15 June 2017

Benar. Kalau kamu follow blog gue, entri ini akan ada di dasbor Blogger kamu.

Ngomong-ngomong soal blog ini, tepat pada tanggal 30 Juni nanti blog robbyharyanto.com akan berulang tahun yang ketiga. Perasaan gue benar-benar bahagia hingga sekarang masih bisa ngeblog. Walaupun cuma buat media senang-senang, gue merasa beruntung pernah mengenal blog; seperti yang gue tulis di hampir semua media sosial milik gue.

Seputar blog lagi. Nggak nyangka followers blog ini sudah mencapai 100. Gue senang dengan jumlah-jumlah bulat seperti ini, seperti membentuk tahap demi tahap dalam kehidupan bermedia sosial. Contohnya, perasaan mendapat sepuluh followers pertama: senang. Seratus kemudian: bahagia banget. Seribu selanjutnya: songong, sok nyeleb, nyuruh followers selfie ala “bidadari kacamata”.
Hehehe. Sejauh ini belum ada yang sampai seribu. Teman di Facebook aja belum segitu.

Langsung ke poinnya aja. Sepertinya entri ini akan menjadi penutup di bulan Juni 2017 sekaligus penutup di tahun ketiga blog ini berada. Gue akan kembali ngeblog setelah lebaran atau masa-masa kuliah dimulai. Oh iya, kabar gue dalam menuju universitas negeri sangat membahagiakan. Berkat doa dari orang tua, guru, teman-teman dunia nyata maupun dunia maya, alhamdulillah, gue lolos SBMPTN. Sekarang lagi sibuk nyiapin berkas-berkas untuk persiapan masuk. Doakan semoga semuanya lancar, ya!

Gue menulis entri hanya karena ingin mengeluarkan apa yang sedang rame di kepala. Gue seperti mengusir mereka dari kepala gue dengan menulis. Kalau pikiran gue bisa teriak, dia mungkin bakal bilang, “HEI, MINGGIR DULU. KASIH TEMPAT UNTUK TAMU KITA YANG BERNAMA MASA DEPAN UNTUK TINGGAL DI SINI!”

Yeah. Gara-gara lolos SBMPTN, gue jadi gelisah karena mikirin hal-hal remeh. Takutnya malah mengganggu dan merusak hari yang seharusnya bisa dijalani dengan bahagia. Anehnya, pikiran tentang itu malah muncul terus. Yaudah, jadinya gue punya bahan buat ditulis. Hehehe.

1
Gue pernah baca, entah dari mana, ada sebuah kalimat begini: “Bacalah apa yang orang lain tidak baca dan kamu bisa berpikir beda dari orang lain.” Kayaknya itu jadi tepat setelah tahu kebiasaan gue seneng bacain kemasan makanan sejak kecil. Nggak tahu kenapa, setiap selesai makan ciki gue selalu membalik bungkus, lalu bacain komposisinya. Dari kebiasaan itu, gue jadi tahu kalau ciki atau makanan dalam kemasan selalu punya zat pengawet yang namanya natrium benzoat. Beda dengan formalin yang mana merupakan pengawet mayat.

(Hampir-hampir pikiran gue rusak karena pengawet mayat. Jangan-jangan, mayatnya setelah dikasih pengawet, disamain kayak ciki. Dimasukin kemasan, terus dikubur)  

Awas, jangan ketuker.

Takutnya, karena terlalu sering nonton Reportase Investigasi, seorang anak malah lebih tahu formalin sebagai bahan pengawet makanan daripada pengawet mayat. Siapa tahu, profesi dia nantinya menjadi pengusaha kolang-kaling, lalu terinspirasi dari acara tersebut. Nanti kolang-kalingnya dipakein formalin karena dia tahu, penjual makanan yang sering masuk TV adalah penjual (curang) yang masukin formalin ke makanannya.

Hati-hati.


2
Gue jadi takut banget sama petasan. Tahun ini menjadi masa paling kelam antara gue dengan petasan.
Di lingkungan tempat tinggal gue sebelumnya, bocah banyak yang main petasan, tapi jaraknya jauh-jauh dari keramaian. Main di lapangan atau lahan kosong. Sekarang nggak. Di depan gue, di jalan dengan penuh pejalan kaki, anak-anak nyalain petasan dengan bahagia tanpa dosa. Mana megangnya lama banget. Gue khawatir petasannya meledak di tangan.

Terus, ada satu bocah lari-lari nyalain petasan, terus dia lempar ke temennya. Udah gila kali ini anak, pikir gue. Atau, memang begitu caranya main petasan? Maklum, gue dulu nggak berani main petasan. Sampai sekarang, gue masih takut megang kembang api. Serius.


3
Masih tentang petasan. Ada beberapa jenis petasan yang nggak layak disebut petasan: petasan banting, petasan kentut, dan petasan tulis. Petasan tulis yang menurut gue paling layak di dunia perpetasanan. Ini petasan paling aman, sekaligus bikin produktif. Bentuknya panjang, dibakar ujungnya, terus disedot asepnya. Iya, ITU ROKOK.

Setelah ujungnya dibakar, nanti si pemegang petasan (tentunya pemegang saham terbesar karena dia yang modalin) bakal nyoret-nyoret ke tembok atau aspal. Biasanya dulu temen gue nulis namanya sendiri. Katanya, sih, nanti ada bekas tulisannya gitu. Nggak tau deh bener atau nggak. Gara-gara di depan rumah gue ada bocah nyalain petasan tulis, gue jadi pengin nantang diri dengan ikutan main. Nanti gue nulis, nulis, nulis, jadi deh satu draf novel.


4
Baru aja ngerasain sensasi makan ayam di sebuah restoran cepat saji. Sebut saja nama tempatnya “Pabrik kayakeju” bila diterjemahkan. 

Sore itu, gue sedang berada dalam acara buka puasa bersama teman-teman dan adik kelas ekskul KIR. Pemilihan tempat di sini agaknya cukup membuat sebagian orang mengkhawatirkan kesehatan pencernaannya. Sebaliknya, gue malah penasaran dan memang nggak ada tempat lagi. Kata orang-orang, Pabrik Kayakeju ini tempat paling oke... buat nangisin orang. Pedes banget ayamnya.

Dan ini yang menurut gue lucu. Gue diberikan sekotak nasi dan ayam yang entah bumbu apa itu di atasnya. Kayak kecap, tapi kok gue ragu rasanya bakal manis. Seorang teman memberi tahu, “Ini level 3.”

Level? Makanan berlevel? Biar apa?

Setengah perjalanan gue menghabisi ayam dan nasi, muka gue penuh keringat. Banjir. Seperti habis senam pukul 12 siang. Gue menggelengkan kepala, keringatnya muncrat ke mana-mana. Teman-teman gue yang lain nunjukin muka yang sama. Sama-sama kepedesan.
Bisik-bisik gue mendengar, “Si Robby level berapa, tuh?” Gue langsung memperhatikan lama teman-teman gue, lalu salah satu dari mereka nanya, “Rob, lu level berapa itu dah?”

“Hah?”

Mendadak budek.

“Si Robby, makan pedes malah budek,” katanya sambil tertawa. “Punya lu itu level berapa?”

“Hah? Nggak tau deh,” kata gue megap-megap, “katanya level 3.”  Gue menghela napas, “Gue nggak ngerti ginian, level-levelan. Gue mau makan bukan main game.”

Akhirnya, setelah malam itu, gue kepikiran satu hal: Kalau gue berhasil ngabisin level 3, gue boleh naik ke level selanjutnya dong? Abis itu lawan raja terakhir. Kalau nggak kuat? Game over pencernaan.

---

Masih banyak sebenernya yang mau gue tulis, seperti perjalanan gue selama persiapan SBMPTN mau banget gue tulis. Paling tidak, gue bakal baca lagi ketika suatu saat nanti gue sedang down di dunia perkuliahan, gue bisa berkaca kepada tulisan sendiri. Tapi, nantilah kapan-kapan. Rencananya mau gue bikin ke dalam bagian-bagian terpisah. Kalau sekalian ditulis dalam satu entri, bakalan capek bacanya. Demi kebaikan gue juga.

Terakhir, gue mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga tahun depan bisa bertemu kembali dengan Ramadan dan tahun ini ibadah Ramadan kita diterima Allah swt. Aamiin.

12 June 2017

Alasan gue mau masuk IPA adalah karena gue penasaran dengan Biologi.

Wah, alasan yang sungguh ilmiah. Padahal, nggak gitu-gitu amat, sih.

Waktu kecil, teman-teman gue, selain manusia, adalah tumbuh-tumbuhan. Nggak cuma itu, gue juga suka main apa aja yang ada di luar rumah. Di mes, tempat tinggal gue dulu, kebetulan selalu ada orang bakar sampah setiap sore. Nah, di situ gue suka main. Memang, bukannya main layangan atau kelereng, gue malah sibuk ketemu asap. Sekarang jadi takut sama asap.

Gue biasanya ngelelehin sedotan, main masak-masakan, dan nyirem-nyirem thinner ke api biar nyalanya besar. Nggak jelas banget permainan gue dulu. Yang paling gue inget pas main masak-masakan adalah masak pasir. Jadi, tutup kaleng bekas di atasnya ada pasir, dipanasin. Terus, setelah pasir cukup panas, wadah tadi gue jadikan alas di kurungan ayam-ayam kecil. Alhasil ayam-ayam itu lompat-lompat kepanasan sambil kaget, “ORANG! ORANG! ORANG!”

(Perhatian: Kebanyakan nonton acara sulap The Master dapat mengikis rasa kasih sayang terhadap makhluk hidup. Siapa suruh ngejagoin Limbad.)

Karena merasa dekat dengan alam (baru sebatas itu aja, belum sampai naik-naik gunung atau ekspedisi ke gurun pasir), membuat gue senang belajar Biologi. Senang dalam artian: gue cuma senang dengarin aja. Belajarnya nggak mau. Apalagi kalau pelajaran tentang organ-organ hewan atau manusia, gue nyerah. Ketertarikan gue paling mengarah ke tumbuh-tumbuhan. Gue senang nyari tahu tentang cara mencangkok, kultur jaringan, dan hidroponik. Lingkungan-lingkungan gitu gue suka.

Bagi gue, ngedengarin seseorang menjelaskan tentang tumbuh-tumbuhan serasa nonton Animal Planet.

(Nah, kalau Animal Planet, kan, khusus hewan. Kalau tumbuhan apa? Bantu jawab, ya!)

Mata pelajaran khusus Biologi baru gue dapatkan di SMA. Bukannya jadi siswa paling pintar di kelas karena sudah senang Biologi sejak kecil, gue malah jadi siswa paling bahagia. Kayaknya, sih, begitu. Gue nggak peduli jadi pintar atau nggak, yang penting senang dengerin orang jelasin materi, entah guru atau teman. Makanya, hal yang sering gue lakukan saat di kelas Biologi adalah hanya mencatat. Mencatat apa yang nggak seharusnya dicatat.



Baru-baru ini gue nemuin satu buku catatan mirip diari. Sebuah halaman di dalamnya terdapat catatan bertinta merah. Gue membaca catatan itu sambil bergumam, “Kok gue sempet-sempetnya nyatet hal nggak penting ini?”

Kalau direka ulang saat itu, gue lagi bosen-bosennya belajar. Walaupun merasa senang dengarin orang jelasin materi, rasa bosan akhirnya hinggap juga. Di kelas, sambil dengerin guru Biologi ngomong di muka kelas, gue malah nyoret-nyoret buku, nyatet hal-hal nggak penting. Mirip-mirip sama tipe orang yang seneng gambar saat bosan belajar di kelas. Karena nggak bisa menggambar, gue lebih milih nulis-nulis hal nggak penting di belakang buku.

Guru Biologi menjelaskan soal teori seleksi alam yang dikemukakan Lamarck.

Beliau menjelaskan, menurut Lamarck, pada zaman dahulu di dunia ini hanya ada jerapah berleher pendek. Kita tahu, sekarang jerapah lehernya panjang. Mungkin karena sering bohong pas beli gorengan; bilangnya dua biji ngambilnya dua karung. Tenggorokannya kena azab.

Lanjutnya, leher jerapah bisa panjang karena dedaunan yang ada dalam jangkauan lama-lama menjadi habis. Akibatnya, yang tersisa di pohon hanyalah daun-daun tinggi, kemudian memaksa jerapah untuk mendongak agar mendapatkan daun yang lebih tinggi (makanannya). Secara alami, leher-leher itu menjadi panjang dengan sendirinya, hingga keturunannya sekarang.

Bukan penjelasan itu yang gue catat di buku diari, melainkan sebuah ilustrasi kasus, yang tiba-tiba kepikiran, dari apa yang dijelaskan tadi oleh guru Biologi.

Tertulis di buku itu: “Kalau saja manusia mengalami hal serupa, seharusnya kaki manusia semakin ke sini menjadi lebih kuat karena kami (manusia) berjalan lebih jauh mencari warteg (sumber makanan) yang murah.”

Harusnya gue kasih contoh itu ke guru Biologi. Apa reaksinya, ya, kira-kira? Hehehe.

Masih pada halaman dan hari yang sama, gue mencatat sebuah momen ketika guru Biologi gue membicarakan soal tinggi badan.

“Padahal, adik dan kakak saya tinggi-tinggi,” ujar guru Biologi, jujur. Posturnya memang tidak tinggi, sekitar 150 sentimeter. “Ya, meskipun bedanya paling cuma 10 senti.”

Guru Biologi gue, wanita, orangnya jarang ngasih lelucon atau, bisa dikatakan, sepanjang pelajaran selalu serius. Tipikal ibu-ibu yang nggak suka bercanda. Tapi, beliau bukan orang yang suka marah-marah. Wajahnya penuh welas asih sehingga kita, muridnya, menjadi hormat padanya.

“Kalau saya lebih tinggi, 10 sentimeter saja, mungkin saya nggak di sini (sekolah—mengajar).”

Hening cukup panjang. Memang, kebiasaan di kelas Biologi seperti ini. Nggak ada yang berani menjawab. Sayup-sayup gue mendengar ada suara, “Jadi polisi!”

Beliau berkata, “Jadi model majalah.”

Temen-temen gue terdiam. Beberapa ada yang manggut-manggut. Gue malah antusias sendiri dalam hati sambil senyum-senyum, “Wih, keren! Gokil! Aseeek dah!”

Beliau menambahkan, “... majalah Trubus.”

Suasana kelas semakin sunyi. Gue malah ketawa bersama orang-orang yang ngerti apa itu majalah Trubus.

Majalah Trubus adalah majalah khusus tentang tanaman-tanaman dan pertanian. Gue memang belum pernah baca, tapi mendengar kata “Trubus” yang sudah identik dengan toko tanaman di daerah gue, gue nggak bisa berhenti ngelupain jokes “mau jadi model majalah Trubus”.

Hah, bisa-bisanya. Di balik wajahnya yang serius, bisa bercanda juga si Ibu.

Kalau lagi bete sama pelajaran, kira-kira apa yang kalian lakukan?

06 June 2017

Hingga saat ini, setelah lulus SMA, kepala gue masih dihujani pertanyaan: Mau lanjut ke mana setelah ini?

Lulus SMA bukanlah suatu hal yang bisa membuat gue tenang begitu saja. Setiap bangun pagi gue harus mengakrabkan diri pada kejenuhan. Tidak ada lagi uang saku, tidak ada lagi main-main. Semakin sadar bahwa semua tindakan harus dipikirkan matang-matang. Salah satunya adalah perihal pilihan jurusan kuliah.

Kata orang, salah jurusan berarti salah pilihan hidup. Hal itu menjadi salah satu alasan ketakutan bagi anak kelas 12. Bingung mau melangkah ke mana. Mau kerja, tapi nggak punya kemampuan khusus, terutama anak SMA yang memang belum punya keahlian seperti anak SMK. Menjadi anak kelas 12 berarti sering dihadapkan dengan ujian batin.

Pikiran gue mentok saat itu. Dalam pikiran gue, dibumbui rasa frustrasi, hanya orang yang pintar Matematika saja yang bisa sukses. Gue melihat nilai rapor dari semester satu sampai lima, hati gue berbisik, “Astagfirullah...”

Mata pelajaran yang perlu hitung-hitungan menjadi kelemahan. Padahal menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sukses tidak melulu harus bisa pelajaran Matematika. Yang paling terpenting kita harus tahu apa potensi diri.

Sayangnya, selama ini gue nggak tahu apa potensi sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya rapor dijadikan acuan. Lima semester di rapor gue, menurut dugaan, adalah hasil dari “nilai kasihan”. Rapor pun tidak memberi pencerahan atas masalah gue.

Sepetinya gue nggak sendirian. Banyak anak kelas 12 yang masih samar-samar akan potensi diri sebelum tahu apa jurusan kuliah pilihannya. Gue curiga, mungkin zaman dulu ada seorang anak SMA pintar, tetapi dia nakal dan suka ngomong kasar, lalu dikutuk Dewa, “Terkutuklah anak-anak kelas 12! Kalian semua akan buta potensi kalian!”

Lalu hingga saat ini, anak-anak kelas 12 lari ke guru BK untuk minta pertolongan.

Alih-alih mendapatkan jawaban atas kegelisahan, guru BK seringkali kurang optimal dalam memfasilitasi siswanya untuk menyelesaikan permasalahan. Alasan paling masuk akal adalah guru BK sudah lebih dahulu terbagi fokusnya. Bayangkan saja, misalnya, satu hari seorang guru BK melayani konsultasi sepuluh siswa. Belum lagi harus naik-turun tangga—kalau sekolahnya tingkat—untuk mengajar di kelas. Akhirnya yang terjadi adalah hilang fokus dan masalah nggak benar-benar terjawab.

Teman sekelas gue, Josua, pernah terkena imbasnya. Waktu itu, menjelang dibukanya jalur undangan masuk perguruan tinggi (SNMPTN), Josua menemui guru BK untuk konsultasi atas kegalauannya. Dia bingung dalam memilih jurusan. Kalau digambarkan secara personal, Josua adalah sosok yang ganteng, pintar, dan digilai banyak cewek. Sekalipun salah pilih jurusan, dia masih punya kesempatan buat jadi selebgram. Dia bingung mau pilih jurusan apa karena “kepinteran”, saking banyaknya pilihan. Kebalikannya dari Josua: gue nggak ganteng, nggak pinter-pinter amat, dan sering dikatain “gila” sama cewek-cewek.

Setelah dari ruang BK, gue tanya ke dia, “Gimana, Jo?” Maksud gue tanya begitu, gue mau tahu apa pilihan terbaik buat dia.

Dengan wajah kecewa, walaupun tetap ganteng, Josua mengadegankan konsultasinya tadi:

Josua: “Bu,” kata Josua, “saya mau konsul jurusan.”
Guru BK: “Iya, silakan.”

Josua cerita panjang lebar mengenai kegalauannya di depan guru BK. Lalu dia kembali pada ceritanya,

Josua: “Jadi, gimana, Bu, pilihannya buat saya?”
Guru BK: “Ya... yang sesuai aja sama kemampuan kamu.”

Sudah cerita panjang lebar hanya ditanggapi seperti itu. Josua mengakhiri ceritanya dengan bilang ke gue, “Nyesel, Rob.” Dia menambahkan, “Bukan itu jawaban yang gue harapkan.”

Gue sepertinya memaklumi guru BK itu. Bisa saja seharian ini dia sudah banyak melayani banyak siswa. Di lain sisi, Josua ingin mendapat jawaban yang cepat karena sebentar lagi pemilihan jurusan SNMPTN akan dimulai.

Kegelisahan akan pilihan jurusan kuliah sering menjadi percakapan seru buat gue dan Anezka, seorang teman blog. Kami sering bertukar pendapat dan cerita mengenai dunia kuliah dan potensi diri lewat WhatsApp. Dia sendiri, bilang, mau kuliah di Universitas Indonesia. Yang dekat-dekat aja, katanya.

Suatu hari, Anez, begitu nama panggilannya, mengenalkan gue pada sebuah website yang tidak pernah gue lupa sampai saat ini. Website yang sangat-sangat berguna bagi gue, dan orang-orang yang sedang bingung mencari potensi diri. Nama website itu adalah Youthmanual.

Youthmanual adalah start up yang bergerak di bidang pendidikan dan karier. Platform ini fokus sebagai konsultan persiapan kuliah dan karier dalam membantu pelajar dalam merencanakan dan merancang masa depan.



Awalnya gue tidak begitu mengerti dengan fitur-fitur yang dimiliki Youthmanual. Hanya berbekal peta perjalanan yang ada di tampilan awal setelah login, gue menelusuri semuanya yang ada di dalam Youthmanual.

Dalam peta perjalanan, terdapat banyak fitur yang tersedia. Kita diharuskan menyelesaikan secara berurutan sesuai nomor.

Kalau hijau artinya sudah dikerjakan. Lihat peta gue. Rajin, kan? Hehehe.

Fitur-fitur yang ada, saking kerennya, lebih baik kamu yang coba sendiri. Hehehe. Gue cuma mau ngejelasin hal-hal keren yang ada di Youthmanual, di antaranya:


1. Modul-modul yang keren
Modul kepribadian
Pada bagian ini, Youthmanual membantu mengenali kepribadianmu. Ini adalah langkah awal untuk Youthmanual mengarahkan kamu dalam perencanaan kuliah dan profesi. Kuncinya, isi modul kepribadian dengan jujur agar hasilnya sesuai dengan kepribadianmu. Bila kamu telah mengisi bagian maka sudah otomatis tersimpan.

Modul minat
Modul ini akan mengarahkan kamu pada minatmu di bidang apa. Kamu hanya perlu mengisi apa-apa saja kegiatan yang dapat kamu lakukan dengan baik, topik apa yang kamu minati, dan profesi yang diminati. Setelah itu kamu juga perlu mengisi modul tentang pelajaran yang dipahami dan sulit dipahami di sekolah.

Tenang, semua soalnya tinggal pilih dan klik. Kamu nggak perlu pusing-pusing mikirin jawaban dan takut bentuk soalnya essay.

Sebagai tambahan, modul minat akan berguna di bagian selanjutnya, seperti ekslplorasi profesi dan jurusan.


Modul kemampuan
Modul ini akan menentukan kecocokan untuk ke fitur Eksplor Jurusan. Sekilas mirip dengan tes-tes psikologi yang ada di sekolah. Namun, yang membedakan adalah modul Youthmanual ini bisa dikerjakan tidak sekaligus. Misalnya, kamu baru saja menyelesaikan modul minat. Kamu tidak harus sekaligus menyelesaikan modul kemampuan juga seperti yang biasanya dilakukan pada psikotes. Bisa dijeda beberapa waktu, asalkan jangan kelamaan. Ya, kalau kelamaan, kapan kamu bisa tahu hasil dari tes ini? Hehehe.



Itu adalah salah satu tes yang terdapat dalam modul kemampuan. Mirip dengan psikotes yang biasanya, kan?

Kunci dari menyelesaikan modul ini adalah dengan mengisi dengan serius dan jujur. Modul ini akan sangat berguna dalam menyarankan jurusan dan profesi apa yang nanti akan kamu pilih. Modul ini hanya dapat diisi sekali.


2. Cari jurusan keren jadi gampang
Mencari informasi tentang jurusan impian bisa lebih mudah dengan fitur Eksplorasi Jurusan. Fitur ini membantu calon mahasiswa dalam memilih jurusan, mengetahui prospek jurusan, dan informasi lainnya seputar jurusan. Di sini ada segudang informasi umum tentang sebuah jurusan.



Selain yang telah disebutkan di gambar, ada pula informasi pada fitur ini, di antaranya:

Karakter terkait: menjelaskan karakter seperti apa yang cocok dalam suatu jurusan
Artikel terkait: berisi artikel-artikel ringan tentang jurusan terkait. Isinya berupa pengalaman, informasi, sampai kiat-kiat.



Kerennya lagi, dalam fitur ini kita akan mendapat saran-saran untuk tetap mengambil suatu jurusan lewat kecocokan sesuai kemampuan, kecocokan sesuai minat, dan kecocokan jurusan sesuai keseluruhan yang isinya kesimpulan dari dua kecocokan sebelumnya. Youthmanual memberi saran tidak asal-asalan. Semuanya berdasarkan pengerjaan pada modul kemampuan.


3. Cari info profesi dengan cara keren
Di fitur Eksplorasi Jurusan kita bisa melihat kecocokan profesi berdasarkan minat dan bakat. Di dalamnya tersedia banyak informasi dari ratusan profesi.


Gue mengambil contoh dari profesi Creative Content Writer.



Youthmanual akan memberikan laporan berupa kecocokan profesi sesuai minat, kecocokan profesi sesuai kemampuan, dan kecocokan profesi secara keseluruhan berdasarkan modul kemampuan. Bagian itu akan menjadi acuan kamu dalam memilih profesi apa kelak.

Dalam fitur ini banyak banget profesi yang tersedia. Kita bisa tahu kecocokan sebuah profesi dengan kepribadian kita hanya dalam satu halaman. Selain itu, kita juga dijelaskan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam suatu profesi. Fitur ini sangat membantu kita dalam proses pencarian kerja dan memulai karier.


4. Jalan-jalan di kampus seluruh Indonesia!
Dari semua fitur yang ada di Youthmanual, gue paling suka fitur Eksplorasi Kampus. Informasinya lengkap dibanding harus googling kampus satu per satu, tanya-tanya orang, atau harus ngedatengin ke kampusnya langsung. Dari Aceh ke Papua. Wow, mahal banget, kan.

Tinggal cari kampus apa yang kita mau.

Karena gue penasaran dengan salah satu kampus, bisa disebut kampus angan-angan, gue langsung kepoin informasi tentang kampus tersebut lewat fitur Eksplor Kampus di Youthmanual.

ITB: Inginku, anganku.

Kemudian ada informasi di dalam kampus.



Kalau kamu pernah merasakan pergi ke sebuah pameran kampus, nah, seperti itu rasanya. Tinggal klak-klik-klak-klik, kita bisa tahu informasi tentang kampus hingga informasi tentang mahasiswa dan alumninya.

Gue pernah punya pengalaman nggak mengenakkan ketika pergi ke sebuah pameran kampus di kota gue. Pada kesempatan itu, gue tidak menemukan kampus incaran gue. Gue tidak melihat stand dengan logo kampus idaman gue di sana. Alhasil, gue kecewa dan akhirnya pergi ke stand kampus lain. Ngambilin suvenir.

Sekarang, nggak perlu lagi jauh-jauh pergi ke pameran. Cukup dengan fitur Eksplorasi Jurusan, semua jurusan tereksplorasi.


5. Tahu gambaran diri
Seperti tes psikologi lainnya, Youthmanual juga memberikan laporan hasil tes-tes kamu dari modul sebelumnya. Dalam Personal value dijelaskan tiga nilai kehidupan yang ada dalam diri kita. Nilai-nilai itu adalah gambaran diri sesuai dari apa yang kita isi pada bagian Personal value. Selain bisa jadi tahu bagaimana gue selama ini, gue jadi punya semangat untuk mempertahankan nilai-nilai hasil analisis tim Youthmanual.



Lalu, ada fitur yang menjelaskan bagaimana gaya belajar yang pas untuk membantu kamu belajar lebih efektif. Fitur ini terdapat pada peta perjalanan yang berikon kotak harta karun. Bila ikon itu diklik maka akan muncul seperti apa gaya belajar yang sesuai dengan karakter kamu.

Bila kamu lihat lagi di peta perjalanan, ada dua ikon yang digembok. Itu bukannya lagi dikunci sama yang punya rumah (ya masa begitu?), tapi itu adalah fitur “Tanya Youthmanual” dan “Keterampilan 21st Century” yang memang belum dirilis. Fitur Tanya Youthmanual adalah fitur yang memungkinkan kita untuk bertanya sepuasnya mengenai persiapan kuliah, sedangkan Keterampilan 21st Century adalah fitur yang mempersiapkan kita menghadapi abad 21—era yang serba dikerjakan oleh robot.

Kabarnya, kedua fitur ini akan hadir bulan Juni 2017. Hanya dengan menggunakan Youthmanual Premium seharga Rp79.000,00, kamu bisa mendapatkan pelayanan terbaik. Rasanya seperti punya konsultan karier pribadi, deh.

Mantap!

Kabar gembira (lagi): kamu bisa mendapatkan potongan harga 10 persen bila memasukkan kode referral KEJARMIMPI10 untuk mendapatkan akses ke paket Explorer. Harganya terjangkau bagi pelajar dan kualitas superkeren bikin Youthmanual nggak diragukan lagi buat ngasih informasi perencanaan kuliahmu. Mengenal diri dan mengejar mimpi jadi terbantu oleh adanya Youthmanual.

Mantap part dua!

Ada hal yang sama pentingnya selain perencanaan kuliah, yaitu persiapan alat tempur dalam dunia perkuliahan. Berdasarkan pengalaman selama SMA, gue merasa sangat terbantu dengan adanya laptop. Apalagi nanti saat masuk dunia perkuliahan, tugas-tugas seperti membuat presentasi, makalah, hingga skripsi harus cepat diselesaikan. Semuanya akan lebih mudah dikerjakan dengan komputer.

Karena komputer nggak bisa dibawa ke mana-mana, pilihan gue jatuh pada notebook atau laptop. Gue dikasih trik dalam membeli produk: pilihlah merek yang sudah banyak penggunanya dan punya kesan bagus. Kayak kenalan sama seseorang, kita jadi semakin nyaman bila sudah banyak omongan “Si itu orangnya baik, lho” tentang orang tersebut. Maka, Acer bisa menjadi pilihan sebagai penunjang kuliah.

Gue sendiri berimpian punya notebook. Alasannya: gue nggak butuh fitur yang ribet-ribet banget. Buat gaming, programming, hacking, rice cooking, dan segala macamnya. Cukup untuk ngetik, bikin presentasi, dan browsing. Lagipula, notebook lebih ringan daripada laptop.

Acer sendiri punya notebook yang keren banget buat anak kuliahan. Namanya Acer Aspire E5-473.



Notebook ini punya desain yang stylish dengan enam pilihan warna, seperti cotton white, charcoal gray, ocean blue, denim blue, coral pink, dan. Selain pilihan warna yang keren-keren, Aspire E5-473 punya performa tangguh buat mendukung aktivitas kuliah hingga hiburan. Dilengkapi prosesor Intel 5th Gen (Broadwell) yang lengkap, mulai dari Core i3, Core i5 dan Core i7.

Gue juga pengin punya notebook yang tangguh untuk keperluan desain. Meskipun gue nggak ngerti desain, tetapi gue butuh software-software untuk membuat gambar pelengkap tulisan di blog. Notebook ini bisa jadi jawaban atas keinginan gue. Karena Acer juga menyematkan NVIDIA GeForce 920M/940M dengan dedicated memory sebesar 2GB DDR3 yang menjadikan desain lebih keren dan mendukung kinerja grafis lebih baik.

Kerennya lagi dari notebook ini adalah adanya Acer Bluelight Shield, yaitu teknologi terbaru dari Acer untuk mengurangi emisi cahaya biru dari layar LCD yang menyebabkan risiko Computer Vision Syndrome, seperti mata cepat lelah dan mata kering. Kini, gue nggak perlu khawatir mata jadi rusak karena kelamaan menatap layar dalam jangka waktu yang lama. Mau ngerjain tugas atau nulis blog lama-lama? Hayuklah!

Acer Aspire E5-473 cocok menjadi senjata andalan menghadapi dunia perkuliahan. Ngerjain tugas sekarang terbantu dengan adanya Acer Aspire E5-473, notebook-nya anak kuliahan. Juga mengenai potensi diri tidak perlu bingung. Tidak kenal potensi bukan lagi kutukan bersama Youthmanual.

02 June 2017

Adanya asap membuat kita tahu akan kondisi di sebuah tempat. Asap yang membumbung tinggi di langit menandakan adanya kebakaran (atau orang bakar sampah?). Asap yang disertai kumpulan orang beramai-ramai juga salah satu tandanya. Lain halnya bila ada asap, orang ramai-ramai, ditambah ada aroma sedap... itu orang lagi nyate.

Gue paling payah ketika ketemu asap. Di angkot, kalau ada orang yang ngerokok, gue menyelamatkan diri dengan cara nongolin kepala ke jendela. Sama halnya sewaktu dibonceng motor, pas di depan gue ada bus metromini atau kopaja. Gue bakal bengek-bengek. Ada kalanya gue ngerasain takut berlebih ketika berhadapan dengan asap. Apakah ada nama phobia terhadap asap?

Sampai pada suatu hari, gue berhasil melawan ketakutan gue akan asap.

Tidak bisa dimungkiri, nggak jarang anak jurusan IPA melakukan kegiatan di laboratorium. Gue, sebagai anak IPA yang nggak IPA-IPA banget, sebenarnya suka berada dalam ruangan ini. Berada di laboratorium membuat gue merasa keren. Cita-cita yang selama ini cuma bisa gue tonton di film akhirnya tercapai. Yes! Akhirnya bisa pake jas laboratorium, pikir gue.

Di laboratorium, sudah pasti kita akan bertemu bahan-bahan kimia. Saat praktikum mata pelajaran Kimia, kita akan dihadapkan dengan larutan-larutan yang sifatnya beragam. Ada yang efeknya cuma sebatas bikin kulit gatel, sampai ada yang bikin kulit terkelupas. Meskipun banyak hal-hal berbahaya, gue tetap senang berada di laboratorium.



Ekstrakurikuler pilihan gue juga nggak jauh-jauh dari praktikum, yaitu Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). KIR sendiri adalah ekskul yang di mata anak SMA sebagai ekskul “anak IPA banget” karena kerjaannya penelitian mulu. Padahal, nggak selalu. Teman-teman gue di KIR malah lebih banyak yang anak IPS. Lebih jauh lagi, organisasi yang gue ikuti di luar sekolah, KIR Jakarta Barat (Kibar), punya ketua yang juara lomba karya tulis datangnya dari anak IPS. Jadi, “ekskul KIR adalah ekskulnya anak IPA” adalah anggapan yang keliru. Malah, anak IPA banyak yang nggak milih ekskul, kok.

Kembali lagi pada kehidupan di laboratorium.

Sayangnya, rasa tertarik gue terhadap dunia laboratorium sedikit bertolak belakang dengan pengetahuan gue akan bahan-bahan kimia. Gue nggak kenal betul dengan bahan-bahan kimia makanya nggak banyak ikut campur setiap ada praktikum. Kegiatan bermain-main dengan larutan dan pencampuran seperti ini jarang gue lakukan dengan tepat sendirian. Terakhir kali ngelakuin di rumah, gue bikin kopi item jadinya pahit banget.

Gue nggak hafal bahan atau larutan apa saja yang sifatnya korosif, eksplosif, primitif. Karena ketakutan itulah membuat gue ragu untuk melakukan percobaan dengan bahan-bahan kimia. Kalau sedang ada praktikum, gue paling bersyukur kalau praktiknya kelompokan. Kalau sendiri, gue nyerah.

Suatu hari gue mengikuti ekskul, saat gue kelas 11. Jadwal hari itu adalah eksperimen sederhana, yang kita tiru dari internet. Maka, kami semua, kelas 10 dan kelas 11, beramai-ramai ke laboratorium. Eksperimen di kelas sangatlah nggak mungkin. Bisa-bisa merusak fasilitas kelas. Nggak enak aja kalau praktikum di kelas, besoknya ada anak murid ngelapor ke gurunya, “Bu, kok ada bau gosong nggak ilang-ilang, ya?”

Asyiknya (dan curangnya) jadi anak kelas 11 di ekskul adalah kita nggak terlalu aktif buat ngejalanin kegiatan. Hampir semua kegiatan dilakukan oleh kelas 10. Kelas 11, karena kelas 12 sudah sibuk persiapan UN, cuma ngarahin adik kelasnya. Bila pengertiannya seperti itu, bagi gue menjadi: “ngarahin adik kelas” artinya sama dengan “nyuruh-nyuruh sambil mandorin”.

Teman-teman gue sedang memantau anak kelas 10. Gue duduk sendirian di lantai yang lebih tinggi dari permukaan ruangan ini, main hape. Kehadiran gue semakin memperjelas bahwa anak kelas 11 songong-songong. Bukannya bantuin atau apa, gue cuma komenin.

“Nggak, harusnya begitu.”

“Tambahin dikit airnya biar bereaksi.”

“Woy, siapa, nih, yang kentut!?”

Anak kelas 10 layak protes terhadap sikap gue ini.

Sedangkan di sana, anak kelas 10 sedang asyik melakukan percobaan “pasta gigi gajah” Untuk yang belum tahu seperti apa percobaannya, kira-kira begini.


Setelah selesai praktikum, seorang adik kelas bilang, “Bau apa, ya?”

Khasnya dari laboratorium adalah nuansa pengap. Nggak tau ini cuma di sekolah gue atau memang semua begitu. Semakin diperparah karena kipas angin tidak menyala. Gerah. Bau yang baru muncul membuat suasana seperti di ruang spa, tapi tanpa aromamaterapi, melainkan bau menyengat. Bau itu semakin lama semakin kuat, hingga seseorang dari kami menyadari ada asap muncul dari kotak tanpa tutup yang berisi botol-botol larutan kimia. Kami semua penasaran dicampur khawatir untuk mengetahui asap apa sebenarnya itu. Apakah ada jin baru saja keluar dari botol itu?

Asap yang kami hirup sedikit-banyak mengurangi tingkat kecerdasan masing-masing. Orang-orang yang sedang praktikum, karena kebanyakan cewek, jadi semakin panik. Paniknya diperparah dengan nada-nada kecemasan, “Ih, itu apa? Itu apa?!” Sudah bisa ditebak: cewek melihat asap = PANIK!

Bisa juga: cewek melihat asap = Terhipnotis. Itu di acaranya Uya Kuya.

Tiba-tiba ada yang merasuki diri gue. Jiwa pemadam kebakaran gue terpanggil. Gue yang sejak pagi belum beraksi, mengambil langkah ke depan. Dengan gagah berani gue samperin kotak itu. Teman gue, Syaiful, yang juga ketua ekskul, entah pergi ke mana. Kampret memang. Tidak banyak lelaki di ruangan ini. Cuma empat, dan tiga di antaranya panik. Sepertinya cewek-cewek di sini sudah mendukung penuh para lelaki untuk bertindak.

Gue langsung mengangkat dan memindahkan botol-botol sendirian. Karena tersulut emosi, gue marah-marah sendiri, “Woy, ini nggak ada yang bantuin gue apa?!”

Temen-temen gue pada keluar ruangan. Bijik!

Gue masih sibuk mindah-mindahin botol, mencari sebab utama munculnya asap. Secara akal sehat, munculnya asap karena ada api. Dan, kalau ada api, apalagi ini banyak bahan-bahan mudah terbakar, berpeluang besar terjadinya kebakaran. Oh, gue harus apa lagi? Tiba-tiba pundak gue merasa ditepuk guru Kimia, sekaligus pengawas lab, yang sudah pensiun tahun lalu, sambil berbisik, “Nak, kamulah harapan kita satu-satunya.”

Rasanya semakin panas. Tanpa memakai pelindung apa pun, hanya baju seragam koko saja, gue tetap memindahkan botol-botol itu ke tempat yang aman. Saat ini gue masih bersyukur karena baju gue berlengan panjang. Tapi, ini kenapa udah nyampe pergelangan aja, ya, baju gue? Anjir, jadi kekecilan. Kenapa sempet-sempetnya mikirin baju yang makin mengecil? Selamatkan nasib lab ini!

Botol-botol berbahan plastik sudah terpisah dari kotak. Tinggal satu lagi, yaitu botol kaca. Botol itu berada di ujung, dekat sumber di mana asap itu berasal, susah banget ngambilnya. Gue juga harus hati-hati buat memindahkannya. Asap semakin mengepul, sebagiannya masuk ke tenggorokan gue. Karena semakin panik, gue teriak-teriak minta pertolongan, “KAYU! CARIIN KAYU!”

Kayu berhasil didapatkan. Ternyata masih ada yang peduli. Dia, cowok, adik kelas gue, ikut bantuin gue. Sedangkan temen-temen gue? Nggak tau deh masih peduli atau nggak di luar.

Kotak kayu itu sebagian sisinya hangus. Entahlah karena apa. Padahal, nggak ada api di sana. Menurut dugaan gue, ada larutan kimia yang tadi dipakai lupa ditutup rapat, lalu tumpah ke kotak berbahan kayu. Kebetulan, larutan yang tumpah itu bisa bikin kayu hangus dan menimbulkan asap. Dari mana gue tahu? Ya, nebak-nebak aja. Gue mana ngerti larutan kimia, sih!

Kotak tadi akhirnya disiram untuk meredakan asapnya. Hanya sedikit gosong di bagian belakang sampai bawah. Gue masih bersyukur botol-botol larutan tadi bisa selamat. Jika saja semua botol rusak dan larutannya tumpah, bisa-bisa kami disuruh ganti dan harganya pasti mahal.

Gue mencari udara segar di luar lab. Teman-teman gue kembali ke lab sambil ketawa-ketawa.

Awas kalian!

---


P.S: Cerita ini gue tulis saat lagi kangen-kangennya sekolah dan kegiatan lain di dalamnya. Sambil ngeliat foto-fotonya di laptop, gue nemu foto ini. Diambil pas pengumuman kelulusan, terus ditambah keisengan, gue edit-edit sampai nggak tidur sebelum sahur. Hehehe.