Mengubah Sejarah

thumbnail-cadangan
Bagi orang yang suka mengarang, soal jenis essay seharusnya jadi tipe soal favorit. Karena kebiasaan nulis buat blog, pelan-pelan membuat gue mulai menyukai tipe soal essay. Sebelum SMA, soal tipe ini adalah soal yang gue takuti. Setiap kali dikasih soal essay, biasanya gue menjawab nggak lebih dari dua baris.

Namun, soal essay menjadi laknat ketika ada di pelajaran Fisika. Pelajaran ini—dan pelajaran eksak lainnya—mengharuskan kita untuk hapal rumusnya. Guru pelajaran terkait mengharapkan siswanya mengerjakan secara sistematis. Itu artinya, ngerjain asal-asalan sangatlah dilarang. Lagi buntu-buntunya, tiba-tiba ngubah rumus Relativitas. Kalo Einstein tau, abis lu ditonjokin.

Ya sudahlah. Ulangan essay Fisika gue selalu kacau. Ulangan terakhir gue sama sekali nggak dapat poin alias... nol. Bukan kabar yang menyenangkan tentunya.

Tapi, untuk soal essay yang membutuhkan opini dan mengarang, gue cukup bisa mengerjakannya. Misalnya, ulangan PPKN. Gue bisa menjawab semuanya. Gue pun optimis nilai gue tuntas. Paling kendalanya ada di pertanyaan tentang undang-undang.

Lalu, bagaimana dengan Sejarah?

Ini yang agak sulit. Sejarah, meskipun bisa dijawab dengan mengarang, nggak bisa dijawab seenak jidat. Ada beberapa hal yang memberatkannya. Biasanya berkaitan dengan hapalan.

Nama tokoh
Nama tokoh selalu jadi musuh gue nomor satu dalam mengerjakan soal Sejarah. Gue punya kepercayaan seperti ini: Gue hanya akan mengenal nama yang pernah lewat di dalam hidup gue. Di luar itu nggak bisa. Jadi jangan salahin gue kalo nggak tau nama bokapnya Daendels.

Lagi pula, nama orang-orang dulu sangatlah rumit. Gue sampai sekarang masih kesulitan menghapal nama Ide Anak Agung Gde Agung. Kalau awal-awal baca akan terlihat gampang. Coba kalau ditanya namanya sekali lagi, pasti kebingungan. “Ide Agung Anak Gde. Eh, Gde Ide Anak Agung kali ya?”

(Gue nggak tau aslinya gimana, tapi kebanyakan sumber emang tulisannya begitu. Bukan typo dari gue.)

Selain itu, nama orang Eropa juga sulit.
Coba kalo gue tanya, sebutin legenda sepak bola Polandia tanpa googling. Nggak banyak yang tau. Selain namanya emang susah dihapal, cara penyebutannya juga bikin lidah keselipet. Coba baca: Krzysztof Mączyński, Michał Kucharczyk, dan Adrian Mierzejewski. Buat dijadiin nama blog juga nggak SEO kayaknya. Susah, euy.

Berbeda dengan nama orang sekarang yang cenderung lebih mudah diingat: Awkarin, Dimas Kanjeng, dan (... isi nama mantan di sini).

Sampai-sampai gue lupa, siapa negara yang menjajah Indonesia selama 3,5 abad. Malah bahas-bahas Polandia.

Tahun
Ini sama susahnya kayak ngapalin tanggal-tanggal penting ketika pacaran.

Kembali ke ulangan Sejarah. Gue ingat, ada satu anak dari jurusan IPS mampir ke kelas gue. Dia jalan menghampiri teman gue dengan petantang-petenteng. “Weh, lu mau kunci jawaban ulangan Sejarah nggak? Gue tadi baru ulangan, nih.”

Kebetulan, guru Sejarah kita emang sama. Gue ragu kalau dia beneran terjamin. Setelahnya gue nggak mengikuti perbincangan mereka. Gue milih tiduran di pojokan kelas. Mumpung nggak ada guru.

Nggak lama, gue keluar kelas masih nemuin dua orang itu. Masih ada transaksi di sana.

“Lu mau nggak?” tanya si anak IPS.

Gue kebetulan ada di antara mereka. Teman gue nanya ke gue, “Gimana, Rob? Mau nggak?”
“Mana? Gratis, kan?” tanya gue penasaran.
“Jeh, enak aja!” protes si anak IPS.

Gue memang nggak cocok menjadi pembeli kunci jawaban.

“Goceng dah gue kasih,” sambungnya.
“Mahal amat.”
“Sama kelas lain nggak gue kasih loh,” ucapnya dengan nada merayu, layaknya sales panci dua sisi.

Merasa berada di pasar gelap, gue langsung masuk ke kelas lagi, ngelanjutin tidur.

*** 

Ketika ulangan Sejarah...

5 menit ulangan Sejarah, gue belum menemukan kesulitan. Karena soal masih didikte.

10 menit belum juga. Gue ngerjain soal yang gampang dulu. Tau, kan, soal gampang itu kayak apa. Soal-soal semacam “Sebutkan hikmah yang terjadi pada kejadian....”. Nah, itu soal yang gue kerjain duluan.

Menit-menit selanjutnya, gue banyak-banyak berdoa. Ampun deh, gue nggak tau jalan ceritanya. Ngerjain soal essay Sejarah ibarat lagi di tongkrongan, disuruh nyeritain cerita dua minggu penuh tanpa putus. Nggak boleh ada yang kelewat.

Teman gue pernah berpesan, “Kalo ngerjain soal Sejarah jangan diapalin mentah-mentah ceritanya. Apalin poin-poinnya aja.” Guru gue pun berpesan begitu. Kenyataannya, gue nggak pernah bisa menghapal poin-poin menjadi sebuah cerita yang utuh.

Temen gue juga bilang, “Rob, lu kan blogger. Udah jago lah kalo merangkai kalimat.” Gue kalau nulis blog emang nulis poin-poinnya dulu. Tapi, kan, nggak diapalin! Masa harus ngerjain soal pake cara gue nulis blog alias nyontek pake catatan kecil.

Akhirnya, gue bener-bener ngerjain soal pake cara ngeblog. Ini sebagai bukti kepada teman-teman yang suka nanyain “Selama ngeblog udah dapat apa aja?”. Oh, tentunya, skill mengarang gue semakin lihai. Sampailah pada pertanyaan,

“Tuliskan peristiwa Republik Maluku Selatan.”

Oh, ini sungguh mudah. Sepuluh menit sebelum ulangan gue sempat baca tentang itu. Masih hangat di kepala gue. Dengan semangat menggebu-gebu gue tulis semua yang ada di kepala, takut keburu lupa. Gue menjawab, “Republik Maluku Selatan adalah sebuah gerakan yang terjadi di Maluku Selatan.”

Sialan. Buntu.

Gue panik. Mencari soal yang belum terjawab, udah nggak ada. Inilah soal yang gue sisain paling terakhir buat dikerjakan. Gue mencoba mengingat-ingat lagi. “Ah, apa ya? Apa ya?”

Tercetuslah sebuah nama.

“Gerakan ini dikomandoi oleh Soulokil.”

Setelahnya gue mengarang dengan sukses. Benar atau tidak, biar Allah dan guru Sejarah saja yang menilai.

Selayaknya anak yang baru selesai ulangan, gue dan Rohim berdiskusi tentang ulangan tadi.
“Mampus, gue lupa tentang RMS.”
“Gue juga. Tapi untungnya inget-inget dikit dari materi presentasi kelompok gue,” kata Rohim.
“Ah, gue lupa belajar dari situ,” sesal gue.
“Pertamanya gue lupa. Gue tulis aja, ‘Soumokil adalah seorang blablabla’.” Rohim menjelaskan jawabannya tadi.

Tunggu. Soumokil? Siapa dia sebenarnya.

Gue menyebutkan Soulokil kepada Rohim. “Rob, itu siapa yang lu tulis? Yang bener Soumokil. Hahahaha.” Tatapan gue langsung kosong. Rohim ketawa lama banget.

Yeah, gue udah bilang sebelumnya, gue nggak jago ngapal nama orang. Gue baru saja mengubah sejarah. Mengubah nama orang tanpa alasan. Kemudian dicekal para sejarawan, dipenjara di museum.


21 komentar:

  1. HAHAHA derita anak IPA yang merangkap jadi blogger ya rob, harus inget sama fisika! Gaboleh sembarang di karang! :v

    Iya juga ya Sejarah, apalagi dikit-dikit ada tahun, dikit-dikit nama tokoh. Fyuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, harus banget blog ini dijadiin blog soal biar inget terus sama Fisika. :')

      Delete
  2. Makanya rob
    Tips tips nyontek yg saya tulis itu diterapkan

    ReplyDelete
  3. Hahahh, njir! Gw baru ingat klo sejarah itu bukan melulu tntang essay, ada angka dn beberapa masalah yg harus dipecahkan dngan otak kiri. Oiya rob, emangnya di ppkn gk sama sejarah? kan ada tahun, nama, dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di PPKN rata-rata jawaban opini. Enak aja ngejawabnya. Hehehe. :))

      Delete
  4. Bhahahahk. Baca ini berasa nostalgia masa-masa sekolah dulu. Kamu bisa, kok. Kalau udah di pelajari berkali-kali tapi hasilnya tetep sama, coba deh ganti cara belajarnya. Sambil main mungkin. Atau ngelakuin sesuatu yang kita senangi. Misalnya nih, ada nama tokoh yang susah. Nah, buat memudahkan kita untuk ngapalin namanya, coba deh namanya disamain ama sesuatu yang mudah kita ingat. Nanti pas ngisi Essaynya bakal keinget sendiri kok. Selamat mencoba ya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan banget dong yang punya nama mantan sama dengan nama pahlawan. Nice tips from Bidadari Magang~

      Delete
  5. Padahal Fisika sama Sejarah itu pelajaran kaporit ku. Seru tauk! :D

    Justru pelajaran yg paling aku benci itu kimia. Apaan tuh. Nyetarain ion. Nyetarain gender aja masih pro kontra. Lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((kaporit)))

      Eeeeh, aku lebih suka Kimia. Lebih kayak pelajaran IPA SMP. Seru tau nyetarain reaksi~

      Delete
  6. ilmu mengarang bebas ini akan sangat berguna saat lo kuliah, apalagi jurusan pendidikan, Rob :))

    anjay ternyata emang lo yg salah, gue dikit2 inget soal si soumokil itu. Kenapa jadi soulokil. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaah, ternyata begitu faktanya. :))

      Lupaaa.

      Delete
  7. Gue juga dulu gitu rob,waktu sma. Tapi perlahan gue coba memperbaiki diri gue sendiri. Karna gue selalu yakin, semua bisa jika lu punya kemauan :D

    Oh, ya. Ngomong-ngomong soal mengarang lu itu bisa menjadi aset berharga ketika lu kuliah nanti rob..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke, bener tuh Om Renal. Perbaiki diri!

      Delete
    2. Ehehehe, maap. Biar akrab aja dipanggil Om :D

      Delete
  8. pertama-tama. ciyeee robby ganti headerr.
    Dah gitu aja.
    pertama dan terakhir.

    ReplyDelete
  9. gils ada kanjeng segala disini xD
    Ya bener, skill mengarang bebas ga bisa diterapkan di segala mata pelajaran sih hihi

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.