Semifinal AFF 2016: Vietnam vs Indonesia (dalam tujuh menit)


Kemenangan 2-1 Indonesia atas Vietnam di laga pertama masih terasa euforianya. Menghadapi Vietnam di kandangnya dalam laga away leg kedua AFF Cup 2016, Indonesia siap tampil mati-matian mempertahankan keunggulannya.

BUNG AHAY:
Bagaimana menurut Anda, Bung Valentino?
BUNG VALENTINO:
(sambil mengacungkan jempol) Yamaha semakin di depan!
BUNG AHAY:
Nggak. Bukan Anda. Maksud saya Valentino Simanjuntak.
BUNG VALENTINO S.:
Tentunya kemenangan kemarin menjadi modal berharga bagi Timnas, Bung Ahay.
BUNG AHAY:
Wah, saya tidak sabar menantikan jalannya pertandingan antara Vietnam vs Indonesia. Pemirsa pun sepertinya tidak sabar menunggu, namun ada jeda yang mau lewat. Iya, saya tahu. Itu iklan.

Layar kaca menampilkan iklan handphone merk Vivo. Agnes Monica sebagai pemerannya tampil sangat cantik. Muncul beberapa pose Agnes menggenggam handphone beserta tagline produk.
AGNEZ MO:
Vivo – Omne ovum ex vivo (setiap telur berasal dari makhluk hidup—terjemahan.)*

Kembali ke studio. Di layar kaca pemain telah masuk. Para pemain dari kedua tim mengheningkan cipta untuk menghormati Chapecoense FC.

Stadion My Dinh, Hanoi mulai bergemuruh.

BUNG VALENTINO:
Hai.
BUNG AHAY:
Hmm, tidak biasanya partner saya memanggil seperti itu.
BUNG VALENTINO:
Nggak. Maksud saya tadi itu menyapa.
BUNG AHAY:
Oke, maaf. Sekarang kita lihat para pemain sedang bersiap untuk kick off.

Para pemain melakukan peregangan. Di layar menampilkan formasi kedua tim.
BUNG AHAY:
Sebelumnya, kita belum pernah dipasangkan dalam satu pertandingan. Bukan begitu, Bung Valen?
BUNG VALENTINO:
Ya, betul Bung Ahay. Hmmm, sebenarnya jangan panggil saya dengan nama asli. Saya takut identitas saya diketahui.
BUNG AHAY:
Terlambat! Apa panggilan yang cocok untuk Anda, Bung? Umi? Abi? Bawelkuh? Atau... uwuwuw-ku?
BUNG VALENTINO:
Semuanya menggelikan. Kiranya “Bung Jebret” lebih oke.
BUNG AHAY:
Aaaah! Setuju. Namanya lebih singkat. Anggap saja kita sedang meringankan kerja Robby Haryanchev dalam pengetikan dialog kita ini. Kita sudah saling mengenal, bolehkah kita tukeran nomor WhatsApp?
BUNG JEBRET:
Bung Ahay. Tolong dijaga sikapnya. Nanti saja saat jeda babak kedua.
PENONTON DI RUMAH:
Cium! Cium! Cium!
BUNG JEBRET DAN BUNG AHAY:
Yak, wasit telah meniupkan peluit kick off tanda dimulainya babak pertama. Selamat menyaksikan.

10 menit pertama bola dalam penguasaan kubu Vietnam. Pertahanan Indonesia dibuat kocar-kacir. Kurnia Meiga dibuat kewalahan menahan gempuran pemain-pemain Vietnam.
BUNG AHAY:
Bagaimana menurut Anda sepanjang 10 menit pertama?
BUNG JEBRET:
Cukup menyulitkan bagi Indonesia untuk keluar dari zona pertahanan mereka sendiri. Untuk mengalirkan bola ke sisi tengah lapangan selalu terhambat.
BUNG AHAY:
Kini pemain Vietnam mengoper bola ke sisi kanan. Vietnam kurang variatif dalam serangan. Mereka hanya mengandalkan operan-operan dari kedua sayap.
BUNG JEBRET:
AAAAKKH... JEBREEET!
BUNG AHAY:
AHAAAAY, PEMIRSA! Shooting dari Trangdingdong melebar dari gawang Indonesia.
BUNG JEBRET:
Maaf, namanya Tran. Dinh. Dong. Tran Dinh Dong.
BUNG AHAY:
Serangan tujuh hari tujuh malam, perang gerilya, serangan bawah tanah telah dilancarkan kubu Vietnam, namun belum juga merobek keperawanan Kurnia Meiga. Eh, maksud saya, gawang Kurnia Meiga.
BUNG JEBRET:
Hahaha. Bisa saja Bung Ahay.

Sepanjang 30 menit terakhir Indonesia hanya berkutat pada lini tengah. Vietnam terus-terusan menggempur. Penyelesaian akhir yang kurang efektif menjadikan skor tetap bertahan 0-0.

Indonesia kini dalam penyerangan.
BUNG JEBRET:
Boaz Solossa, Bung. Boaz gocek satu-dua pemain. Aaaah, cantik sekali.
BUNG AHAY:
Boaz menggocek pemain berkostum sama seperti dirinya, Bung.
BUNG JEBRET:
Itu temannya.

Serangan Indonesia kandas di lini tengah. Tidak ada second line yang menjaga Boaz membuat serangan Indonesia tidak sampai melewati garis tengah lapangan.

Tambahan waktu satu menit.
BUNG AHAY:
Tujuh hari tujuh malam, serangan Vietnam selalu gagal.
BUNG JEBRET:
Tujuh hari tujuh malam saya belum makan nasi.
ANAK PRAMUKA:
(menyahut dari kejauhan) Tujuh hari tujuh malam... KAMI TERSESAT DI HUTAN AMAZON! IBUUUU!
BUNG JEBRET:
(berbisik pada Bung Ahay) Istirahat kita mampir ke warung padang depan studio ya.

Peluit tanda berakhirnya babak pertama telah dibunyikan.
BUNG AHAY:
Bagaimana menurut Anda, Bung, mengenai jalannya babak kedua? Kira-kira strategi apa yang akan diterapkan coach Alfred Riedl?
BUNG JEBRET:
Sulit untuk mengetahui. Tetapi Alfred Riedl akan menerapkan strategi bertahan. Bertahan satu C.I.N.T.A.
BUNG AHAY:
Hmm, cukup galau rupanya. Sadarkah Anda bahwa Robby Haryanchev selaku penulis skrip menerapkan formula yang sama?
BUNG JEBRET:
Iya. Setiap satu-dua percakapan, pasti ada kalimat yang (berusaha untuk) lucu.
BUNG AHAY:
Memang lah. Itu strateginya si Haryanto dari Rusia. Sial, Haryanchev! 

Peluit babak kedua telah dibunyikan. Vietnam masih saja belum tobat dalam usahanya menyerang pertahanan Timnas. Apakah kegagalan tidak membuat mereka merefleksikan diri? Jangan-jangan mereka selama ini kurang sedekah. Bisa jadi itulah penyebab dari susahnya gol tercipta.
BUNG AHAY:
Boaz Solossa menyerang dari sisi kiri pertahanan. Dia memberi umpan lambung... antisipasi buruk dari Tran Dinh Dong..., aaaaaaah, bola tanggung di mulut gawang Vietnam...
BUNG JEBRET:
MONCROT! Stefano Lilipaly menyoncrot bola.
BUNG AHAY DAN BUNG VALENTINO:
GOL! Golgologolgologol. Kemelut berhasil dimanfaatkan Lilipaly untuk memberi keunggulan bagi Timnas. 1-0 untuk Indonesia.
PENONTON DI RUMAH:
(sujud syukur) GOAAAAL! 
PENONTON DI WARKOP:
(gebrak meja) Aduh, sakit.

Setelah tertinggal, Vietnam menjadi lebih beringas.
BUNG JEBRET:
Setidaknya satu gol bisa membuat pemain Timnas bernafas lega, Bung.
BUNG AHAY:
Benar. Tetapi satu gol yang membuat kita di sini deg-degan melihat serangan Vietnam.

Sebuah kemelut di kotak penalti Vietnam terjadi. Kiper Vietnam tiba-tiba di kartu merah.
BUNG AHAY:
Apa yang terjadi saudara-saudara?
BUNG JEBRET:
Entahlah, Bung. Sepertinya ada protes berlebihan dari kiper Vietnam.
BUNG AHAY:
Protes dalam bentuk penolakan kenaikan BBM sepertinya, Bung.
BUNG JEBRET:
Kiper Vietnam, dikartu merah! Manh Tran harus keluar dari lapangan.
BUNG AHAY:
... dan tentunya, keluar dari ingatan.

BUNG JEBRET:

Itu mantan, Bung. Yang ini Manh Tran.
BUNG AHAY:
Pergantian pemain mereka sudah habis, maka salah satu pemain Vietnam harus bersedia menjadi kiper.
BUNG JEBRET:
Hahaha, sedih juga, Bung. Pemain ini harus diapresiasi karena mau merangkap jadi kiper. Harusnya dia dapat kenaikan gaji.

Kekuatan Timnas yang sempurna terus-terusan digempur oleh Vietnam yang bermain dengan sepuluh pemain.
BUNG JEBRET:
Kendali permainan dipegang Vietnam. Beringas sekali serangan Vietnam seperti mantan yang ngajak balikan menjelang Valentine. Oaaaaaah, satu shoot dari pemain Vietnam, entahlah itu siapa namanya.
BUNG AHAY:
Sebuah set piece yang cantik dari pemain-pemain Vietnam. Inilah yang menjadi ketakutan anak-anak Indonesia. Mereka kurang antisipasi serangan Vietnam yang datang bertubi-tubi seperti mantan yang ngajak bisnis MLM.

Di layar kaca skor menunjukkan 1-1 menit 80-an.
BUNG AHAY:
Menit-menit krusial, Bung. Beberapa menit lagi pertandingan usai.

Menjelang peluit berakhirnya pertandingan berbunyi, serangan Vietnam semakin hebat. Pertahanan Timnas kepayahan menghadapinya.
BUNG AHAY:
AAAAAHAAAY. GOL UNTUK VIETNAM! Serangan tujuh hari tujuh malam mergokin pacar selingkuh membuahkan gol oleh... oleh pemain Vietnam tentunya. Maaf, saya lupa namanya.
BUNG JEBRET:
Bung, kenapa Anda keluarkan teriakan itu untuk Vietnam? Tahan untuk nanti seharusnya.
BUNG AHAY:
Saya pesimis Indonesia bisa mencetak gol. Makanya saya keluarin. Feeling saya ini gol terakhir di pertandingan ini. Selanjutnya adu penalti.
BUNG JEBRET:
Ah, kenapa harus adu penalti? Indonesia punya kenangan buruk dengan adu penalti.
BUNG AHAY:
Seperti kenangan mantan?
BUNG JEBRET:
Cukup.

Babak 2 x 45 menit menghasilkan skor 2-1 untuk kemenangan Vietnam. Pertandingan dilanjutkan dengan babak extra time.
BUNG JEBRET:
Benar. Pertahanan Indonesia sangatlah rapuh. Penyerangan Indonesia kurang efektif. Serangan yang sudah sedemikian cantik harus pupus oleh minimnya kesetiaan.
BUNG AHAY:
Ah, kenapa kita ada di kondisi seperti ini?
BUNG JEBRET: Itulah. Perbuatan si Haryanchev kampret itu!

Babak perpanjangan waktu telah dimulai. Indonesia bermain lebih terbuka dengan keunggulan jumlah pemain.
BUNG AHAY:
Indonesia. Gocek-gocek bola sendirian dia.
BUNG JEBRET:
AH! Bagus sekali pergerakan dari Okto Maniani.
BUNG AHAY:
Bukan. Okto nggak masuk tim tahun ini. Dia Ferdinand Sinaga.
BUNG JEBRET:
Ferdinand membawa bola, mengelabui kiper jadi-jadian, dan...
BUNG AHAY:
AHAY! Ferdinand Sinaga dijatuhkan oleh Ngoc Hai. Penalti untuk Indonesia.
BUNG JEBRET:
Penalti akah diambil oleh Manahati.
BUNG AHAY:
(memegang dadanya) Di sini, Bung.
BUNG JEBRET:
Bukan mana hati. Lagi pula, bagaimana penonton di rumah tahu kalau Anda sedang memegang da—
BUNG AHAY:
AHAAAAAAY! GOGOGOL! GOOOOOL! GROGOOOOOOL!
BUNG JEBRET:
Sebuah eksekusi penalti yang sangat memikat gadis SMA berhasil menggetarkan gawang Vietnam. Skor 2-2 untuk Indonesia.

Sampai babak kedua perpanjangan waktu berakhir, tidak ada lagi gol tercipta. Skor 2-2 bertahan hingga laga usai. Dengan hasil ini Indonesia berhasil melaju ke final untuk berhadapan antara Myanmar atau Thailand (belakangan kita ketahui bahwa Thailand pemenangnya). Babak final akan digelar tanggal 14 Desember 2016 dengan sistem home away.

BUNG AHAY:
Terima kasih untuk Bung Jebret atas malam yang menegangkan... sekaligus melow ini. Usai sudah perjumpaan kita kali ini. SALAM OLAHRAGA. SALAM SETIA!
BUNG JEBRET:
Maaf, Anda pembina Pramuka, ya?
---

*terlalu banyak belajar Biologi


16 komentar:

  1. Setelah Younghusband diterjemahin Suami Muda, kemarin ada lagi istilah sSerangan Tujuh Hari Tujuh Malam memorable banget sih itu. Ada2 aja komentatornya.

    Kita tunggu ada istilah nyeleneh apa lagi di partai puncak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, iya. Btw, makasih koreksinya, Bang Renggo. Seharusnya nggak boleh ada angka di awal kalimat.

      Ho-ho. Lebih mantap dan semoga Indonesia menang.

      Delete
  2. Anjirrr lucu banget ini dialognya. Ha ha ha. Malah jadi melankolis itu komentator..

    Waw sekarang nyoba tema bola nih cees? Mudah-mudahan lebih sering lagi ya bikin yg kayak gini. Kutunggu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini berkat berguru padamu, cees. :))

      Wahaha, kalau lagi sering nonton bola deh. Dan komentatornya mesti rempong.

      Delete
  3. Ini rekaman bung ahay sama bung jebret kemaren y?
    Emng bung jebret jadi komentatornya y kmren?
    Hmmmm
    Kira2 siapa nih pemain thailand yg bakal ganti nama sama bung ahai?
    Apa lah si kawin kipernya ato si kembarannya culham ramrun?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ada dia, Nik.
      Saya gak tau kamu ngomong apa, Nik. :(

      Delete
  4. Pas awal udah bangke bener, malah valentino rossi :'))

    Diksi komentator bola emang paling top, mirip2 sama diksi selebtwat yang nyuruh sebut nama. Lucunya permanen. :))

    ReplyDelete
  5. Apaan dialog komentatornya jadi baper-baperan gitu anjir bhahahak

    Jdi gimana? Bung Ahay sama Bung Jebret udah tukeran nomor WhatsApp? :))

    ReplyDelete
  6. Lah, ini kok komentatornya jadi bawa-bawa ingatan mantan? -____-

    Kemaren nggak sempet nonton pertandingan timnas. Tapi untungnya menang yah... tinggal sekali pertandingan lagi di Thailand. Mudah-mudahan menang.

    ReplyDelete
  7. TERLALU BANYAK BELAJAR BIOLOGI PALKONLU PECAH! ITU MESUM WOOOOOOY! BAHAHAHAHA ANJIR. Kayak orang gila aja aku baca ini, Robby adik kecilku. Apaan segala ada panggilan Umi-Abi. Itu panggilan punyanya Daus Sesuatubangetsob!

    Postingan bikin ngakak sekaligus.. mellow. Bertahan satu C.I.N.T.A. Yha. Yha. Yha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, lho, nggak niat ke situ padahal. Muahaha. :))

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.