02 June 2017

Insiden Laboratorium

Adanya asap membuat kita tahu akan kondisi di sebuah tempat. Asap yang membumbung tinggi di langit menandakan adanya kebakaran (atau orang bakar sampah?). Asap yang disertai kumpulan orang beramai-ramai juga salah satu tandanya. Lain halnya bila ada asap, orang ramai-ramai, ditambah ada aroma sedap... itu orang lagi nyate.

Gue paling payah ketika ketemu asap. Di angkot, kalau ada orang yang ngerokok, gue menyelamatkan diri dengan cara nongolin kepala ke jendela. Sama halnya sewaktu dibonceng motor, pas di depan gue ada bus metromini atau kopaja. Gue bakal bengek-bengek. Ada kalanya gue ngerasain takut berlebih ketika berhadapan dengan asap. Apakah ada nama phobia terhadap asap?

Sampai pada suatu hari, gue berhasil melawan ketakutan gue akan asap.

Tidak bisa dimungkiri, nggak jarang anak jurusan IPA melakukan kegiatan di laboratorium. Gue, sebagai anak IPA yang nggak IPA-IPA banget, sebenarnya suka berada dalam ruangan ini. Berada di laboratorium membuat gue merasa keren. Cita-cita yang selama ini cuma bisa gue tonton di film akhirnya tercapai. Yes! Akhirnya bisa pake jas laboratorium, pikir gue.

Di laboratorium, sudah pasti kita akan bertemu bahan-bahan kimia. Saat praktikum mata pelajaran Kimia, kita akan dihadapkan dengan larutan-larutan yang sifatnya beragam. Ada yang efeknya cuma sebatas bikin kulit gatel, sampai ada yang bikin kulit terkelupas. Meskipun banyak hal-hal berbahaya, gue tetap senang berada di laboratorium.



Ekstrakurikuler pilihan gue juga nggak jauh-jauh dari praktikum, yaitu Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). KIR sendiri adalah ekskul yang di mata anak SMA sebagai ekskul “anak IPA banget” karena kerjaannya penelitian mulu. Padahal, nggak selalu. Teman-teman gue di KIR malah lebih banyak yang anak IPS. Lebih jauh lagi, organisasi yang gue ikuti di luar sekolah, KIR Jakarta Barat (Kibar), punya ketua yang juara lomba karya tulis datangnya dari anak IPS. Jadi, “ekskul KIR adalah ekskulnya anak IPA” adalah anggapan yang keliru. Malah, anak IPA banyak yang nggak milih ekskul, kok.

Kembali lagi pada kehidupan di laboratorium.

Sayangnya, rasa tertarik gue terhadap dunia laboratorium sedikit bertolak belakang dengan pengetahuan gue akan bahan-bahan kimia. Gue nggak kenal betul dengan bahan-bahan kimia makanya nggak banyak ikut campur setiap ada praktikum. Kegiatan bermain-main dengan larutan dan pencampuran seperti ini jarang gue lakukan dengan tepat sendirian. Terakhir kali ngelakuin di rumah, gue bikin kopi item jadinya pahit banget.

Gue nggak hafal bahan atau larutan apa saja yang sifatnya korosif, eksplosif, primitif. Karena ketakutan itulah membuat gue ragu untuk melakukan percobaan dengan bahan-bahan kimia. Kalau sedang ada praktikum, gue paling bersyukur kalau praktiknya kelompokan. Kalau sendiri, gue nyerah.

Suatu hari gue mengikuti ekskul, saat gue kelas 11. Jadwal hari itu adalah eksperimen sederhana, yang kita tiru dari internet. Maka, kami semua, kelas 10 dan kelas 11, beramai-ramai ke laboratorium. Eksperimen di kelas sangatlah nggak mungkin. Bisa-bisa merusak fasilitas kelas. Nggak enak aja kalau praktikum di kelas, besoknya ada anak murid ngelapor ke gurunya, “Bu, kok ada bau gosong nggak ilang-ilang, ya?”

Asyiknya (dan curangnya) jadi anak kelas 11 di ekskul adalah kita nggak terlalu aktif buat ngejalanin kegiatan. Hampir semua kegiatan dilakukan oleh kelas 10. Kelas 11, karena kelas 12 sudah sibuk persiapan UN, cuma ngarahin adik kelasnya. Bila pengertiannya seperti itu, bagi gue menjadi: “ngarahin adik kelas” artinya sama dengan “nyuruh-nyuruh sambil mandorin”.

Teman-teman gue sedang memantau anak kelas 10. Gue duduk sendirian di lantai yang lebih tinggi dari permukaan ruangan ini, main hape. Kehadiran gue semakin memperjelas bahwa anak kelas 11 songong-songong. Bukannya bantuin atau apa, gue cuma komenin.

“Nggak, harusnya begitu.”

“Tambahin dikit airnya biar bereaksi.”

“Woy, siapa, nih, yang kentut!?”

Anak kelas 10 layak protes terhadap sikap gue ini.

Sedangkan di sana, anak kelas 10 sedang asyik melakukan percobaan “pasta gigi gajah” Untuk yang belum tahu seperti apa percobaannya, kira-kira begini.


Setelah selesai praktikum, seorang adik kelas bilang, “Bau apa, ya?”

Khasnya dari laboratorium adalah nuansa pengap. Nggak tau ini cuma di sekolah gue atau memang semua begitu. Semakin diperparah karena kipas angin tidak menyala. Gerah. Bau yang baru muncul membuat suasana seperti di ruang spa, tapi tanpa aromamaterapi, melainkan bau menyengat. Bau itu semakin lama semakin kuat, hingga seseorang dari kami menyadari ada asap muncul dari kotak tanpa tutup yang berisi botol-botol larutan kimia. Kami semua penasaran dicampur khawatir untuk mengetahui asap apa sebenarnya itu. Apakah ada jin baru saja keluar dari botol itu?

Asap yang kami hirup sedikit-banyak mengurangi tingkat kecerdasan masing-masing. Orang-orang yang sedang praktikum, karena kebanyakan cewek, jadi semakin panik. Paniknya diperparah dengan nada-nada kecemasan, “Ih, itu apa? Itu apa?!” Sudah bisa ditebak: cewek melihat asap = PANIK!

Bisa juga: cewek melihat asap = Terhipnotis. Itu di acaranya Uya Kuya.

Tiba-tiba ada yang merasuki diri gue. Jiwa pemadam kebakaran gue terpanggil. Gue yang sejak pagi belum beraksi, mengambil langkah ke depan. Dengan gagah berani gue samperin kotak itu. Teman gue, Syaiful, yang juga ketua ekskul, entah pergi ke mana. Kampret memang. Tidak banyak lelaki di ruangan ini. Cuma empat, dan tiga di antaranya panik. Sepertinya cewek-cewek di sini sudah mendukung penuh para lelaki untuk bertindak.

Gue langsung mengangkat dan memindahkan botol-botol sendirian. Karena tersulut emosi, gue marah-marah sendiri, “Woy, ini nggak ada yang bantuin gue apa?!”

Temen-temen gue pada keluar ruangan. Bijik!

Gue masih sibuk mindah-mindahin botol, mencari sebab utama munculnya asap. Secara akal sehat, munculnya asap karena ada api. Dan, kalau ada api, apalagi ini banyak bahan-bahan mudah terbakar, berpeluang besar terjadinya kebakaran. Oh, gue harus apa lagi? Tiba-tiba pundak gue merasa ditepuk guru Kimia, sekaligus pengawas lab, yang sudah pensiun tahun lalu, sambil berbisik, “Nak, kamulah harapan kita satu-satunya.”

Rasanya semakin panas. Tanpa memakai pelindung apa pun, hanya baju seragam koko saja, gue tetap memindahkan botol-botol itu ke tempat yang aman. Saat ini gue masih bersyukur karena baju gue berlengan panjang. Tapi, ini kenapa udah nyampe pergelangan aja, ya, baju gue? Anjir, jadi kekecilan. Kenapa sempet-sempetnya mikirin baju yang makin mengecil? Selamatkan nasib lab ini!

Botol-botol berbahan plastik sudah terpisah dari kotak. Tinggal satu lagi, yaitu botol kaca. Botol itu berada di ujung, dekat sumber di mana asap itu berasal, susah banget ngambilnya. Gue juga harus hati-hati buat memindahkannya. Asap semakin mengepul, sebagiannya masuk ke tenggorokan gue. Karena semakin panik, gue teriak-teriak minta pertolongan, “KAYU! CARIIN KAYU!”

Kayu berhasil didapatkan. Ternyata masih ada yang peduli. Dia, cowok, adik kelas gue, ikut bantuin gue. Sedangkan temen-temen gue? Nggak tau deh masih peduli atau nggak di luar.

Kotak kayu itu sebagian sisinya hangus. Entahlah karena apa. Padahal, nggak ada api di sana. Menurut dugaan gue, ada larutan kimia yang tadi dipakai lupa ditutup rapat, lalu tumpah ke kotak berbahan kayu. Kebetulan, larutan yang tumpah itu bisa bikin kayu hangus dan menimbulkan asap. Dari mana gue tahu? Ya, nebak-nebak aja. Gue mana ngerti larutan kimia, sih!

Kotak tadi akhirnya disiram untuk meredakan asapnya. Hanya sedikit gosong di bagian belakang sampai bawah. Gue masih bersyukur botol-botol larutan tadi bisa selamat. Jika saja semua botol rusak dan larutannya tumpah, bisa-bisa kami disuruh ganti dan harganya pasti mahal.

Gue mencari udara segar di luar lab. Teman-teman gue kembali ke lab sambil ketawa-ketawa.

Awas kalian!

---


P.S: Cerita ini gue tulis saat lagi kangen-kangennya sekolah dan kegiatan lain di dalamnya. Sambil ngeliat foto-fotonya di laptop, gue nemu foto ini. Diambil pas pengumuman kelulusan, terus ditambah keisengan, gue edit-edit sampai nggak tidur sebelum sahur. Hehehe.


27 comments:

  1. Weeeew yang kangen masa SMA ciyaaa.

    Hebat Rob! Jiwa pemadam kebakaranmu harus terus dipelihara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini Dara dari kemaren kerasukan peserta audisi Biskuat mulu. Bahahahaha.

      Delete
    2. Tinggal bawa selang air ke mana-mana.

      Delete
  2. Di lab kimia, ada asap.. Bener kaboooooor #HilangJiwaPemadam

    ReplyDelete
  3. Waah mas rob penyelamat lab kimia yaa bagus bagusss hehehe gue gak abis pikir jalan ceritanya sama kayak di ftv ftv gitu yee sungguh penuh dramatisasi yang bikin dada jadi uji nyali gitu. Gue yang ngebaca nya aja jadi kebawa uji nyali deg degan mau copot rasanya tapi syukur deh akhirnya selamat hehehe

    willynana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serem, Kak, kalau dijadiin FTV. Kalau harus cut banyak adegan, nanti nyari bahan kimianya lama. :(

      Delete
  4. Mestinya lu biarin aja itu larutan kimia merambat ke mana-mana... kan alhamdulillah kalo kalian semua kena radiasi atau infeksi dari campurannya. kali aja ada yg bakal jadi hulk~ atau jadi fantastic 4.

    ReplyDelete
  5. Halo robby apakabar? Kok lama gak kliatan? Eh kbalik deng. Haha:')

    Keren jg ya d skolah lu anggota kir nya kbnyakan anak IPS dbanding IPA. Mgkin mrka adalah org2 yg dlu pgn msk ipa tp ga ksmpean makanya ngikut kir biar ga brpisah sm ipa kali ya? Dan anak ipanya mgkin lbih mementingkan pelajaran ktimbang ikut exkul yg mghabiskan wktu dn tnaga. Hehe. Asal nebak doang si gue:D
    Dsklah gue mah anggota kir ya dominan anak ipa smua.

    Itu prcobaan pasta gigi gajah? Mksdnya? Gak sklian pasta gigi buaya wkwk。kok GIF nya bkin gue ktgihan buat diliat berulang2 yak? Seru aja gtu tau2 kyak kluar uler gede. Bhahaha.

    Robby ngikut exkul pmadam kbakaran aja klo gtu mah, itu jago madamin kbakaran gtu.. Wkwk. Kek bang niki lama2 komen gue.
    Ciyee yg mulai kangen msa2 SMA~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Kak Lulu. Kebalik woooy! Hahaha.

      Sepertinya begitu. Di sekolah gue anak IPA lebih seneng belajar ketimbang ikut-ikut ekskul. :D

      Kalau ada mah mau-mau aja. Huehehe. Tapi gue nggak bisa nyetir (ya, terus?)

      Delete
  6. Komennya Haw taik bet sih....

    Si Robby. Giliran ada asap aja baru mau gerak! Kalau anteng-anteng aja cewek-ceweknya nggak pada panik karena ada asap, mungkin bakal dilanjut terus itu main hapenya. Watsapan sama gebetan. Huahahahahahaha.

    Btw, ungkapan "Tak ada asap kalau tak ada api," mungkin bisa diganti jadi "Tak ada asap, tak ada Robby." Btw lagi... aku juga nggak ngerti soal cairan kimia begituan. Taunya cuma kalau jatuh cinta itu bisa menimbulkan reaksi kimia pada tubuh kita. Gitu deh kalau nggak salah. Auk ah. Mau jatuh cinta, dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saking antengnya, bisa-bisa udah jadian aja di watsap. Ehehe.

      Uhuy. Jatuh cinta sama siapa, nih? :))

      Delete
  7. Robby si penyelamat lab sekolah. UYEAAAH!

    Entah kenapa, aku malah suka sama bau asap kendaraan. Apalagi asap motor ninja, widiih baunya enak hahaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu jenis kesukaan macam apa ya? Asap motor ninja. Ya Allah... :(

      Delete
  8. wawawaaa! keyen! superhero asap! hahaha

    ReplyDelete
  9. mungkin namanya asaphobia haha

    anak IPA? sama, tapi aku mah juga IPA abal-abal. UN aja matematika cuma dapet 6 terus kuliah masuknya seni rupa *hidup seni rupa* Kalau di sekolahku dulu mah KIR ya isinya anak IPA semua dan itu emang mereka yg niat-niat buat ikutan lomba kaya gitu. Tiap minggu pasti ada aja kegiatan di lab buat persiapan lomba.

    Ngakak pas bagian guru nepuk pundak dan bilang "kamu adalah harapan kita satu-satunya" haha. mbayangin kaya di film-film XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matematika-ku juga dapat 6! Yuhuuu! Punya temen. :D

      Eh iya juga, ya. Rata-rata anak KIR banyak yang disiapin buat lomba. Emang paling sering nyumbang piala (harusnya), selain PMR. Hueheheh.

      Delete
  10. Wah ... enak banget ya. Masa SMA gue nggak ada yang berbau praktikum, padahal gue anak IPA, wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, berarti nggak kebagian praktikumnya. Sabar, bro... :')

      Delete
  11. hahaha, untung gue anak IPS dulu, kagak main deh gue sama laboratorium. Setelah lulus sekolah, menulis kenangan tentang kejadian di sekolah dulu adalah solusi terbaik bagi blogger kalau lagi kangen-kangennya. Rasanya melegakan memang. Menurut gue sebagai anak IPS, asap itu bisa ada karena energi. Dan energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan namun dapat diubah ke bentuk lainnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. LAH, ANAK IPA NGOMONG GITU JUGA. :D

      Enak, ya. Jadi ada bahan buat nulis blog. :p

      Delete
  12. Lah gue kok bingung. Di sekolah gue dulu ekskul KIR kan emang gak ada hubungannya sama lab. walaupun ada embel-embel "penelitian".

    Mungkin ini yang membedakan sistem pendidikan pulau jawa dan yang lain. Anjirlah sok iye banget gue.

    ini gue bahas KIR aja udah 3 paragraf, Rob. Kalau gitu komen ini gue akhiri di sini ya. Ichsan pamit, see you.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ekskul doang nggak ngaruh ke sistem pendidikan deh perasaan. :D

      IYE. Itu gaya siapa dipake-pake?

      Delete
  13. Lu aja anak IPA bingung soal larutan. Apalagi gue sebagai anak SMK, gue nggak ngerti apa-apa soal larutan. Belajar IPA terakhir soal larutan gitu zaman SMP. Cuma ngetes mengandung asam atau basa doang. Haha. Itu jadi di antara larutannya, ada yang sensitif gitu pas kena kayu? Baru tau gue bisa sampe kebakar gitu.

    Kayaknya yang Uya Kuya bukan lihat asap deh, lihat api. :|

    Wih, di bagian akhir ada editan polaroid. Kalo lagi senggang emang seru belajar desain gitu pake Photoshop. Ntap! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue SMP belum belajar itu malah. Hahaha. Iya, gue juga nggak ngerti kenapa ada yang bisa sampe nimbuli asap kalau kena kayu.

      HOHOHO, IYA! Anggap aja gitu, lah. Soalnya lagi bahas asap. :D

      Mantap! Tadinya mau ngedit buat stok Hehehe. Cnd. tapi takut gak menarik. :(

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.