22 December 2016

Classmeeting Tahun Terakhir

Wah wah wah. Udah semingguan gue nggak update blog. Ada banyak hal yang bikin gue jadi males ngetik. Rencana demi rencana sudah disusun, namun kandas oleh dua hal: 1) tangan pegal dan 2) Descendants of The Sun. Yeah, mumpung ada file-nya episode 1-16, gue tonton aja. Sampai tulisan ini sedang diketik gue sudah menonton episode lima.

Jadi, selain faktor yang telah gue sebut di atas, tangan gue baru saja terkilir saat classmeeting kemarin. Itu lho, acara yang biasanya diadain di sekolah setelah ujian akhir yang berisi lomba-lomba antarkelas.
Saat mengetik ini pula, tangan gue masih dalam keadaan bengkak berbalur balsem. Jari-jari gue cukup bisa bergerak mencet keyboard, sehingga jadilah gue ngetik post ini.

Classmeeting ini adalah kesempatan terakhir yang, mungkin, bisa dibilang mengenang, sekaligus menegangkan. Walaupun nggak sampai juara dua kayak tahun kemarin, classmeeting tahun ini punya momen-momen yang nggak akan gue lupakan

Mari merekap perjalanan gue selama classmeeting kemarin.

Jumat, 16 Desember 2016
Di hari pertama classmeeting, gue main di pertandingan futsal melawan kelas 10 MIPA 2. Pertandingan yang kami kira akan berjalan mulus, karena lawannya kelas 10, ternyata... gila, jago juga mereka.

Gol pertama tim kami di classmeeting tahun ini diciptakan oleh pemain berdarah Rusia campuran Kebumen. Siapa lagi kalau bukan Robby Haryanchev.

Gol yang nggak disangka ini tercipta lewat kepala botak gue. Bola tinggi yang dioper Josua, rekan setim, tanpa sengaja gue sundul. Suporter, yang kebanyakan cowok-cowok sejurusan, ngerumuni dan mengelus kepala gue. Wah, gila. Masih terasa antusiasnya. Kepala gue masih terasa anget sampai sekarang.

Akhirnya pertandingan berakhir seri 4-4 setelah sebelumnya kami kalah 1-3. Pertandingan dilanjutkan adu penalti dan dimenangkan tim kami 2-0. Lanjut babak selanjutnya deh.


Senin, 19 Desember 2016
Hari ini ada pertandingan voli dan futsal melawan kelas yang sama, 11 MIPA 3. Seperti opini yang telah berkembang di masyarakat, bahwa anak IPA tidak berminat pada classmeeting, mungkin itulah yang terjadi pada lawan kami. Hasilnya, kami menang dua babak langsung di voli dan membantai 7-2 di laga futsal. Apakah gue mencetak gol? Ya, tentu saja.

Apakah dengan mencetak gol berpengaruh pada elektabilitas? Tetep nggak ngangkat, cees.


Selasa, 20 Desember 2016
Inilah petaka yang memulai segalanya.

Tim futsal kami sudah sampai semifinal. Sudah terpikirkan “yang penting masuk empat besar” membuat tim kami lupa diri. Pemain andalan kami, Josua, nggak masuk. Terpaksa bermain dengan pemain seadanya berujung pada kekalahan tim kami dengan skor 1-7.

Skor yang sangat besar? Ya, tentu saja.

Apakah gue sedih? Ya, tentu saja.

Tapi nggak sedih-sedih amat, yang penting nyetak gol.

(Halah, nyetak gol juga tetep nggak ngangkat. Nggak ada tuh yang mau ngajak foto atau sekadar nanyain “Tadi kakak yang ngegolin ya?”)

Siangnya dilanjut pertandingan voli melawan kelas 11 IPS. Secara materi pemain, tim kami kalah skill. Lawan kami diisi oleh dua orang pemain voli tim sekolah dan dua pemain futsal (pemain futsal selalu bisa main di olahraga apa pun—menurut kepercayaan di sekolah). Sedangan tim kami, ohoho teramat cupu. Untungnya ada Josua, si anak voli, yang telat masuk.

Babak pertama, Tole, rekan setim, mem-passing namun arahnya nggak jelas. Hanya gue yang posisinya memungkinkan mengambil bola. Karena jaraknya sulit membuat gue nggak yakin bila mengambil bola dengan tangan. Gue memanfaatkan skill brutal main voli dengan menggunakan kaki, lalu... salto.

Bola berhasil ketendang, tangan kiri gue salah mendarat.

Ohoho, tentu saja gue menjerit.

Pergelangan tangan kiri gue membengkak dan sakit. Rupanya terkilir. Rasanya udah nggak mungkin main lagi tetapi gue melihat di ujung sana, udah nggak ada lagi stok pemain sisa. Oke, gue tahan hingga beneran nggak kuat. Untungnya masih bisa service berkat tangan kanan.

Begitu melihat Silvi, teman sekelas, gue langsung minta ganti. Nggak apa deh yang ganti cewek, yang penting gue berhenti main.

Pada akhirnya, tim kami kalah. Apakah gue sedih? Ya, tentu saja. Tangan gue gimana? Ya, tentu saja SAKIT BANGKE.


Rabu, 21 Desember 2016
Hari ini adalah hari penentuan juara. Kelas kami yang kalah di semifinal berkesempatan mendapatkan juara ketiga. Sayangnya, pemainnya nggak ada. Gue dari rumah telah berniat nggak ingin main mengingat tangan kiri gue masih sakit. Kemudian sebuah kalimat menghasut gue.

“Udah ayo main aja buat seneng-seneng.”

Buat seneng-seneng, ya tentu saja gue langsung main. Walau gue sudah masuk tim, pemain di tim kami masih kurang. Terpaksa harus mengambil satu pemain dari kelas lain buat bantu-bantu. Ya, minimal bantu oper bola ke gue biar bisa nyetak gol (dan ngangkat nama di sekolah), gitu.

Di sinilah gue. Di tengah lapangan, dengan posisi tangan seperti zombie kidal, siap mencetak gol.

Beberapa menit awal, lawan kami masih terasa seimbang. Skor 1-1 membuat gue yakin bisa menangin pertandingan. Tapi setelah kalah 1-3,...

... gue boleh pulang nggak?

Gue jarang sekali mendapat bola. Pergerakan gue, setelah mencuri bola dari lawan, dijegal lawan, lalu gue kehilangan keseimbangan dan...

Yak. Jatuh. Lagi.

Tangan kiri yang belum sembuh-sembuh amat harus kena lagi. Apakah gue meringis? Ya, tentu saja. Gue langsung menepi dan tiduran di pinggir lapangan.

Atas saran seorang penonton, gue langsung masuk ke ruang UKS. Di dalam UKS ada anak-anak PMR lagi ngumpul-ngumpul lucu di kasur. Begitu gue datang langsung auranya beda.

“Ini nih, tangannya terkilir,” kata temen gue.

Gue langsung mencari-cari kasur untuk rebahan. Anak PMR langsung nyiapin es batu buat bikin es kelapa muda. Ya kagaklah! Buat ngompres tangan gue.

Selayaknya korban kecelakaan, orang-orang yang ada di sekitar gue malah nanya-nanya. “Lu kenapa, Rob?” Ingin gue menjawab, “LU TADI NGGAK LIAT GUE DIJEGAL GITU, HEY?! Tetep ya, jatuh di classmeet nggak ngangkat!”

Plis. Gue butuh pengobatan, bukan pertanyaan.

Nggak deh. Gue nggak sejahat itu. Mereka yang nanya gue jawabin pelan-pelan, sambil ancang-ancang kaki untuk menendang kalau sewaktu-waktu dia mencet tangan kiri gue.

Seorang anak PMR, yang gue kenal wajahnya, menempelkan kain tipis berisi es di pergelangan tangan kiri gue. Gue masih berbaring cuma bisa merasakan ngilu di tangan kena es batu. Mungkin tangan gue nggak dipakein Sensodyne. Halah, apa ini.

“Rob, Rob, jangan mendesah gitu dong. Hahaha,” ledek Tole.

“Ah, ini si kampret kenapa bawa-bawa mendesah, sih? Bikin suasana keruh aja,” batin gue, sambil ancang-ancang menendang.

Selagi tangan gue masih dikompres, gue ngobrol sama Tole yang ada di pinggir kasur, menemani gue. “Seh, mainnya kasar ya,” kata dia.

“Aduh, gue nyesel ikut classmeet tahun ini. Ngancurin badan doang.”

Bengkak di tangan mulai mengempis. Ampuh juga kompresan anak PMR yang berbakti dan keibuan ini. Kalau udah begini, gue jadi pengin jadiin dia... jadi ibu gue.

Suasana di UKS kemudian hening.

Tole ngomong ke gue, “Rob, bengkaknya udah ngempes, tapi yang ‘itu’ jangan ngembang dong. Hahaha.”

“Le, jangan malu-maluin gue di sini...,” ujar gue pasrah.

Bangkai sekali si Tole ini.

Kesimpulan dari classmeeting tahun ini: Jangan menjadikan classmeeting sebagai panjat sosial. Percayalah, cuma yang ganteng dan keren aja. Mau nyetak gol atau patah tulang sekali pun (dan punya blog tentunya) tetap nggak ngangkat.

17 comments:

  1. Tadi kakak yang ngegolin ya?

    Tuh gue yg nanya, Rob wkwk

    enak ya bisa ikutan classmeeting, gue juga pengen ikut tapi karena gue panitia jadinya ga boleh deh

    Enggak kebayang pas lo salto dan berakhir dengan tangan yg terkilir haha semoga lekas sembuh, Robby~ Btw, tulisan lo selalu menghibur,gue sukaa! Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Telaaaat. Udah kalah mah nggak seneng lagi ditanya-tanya. Hahaha. :))

      Aamiin. Udah mendingan nih. Makanya bisa balas komentar. Makasih Riri. :)

      Delete
  2. Tadi kakak yang ngegolin ya?

    Tuh gue yg nanya, Rob wkwk

    enak ya bisa ikutan classmeeting, gue juga pengen ikut tapi karena gue panitia jadinya ga boleh deh

    Enggak kebayang pas lo salto dan berakhir dengan tangan yg terkilir haha semoga lekas sembuh, Robby~ Btw, tulisan lo selalu menghibur,gue sukaa! Wkwk

    ReplyDelete
  3. Turut berduka cita dengan tangan anda, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. *plintir tangan.

      Entah jaman kapan aku terakhir kali terpelintir. Sejauh ini jalan aktifitas yg normal aja. Paling sering cuma keceklik di pergelangan kaki doang, aku rutin badmntonnya, tp ga pernah cedera

      Delete
    2. Untuk aktivitas normal-normal aja. Iya, agak keceklik gitu tapi lumayan ganggu. Hehehe.

      Delete
  4. Kenapa ga ditusuk jarum aja yg bengkaknya biar kempes
    Tu petugas pmr dapet es dari mana y?
    Apakah dia pergi k kutub utara buat ngambilin batu es?
    Hmmm kok gda tawuran antar kelas sih?
    Ya siapa tw kalo yg menang tawuran antar kelas bisa pindah ke sujuran

    ReplyDelete
    Replies
    1. PARAH LU, SEKOLAH DAMAI-DAMAI MALAH NGAREP TAWURAN. Kzl.

      Delete
  5. wah tangan kiri, tangan yang sangat sakral kalo cedera, pasti bakal susah kalo... cebok.

    gue dulu pas SMP yang abis classmeeting langsung sakit. Semua classmeeting gue ikutin mulai dari lomba padus antar kelas sampai basket, selesai class meeting badan drop, masuk rumah sakit seminggu :'))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, susah beneran. Akhirnya... wah jangan dibocorin di sini juga deh gimana cara ceboknya.

      Wahaha, dasar gila prestasi. Tapi mantap lah begitu.

      Delete
  6. Tadi kakak yang golin, ya? Waah, aku gak lihat tuh. Lagian gak peduli. Bodo amat. Muahaha. Gak ngangkat, Cees! Cewek-cewek gak ngidolain dari jago. Tapi dari tampang. Ya, tampang. Bangsat emang. Wqwq.

    Hm... modus ternyata ya tangan bengkak ini. Biar dipegang-pegang sama anak PMR. Lu disuruh megang balik gak? Eh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketidakadilan di lapangan futsal.

      Astagfirullah, bukan gitu maksudnya. Tapi, aduh, lupa minta pegang balik. :(

      Delete
  7. waduh tangan terkilir gitu, tapi mending sih yang kiri. eh, ceboknya gimane? -.-
    sekarang tangannya udah baek rob?

    itu si tole ngakak beud dah bilangnya gitu. aduh, napa riska ngerti maksud dari percakapannya apa -.- :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, udah baek.

      HWAHAHA, semoga banyak yang paham juga. :))

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.