28 May 2017

"Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa."

Kalimat itu muncul dari Icha Hairunnisa di grup chat WIRDY. Tentunya gue ngangguk-ngangguk setelah bacanya, sambil bergumam, “Ngomong apaan, sih, ini orang?”

Dia bilang BDSM punya arti yang sebenarnya, yaitu... SILAKAN GOOGLING SENDIRI. Muahaha. Gue ragu buat nyari tau. Berdasarkan pengalaman selama kenal dia, apa-apa yang dia tau itu aneh-aneh. Kalau gue nekat buat nyari tahu, tetep aja nggak akan ngerti. Salah satu contohnya adalah rekomendasi film yang gue nggak paham. Huhuhu.

Coba cari, ya. Kalau udah tau, tulis di kolom komentar.


Itu BDSM versi dia. Kalau versi gue, mengingat kini sudah masuk bulan Ramadan, artinya berubah: Berbahagia Dan Sangat Menantikan.

(Agak maksa, sih. Emangnya “dan” itu boleh ditulis kapital [huruf besar] selain di awal kalimat? Hehehe.)

Kita pasti punya alasan kenapa sangat menantikan Ramadan.

Ada yang senang karena bisa ketemu banyak makanan enak. Ada yang senang karena bisa ketemu keluarga. Dan masih banyak alasan yang berbeda-beda.

Sejak kecil, gue sudah terbiasa untuk—minimal—bahagia dalam menyambut Ramadan. Gue berusaha menumbuhkan kebahagiaan sekecil apa pun dalam hati ini. Meskipun kebahagiaan itu bentuknya sangat sederhana, sesederhana dibayarin main Winning Eleven di rental PS2. Walaupun, pulang-pulang puasa gue batal karena nggak sengaja makan buah markisa.

Buahnya nggak terlalu besar. Kecil. Cuma segede kemiri. Sekarang, setelah mengerti sedikit tentang buah-buahan, gue benar-benar merasa kotor karena makan buah yang belum matang itu. Sampai di rumah gue cerita ke Mama. Mengetahui sebab gue batal puasa, Mama ngomel, “Ih, itu, kan, makanan ulet. Kenapa batal cuma karena makanan kecil, apalagi itu bukan makanan manusia?!”

Aku hina. Kenyang nggak, puasa batal.

Padahal, itu pun gue nggak sengaja. Teman gue yang membuat gue tergoda untuk ikutan makan. Dedi bilang, “Itu apaan, tuh?” Lalu dia mengendus buah yang baru saja dia petik (jangan membayangkan anjing saat melacak). Dia menjilati buah kecil itu. Ryan, teman gue yang lain, ikut-ikutan metik buah laknat itu. Dia nawarin ke gue, dan tanpa mengingat waktu itu sedang berpuasa gue menerimanya. Memasukannya ke mulut dan merasakan buah itu. Rasanya pahit.

YA LAGIAN BUAH PENTIL GITU DIMAKAN.

Karena kepalang tanggung, gue batalin aja sekalian. Jajan kacang atom di warung dekat rumah. Kata guru ngaji gue nggak apa kalau makan tanpa sadar. Lah, gue malah diterusin batalnya. Emang udah niat kali, yak.

Itu salah satu pengalaman gue batal puasa. Selebihnya: karena laper (biasalah namanya anak-anak) dan sok-sokan main bola siang-siang.

Tetapi, gue janji pada diri gue buat lebih baik tahun depan.

Gue bertekad untuk terus memperbaiki apa yang kurang di Ramadan tahun ini. Bagi gue, Ramadan adalah sarana menempa dan memperbaiki, sekaligus meningkatkan kualitas ibadah kita.

Kilas balik selama satu tahun ini. Gue merasakan periode 2017 adalah masa-masa berat bagi gue. Dimulai dari ketemu hal-hal nggak enak pas kelas 12: ujian, tekanan nilai rapor, takut nggak lulus; ketakutan akan kelanjutan studi selanjutnya; dan kegagalan mendapatkan apa yang gue inginkan di umur 17. Umur yang katanya ambisi dan keinginan sedang membara, tetapi rapuh dan gampang kecewa bila gagal.

Setelah capek sok tegar buat ngadepin sendiri, akhirnya gue kembali sadar pada kodratnya manusia, bahwa kita hanyalah makhluk yang kecil dan lemah. Semakin dewasa, kita semakin sering merasa gagal dan kecewa. Namun, bukan karena itu kita langsung nyerah buat ngejar apa yang kita mau.

Ramadan tahun ini sangat gue harapkan bisa menjadi momen emas untuk memperbaiki diri dan mengevaluasi apa yang kurang dari bulan-bulan sebelumnya. Makanya, gue bahagia dan sangat menantikan datangnya Ramadan untuk mencari keberkahan sebanyak-banyaknya.

--

Entri ini ditulis dalam rangka proyekan WIRDY, yaitu membuka tulisan dengan kalimat “Aku suka BDSM: beribadah, dakwah, salat, mengaji; apalagi ketika bulan puasa”, lalu dikembangkan menjadi tulisan yang sesuka hatinya. Lihat aja gue, cuma kayak tempelan doang. Hahaha.

Baca juga tulisan BDSM lainnya: punya Icha di sini: cerpennya Yoga Gadis Macan; dan kerinduannya Wulan.

Siapa pun bisa ikutan buat ngeramein dasbor blog. Buat yang mau ikutan, silakan baca rulesnya di blognya Yoga Akbar.

23 May 2017

Saat ini, kegiatan sehari-hari gue habiskan di rumah. Penuh kejenuhan, tanpa pekerjaan yang benar-benar bikin capek. Dulu, semasa sekolah, gue sering dihadapkan dengan aktivitas yang menguras keringat, seperti jalan cepat biar bisa naik bus sekolah, lari biar nggak telat masuk sekolah, ngejar teman terus nepok pundaknya dari belakang, dan nungguin hasil ulangan. Percayalah, kegiatan terakhir itu selalu bikin keringetan dan penasaran, “Minggu ini remedial nggak, ya?” Setelah gue ingat-ingat lagi, ulangan harian gue yang tuntas itu terhitung jari. Parah emang, remedial mulu.

Sekarang hidup gue kayak bintang laut: nempel mulu. Di kasur. Selain itu, kerjaan gue yang lain adalah nyentil kunciran keponakan, bukain kulkas setiap sejam sekali, baca buku, dan latihan soal. Gue kurang gerak. Pokoknya benar-benar kangen masa-masa berkeringat itu.

Agar fungsi organ ekskresi tetap seimbang, gue memutuskan untuk bersepeda sebagai aktivitas berkeringat pengganti olahraga berat. Misalnya, smackdown.

Manggul, Bang.


Sudah rutin setiap sore gue bersepeda selama tiga puluh menit. Setelahnya memang badan gue jadi agak enakan. Kalau lagi beruntung, malamnya gue akan tidur pulas. Sementara, bila sedang bernasib sial—ini paling sering terjadi—mengakibatkan susah tidur karena ngerasain kaki pegel-pegel. Hal ini sering gue lakukan, seperti yang pernah gue ceritakan di e-book Kafe WIRDY.

Sepedaan dengan cara gue sangat menyenangkan. Selama tiga puluh menit, gue bisa paling sedikit menyanyikan empat lagu yang gue hafal. Nyanyi sambil bersepeda itu seru bagi gue. Orang-orang di sekitar nggak ada yang peduli, nggak ada yang merhatiin. Walaupun tidak menutup kemungkinan bila ternyata ada Mas Ahmad Dhani ngintilin gue, dalam proses pencarian bakat untuk ngajak gabung Republik Cinta Management.

“Namu kamu siapa, Dek? Saya denger dari belakang, suara kamu bagus banget. Saya nggak nyangka, kamu sanggup sepedaan sambil nyanyi semua album Dewa 19 dari Jakarta ke Trenggalek.”

Sambil nyanyi, kadang gue merhatiin jalan-jalan yang gue lewati. Terus bergumam, “Indomaret baru, nih. Besok ke sini, ah!” Gue perhatikan setiap tempat baru dan melihat wajah para pengendara di jalan. Dari kebiasaan itulah gue menemukan hal-hal yang sebenarnya biasa, tapi entah kenapa malah gue jadiin postingan blog. Yaudahlah, udah terlanjur ditulis. Hahaha.



Macet
Jakarta dan macet ibarat seperti semen dan pasir laut. Keduanya sama-sama menjadi bahan utama pembangun: semen dan pasir laut adalah bahan pembangun rumah, sedangkan Jakarta dan macet adalah kombinasi dalam membuat ORANG JADI STRES!

sumber gambar: starecat.com

Sebenarnya masalah seperti ini bukan hanya ada di Jakarta, melainkan di kota-kota lain. Dan kita, mau nggak mau emang harus siap. Jadi, gimana caranya kita biar nggak tertekan di jalan karena macet.

Kebiasaan yang sering gue lakukan ketika bersepeda terbukti ampuh dalam menjaga mood di jalan. Menyanyi membuat gue nggak stres-stres amat saat macet, dibandingkan ketika gue mengerjakan soal Fisika sambil sepedaan.

Cuma, yang jadi masalah, kenapa ada tipe knalpot yang ngeluarin asap banyak banget? Sebel banget gue kalo lagi sepedaan, di depan gue ada motor yang asepnya tebel banget, kayak bus kopaja atau metromini. Mumpung lagi deket, kadang gue iseng nutupin knalpotnya pake kaki. Sudah selayaknya kamu mendapatkan ini, Bos!

Memang, gue nggak pernah lama nutupin knalpot orang. Paling dua detik. Panas!


Bertemu Orang Lama
Waktu berlalu kian cepat.

Gue sekarang sudah lulus, orang-orang yang gue kenal semakin banyak. Teman-teman yang udah lama banget nggak ketemu, hanya samar-samar gue ingat mukanya. Begitu ketemu orangnya dan melihat mukanya, dalam benak gue, “Perasaan kenal. Siapa ya?”

sumber gambar: giphy.com

Eh, disamber Ibu Susi: “Aduh bodohnya masa nanya lagi. Makanya makan ikan biar pintar.”

Persislah kayak orang pake masker manggil-manggil nama gue. Mau nyapa balik, tapi nggak ngenalin mukanya.

Gue punya kecenderungan mengenal seseorang dari namanya ketimbang wajahnya. Gue nggak inget muka temen TK gue kayak apa dulu, tetapi beberapa waktu yang lalu gue nemu akun Facebook-nya dari mengingat namanya. Bahkan, masih hafal betul nama lengkapnya. Gue melihat fotonya dan mengingat momen-momen dua belas tahun lalu, mengingat mukanya saat itu.

Ah, nggak ingat.

Tapi sore itu, kecenderungan itu nggak benar-benar berlaku. Di jalan yang sedang macet, gue ketemu Erma, adik kelas di SMP. Dulu, waktu awal-awal kenal dan sering chatting, gue belum pernah ketemu dia sebelumnya. Gue hanya kenal dia lewat Blackberry Messenger. Gue kenal dia dari... entahlah. Tiba-tiba nama dia ada di kontak gue.

Zaman itu adalah zaman di saat gue baru punya aplikasi Blackberry Messenger. Karena di kontak nggak banyak nama yang ada, gue suka meng-invite pin-pin yang gue dapat dari broadcast message. Mau kenal atau nggak, gue invite aja. Hahaha.

Cuma foto aja yang bisa mencirikan “Erma itu orangnya yang ini, lho”. Gue nggak pernah benar-benar tau orangnya kayak apa. Itu pun bisa saja, foto yang dia pakai di display picture adalah foto kakaknya.

Dia sedang dibonceng motor. Sebenarnya ini bukan kali pertama gue ketemu dia. Beberapa kali gue ketemu dia hanya sekilas. Lucunya, pertemuan itu selalu terjadi di saat gue bersepeda. Kalau kehidupan gue dijadikan jalan cerita seperti dalam game Harvest Moon yang penuh misteri, karakter gue akan menjadi bahan pembicaraan di forum-forum karena misteri ini.

Petunjuk untuk menemui Erma di jalan: Bersepedalah kamu pada sore hari hingga menjelang Magrib. Maka kamu akan menemukan sesuatu yang ajaib!

Yang jelas ini bukan kali pertama, kedua, dan ketiga gue ketemu dia. Namun, tetap saja gue masih nggak berani negur dia, dan teman-teman lama yang kebetulan bertemu di jalan.



Orang berantem di jalan
Apakah orang-orang yang berantem di jalan adalah efek dari macet?

Sering nggak, sih, nemuin orang-orang yang tanpa mikirin di mana dia saat itu, dengan pedenya, cekcok dengan orang lain di jalan? Uniknya, kasus berantem di jalan paling sering ditemui dalam bentuk “adu bacot”, bukan gulat sumo.

sumber: giphy.com


Contoh kecilnya adalah seperti ilustrasi di bawah ini:

Kamu sedang mengendarai motor, ingin berbelok. Di belakang kamu, seseorang memacu motornya dengan cepat tidak melihat kamu berbelok. Ternyata, lampu sen kamu mati. Orang tadi sangat kesal , lalu membunyikan klakson dengan keras, bahkan mengganggu. Bunyinya “telolet” yang cukup panjang. Setelah adegan sepersekian detik tadi, perjalanan menjadi seperti biasa: kamu berbelok dan orang tadi tetap lurus.

Apa yang terjadi? Kalian sama-sama menggerutu di balik helm dan menoleh satu sama lain, namun sama-sama sudah menjauh.

“Buangsat, klakson ganggu banget!” gusar kamu.

“Goblok, sennya nggak nyala!” katanya jauh di sana.

“Yak, lanjutin aja, lanjutin,” kata gue sambil melet.

Kemudian contoh makronya adalah adu bacot face on face. Paling sering yang gue lihat pelakunya adalah dua orang lawan jenis. Adegannya selalu hampir mirip. Cuma ada beberapa yang membedakan. Propertinya selalu sama: cowok dan cewek, satu motor distandarin, berdiri di pinggir jalan.

Contoh paling baru gue temui kemarin. Gue sedang sepedaan sambil bersenandung dari kejauhan, melihat dua orang lawan jenis adu mulut. Si cowok narik-narik maksa tangan ceweknya. Ceweknya kelihatan mau kabur. Mukanya mau nangis dicampur rasa marah. Namun, si cowok terus menerus mencegat. Karena nggak mungkin sedang main gobak sodor, gue menyimpulkan mereka sedang berantem.

Ada keinginan gue untuk menolong si cewek. Biasalah, naluri lelaki. Selalu ingin dianggap pahlawan.

Dari jauh gue sudah cepat merencanakan strategi membebaskan si cewek dari kekangan cowoknya. Gue pernah lihat ini di adegan Descendants of the Sun. Saat itu Kapten Yoo Si Jin, si jagoan di film ini, berhadapan dengan lawannya yang sedang menyandera pacarnya. Gue lupakan adegan itu karena nggak sedang megang senjata, cuma ada sepeda. Masa iya gue dateng-dateng teriak, “Hei, lelaki bajingan. Berani-beraninya kamu menyakiti wanita. Akan kulempar kamu pake sepeda!”

“Tapi, tunggu dulu,” kata gue menghentikan. “Sebutkan nama-nama ikan.”

Untungnya, gue bukan tipe lelaki yang sering ngumpulin kata-kata romantis. Masa iya gue ujug-ujug teriak, “Hei, lelaki bajingan. Berani-beraninya kamu menyakiti wanita. Akan kuberi kamu... sajak Zarry Hendrik. Tunggu saya stalk Twitternya dulu.”

APAAN. INI MAU NOLONGIN MALAH NGALOR NGIDUL?!

Gue masih ngelihatin si cewek, prihatin dengan nasibnya. Tatapan gue pindah ke cowoknya. Lebih serius dan semakin serius. Dia menatap gue balik. Satu langkah dalam adegan jagoan-nyelametin-sandera sudah dilakukan: tatap-tatapan antara dua lelaki macho.

Sekarang matanya lebih melotot. Makin serem, kayak orang kelaperan.

LAH WOY, GALAKAN DIA!

Gue buru-buru nunduk dan mengayuh pedal dengan cepat. Kabur. Jauh-jauh deh mendingan.

Contoh yang lebih ekstrim dari dua pasangan yang berantem di pinggir jalan juga pernah gue lihat sewaktu di angkot. Gue menengok dari jendela, seorang cewek berusia dua puluhan menjerit-jerit gara-gara si cowoknya... MAU NABRAK-NABRAKIN MOTOR KE DIA.

Sinting. Bener-bener sinting.

--

Di era yang serba mesin ini, apakah kamu masih suka sepedaan sekarang? Kuy sepedaan.

19 May 2017

Aku berkedip-kedip, berusaha mencari tahu di mana sebenarnya aku sekarang. Aku merasakan permukaan empuk yang menahan punggungku. Aku melihat ke sebelah kanan, Iqbal sedang tidur setengah telanjang. Aku merasa tidak sadarkan diri karena terjaga menemani malamnya. Padahal, pukul 7 nanti aku harus menemani Iqbal ke kantornya. Menemani setiap kegiatannya mulai dari sarapan hingga makan siang. Segala cuaca: dari panas hingga hujan. Semua aku lakukan atas nama persahabatan.

Persahabatan? Entahlah. Lebih dari itu, mungkin. Dapat dikatakan juga ke hubungan yang lebih intim.

Sumber: pixabay.com

Aku berteman baik dengan Iqbal sejak tiga tahun lalu. Aku ingat betul momen saat kami bertemu. Pertemuan di sebuah gerai ponsel di mal dekat kantor tempat Iqbal bekerja. Di antara ramainya teman-temanku, Iqbal mendekati aku yang sedang tidak berbicara dengan siapa-siapa. Iqbal melirikku yang masih sendiri, lalu dia menghampiriku dan meninggalkan teman wanitanya. Sebuah pertemanan yang kami mulai sejak itu hingga kini masih awet.

Pada suatu malam Iqbal mengaku kepadaku bahwa dirinya merasa cocok berteman denganku. Sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan lebih kepadanya. Aku hanya berperilaku apa adanya, tanpa sesuatu yang dibuat-buat. Begitulah aku yang sebenarnya. Juga yang teman-temanku akui padaku. Mungkin itulah alasan mengapa Iqbal selalu mengajakku pergi ke mana pun dia mau.

Terkadang kalau Iqbal memiliki uang lebih dia rela membelikanku pakaian baru. Katanya, agar aku lebih cantik. Tetapi, entah mengapa ungkapan “lebih cantik” tidak pernah terdengar menyenangkan di telingaku. Bagiku, menjadi lebih cantik bukan karena pakaian baru atau apalah itu. Cantik menurutku ketika aku berhasil menjadi pusat perhatian semua orang sampai mereka menggila-gilaiku. Untuk saat ini, Iqbal saja yang mencintaiku teramat. Menurutku saja, mungkin.

Suatu siang, Iqbal mengajak rekan kantornya makan siang di sebuah kafe. Teman-temannya Iqbal kebanyakan seorang perokok. Aku merasa kurang nyaman bila berada di antara kepulan asap yang mereka embuskan. Aku ingin pulang namun selalu lupa membawa uang pulang naik taksi.

“Bro, besok tahu nggak hari apa?” tanya Roni, temannya Iqbal.

“Selasa,” jawab Samuel.

“Yah, Sam nggak peka, nih.”

“Besok itu tepat setahun kita kerja bareng!” seru Iqbal membenarkan. Dia memang hebat dalam mengingat tanggal-tanggal penting. Karena itulah aku semakin menyukai Iqbal.

“Hahaha. Oh, iya. Nggak terasa, ya.”

Setelah menghabisi makanan, mereka kembali ke kantor. Napasku terseok-seok ketika harus berhadapan dengan asap yang menari-nari dan hampir mencekikku.

Keesokan harinya, aku diajak Iqbal ke sebuah restoran cepat saji. Kami hanya berdua; bermesraan. Iqbal selalu saja senyum-senyum ketika menatapku. Aku hanya terdiam, padahal jauh di bagian dariku yang terdalam ada sesuatu yang membuatku bergetar sehingga hangatnya dapat kurasakan. Aku yakin, Iqbal pun dapat merasakan hangatnya ketika tangannya menggenggamku. Iqbal masih saja tersenyum di hadapanku yang terus bercahaya ini.

Tidak lama setelah adegan mesra itu datang seorang wanita berambut panjang dengan tas tali tas menggantung di bahu kirinya. Dia menyapa Iqbal dari jarak empat meter dari tempat kami duduk. Suranya begitu halus seperti lengannya yang penuh perawatan. Aku mengira-ngira perawatannya pasti mahal untuk mendapatkan kulit sehalus itu. Mandi susu kambing, minum air langsung dari sumber mata airnya, dan tidur malam yang cukup.

“Duduk aja di sini. Kosong.”

Wanita itu segera duduk di hadapan Iqbal. Perbincangan-perbincangan di antara mereka mulai membuatku geram. Aku merasakan tubuhku dingin sewaktu dua orang di meja ini asyik berbincang. Mereka membicarakan bagaimana pengalaman masing-masing saat SMA. Aku berusaha tak acuh terhadap percakapan ini. Namun, mau tidak mau aku terpaksa mengdengarkan detail pengalaman mereka.

Wanita itu namanya Salma. Aku mengetahui dari seringnya Iqbal memanggil wanita itu dengan sebutan Salma. Percakapan yang cukup mesra, seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Namun, sepertinya percakapan mereka tidak berlangsung lama sebab Iqbal menelantarkan obrolan seru dengan Salma. Dia menenggelamkan perkataan Salma dengan fokus pada hal lain.

Kini tangannya menggerayangi tubuhku di balik ketidaktahuan Salma, kekasihnya. Tak lama Salma menyadari hal ini.

“Iqbal!” seru wanita itu. “Aku lagi ngomong sama kamu.”

“Hhmm, iya.”

“WOY, IQBAL!”

“Iya, iya.”

“Hapenya taruh dulu dong!” Wanita itu terus menerus memaksa Iqbal menuruti perkataannya, tetapi Iqbal tidak menggubrisnya. Tubuhku panas dan kian melemah.

Iqbal melepaskanku dari genggamannya seraya menepuk jidat. “Ah, lupa bawa charger lagi. Kamu bawa charger?” Salma menggeleng dan berkata dengan tegas, “Nggak!”

17 May 2017

Kayaknya mulai sekarang gue ngerti deh rasanya nganggur kayak gimana. Selepas ujian nasional, selama sebulan penuh gue masih punya kerjaan ke bimbel buat persiapan SBMPTN. Selama sebulan itu juga mikirin, “Sekarang serem amat yak hidup gue?” Ngelihat temen-temen yang udah lolos jalur undangan kadang ngiri. Ngerasa “kok dia hidupnya udah enak banget?”. Pulang bimbel, ngelewatin SMA ngintip-ngintip ke dalamnya, terus sedih.

Semoga aja tahun ini gue lolos SBMPTN biar bisa kuliah. Itu harapan gue.

Nah, hari pertama setelah tes SBMPTN gue udah mulai ngerasain sampai sebulan ke depan gue bakal menghadapi banyak kekosongan jadwal. Di rumah ketemunya buku-buku soal yang belum gue beresin, kulkas—yang entah setiap berapa menit sekali gue tengokin, dan magic com. Sekarang ngerasain banget bosan itu rasanya kayak apa. Beruntung pernah mengenal blog, akhirnya gue ngetik postingan ini deh di laptop.

(Anjay! Tagline itu disebutkan. Hahaha.)

Sebelum ujian nasional, gue sudah mempersiapkan banyak buku untuk dibaca saat momen-momen seperti ini. Gue sudah memprediksi, saat bosan nanti gue akan menjadikan buku sebagai pengusir kesepian. Nyatanya, gue malah buka laptop nontonin film Norwegian Wood untuk kali kedua. Terus ngerasa, apa yang Watanabe (tokoh utama di film ini) lakukan itu bener-bener kosong. Baca buku melulu malah ngerasa jauh dari kehidupan. Seperti yang gue baca di sebuah blog berisikan review buku Dengarlah Nyanyian Angin (terjemahan The Wind-up Bird Chronicle), ada sebuah quote yang ditulis di blog tersebut:

"Kamu justru semakin terasing kalau membaca buku."

Mungkin, kegiatan baca buku bisa ditunda dulu.

Karena kekosongan ini juga membuat gue kepikiran banyak banget hal-hal yang kenapa harus dipikirin. Nah, bingung, kan? Apalagi gue yang mikirin hal ini sampai-sampai kenapa bisa kepikiran.

Gue lagi kepikiran tentang adanya sesuatu pengganti yang nggak pernah kita dapatkan dulu.

Begini. Pasti masing-masing di antara kita punya keinginan. Entah itu ingin banget atau ingin yang biasa-biasa saja. Saking ngebetnya, kita nggak sabaran buat dapatin apa yang kita inginkan. Maunya hari cepet-cepet aja berganti, padahal seprai kasur udah dua bulan nggak diganti. Menjelang hari-hari terakhir mendapatkan apa yang kita nanti sejak lama, ternyata lepas begitu aja.

Dulu gue pernah begitu. Gue pernah ngajak seseorang buat main bareng. Kita udah janjian hampir tiga minggu sebelumnya, lalu beberapa hari mendekati waktu yang ditentukan janji main bareng dibatalkan tanpa alasan. Gue nggak tau apa alasannya, yang jelas nyesek pasti ada. Namanya udah direncanain sejak lama terus dibatalin begitu aja, rasanya pasti kecewa. Terus akhirnya gimana?

YA GUE DELETE CONTACT-NYA LAH! HEHEHE.

Nggak sesadis itu juga, sih. Cuma jadinya gue kapok aja kalau ngajak orang main bareng.

(Oke, itu adalah salah satu alasan gue membuat label ROBBY BENCONG di blog ini.)

Secara ajaib, beberapa hari yang lalu gue mendapatkan penggantinya.

Rencana gue dengan orang itu persis, bahkan sama seperti apa yang dulu gue rencanakan bersama orang itu. Gue duduk di hadapan seseorang ini, menyedot minuman bersoda sambil menyimpulkan sesuatu, “Oh, mungkin dia penggantinya.”

“Makan dulu, tuh,” katanya membuyarkan lamunan gue.

Gue cuma tersenyum. Jadi sadar, apa yang gue inginkan dulu berarti hanyalah ingin yang biasa saja. Apa yang gue ingin lakukan bersama seseorang, malah terlaksana sama seseorang yang lain. Apakah dia substitusinya?

10 May 2017

Sako terus menerus memaksaku pergi ke tanah lapang. Dia bilang, di sana sudah banyak pelajar SMA berkumpul mengadakan pesta kelulusan. Tiga SMA di sekitar sekolah kami bergabung menjadi satu berada di tengah lapangan yang sengaja disewa untuk keperluan pesta. Aku enggan ke sana karena tidak memberikan uang donasi.

Sumber: kumparan.com

“Aku tidak ikut membayar iuran, bagaimana bisa ikut?”

Sako menggelengkan kepala. “Ayolah. Di sana banyak teman-teman sekolah kita. Saya yakin mereka masih mengingat kita, lalu memberi kita segelas sirup kokopandan.”

Aku tetap tidak yakin untuk hadir dalam pesta itu. Hanya aku dan Sako yang masih tersisa di sekolah setelah tadi pagi pengumuman kelulusan dikumandangkan kepala sekolah bahwa kami lulus seratus persen. Bukan waktu yang singkat mengingat ini adalah tahun keempatku berseragam putih abu-abu. Satu tahun tinggal kelas membuat aku merasa hidup di sekolah ini terlalu lama.

“Bagaimana?” tanya Sako mengagetkanku. Teman sebangkuku ini adalah tipe anak yang dapat menyentuh berbagai kalangan. Dia bermain bersama kalangan atas dan bermain dengan orang-orang pembaca komik seperti kami. Sako berprinsip tidak ingin melihat orang-orang yang ada di sekitarnya bersedih.

“Bagaimana, ya?” gumamku ragu. “Aku tidak punya keinginan pergi ke sana. Aku hanya punya rencana mengadakan pesta memasak sendiri di rumah nanti malam.”

“Bukannya kamu tinggal sendiri di rumah? Bersama siapa kamu mengadakan pesta?” tanya Sako bertubi-tubi. “Kalau masak dan makan untuk sendiri, itu bukan pesta namanya.”

Aku terdiam. Niat awalku mengadakan pesta kecil adalah mengajak Sako bergabung. Namun, sepertinya dia akan pergi ke tanah lapang.

***

Sako memboncengku ke toko material. Dia ingin membeli cat tembok untuk mengantisipasi dinding rumahnya dicoret-coret pelajar. “Ini yang saya tidak suka,” keluhnya. “Mereka seharusnya menyemprotkan cat di atas seragam mereka, bukan di dinding rumah saya.”

Satu tahun lalu, aku pernah melihat gerombolan pelajar sedang mencoret-coret di tembok kantor kecamatan. Mereka menuliskan julukan sekolah mereka di sana. Ada satu coretan yang familiar dan paling membekas dalam ingatanku, yaitu sebuah coretan yang berisikan reaksi Haber-Bosch. Sebuah reaksi pembuatan amonia tersebut ditorehkan dengan menggunakan cat semprot warna kuning. Coretan itu tidak pernah dihapus hingga tiga bulan sampai-sampai setiap berangkat sekolah aku selalu memandangi coretan itu sambil menghafalnya.

Sako memintaku membawa satu ember kecil cat tembok warna hitam di belakang. Dia memacu motornya dengan cepat dan meninggalkan cat di rumahnya. Lalu kami bergegas pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk pesta memasak nanti malam.

Barang belanjaan sudah penuh. Tidak biasanya aku membawa sayur dan bumbu-bumbu sebanyak ini. Bubuk kari, bumbu rendang, lada, dan bumbu-bumbu beraroma tajam berhasil kami dapatkan. Aku pun belum tahu ingin memasak seperti apa. Hanya berbekal kemampuan membuat masakan manusia yang dapat aku andalkan.

“Robby, kita ingin memasak apa sebenarnya?” Sako bingung dengan pesta memasak yang terkesan mendadak ini. Tanpa tujuan, tanpa banyak persiapan ini itu. Yang terpenting hanyalah: ada bahan, ada sesuatu yang disajikan.

Sambil menunggu malam, aku menonton acara reality show di televisi rumahku. Tidak benar-benar kupahami apa makna acara tersebut. Dua orang sok tahu—mengaku sebagai konsultan cinta—menolong seorang klien yang kebingungan akan jalan cintanya. Kekasih si klien ketahuan selingkuh sehingga dia marah besar. Persoalan semakin rumit setelah si klien adu mulut dengan selingkuhan kekasihnya. Padahal, mudah saja bagiku bila aku berada dalam posisi si klien. Aku pergi meninggalkan mereka berdua, lalu keesokan harinya seharian membaca buku di perpustakaan kota hingga mataku miopi.

Sako sendiri asyik membaca majalah olahraga lama. Aku lupa untuk menumpuknya di dalam kardus berisi koran dan majalah lamaku di sana dan dijual ke pembeli barang bekas. Terakhir kali aku menjual koran dan majalah bekas, aku mendapatkan uang yang cukup untuk biaya hidupku dan membayar sewa rumah selama dua bulan. Kemudian aku menyesali akan satu hal setelah ijazah SD dan SMP milikku ikut terjual.

Aku bertanya, “Kamu sudah bilang orang tuamu akan menginap di sini?” Dia hanya menganggukkan kepalanya. Kali ini sebuah novel milikku yang dia baca. Entah dari mana dia dapatkan.

“Hei, Robby,” Sako memanggilku, “bukumu ini bagus sekali. Tentang pertanian.”

“Begitulah,” aku setuju. “Itulah alasanku ingin menjadi petani.”

Dalam buku itu, kumpulan cerpen yang aku lupa apa judulnya, diceritakan seorang lelaki yang tidak punya latar belakang dalam pertanian mencoba peruntungannya di bidang itu. Bertahun-tahun dia mempelajari cara membuat komposisi pupuk yang baik, mencoba menyambungkan dua batang tanaman berbeda, hingga membedah kulit buah durian untuk mendapatkan kualitas buah terbaik. Baginya, buah durian adalah buah surga, meskipun kulitnya tidak sempurna—sehalus—buah lain.

Lelaki itu terpaksa mengeluarkan banyak uang demi eksperimen dalam hidupnya tersebut. Dalam satu bagian juga diceritakan dia sempat memakan rumput liar di hutan. Kehidupannya benar-benar sengsara demi menekuni sebuah bidang. Hingga akhirnya penantian bertahun-tahun berbuah hasil. Buah mentimun kecil muncul di atas lahan pertaniannya. Dia rawat baik-baik sampai buahnya besar. Setelah besar dia masak dan itulah buah pertama dan terakhir yang berhasil dia nikmati dari perjuangannya sebagai petani. Dia mati setelah memakan mentimun mentah-mentah, tanpa dicuci.

Aku memotong-motong sayur untuk dijadikan sup. Tidak tahu apakah bumbu dan sayuran yang aku beli di pasar ini benar atau tidak untuk memasak sup. Sako pun tidak memberi sanggahan karena dia sendiri tidak mengerti tentang memasak.

Air sudah mendidih. Aku memasukkan bumbu ke dalam panci. “Apa yang belum?” tanya Sako.

Aku menunjuk baskom berisi sayuran yang sudah dipotong-potong, lalu memasukkannya ke dalam panci.

“Aku lupa akan satu hal,” kataku teringat sesuatu.

“Apa?”

Aku bergegas berlari menuju kamar tamu. Aku menghampiri tas dan mengambil sesuatu di dalamnya dan berlari kembali ke dapur. Menyobeknya menjadi beberapa bagian kecil dan memasukkan ke dalam panci.

“ROBBY!” teriak Sako. “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku ingin seperti petani itu,” jawabku santai. “Menikmati hasil dari buah perjuanganku.”

Sebuah ijazah SMA yang aku terima tadi pagi teraduk bersama sayuran di dalam sup. Semangkuk sup ijazah kami santap malam itu. “Bagaimana rasanya?” tanyaku pada Sako.


Sako mengoyak kertas ijazah dengan gigi taringnya dan mengunyah perlahan seperti memakan daging rusa. “Rasanya seperti diludahi guru killer.”

06 May 2017

Gue bingung harus ke mana. Setelah turun dari halte Mangga Besar, gue harus tetap ngirit baterai Mifi Bolt—satu-satunya harapan untuk tersambung ke internet—yang tersisa satu batang. Heran. Setiap kali gue butuh benda ini sebagai modal menuju lokasi try out pasti selalu kehabisan baterai. Padahal, gue selalu mengisi baterainya dari malam. Tetapi, kenapa pada pagi harinya baterai tersisa satu batang? Ini masih menjadi misteri.

(Baca juga cerita gue dalam menghadapi kehabisan baterai Bolt habis di sini: Karena Peka Itu Harus)

Satu senjata gue untuk sampai ke lokasi try out adalah Google Maps. Karena untuk membuka aplikasi ini harus menggunakan koneksi internet, gue harus berhati-hati dalam menggunakan Mifi agar tidak cepat habis. Lalu yang gue lakukan adalah seperti ini: jalan 20 meter, nyalain Maps – ingetin bakal belok ke mana – jalan lagi 50 meter - ternyata belokannya udah kelewat.

Hari itu juga menjadi hari bersejarah dalam hidup gue. Selama lebih-kurang 17 tahun 9 bulan, akhirnya gue masuk ke dalam 7-11 (Sevel). Ya, biasa aja seharusnya. Nggak perlu bangga juga. Dalam bayangan gue, tempat ini keren karena sering dipake sebagai markas anak nongkrong ibukota.

Update gosip dan berita

Gayanya sosialita

Uangnya nggak ada.

Cari simpati buka kartu cari status baruu~

Hati-hati zaman sekaraaang~

(Now playing: Panjat Sosial - Roy Ricardo ft. Gaga Muhammad & Lula Lahfah)

Ternyata tidak!

Gue merasa Sevel bukanlah habitat gue. Beda banget sama Indomaret atau Alfamart. Satu-satunya yang membuat gue menyesal ke Sevel adalah di sini nggak ada Aqua. Kesan gue sekarang terhadap Sevel: biasa aja, ah. Masih kalah sama warung deket rumah. Sejauh ini, Sevel hanyalah tempat yang asik buat makan nasi padang.

Gue keluar dari Sevel dengan menaruh kepercayaan besar. Kepercayaan yang sudah gue tanam sejak melihat Jakarta seperti apa. Kepercayaan bahwa... Jakarta masih banyak Indomaret. Selow.

Setelah mendapatkan roti cokelat, Aqua, dan susu kotak, gue melanjutkan perjalanan menuju GOR Lokasari. Menurut aplikasi Maps, jaraknya sudah dekat. Sepertinya, selain beruntung pernah mengenal blog, gue juga beruntung bisa membaca peta dengan lumayan baik. Ini semua berkat main Grand Theft Auto.

Sampai di depan GOR Lokasari, gue bingung ke sana kemari mencari tempat duduk. Gue mengelilingi area depan gedung, tetapi tidak ada tempat kosong. Sebuah mobil satpol pp diparkir nggak jauh dari gedung. Gue ke sana, lalu menyandarkan pantat dengan mempertahankan posisi berdiri. Seorang driver Grabbike basa-basi, “Ini ada acara apa, Mas?”

“Try out SBMPTN, Bang,” jawab gue.

Dia sepertinya kebingungan dengan istilah yang gue katakan tadi. Dia bertanya lagi, “Buat seleksi masuk universitas negeri?”

“Iya, mirip. Tapi masih latihannya,” jawab gue. Penumpangnya, seorang cewek, memberikan uang pecahan kepadanya, lalu memberikan uang kembalian. Dia pun pergi meninggalkan area gedung.

Tidak lama setelah itu, orang yang berada di bangku semen dekat gue pergi. Gue buru-buru mengambil tempat di sana untuk duduk sambil makan roti yang gue beli dari tadi. Di sana ada seorang bapak berjaket kulit. Sedang mengobrol dengan petugas berbaju oranye. Tanpa basa-basi, gue memakan roti. Bapak itu bertanya, “Ikut try out, Mas?”

“Uh, i—iya, Pak.” Gue berhenti mengunyah dan memasukkan roti ke dalam plastik.

Dia bertanya banyak hal mengenai gue. Salah satunya pertanyaan tentang bidang apa yang gue ikuti nanti. “Saya ikut saintek,” jawab gue yakin. Obrolan mulai melebar. Gue pikir, nggak masalah kalau dia mau ngajak ngobrol lebih lama mengingat masih ada waktu lebih kurang tiga puluh menit lagi sebelum try out dimulai. Dari lemparan tanya-jawab itu membuat gue sedikit tahu apa tujuannya ke sini: dia mengantarkan anaknya yang juga ikut try out, mengambil jurusan saintek, sama seperti gue. Dalam hati gue, “Plis, anaknya si bapak itu cewek. Plis.”

Bapak itu bertanya dari mana asal gue. Agar terjadi komunikasi dua arah, seperti yang dilakukan banyak orang, gue melempar pertanyaan serupa kepadanya. Dari pertanyaan itu, gue bisa mengetahui bahwa dia berasal dari Tambun, Bekasi. Mengetahui dia datang dari galaksi lain, gue terperangah. Dari Bekasi ke GOR Lokasari (Jakarta Barat) itu jauh banget, batin gue. Gue bertanya, apa bapak nungguin di sini sampai selesai? Dia ingin menjawab, tapi ragu. “Ya, mau gimana lagi, Mas. Kasihan anak saya,” jawabnya.

Saya juga kasihan, Pak. Kejauhan.

Sambil melanjutkan mengunyah roti, obrolan tetap berlanjut. Dia memandangi ujung rambut gue, lalu ekspresinya seperti teringat akan sesuatu. “Nggak nyoba daftar kepolisian?” tanya dia.

“Hehehe, nggak, Pak,” kata gue, “takut ditonjokin.” Jawaban gue yang blak-blakan membuat bapak itu tertawa. Bila gue memang berniat mencuri hati si bapak maka gue telah memenangkan sisi kejujuran dari jawaban tadi. Selain itu, berkat jawaban gue juga, si bapak bakal mikir-mikir buat ngenalin gue ke anaknya karena gue adalah cowok lemah.

Tapi gue belum tahu anaknya cowok atau cewek.

Lagipula, gue jarang sekali memberi alasan seperti itu sewaktu diberi pertanyaan serupa. Lumayanlah biar obrolan tetap berlanjut. Setelah itu, dia cerita panjang lebar mengenai masa mudanya. Dia dulu ikut kepolisian. Nadanya beberapa kali mengungkapkan penyesalan sewaktu menceritakan umurnya yang kelebihan untuk mendapatkan jabatan tertentu. Gue nggak begitu ngerti sistem di dalamnya. Makanya sewaktu dia ngomong, gue cuma manggut-manggut aja sambil ngunyah roti.

Obrolan merembet ke topik yang cukup berhubungan dengan gue: masa remaja. Bapak itu prihatin dengan pergaulan anak muda masa kini. Dia menyalahkan penggunaan teknologi yang sembarangan. Dia pun khawatir bila anaknya akan menjadi korban pergaulan dari jahatnya teknologi.

“Tau sendiri, Mas. Sekarang anak muda video call-an sama pacarnya banyak yang nggak bener,” ujarnya. Lalu dia menirukan percakapan, yang entah dari mana dia tau atau dikarang-karang aja. “Kayak: ‘Ayo dong, buka daleman kamu.’” Gue mengangguk. Seram juga. Dari mana dia bisa tahu kebiasaan gue?

“Terus, yang pacaran di motor juga... haduh. Parah deh. Iya, kan, Mas?” Gue mengangguk tanda setuju. “Cewek udah deket banget, nempel sama pacarnya kalau boncengan. Nempelin dada ke cowok, pasrah begitu aja. Makanya, saya takut kalau anak saya begitu. Namanya anak cewek, kan, nggak bisa pergi jauh.”

Gue mendapati kesimpulan dari percakapan panjang ini.

Anaknya si bapak CEWEK. Uhuy. Kalau udah begini saatnya berpantun

Potong tahu dengan kapak.
Boleh kutahu siapa nama bapak?

Cakep.

“Masnya udah punya pacar?”

Jeger!

Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut si bapak. Oke, sudah terlalu banyak dugaan-dugaan. Pilihannya dua: 1) Dia mau jodohin gue sama anaknya; 2) Dia mau gue jadi pacarnya. Yang pertama masih bisa, yang kedua... amit-amit.

Dia hanya tertawa melihat muka panik gue, kewalahan mau menjawab pertanyaannya. Padahal, simpel aja sebenarnya. Gue cuma harus bilang “nggak”. Gue malah bersikap kayak sopir angkot yang udah mepet di belakang pohon sambil buka resleting celana, terus ditanya orang lewat “Mas kencing ya?”, dia berusaha ngelak sekuat tenaga. Asli, gue paling nggak tahan kalau ditanya itu. Salah tingkah terus. Padahal, apaan, sih, yang ditutupi dari gue? Pacar juga emang nggak punya. Heran.

Satu hal yang gue pelajari adalah caranya ngajak interaksi membuat gue kagum. Padahal dia orang asing, tapi kenapa bisa membuat gue terpikat? Atau, apakah karena dia seorang bapak sehingga membuat dia mengerti perasaan seorang anak, khususnya remaja? Sepertinya dia mengerti cara mengakrabkan orang.

Atau, ini mah karena gue aja tipe orang yang demen banget dipancing ngobrol duluan?

“Ke sini bareng temen?” tanya si bapak.

Gue menunduk cengengesan. Sepertinya bapak itu memerhatikan sekitar banyak sekali remaja yang datang bergerombol. Sedangkan, di depannya, seorang lelaki bernama Robby Haryanto, datang sendirian sambil asyik makan roti cokelat tanpa nawar-nawarin orang di sekitarnya. “Nggak, Pak. Saya sendiri.” Kemudian gue berpikir untuk mencari kalimat tambahan agar suasana tetap santai. Keluarlah dari mulut gue, “Abisnya saya males kalo ramean. Tunggu-tungguan, malesin.”

“Hahaha, pantes,” jawabnya, “kamu lugu, kayak anak saya.”

Lah?

Dari tadi dia cerita anaknya terus. Dari ceritanya, dia memberi tahu anaknya adalah seorang anak SMK keperawatan. Mau kuliah di kedokteran, tetapi ibunya menyarankan di keperawatan saja. Di sekolahnya, si anak ini tinggal di asrama. Sembari ngedengerin cerita tentang anaknya, yang ada di kepala gue cuma, “Sebutkan nama anakmu, Pak! Agar kucari di Instagram dan kufollow akunnya [bila menarik].”

Gue melihat gerombolan teman SMA di depan pintu masuk. Sudah waktunya gue bergabung dengan mereka. Sebelum pergi, gue pamit dan mencium tangan si bapak. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba gue refleks aja salim ke dia.

03 May 2017

Saya selalu punya sekolah impian.

Dulu, ketika lulus SD, saya berkeinginan melanjutkan bersekolah di SMP Negeri 45 RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Bisa dibilang itulah impian besar saya setelah lulus. Nilai ujian nasional yang saya peroleh dirasa cukup untuk mendaftar di sekolah tersebut. Saya memberanikan diri untuk menginjakkan kaki di SMP impian saya. Meskipun pada akhirnya saya gagal bersekolah di sana karena saat itu sekolah RSBI masih bayar. Sedih bila mengingat momen itu.

Seorang bapak duduk di sebuah meja pendaftaran. Kakak saya bertanya, “Pak, masih adakah jalur untuk reguler?”

“Jalur reguler tidak ada untuk tahun ini,” jawabnya.

Kakak memberi tahu saya biaya masuk sekolah ini cukup besar. Sedih, ya, sedih. Mau bagaimana lagi. Saya masih sayang orang tua, tidak ingin memberatkan mereka dengan biaya sekolah. Impian saya hampir terwujud meskipun hanya sebatas “pernah masuk SMPN 45”. Cuma sampai meja pendaftaran.

Akhirnya saya bersekolah di SMP negeri yang lain, SMPN 190 Jakarta.

Sekolah ini tidak terlalu buruk seperti yang dikatakan orang-orang. Saya tetap mengenal orang-orang baik di sana. Sekalipun mereka anak-anak yang dicap bandel, mereka semua baik terhadap saya. Di sekolah ini pula, saya memulai mimpi baru saya untuk mewujudkan bersekolah di SMA impian saya: SMA Negeri 33 Jakarta.


Memang, sekolah ini tidak sepopuler SMAN 8 yang menjadi langganan juara umum se-DKI Jakarta. Atau SMAN 70 yang namanya menggema seantero ibukota (belakangan saya ketahui bahwa di sanalah penulis idola saya, Raditya Dika, pernah bersekolah. Juga komedian favorit saya Adriano Qalbi). Namun, SMAN 33 lumayan dikenal sekotamadya di bawah pesaingnya SMAN 78.

Impian itu saya tulis pada sebuah pohon harapan. Bukan hanya saya, teman-teman seangkatan juga menuliskan sekolah impian mereka di kelasnya masing-masing. Kami menulis di sebuah kertas yang berbentuk apel, lalu ditempel di styrofoam berbentuk pohon.

Kami semua percaya impian itu akan terwujud. Maka saya memberanikan diri untuk bermimpi dapat bersekolah di SMAN 33, sekolah impian saya sejak SD.

Mengejutkan. Saya berhasil mendapatkan nilai yang cukup untuk masuk sekolah favorit saya itu. Untuk masuk ke sana, memang dibutuhkan nilai yang tinggi. Saya bersyukur bisa diterima di SMA Negeri 33 Jakarta di jurusan yang saya impikan juga: jurusan IPA.

Kelas XII IPA 2

Langkah kaki saya gemetar sewaktu pendaftaran ulang. Saya terharu bisa datang ke sekolah yang sejak lama saya idamkan. Ternyata begini rasanya mimpi terwujud. Keinginan yang dikabulkan-Nya begitu manis rasanya. Beberapa hari kemudian, saya resmi menjadi siswa SMAN 33 Jakarta.

Perjalanan berat mulai dijalani. Mendapatkan PR setiap hari—pastinya akan saya rindukan kelak, setiap mata pelajaran ada saja tugas kelompok, menghindari guru yang sekiranya menjadi “perusak hari”, dan sebagainya. Semuanya pernah saya jalani. Belum lagi label sebagai “anak IPA” yang tercap di kepala semakin menambah beban. Tahun pertama saya kepikiran pindah ke jurusan IPS atau Bahasa karena tidak sanggup bertahan. Berkat motivasi beberapa orang, saya mencoba berpikir positif. Mungkin bukan tahun ini bertemu jodohnya.

Lalu banyak pengalaman baru yang saya dapatkan selama SMA. Menjadi pemimpin upacara pada awal masuk SMA, menjadi ketua kelas walaupun hanya satu semester, ikut bagian dalam penyelenggaraan acara ekskul, dan lain-lain. Kenangan manis, seru, getir, pahit, hingga tangis pernah saya rasakan di sini. Semuanya membuat saya percaya akan satu hal, yang akan membawa saya pada pembentukan pola pikir. Lebih dewasa.

Teman-teman saya di Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)

Bukan seberapa hebat nama sekolah ini, tetapi orang-orang di dalamnya yang membuat saya berdiri seperti ini. Saya menganggap bahwa satu hari pergi ke sekolah sama dengan satu poin pendewasaan bertambah dalam diri saya. Banyak pesan tersirat yang baru didapatkan setelah berkali-kali merenung. Pesan-pesan itu tidak tertulis di buku cetak, melainkan dari cara melihat setiap peristiwa. Saya memang bukanlah siswa hebat di sekolah. Biasa saja. Saya tidak banyak menyumbangkan prestasi bagi sekolah ini. Justru sekolah inilah yang menempa kepribadian saya.

Hari ini, saya telah lulus dari sekolah ini. Sekolah ini sudah mempercayai saya untuk mengejar cita-cita lebih jauh lagi.



Untuk orang-orang di dalamnya: kepala sekolah, guru, karyawan, staf, teman-teman, kakak kelas, adik kelas, dan semuanya yang pernah terlibat dalam kehidupan saya selama SMA, saya mengucapkan terima kasih. Terima kasih pernah menjadi bagian dalam hidup saya. Terima kasih pernah singgah, meramaikan, dan mengisi mimpi saya. Saya yakin, karena mimpi kita masih panjang, kita semua akan mengharumkan nama sekolah kelak. Lalu kita kembali ke tempat ini, suatu saat nanti, tempat yang pernah menjadi “dapur” pengolah sikap dan pola pikir kita, dengan kebahagiaan, kesuksesan, dan kebanggan pernah menjadi bagian dari keluarga besar SMA Negeri 33 Jakarta.

Terima kasih, SMA Negeri 33 Jakarta.

Sepulang dari acara pengumuman kelulusan, saya berdiri di depan pintu. Saya mengenakan cinderamata berupa medali dari sekolah sebelum masuk ke rumah. Saya kalungkan, lalu membuka pintu. Di depan saya ada Mama sedang menyulam. Saya menunjukkan bandul medali tersebut kepada mama saya.
Medali kelulusan
Saya berkata, “Lulus.”

Mama menghampiri dan memeluk saya erat-erat.

01 May 2017

Aroma lelehan mentega menyebar ke segala penjuru ruangan. Robby Haryanto tidak mengindahkan aroma enak tersebut. Dia menggosokkan kedua telapak tangan, lalu menaruhnya di atas meja. Lama sekali dia memandangi meja kosong. Serpihan kentang goreng sisa pembeli sebelumnya masih tertinggal. Pelayan sepertinya lupa membersihkan hal-hal sepele. Robby masih menatap mejanya yang kosong.

Dua bocah menjerit berbalas-balasan. Mereka riang berlari ke sana kemari mengejar satu sama lain seperti dua anak kucing bercanda. Beruntung mereka dapat berlarian di tempat makan yang punya tempat lumayan luas ini. Kebetulan lagi, malam ini tidak terlalu ramai. Lebih besar dari mereka, seorang anak perempuan berumur 11 tahun merengek meminta ayam yang masih dalam kuasa ayahnya. Bapak itu cukup tega membiarkan anaknya terus-terusan meminta ayam goreng bagian paha. Wajahnya semringah seperti bayi diberikan biskuit susu.

Robby Haryanto masih tidak bergerak. Matanya masih menatap meja coklat yang sedari tadi tidak ditumpangi apa pun. Masih kosong. Serpihan itu juga masih tergeletak lemah, tak bergerak bersama tetesan minuman bersoda. Ingar-bingar tempat ini tidak sejalan dengan apa yang sedang Robby rasakan sekarang.

***

Aku lupa ini hari Minggu. Tidak seharusnya aku bangun pagi seperti biasanya. Aku melirik jam tangan Casio hitam, jarum jam menunjukkan pukul 06.52. Kereta commuter line akan segera tiba 13 menit lagi. Aku masih berada di area depan stasiun Rawa Buaya kemudian berlari menuju loket. Di peron, sudah ada yang menungguku. Seorang wanita berambut panjang yang memiliki lesung pipi cukup dalam. Aku segera berlari kencang untuk menemui dia.

Sesuai perjanjian tadi malam, aku duduk menunggunya sambil meminum kopi kaleng. Lagu “You” milik Ten2Five aku mainkan melalui smartphone harga dua jutaan. Mataku masih sibuk dan gelisah mencari-cari Eli, menyocokkan warna pakaian yang dia sebutkan semalam di aplikasi pesan instan. Semua orang yang memakai baju abu-abu sudah kupastikan mereka bukan Eli.

***

“Kamu harus percaya kita bisa bertemu lagi.”

“Aku nggak yakin,” ujarnya. Saya terheran dengan sikap pesimisnya akhir-akhir ini. “Kamu mau kuliah di Semarang, aku di Lampung. Jarak kita lebih dari 800 kilometer. Artinya, 800 kali lipat tantangan dalam hubungan kita.”

“Dapat hitungan dari mana?” tanya saya. “Sudah menggunakan rumus kemungkinan dengan tepat? Pikir lagi.”

Suasana mendingin. Saya mencolek kentang goreng yang kehangatannya mulai menghilang ke dalam saus tomat, kemudian melemparkannya ke dalam mulut. Saus tomat cukup hangat menyentuh langit-langit mulut saya.

“Kita, kan, bisa komunikasi dengan banyak cara. Kalau kamu nggak ngerti gunain aplikasi messaging, kamu bisa pakai surat tradisional, kok. Apa kamu sama sekali nggak ngerti main begituan?” kata saya tanpa celah. Kemudian sadar bahwa perkataan saya sedikit merendahkan kepintarannya.

Dia tidak membuka mulut dan wajahnya tampak murung. Botol air mineralnya belum kunjung dibuka hingga bibirnya kering kehausan meminta diguyur air segar. Sedangkan saya sudah mengunyah kentang yang kedua.

***

Aku tidak mendapat kabar dari Eli. Dia sudah lebih dahulu pergi dengan seorang lelaki. Tidak peduli siapa lelaki itu, yang terpenting sudah jelas rencana pergi bersamanya gagal kembali untuk yang kesepuluh—ah, saking banyaknya aku lupa berapa jumlah pastinya. Kesempatan bertatap muka kembali gagal.

Kartu masuk yang seharusnya aku kembalikan di loket stasiun tujuan aku tukarkan di loket keluar stasiun ini. “Lho, nggak jadi, Mas?” tanya penjaga loket yang sepertinya hafal dengan wajahku. Iya, jawabku. Lekas aku menyetop angkutan umum untuk menuju halte Transjakarta, menjalani perjalanan kosong.

***

Saya lupa kemarin hari apa. Pagi ini saya berada di ruang tamu dengan empat orang lainnya, entah di rumah siapa. Kaleng-kaleng minuman soda berserakan di atas karpet. Seingat saya, semalam saya menggenggam sebuah kaleng yang ada di antara kaleng berserakan itu. Saya juga ingat sebuah lelucon yang-tidak-lucu-sama-sekali diucapkan Dani.

“HEY,” katanya pada saya, setengah mabuk. “Kenapa ada ... wanita ... yang kapok membuka hati?” Kami berlima menggelengkan kepala, tidak tahu jawaban atas pertanyaan Dani. Dani menepuk pundakku, “Karena mereka nggak mencoba ... MEMBUKA WARUNG! HA HA HA.”

Kami semua tidak tertawa. Hanya keheningan malam yang menemani tawa keras Dani. Tetapi, setelah saya ingat-ingat lelucon itu pagi ini, saya tersenyum sendirian. Berbarengan dengan munculnya kalimat merendahkan kepintaran wanita bernama Elisa tersebut.

***

Aku lupa besok hari apa. Setelah hari ini gagal pergi dengan Eli, aku tidak ingat besok hari apa.

Tidak terlalu siang untuk menaiki bus Transjakarta. Perjalanan mendadak ini sedikit menghiburku. Para pekerja sudah berangkat pukul 7 tadi, membuat bus tidak terlalu penuh. Hasilnya, aku mendapat tempat duduk yang strategis: di pojok belakang. Tempat yang nyaris tidak akan tergantikan, kecuali seseorang yang memberikannya. Temanku bilang, “Kalau kamu naik Transjakarta, cepat tempati bangku kosong di belakang. Lalu, segeralah tidur.” Saran itu aku terapkan sekarang.

Sembari menyandarkan kepala di kaca, aku mendengarkan lagu lewat earphone. Keringat yang membasahi kaosku tidak terlalu mendominasi baunya di dalam bus. Kaca jendela menjadi lebih dingin karena guyuran hujan di luar. Lima belas menit kemudian aku tertidur.

Ketika terbangun, aku menyadari satu hal: aku kembali ke halte pertama kali aku naik bus. Rupanya sudah memutar balik hingga kembali ke tempat awal. Saking nyenyaknya aku tertidur di dalam bus membuat aku lupa untuk turun. Lagipula, aku pun tidak tahu harus turun dan berhenti di mana. Bila aku turun, sudah dapat ditebak tempat singgahku hanya di tempat itu-itu saja: sebuah restoran cepat saji terbanyak di kota ini.

Kami akhirnya bertemu dalam sebuah pikiran yang kacau. Hari ini merasakan gagalnya pertemuan. Sebuah pertemuan yang teramat penting bagiku untuk meminta maaf. Rasa sesal atas perbuatan malam itu masih menggantung. Harusnya aku mengerti dia, bukannya memakan sepotong kentang goreng. Rencana kuliah di luar kota pun pupus setelah tahu keputusan-Nya memberiku kesempatan berkuliah di kota ini. Eli berhasil mewujudkan impiannya berkuliah di pulau seberang.

Aku bertemu saya dalam sebuah tempat umum, di dalam jiwanya yang sepi dan kepalanya yang ramai. Saling bertukar cerita hingga membuat kepala Robby Haryanto pusing.