24 July 2017

How I Meet Chemistry

Di sekolah, kita pasti kenal dengan anak yang minimal menyukai satu pelajaran bahkan sampai menguasainya. Untuk beberapa guru, mereka akan memanfaatkan kemampuan muridnya untuk disuruh-suruh.

Sandro, teman di SMA, paling sering disuruh maju mengerjakan soal Matematika di papan tulis. Teman gue yang lain, Silvi, sering diminta mencontohkan bagaimana cara men-dribble bola basket yang baik saat mata pelajaran Penjaskes.

Keahlian gue saat itu hanyalah di pelajaran kosong.



Tidak ingin hanya menguasai pelajaran kosong, gue bertekad untuk dapat menguasai minimal satu mata pelajaran di SMA. Gue berkaca pada sembilan tahun sebelumnya selama bersekolah, lalu muncul sebuah pertanyaan: pelajaran apa yang gue kuasai selama ini? Maksud dari pertanyaan itu agar gue tinggal melanjutkan dan meneruskan mapel kesukaan sampai lulus SMA bahkan kuliah.

Sewaktu SMP gue paling suka Matematika dan IPA. Gue berpikir bakal selamanya seperti begitu. Kenyataannya enggak. Menjalani satu bulan pertama di SMA, gue sudah punya firasat nggak akan sanggup menyukai dan menguasai Matematika karena SUSAH BANGET, BANG!

Gue ingat kali pertama belajar Matematika di SMA. Sangat susah melawan rasa kantuk karena AC di kelas dihidupkan. Padahal, semangat untuk belajar Matematika waktu itu sangat menggebu, apalagi gue sedang bersekolah di sekolah yang lumayan favorit. Pastinya gue sudah membayangkan serunya belajar Matematika di sini. Nggak nyangka, karena AC setitik rusak niat belajar Matematika.

Sedangkan IPA, di SMA sudah nggak ketemu lagi dengan pelajaran IPA, melainkan sudah menjadi sebuah jurusan. Yang ada hanyalah pecahan dari IPA, yaitu Fisika, Biologi, dan Kimia. Kenyataan semakin suram setelah tahu ketiga pelajaran itu punya kesusahan yang beda-beda: Fisika susah pada analisis, Biologi pada hafalan, dan Kimia susah pada keduanya. Kebanyakan orang bilang, Kimia adalah pelajaran paling sulit di SMA.



Inilah yang membuat gue merasa salah jurusan di IPA. Matematika susah nangkep, pelajaran jurusan (Fisika, Biologi dan Kimia) nggak ngerti. Kesulitan itu terus melekat hingga semester satu selesai. Nilai rapor yang kebanyakan pas KKM menambah frustrasi.

Namun, ada yang menarik perhatian gue. Di rapor, nilai Kimia-lah satu-satunya pelajaran di jurusan yang mendapat nilai 8. Padahal, selama satu semester gue nggak ngerti apa aja yang gue pelajari di Kimia. Satu semester sudah habis, dan gue nggak ngerti apa-apa.

Seolah mendapat pencerahan, gue jadi percaya ini adalah pertanda gue harus serius di mata pelajaran ini, walaupun gue nggak pernah tahu kenapa Kimia bisa dapat nilai 8 di rapor. Kebetulan gue nggak punya pelajaran favorit lagi setelah tahu Matematika jadi menyebalkan.

Semester dua gue mulai ikut bimbel. Sama seperti belajar di sekolah, Fisika, Matematika, dan Biologi tetap sulit dimengerti. Sedikit timbul rasa minder berada di jurusan IPA. Gue bertanya dalam hati, “Apa gue masih layak ada di jurusan ini?” Apa yang gue ambil dulu harusnya sudah gue pertimbangkan bagaimana risikonya. Karena sudah telanjur mengambil jurusan IPA, gue harus terus menjalani semuanya di sini. Toh, perjalanan masih panjang buat menemukan minat gue terhadap mata pelajaran.

Namun, kegundahan itu sedikit terkikis dengan keyakinan gue pada satu mapel. Kimia membuat gue punya harapan. Belajar Kimia di bimbel lebih menyenangkan lagi. Semangat gue untuk belajar jadi naik. Waktu itu gue memang belum menguasai, tapi gue punya modal awal buat bisa bertahan, yaitu minat.



Kesukaan gue terhadap Kimia semakin tumbuh saat kelas 11. Sambil ikut bimbel, gue selalu serius mengikuti pelajaran di kelas. Kadang gue malah sengaja mencari tempat duduk paling depan di pelajaran Kimia. Duduk bareng cewek-cewek bikin gue nggak ngobrol dan serius menyimak penjelasan guru. Tapi seringnya cewek-cewek itu duduk bareng teman sekelompoknya. Gue nggak kebagian tempat, akhirnya duduk di belakang. Sedih memang, tapi nggak mengurangi semangat gue belajar Kimia.

Selain karena nilai rapor, pengaruh besar dalam minat gue terhadap Kimia adalah karena seorang guru.

Waktu itu, di kelas 11, kami sedang belajar tentang tata nama senyawa hidrokarbon. Guru gue, Bu Iin, yang pindahan dari sekolah tetangga, melempar pertanyaan ke muridnya, setelah sebelumnya dia menampilkan gambar struktur molekul di layar proyektor. “Ada yang tahu apa namanya?” tanya Bu Iin kepada muridnya.

Banyak teman-teman gue yang angkat tangan. Gue memberanikan diri ikutan, padahal deg-degan setengah mati, seperti kebiasaan orang-orang gugup.

Bu Iin menunjuk teman gue yang duduk di barisan tengah. Gue yang duduk di hadapan Bu Iin merasa kalah. "Mungkin lain waktu", batin gue, kecewa.

Teman gue yang ditunjuk lalu menjawab. Jawabannya dia salah. Lalu Bu Iin menunjuk gue.

“Kamu apa?”

Gue deg-degan waktu Bu Iin menunjuk gue. Dengan hati-hati gue menjawabnya, mengucapkan pelan-pelan nama senyawa tersebut, seperti seorang lelaki yang sedang mengikrarkan akad nikah. Di luar dugaan jawaban gue benar. Dia bertanya ke gue, “Siapa nama kamu?”

“Robby, Bu. Absen 28.”

Sepertinya nama gue ditandai untuk dapat nilai plus. Gue girang bukan main. Senangnya masih terasa sampai sekarang. Alasannya: karena itulah kali pertama dan terakhir gue menjawab pertanyaan di kelas Kimia. Selebihnya tidak pernah.

Karena Bu Iin juga, gue jadi semakin tertarik dengan Kimia. Beliau tipikal guru yang disiplin. Nggak jarang, kedisiplinannya bikin kami deg-degan, takut kena semprot. Teman-teman gue yang sering diomelin waktu praktikum, cuma ketawa-ketawa aja setelah belajar Kimia. Untungnya, gue nggak pernah diomelin.

Peringkat gue di kelas 11 masuk dalam sepuluh besar terbawah, tetapi satu nilai Kimia di atas 80 membuat gue senang. Berapa nilai yang gue dapat sebanding dengan apa yang gue dapat di kelas. Dari sekian banyaknya nilai kasihan di rapor, rasanya Kimia-lah satu-satunya pelajaran yang berani gue pertanggungjawabkan nilainya karena gue yakin gue mampu.

^^^

Mendekati Ujian Nasional, semua orang di kelas sibuk dan pusing pilih-pilih mapel apa yang mau diambil saat UN. Di luar Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, anak kelas 12 harus pilih satu mapel di jurusan buat UN nanti.

Gue tanpa ragu memilih Kimia. Setelah semua anak sudah memilih mapel, gue mendapat kabar dari seorang teman.

“Rob, UN yang milih Kimia di kelas cuma lu doang.”

Hah?

Hal unik seringkali gue rasakan ketika try out berbasis komputer. Karena saat itu jadwalnya sesuai mata pelajaran yang kami pilih, seorang guru mendata mata pelajaran apa yang diambil para siswa.

“Coba angkat tangan yang pilih UN Fisika.”

Yang angkat tangan belasan orang.

“Yang UN Biologi?”

Yang angkat tangan lebih banyak dari sebelumnya.

“Yang UN Kimia?”

Teman-teman gue bisik-bisik mulai tertawa. Gue cuma tersenyum sambil mengangkat tangan dengan percaya diri. Hanya gue seorang di kelas itu yang mengangkat tangan.

“Sendirian?” tanyanya. Gue mengiyakan dari bangku barisan belakang. “Kasihan.”

“....”

Pada akhirnya, satu angkatan di jurusan IPA yang berisi empat kelas, siswa yang memilih UN Kimia sebagai mapel pilihan hanya ada 10 orang. Bebas, itu pilihan.

UN menghitung hari, ayo kerjain soal lebih banyak! Latihan lebih sering lagi.

---

Tulisan ini adalah sebuah kilas balik selama SMA. Kalau sempat, gue bakal lanjutin terus ceritanya sampai SBMPTN, meskipun pembaca lama udah tahu gimana endingnya. Hehehe. Insya Allah bakal gue lengkapin ceritanya seperti apa.
17 July 2017

Kali Pertama ke Kampus

"Elo dari fakultas apa? Jurusan apa?”

Kalimat itu sering muncul ketika gue datang ke sana, calon kampus. Selama gue melewati orang-orang kalimat itu terus menerus muncul. Gue mau ikutin cara mereka buat nyari kenalan, tapi gue nggak berani memulai. Padahal, gampang aja sebenarnya buat melakukannya. Tinggal cari orang duduk atau berdiri sendiri, kalau kebetulan cakep, tanyain deh, “Elo dari fakultas apa?” Kalau iseng, bisikin, “I love you.”

Dalam perjalanan menuju calon kampus gue bertemu seorang cewek yang—tanpa sengaja gue lihat—wallpaper handphone-nya berupa screen capture bertulis “RUTE KE UNJ”. Kalau tahu begini, harusnya gue bisa nunjukin jalan tanpa harus membuat dia sering-sering buka handphone. Selagi masih dalam pandangan, gue mau ikutin dia... bakal nyasar atau enggak.

Kalau nyasar gue ketawain.

Turun dari angkot gue mengetahui ternyata dia berangkat bareng bapaknya. Berkumis dan pake sepatu olahraga membuat bapak itu terkesan galak. Feeling gue beliau anak bela diri. Atau paling tidak, pernah ikut tes masuk militer sehingga punya fisik yang tangguh. Seandainya ending-nya dia nyasar dan tahu gue ngetawain anaknya, bisa-bisa sepatunya yang gede itu mendarat ke muka gue.

Turun di halte Harmoni gue melihat mereka berdiri di depan koridor yang berbeda dengan gue. Dalam hati, "Ayo kita buktikan siapa yang tercepat."

Sampai di kampus gue belum melihat mereka. Di kampus yang katanya nggak luas-luas amat ini, gue nggak tahu harus lewat mana. Salah gue juga nggak nanya satpam atau orang di kampus buat nunjukin gedung yang mau gue tuju. Gue malah keliling-keliling kampus. Berhubung kata kakak gue kampus UNJ nggak terlalu luas, gue nggak ragu buat ngelilingin. Malah ketemu calon maba juga yang lagi nyari gedung. Di antara gue yang tersesat, tetap ada yang tersesat. Ralat, maksud gue, GUE YANG NGIKUTIN ORANG INI DI BELAKANGNYA. Nyasar bareng-bareng deh.

“Mau ke mana, Mas?” tanya bapaknya si calon maba. “Eh, masnya mahasiswa bukan?”

Gue buru-buru menjelaskan sebelum dikira yang aneh-aneh. “Iya, Pak. Mau lapor diri.”

“Nah, tuh sama,” ujar bapak itu pada anaknya. Anaknya tampak risi dan malu-malu. “Ya udah, Mas, bareng aja.”

Iye, nyasar bareng.

Akhirnya kesesatan ini berujung pada kerumunan calon mahasiswa baru yang sudah berkumpul. Nggak nyasar terlalu jauh deh.

Aku calon maba. Berarti aku calon lucu~

Gue jalan ke sana kemari mencari informasi kapan loket pengumpulan berkas dibuka. Sejauh ini belum ada yang mengantre di belakang loket. Seorang satpam berbicara lewat pengeras suara, menyuruh calon mahasiswa baru untuk berbaris mengambil nomor antrean. Antrean mengular panjang sekali. Gue kebagian nomor 183.

Selesai mendapatkan nomor antrean, gue mendengar suara bernada kepanikan, “Di mana mau ngambil nomor antreannya?” Gue melirik ke sumber suara, wajahnya gue nggak kenal. Tapi tasnya gue ingat, bahwa dia orang yang tadi pagi ketemu di angkot. Aha! Gue duluan yang sampai ke sini. Gue menang!

Sembari menunggu giliran masuk ke loket, gue duduk-duduk bingung di belakang tanaman. Celingak-celinguk nggak ada yang gue kenal. Seperti sesuatu yang pernah dialami. Apakah ini rasanya... dihipnotis?

“Misi, boleh numpang duduk?”

Suara halus itu memaksa gue menoleh ke arahnya. Bukan cewek, tapi seorang cowok berkemeja hitam. Orangnya mungil, begitu menurut pengakuannya sendiri di grup WhatsApp setelah gue kenalan dengannya.

“Dari fakultas apa? Jurusan apa?”

NAH, INI YANG DITUNGGUIN.

“FMIPA. Pendidikan Kimia,” jawab gue singkat. Agar terkesan akrab, gue menanya balik ke dia.

Tips: Penting untuk kamu saat bertemu orang asing lalu ditanya-tanya. Jawablah dengan singkat, tanpa perlu curhat (soalnya kalau langsung curhat males dengerinnya). Kemudian tanya dia balik.

“Oh, FMIPA juga?” ujarnya terkejut. “Aku Biologi.”

Kemudian kami saling diam. Nungguin siapa duluan yang nanya biar mulai obrolan.

Beberapa menit kemudian, dia nanya, “Namanya siapa?”

“Robby,” jawab gue. “Elu?” Iya, saking kagetnya gue cuma ngomong “elu?” doang. Semoga dia ngerti dalam konteks apa kita sedang ngobrol.

“Bani.”

“Oooooh.” Gue teringat sesuatu. “Yang ada di grup WhatsApp ya?”

“Iya, betul.” Dia mengiyakan. “Kok kamu nggak pernah muncul di grup?”

Sebenarnya gue pernah muncul sekali untuk nanya. Hari-hari berikutnya gue nggak pernah muncul lagi.

“Hehehe, iya. Abisnya penuh terus chat-nya.”

Di tempat ramai seperti saat ini, pasti dapat ditemui beberapa orang berjualan. Di tempat lapor diri ini, misalnya, ada bapak-bapak yang keliling menjual map kertas. Sudah lama gue perhatikan bapak itu menawari setiap orang yang dilewatinya. Sambil nyodorin map, dia bilang, “Mapnya, mapnya. Yang SBMPTN warna biru.” Dalam hati, untung gue udah beli dari rumah warna biru.

Kebanyakan dari calon maba cuek aja. Paling beberapa orang aja yang nyetopin bapak itu untuk nanya harga. Nggak beli. Namun, semua berubah karena adanya strategi pemasaran....

“Pengumuman. Untuk calon mahasiswa baru diharapkan menyiapkan map warna biru untuk mengumpulkan berkas.”

Pengumuman dari satpam itu langsung membuat bapak penjual map kewalahan. Para calon maba langsung mengerumuni bapak itu kayak semut ketemu astor yang jatuh ke lantai. Baju si bapak udah nggak kelihatan lagi karena tertutup kerumuman calon maba. Dari jauh, gue mendengar sayup-sayup suara bapak penjual map, “Sabar, ya, sabar.”

Gue dan Bani, yang sejak tadi sepertinya melihat objek yang sama, tertawa ngakak melihat ramainya kerumunan. “Gila, sekali diumumin langsung rame,” Bani kagum.

“Gue curiga tuh, satpam sama bapak-bapaknya udah janjian.”

“Hahaha, iya, ya. Bisa jadi.”

Di saat yang lain sedang mengantre untuk mendapatkan map, gue malah ngeracunin teman baru dengan kecurigaan cenderung suuzon. Kalau ada kakak tingkat yang tau gue lagi ngomongin satpam dan bapak itu, dan gue bilang mereka sudah janjian, gue takut bakal ditanya, “Elo fakultas apa? Jurusan apa?!”

--
Sumber gambar; http://newteknoes.com/gambar-dp-dan-meme-lucu-mahasiswa-baru/