11 January 2017

11 Januari Kok Begini?

Masuk sekolah setelah liburan menjadi ajang kepoin nilai. Tukeran rapor menjadi hal yang biasa. Berbeda dengan anak-anak SD, teman-teman gue nggak lagi kepengin tau siapa nama orang tua temannya. Udah bukan masanya anak SMA lari-lari, teriak di depan muka orang, “JATMIKO!” Yang ada malah ditonjokin sampe bonyok, karena yang diteriakin preman Tanah Abang.

Gue perhatikan, ada dua tipe orang yang nanyain nilai rapor temannya: 1) Dia mantau persaingan; 2) Nyari teman senasib.

Tipe pertama, biasanya terjadi pada orang-orang yang nilainya tinggi. Dia bakal nyari-nyari tau rapor si anak-pinter; berapa nilai rata-ratanya, berapa nilai terendahnya, peringkat berapa dia, dan lain-lain

Sedangkan tipe kedua, biasanya yang nilainya kecil. Kalau ketemu nilai di rapor teman sama kecil dengan rapornya, dia nggak merasa kesepian di dunia ini. Teriakan-teriakan “Kami nggak bego!” akan mereka lantangkan di belakang si anak-pinter.

Selain siswa, guru juga nanyain nilai rapor. Agak aneh sebenarnya. Nilai rapor berasal dari mereka, kenapa tetap nanya juga?

Kebanyakan guru nanya, "Gimana nilainya?" Padahal di rumah, mereka pasrah. "Bakar aja kali, ya? Nggak layak."

Waktu pelajaran Ekonomi, guru gue sempat membahas nilai rapor. Dia melihat nilai-nilai yang kurang dan menyebutkan namanya. Maksud beliau adalah agar siswanya belajar lebih giat lagi. Walaupun terasa agak telat, mengingat waktu belajar tinggal hitungan minggu.

Nilai Ekonomi gue di rapor, terbilang cukup bagus. Hampir mencapai 9, predikatnya B. Sudah rahasia umum bila sebenarnya, nilai gue nggak segitu aslinya.

"Saya bacain, ya, yang nilainya masih B," kata Guru Ekonomi. Beliau mengambil daftar nilai melihatnya dari atas ke bawah. Nama-nama disebutkan.

"Robby Haryanto," panggilnya. Gue mengangkat tangan. "Mana Robby Haryanto?"

"Saya, Bu." Gue mendongakan kepala agar terlihat dari depan. Maklum, gue duduk di belakang.

"Nilai kamu ini yang tertinggi waktu PAS (Penilaian Akhir Semester—nama selain UAS)."

Gue cuma senyum-senyum nanggung. Apa bener gue tertinggi? Gue nggak ingat bener tentang UAS itu.

"Wedeeeh," saut seseorang di depan.

"Hush! Bukan beneran," protes Guru Ekonomi sambil terkekeh, "kebalikannya."

Oke-oke. Senyum gue berubah jadi tawa di mulut, tangis di hati.

Jujur saja, waktu ulangan Ekonomi, gue nggak belajar maksimal. Gue cuma baca-baca catatan dan materi-materi yang ada di internet. Begitu tau soalnya sangat jauh beda, ya jelas gue nangis. Nggak ngerti apa-apa. Akhirnya nilai gue tetep jeblok. Lupa berapa persisnya.

“Ulangan harian remedial. UTS di bawah KKM. Seharusnya kamu C, Rob,” ungkap Guru Ekonomi. Wah, gue kayaknya salah ambil lintas minat, nih, batin gue. Ya.. tapi kenapa baru nyadar pas mau lulus?!

Gue hanya memandang lantai. Rasanya seperti sedang diadili di balai warga karena ketahuan abis nyolong pepaya. Kemudian ditelanjangi, dan nggak ketinggalan, bulu kaki dicabutin.

“Kamu kenapa nilainya bisa begini? Nggak belajar apa gimana?”

“Nggak, Bu,” jawab gue secepat kilat.

“Beneran nggak belajar?”

“Nggg, belajar, Bu. Sedikit-sedikit.”

Menjelang ujian, gue memang cuma baca-baca buku catatan dan materi-materi dari internet. Begitu tau soalnya sangat jauh beda, ya jelas gue nangis. Nggak ngerti apa-apa.

***

Sekitar seminggu setelah PAS mata pelajaran Ekonomi, nilai dibagikan dalam bentuk foto. Gue melihat itu. Nilai mereka bagus-bagus. Kebetulan mereka seruangan dengan gue.

Pengakuan mereka yang gue dengar: “Emang lu nggak tau? Soalnya sama persis kayak di internet. Ada kunci jawabannya juga. Beruntung gue nggak ketahuan.”

Gue, bukannya bego karena nggak mau buka internet.

Karena gue tau, itu cara pecundang.

Andai pertanyaan “Kamu kenapa nilainya bisa begini? Nggak belajar apa gimana?” bisa gue jawab ulang, gue mau jawab, “Maaf, Bu. Saya nggak sempat gugling.”

Entahlah gue yang sok suci atau keliatan bego. Atau kesannya gue yang nyari-nyari kesalahan orang lain. Tapi, apakah dengan mereka googling mereka salah? Gue juga nggak ngerti dengan semua ini.

Harapan gue, tidak sampai jatuh ke jurang yang lebih jauh. Gue juga pernah berbuat curang. Nggak cuma ulangan aja. Seperti kata alumni yang sekarang kuliah di salah satu PTN, “Nggak masalah kalau nilai lu jelek di ulangan, bahkan Ujian Nasional sekalipun. Tapi usaha lu lebih berharga.” Walaupun usaha gue sangatlah sedikit.

Guru Ekonomi melanjutkan pelajaran. Beliau bercerita panjang lebar. Di akhir cerita, dia mengatakan sebuah rangkaian kalimat pendek, namun cukup “mengangkat” diri gue. “Tetep harus bersyukur. Kalau punya kekurangan jangan minder. Semangat harus selalu tinggi. Roda pasti berputar.”

Kalimat klise yang akan gue coba pegang teguh.

--
P.S:
- Maaf kalau tulisan ini kesannya sampah (tiap tulisan gitu juga deh perasaan). Lagi kesel emang begini. Bawaan tegang menjelang Ujian Nasional, mungkin.
- Ini 11 Januari, ya? Udah denger lagunya? Hehehe.

22 comments:

  1. Mahasiswa semester V sekarang bagi rapot ya?

    Saran gue mending lo kasih tau ke guru bersangkutan kalo soal PAS-nya itu ada di Google beserta jawabannya. Yang nyontek gak salah, lu juga gak salah. Gurunya yang gamau repot.

    ReplyDelete
  2. Itu pas mandangin lantai
    Lantainya malu maluin g, rob?
    Ya siapa tw lantainya jadi malu, trua pipinya jadi merah jambu
    Kan mayan rob
    Jambunya bisa dipetik trus jual deh
    Jadi ilmu ekonomi kami udah bisa dipraktekan

    ReplyDelete
  3. Rob, judul postingan ini menurutku juga bisa dikasih judul, "Guru Ekonomi Kok Begini?" Soalnya guru kamu.... cukup lucu! Beliau keliatannya suka bercanda dan mengutip kalimat motivator, temennya Awkarin. Santap jiwa!

    Kalau aku termasuk tipe kedua. Cari teman senasib. :((( Ingat banget dulu kegirangan pas tau kalau Dina, temen sebangkuku, nilainya sama kayak aku. Nilai matematikanya dapat 5. Mhuahahaha. Btw semangat menyambut UN-nya ya, adik kecilku. Ayo terus lakukan usaha yang berkepanjangan, doa yanh terus dipanjatkan, dan sujud yang terus dilakukan! ^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha beliau rese. xD

      Makasih, Kakak Icha. Gimana kabarnya Dina? Masih sering dapat 5 nggak?

      Delete
  4. Santai lah rob. Ingat kata alumni :D

    ReplyDelete
  5. :))
    jadi lupa mau komentar apa gegara kata-kata mahasiswa semester 5.

    ReplyDelete
  6. Gak apa-apa. Nilai jelek bukanlah sebuah akhir. Nilai gak cuma dari sebuah angka, kok. Halah.

    Tapi emang beda, ya. Kepuasan batin hasil belajar sama nyontek. Gue waktu kelas 10-11 waktu itu sempet bangga nilainya bagus-bagus. Gue dapet peringkat 7 kalau gak salah di kelas. Intinya mah 10 besar mulu. Padahal mah itu dapet bagus seringnya hasil nyontek.

    Lucunya, ketika gue kelas 12, gue malah peringkat 3 dari hasil gue sendiri. Kan, biadab. Jangan-jangan orang yang gue contekin itu emang salah, ya? Wqwq. Dasar Yoga emang yang gak percaya diri.

    Tapi di perkuliahan emang harus banget gugling sih. Salah sistemnya sendiri. Kadang ada dosen yang emang membolehkan open book atau gugling yang penting gak berisik. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pinter amat L? I mulai ngiri nih. Hmm.

      Lah, enak amat. Kalo ada yang gak seneng ditulis di blog gak, sih? :))

      Delete
  7. sebelas januari bertemu
    menjalani kisah cinta ini
    naluri berkata engkaulah milikku

    *Eaaaaaaaa

    Lagu itu yang dimaksud ?
    Sebenernya sih ya. Gurunya jg lucuk kok bisa bikin soal yang jawabannya ada di google. Mungkin sebenernya dia juga bikin soalnya gugling ?
    wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaaa~

      Iya sepertinya begitu. Kalau jawabannya ada, soalnya juga pasti dari sana. :))

      Delete
  8. Waktu kuliah nilai ku banyak C tapi ku tetep seneng Rob. Soalnya emang otaknya pas2an sih hahaha. Jadi ya, pokoknya nikmatilah nilai2 yang kamu dapetin.

    Eh selamat deg2an menuju ujian nasional eyaaaa~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha, oke, Kak. Hasil kerja sendiri yang penting! :))

      Yosh! Deg-degan, euy. :D

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.