26 October 2016

Banyak Cerita, Banyak Rasa

Pernah ngerasain nggak mata kamu rasanya perih banget? Seolah-olah di mata kamu sama sekali nggak ada cairan, rasanya kering. Nah, begitulah yang lagi gue rasain. Apa mungkin karena kebanyakan natap layar (handphone dan laptop), ya? Ada kemungkinan juga, sih. Makanya setiap kali dikasih pertanyaan lebih suka baca ebook atau buku cetak, gue pilih baca buku cetak. Meskipun sekarang buku-buku harganya udah mahal banget. Buat anak seumuran gue yang doyan beli buku bisa-bisa baru kebeli satu buku Dijah Yellow setelah tiga bulan puasa.

Jangan dicela. Biar pun begitu dia punya karya.

Oke, rasanya post ini bakal gue isi dengan potongan-potongan cerita singkat. Hampir semuanya kejadian di hari yang sama.

***

Satu.
Di rumah, gue punya dua sepeda: sepeda goyang dan sepeda fixie. Keduanya sangat sering gue gunakan buat sepedaan sore. Nah, karena fixie itu terkenal cengeng buat diajak lewat permukaan jalan bebatuan, makanya gue lebih milih sepeda goyang. Kalo nggak tau apa itu sepeda goyang, silakan googling sendiri. Di instagram.com/robby_haryanto, juga pernah di-upload.

Iya, gue tau. Pasti kalian males nyarinya. Gue kasih langsung aja deh.

Ini namanya sepeda goyang

Hari Senin, kebetulan sekali fixie sedang berada dalam kondisi prima: mulus bersih, ban nggak kempes, dan nggak jerawatan. Sore yang agak mendung gue gunakan untuk berkeliling sambil bersepeda dengan fixie. Sekalian lihat dedek-dedek SMP pulang sekolah. Rasanya nostalgia banget. Udah lama juga nggak mem-fixie-kan.

Sepedaan 40 menit ternyata udah cukup terasa efeknya. Pulang-pulang badan gue rasanya lemas. Kaki jadi lebih tegang dari biasanya. Tapi rasanya seneng-seneng aja. Apalagi pas di perjalanan gue balapan sama angkot dan motor, walaupun gue nggak bisa ngebalap motor yang isinya dua mamah muda. Karena digoda mereka, gue jadi semangat pengin ngejar mereka. Siapa tau dikasih bonus.

***

Dua.
Selasa.

Selasa pagi diawali dengan hal menjengkelkan: naik angkot diturunin di tengah perjalanan. Ehm, maksud gue, belum sampai tujuan udah diturunin. Angkotnya malah muter balik karena penumpang tinggal gue sendiri. Bikin kesel. Jadi bayar dua kali untuk naik angkot yang lain.

Dan gue takut, mood pagi ini yang udah dirusak oleh sopir angkot terbawa hingga sepanjang hari. Kan, ada yang bilang, mood pagi hari bisa menentukan mood sepanjang hari. Gue takut mood jadi rusak saat tampil pengambilan nilai bermain musik kontemporer.

Jadi, hari ini ada pengambilan nilai main musik kontemporer. Setelah sekian panjang dijelasin guru dan baca artikel sana-sini, kesimpulan yang gue dapat tentang musik kontemporer: main musik secara asbun alias asal bunyi.

Guru gue pernah nayangin contoh musik kontemporer. Mereka yang main musik kontemporer rata-rata sedikit yang main pakai alat musik benaran. Intinya ada suara yang timbul. Misalnya, scanner barcode di kasir, mukul-mukul galon, dan warga terdaftar sebagai pemilih tetap. Sesederhana itu. Itu juga kan dapat bersuara. Bedanya cuma di pemilu aja.

Tau-tau bahas politik. Apaan coba. Ulangan PPKN aja nggak tuntas.

Selain itu, gue menyimpulkan bahwa, musik kontemporer adalah musik sehari-hari. Nggak jauh dari rutinitas. Kayak musik tongkrongan, cuma lebih gembel lagi. Nggak harus jago main alat musik. Yang penting bisa nyambung sama bunyi yang lain. Udah cukup.

Karena itu, gue sangat antusias. Buat keren nggak perlu harus bisa main gitar.

Kelompok gue terdiri dari empat orang. Prinsipnya, apa yang kita mainkan adalah apa yang biasa kita lakukan sehari-hari. Fachri kerjaannya main laptop, dia main keyboard pake software di laptopnya. Nggak ada perubahan pada Rohim. Si anak marawis ini selalu main markis dan kami percayai dia main markis di tim kami. Diki, entah profesi apa yang cocok, dia bawa-bawa botol buat dipukul ke meja. Mungkin dia tukang minum. Dan terakhir gue, yang seneng banget gendang-gendang meja... akhirnya mukul tumbuk. Contoh gue main tumbuk.

Gue yang baju biru.

Selain main tumbuk, gue juga mengadu tangan yang mengepal koin agar timbul efek suara gemericik.

Kami menampilkan lagu milik The Dance Company yang judulnya Papa Rock n Roll. Di antara kami berempat, nggak ada yang pantes dibilang rockstar—yang identik dengan tampang seram. Paling tampang gue yang mendekati tampang debt collector.

Fachri yang memulai intro. Kemudian pukulan gue mulai masuk ke permainan. Semangat menggebu-gebu sampai gue nyanyi teriak-teriak nggak jelas. Setidaknya usaha gue buat ngerock beda tipis dengan orang kejepit pintu.

Guru gue tersenyum tipis. Entah apa yang membuatnya senyum. Kalo senyum karena semangat gue, itu wajar. Kalo senyum karena suara gue (yang paling mendominasi), itu agak aneh. Nggak ada yang bisa dibanggakan dari suara gue.

Tapi, nggak masalah mau suara kayak apa pun. Nggak masalah juga gue mukul kenceng-kenceng sampai tangan lecet-lecet berdarah. Yang penting seneng. Suasana kelas serasa konser rock, metal, punk, dan dangdut. Pokoknya rusuh dan membara. Jadilah hari itu kami mencampurkan banyak hal di musik kami: musik elektronik, musik dari benda sederhana, dan alat marawis. Ditambah ngebawain lagu rock. Kurang ngegilir kotak amal aja, nih.

Untuk foto, mungkin menyusul. Belum dikasih sama tim dokumentasi. Hehehehe.

***

Tiga.
Selanjutnya, di sekolah, esok, akan ada puncak perayaan Bulan Bahasa. Sekolah gue, selain ada acara hiburan, mengadakan bazar kewirausahaan. Setiap kelas jadi pedagang mengisi stand-stand yang sudah disediakan. Pembelinya datang dari dalam dan lingkungan luar sekolah. Program ini, katanya, baru pertama kali diadakan. Wah, gila. Tahun terakhir gue di sekolah SMA ada acara sekeren ini. Nggak akan disia-siakan pokoknya.

Dari sekian banyak acara tahunan di sekolah, selain pensi dan Maulid Nabi, acara Bulan Bahasa selalu bikin gue antusias. Kayak merasa “ini bulan gue”. Bukannya apa, sejak SMA gue jadi suka sama dunia bahasa. Kecuali bahasa asing, sih. Mungkin karena aktif ngeblog yang bikin gue suka sama bulan Oktober dan Bulan Bahasa.

Setiap Bulan Bahasa, selalu ada bintang tamu yang hadir. Dua tahun lalu Dara ‘Oka’ Prayoga datang ke sekolah gue ngasih wejangan soal nulis. Setahun berikutnya stand up comedian Fico Fachriza (bisa dibilang, Fico “salah panggung” tampil di sekolah gue. Penonton dan guru nggak terbuka sama kata-kata kasar). Tahun ini bintang tamunya Ephy Stand Up Comedy Academy (SUCA). Begitu tau bintang tamunya dia, rasanya kok biasa aja, ya. Apa karena udah pernah nonton dia secara live? Harusnya, kan, jadi tambah penasaran. Dulu sempat nonton dia di Stand up Festival 2015, dan performnya lumayan bagus. Ah, semoga dugaan gue aja yang salah.

***

Empat.
Kesorean bikin kerajinan buat dijual hari Rabu membuat gue nggak les. Pulang pukul 5 sore sampai diusir satpam sekolah. Padahal, pada waktu yang sama, di sekolah lain masih boleh ada kegiatan. Kadang heran sendiri.

Di depan gerbang sekolah, seorang wanita berdiri di pinggir jalan. Ada cowok juga di sana. Gue kenal dengan cewek itu. Setengah tahun yang lalu, dia pernah bicara dengan gue. Duduk berdua. Hanya obrolan empat mata dari hati ke hati. Sebuah pengakuannya yang membuat gue kecewa.

Dia sedang sapa-sapaan sama seorang cowok, yang sering gue lihat di Instagramnya. Mereka layaknya pasangan yang sedang bahagia-bahagianya. Dari perilakunya bisa ditebak mereka ini pacaran. Cewek itu kemudian melanjutkan langkah kakinya, sedangkan si cowok naik ojek.

Dulu, si cewek itu pernah nolak gue.

Secara brutal gue langsung mengejar dia, membuntutinya selayaknya psikopat yang sedang mengintai korbannya pelan-pelan, kemudian menikam dengan pisau dapur dari belakang. Bukan itu yang gue ingin sesungguhnya. Gue hanya ingin menyapanya sebagai orang yang pernah menolak gue. Gue cuma mau nunjukin, gue nggak sedih karena ditolak dia.

Sayangnya, langkah kakinya cepet banget. Di dalam dada gue juga campur aduk rasanya. Pengin nyapa, tapi—seperti biasanya—gue malu. Gue makin mempercepat langkah mengimbangi dia. Dia sebentar lagi sampai kampusnya, sedangkan jarak gue dengannya hanya sekitar enam langkah. Beberapa langkah sebelum dia berbelok masuk area kampus, gue lari sambil menahan tas yang terbuka karena jebol, sekaligus menahan kekecewaan terdahulu. Gue harus ikhlas.

***

Ah, terlalu banyak ceritanya. Mata udah perih dan tangan masih lecet. Doain ya, tanggal 26 Oktober nanti semoga barang dagangan punya kelas gue laku banyak. Terima kasih yang udah baca sampai abis post ini.

32 comments:

  1. Lha endingnya kok mellow begitu :/

    seenggaknya pernah mencoba dan ditolak, perjalananmu msh panjang. kuliah nanti tipe cewe makin variatif kok :v

    *plis variatifnya dimaknai positif ya wkwk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebawa suasana malam kali, ya, mbak. Hehehe.

      OKE! Ini bakal menjadi pedoman hidupku, mbak~

      Delete
  2. Diturunin sopir angkot terus bayar? Jangan mw rob
    Saya selama naik angkot kalo diturunim blom sampai tujuan, engga pernah tuh bayar2
    Bahkan saya kalo naik angkot berharap diturunin 1 meter sebelum sampai ditempat tujuan biar g bayar tapi itu mustahil
    .
    Trus kapan saya diundang sama sekolahmu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti ya. Kalo sekolahku butuh OB baru. :))

      Delete
  3. amin semoga laris ya dagangan kelasnya..

    Regards
    Budy | Travelling Addict
    www.travellingaddict.com

    ReplyDelete
  4. yang sepeda goyang pernah sih naik, nggak ada rem, bikin makin horor :|

    ReplyDelete
  5. Kenapa lu gak main kecrekan aja rob. Lebih keren padahal itu.

    Gue kalo di turunin angkot gak sampai tujuan ya gak mau bayar, apa2an seenaknya aja. Cih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo digebukin pake dongkrak gimana, Pak? :(

      Delete
  6. Sedih sih ini. Dulu jaman sekolah nggak ada perayaan Bulan Bahasa akunya. Huhuhuhu. Dan itu pas terakhirnya kelam banget bangke :((((( Qucedila.

    Mainin sepeda goyang sampe keluar aja biar ikhlas, Rob. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yhaaa, tidak seperti masa SMA pada umumnya. Ngapain aja selama 3 tahun. :p

      Keluar rumah? Jelas dong kalo itu.

      Delete
  7. Tenang rob...jenis2 cwek ketika memasuki dunia kampus sangat bervariatif dan bnyak rasa kok rob.

    Yaa. mdah2an aja brang dgangan kelasmu cpat laku rob, sama sperti dirimu..moga cepat laku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punya kenalan ga? Username Instagram gitu. Boleh deh. :))

      Delete
  8. Anjir, tangan lu kuat aja maenan marawis gitu. Gue waktu diajarin sampe kapalan dan habis gitu males. Tangan gue terlalu lembut. Mending gue disuruh cuci piring deh. :(

    Dagang apaan, Rob? Gak dagang harga diri, kan? Woahaha. Semoga laris manis tanjung kimpul, ya! ^__^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin di tongkrongan kamu akan dibilang LEMAH! :')

      Ye, belum laku kalo pun didagangin. Yoih, makasih!

      Delete
  9. baca cerita lo malah kangen masa2 SMA cuy, kayaknya kangen aja 1 hari full diisi sama kegiatan. kalo ngampus paling pagi-siang kuliah, siangnya tidur, malamnya nongkrong, tengah malam begadang nugas, gitu doang :))

    musik kontemporer gitu dulu gue juga bikin, tapi lebih ke perkusi sih, gue nabok nabok galon :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, ngebosenin dong? Nggak usah naik kelas apa gimana nih enaknya? Eh, Astagfirullah.

      Jangan nabok guru aja, ya.

      Delete
  10. Nyebelin banget Rob, diturunin angkot di tengah jalan gegara gak ada lagi penumpang laen. Kalok aku uda ku maki-maki. Hahah. :D

    Mau dagang apaan sik? Dagang perasaan aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Beby mah galak. Aku kan lembut, kak.

      Nggak. Perasaan ini not for sale. Titik.

      Delete
  11. Wahahah kalau sudah ketemu sama yang jualan jualan seperti ini tossssssssssssss kita. Sesama Jualaners alia sesama penjual bisa lah kita bertukar share gimana supaya barang dagangan kita laku, dan modal balik sekaligus profit. Wahahahhahahahahahhaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOSSSS! Saya mah bener-bener pemula. Apalagi ini jualannya bareng-bareng. Ehehehe. Semoga laku! :))

      Delete
  12. Yeuuuh itu mah lo mau promosi instagram aja, Rob :p

    Gue jadi penasaran sama permainan musik kontemporer kelompok lo. Gimana jadinya yak tuh. Berpikir positif aja deh ya, guru lo senyum karena seneng sama semangat lo itu haha.

    Huhuhu ikhlas, Rob. Ikhlas.

    Gimana gimana? Dagangannya laku nggaaak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manfaatin celah, Mbak. Huehehe.

      Aamiin. Semoga guruku suka. Dan, dagangannya Alhamdulillah laku. :))

      Delete
  13. Masa aku pertama kali denger sepeda goyang :( terus tadi liat fotonya rasanya masih gak paham. Nah abis ngetik ini, mau lanjut googling kayanya biar pengetahuanku bertambah. Huhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Instagram ada videonya. Lucu mainnya~ :))

      Delete
  14. Iya ikhlasin aj bro,... tasnya yang jebol apa hatinya yang berlobang...

    ReplyDelete
  15. Kayaknya sepedaan sore2 enak ya, kalo rutin bisa ngurangin resiko diabetes suatu saat nanti tuh..
    Kayaknya wajar juga ya diusir jam 5 sore dari sekolah, bukan apa2 sih.. Mungkin karena wajah lo ada nilai2 kriminalnya Rob.. :D

    Yang terakhir, mau nyapa cewek yang udah pernah nolak gak usah seniat itu, kan niatnya cuma mau nyapa bukan ngarep mau nyapa, bedain ya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneran, bang? Mantap dong rutinitasku. Hehehehe.

      Hmmm, iya deh Pak Guru. Saya mau belajar aja. ^__^

      Delete
  16. Itu lo diturunin diangkot nggak sampe abis kok masih tetep bayar ya? Bukannya bayar ke yang depannya aja? ._.

    Terus gimana kemaren dagangannya? Muahahaha. Telat nih bacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kagak! Bayar dua kali. Brengsek emang. :/

      Muahaha, mantap dong. Balik modal! Untung besar.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.