19 May 2017

Sahabat Masa Kini

Aku berkedip-kedip, berusaha mencari tahu di mana sebenarnya aku sekarang. Aku merasakan permukaan empuk yang menahan punggungku. Aku melihat ke sebelah kanan, Iqbal sedang tidur setengah telanjang. Aku merasa tidak sadarkan diri karena terjaga menemani malamnya. Padahal, pukul 7 nanti aku harus menemani Iqbal ke kantornya. Menemani setiap kegiatannya mulai dari sarapan hingga makan siang. Segala cuaca: dari panas hingga hujan. Semua aku lakukan atas nama persahabatan.

Persahabatan? Entahlah. Lebih dari itu, mungkin. Dapat dikatakan juga ke hubungan yang lebih intim.

Sumber: pixabay.com

Aku berteman baik dengan Iqbal sejak tiga tahun lalu. Aku ingat betul momen saat kami bertemu. Pertemuan di sebuah gerai ponsel di mal dekat kantor tempat Iqbal bekerja. Di antara ramainya teman-temanku, Iqbal mendekati aku yang sedang tidak berbicara dengan siapa-siapa. Iqbal melirikku yang masih sendiri, lalu dia menghampiriku dan meninggalkan teman wanitanya. Sebuah pertemanan yang kami mulai sejak itu hingga kini masih awet.

Pada suatu malam Iqbal mengaku kepadaku bahwa dirinya merasa cocok berteman denganku. Sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan lebih kepadanya. Aku hanya berperilaku apa adanya, tanpa sesuatu yang dibuat-buat. Begitulah aku yang sebenarnya. Juga yang teman-temanku akui padaku. Mungkin itulah alasan mengapa Iqbal selalu mengajakku pergi ke mana pun dia mau.

Terkadang kalau Iqbal memiliki uang lebih dia rela membelikanku pakaian baru. Katanya, agar aku lebih cantik. Tetapi, entah mengapa ungkapan “lebih cantik” tidak pernah terdengar menyenangkan di telingaku. Bagiku, menjadi lebih cantik bukan karena pakaian baru atau apalah itu. Cantik menurutku ketika aku berhasil menjadi pusat perhatian semua orang sampai mereka menggila-gilaiku. Untuk saat ini, Iqbal saja yang mencintaiku teramat. Menurutku saja, mungkin.

Suatu siang, Iqbal mengajak rekan kantornya makan siang di sebuah kafe. Teman-temannya Iqbal kebanyakan seorang perokok. Aku merasa kurang nyaman bila berada di antara kepulan asap yang mereka embuskan. Aku ingin pulang namun selalu lupa membawa uang pulang naik taksi.

“Bro, besok tahu nggak hari apa?” tanya Roni, temannya Iqbal.

“Selasa,” jawab Samuel.

“Yah, Sam nggak peka, nih.”

“Besok itu tepat setahun kita kerja bareng!” seru Iqbal membenarkan. Dia memang hebat dalam mengingat tanggal-tanggal penting. Karena itulah aku semakin menyukai Iqbal.

“Hahaha. Oh, iya. Nggak terasa, ya.”

Setelah menghabisi makanan, mereka kembali ke kantor. Napasku terseok-seok ketika harus berhadapan dengan asap yang menari-nari dan hampir mencekikku.

Keesokan harinya, aku diajak Iqbal ke sebuah restoran cepat saji. Kami hanya berdua; bermesraan. Iqbal selalu saja senyum-senyum ketika menatapku. Aku hanya terdiam, padahal jauh di bagian dariku yang terdalam ada sesuatu yang membuatku bergetar sehingga hangatnya dapat kurasakan. Aku yakin, Iqbal pun dapat merasakan hangatnya ketika tangannya menggenggamku. Iqbal masih saja tersenyum di hadapanku yang terus bercahaya ini.

Tidak lama setelah adegan mesra itu datang seorang wanita berambut panjang dengan tas tali tas menggantung di bahu kirinya. Dia menyapa Iqbal dari jarak empat meter dari tempat kami duduk. Suranya begitu halus seperti lengannya yang penuh perawatan. Aku mengira-ngira perawatannya pasti mahal untuk mendapatkan kulit sehalus itu. Mandi susu kambing, minum air langsung dari sumber mata airnya, dan tidur malam yang cukup.

“Duduk aja di sini. Kosong.”

Wanita itu segera duduk di hadapan Iqbal. Perbincangan-perbincangan di antara mereka mulai membuatku geram. Aku merasakan tubuhku dingin sewaktu dua orang di meja ini asyik berbincang. Mereka membicarakan bagaimana pengalaman masing-masing saat SMA. Aku berusaha tak acuh terhadap percakapan ini. Namun, mau tidak mau aku terpaksa mengdengarkan detail pengalaman mereka.

Wanita itu namanya Salma. Aku mengetahui dari seringnya Iqbal memanggil wanita itu dengan sebutan Salma. Percakapan yang cukup mesra, seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Namun, sepertinya percakapan mereka tidak berlangsung lama sebab Iqbal menelantarkan obrolan seru dengan Salma. Dia menenggelamkan perkataan Salma dengan fokus pada hal lain.

Kini tangannya menggerayangi tubuhku di balik ketidaktahuan Salma, kekasihnya. Tak lama Salma menyadari hal ini.

“Iqbal!” seru wanita itu. “Aku lagi ngomong sama kamu.”

“Hhmm, iya.”

“WOY, IQBAL!”

“Iya, iya.”

“Hapenya taruh dulu dong!” Wanita itu terus menerus memaksa Iqbal menuruti perkataannya, tetapi Iqbal tidak menggubrisnya. Tubuhku panas dan kian melemah.

Iqbal melepaskanku dari genggamannya seraya menepuk jidat. “Ah, lupa bawa charger lagi. Kamu bawa charger?” Salma menggeleng dan berkata dengan tegas, “Nggak!”
10 May 2017

Pesta Kelulusan

Sako terus menerus memaksaku pergi ke tanah lapang. Dia bilang, di sana sudah banyak pelajar SMA berkumpul mengadakan pesta kelulusan. Tiga SMA di sekitar sekolah kami bergabung menjadi satu berada di tengah lapangan yang sengaja disewa untuk keperluan pesta. Aku enggan ke sana karena tidak memberikan uang donasi.

Sumber: kumparan.com

“Aku tidak ikut membayar iuran, bagaimana bisa ikut?”

Sako menggelengkan kepala. “Ayolah. Di sana banyak teman-teman sekolah kita. Saya yakin mereka masih mengingat kita, lalu memberi kita segelas sirup kokopandan.”

Aku tetap tidak yakin untuk hadir dalam pesta itu. Hanya aku dan Sako yang masih tersisa di sekolah setelah tadi pagi pengumuman kelulusan dikumandangkan kepala sekolah bahwa kami lulus seratus persen. Bukan waktu yang singkat mengingat ini adalah tahun keempatku berseragam putih abu-abu. Satu tahun tinggal kelas membuat aku merasa hidup di sekolah ini terlalu lama.

“Bagaimana?” tanya Sako mengagetkanku. Teman sebangkuku ini adalah tipe anak yang dapat menyentuh berbagai kalangan. Dia bermain bersama kalangan atas dan bermain dengan orang-orang pembaca komik seperti kami. Sako berprinsip tidak ingin melihat orang-orang yang ada di sekitarnya bersedih.

“Bagaimana, ya?” gumamku ragu. “Aku tidak punya keinginan pergi ke sana. Aku hanya punya rencana mengadakan pesta memasak sendiri di rumah nanti malam.”

“Bukannya kamu tinggal sendiri di rumah? Bersama siapa kamu mengadakan pesta?” tanya Sako bertubi-tubi. “Kalau masak dan makan untuk sendiri, itu bukan pesta namanya.”

Aku terdiam. Niat awalku mengadakan pesta kecil adalah mengajak Sako bergabung. Namun, sepertinya dia akan pergi ke tanah lapang.

***

Sako memboncengku ke toko material. Dia ingin membeli cat tembok untuk mengantisipasi dinding rumahnya dicoret-coret pelajar. “Ini yang saya tidak suka,” keluhnya. “Mereka seharusnya menyemprotkan cat di atas seragam mereka, bukan di dinding rumah saya.”

Satu tahun lalu, aku pernah melihat gerombolan pelajar sedang mencoret-coret di tembok kantor kecamatan. Mereka menuliskan julukan sekolah mereka di sana. Ada satu coretan yang familiar dan paling membekas dalam ingatanku, yaitu sebuah coretan yang berisikan reaksi Haber-Bosch. Sebuah reaksi pembuatan amonia tersebut ditorehkan dengan menggunakan cat semprot warna kuning. Coretan itu tidak pernah dihapus hingga tiga bulan sampai-sampai setiap berangkat sekolah aku selalu memandangi coretan itu sambil menghafalnya.

Sako memintaku membawa satu ember kecil cat tembok warna hitam di belakang. Dia memacu motornya dengan cepat dan meninggalkan cat di rumahnya. Lalu kami bergegas pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk pesta memasak nanti malam.

Barang belanjaan sudah penuh. Tidak biasanya aku membawa sayur dan bumbu-bumbu sebanyak ini. Bubuk kari, bumbu rendang, lada, dan bumbu-bumbu beraroma tajam berhasil kami dapatkan. Aku pun belum tahu ingin memasak seperti apa. Hanya berbekal kemampuan membuat masakan manusia yang dapat aku andalkan.

“Robby, kita ingin memasak apa sebenarnya?” Sako bingung dengan pesta memasak yang terkesan mendadak ini. Tanpa tujuan, tanpa banyak persiapan ini itu. Yang terpenting hanyalah: ada bahan, ada sesuatu yang disajikan.

Sambil menunggu malam, aku menonton acara reality show di televisi rumahku. Tidak benar-benar kupahami apa makna acara tersebut. Dua orang sok tahu—mengaku sebagai konsultan cinta—menolong seorang klien yang kebingungan akan jalan cintanya. Kekasih si klien ketahuan selingkuh sehingga dia marah besar. Persoalan semakin rumit setelah si klien adu mulut dengan selingkuhan kekasihnya. Padahal, mudah saja bagiku bila aku berada dalam posisi si klien. Aku pergi meninggalkan mereka berdua, lalu keesokan harinya seharian membaca buku di perpustakaan kota hingga mataku miopi.

Sako sendiri asyik membaca majalah olahraga lama. Aku lupa untuk menumpuknya di dalam kardus berisi koran dan majalah lamaku di sana dan dijual ke pembeli barang bekas. Terakhir kali aku menjual koran dan majalah bekas, aku mendapatkan uang yang cukup untuk biaya hidupku dan membayar sewa rumah selama dua bulan. Kemudian aku menyesali akan satu hal setelah ijazah SD dan SMP milikku ikut terjual.

Aku bertanya, “Kamu sudah bilang orang tuamu akan menginap di sini?” Dia hanya menganggukkan kepalanya. Kali ini sebuah novel milikku yang dia baca. Entah dari mana dia dapatkan.

“Hei, Robby,” Sako memanggilku, “bukumu ini bagus sekali. Tentang pertanian.”

“Begitulah,” aku setuju. “Itulah alasanku ingin menjadi petani.”

Dalam buku itu, kumpulan cerpen yang aku lupa apa judulnya, diceritakan seorang lelaki yang tidak punya latar belakang dalam pertanian mencoba peruntungannya di bidang itu. Bertahun-tahun dia mempelajari cara membuat komposisi pupuk yang baik, mencoba menyambungkan dua batang tanaman berbeda, hingga membedah kulit buah durian untuk mendapatkan kualitas buah terbaik. Baginya, buah durian adalah buah surga, meskipun kulitnya tidak sempurna—sehalus—buah lain.

Lelaki itu terpaksa mengeluarkan banyak uang demi eksperimen dalam hidupnya tersebut. Dalam satu bagian juga diceritakan dia sempat memakan rumput liar di hutan. Kehidupannya benar-benar sengsara demi menekuni sebuah bidang. Hingga akhirnya penantian bertahun-tahun berbuah hasil. Buah mentimun kecil muncul di atas lahan pertaniannya. Dia rawat baik-baik sampai buahnya besar. Setelah besar dia masak dan itulah buah pertama dan terakhir yang berhasil dia nikmati dari perjuangannya sebagai petani. Dia mati setelah memakan mentimun mentah-mentah, tanpa dicuci.

Aku memotong-motong sayur untuk dijadikan sup. Tidak tahu apakah bumbu dan sayuran yang aku beli di pasar ini benar atau tidak untuk memasak sup. Sako pun tidak memberi sanggahan karena dia sendiri tidak mengerti tentang memasak.

Air sudah mendidih. Aku memasukkan bumbu ke dalam panci. “Apa yang belum?” tanya Sako.

Aku menunjuk baskom berisi sayuran yang sudah dipotong-potong, lalu memasukkannya ke dalam panci.

“Aku lupa akan satu hal,” kataku teringat sesuatu.

“Apa?”

Aku bergegas berlari menuju kamar tamu. Aku menghampiri tas dan mengambil sesuatu di dalamnya dan berlari kembali ke dapur. Menyobeknya menjadi beberapa bagian kecil dan memasukkan ke dalam panci.

“ROBBY!” teriak Sako. “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku ingin seperti petani itu,” jawabku santai. “Menikmati hasil dari buah perjuanganku.”

Sebuah ijazah SMA yang aku terima tadi pagi teraduk bersama sayuran di dalam sup. Semangkuk sup ijazah kami santap malam itu. “Bagaimana rasanya?” tanyaku pada Sako.


Sako mengoyak kertas ijazah dengan gigi taringnya dan mengunyah perlahan seperti memakan daging rusa. “Rasanya seperti diludahi guru killer.”
03 May 2017

Terima Kasih SMA Negeri 33 Jakarta

Saya selalu punya sekolah impian.

Dulu, ketika lulus SD, saya berkeinginan melanjutkan bersekolah di SMP Negeri 45 RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Bisa dibilang itulah impian besar saya setelah lulus. Nilai ujian nasional yang saya peroleh dirasa cukup untuk mendaftar di sekolah tersebut. Saya memberanikan diri untuk menginjakkan kaki di SMP impian saya. Meskipun pada akhirnya saya gagal bersekolah di sana karena saat itu sekolah RSBI masih bayar. Sedih bila mengingat momen itu.

Seorang bapak duduk di sebuah meja pendaftaran. Kakak saya bertanya, “Pak, masih adakah jalur untuk reguler?”

“Jalur reguler tidak ada untuk tahun ini,” jawabnya.

Kakak memberi tahu saya biaya masuk sekolah ini cukup besar. Sedih, ya, sedih. Mau bagaimana lagi. Saya masih sayang orang tua, tidak ingin memberatkan mereka dengan biaya sekolah. Impian saya hampir terwujud meskipun hanya sebatas “pernah masuk SMPN 45”. Cuma sampai meja pendaftaran.

Akhirnya saya bersekolah di SMP negeri yang lain, SMPN 190 Jakarta.

Sekolah ini tidak terlalu buruk seperti yang dikatakan orang-orang. Saya tetap mengenal orang-orang baik di sana. Sekalipun mereka anak-anak yang dicap bandel, mereka semua baik terhadap saya. Di sekolah ini pula, saya memulai mimpi baru saya untuk mewujudkan bersekolah di SMA impian saya: SMA Negeri 33 Jakarta.


Memang, sekolah ini tidak sepopuler SMAN 8 yang menjadi langganan juara umum se-DKI Jakarta. Atau SMAN 70 yang namanya menggema seantero ibukota (belakangan saya ketahui bahwa di sanalah penulis idola saya, Raditya Dika, pernah bersekolah. Juga komedian favorit saya Adriano Qalbi). Namun, SMAN 33 lumayan dikenal sekotamadya di bawah pesaingnya SMAN 78.

Impian itu saya tulis pada sebuah pohon harapan. Bukan hanya saya, teman-teman seangkatan juga menuliskan sekolah impian mereka di kelasnya masing-masing. Kami menulis di sebuah kertas yang berbentuk apel, lalu ditempel di styrofoam berbentuk pohon.

Kami semua percaya impian itu akan terwujud. Maka saya memberanikan diri untuk bermimpi dapat bersekolah di SMAN 33, sekolah impian saya sejak SD.

Mengejutkan. Saya berhasil mendapatkan nilai yang cukup untuk masuk sekolah favorit saya itu. Untuk masuk ke sana, memang dibutuhkan nilai yang tinggi. Saya bersyukur bisa diterima di SMA Negeri 33 Jakarta di jurusan yang saya impikan juga: jurusan IPA.

Kelas XII IPA 2

Langkah kaki saya gemetar sewaktu pendaftaran ulang. Saya terharu bisa datang ke sekolah yang sejak lama saya idamkan. Ternyata begini rasanya mimpi terwujud. Keinginan yang dikabulkan-Nya begitu manis rasanya. Beberapa hari kemudian, saya resmi menjadi siswa SMAN 33 Jakarta.

Perjalanan berat mulai dijalani. Mendapatkan PR setiap hari—pastinya akan saya rindukan kelak, setiap mata pelajaran ada saja tugas kelompok, menghindari guru yang sekiranya menjadi “perusak hari”, dan sebagainya. Semuanya pernah saya jalani. Belum lagi label sebagai “anak IPA” yang tercap di kepala semakin menambah beban. Tahun pertama saya kepikiran pindah ke jurusan IPS atau Bahasa karena tidak sanggup bertahan. Berkat motivasi beberapa orang, saya mencoba berpikir positif. Mungkin bukan tahun ini bertemu jodohnya.

Lalu banyak pengalaman baru yang saya dapatkan selama SMA. Menjadi pemimpin upacara pada awal masuk SMA, menjadi ketua kelas walaupun hanya satu semester, ikut bagian dalam penyelenggaraan acara ekskul, dan lain-lain. Kenangan manis, seru, getir, pahit, hingga tangis pernah saya rasakan di sini. Semuanya membuat saya percaya akan satu hal, yang akan membawa saya pada pembentukan pola pikir. Lebih dewasa.

Teman-teman saya di Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)

Bukan seberapa hebat nama sekolah ini, tetapi orang-orang di dalamnya yang membuat saya berdiri seperti ini. Saya menganggap bahwa satu hari pergi ke sekolah sama dengan satu poin pendewasaan bertambah dalam diri saya. Banyak pesan tersirat yang baru didapatkan setelah berkali-kali merenung. Pesan-pesan itu tidak tertulis di buku cetak, melainkan dari cara melihat setiap peristiwa. Saya memang bukanlah siswa hebat di sekolah. Biasa saja. Saya tidak banyak menyumbangkan prestasi bagi sekolah ini. Justru sekolah inilah yang menempa kepribadian saya.

Hari ini, saya telah lulus dari sekolah ini. Sekolah ini sudah mempercayai saya untuk mengejar cita-cita lebih jauh lagi.



Untuk orang-orang di dalamnya: kepala sekolah, guru, karyawan, staf, teman-teman, kakak kelas, adik kelas, dan semuanya yang pernah terlibat dalam kehidupan saya selama SMA, saya mengucapkan terima kasih. Terima kasih pernah menjadi bagian dalam hidup saya. Terima kasih pernah singgah, meramaikan, dan mengisi mimpi saya. Saya yakin, karena mimpi kita masih panjang, kita semua akan mengharumkan nama sekolah kelak. Lalu kita kembali ke tempat ini, suatu saat nanti, tempat yang pernah menjadi “dapur” pengolah sikap dan pola pikir kita, dengan kebahagiaan, kesuksesan, dan kebanggan pernah menjadi bagian dari keluarga besar SMA Negeri 33 Jakarta.

Terima kasih, SMA Negeri 33 Jakarta.

Sepulang dari acara pengumuman kelulusan, saya berdiri di depan pintu. Saya mengenakan cinderamata berupa medali dari sekolah sebelum masuk ke rumah. Saya kalungkan, lalu membuka pintu. Di depan saya ada Mama sedang menyulam. Saya menunjukkan bandul medali tersebut kepada mama saya.
Medali kelulusan
Saya berkata, “Lulus.”

Mama menghampiri dan memeluk saya erat-erat.