Tipe Pembeli Obat di Apotek

Kamu merasakan tubuh teramat dingin. Begitu juga dengan suhu lingkungan menjadi tidak pada suhu normal. Sebelumnya kamu pernah merasakan ini sewaktu pergi ke Puncak, Bogor. Kamu memeluk lutut sendiri, mengambil telur yang ada di sisi kulkas dan mengguncangnya, memastikan ada isi di dalamnya. Sampai pada titik terdingin, kamu teriak, “Nggak tahan!” kemudian membuka pintu kulkas dan keluar. Siapa suruh main petak umpet di dalam kulkas?

Kamu dengan segala kesotoyan mendiagnosis sendiri bahwa kamu menderita demam. Jelas, kamu membutuhkan obat. Warung terdekat dari rumah tutup hari ini. Kamu, secara terpaksa, harus lebih kuat berjalan menuju apotek. Bagusnya, itu adalah apotek yang cukup besar di kotamu.

Sampai di dalam apotek, kamu bingung mau beli obat apa. Pengetahuanmu tentang nama-nama obat sangatlah minim. Kamu ragu bila hanya menyebutkan gejala yang sedang dirasakan. Kamu kebingungan. Kamu keluar lagi. Hingga akhirnya terpikirkan untuk melihat macam-macam pembeli di apotek. Kamu masuk lagi, lalu bersandar di dinding memerhatikan pembeli yang mengantre di belakang etalase.



Pembeli ngamen
Kamu mulai memerhatikan seseorang yang baru masuk. Seorang lelaki berpenampilan lecek baru saja masuk apotek. Dari balik etalase muncul seorang karyawan. Lelaki yang baru datang itu tentunya kaget. Lalu dia berkata, “Mas, beli obat dong.” Kamu memerhatikannya dengan saksama.

“Obat apa, Mas?” tanya karyawan apotek.

Lelaki itu mengeluarkan handphone. Dari handphonenya terdengar instrumen lagu lalu dia menyanyi, “O-bat ha-ti... ada lima perkaranya.”

Seisi apotek menaruh kedua telapak tangan di dada. Syahdu.



Pembeli nyasar
Seorang lelaki tua masuk ke apotek. Pakaiannya lusuh, tetapi tidak dengan snapback-nya. Meskipun usianya sudah lanjut, dia mengenakan baju kebesaran sampai bawah pinggang dengan tulisan “YOGS” di dada. Dia melirik ke kiri dan ke kanan, berulang-ulang. Kamu mencurigainya sebagai copet. Sebuah lagu berputar melalui speaker di dalam apotek. Tidak biasanya kamu menemukan hal ini. Lelaki tua itu masih menengok kanan dan kiri.

Lagu itu berganti menjadi sebuah lagu berbahasa daerah. Lagu itu terus-menerus diputar. Kamu mulai merasa bosan dengan lagu yang itu-itu saja dan tidak mengerti artinya. Kamu heran, mengapa penjaga atau karyawan apotek tidak mengubah lagu yang diputar? Kamu semakin heran melihat lelaki itu duduk bersimpuh di lantai, masih dengan gerakan kepalanya ke kanan dan kiri. Tangannya disilangkan dengan telapak memegang bahu. Secara cepat, dia melakukan gerakan seirama dengan musik. Semakin cepat, semakin cepat, tanpa ada komando terlebih dahulu, dia menjerit, “KRRRYAAAAAAH!”

Seorang karyawan bertepuk tangan. Karyawan yang lain menepuk bahu si kakek, berkata, “Kek, kalau mau nari saman jangan di sini.”



Pembeli bawa anak
Seorang ibu masuk ke dalam apotek sambil menggendong anak. Kamu agak kasihan melihat dia. Ibu itu memesan obat di depan etalase.

“Mas, beli obat demam dong.”

“Untuk siapa, Bu?”

“Ini.” Ibu itu menunjuk anaknya.

“Oh iya. Umurnya berapa bulan?”

“Enam.”

Mas-mas apotek mengeluarkan sekotak obat demam.

“Mas,” kata Ibu itu, “anak saya minta bapak baru. Gimana, Mas?”

Mas-mas apotek mengeluarkan handphone. “O-BAT HA-TI.”



Pembeli bawa anak (2)
Seorang ibu masuk ke dalam apotek sambil menggendong anak. Kamu semakin kasihan melihat dia. Sudah dua kali kamu melihat seorang wanita tua menggendong anak untuk membeli obatnya. Ibu itu memanggil karyawan apotek di depan etalase.

“Mas, beli obat batuk dong.”

“Untuk siapa, Bu?”

“Ini.”

“Oh iya. Umurnya berapa bulan?”

“Enam.”

Mas-mas apotek mengeluarkan sekotak obat batuk.

“Nggg... Mas. Yang sakit anak saya yang ini,” kata Ibu itu mengusap perut.

“Lho, anaknya di kandungan udah ngerasain batuk? ‘Ukhuk’ gitu batuknya? Goks!” Mas-mas apotek tertawa sebentar. “Saya nggak tau obatnya, Bu.”

“Tapi, Mas,” kata Ibu itu. “Anak saya gimana?”

“Dengerin, Bu.” Mas-mas apotek mengeluarkan handphone. “O-BAT HA-TI. ADA LIMA PERKARANYA.”



Pembeli bawa contoh kemasan
Kamu semakin bingung. Berada di mana sebenarnya saya, begitu pikirmu. Menurutmu, prang-orang yang ke apotek hari ini tidak seharusnya ke sini. Lebih tepat bila mereka langsung saja DIMASUKKAN KE RUMAH SAKIT JIWA! Kamu kesal.

Dari balik pintu kaca transparan, kamu melihat seorang wanita memarkir motor matic di depan apotek. Dia berjalan sangat santai dengan rok di atas lutut. Kamu sudah terkunci untuk terus menatapnya hingga dia masuk ke dalam apotek. Kamu terpana dengan pahanya yang putih bersih. Rambutnya yang lurus membuatmu berkhayal untuk bisa mengusapnya perlahan. Bayangnya sedikit memudar saat dia berada di depan etalase.

“Mas, sabun cuci muka yang begini ada nggak?” kata wanita itu seraya menunjukkan sebuah kardus kecil kemasan. Suaranya lembut membuat kamu semakin terpesona. Pasti dia pandai menyanyi, begitu pikirmu. Kamu memaklumi dia yang membawa contoh kemasan karena nama produknya pasti sulit diucapkan.

“Coba lihat,” karyawan apotek mengambil kardus kemasan itu, “ini bukannya lem tikus ya, Neng?”

“Aduh, salah ambil. Hehehe.”

Kamu tetap memaklumi. Tetap. Dia tetap cantik, meskipun tidak bisa membedakan mana kemasan sabun cuci muka dan mana kemasan lem tikus. Jangan-jangan itu rahasianya. Wajahnya bikin “lengket”.




Pembeli nunjukin koreng
Kamu kaget mendengar suara klakson motor yang sumbernya dari depan apotek. Dua orang lelaki berkulit legam baru saja turun dari motor. Satu orang di antaranya membuka pintu kaca dengan keras.

“Ah, tai. Rame banget!” gusar dia.

Kamu melihat orang itu memegang kardus odol. “Apalagi sekarang? Jangan-jangan dia salah bawa contoh juga. Dia bawa kardus odol, tapi mau beli lip balm?”

“Bang!” teriaknya.

“Apa?”

“Obat buat ini ada nggak?!” katanya dengan kasar seraya menunjukkan koreng di lututnya.

Karyawan apotek langsung berlari ke belakang. Sepertinya sedang menyiapkan senapan gajah. Tidak lama kemudian, dia melihat kamu. “APA LO! MAU KAYAK GINI JUGA?”

Kamu segera lari keluar apotek.

Sumber: mashable.com


***

Setelah cukup pusing melihat para pembeli di apotek (yang sebenarnya tidak benar-benar beli), akhirnya kamu tidak lagi merasa sakit. Kamu lebih memilih menulis cerita fiksi di Wattpad dengan dalih dapat mengobati patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.


9 komentar:

  1. hahaha... malah minta ayah baru tuh ibu.
    kalau yang beli obat anak muda gaul gimana yah reaksi mas penjaga tokonya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahhh betul tuh kak, nulis cerita fiksi di wattpad ajee...

      Delete
  2. Emakku dong, nanya ke mbak-mbak apoteknya, "Mbak, ada obat cacing buat anak umur 20 tahun gak?"

    Atuhlah umur segitu masih dibilang anak-anak :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, masih nggak bisa ngelepas masa kecil, mungkin.

      Delete
  3. Mank ada y bayi dalam kandungan batuk2?

    ReplyDelete
  4. Satu lagi orang yang pake sudut pandang "Kamu." Dan ini curhat terselubung kah? Yuhuuuu~

    Telek banget obat hati sampe diulang beberapa kali. Langsung ingat lima perkara yang jarang dilaksanakan semuanya itu kaaaan. :(((

    Hahahaha. Nah aku masuk tipe pembeli yang beli obat yang nunjukin contoh tuh, Rob. Tapi gak sampe salah bawa contoh juga. Eh atau mungkin belum kali ya. Biasanya beliin obat buat Mama sih. Kalau buat diri sendiri palingan mentok beli obat di warung :")

    ReplyDelete
  5. Hampir gak pernah ke apotek, sih, anaknya. Kalau sakit cukup dibawa tidur aja. Muahaha. :D

    Parah ini pake daster YOGS masa narinya saman. Poco-poco dong!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.