku. Helow!! Aku ini masih gadis masa mau dipanggil nenek?? Plislah panggil kak atau mbak aja😣😣

    Kalo belum terlalu tua gak usah cium tangan Rob!! 😂😂

    Aku lebaran ke rumah tetangga malah tetangga yang kerumah. Emang sebenarnya aku aja yang nungguin rumah kayak lebaran sebelumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak Arum. :))

      Lah, terus itu jadinya tukar nasib dong? Pindah rumah?

      Delete
  7. KKN ku dulu jaman kuliah di grobogan euy, di kecamatan geyer tapi
    *oke, mungkin beda kecamatan sama kampung asal bapaknya Robby* XD

    nyuwun sewu apa nyuwun ngapunten? setauku kalau pas lebaran kan biasanya maaf-maafan kan ya? lebih tepat pakai nyuwun ngapunten sih, kalau nyuwun sewu itu artinya lebih deket ke "permisi" (o_o)?

    bener banget, sekarang kalau mau salim terus cium tangan gitu kudu mikir-mikir 2X, biar ngga salah sama silsilah atau aturan apapun itu yang ada kaitanya sama keluarga kita haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih, di mana itu? Saya nggak tau, Mas. xD

      Nyuwun sewu, kok. Beneran. Saya nggak ngerti bahasa Jawa. Dan kalau salah cium tangan, paling diledekin atau diketawain. :))

      Delete
  8. haha, kebiasaan lo sama kayak gue.
    "Sekarang, walaupun sudah 18 tahun, gue terkadang masih mempertahankan kebiasaan itu. Hampir selalu cium tangan dengan semua orang yang kira-kira mukanya lebih tua daripada gue. Terlalu cetek bila menilai umur dari muka. Nggak usah jauh-jauh, gue udah ngerasain sendiri dikira mahasiswa semester lima padahal masih kelas 10 SMA saat itu."

    gue jg udah ngalamin ini, wkwk

    ReplyDelete
  9. Polos amat anjir minta seribu. :) Bahasa Jawa lu kacau!

    Gue juga pernah sundulan gitu pas SMP, sama cewek pula. Waktu itu lagi ada tugas kelompok di lab IPA, pulpen dia jatuh dan gue bermaksud ngambilin. Eh, dia malah ngambil sendiri. Jidat kami bertemu deh. Wqwq. Masih inget aja kan gue.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keinginan untuk mempunyai jodoh orang Jawa dipertanyakan orang tuanya, nih. :))

      Uhuy. Sundulan di Lab. IPA. Jadiin cerita bersambung dong!

      Delete
  10. Eciyeee ujung2nya bahas pujaan hati berjilbab pas pertama dundulan di buswe wkkkk
    Ooooo grobogsn itu yg kebumen bukan rob,
    Ya gitu deh klo permisi bahasanya nyuwun sewu, nderek langkung blabla hahaa

    Itulah yg namanya trah rob, banyak sih simbah gue yg umurnya masi muda2, mlh umurnya seibu gue wkkkkk,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Grobogan jauh dari Kebumen, Mbak. Hehehe. Tapi kalau mbaknya nanya asal usul orang tua saya, jawabannya bener. Grobogan dan Kebumen. :))

      Saya nggak tau itu apa namanya. Baru denger juga. xD

      Delete
  11. Bodoamat kalau gue wkwkwkw. Semuanya gue cium tangan! Ini namanya kesetaraan HAM manusia.

    ReplyDelete
  12. First thing first By, sunggguh sikap lilin yang cakap !

    Mungkin untuk meminimalisir kecanggungan, selanjutnya gaperlu cium tangan lagi By. Saling sundul aja, kepala yang paling kuat berarti lebih tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaaah. Itu bagus juga solusinya. Emangnya biji karet diadu-aduin. xD

      Delete
  13. Gue juga kalo lebaran, biar reman gue asal dia lebih tua dan bawaanya sopan, masih gue cium tangannya. Tapi salah juga sih, sama2 mau cium tangan, terus kepentok kepala orang lain~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kepentok orang lain itu maksudmu yang ada di depan kamu kan? Bukannya lagi mau salaman terus mentokin pala ke orang yang lagi jalan?

      Delete
  14. ahahahha, belom pernah sampai kepentok kepala orang sih ka.
    tapi kalau yang pas kita cium tangan doi langsung narik tangan pernah tak? pasti pernah yaaaaa~

    ReplyDelete
    Replies
    1. ITU MAINAN ESDE! Huahaha, iseng-iseng banget tuh anak kecil zaman dulu. xD

      Delete
  15. Anak Kaskus banget, sukak nyundul-nyundul :p

    Enak gitu ya Rob, pulang kampung, apalagi di desa. Meskipun gak desa-desa banget, tapi lumayan lah bikin hati seneng :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal anak blog. Hehehehe.

      Sebenernya itu kampungnya termasuk desaaaa banget. Tapi karena bikin hati tenteram, seneng ke sana. :)

      Delete
  16. Pdhal gue baca ini dri kapan tp bru komen dong. wkwk.

    Nah iya itu panggilan dlm kluarga, gue jg slalu gak taat aturan, seharusnya si A dipanggil om, gue panggil bang, seharusnya tante, malah jd kak. Gtudeh. Kalo jawa justru ribet lg ya, misalnya anak dari kakaknya mama/bapak itu umurnya di lebih muda dri kita, tp kita hrs ttep manggil dia mas/mbak. Ribet sekali yah..kayak bahasa zimbabwe..

    Lu mah ada2 aja bi malah nyundul2 :'D
    Itu lagi segala mau salim dua2nya.. Untung gue belom pernah kek gtu. Malu bgt psti. wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang susah deh itu. Hahaha. Harus nebak-nebak dulu gimana posisi orang itu di dalam silsilah keluarga. :')

      Gak tau tuh dia. Malah ikutan cium tangan juga, jadinya nyudul dah. :'D

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.