Kamulah Serangan Puberku

thumbnail-cadangan
Gue nggak ngerti sama diri gue sendiri. Kenapa gampang banget suka sama orang yang, secara fisik, cantik? Apakah karena usia puber membuat gue setiap kali melihat cewek cantik bawaannya mau ngajak kenalan? Sori, ya. Kalau sampai mimisan gue nggak segitunya. Rasanya mimisan aja nggak tahu.

Seperti yang terjadi pagi ini, saat gue berangkat sekolah. Lewat pertemuan yang sebenarnya “nggak banget” bagi orang-orang: di angkot. Emang, sih, cewek ini nggak sempat ngomong, tapi kok gue bisa suka? Aneh. Benar-benar aneh. Kadang rasa suka nggak bisa dijelasin bagaimana sebabnya.

Cewek ini duduk di sebelah gue. Dari kaca jendela gue sudah melihat dia berdiri di pinggir jalan, menenteng goodie bag. Dia mengenakan seragam olahraga. Dia naik ke angkot. Dalam harapan, gue mengucap kata dalam hati, terus-terusan secara cepat: Tolong, kamu duduk di sebelah saya. Berulang-ulang. Kira-kira dia akan duduk, orang yang duduk di hadapan gue—seorang ibu—menggeser tubuhnya ke samping bermaksud memberi tempat untuk cewek itu. Gue hanya diam karena di sebelah gue memang kosong. Cukup muat untuk diduduki tubuhnya yang agak berisi itu. Nggak, dia nggak gendut. Levelnya di atas ideal lebih sedikit.

Sebelum menjatuhkan pantatnya gue sempat melirik dia. Dia balas menatap gue dan memberi senyuman. Astaga. Gue nggak berharap sampai segitunya. Dzawin, seorang komika, pernah berkata dalam bitnya—mengutip perkataan ilmuwan, “Cowok cuma butuh 8 detik untuk jatuh cinta sama cewek.” Maka ini sudah lebih dari 8 detik, ditambah senyumannya, gue mulai jatuh padanya.

Matilah gue. Perjalanan masih panjang, sedangkan perasaan ini menggebu-gebu. Perintah buat ngajak kenalan terus-terusan muncul. Gue melawan. Gue nggak bisa melakukan itu. Aroma parfumnya membuat gue gagal berpikir jernih. Sambil menebak-nebak aroma parfum apa yang dia pakai. Silver. Permen karet. Etil pentanoat. Minyak kayu putih. Balsem geliga. Ah, gue nggak pandai nyebutin aroma parfum. Bahkan gue baru ingat kalau etil pentanoat adalah senyawa ester yang digunakan sebagai aroma apel. Kalau film ada yang berjudul “You Are the Apple of My Eye”. Versi gue, you are the ethyl pentanoate of my nose.

Aroma parfum kian menusuk. Aromanya tidak berlebihan, tapi sanggup membuat gue terus-terusan berpikir: jangan cepat sampai sekolahnya. Kalau perlu macet-macetan saja sampai siang. Tetapi hal itu nggak mungkin karena bisa mengakibatkan gue nggak boleh masuk sekolah.

Sesekali gue melirik dia. Sebenarnya tidak benar-benar melirik. Orang yang di hadapan gue pasti mengira gue melihat ke depan, padahal pandangan gue ke samping. Kemampuan capung dalam melihat tiba-tiba gue praktekkan di sini.

Sampai kini gue belum tahu namanya.

Lagi-lagi gue menebak-nebak siapa namanya. Rambut terurai panjang dijepit di belakang. Bibir merah muda. Badan agak gemuk. Yunita. Lili. Vita. Ah, nama itu tiba-tiba muncul. Gue nggak dapat nama yang cocok.

Selain goodie bag (yang kini dia dipeluk), dia juga membawa tas pianika. Di sampingnya tertulis “Putri N R”. Jangan-jangan dia pemiliknya? Kalau dia pemiliknya, syukurlah akhirnya gue tahu nama dia. Putri. Sederhana, tapi berkesan. Dia memang pantas seperti putri kerajaan yang kebetulan lagi naik angkot. Beda dengan gue, seorang rakyat biasa yang memang harus naik angkot.

Tetapi, bagaimana kalau ternyata pianika itu bukan milik dia? Misalnya, dia punya kakak atau adik yang bernama Putri. Nggak, gue nggak akan terpengaruh. Mulai sekarang gue akan menyebut dia sebagai Putri.

Kemudian, pertanyaan selanjutnya: siapa nama panjang si Putri?

Hal ini penting agar gue bisa stalking dia di Facebook. Gue percaya, orang seperti dia pasti menggunakan nama aslinya sebagai nama akun Facebook. Beda kalau ternyata dia seorang Beliebers sejati. Pastinya dia akan menggunakan nama “Poetry Belieberz Auwouwo”, “Putrie Beliberz Xezathe”.

Putri N R. Gue masih terus-terusan menerka apa makna N R tersebut. Kemungkinan itu adalah inisal nama lengkapnya. Tapi, apa yang cocok? Nadia Rahmadani. Nilam Rezeki. Kembali lagi, gue nggak ngerti dengan tebak-tebakan yang menyusahkan gue. Sementara ini, gue membuat khayalan sendiri. Putri N R. Putri n Robby. Sebuah jawaban atas kesusahan ini.

Gue nggak berani untuk membayangkan apa agamanya. Kalau saja dia berbeda, gue berharap dia hanya sebagai teman. Bagaimana kalau seiman? Gue ingin kenal dia lebih jauh lagi. Atau yang lebih bagus: mengharapkan dia untuk dipertemukan di masa depan.

Untuk cewek secantik dia, sekolah di SMK adalah sesuatu yang nggak mengagetkan. Kebetulan gue tahu benar dari seragam olahraga yang dia pakai. SMK negeri yang setiap kali lewat depan sekolahnya gue selalu menongolkan kepala di jendela angkot. Banyak cewek cantik di sana. Kecuali siswanya, mereka adalah pengecualian.

Walaupun gue juga berkemungkinan berada dalam lingkungan cewek cantik, tapi tetaplah cewek IPA kalah cantik dibanding cewek SMK (bukan SMK yang teknik itu. Yang SMEA). Setidaknya ini menurut pengamatan gue sampai sekarang. Beberapa pengecualian masih berlaku. Sifatnya masih relatif.

Kenapa gue bilang begitu? Karena secantik-cantiknya cewek IPA, pasti akan bedah organ hewan juga. Ngeri. Gue yang sejak kecil mainannya nggak karuan tetap saja ngeri ngelihat kodok mejret kakinya buntung.

Apakah semua ini hanya sekadar perumpamaan “rumput tetangga lebih hijau dari rumput futsal”? Gue terus-terusan memuji hal yang di luar lingkungan gue. Pada kenyataannya, gue pun sering terjebak pada ganti-ganti orang yang gue suka. Bisa dibilang playboy perasaan. Kondisi seseorang yang suka berganti-ganti orang yang dia sukai. Hari ini bilang dia, hari ini bilang kamu. Pokoknya rasa itu nggak lebih dari sebulan. Dan nggak pernah diungkapkan.

Terutama di sekolah. Adik kelas, kakak kelas, teman seangkatan banyak yang pernah gue sukai. Sayangnya, rasa itu nggak lebih dari sebulan. Putri apalagi. Itu cuma suka dalam hitungan menit. Cewek-cewek yang naik angkot sebelumnya juga merasakan hal sama.

Apakah tiap-tiap orang yang puber merasakan hal yang kayak gue rasakan? Kalau gue lihat mereka (teman-teman) biasa-biasa saja. Mungkin gue yang berlebihan. Tetapi, perasaan orang siapa yang tahu.


24 komentar:

  1. Ini namanya jatuh hati yang enggak konsisten
    atau mungkin sebenarnya rasa yang ada lu hanya sesimple

    Penasaran diawal pertemuan.

    ReplyDelete
  2. Waktu baca judulnya, yang gue pikirin: ih, serem amat nih judul. Jadi bikin penasaran pengen baca. Gue juga sering gampang suka sama cowok...dan dulu waktu SD sering mimisan tiap liat badut ogel goyang-goyang depan sekolah... bagi gua yang waktu itu masih piyek, ngeliatnya sih serem.

    Si Putri itu sekarang apa kabarnya? Gak ada kelanjutannya nih? Gak dikejar? Gak jadi ajak kenalan? Ntar nyesel loh.. Kali aja jodoh. Jangan percaya omongan orang jaman bahula yang bilang kalo jodoh gak kemana. Kalo gak ada usaha, ya jodohnya resiko disamber orang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, kirain cuma cowok aja yang begitu. Ternyata cewek juga. Atau karena cewek lebih cepat puber, ya? Yha, bodo amat deh, Rob.

      Waduh, butuh ketidaksengajaan lagi buat ketemu dia. :')

      Delete
  3. Huahahaha aku ngakak bacanya. Yawlah, mungkin itu kali yang namanya cinta pada pandangan pertama, belum kenal udah langsung suka. Ajak kenalan langsung dong, Rob, malah main tebak-tebakan dari nama, nama panjang, pianikanya siapa, agama dll. Hahahah

    Aku juga pernah gitu sih, sekadar tertarik aja sih, kalo udah berlalu berarti udah lewat (?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku anaknya penakut, kak. Jadinya cuma tebak-tebak buah manggis. :(

      Hah? Gimana maksudnya? Berlalu berarti udah lewat. Oke, sip. Aku nangkepnya Kak Novi lagi nunggu angkot.

      Delete
  4. Putri NR putri n robby?
    Maksa kamu nak
    Putri NR itu Putri Niki Retiawan
    Saya waktu itu nyamar jadi cewek habya untuk mengalihkan perhatianmu nak
    Sehabis itu saya akan menguasai dunia ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ingin sekali bilang kalau orang ini, "LU JUGA MAKSA BANGET JAMBAN!"

      Delete
    2. Maksa amat Kakang Nikita Setiawan Purbasariwangistroberi. Hhhhhh~

      Delete
  5. Seorang cowok butuh 8 detik untuk jatuh cinta kemudian melupakan dengan mudah. Wah itu semacam gua. Bukan suka sih, simpati aja (ngeles hahaha). Tapi yaudah, selesai acara kalo udah ga nongol depan muka, wkwkw. Lagian aku mau cari yg serius aja :) #genkHAdetected

    Angkot memang tempat di mana ada aja cerita yang bermekaran ya. Yha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, ini beda usia tercium jelas, nih. Aku masih belum nyari-nyari yang serius. Masih serius belajar aja. Yha.

      Yha. Tentu itu.

      Delete
  6. SELAMAT!!!!! Dari judulnya, ini postingan menunjukkan kalau sebenarnya kamu ada adik kecil yang mesum, Rob! Bahahaha. Good job.

    Bangke bener dah judul film versi kamu, Rob. You Are The Ethyl Pentanoate of My Nose. Sepanjangn film adegannya ya engas di dalam angkot. Hahahaha.

    Aku jadi ingat waktu naik angkot pas SMP. Sempat naksir juga sama cowok yang sering naik angkot bareng. Dia anak gang seberang gang rumahku, dan tiap pagi nggak sengaja suka barengan gitu. Nebak-nebak gitu juga namanya siapa. Hahaha. Btw kamu sama Yoga ternyata sama ya. Sama-sama playboy! Huh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru bakat ini mah. Kalau diasah jadi mesum beneran. :))

      Engas di angkot jadi serem kalau dibayangin. Jadi kriminal jatuhnya. :(

      Wah, tapi saya nggak Gemini. Saya si Cancer nan setia~

      Delete
  7. Putri n Robby?! Ahahahahahkkk geli bacanya. ehehehee

    Kalo aku biasanya suka sama orang butuh waktu 1-2 tahun dulu. Gak ada yang tanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. :((

      1-2 tahun? Mungkin bisa balikan empat kali tuh kalau sempat pacaran. Ehehehe

      Delete
  8. Gue rasa itu hal wajar deh, Rob. Soalnya sewaktu SMA juga sering ngerasa begitu. Tiap ada cewek cantik yang hari ini sebelahan karena tidak sengaja. Kemudian berharap besok-besok bisa sebelahan lagi di angkot. Terus kenalan. Sampai akhirnya tukeran nomor. SMS-an, teleponan, kami gak nyangka itu sebuah pedekate dan akhirnya jadian. Berlanjut terus pacaran sampai kuliah. Sampai kerja juga. Di umur 25 kami berdua menikah. Hidup bahagia selama-lamanya.

    Sayangnya tidak. Besoknya sebelah gue malah mas-mas bau ketek. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu SMK, ya, mz~

      Bayangannya manis, kenyataannya asem. Untung sopirnya juga nggak dibayangin "umur 25 kami menikah".

      Delete
  9. Putri N Robby. INI MAKSA BANGET BANGKHEEEE

    Btw, kayanya dulu aku juga gitu deh, By. Kaya liat cowo ganteng, gagah, langsung naksir. Naksir yang cuma sekedar naksir aja. Paling cuma muji atau kagum dalam hati aja.
    Kalo berlanjut, ya alhamdulillah. Hahahaha

    Nah iya, biasanya hal kayak gitu cuma bertahan paling lama sebulanan doang.
    Kalo menurut aku, itu sih namanya naksir. Ehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sama guru olahraga gimana tuh? Mehehehe. :))

      Delete
  10. Elaahhh, lu tanya namanya dong. Inget, nama dia ! Bukan ibu-ibu sebelahnya !

    ReplyDelete
  11. Yawlaaaah
    Robby sudah besar ternyata. Secepat ini. :'))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perasaan dulu kita masih main ular tangga bareng.

      Delete
  12. Jadi sepanjang jalan di angkot cuma berhasil lirik ala capung sama nebak nebak nama doang..? Ondeh.. Kesempatan nggak datang berkali kali bro..! Terus yang turun duluan dari angkot siapa jadinya? #penasaran

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.