01 May 2017

Dua Sisi

Aroma lelehan mentega menyebar ke segala penjuru ruangan. Robby Haryanto tidak mengindahkan aroma enak tersebut. Dia menggosokkan kedua telapak tangan, lalu menaruhnya di atas meja. Lama sekali dia memandangi meja kosong. Serpihan kentang goreng sisa pembeli sebelumnya masih tertinggal. Pelayan sepertinya lupa membersihkan hal-hal sepele. Robby masih menatap mejanya yang kosong.

Dua bocah menjerit berbalas-balasan. Mereka riang berlari ke sana kemari mengejar satu sama lain seperti dua anak kucing bercanda. Beruntung mereka dapat berlarian di tempat makan yang punya tempat lumayan luas ini. Kebetulan lagi, malam ini tidak terlalu ramai. Lebih besar dari mereka, seorang anak perempuan berumur 11 tahun merengek meminta ayam yang masih dalam kuasa ayahnya. Bapak itu cukup tega membiarkan anaknya terus-terusan meminta ayam goreng bagian paha. Wajahnya semringah seperti bayi diberikan biskuit susu.

Robby Haryanto masih tidak bergerak. Matanya masih menatap meja coklat yang sedari tadi tidak ditumpangi apa pun. Masih kosong. Serpihan itu juga masih tergeletak lemah, tak bergerak bersama tetesan minuman bersoda. Ingar-bingar tempat ini tidak sejalan dengan apa yang sedang Robby rasakan sekarang.

***

Aku lupa ini hari Minggu. Tidak seharusnya aku bangun pagi seperti biasanya. Aku melirik jam tangan Casio hitam, jarum jam menunjukkan pukul 06.52. Kereta commuter line akan segera tiba 13 menit lagi. Aku masih berada di area depan stasiun Rawa Buaya kemudian berlari menuju loket. Di peron, sudah ada yang menungguku. Seorang wanita berambut panjang yang memiliki lesung pipi cukup dalam. Aku segera berlari kencang untuk menemui dia.

Sesuai perjanjian tadi malam, aku duduk menunggunya sambil meminum kopi kaleng. Lagu “You” milik Ten2Five aku mainkan melalui smartphone harga dua jutaan. Mataku masih sibuk dan gelisah mencari-cari Eli, menyocokkan warna pakaian yang dia sebutkan semalam di aplikasi pesan instan. Semua orang yang memakai baju abu-abu sudah kupastikan mereka bukan Eli.

***

“Kamu harus percaya kita bisa bertemu lagi.”

“Aku nggak yakin,” ujarnya. Saya terheran dengan sikap pesimisnya akhir-akhir ini. “Kamu mau kuliah di Semarang, aku di Lampung. Jarak kita lebih dari 800 kilometer. Artinya, 800 kali lipat tantangan dalam hubungan kita.”

“Dapat hitungan dari mana?” tanya saya. “Sudah menggunakan rumus kemungkinan dengan tepat? Pikir lagi.”

Suasana mendingin. Saya mencolek kentang goreng yang kehangatannya mulai menghilang ke dalam saus tomat, kemudian melemparkannya ke dalam mulut. Saus tomat cukup hangat menyentuh langit-langit mulut saya.

“Kita, kan, bisa komunikasi dengan banyak cara. Kalau kamu nggak ngerti gunain aplikasi messaging, kamu bisa pakai surat tradisional, kok. Apa kamu sama sekali nggak ngerti main begituan?” kata saya tanpa celah. Kemudian sadar bahwa perkataan saya sedikit merendahkan kepintarannya.

Dia tidak membuka mulut dan wajahnya tampak murung. Botol air mineralnya belum kunjung dibuka hingga bibirnya kering kehausan meminta diguyur air segar. Sedangkan saya sudah mengunyah kentang yang kedua.

***

Aku tidak mendapat kabar dari Eli. Dia sudah lebih dahulu pergi dengan seorang lelaki. Tidak peduli siapa lelaki itu, yang terpenting sudah jelas rencana pergi bersamanya gagal kembali untuk yang kesepuluh—ah, saking banyaknya aku lupa berapa jumlah pastinya. Kesempatan bertatap muka kembali gagal.

Kartu masuk yang seharusnya aku kembalikan di loket stasiun tujuan aku tukarkan di loket keluar stasiun ini. “Lho, nggak jadi, Mas?” tanya penjaga loket yang sepertinya hafal dengan wajahku. Iya, jawabku. Lekas aku menyetop angkutan umum untuk menuju halte Transjakarta, menjalani perjalanan kosong.

***

Saya lupa kemarin hari apa. Pagi ini saya berada di ruang tamu dengan empat orang lainnya, entah di rumah siapa. Kaleng-kaleng minuman soda berserakan di atas karpet. Seingat saya, semalam saya menggenggam sebuah kaleng yang ada di antara kaleng berserakan itu. Saya juga ingat sebuah lelucon yang-tidak-lucu-sama-sekali diucapkan Dani.

“HEY,” katanya pada saya, setengah mabuk. “Kenapa ada ... wanita ... yang kapok membuka hati?” Kami berlima menggelengkan kepala, tidak tahu jawaban atas pertanyaan Dani. Dani menepuk pundakku, “Karena mereka nggak mencoba ... MEMBUKA WARUNG! HA HA HA.”

Kami semua tidak tertawa. Hanya keheningan malam yang menemani tawa keras Dani. Tetapi, setelah saya ingat-ingat lelucon itu pagi ini, saya tersenyum sendirian. Berbarengan dengan munculnya kalimat merendahkan kepintaran wanita bernama Elisa tersebut.

***

Aku lupa besok hari apa. Setelah hari ini gagal pergi dengan Eli, aku tidak ingat besok hari apa.

Tidak terlalu siang untuk menaiki bus Transjakarta. Perjalanan mendadak ini sedikit menghiburku. Para pekerja sudah berangkat pukul 7 tadi, membuat bus tidak terlalu penuh. Hasilnya, aku mendapat tempat duduk yang strategis: di pojok belakang. Tempat yang nyaris tidak akan tergantikan, kecuali seseorang yang memberikannya. Temanku bilang, “Kalau kamu naik Transjakarta, cepat tempati bangku kosong di belakang. Lalu, segeralah tidur.” Saran itu aku terapkan sekarang.

Sembari menyandarkan kepala di kaca, aku mendengarkan lagu lewat earphone. Keringat yang membasahi kaosku tidak terlalu mendominasi baunya di dalam bus. Kaca jendela menjadi lebih dingin karena guyuran hujan di luar. Lima belas menit kemudian aku tertidur.

Ketika terbangun, aku menyadari satu hal: aku kembali ke halte pertama kali aku naik bus. Rupanya sudah memutar balik hingga kembali ke tempat awal. Saking nyenyaknya aku tertidur di dalam bus membuat aku lupa untuk turun. Lagipula, aku pun tidak tahu harus turun dan berhenti di mana. Bila aku turun, sudah dapat ditebak tempat singgahku hanya di tempat itu-itu saja: sebuah restoran cepat saji terbanyak di kota ini.

Kami akhirnya bertemu dalam sebuah pikiran yang kacau. Hari ini merasakan gagalnya pertemuan. Sebuah pertemuan yang teramat penting bagiku untuk meminta maaf. Rasa sesal atas perbuatan malam itu masih menggantung. Harusnya aku mengerti dia, bukannya memakan sepotong kentang goreng. Rencana kuliah di luar kota pun pupus setelah tahu keputusan-Nya memberiku kesempatan berkuliah di kota ini. Eli berhasil mewujudkan impiannya berkuliah di pulau seberang.

Aku bertemu saya dalam sebuah tempat umum, di dalam jiwanya yang sepi dan kepalanya yang ramai. Saling bertukar cerita hingga membuat kepala Robby Haryanto pusing.

16 comments:

  1. Agak bingungin cerita nya ya😂😂😂

    ReplyDelete
  2. Apaan?? Aku bertemu saya? Aku dan saya itu siapa woy!!

    Elisa itu Elisabeth bukan sih??

    Emang enak ya tidur di dalam bus? Sampe kembali ke tempat awal gitu?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum pernah coba? Kalau aku pernah, tapi gak sampai balik lagi ke tempat awal.

      Delete
  3. gue engga deng ekeke engga fokus kali gue ya bacanya :( wheheh

    ReplyDelete
  4. Gue yakin dalam cerita ini ada sebuah pesan moral yang tersirat. Hidup itu pilihan, tinggal bagaimana kita melakoninya aja. Tetap harus ikhlas dan sabar. Iya kan bung?

    ReplyDelete
  5. Kepalnya itu apaan, Rob? Ada di paragraf terakhir. Kepala maksudmu?

    Ciyee khayalan itu akhirnya bisa ketemuan. Makanya gak usah terlalu dipikirin itu tokoh-tokohnya. Wqwqwq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, sip. Udah dibenerin. Makasih yak.

      Weh, ini bahas orang yang itu, ya? Jangan.

      Delete
  6. Enak nih Robby cerpennya. Bebas banget cara Lo ceritainnya. Yang kalimat terakhir, "aku bertemu saya.." ga kepikiran gue

    ReplyDelete
  7. tolong nama karakter ceweknya diganti, gue kepikiran Eli itu... Eli Sugigi. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah denger, cuma kok lupa ya. *googling*

      Delete
  8. Leluconnya dani cukup menghibur. Walaupun awalnya gak langsung ketawa tapi malah mikir keras dulu. Habis itu baru ngakak miris :|

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.