23 November 2016

When You Talk Beside Me

Selama SMA intensitas gue naik angkot meningkat dibanding zaman SMP. Dengan seringnya naik angkot memberi gue banyak pengalaman. Seperti yang kita ketahui, pengalaman bisa didapat dari apa yang kita alami atau dari cerita orang lain. Tentunya, entah dia cerita sungguhan atau bukan, kita tetap bisa jadikan itu sebagai pengalaman. Minimal dapat mendengarkan cerita orang lain adalah pengalaman menyenangkan.

Berkaca pada masa kecil, gue paling suka duduk di sebelah sopir. Semuanya terasa lebih dekat. Tentunya, lebih dekat dengan sopir. Tetapi, gue nggak sefanatik anak-anak lainnya yang maksa harus duduk di sebelah sopir. Yang memaksa ke ibunya harus duduk sebelah sopir. Kalau nggak dituruti guling-guling di jalan. Gue nggak terlalu pengin tapi senang kalau duduk di sebelah sopir.

Menginjak masa SMA gue menemukan kesenangan lain duduk di sebelah sopir, yaitu mendengarkan cerita. Seseorang biasanya hanya mau bercerita ke sahabatnya. Seperti Pak Mario Teguh yang selalu bercerita sambil berkata, "Sahabatku yang super...."

Beberapa sopir membuat gue menjadi “sahabatnya” sepanjang perjalanan.

Sumber ikea.com
Ilustrasi untuk orang yang duduk bersebelahan


Satu
Sopir yang pertama gue temui saat kelas 10. Awal-awalnya masuk SMA, berangkat ke sekolah pukul 5.35. Terlalu pagi bila mengingat jam segitu adalah waktu gue selesai mandi sekarang (kelas 12).

Tidak banyak obrolan berarti yang gue dapat dari sopir ini. Dia curhat sepanjang perjalanan gue menuju sekolah. Ketika itu, gue duduk di sebelah sopir, nggak ada lagi penumpang di dalam angkot. Cuma gue dan sopir berada di dalam angkot.

“Dek, tau nggak? Tadi pagi, jam 5, saya kejar-kejaran sama mobil Avanza gara-gara mobilnya mau nyerempet mobil saya. Saya kesel, saya samperin orangnya.” Nada bicaranya berapi-api.

Dia semakin antusias bercerita. “Ternyata yang bawa mobil cewek. Cantik banget. Masih muda lagi. Kalau saya masih seusia kamu, udah saya jadiin pacar kali tuh.”

Belum sempat gue nanggepin perkataannya, dia nambahin lagi, “Tiba-tiba dia minta maaf sambil ngasih uang seratus ribu.”

“Wah, enak ya. Pagi-pagi dapat seratus ribu,” jawab gue seadanya. Buru-buru gue tanggepin. Siapa tahu setelah ini dia diam. Gue bingung harus nanggepin apa.

Dia beneran diam. Gue kira dia bakal ngelanjutin ngomong, “Kalo nyari uang semudah ini, mending saya rela deh ketabrak berdarah-darah asal dapet uang asuransi rumah sakit.”

“Tapi saya sering kesel kalo ada mobil di depan saya yang bawa anak muda, apalagi cewek. Kalo belok suka mendadak, nggak nyalain lampu sein dulu.”

Seperti yang kita ketahui, biasanya ibu-ibu yang melakukan hal ini. Ternyata, di lain kesaksian, dilakukan pula oleh seorang gadis.


Dua
Sopir kedua gue temui setelah pulang sekolah. Jalanan lagi macet-macetnya. Gue duduk di sebelah sopir karena di belakang penuh. Gue masuk ke angkot, merelakan kepala jatuh perlahan ke sandaran. Enak, nih, buat tidur, pikir gue.

Nyatanya, gue nggak bisa tidur. Sepanjang perjalanan terjebak macet. Bunyi-bunyi klakson membuat gue susah memejamkan mata. Anehnya, setiap angkot yang nyetel musik remix keras-keras gue tetap bisa tidur. Sedangkan ini hanya karena bunyi klakson gue kesulitan tidur.

Beberapa penumpang turun. Tersisa gue dan sopir di angkot. Jalanan lancar. Beberapa meter selanjutnya macet menjebak lagi.

“Sepi banget, ya,” kata sopir angkot. Gue bingung kenapa dia bilang begitu. Padahal beberapa menit yang lalu angkot ini penuh.
“Iya, bang,” balas gue. “Karena macet juga, mungkin.”
Sopir menarik tuas rem seraya berkata, “Sekarang mah penumpang sepi. Nggak kayak tahun 2000-an.”
“Oh, iya ya. Padahal dulu rame banget. Sekarang kebanyakan orang punya motor.”

Seseorang dari pinggir jalan memberi brosur. Isinya daftar harga motor. Di dalamnya berbunyi, “DP murah 300 ribu sampai 19 September.” Tanggal tepatnya gue lupa. Pokoknya di bulan September.

Setelah gue baca, gue menyadari satu hal: hari itu adalah hari terakhir promo selesai. “DP murah, tapi nyisa hari ini. Siapa juga yang mau beli motor tanpa rencana?” tanya gue dalam hati.

Ya, gimana nggak aneh. Hari ini adalah hari terakhir promo. Sedangkan saat itu telah sore hari. Siapa yang kepikiran buat beli motor setelah dikasih brosur? Di awal hari belum ada rencana “beli motor”. Nggak mungkin ada yang berubah pikiran dengan cepat. “Wah, hari ini nggak ada rencana beli motor. Ada yang murah, beli ah. Padahal mau bayar bimbel.”

Nggak bisa begitu.

Sopir yang duduk di sebelah gue membaca brosur itu. Dia pun tertawa. “Pantes penumpang makin sepi. DP-nya aja segini.”


Tiga
Sopir yang ketiga gue temui setelah pulang dari bimbel. Beda dengan sopir yang kedua, sopir yang ketiga ini lebih muda. Dari wajahnya, gue perkirakan dia berumur 20-an. Lagu yang dia putar pun cukup gaul. Lagu-lagu Armada menjadi lagu yang gue dengarkan sore itu.

“Baru pulang gawe (kerja)?” tanyanya.
“Oh, nggak. Baru pulang les,” jawab gue.
“Oh gitu. Sekolahnya di mana?”
“Di SMA 33.”

Kemudian hening sampai beberapa menit.

“Kelas berapa? Kelas 3, ya?”
“Iya, bang. Kelas 12.” Gue curiga jangan-jangan ini lagi lebaran. Pertanyaannya persis kayak saudara-saudara gue.
“Tahun depan UN dong,” katanya. “Mau kerja atau lanjut kuliah?”
“Kuliah, bang. Lulusan SMA nggak cocok kerja,” jawab gue.
“Iya, bener. Kita mah dulu lulusan SMA. Sekolahnya bandel,” akunya. Kemudian dia menambahkan dengan tawa yang pecah. “Sekarang, ya... kayak begini. Nyopir angkot.”

Ternyata, selama ini yang sering dipesankan kakak dan mama gue dulu ada bentuk nyatanya. Sekolah bandel = jadi sopir angkot. Tapi, mau gimana pun itu jalan hidup orang lain. Nggak boleh diejek karena sekolahnya nggak bener. Apalagi dia sopir angkot. Salah mengartikan, bisa-bisa kepala gue dijedotin ke dasbor.

Obrolan terhenti berbarengan dengan mobil yang berhenti. Heran, jam segini kenapa sering banget macet.

Di antara kemacetan banyak motor-motor matic selap-selip. Motor bebek pun nggak kalah hebat, terutama mereka yang punya moto “Semakin di depan”.

“Duh, saya seneng ngelihatnya.” Tiba-tiba si sopir ngomong begitu. Gue mulai takut dia senang tanpa sebab. Pikiran-pikiran negatif mulai muncul.

“Ngelihat cowok cewek boncengan motor. Si cewek meluk cowoknya. Apalagi kalau mereka naik sepeda. Ah, pasti keren. Kayak zaman-zaman dulu.” Si sopir rupanya senang melihat orang yang pacaran. Padahal, dia nggak perlu segitunya ngelihat sepasang kekasih pacaran. Apa dia nggak sadar di sebelahnya ada orang yang juga sedang sendiri, tanpa kekasih. Yaitu, gue.

Nggak deh. Jangan sampai.

Gue menanggapi ucapan si sopir. “Hahaha, udah nggak ada malah. Cewek, kan, nggak suka dibonceng sepeda. Maunya motor. Mana ada sekarang cewek yang begitu. Hahaha.”

Kampret. Sempat-sempatnya gue curhat.

“Pasti ada. Cuma jarang aja.”

Kemudian, si sopir nyanyi salah satu lagu Armada. “Mau dibawa ke manaa, hubungan kitaaaa~”

Tiga sopir tadi membuka mata gue. Bahwa tiap-tiap orang punya cerita yang menarik buat dibagi ke orang lain, bahkan ke orang yang tidak dia kenal. Menatap lurus ke jalanan tentu membosankan. Tetapi, dengan hadirnya orang-orang di samping membuat sopir bisa menatap sisi lain dari kehidupan di jalan. Ada yang ingin mereka sampaikan.

Kalau kamu pernah dengar cerita apa di angkot?

17 comments:

  1. Gue dari dulu malah paling males duduk di depan. Soalnya udah pasti sebelah gue supir. Gak bisa duduk sebelahan sama dedek-dedek SMA atau anak kuliahan yang cewek. :(

    Kalo soal cerita di angkot, gue biasanya dengerin gosip para anak bocah SMP-SMA ngomongin cowok Korea. Eh, tapi itu mereka cowok bukan, sih? Habisnya kemayu. :(

    Atau dengerin ibu-ibu yang ngerumpiin harga-harga yang semakin mahal. Halah.

    Belajar naik motor makanya, Rob. Ngomong-ngomong soal cewek dibonceng sepeda, gue jadi inget mantan waktu SMP. Uhhh soswit bener itu, lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yha, itu mah nyari kesempatan aja biar bisa nempel. Wahaha.

      Apaan coba itu hey. Dibonceng pake jalu tuh pasti.

      Delete
  2. Bangke banget sih komentarnya Gemini bajingak di atas. Kalimat terakhirnya di komennya itu lho....


    Pas baca judulnya, kirain apaan. So sweet gitu. Eh pas isinya beneran so sweet. Ciyeeeee ngobrol berdua~ Angkotalk~ Aku ngerasa miris sama sopir kedua. Sedih ya. Rejekinya waktu dulu udah beda sama sekarang :(

    Dulu waktu jaman sekolah, aku jarang duduk di muka di sebelah sopir angkot yang sedang bekerja. Sukanya duduk di pojokan hadep-hadepann sama temenku. Dan.... kita sama, Rob! Sama-sama nggak bisa tidur kalau sopir mainan klakson. Giliran musik remix bisa-bisa aja. Hohoho. Tidur di angkot memang enak ya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karna kalo yg duduk dimuka itu namanya delman istimewa cha'.

      Delete
    2. Angkotalk. Boleh juga. :))

      Enak, tapi kalau kebablasan... itu yang malesin. :(

      Btw, duduk di sebelah sopir, dalam perjalanan ke kota nggak?

      Delete
  3. Berapa persen kadar peningkatan naik angkot dari smp ke sma?
    .
    Kalo saya sih lebih suka duduk di bangku dalam mobil bagian tempat duduknya rob
    Tapi pas masa sma lebih suka gelantung di depan pintu
    Kenapa? Soalnya dpt diskon
    Udah gitu kalo sering lwtin pohon jambu atau mangga kadang dapet gratis
    .
    Ya tuh enakkan yg ada musiknya
    Apalagi musik kangen band

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuuu, gelantung di depan pintu. Pintu masuk tol. Yuhuuuu. Kan, itu nyolong namanya. Wah, contoh nggak baik, nih. :D

      Ngomongin Kangen Band, ada bahasannya setelah post ini ya. :p

      Delete
  4. ternyata dengan ngobrol sama kang angkot bisa menambah cerita dan inspirasi ya. Btw, itu supir angkot yang pertama seriusan tuh ,mo kecelakaan terus biar dpt asuransi. MAtek aja pak sekalian, biar dpt santunan :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha, andai-andai aja. Abisnya dia girang bener abis diserempet. :(

      Delete
  5. Fix muka lo tua Rob, disangka pulang kerja sama mas mas supir angkot :))

    Lagian dia jagoan ya, liat orang pacaran bukannya emosi malah seneng. Sungguh lapang dada sekali.

    Gue udah lama banget gak naik angkot, dulu pun duduknya selalu di tengah, bukan di sebelah sopir. Siapa tau nemu nomor telpon cewek di kursi angkot.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tau, ih. Padahal masih muda begini. :(

      Itu sikap yang nggak dimiliki banyak orang. Yeh, sampai segitunya pengin nyari nomor telepon. :D

      Delete
  6. Gw pas ngebuka postingan ini di google plus, gw terpesona ngeliat senyuman manismu yg terpampang di beranda google plus gw rob. Shingga menggoda gw buat mmbaca postingan ini. Jujur. Senyuman mu manis rob.....tolong godain kita dong... :))

    Sbenarnya gw jarang sih naik angkot. Apalagi duduk didepan nemenin si supir. Gw ngerasa agak geli2 gitu. Gw slalu mmbayangkan, gmana klo gw tidur trus tangan supirnya secara perlahan menggerayangi paha gw...gila.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadaaaw, itu foto yang ada di "About me". Takut, nih, kalau Reyhan minta digodain. Takut jadi sakau akan senyumanku.

      YHAAAA, TERNYATA DIA TAKUT SOPIRNYA AGAK MIRING.

      Delete
  7. Gue justru lebih suka duduk di belakang sopir by. Hahahaha. Pas depan pintu masuk, deket supir plus deket jendela supir.

    Btw, karena dulu aku anaknya pendiem, kalem, aku jarang sih ngobrol sama supir angkot. Maklum masih SMP hahahahaa
    Sejak lulus SMP udah ga pernah naik angkot lagi:(

    Aku juga seneng sih denger cerita-cerita orang yang nyeritain pengalaman hidupnya. Ada kesenangan tersendiri aja gitu. Selain bisa memotivasi aku, aku juga jadi lebih bersyukur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu tempatnya adem. Deket jendela. :))

      Aku pun begitu. Kalau nggak diajak ngobrol, ya diam saja. Dengar cerita orang seru. Tapi kalau udah bawa-bawa harta terus, kan, malesin. Hehehe.

      Delete
  8. Ciehhh yang abis di curhatin sopir angkot. Udah pernah di tembak belom?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nih, bolong di perut. Luka 14 jahitan.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.