Give Me One More Night, Please...

thumbnail-cadangan
Belum terlalu malam menurut gue tidur pukul 11 malam. Itulah yang gue lakukan satu hari di minggu ini, dan malam-malam sebelumnya. Memang sudah biasa tidur jam segitu. Bedanya cuma apa yang gue kerjakan sebelum tidur.

Sebelum tidur, gue mengerjakan rangkuman Biologi. Besok dikumpulkan. Dan gue harus mengerjakan dua bab sisa. Mata udah nggak kuat karena sebelumnya udah dua jam di depan layar laptop, ngerjain tugas yang lain. Sore harinya, kebingungan mikirin mau pulang atau lanjut les. Dengan alasan kejar deadline, gue langsung naik angkot, pulang.

Sebelum pulang, gue berdiri di koridor sekolah. Berdiri tanpa ada alasan jelas. Pikiran kemana-mana. Bercabang. Yang satu minta diselesain besok, yang lainnya juga harus dikumpulin pada hari yang sama, ditambah lagi harus menghapal pasal 20 sampai 34 UUD 1945. Lupa, antara 20 atau 26. Sedangkan rangkuman yang lain harus segera diselesaikan, tiga pelajaran harus presentasi.

Pelan-pelan gue jalan menuju gerbang depan sekolah, sambil mikir, “Banyak amat, ya.”

Herannya, semua itu cuma kepikiran di area sekolah. Setelah di rumah, “Tadi gue mikirin apa ya di sekolah sampai bisa melamun lama banget?”

Makanya, setiap ada tugas gue sering keteteran. Ya, karena, begitu sampai rumah, semua tugas yang udah gue rencanain sejak istirahat kedua (perencanaan gue emang terlalu cepat) tiba-tiba hilang begitu saja. Yang ada, di rumah malah browsing-browsing nggak jelas, ngeliatin Instagram Stories, dan bolak-balik Facebook-Line-Twitter.

Kayaknya manajemen waktu bener-bener jadi PR yang harus gue kejar. Harus paham. Harus diselesaikan. Harus dikuasai. Kalo aja di universitas ada program studi Manajemen Waktu, mungkin itu bisa jadi pilihan studi gue.

Akibat dari bercabangnya rencana, fokus gue jadi kurang. Hanya kepikiran tanpa eksekusi. Mungkin begitulah yang disebut gagalnya sebuah rencana. Mungkin saat ini cuma butuh eksekutor andal seperti Ibrahimovic. Hmmm.

Kembali lagi ke Biologi. Mata pelajaran yang dianggap kontroversial bagi teman sejurusan. Sebenarnya, bukan ke mata pelajarannya, melainkan gurunya. Sampai-sampai di rapat pertama orang tua siswa ada yang mengeluhkan soal guru Biologi. Dibilang ngajarnya terlalu cepat dan ngasih tugas nggak kira-kira banyaknya.

Gue nggak bisa komentar banyak soal itu. Gue cuma bisa ketawa.

Di antara mereka yang semuanya tampak kesusahan dengan Biologi, mungkin gue satu orang yang nggak terlalu memusingkan. Gimana, ya. Lagipula, cara damai dengan pelajaran yang kita nggak sukai adalah lebih baik diabaikan saja, bukan? Syukur-syukur mau dipelajarin biar jadi suka.

Gue nggak terlalu suka Biologi, tapi dibilang mau usaha juga cuma setengah-setengah. Hehehe. Jadinya nggak sepenuh hati.

Kenapa gue tertawa?

Hmmm, ini mungkin opini dari hati gue yang terdalam. Cuma, karena gue nggak berani ngomong di microphone pusat informasi—selain dengan alasan mencegah ketauan gagap dan grogi, makanya gue cuma berani nulis di blog.

Di antara orang yang ngeluh soal Biologi, lucunya, punya ketertarikan jurusan kuliah yang ada kaitannya dengan Biologi. Contoh gampangnya, ada anak yang pengin masuk Kedokteran, tapi dia benci Biologi. Sama aja kayak makan nasi uduk tapi alergi beras. Emang, sih, analogi gue agak nggak nyambung. Tapi pasti tau maksudnya, kan.

Gimana nanti belajar di perkuliahan, yang katanya lebih “jahannam” tugasnya. Lebih keras.

Gue malah bersyukur punya guru begitu. Setidaknya ada gambaran kecil mengenai dunia perkuliahan. Tugas dikumpul sekarang, ya sekarang. Nggak bisa ngerjain ulangan, ya tewas aja mendingan.

Tapi, gimana dong soal gue yang cuek-cuek setengah hati itu? Apakah begitulah nanti gambaran kehidupan perkuliahan gue? Ah, semoga jangan. Nggak mau bikin malu orang tua.

Di hadapan gue ada binder yang di kover depannya tertulis #BIOLOGI. Tugas merangkum ini gue setop sampai gue bisa ngerjain lagi, entah kapan. Dengan meninggalkan tugas yang belum selesai, gue tidur.

Satu hal yang gue terima malam itu adalah, tidur dalam keadaan meninggalkan tugas yang belum selesai adalah salah besar.

Gue mimpi berada di dalam kelas. Duduk sendirian sambil bertanya-tanya, “Apa yang ketinggalan dari gue? Apa? Apa? Apa?” Semua tanya “apa?” terus-terusan nyerang kepala gue, sampai akhirnya jadi kayak kumpulan kapuk yang masuk ke dalam sarung bantal yang besar, lalu menghantam kepala gue dengan keras. Hantamannya emang sekali, tapi bekasnya masih terasa sampai pagi. Dengan kata lain, gue kepikiran tugas sepanjang malam. Rasanya kayak ngelamunin tugas berjam-jam... padahal  tugas itu belum selesai. Nggak ada eksekusi.

Pukul 5 kurang sedikit gue terbangun, melanjutkan tugas merangkum. Masih sisa satu bab lagi. Perjuangan masih bisa gue lancarkan hingga menjelang pukul 5.45. Singkat cerita, kerjaan gue nggak selesai. Peduli setan hari ini gue dihukum gara-gara nggak nyelesain tugas. Usaha gue mentok sampai di situ.

Salah gue sebenarnya dalam manajemen waktu. Belum benar-benar bisa nylesain tugas dua hari sebelum dikumpulkan.

Langit-langit kelas udah tergantung logo-logo perguruan tinggi. Ini dibuat karena dalam rangka lomba menghias kelas di acara Bulan Bahasa. (Aneh, apa hubungannya bahasa dengan menghias kelas?) Walaupun emang kurang nyambung, jujur, suasana kelas jadi lebih bikin betah tinggal di kelas. Apalagi setelah di loker diisi banyak buku dari teman-teman sekelas. Gue bisa baca di situ setiap nggak ada guru! Hahahaha.

Melihat kami sedang rapi-rapi, guru Biologi sempat masuk kelas. Merasa kami sedang tidak siap belajar, beliau keluar dan disambut kebahagiaan teman-teman. Gue juga merasa senang. Artinya, tugas nggak jadi dikumpul hari ini. Nggak tau juga kalau siangnya dikumpul, tapi gue yakin pasti di hari selanjutnya.

Ngantuk rasanya. Mendengar khotbah sambil mendengar derasnya hujan di luar bikin gue ngantuk. Selesai salat Jumat, rasa ngantuk perlahan hilang (ini ajaibnya setelah salat Jumat). Di antara gerimis, gue ingin berteriak kepada semua orang, “Give me one more night, please.”

Yang artinya, “Kasih gue satu malam lagi buat gantiin tidur yang nggak mengenakkan itu!” 


20 komentar:

  1. coba sesekali ke dapur deh rob, nyari teko tempat air.
    terus usap-usap itu teko, siapa tahu ada jin penunggunya.
    Kan lumayan, jika si jin tanya minta apa, kamu jawab aja "Aku minta waktu semalam lagi" dijamin bakalan dikasih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. WAH PERTAMAX GAN!
      Pertalitenya dong, full-time ya..

      Delete
    2. Teko di rumahku kalo diusap malah engas. :(

      Delete
  2. Kasihan sekali nasibmu, Rob. Muahaha. Gue dulu juga gitu pas sekolah. Ngerasa nggak bisa mengatur waktu dengan baik. Masa gue sering banget ngerjain PR di sekolah. Tidur kurang, tapi harus bangun pagi-pagi banget dateng ke sekolah demi ngerjain PR itu. Atau kalau perlu sekalian aja menyalin jawaban temen (kalau udah mentok).

    Semangat, yak! ^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akan kucontoh segala tauladan yang ada pada dirimu~

      Delete
  3. Wih hebat pikirannya bisa kemana mana
    Berarti otakmu bisa lepas y rob?

    ReplyDelete
  4. Dulu, gue kalo ada tugas ngerangkum terus lagi males2nya, yaudah tulis point2nya doang :D
    Nikmatin aja ya, Rob. Masa2 itu bakal bikin kangen sih sebenernya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, ini bener banget sih. Gue juga gitu kalo udah pusing dan capek. :))

      Delete
  5. perlu manajemne waktu dan kalau ada tugas jangan ditunda

    ReplyDelete
  6. Justru masa2 inilah yg paling berharga dari masa2 TK,..eh, masa2 SMS mksdnya..Nikmatin aja rob, SMA hanya sekali dn stress krna tugas itu masih bisa dirasakan pas kuliah..jadi ya..jalanin dngan santai aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((masa2 SMS)))

      Karena sekarang eranya Telegram, yes. Fufufu.

      Delete
  7. huahahaha aku pernah tuh kayak robby tapi di ppkn. aku juga masih belum bisa memanage waktu aku. hm

    btw aku pengen ngakak sama komentar paling pertama wkwkwk

    be enjoy aja rob sama tugas. semoga nanti nggak gitu lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muak nggak ngapalin pasal segitu banyaknya? :')

      Delete
  8. Mengingatkan gue saat masih sekolah. Ehe :D

    ReplyDelete
  9. Galau yang berkualitas. Galau soal tugas. Bukan galau karena nggak bisa nahan engas.

    Oke. Kalau ada studi tentang manajemen waktu, kayaknya aku juga pengen belajar itu. Huuffh. Akhir-akhir ini aku sama blog lagi kacau banget. Semenjak kerja, blog jadi nggak diperhatiin. Hutang bw banyak. Draft jadi draft doang, nggak diselesaikan. Janji buat review film bareng entah kapan diwujudin. HUAAAH. KIta kebanyakan ngelamunnya kali ya, Rob. Sama kebanyakan bolak balik aplikasi chatting sama socmednya. Huhuhu.

    Tidur yang cukup gih malam ini, Rob. Semangat! Besok upacara. Jangan ketiduran sambil berdiri!

    ReplyDelete
    Replies
    1. APAAAN ITU?! Hahaha, bangke rimanya. ^__^

      Ho-oh. Socmed kadang bikin jengkel diri juga. :')

      Mana ada wey ketiduran yang begitu modelnya. :/

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.