29 July 2017

Sepertinya benar kata A. S. Laksana yang dikutip dari salah satu blogpost-nya Kresnoadi: cerita tidak akan mengancam pikiran.

Cerita, bagi kami berdua saat ini, adalah cara yang paling nyaman dan paling kami tunggu satu sama lain sebelum tidur. Dibanding harus berbalas opini, kami lebih suka bertukar cerita.

Tidak seperti sesi chatting biasanya, gue dan dia tidak saling bercerita. Dia berusaha menutup-nutupi apa yang sedang dia rasakan sekarang, sampai akhirnya pada waktu yang tepat, dia berani jujur mengungkapkan keluhannya. Membaca pesannya, otak gue menangkap arah angin yang berbeda.

Membalas pesannya, gue tidak bercerita, melainkan mengeluarkan semua yang gue pendam sampai saat ini. Bendungan yang selama ini menahan keluhan tentang dia akhirnya jebol.

Setelah jari-jari ini mengetik yang semuanya telah diperintahkan otak, pesan terkirim. Satu pesan yang panjang, dan hanya dibalas “Maaf” olehnya. Gue bingung, kenapa dia minta maaf.

Karena masih terbawa suasana, gue mengetikkan pesan yang lebih pendek, namun tetap bisa dikatakan panjang. Pesan pertama tidak sepanjang apa yang biasa gue tulis di blog. Paling hanya lima-enam paragraf, per paragraf ada empat sampai enam baris, dengan ukuran font sedang. Hitung saja seberapa panjangnya, namun setelah gue baca lagi tidak terlalu panjang. Gue nggak mikirin siapa yang sedang gue chat. Yang ada di kepala hanyalah gue ingin bebas.

Semua unek-unek gue tumpahkan lewat jari-jari dengan lincah ke sana kemari mengetikkan kata demi kata. Balasan dia hanya “Maaf”. Tidak seperti biasanya, karena merasa mendapatkan kebebasan, gue terus mengeluarkan apa yang selama ini menjadi sampah di kepala gue. Gue sampaikan kepada dia secara sporadis. Seperti petinju yang terus menerus diberi pukulan jab, dia akhirnya menyerah dan berusaha menyudahi gue.

“Kamu nggak punya pendirian apa gimana?” tanya gue, menyindir. Sebuah pertanyaan yang diketik tanpa berpikir berkali-kali. Kalimat yang akhirnya gue sadari terlalu kasar setelah dia bilang, “Kok nyesek ya waktu kamu bilang itu?”

Mati gue. Seenaknya ngetik, ngeluarin isi kepala, sampai melukai perasaan seseorang. Gue ngerasa telah berbuat jahat.

Di sebuah mimbar curhat, tepatnya di grup WIRDY, Kak Icha pernah bilang, “COWOK PLEGMATIS MEMANG SUSAH DIMENGERTI!” Gue bingung. Bisa-bisanya dia bilang gue plegmatis, sebuah istilah yang GUE NGGAK TAU ITU APA ARTINYA, HEY!

Kalau ada yang kayak gue nggak tau apa artinya plegmatis, silakan baca di sini.

Agak menyedihkan sebenarnya. Gue panik, kenapa gue bisa selancar itu bertanya dengan nada kasar?

Gue jadi berpikir ke hal lain. Hal yang lebih buruk daripada apa yang gue lakukan tadi. Setidaknya gue ingin merasa di atas angin. Masih teguh pendirian “gue melakukan hal yang benar!” Gue mencari hal yang lebih buruk daripada gue saat ini. Tiba-tiba, kok gue kepikiran istilah netizen? Tepatnya netizen yang suka nulis komentar seenaknya.

Apakah netizen nggak merasakan apa yang gue rasakan ya? Gue sekarang jadi serba takut buat menilai ini dan itu, karena untuk hal satu lawan satu seperti ini saja, gue sudah kalah. Gue merasa bersalah. Gue nggak bisa memenangkan perdebatan dengan kepala dingin. Atau paling tidak, mengambil jalan seri agar tidak dalam posisi “menang sendiri”.

Gue kembali termenung memikirkan apa yang baru saja terketik tadi. Memikirkan orang yang lebih buruk daripada gue adalah kesalahan dalam masa pemenungan. Harusnya gue mengoreksi diri sendiri, bukan mengoreksi orang lain.

Mungkin ini yang salah, mungkin itu yang salah. Padahal, gue hanya ingin terus terang, padahal gue cuma mau jujur. Padahal, gue mau ada yang lebih baik dari hubungan ini. Kenapa jari-jari gue nggak tertahankan, dengan ngetik kalimat yang nadanya, setelah gue baca lagi, nggak mengenakkan? Di era serba canggih ini, dengan segala apa pun bisa diedit dan dikontrol, kenapa gue tidak sempat memikirkan perasaan orang lain?

24 July 2017

Di sekolah, kita pasti kenal dengan anak yang minimal menyukai satu pelajaran bahkan sampai menguasainya. Untuk beberapa guru, mereka akan memanfaatkan kemampuan muridnya untuk disuruh-suruh.

Sandro, teman di SMA, paling sering disuruh maju mengerjakan soal Matematika di papan tulis. Teman gue yang lain, Silvi, sering diminta mencontohkan bagaimana cara men-dribble bola basket yang baik saat mata pelajaran Penjaskes.

Keahlian gue saat itu hanyalah di pelajaran kosong.



Tidak ingin hanya menguasai pelajaran kosong, gue bertekad untuk dapat menguasai minimal satu mata pelajaran di SMA. Gue berkaca pada sembilan tahun sebelumnya selama bersekolah, lalu muncul sebuah pertanyaan: pelajaran apa yang gue kuasai selama ini? Maksud dari pertanyaan itu agar gue tinggal melanjutkan dan meneruskan mapel kesukaan sampai lulus SMA bahkan kuliah.

Sewaktu SMP gue paling suka Matematika dan IPA. Gue berpikir bakal selamanya seperti begitu. Kenyataannya enggak. Menjalani satu bulan pertama di SMA, gue sudah punya firasat nggak akan sanggup menyukai dan menguasai Matematika karena SUSAH BANGET, BANG!

Gue ingat kali pertama belajar Matematika di SMA. Sangat susah melawan rasa kantuk karena AC di kelas dihidupkan. Padahal, semangat untuk belajar Matematika waktu itu sangat menggebu, apalagi gue sedang bersekolah di sekolah yang lumayan favorit. Pastinya gue sudah membayangkan serunya belajar Matematika di sini. Nggak nyangka, karena AC setitik rusak niat belajar Matematika.

Sedangkan IPA, di SMA sudah nggak ketemu lagi dengan pelajaran IPA, melainkan sudah menjadi sebuah jurusan. Yang ada hanyalah pecahan dari IPA, yaitu Fisika, Biologi, dan Kimia. Kenyataan semakin suram setelah tahu ketiga pelajaran itu punya kesusahan yang beda-beda: Fisika susah pada analisis, Biologi pada hafalan, dan Kimia susah pada keduanya. Kebanyakan orang bilang, Kimia adalah pelajaran paling sulit di SMA.



Inilah yang membuat gue merasa salah jurusan di IPA. Matematika susah nangkep, pelajaran jurusan (Fisika, Biologi dan Kimia) nggak ngerti. Kesulitan itu terus melekat hingga semester satu selesai. Nilai rapor yang kebanyakan pas KKM menambah frustrasi.

Namun, ada yang menarik perhatian gue. Di rapor, nilai Kimia-lah satu-satunya pelajaran di jurusan yang mendapat nilai 8. Padahal, selama satu semester gue nggak ngerti apa aja yang gue pelajari di Kimia. Satu semester sudah habis, dan gue nggak ngerti apa-apa.

Seolah mendapat pencerahan, gue jadi percaya ini adalah pertanda gue harus serius di mata pelajaran ini, walaupun gue nggak pernah tahu kenapa Kimia bisa dapat nilai 8 di rapor. Kebetulan gue nggak punya pelajaran favorit lagi setelah tahu Matematika jadi menyebalkan.

Semester dua gue mulai ikut bimbel. Sama seperti belajar di sekolah, Fisika, Matematika, dan Biologi tetap sulit dimengerti. Sedikit timbul rasa minder berada di jurusan IPA. Gue bertanya dalam hati, “Apa gue masih layak ada di jurusan ini?” Apa yang gue ambil dulu harusnya sudah gue pertimbangkan bagaimana risikonya. Karena sudah telanjur mengambil jurusan IPA, gue harus terus menjalani semuanya di sini. Toh, perjalanan masih panjang buat menemukan minat gue terhadap mata pelajaran.

Namun, kegundahan itu sedikit terkikis dengan keyakinan gue pada satu mapel. Kimia membuat gue punya harapan. Belajar Kimia di bimbel lebih menyenangkan lagi. Semangat gue untuk belajar jadi naik. Waktu itu gue memang belum menguasai, tapi gue punya modal awal buat bisa bertahan, yaitu minat.



Kesukaan gue terhadap Kimia semakin tumbuh saat kelas 11. Sambil ikut bimbel, gue selalu serius mengikuti pelajaran di kelas. Kadang gue malah sengaja mencari tempat duduk paling depan di pelajaran Kimia. Duduk bareng cewek-cewek bikin gue nggak ngobrol dan serius menyimak penjelasan guru. Tapi seringnya cewek-cewek itu duduk bareng teman sekelompoknya. Gue nggak kebagian tempat, akhirnya duduk di belakang. Sedih memang, tapi nggak mengurangi semangat gue belajar Kimia.

Selain karena nilai rapor, pengaruh besar dalam minat gue terhadap Kimia adalah karena seorang guru.

Waktu itu, di kelas 11, kami sedang belajar tentang tata nama senyawa hidrokarbon. Guru gue, Bu Iin, yang pindahan dari sekolah tetangga, melempar pertanyaan ke muridnya, setelah sebelumnya dia menampilkan gambar struktur molekul di layar proyektor. “Ada yang tahu apa namanya?” tanya Bu Iin kepada muridnya.

Banyak teman-teman gue yang angkat tangan. Gue memberanikan diri ikutan, padahal deg-degan setengah mati, seperti kebiasaan orang-orang gugup.

Bu Iin menunjuk teman gue yang duduk di barisan tengah. Gue yang duduk di hadapan Bu Iin merasa kalah. "Mungkin lain waktu", batin gue, kecewa.

Teman gue yang ditunjuk lalu menjawab. Jawabannya dia salah. Lalu Bu Iin menunjuk gue.

“Kamu apa?”

Gue deg-degan waktu Bu Iin menunjuk gue. Dengan hati-hati gue menjawabnya, mengucapkan pelan-pelan nama senyawa tersebut, seperti seorang lelaki yang sedang mengikrarkan akad nikah. Di luar dugaan jawaban gue benar. Dia bertanya ke gue, “Siapa nama kamu?”

“Robby, Bu. Absen 28.”

Sepertinya nama gue ditandai untuk dapat nilai plus. Gue girang bukan main. Senangnya masih terasa sampai sekarang. Alasannya: karena itulah kali pertama dan terakhir gue menjawab pertanyaan di kelas Kimia. Selebihnya tidak pernah.

Karena Bu Iin juga, gue jadi semakin tertarik dengan Kimia. Beliau tipikal guru yang disiplin. Nggak jarang, kedisiplinannya bikin kami deg-degan, takut kena semprot. Teman-teman gue yang sering diomelin waktu praktikum, cuma ketawa-ketawa aja setelah belajar Kimia. Untungnya, gue nggak pernah diomelin.

Peringkat gue di kelas 11 masuk dalam sepuluh besar terbawah, tetapi satu nilai Kimia di atas 80 membuat gue senang. Berapa nilai yang gue dapat sebanding dengan apa yang gue dapat di kelas. Dari sekian banyaknya nilai kasihan di rapor, rasanya Kimia-lah satu-satunya pelajaran yang berani gue pertanggungjawabkan nilainya karena gue yakin gue mampu.

^^^

Mendekati Ujian Nasional, semua orang di kelas sibuk dan pusing pilih-pilih mapel apa yang mau diambil saat UN. Di luar Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, anak kelas 12 harus pilih satu mapel di jurusan buat UN nanti.

Gue tanpa ragu memilih Kimia. Setelah semua anak sudah memilih mapel, gue mendapat kabar dari seorang teman.

“Rob, UN yang milih Kimia di kelas cuma lu doang.”

Hah?

Hal unik seringkali gue rasakan ketika try out berbasis komputer. Karena saat itu jadwalnya sesuai mata pelajaran yang kami pilih, seorang guru mendata mata pelajaran apa yang diambil para siswa.

“Coba angkat tangan yang pilih UN Fisika.”

Yang angkat tangan belasan orang.

“Yang UN Biologi?”

Yang angkat tangan lebih banyak dari sebelumnya.

“Yang UN Kimia?”

Teman-teman gue bisik-bisik mulai tertawa. Gue cuma tersenyum sambil mengangkat tangan dengan percaya diri. Hanya gue seorang di kelas itu yang mengangkat tangan.

“Sendirian?” tanyanya. Gue mengiyakan dari bangku barisan belakang. “Kasihan.”

“....”

Pada akhirnya, satu angkatan di jurusan IPA yang berisi empat kelas, siswa yang memilih UN Kimia sebagai mapel pilihan hanya ada 10 orang. Bebas, itu pilihan.

UN menghitung hari, ayo kerjain soal lebih banyak! Latihan lebih sering lagi.

---

Tulisan ini adalah sebuah kilas balik selama SMA. Kalau sempat, gue bakal lanjutin terus ceritanya sampai SBMPTN, meskipun pembaca lama udah tahu gimana endingnya. Hehehe. Insya Allah bakal gue lengkapin ceritanya seperti apa.

21 July 2017

Sepertinya ada yang aneh dengan selera musik gue. Namun, apakah selera seseorang terhadap musik bisa disalahkan? Seperti orang yang sedang jatuh cinta, nggak perlu banyak alasan untuk jatuh ke dalam alunan sebuah lagu. Kalau dirasa sudah “klik”, gue bisa suka banget sama satu lagu atau band dan penyanyinya sekalian. Untuk beberapa kasus, kesukaan gue terhadap Kangen Band adalah contoh nyata. Hidup Juminten! Lambang pelajar Indonesia di luar negeri.

Entah kenapa, gue kembali suka dengan lagu tema tentang pernikahan. Mungkin di pikiran kalian, “Ini anak udah mau cepet-cepet nikah atau gimana?” Nggak begitu, kok. Tenang dulu. Kuping gue memang sering merasa “klik” dengan tema-tema tertentu dalam waktu terbatas. Misalnya, minggu ini tema pernikahan, minggu depan tema perjuangan (setiap hari nyanyi lagu Maju Tak Gentar), dan lain-lain. Ada kalanya tema itu balik lagi seperti semula.

Lalu, kenapa gue dengerin lagu tentang pernikahan? Gue juga nggak tau! Menurut gue, lagu-lagu tentang pernikahan punya lirik yang dalam. Dan gue tipe orang yang mudah terkesan dengan suatu lagu dari menyelami makna liriknya. Itulah alasan gue terkesan dengan lagu-lagu tema pernikahan.

Kesukaan gue terhadap lagu tema pernikahan bukan saat ini saja. Semuanya sudah dimulai sejak SMP. Karena sering banget diputar di SCTV, grup Yovie and Nuno saat itu bikin gue suka sama lagu-lagu mereka. Jauh sebelum kenal Kahitna, gue lebih dulu kenal dengan grup ini. Salah satu lagunya yang gue suka sampai sekarang adalah “Janji Suci”, lagu tema pernikahan pertama yang gue tahu dan sukai.

Jangan kau tolak dan buat ku hancur
Ku tak akan mengulang ‘tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Masih di SMP, kemudian gue kenal Kahitna. Lagu yang paling gue suka berjudul “Untukku”. Semakin suka dengan Kahitna mempertemukan gue dengan lagu lain. Ketemulah lagu “Tak Sebebas Merpati”, lagu yang cocoknya buat orang-orang yang mau menikah. Terlepas dari target penikmat lagu tersebut, gue tetap naksir lagunya.

Bahagia... meski mungkin tak sebebas merpati

Kebetulan waktu itu gue lagi senang melihara burung merpati.

Meskipun jatuh cinta sama lagu-lagu itu, gue nggak berani nyanyi dekat teman-teman gue. Salah satu alasannya adalah karena nggak sesuai umur. Bisa-bisa gue diledekin, “Kawin aja sono, kawin!” Gue nyanyi lagu ini diem-diem, seperti halnya gue menyanyikan lagu Kangen Band. Pokoknya dulu pengetahuan lagu gue “enggak banget” di pergaulan. Mereka kebanyakan dengar lagu Punk Rock Jalanan atau lagu-lagu yang ada scream-nya.

Masuk SMA pengetahuan gue akan musik sedikit meningkat. Lagu-lagu berbahasa Inggris semakin banyak yang gue tahu, tidak hanya “My Heart Will Go On”-nya Celine Dion. Di kelas 10 gue pernah dikasih tugas praktik nyanyi lagu bahasa Inggris. Waktu itu gue baru tahu grup Westlife, dan salah satu lagunya yang berjudul “I Wanna Grow Old With You” gue bawain saat praktik. Sebuah keberanian yang besar setelah tahu lagu ini merupakan rekomendasi teratas untuk lagu pernikahan. Akhirnya bisa ditebak: gue sukses diciye-ciyein di kelas.

Beberapa hari terakhir, gue menemukan metode dengerin lagu yang keren. Sebenarnya nggak “wah” banget, tapi gue aja yang norak baru tahu hal ini. Metode itu adalah: dengerin lagu di Soundcloud.

Udah, gitu aja. Nggak keren, kan? YA EMANG!

Ini semua dikarenakan gagal login Spotify di laptop, entah karena lupa atau gue salah ketik password. Saat itu gue penasaran dengan NDX AKA. Ke Spotify nggak bisa masuk, gue langsung lari ke Soundcloud, mengingat nggak memungkinkannya dengerin lagu di Youtube karena boros.

Setelah sudah cukup puas dengerin lagu “Kimcil Kepolen”, gue bingung mau dengar lagu apa lagi. Anehnya, gue malah buka playlist di Winamp (oke, ini kesannya jadul banget) buat nyari judul lagu untuk didengarkan di Soundcloud. Harusnya, kan, dari Winamp bisa tinggal klik “play”. Ini ngapain nyetel lagunya ke Soundcloud, Abon!

Berhubung sedang suka lagu-lagunya Payung Teduh (ini adalah sebuah kebiasaan gue: suka sama penyanyi dua sampai lima tahun setelah orang lain bosen dengernya), gue langsung mendengarkan lagu “Untuk Perempuan yang Berada dalam Pelukan”. Tidak puas sampai di situ, gue mengetikkan “Payung Teduh” di kolom pencarian. Namun, sebelum di-enter, gue melihat hasil pencarian: “payung teduh akad”.


Lho, emang ada lagunya yang berjudul “Akad”? Sejauh ini, bermodalkan koleksi lagu hasil download, gue belum pernah denger lagunya yang itu. Mumpung masih punya kuota, gue telusuri hasil pencarian itu. Pemilik akunnya sendiri baru meng-upload sebulan yang lalu—kira-kira di-upload bulan Juni 2017. Berarti ini adalah lagu baru dari Payung Teduh. Gue mengklik ikon play. Ternyata, lagunya....

ENAK BANGET, YA ALLAH.

Lagu tentang pernikahan (lagi).

Di Youtube sendiri sudah ada video lirik lagu di akun official Payung Teduh.

(UPDATE: Sebelumnya ada video lirik lagu "Akad" di channel resmi Payung Teduh. Setelah gue cek lagi, video itu sudah hilang. Sebagai gantinya, gue masukkan video klip "Akad" yang sudah di-upload beberapa hari yang lalu. Link ada di bawah.)



Sedangkan, di lain video, yang diunggah bulan April 2017, lagu ini sudah dimainkan dalam sebuah acara. Uniknya, di acara tersebut para personel Payung Teduh tampil memakai pakaian kondangan, dan salah satu personelnya memakai pakaian pengantin pria. Katanya, sih, itu nikahan Comi, pemegang contra bass-nya.



Lagunya sendiri, ya seperti judulnya “Akad (Menikahlah)”, seolah-olah mengajak pendengarnya, khususnya laki-laki, untuk cepat-cepat menikah. Eh, nggak begitu juga, sih. Lagunya lebih ke ungkapan perasaan lelaki dalam meyakinkan pihak wanita untuk menikah pada saat yang telah tiba. Ini adalah potongan lirik lagu “Akad”:

Namun bila kau ingin sendiri
cepat-cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
dan buat kau bersedih

Bila nanti saatnya t’lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
berlarian ke sana kemari dan tertawa

Memang bukan sebuah lagu yang cocok untuk gue saat ini, tetapi, sekali lagi, lagu ini enak banget. Berkali-kali gue dengerin lagu ini, sampai ke warnet juga dengerin. Saking seringnya denger lagu ini, gue jadi ingat salah satu episode di kartun Spongebob Squarepants.


Dalam episode itu diceritakan bahwa Spongebob kena earworm setelah mendengarkan lagu “Musical Doodle”. Mulutnya nggak berhenti-berhenti menyanyikan lagi itu. Awalnya memang menyenangkan, tetapi Spongebob lama-kelamaan menjadi terganggu bahkan susah tidur. Efeknya bagi gue masih sekadar sering nyanyi pelan-pelan di kamar.

Pernah sekali gue nyanyi sambil mencari barang di bawah rak TV. Sambil mencari benda di sana, gue nyanyi, “Bila nanti saatnya telah tiba, kuingin kau menjadi—“

“Istriku?” potong mama gue.

Kok... beliau bisa tahu?

Gue pelan-pelan balik ke kamar meninggalkan potongan lagu yang belum diselesaikan. Kenapa Mama tau lagu ini? Padahal baru kali ini beliau denger gue nyanyi. Di dalam hatinya, mungkin bertanya-tanya, “Kamu mau nikah?”

--
Sumber gambar:
http://weheartit.com/entry/35339848

17 July 2017

"Elo dari fakultas apa? Jurusan apa?”

Kalimat itu sering muncul ketika gue datang ke sana, calon kampus. Selama gue melewati orang-orang kalimat itu terus menerus muncul. Gue mau ikutin cara mereka buat nyari kenalan, tapi gue nggak berani memulai. Padahal, gampang aja sebenarnya buat melakukannya. Tinggal cari orang duduk atau berdiri sendiri, kalau kebetulan cakep, tanyain deh, “Elo dari fakultas apa?” Kalau iseng, bisikin, “I love you.”

Dalam perjalanan menuju calon kampus gue bertemu seorang cewek yang—tanpa sengaja gue lihat—wallpaper handphone-nya berupa screen capture bertulis “RUTE KE UNJ”. Kalau tahu begini, harusnya gue bisa nunjukin jalan tanpa harus membuat dia sering-sering buka handphone. Selagi masih dalam pandangan, gue mau ikutin dia... bakal nyasar atau enggak.

Kalau nyasar gue ketawain.

Turun dari angkot gue mengetahui ternyata dia berangkat bareng bapaknya. Berkumis dan pake sepatu olahraga membuat bapak itu terkesan galak. Feeling gue beliau anak bela diri. Atau paling tidak, pernah ikut tes masuk militer sehingga punya fisik yang tangguh. Seandainya ending-nya dia nyasar dan tahu gue ngetawain anaknya, bisa-bisa sepatunya yang gede itu mendarat ke muka gue.

Turun di halte Harmoni gue melihat mereka berdiri di depan koridor yang berbeda dengan gue. Dalam hati, "Ayo kita buktikan siapa yang tercepat."

Sampai di kampus gue belum melihat mereka. Di kampus yang katanya nggak luas-luas amat ini, gue nggak tahu harus lewat mana. Salah gue juga nggak nanya satpam atau orang di kampus buat nunjukin gedung yang mau gue tuju. Gue malah keliling-keliling kampus. Berhubung kata kakak gue kampus UNJ nggak terlalu luas, gue nggak ragu buat ngelilingin. Malah ketemu calon maba juga yang lagi nyari gedung. Di antara gue yang tersesat, tetap ada yang tersesat. Ralat, maksud gue, GUE YANG NGIKUTIN ORANG INI DI BELAKANGNYA. Nyasar bareng-bareng deh.

“Mau ke mana, Mas?” tanya bapaknya si calon maba. “Eh, masnya mahasiswa bukan?”

Gue buru-buru menjelaskan sebelum dikira yang aneh-aneh. “Iya, Pak. Mau lapor diri.”

“Nah, tuh sama,” ujar bapak itu pada anaknya. Anaknya tampak risi dan malu-malu. “Ya udah, Mas, bareng aja.”

Iye, nyasar bareng.

Akhirnya kesesatan ini berujung pada kerumunan calon mahasiswa baru yang sudah berkumpul. Nggak nyasar terlalu jauh deh.

Aku calon maba. Berarti aku calon lucu~

Gue jalan ke sana kemari mencari informasi kapan loket pengumpulan berkas dibuka. Sejauh ini belum ada yang mengantre di belakang loket. Seorang satpam berbicara lewat pengeras suara, menyuruh calon mahasiswa baru untuk berbaris mengambil nomor antrean. Antrean mengular panjang sekali. Gue kebagian nomor 183.

Selesai mendapatkan nomor antrean, gue mendengar suara bernada kepanikan, “Di mana mau ngambil nomor antreannya?” Gue melirik ke sumber suara, wajahnya gue nggak kenal. Tapi tasnya gue ingat, bahwa dia orang yang tadi pagi ketemu di angkot. Aha! Gue duluan yang sampai ke sini. Gue menang!

Sembari menunggu giliran masuk ke loket, gue duduk-duduk bingung di belakang tanaman. Celingak-celinguk nggak ada yang gue kenal. Seperti sesuatu yang pernah dialami. Apakah ini rasanya... dihipnotis?

“Misi, boleh numpang duduk?”

Suara halus itu memaksa gue menoleh ke arahnya. Bukan cewek, tapi seorang cowok berkemeja hitam. Orangnya mungil, begitu menurut pengakuannya sendiri di grup WhatsApp setelah gue kenalan dengannya.

“Dari fakultas apa? Jurusan apa?”

NAH, INI YANG DITUNGGUIN.

“FMIPA. Pendidikan Kimia,” jawab gue singkat. Agar terkesan akrab, gue menanya balik ke dia.

Tips: Penting untuk kamu saat bertemu orang asing lalu ditanya-tanya. Jawablah dengan singkat, tanpa perlu curhat (soalnya kalau langsung curhat males dengerinnya). Kemudian tanya dia balik.

“Oh, FMIPA juga?” ujarnya terkejut. “Aku Biologi.”

Kemudian kami saling diam. Nungguin siapa duluan yang nanya biar mulai obrolan.

Beberapa menit kemudian, dia nanya, “Namanya siapa?”

“Robby,” jawab gue. “Elu?” Iya, saking kagetnya gue cuma ngomong “elu?” doang. Semoga dia ngerti dalam konteks apa kita sedang ngobrol.

“Bani.”

“Oooooh.” Gue teringat sesuatu. “Yang ada di grup WhatsApp ya?”

“Iya, betul.” Dia mengiyakan. “Kok kamu nggak pernah muncul di grup?”

Sebenarnya gue pernah muncul sekali untuk nanya. Hari-hari berikutnya gue nggak pernah muncul lagi.

“Hehehe, iya. Abisnya penuh terus chat-nya.”

Di tempat ramai seperti saat ini, pasti dapat ditemui beberapa orang berjualan. Di tempat lapor diri ini, misalnya, ada bapak-bapak yang keliling menjual map kertas. Sudah lama gue perhatikan bapak itu menawari setiap orang yang dilewatinya. Sambil nyodorin map, dia bilang, “Mapnya, mapnya. Yang SBMPTN warna biru.” Dalam hati, untung gue udah beli dari rumah warna biru.

Kebanyakan dari calon maba cuek aja. Paling beberapa orang aja yang nyetopin bapak itu untuk nanya harga. Nggak beli. Namun, semua berubah karena adanya strategi pemasaran....

“Pengumuman. Untuk calon mahasiswa baru diharapkan menyiapkan map warna biru untuk mengumpulkan berkas.”

Pengumuman dari satpam itu langsung membuat bapak penjual map kewalahan. Para calon maba langsung mengerumuni bapak itu kayak semut ketemu astor yang jatuh ke lantai. Baju si bapak udah nggak kelihatan lagi karena tertutup kerumuman calon maba. Dari jauh, gue mendengar sayup-sayup suara bapak penjual map, “Sabar, ya, sabar.”

Gue dan Bani, yang sejak tadi sepertinya melihat objek yang sama, tertawa ngakak melihat ramainya kerumunan. “Gila, sekali diumumin langsung rame,” Bani kagum.

“Gue curiga tuh, satpam sama bapak-bapaknya udah janjian.”

“Hahaha, iya, ya. Bisa jadi.”

Di saat yang lain sedang mengantre untuk mendapatkan map, gue malah ngeracunin teman baru dengan kecurigaan cenderung suuzon. Kalau ada kakak tingkat yang tau gue lagi ngomongin satpam dan bapak itu, dan gue bilang mereka sudah janjian, gue takut bakal ditanya, “Elo fakultas apa? Jurusan apa?!”

--
Sumber gambar; http://newteknoes.com/gambar-dp-dan-meme-lucu-mahasiswa-baru/

12 July 2017

Beberapa orang bingung bagaimana caranya mengucapkan “Aku cinta kamu” atau “I love you”. Kemudian orang-orang ini akan mencari referensi sebanyak-banyaknya untuk melepaskan kegundahannya. Film menjadi salah satu solusi atas permasalahan tersebut. Terlebih lagi film jenis romansa bisa menjadi pilihan, mengingat akan sangat bertebaran kalimat "I love you" di dalamnya.

Gue bilang ke seorang teman lewat WhatsApp, “Besok ada ILY From 38.000 Feet di TV. Penasaran.” Dia, katanya, suka banget film romansa itu. Sampai dia menonton ulang, dan kesannya selalu sama: “Gue nonton film itu nangis terus.” Curiga, dia nontonnya sambil diancam pemotongan uang saku oleh ibunya. Gue merasa tertantang. Mau tahu seberapa sedihnya film ini.


Film yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “aku cinta kamu dari 38.000 kaki” ini, awalnya sempat mengundang sebuah pertanyaan:

“Kaki siapa aja yang ada di situ? 38.000 kaki berarti sama dengan jumlah 19.000 orang, 4.750 gurita, dan 3.800 laba-laba. Ngapain aja?!”

Film itu gue tonton di kampung. Lebih tepatnya di televisi nasional film Lebaran. Jauh dari sini, gue meng-SMS teman gue itu untuk laporan bahwa gue sedang nonton film yang bikin dia nangis mulu itu.

ILY From 38.000 Feet bercerita tentang seorang cewek bernama Aletta yang percaya bisa bertemu jodohnya di pesawat. Arga, seorang penumpang keren, meminta lelaki yang duduk di sebelah Aletta untuk pindah. Akhirnya Aletta duduk bersebelahan dengan cowok keren bernama Arga. Aletta penasaran sama si cowok dan membawanya pada pertemuan di sebuah acara televisi. Jeder, jeder, jeder, mereka bisa saling kenal bahkan saling sayang. Cuma, karena si cowok orangnya pendiam, dia nggak mau ungkapin itu semua.

(Abaikan “jeder, jeder, jeder” itu. Gue nggak ngerti cara nyeritain sebuah film.)

Pada sebuah kesempatan, si cowok naik pesawat dalam perjalanan dari Bali ke Jakarta, lalu nulis “I LOVE YOU FROM 38.000 FEET” dari atas pesawat. Dia memfoto dan mengirim foto tersebut ke ceweknya yang udah ngarep-ngarep diucapin “I love you” sama si cowok sejak lama. Terbukti dengan munculnya dialog Aletta yang nempel di kepala gue:


“Aku pikir kamu bakal bilang ‘I love you’.”

Untungnya, si cowok bukan pemilik olshop. Setelah kertasnya difoto, dikasih caption “ready gan”.

Sampai di ending cerita, gue merasa, “Ah, elah. Gue juga bisa kalau kayak gitu.” Tentunya sambil membayangkan ada cewek yang maksa-maksa gue buat ngikutin cara Arga. Sayangnya tidak ada. Sekaligus membuat gue sadar, “Kan, tiket pesawat mahal.”

Jadi, yang gue tangkap di sini:

Film ini menunjukkan bagaimana kerennya ngucapin “I love you” pada kondisi yang tidak biasa. Kita udah bosan dengan cara mengucap “Aku cinta kamu” atau “I love you” di atas jembatan sambil berlutut nyerahin bunga. Bunga Zainal.

Terinspirasi dari film ILY From 38.000 Feet (dalam Satuan Internasional disingkat “ft”), gue akan mencoba membuat sebuah skema cara mengucapkan “I love you” yang tidak biasa.




I Love You From 38.000 derajat Celcius
“Aku pikir kamu bakal bilang ‘I love you’.”

Setelah mendapat alarm seperti itu, segeralah mencari industri baja terdekat. Kamu cari di tungku mana yang suhu perapiannya mencapai 38.000 Celcius.

Memang susah untuk mendapatkan 38.000 Celcius. Dapat setengahnya aja hampir nggak ada. Karena menurut study tour yang gue lakukan di Google, suhu tungku perapian untuk melelehkan besi sekitar 1500-2000 derajat Celcius, lebih panas daripada amarahnya penonton Katakan Putus.

Supaya pacar percaya kamu sudah berada di tempat yang mahakeren, fotolah seluruh bagian di tempat ini. Sedikit meniru film aslinya, tulislah I LOVE YOU FROM 38.000 DERAJAT CELCIUS pada kertas sigaret—kertas yang digunakan untuk membuat rokok lintingan sendiri—kemudian masuk ke tungku perapian. Belum sempat difoto kamu sudah gosong di dalam tungku.



I Love You From 38.000 mAh
Selanjutnya adalah sebuah skema yang tidak memerlukan banyak syarat merepotkan. Cukup power bank 38.000 mAh dan jarak antara pacar harus bersebelahan. Harus banget. Tidak boleh jauh-jauh sebab agak susah dapat momennya. Jarak dekat akan sangat membantu proses terjadinya skema ini.

Yang harus diperhatikan di sini adalah kamu harus menggunakan gaya pacaran anak SMP tahun 2010-2013, yang mana saat itu sangat terkenal dengan gaya pacaran “deket-deketan tapi sms-an”. Karena sudah banyak aplikasi pesan instan, fitur SMS bisa diganti dengan WhatsApp, Line, KakaoTalk, dan aplikasi pesan instan lainnya. Kalau beruntung, pakai Tinder juga bisa.

Kembali lagi, yang harus diperhatikan adalah pancing terus agar baterai handphone-nya cepat terkuras habis. Pada saatnya dia mengirim pesan berbunyi “Aku pikir kamu bakal bilang “I love you”, balaslah dengan, “Aku pikir kamu bakal pinjem power bank.”

Tidak ada satu orang pun yang dapat tenang melihat baterai handphone-nya habis. Maka di situlah dia akan membutuhkan power bank, lalu pinjamkan power bank 38.000 mAh milikmu. Jangan dikasih buat dia. Suruh dia beli sendiri. Atau jadikan power bank 38.000 mAh sebagai kado ulang tahunnya.



I Love You From 380 km/jam
Skema ini akan lebih menyerupai film aslinya.

Yang kamu butuhkan pertama kali adalah mobil. Angkot juga boleh, tapi pastikan jangan ada penumpangnya. Nanti dia minta kembalian, kamu kerepotan. Pokoknya di sini one man show.

Hal yang harus diperhatikan adalah kondisi dari mobil, terutama kondisi speedometer. Bahan bakar harus cukup untuk perjalanan mencari trek lurus. Setelah semuanya cukup baik, pastikan pesan dari pacar harus sampai kepada kamu untuk memulai sebuah aksi nyata.

“Aku pikir kamu bakal bilang ‘I love you’.”

YAK! Segeralah pacu mobilmu dengan semangat juang. Brrmmm... brrrrm... brrrmm. Ngeeeeeenggg.... Lihat jarum speedometermu sudah menunjukkan angka berapa, lalu tahan pada kecepatan konstan dan foto jarum tersebut bersama tulisan “I LOVE YOU FROM 380 KM/JAM BRRRRR”.

Kalau mobil nggak mampu dipacu segitu, silakan bercita-cita menjadi masinis kereta api Maglev Shanghai.

Sebenarnya masih ada tambahan lagi, yaitu I Love You From 38.000 volt. Tapi, pemandu study tour gue menyebutkan manusia bisa mati pada tegangan 220 volt. Jauuuuh banget dari angka 38.000.

Semoga skema-skema di atas bisa memberi gambaran lebih jauh tentang cara mengucapkan “aku cinta kamu”. Walaupun sulit diucapkan, tapi percayalah suka itu kata paling hebat. Janganlah kau merasa malu. Bila kesulitan, teriaklah: Ku suka, dirimu ku suka, sambil berlari sekuat tenaga.

Ungkapkan perasaanmu. Jujurlah dari sekarang juga.

09 July 2017

Kata Milea di novel Dilan 1990, “Cewek itu nggak suka ditanya.” Gue setuju sama doi. Apalagi kalau ada cewek yang kita nggak kenal, terus kita tanya, “Mbak, suaminya ada berapa?” Dijamin ditinggal kabur.

Tapi, kenapa selebask—sebutan untuk artis Ask.fm—yang gue kenal kebanyakan cewek? Awkarin contohnya. Awkarin sedikit memberi dorongan gue untuk main Ask.fm. Selain bisa kepoin orang-orang yang menarik, alasan gue main Ask.fm adalah biar ditanya-tanyain. Waktu itu, “ditanya-tanyain” adalah sebuah obsesi.

Tiga tahun punya Ask.fm nggak membuat gue jadi selebask. Abisnya nggak ada yang nanya-nanya gue. Syukurlah sekarang Ask.fm udah sepi, jadinya nggak sedih-sedih amat.

Sekarang gue jarang main Ask.fm. Namun, sampai sekarang masih tetep ada yang nanyain gue, tapi bukan di Ask.fm. Bukan pertanyaan seperti “Kalau ke Roxy lewat mana ya, Mas?”, tetapi pertanyaannya lebih seru.



Gue dapat pertanyaan dari empat orang yang berbeda.

Setelah tahu mendapat pertanyaan itu, gue meminta saran ke temen-temen di grup blogger WIRDY agar enaknya diapain pertanyaan itu. Maklum, udah lama nggak dapat pertanyaan, jadinya kaget. Mau dilempar ke regu lawan, nanti gue rugi. Harusnya gue yang dapat poin.

Inti dari saran mereka: jawab aja.

Siap.

Pertanyaan ini bukan gue sendiri yang nanya. Serius. Asli. Ada empat orang yang secara kompak nanyain gue tanpa mau disebut namanya. Mereka juga sepakat kalau pertanyaan dan jawaban itu dimasukin ke blog gue. Berhubung lagi nyantai dan nggak ada bahan buat posting, gue iyain aja deh.

Di bawah ini yang bercetak tebal adalah pertanyaan kiriman. Di bawahnya langsung gue jawab.


Pernah kepikiran buat pacaran sama blogger nggak, Kak? Kalau iya, alasannya apa? Kalau enggak, kenapa? Dan siapa blogger yang bakal kamu pacari seandainya kamu perempuan?

Pertanyaan balik: kenapa harus ngebayangin gue jadi perempuan?

Gini aja deh. Dalam keadaan gue yang sekarang, berjenis kelamin laki-laki, gue tetap bisa kepikiran untuk pacaran sama blogger—cewek. Gue kenal banyak, kok, blogger cewek yang cantik. Coba gue inget-inget dulu blogger cewek yang gue blogwalking-in akhir-akhir ini.

Hmmmm.

Semuanya ibu-ibu.

Okey, sip. Mending kembali ke pertanyaan awal. Sampai mana tadi?

Untuk kepikiran pacaran sama blogger, gue, sih, nggak terlalu mikirin dia blogger atau bukan. Gimana ya? Mungkin saat kenal sama cewek, mau dia blogger atau petani gandum, gue menganggap dia sebagai cewek biasa. Cewek pada umumnya. Nggak melihat dia sebagai inilah-itulah.

Lagian, pacaran sama blogger emang enak, ya? Belum pernah ngerasain soalnya. Dalam bayangan gue, pacaran sama blogger pasti yang sering diomongin soal blog juga, seperti SEO, kode html, peringkat Alexa, dan pamer-pameran statistik views. Ngambek-ngambeknya paling karena abis nge-date, terus nggak diceritain di blog. Akhirnya nggak dapet backlink.

Kalau gue perempuan dan mau pacaran sama blogger, gue bakal pacarin... Robby Haryanto. Hehehe.



Mau nanya, masa lalu paling kelam seumur hidup kamu apaan rob? Yang mungkin sampai saat ini tiba-tiba teringat, trus jd nyesal.
Apa tujuan kamu ngeblog selain curhat dan bisa kenal banyak temen, Rob? Agar pejwan? Menghasilkan receh. Dan, apa keseruan tersendiri yang kamu dapat dari ngeblog?

Pertanyaannya banyak. Kalau penanya ini seorang guru, mungkin dia dibenci sama muridnya karena punya pertanyaan beranak. Ternak, kok, soal. Kambing tuh diternakin.

Masa-masa paling kelam seumur hidup gue adalah ketika gagal lolos jatah 50 persen jalur undangan PTN (SNMPTN). Itu baru seleksi awalnya, lho. Bikin gue nyesel sampai sekarang: kenapa dulu gue jarang belajar serius. Menjelang UN gue semakin sadar, dulu itu gue sangat malas belajar. Belajar kalau mau ada ulangan doang. Biar nggak sedih-sedih amat, kebetulan waktu itu ada Rocket Rockers ke sekolah, gue nyanyi teriak-teriakan dan loncat-loncatan.

Lalu, tujuan gue ngeblog, selain curhat, hmm... apa lagi, ya? Nggak ada. Hehehe. Tujuan ngeblog hampir semuanya murni untuk curhat.

Ada satu tujuan lebih yang baru kepikiran saat enam bulan pertama ngeblog.

Dulu, tuh, gue lagi ngerasain nggak punya identitas di SMA. Masuk SMA bikin gue pengin dikenal semua orang di sekolah. Jadi pintar susah, jadi berandal nggak mampu. Gue bingung, di sekolah ini mau dikenal jadi apa.

Yang gue tonton di film-film, anak SMA itu mesti banget punya identitas biar dikenal. Anak yang jago basket bisa terkenal dengan sebutan “anak basket”-nya. Anak yang sering ke masjid pasti dikira anak Rohis. (Gue sendiri pernah dibilang anak Rohis, padahal kalau ke masjid gue lebih sering tidur.) Gue sendiri nggak tahu mau mencirikan gue sebagai apa. Karena kebetulan punya blog, yaudah gue pake aja identitas “blogger” di sekolah.

Iya, iya. Busuk.

Kenyataannya, identitas yang berusaha gue bangun malah nggak ngangkat. Sampai lulus.

Yaudah, sejak saat itu gue nggak punya tujuan banyak soal ngeblog. Sempet tujuannya ke uang, tapi udah jauh-jauh aja deh dari tujuan itu. Sekarang lebih lepas aja, sih, ngeblognya. Kalau mau nulis cerpen, gue jadi tahu ke mana harus publikasikan. Nggak harus nungguin guru Bahasa Indonesia ngasih tugas. Nggak harus nungguin cerpen gue nampang di mading biar ada yang baca.

Kalau keseruannya sendiri, BANYAK BANGET.

Alasan yang paling keren, dan baru gue sadari setelah baca buku Juru Bicara karya Pandji Pragiwaksono, adalah dengan memiliki blog dan aktif menulis di sana membuat kita belajar menjadi seorang produsen. Nggak nyangka, lho, walaupun cuma sekadar iseng ngeblog berupa curhatan dan cerita sehari-hari, asalkan disiplin, itu bisa ngelatih alam bawah sadar kita menjadi seorang pembuat.

Nggak nyangka ngeblog bisa segitunya. Fyi, gue aja ngetik ini sambil manggut-manggut. Kebetulan sambil dengerin lagu Young Lex.



Masih pengin nerbitin buku nggak? Atau pakai skala deh, dari angka 1-10 berapa kemauan lu? Seandainya kesampaian nerbitin, tapi kurang peminatnya. Lu ke depannya bakal tetep nerbitin?

Keinginan menerbitkan buku pernah jadi keinginan terbesar gue selain masuk perguruan tinggi negeri. Tapi, cuma pernah aja. Sekarang lebih pengin bisa sering-sering nulis di blog ini. Jadi, untuk saat ini blog adalah salah satu media menyalurkan tulisan selain WC umum.

Skalanya berapa? Mungkin lima. Lima skala richter. Nggak pengin-pengin amat sekarang setelah naskah gue dinilai belum layak terbit. Masih perlu banyak belajar dan belum siap nulis buku yang panjaaaang prosesnya. Nulis blog lebih enak, lebih bebas, dan lebih cepat selesainya. Hehehe.

Untuk pertanyaan terakhir... gue tetep mau nerbitin. Hehehe. Selagi dikasih kesempatan buat memulai apa yang gue inginkan, bahkan gue impikan, lebih baik gue jalani aja. Sekalian belajar bagaimana rasanya menjadi penulis buku sungguhan dan belajar penjualannya.

EH, LU JANGAN SOK IYE DEH, ROB!


Sebagai mantan siswa IPA, saya mau tanya tentang anatomi tubuh manusia. Fungsinya pusar/udel pada perut itu untuk apa?

Ini Ibu yang nanya, ya? Bu, tolong, Bu. Saya belum belajar buat pertanyaan ini, Bu. Tunda dulu, Bu!

Oh iya, latar belakang itu sepertinya kurang lengkap. Seharusnya: sebagai mantan siswa IPA yang sering tidur saat belajar Biologi.

Satu hal yang membuat gue heran adalah kenapa banyak yang minta gue membahas puser. Di Ask.fm gue pernah dapat ask begini:


((Bikin blog tentang seputar puser))

Yang harus digarisbawahi adalah bikin blog, bukan bikin entri atau post. Ini orang gokil juga permintaannya. Ngebayangin ada blog tentang puser, yang pertama kali gue tangkap adalah banner blognya, tentu saja, bergambar puser. Masuk ke niche-nya: misalkan dia beauty blogger, paling sering membahas cotton bud apa yang cocok buat ngebersihin puser.

Sekarang dapet pertanyaan tentang puser. Mumpung gue tahu jawabannya, gue jawab aja di sini.

Kalau ditinjau dari letaknya dalam anatomi tubuh manusia, letak pusar berada di perut. Seperti hidung, jumlah pusar hanya ada satu. Namun, pusar dapat berdiri sendiri di antara luasnya perut. Hal ini yang menjadi inspirasi lain dalam dunia pemasaran. Banyak di antara kita mengenal Blue Ocean Strategy, yaitu strategi dalam dunia pemasaran yang menantang pengusaha untuk menciptakan ruang baru yang belum ada pesaingnya.

Ini yang belum terpikirkan para pemasar. Melihat letaknya yang sendirian di atas perut mengilhami gue untuk menemukan strategi pemasaran serupa Blue Ocean Strategy, yaitu Magnetic Puser Strategy. Sebuah strategi pemasaran yang terinspirasi dari sebuah puser yang dapat menarik perhatian (magnetic) para konsumen.

Bagaimana ini tercetus?

Perut diibaratkan sebuah pasar yang luas. Di sana segala macam produk ada dan tumpah ruah. Kita harus menjadi pusar yang menarik para konsumen. Kita harus menjadi “menggemaskan” agar pusar kita lebih menonjol dibanding pusar orang lain. Langkah awalnya adalah...

Ini jangan diseriusin, ya. Nanti gue digampar pakar pemasaran. Lagian, siapa, sih, yang nanyain kayak ginian? Puser tuh paling enak buat dibersihin pas nonton TV. Sambil nonton iklan, ngebersihin puser, lalu kotorannya di-.... (masukkan kata kerja sesuka kamu di sini).

^^^

Empat pertanyaan sudah terjawab. Sekarang giliran gue yang nanya ke kamu yang baca entri ini.

“Kalau kamu guru, berapa nilai dari soal-soal yang gue jawab dalam entri ini? Skor maksimal untuk satu soal 25”.

Asik, kan? Kasih nilai saya dong, Pak/Bu Guruuuu....

Temen-temen WIRDY juga dapat pertanyaan-pertanyaan yang seru. Kayak apa, ya, mereka jawabnya? Coba deh baca blog mereka masing-masing:
- blognya Yoga Akbar
- blognya Wulan,
- blognya Bung Darma, dan
- blognya Icha.

Gue mau nyontek dulu ah ke blog mereka.

03 July 2017

Lebaran tahun ini gue sangat bersemangat. Mudik ke kampung Bapak di Grobogan, Jawa Tengah dengan rumah yang baru memberi suntikan semangat buat gue. Walaupun hanya di rumah saja, gue tetap tidak kehabisan cara buat bersenang-senang. Ngetik entri blog termasuk kegiatan gue dalam bersenang-senang di kampung. Sesekali gue melakukan olahraga ringan di sini.

Kameranya emang jelek, tapi itu asli gue kok. Bukan stuntman.

Bukannya pergi keliling untuk bersalam-salaman minta maaf, pulang dari salat Ied, gue langsung buka laptop, lalu ngetik di bangku panjang meja makan. Seorang lelaki berjalan ngelewatin gue keluar lewat pintu belakang, bertanya, “Belajar, Mas?”

Gue menutup laptop. Mau jawab “Garap skripsi!” tapi nyadar ospek aja belum dimulai.

Tanpa mengganti baju koko, gue berkeliling ke rumah-rumah tetangga bersama keluarga. Selesai dari sana kami langsung kembali ke rumah untuk bersiap menyambut tamu. Siapa tahu ada yang ngasih gue uang persenan, meskipun jatuhnya jadi ngarep dot com.

Sekitar 5-10 tahun yang lalu gue masih dapat persenan di kampung. Melihat usia sekarang yang hampir menginjak 18, sangat sulit mendapatkan “selipan” uang saat cium tangan sama orang-orang tua. Itulah alasan gue untuk tidak membawa dompet: nggak ada yang ngasih uang.

(Padahal mah lupa. Sampai-sampai lupa bawa KTP bikin gue gagal naik kereta, padahal tiket udah dibeli dari jauh hari.)

Ada salah satu kalimat yang membuat gue dulu bertanya-tanya pada Mama.

“Ma, kok di sini orang pada minta seribu, sih, tiap lebaran?”

“Hah?” Mama nggak nangkap apa pertanyaan gue.

“Iya, itu orang-orang pada ngomong ‘nyuwun sewu’. Artinya, kan, ‘minta seribu’,” ujar gue. “Nyuwun artinya minta, sewu artinya seribu.”

Mama ngetawain gue. Dia ngejelasin kalau “nyuwun sewu” yang ini maksudnya minta maaf. Aneh. Bahasa Jawa sama susahnya dengan bahasa Meksiko.

Sama susahnya dengan mempelajari silsilah keluarga, yang sampai sekarang gue nggak hafal-hafal.

Salahnya menjadi gue adalah gue jarang ketemu mereka dan lupaan. Padahal, gue sering nanya ke Bapak, “Pak, kalau manggil mas itu apa harusnya?”

“Panggil aja ‘Pakdhe’.”

Seperti yang terjadi di kampung saat hari lebaran kemarin. Gue tahu, tetangga gue ini umurnya hanya setahun lebih tua daripada gue. Itu aja yang gue ingat. Tapi, karena silsilah menentukan segalanya, gue harus manggil dia “Bude”. Entah gimana cara ngejelasinnnya, gue sendiri nggak ngerti. Untungnya gue belum sempat manggil “Kak” atau “Mbak”. Pasti gue diketawain.

Pokoknya, kalau ketemu orang, gue selalu membatin, “Ini orang kalau di silsilah lebih tua daripada gue nggak, ya?” Ketemu orang jadi kayak main kartu remi. Harus nebak-nebak dulu apa “kartu” yang dia punya sebelum ngeluarin kartu sendiri. Apakah itu kartu pelajar, kartu tanda penduduk, atau kartu keluarga.

Selain tebak-tebakan dalam hal menemukan kata sapaan yang tepat, momen lebaran juga berarti harus menebak-nebak “gue harus jabat tangan atau cium tangan?”.

Tebak-menebak itu membuat gue harus nurunin ego buat cium tangan. Waktu masih kecil, gue nggak mikir jauh-jauh tentang hal itu. Ketemu orang yang lebih tua langsung cium tangan. Kalau cuma jabat tangan biasa takut dibilang nggak sopan dan bakal diomongin.

Sekarang, walaupun sudah 18 tahun, gue terkadang masih mempertahankan kebiasaan itu. Hampir selalu cium tangan dengan semua orang yang kira-kira mukanya lebih tua daripada gue. Terlalu cetek bila menilai umur dari muka. Nggak usah jauh-jauh, gue udah ngerasain sendiri dikira mahasiswa semester lima padahal masih kelas 10 SMA saat itu.

Pagi itu banyak sekali tamu yang datang. Rumah gue, karena ada orang yang dituakan, yaitu kakek—gue sebut Mbah, selalu rame didatangi orang dari mana saja. Kebanyakan gue nggak kenal siapa mereka. Saat orang-orang datang menghampiri, gue lebih dulu melihat wajahnya, lalu mencium tangan sebagai tanda menghormati.

Seorang wanita berkacamata berada di barisan ketiga di belakang sepasang suami istri, yang menurut gue ialah orang tuanya, lalu menyalami gue. Sejak rombongan ini masuk, batin gue, muka mereka lebih tua daripada gue. Di kepala gue seperti sudah tercatat apa yang akan dilakukan, dan nantinya kepala gue akan bergerak otomatis. Di kepala gue tercatat: “Tiga orang lebih tua, gue harus cium tangan ketiga-tiganya.”

Cewek yang tadi menjabat tangan gue, lalu gue menundukkan kepala dengan semangat untuk mencium tangannya, seperti perlakuan gue terhadap orang tua lainnya.

BRUK! Tanpa aba-aba dia juga ingin mencium tangan gue. Akhirnya kepala kami saling menyundul. Kami sama-sama gagal mencium tangan. Aroma parfumnya yang kuat membuat kepala gue semakin pusing.

“Aduh,” ucapnya, refleks. “Hehehe.”

Dia cengengesan. Gue juga. Suasana jadi canggung.

“Hehehe.”

Kejadian ini mengingatkan gue dengan kejadian beberapa bulan lalu di halte Transjakarta, saat gue sedang pergi jalan berdua dengan teman gue. Gue duduk bersebelahan dengannya. Karena gregetan dengan perkataannya, tanpa merasa berdosa, gue refleks menyundulnya. Tidak terlalu parah, kepala gue hanya mengenai ujung jilbabnya. Dia tidak merespons dan asyik dengan handphone-nya. Sesampainya di rumah dia bilang di WhatsApp, “Tadi lu nyundul gue?”

Nampaknya sundulan itu baru mulai bereaksi. Momen nyundul-nyundul begini enaknya langsung dikasih soundtrack lagu-lagu cinta yang biasa diputar di FTV.

Anaknya terlalu bersemangat.