Kau Tak Terkendali

thumbnail-cadangan
Sepertinya benar kata A. S. Laksana yang dikutip dari salah satu blogpost-nya Kresnoadi: cerita tidak akan mengancam pikiran.

Cerita, bagi kami berdua saat ini, adalah cara yang paling nyaman dan paling kami tunggu satu sama lain sebelum tidur. Dibanding harus berbalas opini, kami lebih suka bertukar cerita.

Tidak seperti sesi chatting biasanya, gue dan dia tidak saling bercerita. Dia berusaha menutup-nutupi apa yang sedang dia rasakan sekarang, sampai akhirnya pada waktu yang tepat, dia berani jujur mengungkapkan keluhannya. Membaca pesannya, otak gue menangkap arah angin yang berbeda.

Membalas pesannya, gue tidak bercerita, melainkan mengeluarkan semua yang gue pendam sampai saat ini. Bendungan yang selama ini menahan keluhan tentang dia akhirnya jebol.

Setelah jari-jari ini mengetik yang semuanya telah diperintahkan otak, pesan terkirim. Satu pesan yang panjang, dan hanya dibalas “Maaf” olehnya. Gue bingung, kenapa dia minta maaf.

Karena masih terbawa suasana, gue mengetikkan pesan yang lebih pendek, namun tetap bisa dikatakan panjang. Pesan pertama tidak sepanjang apa yang biasa gue tulis di blog. Paling hanya lima-enam paragraf, per paragraf ada empat sampai enam baris, dengan ukuran font sedang. Hitung saja seberapa panjangnya, namun setelah gue baca lagi tidak terlalu panjang. Gue nggak mikirin siapa yang sedang gue chat. Yang ada di kepala hanyalah gue ingin bebas.

Semua unek-unek gue tumpahkan lewat jari-jari dengan lincah ke sana kemari mengetikkan kata demi kata. Balasan dia hanya “Maaf”. Tidak seperti biasanya, karena merasa mendapatkan kebebasan, gue terus mengeluarkan apa yang selama ini menjadi sampah di kepala gue. Gue sampaikan kepada dia secara sporadis. Seperti petinju yang terus menerus diberi pukulan jab, dia akhirnya menyerah dan berusaha menyudahi gue.

“Kamu nggak punya pendirian apa gimana?” tanya gue, menyindir. Sebuah pertanyaan yang diketik tanpa berpikir berkali-kali. Kalimat yang akhirnya gue sadari terlalu kasar setelah dia bilang, “Kok nyesek ya waktu kamu bilang itu?”

Mati gue. Seenaknya ngetik, ngeluarin isi kepala, sampai melukai perasaan seseorang. Gue ngerasa telah berbuat jahat.

Di sebuah mimbar curhat, tepatnya di grup WIRDY, Kak Icha pernah bilang, “COWOK PLEGMATIS MEMANG SUSAH DIMENGERTI!” Gue bingung. Bisa-bisanya dia bilang gue plegmatis, sebuah istilah yang GUE NGGAK TAU ITU APA ARTINYA, HEY!

Kalau ada yang kayak gue nggak tau apa artinya plegmatis, silakan baca di sini.

Agak menyedihkan sebenarnya. Gue panik, kenapa gue bisa selancar itu bertanya dengan nada kasar?

Gue jadi berpikir ke hal lain. Hal yang lebih buruk daripada apa yang gue lakukan tadi. Setidaknya gue ingin merasa di atas angin. Masih teguh pendirian “gue melakukan hal yang benar!” Gue mencari hal yang lebih buruk daripada gue saat ini. Tiba-tiba, kok gue kepikiran istilah netizen? Tepatnya netizen yang suka nulis komentar seenaknya.

Apakah netizen nggak merasakan apa yang gue rasakan ya? Gue sekarang jadi serba takut buat menilai ini dan itu, karena untuk hal satu lawan satu seperti ini saja, gue sudah kalah. Gue merasa bersalah. Gue nggak bisa memenangkan perdebatan dengan kepala dingin. Atau paling tidak, mengambil jalan seri agar tidak dalam posisi “menang sendiri”.

Gue kembali termenung memikirkan apa yang baru saja terketik tadi. Memikirkan orang yang lebih buruk daripada gue adalah kesalahan dalam masa pemenungan. Harusnya gue mengoreksi diri sendiri, bukan mengoreksi orang lain.

Mungkin ini yang salah, mungkin itu yang salah. Padahal, gue hanya ingin terus terang, padahal gue cuma mau jujur. Padahal, gue mau ada yang lebih baik dari hubungan ini. Kenapa jari-jari gue nggak tertahankan, dengan ngetik kalimat yang nadanya, setelah gue baca lagi, nggak mengenakkan? Di era serba canggih ini, dengan segala apa pun bisa diedit dan dikontrol, kenapa gue tidak sempat memikirkan perasaan orang lain?


7 komentar:

  1. Oke gua akan nulis komentar seenaknya,

    Seenaknya.

    Gua juga kadang berpikir, apakah kadang ketikan gua "nyakitin" apa engga ke orang lain, tapi biasanya kalo udah buntu minta maaf lewat ketikan, kalo masih bisa ketemu ya gua ajak ketemuan, soalnya pertemuan mata dengan mata kadang bisa membuat yang salah paham bisa jadi mengerti, dan mata pun engga bisa dibohongi sekalipun hanya saling diam, tapi eye to eye bikin orang jadi lebih mikir kalo pengen ngomong.

    Dibanding mata dengan layar, ya kadang engga terkendali dan intonasi baca yang salah paham #apaansih

    ReplyDelete
  2. Sayangnya, lu nggak mungkin chat dia dengan cerpen biar nggak menyakitinya, kan? Panjang banget nanti. Wqwq. Mungkin lebih ke cara penyampaian lu aja, sih, kalau soal itu. Tapi kalau emang betul mau jujur-jujuran, enakan diajak ketemu. Teks sering bikin salah paham. :)

    Namun, manusia menyakiti atau disakiti manusia lainnya sepertinya memang nggak bisa dihindari. Akan selalu terjadi, entah kita ada di posisi yang mana.

    ReplyDelete
  3. Hmmm memang ya. Cuwuk-cuwuk plegmatis susah dimengerti! Eh gini sih. Aku ngerti sebenarnya kamu mau jujur, apa yang di kepala langsung kamu ungkapin. Tapi ya cara penyampaiannya mungkin kurang halus. Apalagi dia cewek. Dan emang kalau lewat chat itu bisa bikin salah kaprah. Makanya diciptakanlah emoji untuk ngebedain yang kita bilang itu bercanda atau serius. Hehehehe.

    Hmmm. Aku barusan nonton ulang film Wild Tales. Dan ngerasa relate aja sih sama ini. Soal tak terkendali dan sakit hati. Oh ya, aku nggak usah kasih saran kali ya. Karena dua komen di atas udah ngasih saran. Dan kayaknya kamu juga udah tau apa yang harus lakukan ke dia, Rob. :")

    ReplyDelete
  4. Dari yang saya tangkap dari ceritanya robby lagi pingin mengakhiri hubungan ya?
    CMIIW.

    Menurut saya pun gak papa sih mengeluarkan uneg uneg yang selama ini dirasakan. Membuatnya lebih halus sebenernya malah bikin dia gak "ngeh" juga sih menurut saya.

    Setidaknya kamu menyakiti dengan jujur dari pada berbohong lagi yang membuat kamu dan dia tidak ada kemajuan. Kamu sakit, dia nantinya lebih sakit. Atau sebaliknya.

    Ah, komentar seenak saya ini kalau kurang tepat tolong dikritisi lagi ya rob. ahahaha

    Hey, setidaknya dia tau kalau kamu adalah orang ang terus terang. Bukannya tiada dusta diantara keterus terangan?

    ReplyDelete
  5. Dari label dan judulnya gue merasa ada energi curhat yang ditanamkan di sebuah tulisan. Tapi, cewek emang gitu sih, Rob, mau lu bales satu skripsi sekalipun balesnya cuman "Oh", "Hmm", atau paling tidak "masa"~

    ReplyDelete
  6. Setuju saya ama Icha, plegmatis susah dimengerti, ini saya udah baca tiga kali tapi masih belum banyak mengerti loh apa inti dari keseluruhan kalimatnya selain ikutan ngerasa bingung. Kalo saya pribadi, jika dalam sebuah text membuat semakin bingung, langsung melakukan panggilan suara. Biasnaya bisa berujung saling tertawa lagi.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.