26 April 2017

Di Mana Pun Ia Disantap, Nasi Padang Tetaplah Nasi Padang

Setelah selesai UN, praktis fokus gue hanya terpusat pada SBMPTN. Pergi ke bimbel enam hari dalam seminggu membuat gue jadi nggak terbiasa ada di rumah. Satu hari kosong pun tetap gue gunakan untuk pergi keluar rumah. Gelanggang Remaja Jakarta Barat (GRJB), Grogol, menjadi tempat yang akan gue datangi dalam rapat sebuah organisasi.

Seringnya begitu. Berangkat pagi, pulang sore. Pulang ke rumah bawa ranting pohon, nyusun sarang, bertelur. Bentar, itu manusia apa burung dara?

Rencananya gue pergi pukul 12.15. Sambil menunggu datangnya siang, dua jam sebelum pergi, gue ketiduran. Pukul 11.45 gue terbangun, tidak menemukan siapa pun di rumah. Bapak pergi ke TPS dan Mama ngajak jalan-jalan cucunya, yang kebetulan tepat berusia satu tahun hari itu. Perut gue sangat lapar, tetapi nggak ada makanan. Tidak terlalu jadi masalah karena gue sudah terbiasa seharian nggak makan. Gue bergerak cepat untuk siap-siap pergi. Tak lama kemudian bapak gue pulang dari TPS. Segera gue berangkat setelah teman-teman di grup Line melapor sudah tiba, sedangkan gue baru melapor, “Otw.”

Hampir sampai di tempat menyetop angkot, gue ketemu Mama yang sedang menggendong cucunya. Dia juga membawa kantong kresek berwarna merah transparan. Ada banyak bungkusan kertas putih di dalamnya. “Mau ke mana?” tanyanya melihat gue terburu-buru. Gue langsung nutupin muka pake tas dan berbisik, “Pait... pait... pait....”

Ya, gila aja. Bisa-bisa gue dikutuk jadi papan penggilesan kalau beneran begitu.

Gue menjawab, “Mau ke Grogol.”

Wajahnya kebingungan. “Udah mama beliin nasi padang.”

Hal ini membuat gue dilema. Ambil atau nggak?

“Nggak bisa pulang dulu?” tanyanya. “Ya, udah. Bawa aja.” Mama memberi gue sebungkus nasi padang. Padahal gue baru ngomong dalam hati, “Nggak bisa buat sore aja, nih?”, langsung direspons, “Nggak bisa sampe sore. Nanti basi!”

“Tapi, nggak ada plastiknya, nggak papa, ya?” tanyanya lagi.

Gue sedikit tidak enak untuk menolak. Kalau gue terima nasi padang ini tanpa dimasukin plastik, gue takut kuahnya tembus dan tumpah ke dalam tas ngebasahin buku. Nggak mau dong gue, setiap belajar dihantui aroma kuah sayur nangka? Kalau gue tolak, nggak enak udah telanjur dibeliin. Dengan mempertimbangkan pasal berbakti pada orang tua, gue ambil bungkusan itu, lalu gue taruh di atas sweater di dalam tas.

Pikiran gue sepanjang perjalanan menuju halte Transjakarta: nasi padang ini harus habis sebelum sampai di GRJB.

Gue resah menggendong tas ini. Belum pernah gue merasa bersalah membawa nasi padang sebelumnya. Tas juga menjadi berat. Tanggung jawab dan amanah yang gue emban kian berat setelah gue buka tas, aroma sayur nangka ingin mendobrak keluar. Nafsu kian menggelora. Aroma legit, yang gue perkirakan asalnya datang dari rendang, mengguncang hormon pengundang rasa lapar. Beruntung gue mendapat tempat duduk. Bila gue harus berdiri, gue tahu alasan mengapa nantinya nasi padang gue rasanya jadi asem. Bukan karena basi, melainkan sudah terkontaminasi ketek penumpang bus.

Model bus Transjakarta makin bagus

Gue harus menyikapi hal ini secara serius. Gue tidak ingin nantinya di sana ada hal-hal yang membuat gue terganggu. Gue nggak mau tiba-tiba izin cuma buat makan, apalagi gue datang paling terlambat. Meskipun ini bukan pertemuan khusus angkatan gue, tetap gue harus jaga fokus. Gue harus ngabisin ini sebelum ketemu teman-teman di sana. Dengan kata lain, gue nggak mau bagi-bagi.

He he he.

Sampai di halte Sumber Waras, gue langsung mencari tempat di mana bisa gue santap nasi padang ini. Di tangga penyeberangan? Wah, ngalangin orang jalan. Di trotoar? Takut keciduk satpol pp. Di Bukit Stroberi? Jauh banget.

Hal yang saat ini gue butuhkan adalah tempat yang lega dan sepi, tanpa kucing. Gue bertemu dengan sebuah tempat cukup luas. Sebuah lahan kosong berubin hitam, tidak ada siapa pun membuat gue langsung mengambil keputusan amat penting ini. Pelataran 7-11 yang sedang tutup menjadi tempat singgah sementara untuk menyantap nasi padang. Tidak ada sendok, tidak ada kobokan, dan tidak ada izin pemerintah. Lahan kosong, jabanin!

Sebungkus nasi padang mulai dieksekusi. Digelar di atas ubin begitu saja. Nggak pake acara bikin tenda sekalian api unggun (buseh, ini beneran kamping namanya!).

Makan, Bang...

Gue membersihkan tangan dengan air mineral yang gue beli di minimarket sebelumnya. Gue merasa rugi beli air cuma buat cuci tangan. Sambil menggigit rendang, gue teringat momen yang dulu pernah gue alami saat lomba pramuka sewaktu SD. Cara kami makan siang saat itu, sama seperti yang sedang gue lakukan saat ini. Ternyata, cara-cara pramuka masih gue ingat dan tanpa malu gue lakukan kembali setelah enam tahun lamanya.

Juga, tanpa malu gue tulis di blog!

Oke, oke. Ini postingan akan menjadi pertanyaan di luar sana:

Apakah dunia kurang menarik sampai-sampai si Robby nulis di blog tentang pengalaman makan nasi padang di pelataran Sevel?

TULIS CINTA-CINTAAN KAPAN, NIH?!

Hahaha, simpulkan sendiri.

Intinya, di mana pun kamu berada, nasi padang adalah tetaplah nasi padang. Sampai dijadikan judul lagu penyanyi Norwegia, lho! Bukan maeeen.

--

Gue baru aja nyoba kamera laptop. Nggak bagus-bagus amat, sih. Lumayanlah buat nampang di sini.

Kayak robot depan Hoka-hoka Bento