Ngomongin Depapepe

Gue tipe orang yang suka musik secara musiman. Dari dangdut, rap, pop, metal, sampai rock, pokoknya random banget musik-musik yang gue dengar. Dan, gue gampang banget jatuh hati pada pendengaran pertama. Itulah alasan gue tetep suka Kangen Band. Sampai sekarang.

Kalau dihitung-hitung, gue udah cukup lama nggak dengar lagu dengan waktu yang lama. Dulu bisa dengar lagu dua-tiga jam. Sekarang paling cuma 15 menit.

Beberapa hari yang lalu, gue minta kepada Bapak untuk dibelikan earphone baru. Sebenarnya permintaan gue nggak sungguhan. Semacam bercanda, seperti, “Bisa kali earphone baru. Yang lama cuma kedengaran sebelah, nih. Hehehe.” Beberapa menit kemudian, Bapak pulang membawa earphone baru. Kalau udah begini bakal nurut deh disuruh beli rokok sedus.

Presentasi pelajaran Bahasa Inggris juga seiringan. Kelompok gue kebagian membahas tentang song (lagu). Sudah bisa dipastikan, gue akan memutar lagu-lagu barat. Sekalian belajar bahasa Inggris juga. Dan, sepertinya, earphone ini bakal jadi teman gue di rumah mengusir kesepian.

Pola-pola ini sepertinya memaksa gue untuk mendengarkan lagu lebih lama lagi.

Tetapi, gue nggak tahu harus mulai dengar lagu barat yang mana. Mau dengar musik aliran rock atau metal, gue belum bisa menentukan mana yang cocok didengar. Genre pop terdengar menarik, sekaligus bikin gue rajin bolak-balik kamus (walaupun udah ada kamus online, gue tetap sayang kuota).

Ada baiknya, gue mendengar lagu dari mereka. Euhm, mungkin lebih tepat disebut musik

Sumber nationmultimedia.com

Musik mereka enak banget didengar sambil nulis, terutama saat gue nulis pos ini.

Norak banget nggak, sih, baru tahu Depapepe sekarang? Sebenarnya gue udah tahu lama. Tahun 2015. Daripada Kakak Icha yang baru tahu akhir-akhir ini.

Depapepe ini grup musik yang isinya dua orang. Dua-duanya main gitar akustik. Instrumental, tanpa vokal. Yang jadi pertanyaan: Depapepe disebut grup band bukan?

Gue jadi kepikiran gimana awal mulanya Depapepe terbentuk.

Kemungkinan 1
Ceritanya, dua personel Depapepe, Miura Takuya dan Tokuoka Yoshinari, adalah anak-anak tongkrongan. Selazimnya anak tongkrongan, mereka suka gitaran sampai Subuh di poskamling. Di luar dugaan tongkrongan mereka ternyata dianggap seru oleh seorang pemuda, namanya Doraemon. (Berhubung latar tempatnya di Jepang, anggap aja Doraemon dulunya anak tongkrongan.)

Bergabunglah Doraemon ke tongkrongan Miura dan Yoshinari. Di antara mereka, cuma Doraemon yang nggak bisa main alat musik. Setelah dirundingkan, untuk sementara, Doraemon kebagian jadi vokalis tongkrongan karena dianggap punya suara seperti om-om yang sempurna.

Tiga bulan aktif nongkrong, mereka berniat menciptakan lagu. Iseng-iseng mereka mulai diseriusi.

“Gimana kalau kita buat lagu. Ambil tema remaja yang suka ngomong kasar aja. Lagi naik daun!” tawar Doraemon kepada Depa—sapaan Miura dan Pepe—sapaan Yoshimura.
“Jangan tema itu, Mon. Itu udah jatahnya rapper,” sanggah Depa. Gigi tonggosnya seolah ingin ikut dalam pembicaraan.
Pepe sependapat dengan Depa. “Betul, tuh. Susah juga sebenarnya. Gue nggak cukup puitis buat bikin lirik lagu keren.”

Akhirnya, setelah perundingan yang ketat, melebih sidang kopi sianida Jessica, Doraemon dipercaya menjadi vokalis, drummer (lebih tepatnya mukul kentongan), dan pencipta lirik. Pemain gitar diserahkan Depa dan Pepe.

Dua minggu setelah kesepakatan itu, Doraemon jadi jarang nongol. Depa mendapat pesan via WhatsApp dari Doraemon. Isinya seperti ini:

Dep, sori banget, nih. Gue nggak bisa kongkow bareng kalian lagi. Lu tau, kan. Jadwal syuting gue padet banget. Dari pagi sampai malam nemenin Nobita terus. Belum lagi harus terbang ke sana ke mari pake baling-baling bambu. Masuk angin mulu. Dorami nggak ada di rumah. Nggak ada yang ngerokin gue deh. Akhirnya gue jadi takut keluar malam. Maap banget, nih, jadi nge-PHP-in kalian. Salam juga, ya, buat Pepe. Percayalah, kalian teman setongkrongan yang asik.

Mendengar kabar dari Doraemon membuat Depa dan Pepe menemui jalan buntu. Tidak ada lagi dari mereka yang bisa membuat lirik. Dengan keberanian, Depa dan Pepe membuat grup musik yang isinya cuma akustikan gitar. Tanpa vokalis. Padahal mereka bisa saja mengajak Awkarin untuk duet.

Kemungkinan 2
Depa dan Pepe sedang menyusuri malam di tengah kota. Turun dari satu Metromini ke Metromini lain. Berdesak-desakan di dalam bus. Tanpa menyanyikan lagu dan hanya memainkan gitar. Dan, tanpa hasil apa pun untuk dibawa ke rumah. Hanya lelah dan pegal-pegal.

Secara tidak sengaja, mereka bertemu dengan Tokichi, pemilik Spin Cobra


Juga si Kembar Tachibana...


Didampingi Roberto Hongo...



Depa dan Pepe ikut bergabung dalam tongkrongan itu. Mereka semua sedang bernyanyi sambil memukul-mukul kentongan di poskamling.

“Hei, apa boleh kami ikut?” tanya Depa.
“Kamu bisa apa?” tanya Roberto Hongo.
“Mereka berdua bawa gitar. Kayaknya mereka bisa main,” ucap Kembar Tachibana serempak.

Singkat cerita, Depa dan Pepe diterima dalam tongkrongan mereka. Namun, Tokichi merasa kedatangan Depa dan Pepe menjadi sebuah gangguan. Dia takut kalau ternyata mereka adalah seorang pawang kobra, lalu menaklukan Spin Cobra.

“Heh, lo berdua!” kata Tokichi ke Depa dan Pepe. “Coba nyanyi sambil main gitar.”
“Nggak bisa, Om.” Mereka menjawab.
“Halah! Pantes aja nggak bisa. Yang satu tonggos, yang satunya diem aja.”
“Lu, kan, juga tonggos, Ci?” sergah Roberto Hongo.
“Halah! Bodo amat.”

Depa dan Pepe merasa ucapan Tokichi benar adanya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari tongkrongan yang bisa menerima mereka tanpa harus menyanyi. Sampai di titik stres, mereka ketemu Doraemon, lalu di-PHP-in, ngamen di Metromini ketemu Tokichi dkk., ketemu Doraemon lagi. Begitu terus hingga akhirnya mereka sadar diri.

**

Ya, begitulah kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kemungkinan gue ngaco, itu benar adanya.

Menurut gue Depapepe unik banget. Cuma modal main akustikan aja bisa digilai cewek-cewek. Jangankan cewek, gue aja takjub. Mereka belum nyanyi padahal. Gue, harusnya bisa begitu setiap kali mukul-mukul meja di kelas. Tanpa menonton Depapepe, gue juga bisa takjub bila lagu-lagunya dimainkan orang lain yang bisa main gitar, tentunya.

Sore itu, ada dua orang teman memainkan gitar di kelas. Satu orang fokus menggenjreng dan yang lain memainkan melodi. Dari alunan musiknya, gue kenal, ini lagunya Depapepe. Gue nggak tahu judulnya apa, karena, mungkin, Depapepe menciptakan lagu tidak untuk diingat judulnya, melainkan musiknya. Pokoknya gue dengar mereka main berdua akustikan dan gue berhasil menebak, bahwa itu lagunya Depapepe.

Mereka cukup sukses bikin gue dengki. Bawaannya pengin marah-marah. “KAPAN GUE BISA MAIN GITAR?” Boro-boro kunci C, kunci rumah aja kadang lupa naruh di mana.

Omong-omong soal judul, kepikiran juga, sih, waktu mereka menentukan judul lagu. Setiap lagu yang mereka buat pasti selalu ada judul, tapi nggak ada lirik. Pertanyaannya: Gimana cara nentuin judul kalau lirik aja nggak ada?

Sulit. Benar-benar sulit.

Salah satu judul yang bikin gue bertanya-tanya adalah “Kiss”. Emang ada yang kepikiran, pas orang dengar melodi “TING TINGTING TINGTING TING... TIRINTINGTING.. TERENGTERENG TENG TENG TENG... TING TING” langsung pengin ciuman? Bener-bener aneh. Mungkin inspirasi mereka datang dari dalam toples kaca bekas selai, yang di dalamnya ada pasangan ikan cupang. Mereka berdua telah selesai menyusun lagu, tinggal menentukan judul. Salah satu dari mereka melihat kedua cupang tersebut berciuman.

Mungkin gitu kali, ya.

Kalau emang segampang itu, mending gue bikin grup musik juga. Kebetulan gue suka gendang-gendang meja di kelas. Akan sangat seru bila gue memukul meja, menghasilkan nada “DUNG... DUNG DUNG DUDUDUNGDUNG... DUDUDUNGDUNG”, kemudian dari belakang gue ada orang-orang beratribut lengkap suporter bola, selendang dan kaos warna oranye hitam, sambil mengibarkan bendera Slank dan Persija.

Ternyata emang lagi nonton Persija.

Kemudian, judulnya apa? Kasih aja judul “Kresek”. Bingung dah lu apa maksudnya.

Ngedengar alunan gitar dari Depapepe itu ibarat kecemplung sungai: hanyut terbawa arus. Seru deh. Kalau lagi bosan dengar lagu yang liriknya nggak sesuai, mungkin bisa dengar lagu Depapepe.


28 komentar:

  1. Hahaha baca ini jadi nostalgia kartun jadul. Ya ampun Robby inget aja sama si Tokichi. Saya aja udah lupa, kalau gak diingetin tulisan ini, ceesku.

    Hmm ngomong-ngomong saya juga baru denger ada grup ini. Sebenernya banyak sih lagu-lagu genre instrumental yang pake judul. Salah satunya musik garapan Joe Satriani.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, kebetulan ingat sama gigi tonggosya yang lucu itu, Ceesku.

      Kayaknya semua grup begitu ya. Biar gampang ingat lagunya, makanya pake judul.

      Delete
  2. BAJINGAK! INI BOCAH SEMPET-SEMPETNYA NGEBULLY ORANG. Iya aku noraaaak. Noraaaaak, Rob :(((

    Bahahaha. Aku ngakak sumpah baca dua kemungkinan Depapepe terbentuk. Paling ngakak sama yang poin pertama. Nyindir Yangleks segala lagi! Bangke!

    Anjir lah. Jadi pengen dengerin yang Kiss. Btw lagu kamu itu kayaknya bagusnya dikasih judul "Hamil di Luar Nikah." Nggak tau deh kenapa. Pokoknya itu aja deh, Rob.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, itu bikin aku ketawa puas di grup WhatsApp.

      Karena dialah panutanku dalam berkarya. Hip hope!

      Denger dong. Sekalian nonton MV-nya. Tapi itu judulnya nggak banget deh. :(

      Delete
  3. NOTED. Nambah lagi nih koleksi playlist aku hahahaaa. Tengkiyu Robby.
    Unik banget. Aseli. Aku aja baru tau ada Depapepe yang main musik tanpa lirik apapun. Aaaaa aku penasaran sama alunan musiknya.

    BHAHAHAAHA BANGKEEE BANGET INI MAH. SEGALA BAWA BAWA ROBERTO HONGO, TOKICHI
    YAWLAAAA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lhaaa, ini juga nggak tau. Kenapa waktu itu nggak muncul biar sekalian ku tertawai sepuasnya? HUAHAHAHA.

      Daripada bawa-bawa perasaan. Hmmmm.

      Delete
  4. *langsung browsing buat membuktikan gigi Miura tonggos atau enggak*

    Ini ngapa si kembar Tachibana pake dibawa-bawa sih Rob...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asli, Mbak. Di foto udah terlihat kok. :))

      Karena... aku pengin punya adik kembar. Huwhahaha. Kagak ding!

      Delete
    2. Iya deng, tonggos. WAKAKAKAK.

      Tapi aku tetep suka.

      Mau dibikinin adek kembar?

      Delete
  5. Woahaha imajinasi lu terlalu liar. Segala kartun yang tonggos dicari-cari. Riset dulu nih anak. Ntap!

    Ngomongin Depapepe gue jadi inget bukunya Satrio yang dia sotoy soal itu. XD

    Kalo Depapepe gue udah tau dari kelas 3 SMA, ya sekitar 2012 kali. Emang asyik. Lagu yang tanpa lirik itu emang bikin konsentrasi. Sesekali lu dengerin The Trees and The Wild yang judulnya "Saija" deh.

    Kabarin kalo udah dengerin dan berikan pendapatmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngoahaha, iya. Pas baca itu gue belum tau. Setelah tau jadi ngakak sejadi-jadinya. :D

      Oke deh. Nanti kita coba dengar~

      Delete
  6. Wuuih... bencanda aja langsung dibeliin gitu. Anak kesayangan bgt ey!

    Eh iya, kenapa gue jadi nostalgia kartun tempo dulu ya di tulisan ini. Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahaha, duit abis gajian mungkin.

      Keingetan aja tiba-tiba. :))

      Delete
  7. Depapepe dulu gue tau pas kelas X, disuruh denger sama temen gue. Pas asik denger dengan mantapnya gue bertanya, "lama amat nih intronya. Kapan nyanyinya?"

    :')))

    ReplyDelete
  8. Wkwkwk. Kenapa ada Tachibana bersaudara? Kampret! 😂😂😂

    Aku dah tau Depapepe sejak masuk kuliah taun 2009. Kan jurusanku Sastra Jepang. Ada native Speaker dari Jepang yg kalok ngajar selalu muter musik Depapepe. Akhirnya satu kelas pada minta lagunya. Bahahak. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik dah. Bahasanya nggak cuma ikkeh ikkeh kimochi doang, kan? :D

      Delete
  9. Sebenernya ini blog apa sih? Tulisannya loncat-loncat temanya, hahaha

    Depapepe? Apa pula itu? Sumpah gw gak pernah tau, wkwkwk

    ReplyDelete
  10. Kemungkinan pertma kenapa sampe bawa2 MAs ALEX ROb?? Hahahaha. Parah, nih. Relatednya sama zaman sekarang banget. Ngakaknya pas itu, sih. Apalagi pas Doraemon pake alesan masuk angin. :D

    Untuk kemungkinan kedua, keknya Korelasi antara Tamia sama Sepak Bola jauh bener, Rob? Hahahaha. Dasar tukang cerita. Tapi seru, sih.

    Nah, kalo ngomongin Akustik, udah lihat Sungha Jung belom? Bukan Jung yg punya blog itu.

    Mungkin Depape menurut gue posisinya No.2 dari Sungha Jung. Karyanya ketje2 semua, sih, rob.

    Cuman, ada fakta sih, nggak semua yg pinter main gitar, suaranya bagus. Tapi, ya masih kemungkinan aja, sih. Soalnya, banyak yg pinter main gitar, suaranya juga tetep bagus. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahah, saya lagi pengin nonton tokoh-tokoh itu.

      Oh iya? Pernah denger sih. Kapan-kapan denger lagunya deh.

      Delete
  11. Depapepe ... gw pikir dewi persik hahaha

    ReplyDelete
  12. Gue waktu nyemplung ke sungai gak hanyut kebawa arus rob. Waktu itu sungainya lagi kering sih, musim kemarau.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.