26 April 2017

Setelah selesai UN, praktis fokus gue hanya terpusat pada SBMPTN. Pergi ke bimbel enam hari dalam seminggu membuat gue jadi nggak terbiasa ada di rumah. Satu hari kosong pun tetap gue gunakan untuk pergi keluar rumah. Gelanggang Remaja Jakarta Barat (GRJB), Grogol, menjadi tempat yang akan gue datangi dalam rapat sebuah organisasi.

Seringnya begitu. Berangkat pagi, pulang sore. Pulang ke rumah bawa ranting pohon, nyusun sarang, bertelur. Bentar, itu manusia apa burung dara?

Rencananya gue pergi pukul 12.15. Sambil menunggu datangnya siang, dua jam sebelum pergi, gue ketiduran. Pukul 11.45 gue terbangun, tidak menemukan siapa pun di rumah. Bapak pergi ke TPS dan Mama ngajak jalan-jalan cucunya, yang kebetulan tepat berusia satu tahun hari itu. Perut gue sangat lapar, tetapi nggak ada makanan. Tidak terlalu jadi masalah karena gue sudah terbiasa seharian nggak makan. Gue bergerak cepat untuk siap-siap pergi. Tak lama kemudian bapak gue pulang dari TPS. Segera gue berangkat setelah teman-teman di grup Line melapor sudah tiba, sedangkan gue baru melapor, “Otw.”

Hampir sampai di tempat menyetop angkot, gue ketemu Mama yang sedang menggendong cucunya. Dia juga membawa kantong kresek berwarna merah transparan. Ada banyak bungkusan kertas putih di dalamnya. “Mau ke mana?” tanyanya melihat gue terburu-buru. Gue langsung nutupin muka pake tas dan berbisik, “Pait... pait... pait....”

Ya, gila aja. Bisa-bisa gue dikutuk jadi papan penggilesan kalau beneran begitu.

Gue menjawab, “Mau ke Grogol.”

Wajahnya kebingungan. “Udah mama beliin nasi padang.”

Hal ini membuat gue dilema. Ambil atau nggak?

“Nggak bisa pulang dulu?” tanyanya. “Ya, udah. Bawa aja.” Mama memberi gue sebungkus nasi padang. Padahal gue baru ngomong dalam hati, “Nggak bisa buat sore aja, nih?”, langsung direspons, “Nggak bisa sampe sore. Nanti basi!”

“Tapi, nggak ada plastiknya, nggak papa, ya?” tanyanya lagi.

Gue sedikit tidak enak untuk menolak. Kalau gue terima nasi padang ini tanpa dimasukin plastik, gue takut kuahnya tembus dan tumpah ke dalam tas ngebasahin buku. Nggak mau dong gue, setiap belajar dihantui aroma kuah sayur nangka? Kalau gue tolak, nggak enak udah telanjur dibeliin. Dengan mempertimbangkan pasal berbakti pada orang tua, gue ambil bungkusan itu, lalu gue taruh di atas sweater di dalam tas.

Pikiran gue sepanjang perjalanan menuju halte Transjakarta: nasi padang ini harus habis sebelum sampai di GRJB.

Gue resah menggendong tas ini. Belum pernah gue merasa bersalah membawa nasi padang sebelumnya. Tas juga menjadi berat. Tanggung jawab dan amanah yang gue emban kian berat setelah gue buka tas, aroma sayur nangka ingin mendobrak keluar. Nafsu kian menggelora. Aroma legit, yang gue perkirakan asalnya datang dari rendang, mengguncang hormon pengundang rasa lapar. Beruntung gue mendapat tempat duduk. Bila gue harus berdiri, gue tahu alasan mengapa nantinya nasi padang gue rasanya jadi asem. Bukan karena basi, melainkan sudah terkontaminasi ketek penumpang bus.

Model bus Transjakarta makin bagus

Gue harus menyikapi hal ini secara serius. Gue tidak ingin nantinya di sana ada hal-hal yang membuat gue terganggu. Gue nggak mau tiba-tiba izin cuma buat makan, apalagi gue datang paling terlambat. Meskipun ini bukan pertemuan khusus angkatan gue, tetap gue harus jaga fokus. Gue harus ngabisin ini sebelum ketemu teman-teman di sana. Dengan kata lain, gue nggak mau bagi-bagi.

He he he.

Sampai di halte Sumber Waras, gue langsung mencari tempat di mana bisa gue santap nasi padang ini. Di tangga penyeberangan? Wah, ngalangin orang jalan. Di trotoar? Takut keciduk satpol pp. Di Bukit Stroberi? Jauh banget.

Hal yang saat ini gue butuhkan adalah tempat yang lega dan sepi, tanpa kucing. Gue bertemu dengan sebuah tempat cukup luas. Sebuah lahan kosong berubin hitam, tidak ada siapa pun membuat gue langsung mengambil keputusan amat penting ini. Pelataran 7-11 yang sedang tutup menjadi tempat singgah sementara untuk menyantap nasi padang. Tidak ada sendok, tidak ada kobokan, dan tidak ada izin pemerintah. Lahan kosong, jabanin!

Sebungkus nasi padang mulai dieksekusi. Digelar di atas ubin begitu saja. Nggak pake acara bikin tenda sekalian api unggun (buseh, ini beneran kamping namanya!).

Makan, Bang...

Gue membersihkan tangan dengan air mineral yang gue beli di minimarket sebelumnya. Gue merasa rugi beli air cuma buat cuci tangan. Sambil menggigit rendang, gue teringat momen yang dulu pernah gue alami saat lomba pramuka sewaktu SD. Cara kami makan siang saat itu, sama seperti yang sedang gue lakukan saat ini. Ternyata, cara-cara pramuka masih gue ingat dan tanpa malu gue lakukan kembali setelah enam tahun lamanya.

Juga, tanpa malu gue tulis di blog!

Oke, oke. Ini postingan akan menjadi pertanyaan di luar sana:

Apakah dunia kurang menarik sampai-sampai si Robby nulis di blog tentang pengalaman makan nasi padang di pelataran Sevel?

TULIS CINTA-CINTAAN KAPAN, NIH?!

Hahaha, simpulkan sendiri.

Intinya, di mana pun kamu berada, nasi padang adalah tetaplah nasi padang. Sampai dijadikan judul lagu penyanyi Norwegia, lho! Bukan maeeen.

--

Gue baru aja nyoba kamera laptop. Nggak bagus-bagus amat, sih. Lumayanlah buat nampang di sini.

Kayak robot depan Hoka-hoka Bento

21 April 2017

Hal tersulit bagi gue untuk menulis sebuah cerita adalah saat harus mengingat kembali kejadian secara berurutan. Terutama ketika menghadiri suatu acara tertentu dan ingin menuliskannya. Ini salahnya bila tidak menulis poin-poin terlebih dahulu. Gue mencoba mengingat apa saja yang terjadi. Setelah itu, nyadar... kok malah kebanyakan cerita perjalanan ketimbang acaranya, ya?

Contoh nyata adalah saat kopdar bareng Blogger Jabodetabek.

Seharusnya postingan ini berisi pengalaman gue try out SBMPTN. Bila menemukan lebih banyak cerita perjalanannya, mohon dimaklumi, ya.

***

Perjalanan dimulai dari halte Trasnsjakarta Rawa Buaya. Kemudian bus yang gue naiki kini akan melewati halte Indosiar dan gue turun untuk transit, menaiki bus rute ke Lebak Bulus lalu turun halte Simprug. Tempat gue try out, kampus Universitas Pertamina, ada di sana. Dari halte Simprug, menurut rencana gue, akan disambung menggunakan ojek online. Gue sampai di halte Simprug pukul 6.30, sesuai dengan perkiraan dari rumah. Try out dimulai pukul 7 menurut jadwal. Jadi, gue masih punya waktu 30 menit bersama driver ojek untuk nyasar-nyasaran. Gue juga khawatir bila ternyata kampus Universitas Pertamina jauh dari sini (halte Simprug).

Keluar dari halte gue menyalakan Mifi Bolt. Alat ini adalah nyawa buat menyalakan data di handphone gue. Dia juga yang menggantikan peran kartu GSM yang sekarang kerjaannya cuma buat SMS dan nerima telepon orang tua. Baru lima menit gue membuka aplikasi Grab, ikon Wi-Fi di handphone menghilang. Gue ngecek Bolt ternyata mati. Panik. Gue hidupin berkali-kali tetep nggak nyala. Mampus. Gimana caranya gue tahu perjalanan setelah ini? Gue harus ke mana? Aku butuh peta! Bedebah kamu, Mifi Bolt!

Gue resmi tersesat. Kalau di film, para petualang tersesat di hutan karena kompasnya hilang, maka kali ini Robby Haryanto, si bocah kampung dari Kalideres, tersesat di Simprug karena kehilangan akses internet. Digital itu kenyataan!

TERSESAT

Gue sebenarnya bisa saja kembali ke halte berhubung di sana ada akses internet gratis. Sayangnya koneksi di sana nggak terlalu cepat. Buat buka Facebook Lite saja susahnya bukan main. Bisa juga menggunakan pilihan kedua: kembali ke halte, lalu naik bus rute ke arah rumah. Batal try out deh.

Bukan Robby Haryanto namanya bila menyerah di tengah perjalanan. Kekuatan gue yang sedikit ganteng ini berkata, gue harus melanjutkan perjalanan. Gue memutuskan jalan kaki tanpa arah di bagian timur halte. Gue nggak tahu mau ke mana. Positifnya, siapa tahu dengan cara begini gue bisa menemukan kampus Universitas Pertamina dengan kaki gue sendiri, tanpa aplikasi. Negatifnya, jalan tanpa arah berisiko membawa gue ke Pantai Selatan. Diculik Nyi Roro Kidul yang lagi patroli, diajak party.

Sia-sia sudah uang yang gue pake buat bayar try out, pikir gue. Berjalan tanpa tahu di mana dan ke mana, bingung harus bertanya pada siapa. Hari masih pagi, di jalanan masih sepi. Orang-orang masih di rumah, CFD-an di Monas, atau baru pulang party di Pantai Selatan. Sampai perjalanan tanpa arah ini mempertemukan gue dengan sebuah bundaran. Akhirnya gue menemukan kehidupan di sini. Beberapa orang berkumpul di depan sebuah warteg.

Gue bertanya pada seorang bapak. “Pak, kalo ke Unires--Univertisas Pertamina lewat mana ya?” Gue ngetik bukannya typo. Saking groginya gue ngomong berlibet.

Beliau menunjuk kopaja di depan kami. “Naik itu aja.”

Tak lupa mengucap terima kasih, gue langusng menaiki bus kopaja lalu menghampiri sopir. “Bang, lewat Uni—uniresvitas Permitana nggak?” tanya gue keapda sopir. Saking groginya, gue masih ngomong berlibet. Si sopir menggelengkan kepala dan menarik tuas gas. Gue buru-buru turun sebelum bus ini ngebut. Nanti malah gue disuruh bayar.

Gue marah-marah sendiri di sepanjang trotoar. Menyesali setiap hal terlewati. Padahal, Mifi udah di-charge sejak tadi malam, tapi kenapa pas gue pake pagi hari malah abis? Mesakke tenan.

Masih dalam amarah tak terkontrol, di ujung trotoar sana, ada dua orang berjilbab dengan celana jins dan menggendong tas. Mata gue berbinar-binar. Bukan karena mereka cantik (ya iyalah, cuma dilihat dari belakang!), tetapi gue langsung menyangka mereka adalah jawaban atas segala kegundahan hati ini sejak lama.

Asik.

Gue mempercepat kecepatan langkah kaki. Gue semakin bergairah setelah melihat salah satu di antara mereka membawa papan ujian. Inikah orang yang kau titipkan untukku, Ya Allah? Mereka adalah jawaban atas marah-marahku tadi di trotoar. Gue menaruh dugaan, mereka adalah peserta try out, sama seperti gue. Gue hampir mendekati mereka. Mereka beberapa kali menoleh ke belakang, seperti mencurigai ada yang mengikutinya. Lalu gue memperlambat langkah agar tetap memberi jarak pada dua orang penyelamat. Tiba-tiba mereka hilang, berbelok ke kiri. Gue mempercepat langkah biar nggak kehilangan langkah. Gue mendapati wujud mereka lagi. Gue melihat ke atas ada sebuah gapura bertuliskan “Universitas Pertamina”.

Yes! Nggak jadi batal try out. Yes, mereka adalah penyelamat dalam kesesatan ini. Yes, terima kasih, cinta!

Berhubung sudah telanjur gue ceritakan di sini, mereka harus diberi hadiah. Untuk kamu yang diem-diem saya ikutin, inilah hadiah untukmu.



Karena kalian adalah dua orang yang hanya tampak dari belakang saja.



***

Di dalam gelanggang, di bagian tribun penonton, gue menajatuhkan pantat dengan senyum lebar. Tribun masih kosong. Pelaksanaan ngaret hingga pukul 9.00. Pilihan gue duduk di sini, di tribun yang sepi, bukannya tanpa alasan. Gue sudah memprediksi akan ada dua sampai tiga cewek duduk di sebelah gue. Lalu diam-diam gue akan mengintip kertas ujiannya, mengetahui nama panjangnya, dan gue follow Instagramnya. Kenalan deh.

Nyatanya, sebelah kanan-kiri gue cowok.

Selesai try out, secara mengejutkan gue memutuskan pergi ke Pusat Grosir Cililitan (PGC). Karena dapat info di Facebook sedang ada promo buku di sana. Perjalanan satu jam lebih gue tempuh. Gue celingak-celinguk mencari di mana tempat promo itu. Berkali-kali lewat gerai handphone, disambut dengan pertanyaan: “Mau cari apa, Mas?” atau “Tanya aja, Bang”, yang mana kalau gue sahutin mereka, akan gue tanya, “Temen kamu suka nyebut tempat makan dengan sebutan ‘lestoran’ nggak, sih?”

Gue tidak mendapati apa yang gue bayangkan. Tidak seperti di Matraman beberapa minggu yang lalu, di sini hanya ada buku dari beberapa penerbit saja. Gue mengobati rasa kecewa dengan minum cappucino cincau.

(Sorry, lupa difoto. Udah haus banget soalnya)

Pulang dari perjalanan, deket bak sampah berbahan semen dekat rumah, dua orang berboncengan motor matic berhenti di depan gue. Kondisinya gelap, membuat gue agak khawatir. Yang mengendarai motor bertanya ke gue. “Konter hape deket sini di mana ya?”

“Ke sana. Belok kiri. Ikutin jalan, terus belok kiri lagi,” ucap gue cepat sambil mengarahkan dengan gerakan tangan. Gue tidak mau berlama-lama di sini dengan mereka.

“Terima hape batangan nggak ya?”

“Hah?” Gue nggak nangkep apa ucapan mereka.

“Bisa jual hape nggak? Saya mau jual hape.” Dia memukul pelan pahanya, menunjukkan di mana handphone-nya disimpan.

“Kurang tau. Biasanya di konter gede.”

Dia merogoh kantung celana jins pendeknya. “Mau bayarin hape saya nggak?”

“Nggak, Mas.” Gue melambaikan tangan, dalam hati, “YA KALI NAWARIN HAPE KAYAK NAWARIN MAKAN!”

“Makan, Bang....”



Ini Yonglek ngapain tiba-tiba muncul?

Buru-buru gue berlari. Mumpung rumah tinggal beberapa meter lagi, kalau dia memaksa atau melakukan tindak kriminal bakal gue laporin tetangga.

Ada satu kecurigaan gue:

Kenapa mereka menjual handphone tanpa ada persiapan layaknya orang yang menjual handphone? Tanpa kardus atau aksesoris lain, yang biasanya didapat dalam satu paket pembelian handphone. Kenapa harus ketemu dan nawarin gue? Pas banget gue cuma sedikit, harusnya gue nanya, “Berapaan? Cenggoh dapet?”

Sudahlah. Gue nggak ingin bertemu mereka.

**

Gue peka melihat keadaan sekitar. Tempat gelap, sepi, tanpa siapa pun. Dua orang menawari handphone. Agak mirip kejadiannya ketika gue SD. Suatu siang, seorang lelaki menghampiri gue, yang sedang jalan sendirian, menanyakan jam. Gue menjawab, “Jam 2.” Dia menanyakan lagi, “Tau dari mana, Dek?”

“Tadi dari rumah saya jalan jam setengah dua.”

“Emang nggak ada jam atau handphone gitu.”

DAMN! Ada niat buruk gue cium di sini. Gue buru-buru menjawab tidak ada, padahal gue membawa handphone di dalam tas. Gue lari.

**

Kepekaan bisa datang dari memelajari pola. Sesuatu yang muncul dalam pengamatan dapat membentuk pola. Dari sana, bisa diketahui apa yang sebenarnya akan terjadi. Misalnya, gue yang terus-terusan ngelihat cewek bawa-bawa papan ujian. Juga, driver ojek online yang boncengin penumpang sambil bawa papan ujian. Dari sekian banyak yang bawa papan, gue harus lebih teliti lagi ngebedain mana yang bawa papan ujian dan mana yang bawa papan penggilesan, bahkan talenan. Meskipun bentuknya mirip. Kemudian gue ikuti ke arah mana mereka pergi.

Pengamatan dari kejadian yang terus-terusan terjadi membuat gue banyak memunculkan dugaan, kecurigaan, dan suuzan. Dikit, sih. Sama seperti kecurigaan terhadap kebiasaan diri sendiri yang dikit-dikit jadi suka stalking. Pasti ada apa-apanya. Sama seperti orang yang selalu membuang wajahnya ketika ketahuan curi-curi pandang, dan

Sama seperti pesan masuk yang akhir-akhir ini sering gue terima, dari orang yang sama.

17 April 2017

Halo, pembaca Line Tomorrow. Gue Kipli, ghostwriter-nya robbyharyanto.com. Nah, blog ini nih, blognya Robby Haryanto, gue yang nulis.

Ngomong-ngomong, gue lagi bebas ngakses blognya si Robby nih. Mumpung dia masih ngerasain euforia kelar UN, asik-asikan konvoi gitu deh dia. Saking keasikannya, kabarnya dia hilang. Nyiahaha. Tapi dia barusan bilang di Watsap, katanya dia takut milok baju sendiri. Akhirnya dia ke warnet, keliling-keliling ke blog orang. Coret-coretin kolom komentarnya. Blogwalking.

Mungkin selama ini para pembaca blog robbyharyanto.com banyak yang nggak tau kalo gue adalah orang yang berperan besar dalam blog ini. Tiap bulan selalu ada postingan baru berkat hasil kerja gue. Makanya, agar semakin mengenal gue, perkenalkan kembali nama gue Kipli. Nama panjang gue Keep-Li-sten Your Mom’s Advice.

Mulut ditutupin biar nggak kelihatan lagi monyong

Gue adalah ghostwriter, atau penulis bayangan, dari blog robbyharyanto.com. Gue pikir, inilah waktu yang tepat buat gue ngungkapin semuanya. Blognya Robby resmi gue bajak.

GUE BAJAK. DER!

Tapi, kalian nggak tau apa itu ghostwriter? Payah!

Ghostwriter itu orang yang nulis (penulis) tanpa nyebutin dirinya sebagai penulis pada hasil tulisannya. Terus, karya itu diakuin sama yang bayar jasa si ghostwriter. Nah, si Robby itulah yang ngakuin tulisan gue karena dia bayar gue. Sayangnya, bos gue ini pelit. Dia cuma bayar gue pake like foto Instagram. Pelit banget sumpah. Status Line atuh sekalian.

Intinya begini: Robby punya ide buat ngisi blognya, tapi dia males ngetik. Dia nyuruh gue ngetik. Gue selesai nulis setelah itu diposting di sini dan diakuin jadi tulisan Robby. Nah, selama ini kalian ngira Robby yang nulis sendiri di blognya? Big no, Coy! Robby mah seneng-seneng aja modusin kenalannya di Facebook. Pada nggak tau aja, sih. Nyiahaha. Sukurin, gue bongkar aib lu, Rob.

Awal-awal dia minta gue buat nulis di blognya adalah pada suatu siang di warnet. Dia ngebuka menu “pos” kebingungan. Katanya, “Mau ngisi apaan coba? Belum belajar semalem.” Dari balik bilik warnet gue ngelihatin ada orang mukanya resah banget. Jangan-jangan buka situs porno ini anak, pikir gue. Gue kagetin anak itu, “Woy, buka apaan lu?!”

Mukanya pucet. Tingkahnya gelagapan. Mouse bergerak cepat. Persis kayak bocah lagi ketahuan nonton video porno. Dia jawab gemeteran, “Nggg... ini... itu... anu....”

“Nonton bokep ya?!”

“BUKAN!” kata Robby. “Ini nggak ada orang telanjangnya. Apaan ini namanya, Bang?”

Gue melihat ke layar monitor di depan dia. Sebuah ruang besar berwarna putih tampilannya seperti Microsoft Word. Sampai akhirnya gue tahu, kalau itu adalah tampilan pos blog. Gue tanya ke dia, “Ngapain lu ngeblog?”

“Biar keren, Bang!” jawabnya cepat.

“Mau lu isi apaan blog lu?”

“Nggak tau.” Robby garuk-garuk kepala. “Mau diisi beras, nanti jadi ketupat. Hehehe.”

Iya, sejak dulu Robby ngeselin.

“Sini, gue yang ngetik. Nanti lu kasih tau aja apa yang lu mau tulis.”

Dengan bayaran 25 likes Facebook, secara resmi, sejak itulah gue menjadi ghostwriter blognya Robby Haryanto. Nggak lama setelah peresmian tulisan blog, gue heran tiba-tiba dia bertingkah aneh.



Pada tau, kan, kalo blog ini umurnya udah hampir 3 tahun? Berarti gue udah hampir 3 tahun nulisin buat Robby. Makin lama gue ngerasa tertekan. Tekanan batin paling sering. Tiap Robby nyumbang ide seriiing banget dia nyelipin curhat. Kuping gue panas. Heran sih, padahal, kan, chatting-an bacanya pake mata, bukan pake kuping. Iya begitu, dia pake segala nyuruh gue nempelin kuping ke atas magic com. Dodolnya gue mau aja. Hhhhh.

Makin sebel lagi kalo dia curhat soal kenalannya di Facebook. Padahal sekarang kan sedikit yang mainan Facebook. Akun gue aja udah laku kejual cuma gara-gara level Ninja Saga-nya udah tinggi. Untung itu akun palsu gue. Yang beli Robby pula. Diem-diem aja nih, akun palsu yang Robby beli itu akun gue. Jangan kasih tau orangnya.

Pokoknya, gue benci Robby. Dikira gue buku harian apa dicurhatin mulu. Gue pernah ngerencanain biar Robby kesakitan, lalu dia kapok ngeblog. Salah satunya adalah peristiwa tergeboknya tetet Robby pas main futsal. Sukurin. Nyiahaha. Dia guling-guling di lapangan megangin tetet kayak bocah baru sunat keabisan obat bius. Biar dia ngerasain gimana yang namanya “dunia berhenti berputar sejenak”.

Sialnya, gara-gara kejadian itu dia malah curhat lagi, terus nyuruh gue nulis di sini. Emang dasarnya dia tukang curhat atau gue yang mental buku harian ya? Gue bingung sendiri. Selalu kejadiannya kayak begitu. Tiap ada masalah dia selalu bilang, “Pli, tulisin dong cerita gue.” Udah capek dicurhatin, capek ngetik pula. Asem bener ini anak lama-lama. Lama-lama gue jadi guru BK pribadinya nih.

Terus terang aja, selain blog, si Robby juga nyuruh gue buat nulisin kerjaannya di Proyek WIRDY. Yang nulis postingan Kangen Band juga gue. Tulisan itu sebenernya udah gue kurang-kurangin. Abisnya, si Robby parah banget mintanya. Katanya, “Pli, tulisin di blog gue dong tentang Kangen Band. Bahas aja sedikit. Ya, dua albumnya juga nggak papa.” Gue nggak tau lagunya Kangen Band kecuali Juminten. Pokoknya bener-bener tertekan deh. Gue ngetik sambil tengkurep, Robby duduk di atas gue. Ketekan batin dan fisik. Makin emosi aja gue. Asem, asem….

Makanya, tolong yang belum baca, buruan download ya. Karena itu adalah bentuk pengharagaan dari punggung gue yang remuk. Download di sini, Coy.

Gue baca-baca di forum-forum ghostwriter, mereka punya klien yang keren. Klien mereka biasanya orang-orang terkenal. Proyek yang dikerjain juga keren-keren. Blog tutorial, buku, skrip film, buku tabungan, dan lain-lain. Sekarang gue nyesel aja, cuma jadi ghostwriter dari blog yang isinya curhatan anak SMA.

Untung Robby anak SMA. Coba kalo Robby masih SD, apalagi anak SD zaman sekarang yang pacarannya suka manggil “Abi-Umi”. Seandainya Robby kayak bocah SD yang gue maksud dan dia melihara blog, gue stres nulisin ceritanya. Tiap hari ini anak paling ngeluhnya:
“Pli, gue tadi gak bisa pulang bareng istri naik sepeda BMX gara-gara dia dijemput mertua”, atau
“Pli, gimana nih hubungan gue? Jalu sepeda disita mertua gara-gara ketauan SMS-an sampe jam 8 malem”.
Kalo suatu saat gue disuruh jadi penulis konten blog anak SD kayak gitu, gue suruh tanda tangan dia. Di atas buku nikah. Sukurin lu masih bocah udah nikah.

Gue baru inget. Kemarin ngecek Watsapnya Robby, ada rame-rame gitu di grupnya ngomongin proyek nulis. Berhubung Robby lagi ngilang, gue aja deh yang ngisi. Nyiahaha. Makasih udah baca.

*kabur*



--

Yoga Akbar Sholihin: Palsu
Icha HairunnisaNge-BF Bareng Yoga Akbar Sholihin: Dari Easy A Turun Ke Pencitraan Mesum
Rahayu Wulandari: Who Am I
Darma Kusumah: sedang dalam proses. Proses kembali ke Tanah Air. Masih sibuk di Turki.

14 April 2017

Akhirnya UN selesai. Selesai UN rasanya seperti ada potongan dari diri gue hilang melayang, yang bikin badan gue jadi lebih enteng. Rasanya seperti disunat kembali.

Ujian Nasional tahun ini gue kebagian ngerasain ujian pake komputer. UNBK namanya. Kalau melihat judul postingan ini, “Selesai UNBK”, berarti: “Selesai Ujian Nasional Berbasis Komputer”. Bukannya, “Selesai Ujian Nasional Berencana Kawin”. Gue akui, UNBK itu seru! Milih jawaban tinggal klak-klik doang. Mau ganti jawaban tinggal klik. Nggak kayak sewaktu pake kertas: harus ngehitamin kertas dulu sampe bungkuk. Belum lagi kalau salah. Ngapus kekencengan kertas malah robek.

Padahal, kalau ditelaah, UNBK dibuat pemerintah agar mengurangi perdukunan. Nggak percaya?

Dulu, kita sering denger ada kepercayaan “pensil yang didoain”. Semacam pensil yang dikasih ajian keramat biar lancar jaya ngerjain soal. Sekarang? Oh, tidak bisa! Sekarang cukup pake mouse, beres. Nggak ada, tuh, kabar di masyarakat atau forum-forum pelajar yang bilang mouse-nya udah dijampi-jampi. Digerakin dikit, jawabannya muncul. Nggak ada.

Atau, listening test. Mungkin, (ya, mungkin aja) dulu waktu zaman perdukunan, orang-orang yang mau UN dikasih cotton bud yang udah didoain sama mbah dukun. Biar lebih lancar dikasih headset/earphone yang udah dijimatin. Sekarang nggak bisa banget. Di sekolah udah disediain. Belum ada kabar ajaibnya earphone yang dipasang ke kuping, sekaligus dibisikin jawabannya.

Lalu, gue mau membahas bagian ujiannya.

Hari pertama Bahasa Indonesia. Ngerjain soalnya masih enak. Teksnya nggak terlalu panjang, nggak perlu nyekrol mouse sering-sering. Takutnya kalo kepanjangan bingung mau komen apa. Emangnya blogwalking!

Hari kedua Matematika. Penyakit gue kambuh lagi: lupa rumus, nggak tau cara ngerjainnya, tau cara ngerjain dan inget rumus malah kelamaan mikir itungan. Tau, kan, tipe-tipe orang yang lagi ngerjain soal spontan nanya, “8 kali 9 berapa? Oh iya! 72.” Nah, gue kayak gitu, cuma lebih lama: “8 kali 9 berapa? Hmm....” Baru ketemu jawabannya dua tahun kemudian. Pokoknya bener-bener gagal fokus. Muka temen-temen gue juga banyak yang asem. Kesel juga kayaknya mereka.

Hari ketiga Bahasa Inggris: Kuping gue normal kembali. Kendalanya cuma di teks yang kata-katanya berat dan panjang. Tapi, fun aja ngerjainnya. Lalu hari terakhir Kimia, yang soalnya lumayan menghibur. Gue jadi ketawa-ketawa sendiri setelah ngitung dengan senang hati dan tanpa beban, ternyata nggak ada jawabannya di pilihan ganda.

Setelah UN (bahkan sejak jauh-jauh hari), kami diimbau untuk nggak melakukan konvoi dan coret-coret baju. Kalo gue, tanpa dikasih tau itu dilarang juga males nyoret-nyoret baju. Gue cuma mikir, seandainya baju yang dicoret-coret pilox gue simpan, lalu gue lihat kembali suatu saat nanti, gue hanya akan terbawa ke momen coret-coretannya. Momen yang pastinya terjadi secara brutal. Baju disemprot cat warna-warni. Temen-temen menorehkan spidol di kaos gue, menandatangani. Gue ketawa kesetanan.

Nggak gue banget.

Terus terang, warna awal seragamlah yang akan membawa kenangan gue kembali ke masa-masa SMA. Gimana gantengnya gue waktu kali pertama pake seragam SMA, dengan bagian kerah yang masih kaku. Lalu baju batik, yang bikin gue takut keabisan karena stoknya sedikit sampai harus stay terus di koperasi, dan akhirnya kena setrap pada pelajaran Biologi karena telat masuk kelas. Gimana asiknya waktu naik tangga pas desak-desakan, baju gue nyenggol ke baju cewek-cewek.

Itu seharusnya yang diingat.

(Yang terakhir nggak sering kok.)

Gue jadi mikir, kenapa setiap abis UN selalu identik dengan banyaknya kebebasan? Mau ngelakuin ini-itu bebas. Memang bebas, tapi banyak yang mengarah ke perbuatan negatif.

Kembali ke diri masing-masing, perayaan setiap orang berbeda-beda. Lagipula, belum saatnya juga merayakan besar-besaran karena ijazah belum di tangan, kan?

Oh iya, kalau gue punya cara tersendiri. Gue tidak tawuran, tidak coret-coretan, dan tidak pergi ke tempat remang-remang. Gue hanya konvoi, lalu mencoret-coret kolom komentar blog orang lain. Maklum, blogger pelajar. Hehehe. Kenakalan remaja yang gue lakukan setelah UN hanyalah sebatas... makan mi samyang.

Mi yang ngehits banget ini gue dapat dari kakak gue sejak seminggu yang lalu. Dia mewanti-wanti, “Makannya nanti aja abis UN!” Lho, udah kayak coret-coretan aja nungguin kelar UN. Dia menambahkan, “Makannya jangan sendirian!” Lho, ini lagi. Ini mau makan udah kayak pergi ke kamar mandi. Minta ditemenin.

Berhubung sudah dapat restu gue masak deh. Tadinya sempet nggak ngerti gimana cara masaknya. Kemasannya juga kebanyakan diisi tulisan Korea yang sama sekali gue nggak ngerti. Gue mengira mi ini disajikan dengan kuah. Ternyata,... dengan kueh. Nggak gitu, sih. Pokoknya gue udah ngebayangin mi ini enak banget. Terkenal pedes, terus pake kuah. Seger gimana gitu. Enak buat ngobatin pilek.

Akhirnya gue tanya ke grup WIRDY, “Mi samyang itu mi kuah bukan?”

Sebelum dibalas, gue baca kemasan lebih teliti ada tulisan “Mie goreng” berukuran kecil. Hahaha, payah. Kayaknya udah jadi kebiasaan nanya tapi nggak mau baca lebih dulu.

Awalnya gue pikir mi samyang, ya, kayak mi pada umumnya. Direbus. Dimakan. Tambahin nasi. Tadinya malah gue beneran mau nambahin nasi. Berhubung mi ini udah masuk ke challenge-challenge Youtube, niatan itu gue batalkan. Takutnya malah diketawain kalo gue cerita ke temen, “Gue makan samyang pake nasi dong!”

Maaf menuduhmu mi kuah
Orang-orang bilang, samyang pedes. Gue nyobain nggak ngerasa pedes-pedes amat. Pedesan postingan Lambe Turah. Hehehe. Seriusan deh. Gue cuma keringetan aja kok pas makan samyang. Mungkin efek sugesti orang-orang yang bilang pedes makanya gue jadi keringetan.

Kalau kalian abis UN ngapain?

13 April 2017

Kamu merasakan tubuh teramat dingin. Begitu juga dengan suhu lingkungan menjadi tidak pada suhu normal. Sebelumnya kamu pernah merasakan ini sewaktu pergi ke Puncak, Bogor. Kamu memeluk lutut sendiri, mengambil telur yang ada di sisi kulkas dan mengguncangnya, memastikan ada isi di dalamnya. Sampai pada titik terdingin, kamu teriak, “Nggak tahan!” kemudian membuka pintu kulkas dan keluar. Siapa suruh main petak umpet di dalam kulkas?

Kamu dengan segala kesotoyan mendiagnosis sendiri bahwa kamu menderita demam. Jelas, kamu membutuhkan obat. Warung terdekat dari rumah tutup hari ini. Kamu, secara terpaksa, harus lebih kuat berjalan menuju apotek. Bagusnya, itu adalah apotek yang cukup besar di kotamu.

Sampai di dalam apotek, kamu bingung mau beli obat apa. Pengetahuanmu tentang nama-nama obat sangatlah minim. Kamu ragu bila hanya menyebutkan gejala yang sedang dirasakan. Kamu kebingungan. Kamu keluar lagi. Hingga akhirnya terpikirkan untuk melihat macam-macam pembeli di apotek. Kamu masuk lagi, lalu bersandar di dinding memerhatikan pembeli yang mengantre di belakang etalase.



Pembeli ngamen
Kamu mulai memerhatikan seseorang yang baru masuk. Seorang lelaki berpenampilan lecek baru saja masuk apotek. Dari balik etalase muncul seorang karyawan. Lelaki yang baru datang itu tentunya kaget. Lalu dia berkata, “Mas, beli obat dong.” Kamu memerhatikannya dengan saksama.

“Obat apa, Mas?” tanya karyawan apotek.

Lelaki itu mengeluarkan handphone. Dari handphonenya terdengar instrumen lagu lalu dia menyanyi, “O-bat ha-ti... ada lima perkaranya.”

Seisi apotek menaruh kedua telapak tangan di dada. Syahdu.



Pembeli nyasar
Seorang lelaki tua masuk ke apotek. Pakaiannya lusuh, tetapi tidak dengan snapback-nya. Meskipun usianya sudah lanjut, dia mengenakan baju kebesaran sampai bawah pinggang dengan tulisan “YOGS” di dada. Dia melirik ke kiri dan ke kanan, berulang-ulang. Kamu mencurigainya sebagai copet. Sebuah lagu berputar melalui speaker di dalam apotek. Tidak biasanya kamu menemukan hal ini. Lelaki tua itu masih menengok kanan dan kiri.

Lagu itu berganti menjadi sebuah lagu berbahasa daerah. Lagu itu terus-menerus diputar. Kamu mulai merasa bosan dengan lagu yang itu-itu saja dan tidak mengerti artinya. Kamu heran, mengapa penjaga atau karyawan apotek tidak mengubah lagu yang diputar? Kamu semakin heran melihat lelaki itu duduk bersimpuh di lantai, masih dengan gerakan kepalanya ke kanan dan kiri. Tangannya disilangkan dengan telapak memegang bahu. Secara cepat, dia melakukan gerakan seirama dengan musik. Semakin cepat, semakin cepat, tanpa ada komando terlebih dahulu, dia menjerit, “KRRRYAAAAAAH!”

Seorang karyawan bertepuk tangan. Karyawan yang lain menepuk bahu si kakek, berkata, “Kek, kalau mau nari saman jangan di sini.”



Pembeli bawa anak
Seorang ibu masuk ke dalam apotek sambil menggendong anak. Kamu agak kasihan melihat dia. Ibu itu memesan obat di depan etalase.

“Mas, beli obat demam dong.”

“Untuk siapa, Bu?”

“Ini.” Ibu itu menunjuk anaknya.

“Oh iya. Umurnya berapa bulan?”

“Enam.”

Mas-mas apotek mengeluarkan sekotak obat demam.

“Mas,” kata Ibu itu, “anak saya minta bapak baru. Gimana, Mas?”

Mas-mas apotek mengeluarkan handphone. “O-BAT HA-TI.”



Pembeli bawa anak (2)
Seorang ibu masuk ke dalam apotek sambil menggendong anak. Kamu semakin kasihan melihat dia. Sudah dua kali kamu melihat seorang wanita tua menggendong anak untuk membeli obatnya. Ibu itu memanggil karyawan apotek di depan etalase.

“Mas, beli obat batuk dong.”

“Untuk siapa, Bu?”

“Ini.”

“Oh iya. Umurnya berapa bulan?”

“Enam.”

Mas-mas apotek mengeluarkan sekotak obat batuk.

“Nggg... Mas. Yang sakit anak saya yang ini,” kata Ibu itu mengusap perut.

“Lho, anaknya di kandungan udah ngerasain batuk? ‘Ukhuk’ gitu batuknya? Goks!” Mas-mas apotek tertawa sebentar. “Saya nggak tau obatnya, Bu.”

“Tapi, Mas,” kata Ibu itu. “Anak saya gimana?”

“Dengerin, Bu.” Mas-mas apotek mengeluarkan handphone. “O-BAT HA-TI. ADA LIMA PERKARANYA.”



Pembeli bawa contoh kemasan
Kamu semakin bingung. Berada di mana sebenarnya saya, begitu pikirmu. Menurutmu, prang-orang yang ke apotek hari ini tidak seharusnya ke sini. Lebih tepat bila mereka langsung saja DIMASUKKAN KE RUMAH SAKIT JIWA! Kamu kesal.

Dari balik pintu kaca transparan, kamu melihat seorang wanita memarkir motor matic di depan apotek. Dia berjalan sangat santai dengan rok di atas lutut. Kamu sudah terkunci untuk terus menatapnya hingga dia masuk ke dalam apotek. Kamu terpana dengan pahanya yang putih bersih. Rambutnya yang lurus membuatmu berkhayal untuk bisa mengusapnya perlahan. Bayangnya sedikit memudar saat dia berada di depan etalase.

“Mas, sabun cuci muka yang begini ada nggak?” kata wanita itu seraya menunjukkan sebuah kardus kecil kemasan. Suaranya lembut membuat kamu semakin terpesona. Pasti dia pandai menyanyi, begitu pikirmu. Kamu memaklumi dia yang membawa contoh kemasan karena nama produknya pasti sulit diucapkan.

“Coba lihat,” karyawan apotek mengambil kardus kemasan itu, “ini bukannya lem tikus ya, Neng?”

“Aduh, salah ambil. Hehehe.”

Kamu tetap memaklumi. Tetap. Dia tetap cantik, meskipun tidak bisa membedakan mana kemasan sabun cuci muka dan mana kemasan lem tikus. Jangan-jangan itu rahasianya. Wajahnya bikin “lengket”.




Pembeli nunjukin koreng
Kamu kaget mendengar suara klakson motor yang sumbernya dari depan apotek. Dua orang lelaki berkulit legam baru saja turun dari motor. Satu orang di antaranya membuka pintu kaca dengan keras.

“Ah, tai. Rame banget!” gusar dia.

Kamu melihat orang itu memegang kardus odol. “Apalagi sekarang? Jangan-jangan dia salah bawa contoh juga. Dia bawa kardus odol, tapi mau beli lip balm?”

“Bang!” teriaknya.

“Apa?”

“Obat buat ini ada nggak?!” katanya dengan kasar seraya menunjukkan koreng di lututnya.

Karyawan apotek langsung berlari ke belakang. Sepertinya sedang menyiapkan senapan gajah. Tidak lama kemudian, dia melihat kamu. “APA LO! MAU KAYAK GINI JUGA?”

Kamu segera lari keluar apotek.

Sumber: mashable.com


***

Setelah cukup pusing melihat para pembeli di apotek (yang sebenarnya tidak benar-benar beli), akhirnya kamu tidak lagi merasa sakit. Kamu lebih memilih menulis cerita fiksi di Wattpad dengan dalih dapat mengobati patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.

08 April 2017

Menceritakan mimpi bisa menjadi topik obrolan ringan yang menyenangkan. Mimpi di sini yang gue maksud adalah mimpi bagian dari tidur. Meskipun bila kata mimpi diartikan sama dengan impian, tetap masih sama menyenangkan untuk jadi bahan obrolan.

Beberapa kali gue menceritakan mimpi kepada mama gue. Saat merasa harus menceritakan itu, gue harus tahan mengingatnya sampai ketemu momen tepat buat ngobrol dengan Mama, nyeritain mimpi sekaligus curcol. Kita semua tahu, seorang ibu nggak selalu punya waktu luang hanya untuk dengerin curhatan anaknya. Ada kalanya beliau mengerjakan pekerjaannya. Rasanya nggak pas bila gue curhat saat Mama mencuci piring. Kalau mimpi gue mulai dianggap ngelantur, muka gue dikasih abu gosok.

Sumber: pixabay.com


Kayaknya nggak cuma gue yang suka nyeritain mimpi sendiri. Orang-orang yang dekat dengan gue juga sering cerita. Dan seringnya, mimpi yang kita ceritain itu mimpi yang serem, aneh, dan basah. Mimpi disiram air cucian piring, misalnya.

Menceritakan mimpi juga sering dilakukan para pejuang long distance relationship. Si cowok bilang ke ceweknya di sebuah percakapan telepon, “Sayang, aku semalam mimpi ketemu kamu.”

Ceweknya, dengan penuh rasa gembira dan antusias, bilang, “Ih, masa, sih? Kata orang, kalau mimpi kayak gitu artinya kita bakal cepet ketemu atau jadi kenyataan, tau! Hihihi.”

“Oh iya, hehehe. Tapi,” ada hening sesaat, “aku mimpiin kamu lagi diarak keliling desa.”

“Amit-amit, amit-amit.”

***

Di postingan kali ini gue mau ceritain mimpi yang berdasarkan kisah nyata.

Sebuah kutipan motivasi mengatakan “wujudkan mimpi menjadi kenyataan”. Dari kalimat tersebut, pada beberapa tidur yang lalu, gue malah mengalami kebalikannya. Rata-rata isinya betulan pernah terjadi. Kalaupun ada yang melenceng tetap bisa dan mungkin saja terjadi.

Kalau boleh menafsirkan mimpi sendiri, gue menyimpulkan bahwa mimpi-mimpi gue berasal dari apa yang sering gue temui dalam kehidupan nyata. Gue mendapatkan kesimpulan tersebut setelah mengamati pola dari tiga mimpi gue.



Mimpi diajar kepala sekolah

Mimpi ini ada di antara dua dimensi: masa lalu dan masa yang entah-kapan-kejadiannya.

Pada usia 10, gue pernah mimpi main satu tim dengan Ronaldinho. Gue memakai kostum Barcelona, dia juga. Gue merasa keren, walaupun gue bukan pendukung Barcelona.

Beberapa hari yang lalu, gue mimpi sedang berada di sebuah kelas. Gue seorang diri duduk di barisan depan, menyimak pelajaran yang disampaikan seorang ibu guru. Ibu guru menuliskan rantai karbon di papan tulis saat menjelaskan materi Kimia Organik. Dia berbalik badan dan bertanya ke gue, “Sampai sini sudah paham?”

Ternyata dia kepala sekolah gue.

Waktu itu memang gue lagi getol belajar Kimia. Entah karena terlalu sering atau bagaimana, bisa-bisanya momen kayak begini terbawa ke mimpi. Gue pernah baca sebuah artikel yang menyatakan, tekanan bisa berpengaruh ke mimpi. Kondisinya memang gue sedang menghadapi Ujian Nasional. Tetapi, gue merasa nggak tertekan oleh apa pun. Apalagi pelajaran Kimia, yang menjadi mata pelajaran UN pilihan gue, adalah pelajaran yang, bagi gue, nggak ngebosenin.

Kedua mimpi di atas, menurut gue, termasuk yang sulit terjadi dalam kehidupan nyata. Mimpi main bareng Ronaldinho itu sulit terwujud, kecuali gue punya uang banyak terus ngajak dia main futsal bareng. Tapi bermimpi diajar kepala sekolah lebih dekat dengan kenyataan. Mengingat banyak juga kepala sekolah yang merangkap jadi guru.


Mimpi baca buku

Pernah atau sering ngerasain mimpi yang kentang (kena tanggung)? Lagi seru-serunya ngejalanin mimpi, eh, malah kebangun. Ibaratnya kayak lagi ngejalanin misi di game Grand Theft Auto, tiba-tiba waktu nyewa PS udah abis. Persis kayak gitu rasanya.

Gara-gara tulisannya Kresnoadi yang ini, gue juga jadi ingat mimpi sejenis itu.

Mimpi yang gue alami adalah mimpi baca buku. Pada dasarnya sama seperti mimpi yang disebut di atas. Bedanya adalah pada media yang berupa buku. Hanya ada sebuah halaman kertas putih. Dalam pandangan gue hanya ada tulisan seabrek penuh. Mata gue menyapu ke setiap baris, mulai dari atas hingga ke bawah. Seperti membaca buku sungguhan, setiap kali mendapati bagian cerita yang menarik kita akan terus membalik halaman, terus-menerus. Sialnya, di mimpi itu nggak bisa. Sampai di kata terakhir gue malah terbangun. Tidur lagi berharap bisa melanjutkan cerita, tapi nggak bisa. 



Seharusnya, kalau gue bisa mengendalikan mimpi, menjelang kalimat terakhir gue meningkatkan kecepatan membaca, kemudian membalik halaman dengan cepat sebelum terbangun. Lalu menikmati halaman demi halaman selanjutnya.

Omong-omong, apa sih istilah yang cocok buat mimpi kayak gitu? Mimpi kentang? Mimpi yang kena tanggung. Bolehlah, ya.


Yang paling kacau,

Mimpi anggota grup chat ada yang keluar.
Mimpi ini benar-benar nggak penting. Kalau mimpi boleh disesali, gue nyesel mimpiin hal itu. Ngapain juga ada orang mau keluar grup dimimpiin? Heran.

Udah gitu, yang ada di mimpi gue benar-benar sering terjadi di grup chat manapun. Isinya begini:

“Gue izin keluar ya.”

Ada yang balas, “Jangaaaan.” Gue nggak ingat huruf A-nya ada berapa. Pokoknya lebih dari dua.

Permintaan izin itu nggak banyak yang gubris. Sedangkan gue, karena kebiasaan jadi silent reader grup, cuma bisa mantau. Dia jadi nggak jelas dengan nada ngancam, “GUE KELUAR GRUP, NIH!”

Seolah terperintah oleh ancaman itu, gue terbangun. Alhamdulillah. Kalau gue masih ngelanjutin mimpi bisa-bisa gue dijapri, “Tolong kick gue, elah!”

***

Mimpi dengan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan juga pernah gue alami. Agak ribet kedengarannya. Mimpi itu isinya gue sedang mengamati orang lain. Bisa jadi, saking seringnya gue diam mengamati dunia sekitar, sampai-sampai hal kayak gini juga terbawa di alam mimpi. Lucunya, orang yang gue amati dalam mimpi adalah diri gue sendiri, yang entah kenapa jadi lebih brutal.

Misalnya, orang yang gue amati itu—gue sendiri—sedang melakukan perbuatan kejahatan, berduaan dengan cewek di tempat gelap, dan sebagainya. Gue cuma diem ngelihat “sosok gue” yang kotor itu. Gue kayak dikasih gambaran, kalau seandainya gue menjadi berengsek, rusak, dan madesu, maka begitulah jadinya.

***

Pernah punya mimpi yang sumbernya dari kenyataan? Ceritain dong!

01 April 2017

Gile, udah masuk bulan April. Nggak terasa beneran, lho, menurut gue. Sepanjang Februari akhir hingga Maret gue lalui dengan ujian, ujian, dan ujian. Hampir setiap hari ketemu kertas soal dan lembar jawaban. Hal ini mengakibatkan mata gue menjadi sering sakit (apalagi kalau ketumpahan air panas!).

Bagusnya, gue jadi sering pulang cepat. Hehehe.

Sedikit membahas ujian-ujian yang gue lalui selama hampir sebulan. Pertama, ada ujian sekolah. Tidak terlalu bermasalah ujian ini. Malah bagi gue menjadi sangat berkesan ketika gue bisa kerja sama dengan teman-teman. Beberapa pelajaran memang diujikan secara kelompok, misalnya Seni Musik dan Prakarya.

Seni Musik kami tampil bawain lagu “Yamko Rambe Yamko” ditambah gerakan-gerakan dengan sedikit gubahan yang kami tonton di Youtube. Menjadi keren lagi ketika gue memukul gendang marawis agar menambah kesan pedalaman. Selain nyanyi, ujian praktik Seni Musik menampilkan boyband. Yeah, nyanyi sambil joget-joget. Seru banget ternyata! Apalagi waktu teman gue, Josua, ngasih bunga ke adik kelas cewek yang menonton saat itu. Nggak cuma dia, tentunya gue jadi merasa keren saat pake jas, lompat-lompatan, dan ngos-ngosan. Susah ngaturnya antara nyanyi dan joget. Pokoknya keren deh!

Selain Seni Musik, Prakarya juga seru karena ujiannya disuruh masak. Kami berkelompok enam orang. Walaupun gue cowok sendiri di dalam kelompok, tapi tidak membuat gue malu. Bikin klepon rame-rame dan akhirnya jadi juga dan laku dijual. Ya, emang, sih, yang beli juga temen-temen di kelas doang. Itu pun karena paksaan. Yang penting gue punya kepercayaan sekarang: gue bisa masak makanan betulan. Kini, selain mi instan dan agar-agar, klepon menjadi daftar makanan yang gue paham cara buatnya.

Kemudian beberapa hari selanjutnya ada ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Pada pelaksanaannya, banyak banget berita miring bermunculan. Salah satunya adalah kebocoran soal. Gue tidak ingin berkomentar tentang hal ini. Takut diamuk sama yang pake bocoran. Muahaha. Peace, coy!

Sekarang fokus pada permasalahan utama: tes listening Bahasa Inggris.

Listening test adalah sebuah sesi dalam ujian Bahasa Inggris yang mana harus menjawab soal dari audio yang telah disediakan. Listening test merupakan salah satu permasalahan gue. Oke, maksud gue, listening adalah salah satu permasalahan BESAR untuk gue. Gue akui kalau pendengaran gue kurang cepat menangkap suatu pembicaraan. Hal ini sudah gue rasakan sendiri nggak enaknya ketika diajak ngobrol tapi malah nggak nyambung. Atau, gue harus teriak “hah?!” agar ucapan lawan bicara bisa terdengar jelas.

Jelas, ini jadi nggak akan seru kalau gue teleponan sama pacar (suatu saat nanti). Teleponan dua jam, satu setengah jam didominasi teriakan gue, “HAH?! Kalo ngomong jangan deket mesin cuci, ya!”

Nggak, lho, ya. Ini cuma ngayal aja. Semoga nggak budek terus.

Buktinya, sewaktu try out kedua minggu ini, gue mengalami kesulitan saat sesi listening test. Suara rekaman si pembicara cepet banget. Entahlah, mungkin gue doang yang ngerasa. Tapi banyak juga teman-teman seruangan ngerasain hal yang sama. Heran. Perasaan bule yang gue temui di Monas ngomongnya pada pelan-pelan. Ini kenapa pada cepet-cepet banget?

Pembicara ngomongnya terlalu cepat dan kuping gue yang kurang awas. Oke. Permasalahan bertumpuk.

Seperti pada sebuah soal, seharusnya percakapan begini:

“Julie, can I help you?”

Pada kali pertama gue mendengarnya,

“Juling kena deh lu.”

Bagus. Gue patut berterima kasih kepada kesempatan kedua. Sesi listening ini memang punya dua kali pemutaran soal. Nggak seperti yang gue kira bisa diputar berkali-kali, bahkan bisa gue minta file mp3-nya. Lumayan buat pengantar tidur.

Selain di sekolah, di bimbel pun gue mendapat try out Bahasa Inggris. Sudah pasti ketemu listening test lagi. Boleh dikatakan soal yang di bimbel lebih susah... apalagi listening-nya. Misalnya, pada bulir soal yang bertipe “Respons Percakapan”.

Gue beberapa kali pernah mengerjakan soal listening. Triknya, kalau ketemu soal kayak gitu, cari aja yang jawabannya diawali kata “Thank you”. Kebetulan, kuping gue memang paling awas dengan kata itu. Ya, kayaknya cuma itu kata yang nggak perlu “ah-eh-oh” lagi. Selain jawaban terima kasih, bisa juga “I am sorry to hear that”. Pasti itu.

Ngeselinnya, soal tipe respons percakapan selalu tidak tercetak di teks. Soal dan pilihan jawaban disuarakan di rekaman. Memang, sih, pilihan jawabannya hanya ada empat. Tapi buat membagi konsentrasi antara mendengar soal dan pilihan jawaban itu susah banget. Belum sanggup mencerna maksud soal, pilihan jawaban sudah dibacakan. Sampai rekaman pertama telah selesai.

Oke, gue nggak dapat kesimpulannya.

Rekaman diputar kali kedua. Soal selesai diucapkan. Di pilihan jawaban sama sekali nggak gue dengar ada kata “I’m sorry to hear that” atau “Thank you”. Monyet. Gue nggak tahu mau jawab apa sekarang.

Thank you, lho, Mr/Mrs. Speakers! MAKASIH! Kalo ketemu di Monas bakal gue suruh panjat pagar lu.

Makanya, gue keseringan ngasal setiap soal listening.

Atau, jangan-jangan karena ini bentuknya rekaman membuat gue jadi bingung? Beberapa kali ketemu bule ngomong langsung, perasaan gue paham-paham aja apa yang dia omongin. Mungkin, seharusnya untuk gue (dan orang-orang sejenis) dibuat sebuah sesi listening yang khusus: dengerin orang ngobrol langsung!

Seperti listening test pada umumnya, kami akan diperdengarkan sebuah dialog atau monolog. Bedanya, ada dua orang sungguhan di depan kelas berbicara, lalu menyimak dan menjawab soal. Pasti sangat seru kalau begini tesnya.

Man: You look uncomfortable
Woman: Yeah. It’s very hot here.
Gue: *ngangguk-ngangguk paham*
Woman: Can you help me?
Gue: *siap-siap nulis di kertas*
Man: Of course.
Woman: Thank you.
Gue: *ngangguk lagi*
Man: *ngedeketin si cewek* *niup belakang lehernya*

Gue: ....

Woman: Dingin, Bang...
Man: Fyuuuuuhhh...

Gue: .... *melongo*

Mulut si cowok makin deket ke leher si cewek...

Gue: WOY!

Walah, malah jadi ngelamun yang enggak-enggak. Kayaknya mending ngebersihin kuping dulu deh biar listening test pas UN jadi lancar. Dan juga bersihin pikiran.