Menjadi Pengamat, Mencari Keringat

Saat ini, kegiatan sehari-hari gue habiskan di rumah. Penuh kejenuhan, tanpa pekerjaan yang benar-benar bikin capek. Dulu, semasa sekolah, gue sering dihadapkan dengan aktivitas yang menguras keringat, seperti jalan cepat biar bisa naik bus sekolah, lari biar nggak telat masuk sekolah, ngejar teman terus nepok pundaknya dari belakang, dan nungguin hasil ulangan. Percayalah, kegiatan terakhir itu selalu bikin keringetan dan penasaran, “Minggu ini remedial nggak, ya?” Setelah gue ingat-ingat lagi, ulangan harian gue yang tuntas itu terhitung jari. Parah emang, remedial mulu.

Sekarang hidup gue kayak bintang laut: nempel mulu. Di kasur. Selain itu, kerjaan gue yang lain adalah nyentil kunciran keponakan, bukain kulkas setiap sejam sekali, baca buku, dan latihan soal. Gue kurang gerak. Pokoknya benar-benar kangen masa-masa berkeringat itu.

Agar fungsi organ ekskresi tetap seimbang, gue memutuskan untuk bersepeda sebagai aktivitas berkeringat pengganti olahraga berat. Misalnya, smackdown.

Manggul, Bang.


Sudah rutin setiap sore gue bersepeda selama tiga puluh menit. Setelahnya memang badan gue jadi agak enakan. Kalau lagi beruntung, malamnya gue akan tidur pulas. Sementara, bila sedang bernasib sial—ini paling sering terjadi—mengakibatkan susah tidur karena ngerasain kaki pegel-pegel. Hal ini sering gue lakukan, seperti yang pernah gue ceritakan di e-book Kafe WIRDY.

Sepedaan dengan cara gue sangat menyenangkan. Selama tiga puluh menit, gue bisa paling sedikit menyanyikan empat lagu yang gue hafal. Nyanyi sambil bersepeda itu seru bagi gue. Orang-orang di sekitar nggak ada yang peduli, nggak ada yang merhatiin. Walaupun tidak menutup kemungkinan bila ternyata ada Mas Ahmad Dhani ngintilin gue, dalam proses pencarian bakat untuk ngajak gabung Republik Cinta Management.

“Namu kamu siapa, Dek? Saya denger dari belakang, suara kamu bagus banget. Saya nggak nyangka, kamu sanggup sepedaan sambil nyanyi semua album Dewa 19 dari Jakarta ke Trenggalek.”

Sambil nyanyi, kadang gue merhatiin jalan-jalan yang gue lewati. Terus bergumam, “Indomaret baru, nih. Besok ke sini, ah!” Gue perhatikan setiap tempat baru dan melihat wajah para pengendara di jalan. Dari kebiasaan itulah gue menemukan hal-hal yang sebenarnya biasa, tapi entah kenapa malah gue jadiin postingan blog. Yaudahlah, udah terlanjur ditulis. Hahaha.



Macet
Jakarta dan macet ibarat seperti semen dan pasir laut. Keduanya sama-sama menjadi bahan utama pembangun: semen dan pasir laut adalah bahan pembangun rumah, sedangkan Jakarta dan macet adalah kombinasi dalam membuat ORANG JADI STRES!

sumber gambar: starecat.com

Sebenarnya masalah seperti ini bukan hanya ada di Jakarta, melainkan di kota-kota lain. Dan kita, mau nggak mau emang harus siap. Jadi, gimana caranya kita biar nggak tertekan di jalan karena macet.

Kebiasaan yang sering gue lakukan ketika bersepeda terbukti ampuh dalam menjaga mood di jalan. Menyanyi membuat gue nggak stres-stres amat saat macet, dibandingkan ketika gue mengerjakan soal Fisika sambil sepedaan.

Cuma, yang jadi masalah, kenapa ada tipe knalpot yang ngeluarin asap banyak banget? Sebel banget gue kalo lagi sepedaan, di depan gue ada motor yang asepnya tebel banget, kayak bus kopaja atau metromini. Mumpung lagi deket, kadang gue iseng nutupin knalpotnya pake kaki. Sudah selayaknya kamu mendapatkan ini, Bos!

Memang, gue nggak pernah lama nutupin knalpot orang. Paling dua detik. Panas!


Bertemu Orang Lama
Waktu berlalu kian cepat.

Gue sekarang sudah lulus, orang-orang yang gue kenal semakin banyak. Teman-teman yang udah lama banget nggak ketemu, hanya samar-samar gue ingat mukanya. Begitu ketemu orangnya dan melihat mukanya, dalam benak gue, “Perasaan kenal. Siapa ya?”

sumber gambar: giphy.com

Eh, disamber Ibu Susi: “Aduh bodohnya masa nanya lagi. Makanya makan ikan biar pintar.”

Persislah kayak orang pake masker manggil-manggil nama gue. Mau nyapa balik, tapi nggak ngenalin mukanya.

Gue punya kecenderungan mengenal seseorang dari namanya ketimbang wajahnya. Gue nggak inget muka temen TK gue kayak apa dulu, tetapi beberapa waktu yang lalu gue nemu akun Facebook-nya dari mengingat namanya. Bahkan, masih hafal betul nama lengkapnya. Gue melihat fotonya dan mengingat momen-momen dua belas tahun lalu, mengingat mukanya saat itu.

Ah, nggak ingat.

Tapi sore itu, kecenderungan itu nggak benar-benar berlaku. Di jalan yang sedang macet, gue ketemu Erma, adik kelas di SMP. Dulu, waktu awal-awal kenal dan sering chatting, gue belum pernah ketemu dia sebelumnya. Gue hanya kenal dia lewat Blackberry Messenger. Gue kenal dia dari... entahlah. Tiba-tiba nama dia ada di kontak gue.

Zaman itu adalah zaman di saat gue baru punya aplikasi Blackberry Messenger. Karena di kontak nggak banyak nama yang ada, gue suka meng-invite pin-pin yang gue dapat dari broadcast message. Mau kenal atau nggak, gue invite aja. Hahaha.

Cuma foto aja yang bisa mencirikan “Erma itu orangnya yang ini, lho”. Gue nggak pernah benar-benar tau orangnya kayak apa. Itu pun bisa saja, foto yang dia pakai di display picture adalah foto kakaknya.

Dia sedang dibonceng motor. Sebenarnya ini bukan kali pertama gue ketemu dia. Beberapa kali gue ketemu dia hanya sekilas. Lucunya, pertemuan itu selalu terjadi di saat gue bersepeda. Kalau kehidupan gue dijadikan jalan cerita seperti dalam game Harvest Moon yang penuh misteri, karakter gue akan menjadi bahan pembicaraan di forum-forum karena misteri ini.

Petunjuk untuk menemui Erma di jalan: Bersepedalah kamu pada sore hari hingga menjelang Magrib. Maka kamu akan menemukan sesuatu yang ajaib!

Yang jelas ini bukan kali pertama, kedua, dan ketiga gue ketemu dia. Namun, tetap saja gue masih nggak berani negur dia, dan teman-teman lama yang kebetulan bertemu di jalan.



Orang berantem di jalan
Apakah orang-orang yang berantem di jalan adalah efek dari macet?

Sering nggak, sih, nemuin orang-orang yang tanpa mikirin di mana dia saat itu, dengan pedenya, cekcok dengan orang lain di jalan? Uniknya, kasus berantem di jalan paling sering ditemui dalam bentuk “adu bacot”, bukan gulat sumo.

sumber: giphy.com


Contoh kecilnya adalah seperti ilustrasi di bawah ini:

Kamu sedang mengendarai motor, ingin berbelok. Di belakang kamu, seseorang memacu motornya dengan cepat tidak melihat kamu berbelok. Ternyata, lampu sen kamu mati. Orang tadi sangat kesal , lalu membunyikan klakson dengan keras, bahkan mengganggu. Bunyinya “telolet” yang cukup panjang. Setelah adegan sepersekian detik tadi, perjalanan menjadi seperti biasa: kamu berbelok dan orang tadi tetap lurus.

Apa yang terjadi? Kalian sama-sama menggerutu di balik helm dan menoleh satu sama lain, namun sama-sama sudah menjauh.

“Buangsat, klakson ganggu banget!” gusar kamu.

“Goblok, sennya nggak nyala!” katanya jauh di sana.

“Yak, lanjutin aja, lanjutin,” kata gue sambil melet.

Kemudian contoh makronya adalah adu bacot face on face. Paling sering yang gue lihat pelakunya adalah dua orang lawan jenis. Adegannya selalu hampir mirip. Cuma ada beberapa yang membedakan. Propertinya selalu sama: cowok dan cewek, satu motor distandarin, berdiri di pinggir jalan.

Contoh paling baru gue temui kemarin. Gue sedang sepedaan sambil bersenandung dari kejauhan, melihat dua orang lawan jenis adu mulut. Si cowok narik-narik maksa tangan ceweknya. Ceweknya kelihatan mau kabur. Mukanya mau nangis dicampur rasa marah. Namun, si cowok terus menerus mencegat. Karena nggak mungkin sedang main gobak sodor, gue menyimpulkan mereka sedang berantem.

Ada keinginan gue untuk menolong si cewek. Biasalah, naluri lelaki. Selalu ingin dianggap pahlawan.

Dari jauh gue sudah cepat merencanakan strategi membebaskan si cewek dari kekangan cowoknya. Gue pernah lihat ini di adegan Descendants of the Sun. Saat itu Kapten Yoo Si Jin, si jagoan di film ini, berhadapan dengan lawannya yang sedang menyandera pacarnya. Gue lupakan adegan itu karena nggak sedang megang senjata, cuma ada sepeda. Masa iya gue dateng-dateng teriak, “Hei, lelaki bajingan. Berani-beraninya kamu menyakiti wanita. Akan kulempar kamu pake sepeda!”

“Tapi, tunggu dulu,” kata gue menghentikan. “Sebutkan nama-nama ikan.”

Untungnya, gue bukan tipe lelaki yang sering ngumpulin kata-kata romantis. Masa iya gue ujug-ujug teriak, “Hei, lelaki bajingan. Berani-beraninya kamu menyakiti wanita. Akan kuberi kamu... sajak Zarry Hendrik. Tunggu saya stalk Twitternya dulu.”

APAAN. INI MAU NOLONGIN MALAH NGALOR NGIDUL?!

Gue masih ngelihatin si cewek, prihatin dengan nasibnya. Tatapan gue pindah ke cowoknya. Lebih serius dan semakin serius. Dia menatap gue balik. Satu langkah dalam adegan jagoan-nyelametin-sandera sudah dilakukan: tatap-tatapan antara dua lelaki macho.

Sekarang matanya lebih melotot. Makin serem, kayak orang kelaperan.

LAH WOY, GALAKAN DIA!

Gue buru-buru nunduk dan mengayuh pedal dengan cepat. Kabur. Jauh-jauh deh mendingan.

Contoh yang lebih ekstrim dari dua pasangan yang berantem di pinggir jalan juga pernah gue lihat sewaktu di angkot. Gue menengok dari jendela, seorang cewek berusia dua puluhan menjerit-jerit gara-gara si cowoknya... MAU NABRAK-NABRAKIN MOTOR KE DIA.

Sinting. Bener-bener sinting.

--

Di era yang serba mesin ini, apakah kamu masih suka sepedaan sekarang? Kuy sepedaan.


23 komentar:

  1. Tolong yang asapnya ngebul itu ditelen sendiri aja. Gue masih doyan nasi, bukan asap. Apalagi yang knalpotnya ada marching band nya.

    Dikira festival tujuhbelasan apa. Mending kanlpotnya disambung pake headset atau headphone sekalian yang nge bass. Biar telinga dia sendiri yang denger.

    Lah marah" di lapak orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Knalpot ada marching band-nya itu gimana ya, mbak?

      Delete
  2. Aku baca '' Agar organ ekskersi '', kok malah jadi terucap ereksi ya. Ya Allah :(

    Sepedaan. Impian dari dulu banget. Tapi gapernah dilakuin huhuuu.
    Jadi inget pas ke jkt beberapa bulan lalu, ngerasain macet di sore hari jd pengen beristigfar sebanyak mungkin :')

    Ih itu yg cowo cewe berantem di jalanan trus cowonya nabrak-nabrakin motor ke cewenya sok jagoan banget si ah. Harusnya kamu datengin aja, By. Trus kamu bilang, '' tabrak aja aku, jangan dia. ''

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah ngerasain macet Jakarta? Coba cicipin lagi macet di kota lain. Hehehe.

      Nggah lah. Kalau aku yang ditabrak keburu dibawa ke rumah sakit duluan.

      Delete
  3. Bang beliin sepeda dong biar bs sepedaan

    ReplyDelete
  4. tae lah invitein pin orang dari broadcast. Gue seumur-umur pake BBM gak pernah terlintas sedikit pun untuk invite gitu :)))

    ReplyDelete
  5. itu yang gulat sumonya kasian sumpah, kasian yang ketimpa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. FOKUS PADA SEPEDA, YHA. BUKAN SUMO. -_-

      Delete
  6. Segitu ngenesnya apa lu, Rob? Gak banget kan pasti orang yang di-BC gitu. Gue langsung hapus aja chat-chat brodkes. Hahahaha.

    Masih aja ada yang berantem di jalanan, ya. Kebanyakan pacaran di fly over gitu tuh. Wqwq.

    Apaan, sok ngajak naek sepeda. Itu pas gue ajak CFD-an naik sepeda aja nggak jadi-jadi wey! -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kan korban clickbait. Invite aja deh selagi ada. Hehehe.

      Hahaha, sepedaan dari Cengkareng ke Monas atau Senayan gue nggak akan kuat. :')

      Delete
  7. Hahahanjir.Gue juga pernah nemu pasangan yang berantem di pinggir jalan, dan gak ada niat buat nolongin kayak lo, langsung kabur aja. Serem.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener. Mending kabur aja. Keburu dismekdon.

      Delete
  8. Keren juga, Rob. Naik sepedaan sambil nyanyi2. Tapi, kayaknya ngga berguna deh pas Ramadhan. Yang ada bukan sehat, malah mau batal~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyanyi sambil sepedaan nggak bikin batal, bg~

      Delete
  9. Hahhahaa
    apalagi Jakarta + macet + ada orang yang kleksonnya ga brenti-brenti..
    udah pas deh buat stress seharian...

    anyway, gua ga tinggal di Jakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iyak. Kayak dipress di panci presto. :D

      Delete
  10. Masih sukaaaaa, Rob!!!! Aaaaak masih! Tapi sepedanya dah dijual :(

    Setuju banget tuh soal sepedaan sambil nyanyi itu enak. Lagu dari hape. Tapi ribetnya pas pake legging, trus mau gak mau hapenya dipegangin gitu di tangan kiri sambil sepedeaan. Nggak ada kantongnya :(

    Sama kayak Wulan. Aku baca ekskresi jadinya ereksi. Untung baca ini pas belum mulai puasa......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, aku nggak suka sepedaan pake headset. Ribet. Takutnya ketuker kabelnya sama kabel rem. :(

      Yeay. BDSM dulu...

      Delete
  11. haduh, main sepeda. dulu inget banget suka main sesepedahan. pas sd doang tapi. smp smk sampai sekarang mah juga sama sih sesepedaan. sepeda motor. he. he. he. bener kan?

    btw, ngalor ngidul paan si?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu mah sama aja kayak yang lain. Hahaha. Sumber polusi itu!

      Ngalor ngidul itu bahasa Ukraina yang belum dimasukin kamus.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.