03 March 2017

SNMPTN dan Tahap-tahap Kedukaan (The Five Stages of Grief)


Banyak momen saat kelas 12 yang bikin emosi teraduk. Kita memang nggak bisa senang-senang kayak anak TK yang dengan brutalnya ngejorokin temen dari atas perosotan, tapi ada banyak momen yang maknanya dalem banget. Begitu juga dengan kesedihannya.

Puncak semua ketegangan dalam masa-masa sekolah memang berada di sana. Gue mengamini. Karena pada kelas 12, kita sudah berada di dekat "garis finish" menuju akhir dari kehidupan sekolah, yang artinya... tidak ada lagi upacara hari Senin. Huahahaha.

Bukan cuma itu saja. Kelas 12 juga berarti kita siap keluar dari gerbang sekolah menuju kehidupan yang lebih keras, berat, tajam, setajam silet. Bagi mereka yang udah cukup muak dengan "bangku sekolahan" akan mencari kerja dan peluang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Sedangkan bagi mereka yang ingin berkuliah, kelas 12 menjadi ajang pembuktian yang nggak gampang.

Untuk menempuh itu semua maka cara termudahlah yang diharapkan. Nggak perlu dicari. Itu memang sudah ada. Dengan adanya jalur undangan (atau yang dikenal dengan seleksi nilai masuk perguruan tinggi negeri—SNMPTN) menjadi buah manis yang menggiurkan. Semua orang yang ingin berkuliah dengan syarat mudah benar-benar berharap pada SNMPTN. Dengan kemudahannya dan keistimewaan yang ditawarkan, SNMPTN jadi primadona setiap siswa kelas 12.

Namun, semakin ke sini SNMPTN menjadi sorotan. SNMPTN dinilai sebagai cara yang kurang adil untuk menyeleksi calon mahasiswa karena hanya nilai rapor yang dilihat. Kecurangan manipulasi nilai menjadi alasan utama mengapa SNMPTN semakin ke sini semakin dikurangi kuotanya.

Tahun 2015 (kalau nggak salah) semua orang masih bisa mendaftar SNMPTN. Hanya perlu menginput nilai dan jurusan yang dipilih lalu pengumuman menjawabnya. Namun pada tahun berikutnya jatah jalur undangan berkurang menjadi 75 persen untuk sekolah akreditasi A. Sayangnya (lagi), pada tahun berikutnya, tahun 2017, jatah SNMPTN dikurangi menjadi 50 persen untuk sekolah berakreditasi A. Permasalahnnya: oke, siap-siap kelapangan hati... karena 2017 adalah tahun gue kelas 12.

Jadi, sistemnya begini: input nilai – diseleksi – didapatkan hasil 50 persen dari satu angkatan - pengumuman.

Hasilnya, dari sekian banyak pengharap SNMPTN berujung dengan kekecewaan.
Termasuk gue.

***

Gara-gara sedih nggak dapat kuota SNMPTN, gue hampir kehilangan semangat hidup. Mau makan males (kebetulan lagi nggak laper). Mau belajar rasanya ah-semuanya-percuma. Akhirnya nggak tahu mau ngapain lagi, terus, seperti biasanya, curhat ke blog.

Kebiasaan.

Untuk kali ini, sepertinya patah hati karena urusan sekolah adalah yang terhebat dalam hidup gue. Nggak biasanya gue kecewa sampai harus, ehm, harus banget, nih, gue sebutin kalo gue nangis? HEHEHE NGGAK DONG. Hehe. He. HUAAAAA.

Kalau yang biasanya cuma dapat nilai di bawah 5 udah jadi hal wajar, saking keseringannya. Nah, ini SNMPTN. Penantian dan keinginan sejak kelas 10 gagal diraih. Jelas, ini sedih.

Gara-gara patah hati ini, gue inget sama film "Relationshit". Dari film itu gue tahu model tahap-tahap kedukaan dari Elisabeth K├╝bler-Ross. Ada lima tahapan yang disebutkan di dalamnya, yang kayaknya sedang atau sudah gue jalani.



Penyangkalan (Denial)



Gue buru-buru membuka website SNMPTN, memasukkan nomor induk siswa nasional (NISN) dan password. Loading cukup lama karena memang hari itu adalah hari pertama pengumuman kuota jalur undangan. Di layar menunjukkan tulisan berwarna merah:

“Anda tidak dapat mengikuti SNMPTN 2017. Silakan mengikuti SBMPTN 2017.”

Nggak. Ini nggak mungkin. Ini pasti gara-gara handphone gue yang nggak diganti, makanya jadi ngaco gini hasilnya. Gue terus-terusan mengelak. Teman juga menyarankan untuk mencoba cek ulang. Siapa tahu karena tadi servernya penuh, jadi nggak bener hasilnya, karena dia juga begitu setelah dua kali percobaan muncul kalimat yang berbeda dengan yang gue dapat.

Di bimbel gue nyoba cek lagi.

Tulisan masih tetap sama.

“Coba lagi,” teman gue menyarankan.

Masih nekat mencoba, hasilnya tetap sama. Bahkan hingga tujuh kali mencoba, hasilnya tetap sama. Gue nggak bisa lanjutin SNMPTN. Untuk saat ini, hanya perkataan seorang filsuf—merangkap juga sebagai blogger—yang bisa gue ingat: “Ini bukan jalan gue....”



Marah (Anger)



Sampai di rumah gue menyetel lagu-lagu secara acak, sambil bertanya dengan marah, “Kenapa gue bisa nggak dapet kuota undangan? Apanya yang kurang, sih? Kalau ini bukan jalan gue, terus jalannya siapa?!” dan dengan kasarnya gue jawab sendiri, “INI JALAN PEMERINTAH, BROTHER!”

Selain marah-marah, gue juga dengki sama setiap nama yang bersliweran di grup kelas. Dengan satu post bertuliskan “Daftar nama yang dapat kuota 50% SNMPTN”, gue marah-marah sendiri. “Kok gue nggak ada, sedangkan dia malah ada?! NGGAK TERIMA POKOKNYA! Dari zodiak aja dia nggak cocok. Kuota SNMPTN harusnya lebih banyak dikasih ke Cancer, tauk!”

Gue benar-benar menjadi orang yang dengkian.



Menawar (Bargaining)



Hari demi hari gue lalui dengan penuh kekosongan. Gue malas untuk menyalahkan siapa pun dan diri sendiri. Gue lebih memilih berkaca terhadap apa yang telah gue raih selama tiga tahun terakhir. Melihat-lihat lagi nilai rapor, memang benar gue tidak pantas untuk SNMPTN. Keinginan yang sudah seharusnya gue kubur dalam-dalam.

Penyesalan-penyesalan juga muncul. Seperti, “Kenapa gue dulu nggak serajin akhir-akhir ini?”, “Kok gue bisa dapat nilai mata pelajaran dengan ancur? Padahal bisa lebih baik. Buktinya gue bisa lakukan itu di kelas 12. Meskipun nggak nolong-nolong amat”, “Kalau saja dulu gue nggak kecanduan main Omegle, harusnya gue bisa belajar terus”, dan lain-lain.



Depresi (Depression)




Semakin lama, gue semakin merenungi dan lebih menyelami apa saja yang seharusnya gue perbaiki. Gue jadi lebih kaku dalam ngobrol dan semakin menjadi anak yang pendiam.

Tahap ini membuat gue menjadi lebih senang menyendiri. Di kelas sering mojok ngelihatin lapangan di balik kaca jendela. Orang-orang ngagetin dari luar gue nggak peduli. Semuanya kosong. Gue nggak mikirin apa-apa. Benar-benar melamun. Untung aja setan lagi nggak kebagian shift siang, bisa-bisa gue kesurupan saat itu juga.

Selain itu gue lebih memperbanyak waktu tanpa handphone (kebetulan lagi beli paket yang termurah). Lagi nggak pengin sering-sering stalking. Lebih dari itu, gue juga kembali membuka buku-buku lama. Duduk mojok sendirian di kasur sambil baca buku dan berharap bisa ketiduran. Sambil curhat-curhat sendiri di kertas, lewat gambar coret-coretan atau tulisan yang nggak jelas temanya.

Ternyata setelah gue sadari, kalau lagi depresi gue senang banget mojok. Sayang banget, Mojok udah bubar.



Penerimaan (Acceptance)



Gue kembali membuka galeri, melihat foto screenshoot pengumuman SNMPTN beberapa waktu yang lalu. Ada secercah harapan untuk tetap bisa masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur tes tulis, SBMPTN dan ujian mandiri. Gue berusaha menerima keadaan yang sudah begitu adanya. Kenyataan yang ada sudah seharusnya gue terima.

Nggak jauh dari tempat gue duduk, ada beberapa teman yang lolos tahap jalur undangan. Nasib mereka lebih beruntung ketimbang gue. Mereka berdiskusi tentang jurusan kuliahnya, sambil satu sama lain menanyakan pilihan apa yang ingin diambil saat pemilihan jurusan nanti. “Gue mau ambil jurusan ini,” kata salah satu di antara mereka.

Dari belakang gue mengucapkan kata dengan lirih. “Aamiin.”


***

Untuk teman-teman di SMAN 33 yang dapat kuota SNMPTN, semoga kalian lolos ke PTN yang kalian pilih. Ingat, setelah kalian lolos jangan sampai dilepas atau ditolak karena kasihan adik-adik kelas kita nantinya yang berisiko kena daftar hitam.

Terima kasih.

Terima kasih juga buat kamu yang sudah baca curahan hati ini. Kamu adalah sumber motivasi untuk saya bangkit kembali.

20 comments:

  1. Wuih ga kerasa time flies si robby uda kelas 3 aja ya, ebuset klo sekarang nyebutnya kelas 12 kan ya, jaman gue juga iya sih x11 ia, hmmm snmptn ini maksudnya yang tanpa tes gitu kan ya, yang seleksi berdasar nilai, klo gue dulu keterima berdasar nilai raport sih, masuk juga dari sekian pendaftar yang diterima 2 untuk s1 salah satu ptn

    Ini artinya snmptn ini tuh diadakannya sebelum un ya?
    Gue pikir pas mendekati un, apa emangbentar lagi uda un hahaha

    Ya begitulah rob, klo dulu gue tahapannya adalah gue pengen masuk pgsd ato sastra inggris kalonga yang berbau bahasa inggris sih, adanya kan di unes tuh gue masuk buat tes penerimaannya, tesnya susah banget anjirrrt,, dan yang terjadi berbuah kekecewaan ga lolos dong, samaaa tahapannya fase denial dulu tuh saking pengennya masuk jurusan inggris..
    Tapi lambat laun ada jalan lain jug sih, guepun diterima di ptn lain dengan bermodalkan nilai raport
    Mungkin klo pake spmb spmban gue ga seberuntung itu bisa nyangkut
    Yah semua emang uda ada lucky mommentnya masing2 sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, nggak terasa, kan, udah kelas 12 aja. :')

      Di UNJ juga ada keduanya kok. Oh ya, jadi bisa lewat jalan lain ya. :)

      Delete
  2. Bukan lu doang rob, gua juga gitu *ehm. Penginputan nilai dari sekolah kaga bener, malah yang dari kelas 10 selalu diurutan bawah pas pembagian raport bisa login di situs snmptn. Rasanya itu kayak mau dynotest MX spek MP1 tenaga 30HP dan jejelin kuping di knalpot pas lagi full throttle.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nggak paham motor-motoran, Bang. :(

      Delete
  3. Semangat yaaaa... Saya paham banget kok rasanya. Rasanya seperti udah semangat tengok harga gadget idaman di priceza.co.id eh ternyata kemahalan. Ngarep banget tapi gak kesampaian... Huhuhu...
    Iya....sayaaaaa...Dulu juga pernah gagal, nih. Tapi akhirnya...menemukan 'tempat' terbaik.
    Jadi kamu tetap semangat yah. Yakin deh tempat terbaik akan memanggil dan jadi takdirmu

    ReplyDelete
  4. Bi.. Bahas yg SNMPTN mengancam pertemanan dong wkwk

    ReplyDelete
  5. Nilai rapot bagus juga gak menjamin lolos snmptn, rob. Gue juga korban kecurangan :) semua tergantung univ mana yg lo pilih. Kalo lo dari kalimantan terus pilih univ jawa ya peluang lo kecil. Gue berani ngomong gini karena banyak temen2 gue di jawa yg nilainya biasa2 aja malah lolos, lah gue (ukhuk bukannya sombong) malah nggak lolos :)

    Masih banyak jalan untuk kuliah selain snmptn. Semangat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. fakta banget, toh temenku yang prestasinya bagus gagal ikutan snmptn
      nilainya jadi berasa gak adil gitu, ini tergantung amal apa gimana ye :D

      Delete
    2. Ichsan: Tumben lurus-lurus aja nih ketikannya? :p
      Yoi. Makasih Abang Ichsan!

      Ami: Seringnya emang begitu.

      Delete
  6. Semangat rob ! Gila , gue ga tau kalo sekarang jadi seribet itu. Zaman gue dulu ga gini - gini amat.

    Tips buat lu aja rob.. sebenernya kuliah dimana aja, sama aja. Memang kualitasnya berbeda tiap univ, tapi ga ngejamin semuanya rob. Yang bikin kita jadi pusing terus keribetan, ya karena gengsi doang rob.. gitu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Angkatan tua ya, Mas? :p

      Terima kasih atas tipsnya. :)

      Delete
  7. Gue malah kangen upacara loh. Kudu bangun pagi-pagi di hari Senin. Terus kalau malemnya lupa nyiapin dasi dan topi bakal kelabakan. Duh, sebuah momen yang terhitung jam pelajaran itu sekarang benar-benar gue rindukan.

    Gak pernah ngerasain ditolak SNMPTN, sih. Lebih milih kerja waktu itu. Cuma, ya dari beberapa temen yang diterima jalur undangan, akhirnya malah gak lolos. Mungkin karena banyak saingan. Dia malah sampai maksain ikut jalur mandiri demi bisa ke negeri. Tapi tetep aja, gagal. Mungkin benar kata filsuf. Itu bukan jalan dia. Akhirnya dia milih swasta. Toh, niat dia emang pengin kuliah. Sekarang dia udah lulus dan wisuda di Mercu. :))

    By the way, gudlak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, persis. Gue juga sering kayak gitu. Kalo nyarinya kelamaan, ketahuan orang tua lagi sibuk nyari topi dan dasi, udah deh... kena omelan.

      Ini semua tentang jalan masing-masing ya. Pokoknya ingetin terus perkataan seorang filsuf.

      Delete
  8. Aku senyam-senyum haru nih pas kamu bilang patah hati karena urusan sekolah adalah hal terhebat. Huaaaaaaa! Tiap tahun rasanya urusan sekolah makin bikin patah hati ya. :')

    Semangat ya, Robby. Bener kata Ichsan bijingek, masih banyak jalan menuju kuliah. Dan kalau pun lagi suka mojok, jangan ngerasa sendirian yak. Curhat di grup kalau kamu pengen curhat. :')

    Btw aku suka bangeeeeeeeeeet nih sama postingan ini, Rob. Jadi terbaper. Aku ngerasa kamu lagi curhat trus dikaitin sama yang ada di film. Yuhuuuuu~ Huehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya, senyam-senyum haru karena kamu patah hati untuk hal yang sepenting itu. :')


      Delete
    2. Grup WIRDY memang terbaik.

      Yang dikaitin cuma tahap-tahapnya aja kok. Tanpa nonton film bisa dikaitin. :))

      Delete
  9. Hahaha masalah SBMPTN dulu mah, aku juga cuma bisa pasrah sih akhirnya. Awalnya kayak kurang terima ya, soalnya dulu aku ngincer Geodesi UGM. Setelah tau ga ketrima... 2 semester di kampusku yang sekarang ini rasanya kayak enek gimana gitu. Sampai akhirnya, ya diterima aja. INi udah jalannya :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaw, Geodesi UGM. Nggak tau-tau amat, sih, soal jurusan itu. :')

      Tapi mantap, kan, bisa ketemu pacar di kampus yang sekarang?

      Delete
  10. Semangat Broo!! masih ada jalan yang lain.. semua ga berhenti di SNMPTN aja, Jujur sebenarnya saya ga begitu suka sama sekolah saya meskipun akreditasinya A tapi rata2nya masih di bawah di banding sekolah lain.. tiba2 suka marah sendiri kira2 selama 2,5 tahun di SMA

    Tapi setelah ada SNMPTN malah bersyukur bisa sekolah di sekolah saya, kenapa? soalnya dengan rata2 yang "cuma" lumayan ga bagus2 banget saya aja ga nyangka bisa dapet kuota SNMPTN tahun 2017 dibandingkan dengan sekolah yang akreditasi yang sama tapi nilai rata2nya di atas rata2 alias bagus tapi ga dapet jatah di SNMPTN..

    Dan harusnya bagi siswa2 yang dapet juga di manfaatin dengan sungguh2, bukan cuma iseng2 berhadiah, udah di terima tapi ga di ambil gara2 ga sesuai.. kan kasihan sama murid2 yang beneran pingin ikutan SNMPTN..

    btw, nice article bro.. dan salam kenal ya

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.