Melangkah

thumbnail-cadangan
Suara petir menggelegar di luar menjadi sebuah elegi malam ini. Anehnya, sudah lima jam sejak sore tadi hujan tidak kunjung turun. Aku masih menantikan turunya hujan sebagai tanda bahwa sebotol bir boleh dibuka. Membaca “After Dark” karya Haruki Murakami, mendengar alunan suara instrumental gitar dari tape yang kubeli semasa kuliah menjadi kegiatan menyenangkan malam ini.

Hujan akhirnya turun. Beruntung bagiku karena tidak perlu repot-repot mengairi sawah besok. Sejak Ayah meninggal setahun lalu, hanya sawah 1 hektare dan gubuk tua ini menjadi peninggalannya. “Hasil dari sini, kuliahmu bisa selesai,” begitu katanya kepadaku dua bulan sebelum meninggal.

Teman-teman—yang berasal dari daerah desa—sempat kaget mendengar aku memiliki sawah. “Mustahil di Jakarta ada sawah,” kata seorang teman. Aku menjawab tanpa ragu. “Tentu saja ada. Tidak ada yang tidak bisa kamu temukan di Jakarta. Jangankan sawah, kemiskinan pun masih bisa kamu temukan di kota itu.”

Pagi hari, aku melihat banyak sekali bangkai katak berserakan di depan gubuk. Belakangan kuketahui dari gosip yang beredar, daerah Jakarta sekitarnya mengalami hujan katak semalam. Untungnya, ular-ular di sini jadi tidak kekurangan makanan sehingga aku terbebas dari target mangsanya.

Hari ini, seperti biasanya, aku menghabisi hari di sawah. Agak tidak adil bila melihat titel sarjana pertanian yang kuraih, lalu hanya bekerja di sawah. Seharusnya aku sekarang berada di pabrik industri pupuk atau sedang membuat rekayasa perkawinan silang antara ubi dengan singkong. Sampai malam tiba, rutinitas masih sama seperti kemarin: membaca buku, mendengarkan musik, meneguk bir.

Dan sesekali mengingat potongan-potongan peristiwa masa lalu.

***

Aku senang mendengar Martha lolos di jurusan Sastra Rusia di salah satu universitas di Bandung. Sudah sejak lama dia ingin berkuliah di jurusan itu. Sempat kutanya apa motivasi dia mengambil jurusan Sastra Rusia, jawabnya dengan ringan, “Gue mau ngajak ngobrol Grigori Rasputin.”

Martha pribadi seringkali memamerkan kemampuannya dalam berbahasa Rusia. Saat dia berbicara lancar, aku hanya mengangguk saja. Martha jadi mirip presenter berita bahasa Mandarin yang sering kutonton di televisi. Meskipun tidak kupahami bahasanya, tapi tetap cantik dan menggemaskan.

Bisa dibilang Martha orang yang kukenal pertama kali di sekolah ini. Aku masih ingat dia duduk menyendiri di sudut kelas, sibuk membaca kamus Rusia. Aku memberanikan diri mengajak berkenalan. “Martha,” ucapnya singkat saat itu.

Seiring berjalannya waktu Martha menjadi teman dekatku. Setiap kali dia mengalami kebimbangan, aku memberinya solusi—aku anggap itu solusi terbaik yang diterima Martha. Minimal mendengar keluh kesahnya tentang “mengapa gue dianggap aneh karena suka bahasa Rusia?”.

Sejak pandangan pertama, aku cukup penasaran dengan anak ini. Rambutnya sebahu, pipinya yang bulat, dan matanya dilindungi kacamata minus membuat “si anak Rusia” terlihat anggun. Hingga rasa penasaran itu membawa aku jatuh lebih dalam.

Setelah pengumuman masuk universitas, aku menghampiri dia. Martha tidak sendiri lagi. Sekarang dia punya banyak teman di sekolah. Mereka sedang asyik membicarakan masa-masa SMA yang sebentar lagi akan ditinggalkan menuju bangku perkuliahan.

“Martha.”
“Iya, Zi. Ada apa?” tanya Martha. Dia menyingkir dari kerumunan gengnya.
“Besok ada acara nggak?” tanyaku agak ragu.
“Nggak ada.” Dia menjentikkan jarinya. “Oh iya, gue baru ingat. Lo dulu pernah janji mau traktir gue es krim, kan? Mana sini es krim gue.”
Aku menggaruk kepala belakang. “Nah, itu dia. Besok gue ke rumah lo sore.”

Keesokan harinya, aku mengajaknya ke mal. Sedari tadi Martha terus-menerus melihat kios es krim yang tersebar di sepanjang jalan. Sepertinya dia malu menagih janjiku. Aku mengajaknya duduk di sebuah bangku di taman.

“Martha, sejujurnya gue suka sama lo. Mungkin tidak saat pandangan pertama. Tapi gue merasa menjadi orang yang bisa membuat lo nyaman saat bimbang.”
“Lo nembak gue?” tanya Martha tidak percaya. “Kita lebih cocok jadi teman curhat tau. Gue nggak bisa nerima orang buat jadi pacar sampai lulus kuliah. Lo tau, kan, gue sering main sama cowok-cowok. Gue takut, saat udah punya pacar nanti, cowok gue jadi sering posesif, membatasi gue bergaul, dan lain-lain.”

Aku terdiam cukup lama. Mengiyakan kalimat terakhir yang terucap oleh Martha. Kalau dipikir, kadang seorang cowok bisa cemburu tidak beralasan. Menganggap ceweknya selingkuh, berpaling cintanya, atau alasan-alasan yang dibuat-buat oleh kendali posesif.

“Heh? Lo bengong aja,” tegur Martha membuyarkan lamunanku.
“Oh iya. Gue lupa mau traktir lo es krim.”
“Ya udah, ayo!”

Pelan-pelan aku melupakan kecewa yang kudapat tadi. Menyembunyikan runtuhnya perasaan yang sudah terbangun sejak tiga tahun terakhir. Aku harus mentraktirnya sebelum dia pergi ke Bandung. Sampai kami di sebuah kedai es krim. Dia memesan es krim rasa stroberi. “Lo tau nggak, kenapa gue pilih rasa stroberi?”

Aku menggeleng.

“Karena warnanya merah,” jawabnya. Kemudian dia menjelaskan, “Ya, meskipun es krim ini warna merah muda, sih.” Lalu dia mengeluarkan buku tulis bergambar pemain sepak bola Rusia. “Soalnya, merah warna kesukaan gue. Dan warna jersey Rusia juga merah.”
“Oke, gue paham. Sebenarnya, warna jersey Rusia itu merah marun.”
“Yang penting merah."

Aku ikut-ikutan memesan es krim rasa stroberi. Seumur hidupku baru kali ini mencicipi es krim rasa stroberi. Dulu, ibu tidak pernah membelikan aku. Sekarang, aku merasakannya. Kesan pertama dariku tentang es krim rasa stroberi ini: hambar. Mungkin, manisnya telah hilang tertutup kekecewaan penolakan.

***

Setahun setelah lulus SMA, Martha dikabarkan berpacaran dengan Jordi, ketua OSIS dulu. Ucapannya dulu saat menolakku terasa tidak punya arti lagi. Dasar pembohong.

Dua tahun kemudian, secara mengejutkan Martha meninggal. Kabar ini kudengar dari teman kuliah yang dulu satu sekolah di SMA. Martha gantung diri di tempat tinggalnya karena frustrasi, tidak sanggup mengikuti mata kuliah yang ada di jurusan Sastra Rusia. Hidupnya merasa berantakan setelah sering keluar malam lalu pola belajar yang kacau, dan banyak meninggalkan tugas, begitulah yang tertulis di sebuah kertas yang ditemukan tidak jauh dari tempat Martha menggantungkan diri.

Begitu tau kabar tersebut, aku tidak mengerti harus bersikap apa. Sangat disayangkan teman dekatku semasa SMA telah meninggal dengan cara yang tragis.

***

Besok adalah 7 tahun kematian dia. Aku sengaja pulang dari sawah lebih cepat karena ingin mempersiapkan mental untuk besok.

Aku mengirimkan doa, lalu menabur bunga di atas makamnya. Ini kali pertama aku mengunjungi makamnya. Setelah berziarah, aku pergi ke mal untuk membeli buku baru. Di sana masih ada kedai es krim tempat aku mentraktir Martha tujuh tahun yang lalu. Pegawainya pun masih sama, tapi kini wajahnya terlihat lebih matang dengan berewok yang menutupi pipi belakangnya.

“Mas, rasa coklat satu,” kataku ke sang pegawai.

Mencari rasa baru yang tidak hambar, setelah cinta tak terbalas kurang lebih 10 tahun.


33 komentar:

  1. Yakwa... rekayasa ubi dengan singkong... xD

    Itu anak yg suka warna merah pasti saudaranya yang dulu tampil di global, yang ditanya kenapa suka spongebob, dan dijawab "Karena spongebob warna kuning, saya suka warna kuning." hihihihi

    Jadi... ini aku mesti ikutan sedih karna meninggal, atau ngesyukurin karena kebohongannya? xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku suka ubi, tapi selama ini ukurannya lebih kecil dari singkong. Hehehe.

      Anjaaay, itu anak gak jelas alasannya. :))

      Delete
  2. Kesiyan si martha, sastra rusia itu kerem loh~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. головокружение <- keren hurufnya~

      Delete
  3. Efek Haruki Murakami banget ini gaya tulisannya.

    Wadaw Sastra Rusia bisa bikin orang depresi? Gue dijejelin Akuntansi juga bisa depresi, Rob. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi~ Eksperimen dengan gayanya. :))

      Yeeeh, gue juga itu mah. Persamaan dasar akuntansi bikin njlimet.

      Delete
  4. Rob, gue selalu ingin tumbuh bersama teman-teman gue. Ilmu gue mungkin ngga banyak, tapi bisa lah dibagi-bagi.

    Ceritanya seharusnya jangan dibuat lompat, dari hidup langsung ngebuat pembaca tertekan oleh kematian Martha. Lalu, kata ganti orangnya juga rada aneh, narasinya pakainya 'Aku', dialognya pakainya 'Gue'. Satu lagi, masih banjir typo. Selebihnya sih ceritanya menarik, baru. bdw, gue belum baca apapun dari Murakami. Jadi, mungkin cerpen inilah perwakilannya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Rahul Fernandez untuk kritik dan sarannya. :)

      (Ini apaan dah nama orang diganti-ganti?)

      Delete
    2. Menurutku bagus, sih. Aku kasih bintang berapa ya...

      4.9 bintang deh

      Delete
  5. Sial. Robby kalau bikin cerpen, bagus deh. Semacam dewasa sebelum waktunya gitu. Hehehe. Bukan karena mesum sih, tapi apa ya, lebih ke patah hatinya. Kayak bener-bener patah hati karena cinta nggak berbalas bertahun-tahun :')

    Martha ini deskripsinya memang ngegemesin sik. Pipinya bulat dan kacamataan. Uuuh. Btw, aku jadi makin penasaran sama Haruki. Baru tergerak nonton film yang diangkat dari novelnya aja. Judulnya Norwegiaan Wood. Huhuhu. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal takut bila nantinya ngerasain masalah-masalah dewasa. Kayak benerin lampu di rumah.

      Coba baca deh yang Norwegian Wood. Aku pun udah baca, nonton, bahkan dengar lagunya dengan judul yang sama. Hehehe, itu lagunya The Beattles.

      Delete
    2. Setuju sama Icha di bagian dewasa sebelum waktunya :))

      Bagus Rob, seriusisasi

      Delete
  6. Semoga hanya cerpen belaka rob....
    jangan sampai kejadian sama hidupmu yang udah berantakan ini...
    hahahhaaa.....

    menyentuh kalbu rob... ASELI!!!
    Jadi inget sama mantan gue nih rob :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidupku kayak kata yang berserakan di depan gubuk. :(

      Laaaah. :(

      Delete
  7. Rekayasa ubi dan singkong... *mikir keras*
    Robby aku suka cerita fiksinya!!! Tapi btw aku beneran sulit menemukan sawah di Jakarta. Bisa bilang ke aku di mana sawah yang ada di Jakarta? :'D *lah*
    Kadang ambisi yang "berlebihan" bikin kita jatuh, kayak Martha. Itu si cowok namanya siapa, Rob? Zi-zi? Zi-zi kan bawaannya tenang nggak keliatan berambisi banget kayak doi. Lah, Riska sok tau. Yang bikin ceritanya kan bukan aku ya :(((
    .
    "Mencari rasa baru yang tidak hambar, setelah cinta tak terbalas kurang lebih 10 tahun." Shitttt aku ikut tertampar!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu biar puas makan ubinya. Hehehe. Beneran ada kok. Coba ke pelosok Jakarta. Masih ada. Di daerah Kamal, dekat perbatasan dengan Tangerang.

      Hahaha, kalo ambisi SBMPTN gimana dong? Kadang ngebet banget. :'D

      Delete
  8. Makanya ambil sastra Indonesia aja kek gue. Lah. Hahaha.
    Iya sih bener, agak-agak mirip Murakami dicampur teenlit. Tulisannya juga udah cukup rapi. Good-lah :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, bahasanya gak usah susah-susah lagi ngartiinnya. Hehehe, btw, makasih, kakak Tiwi!

      Delete
  9. Makanya ambil sastra Indonesia aja kek gue. Lah. Hahaha.
    Iya sih bener, agak-agak mirip Murakami dicampur teenlit. Tulisannya juga udah cukup rapi. Good-lah :3

    ReplyDelete
  10. Kok gue ngeri sendiri baca ada hujan katak -_-

    Aduuuh. Bunuh diri karena nggak sanggup ngikutin jalannya perkuliahan :( Jangan sampe deh gue sesetres ituuu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngebayangin gerimisnya gimana. Yang turun bukan air, tapi kecebong. :(

      Aku juga takut kalo sampe segitunya. Hidup masih panjang.

      Delete
  11. Rob coba dah tanyain ke martha
    Kalo aku sayang mamah papah nenek kakek omah opah eyank uyut buyut dll
    Tapi engga jafi deh
    Marthanya uda engga ada
    .
    Tapi udah lu umumin sama warga laennya buat ngelayat?
    .
    Itu sayang itu kataknya pada mati
    Coba dah digoreng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak sekelas sama Martha. Jadi susah ketemu. :(

      Lu yang makan ya, bang? Katak goreng balado.

      Delete
  12. berdasarkan pengalaman baca..

    Paragraf ketiga nge hook banget, kayaknya bagus kalau dijadiin paragraf pertama.. soalnya jadi bikin gw bertanya tanya, dan melanjutkan membaca

    ReplyDelete
  13. Untung hujan nya ngak sampai 5 jam, kalo lama gitunanti banjir lho hahaha

    ReplyDelete
  14. tragis yaa..hihikss..minumnya jangan bir dong ;p

    ReplyDelete
  15. Ceritanya keren kakak. Terutama tidak adanya banyak karakter untuk sebuah cerpen, sehingga pembaca bisa langsung fokus dengan karakter utama. Cuma sayangnya, kenapa terkesan terburu-buru? Itu saja sih.
    Thanks.

    Selalu berkarya ya Kak!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin terburu-buru mengejar deadline. :)) Btw, makasih ya udah baca cerpenku. :)

      Delete
  16. Martha yang dasar pembohong itu, adalah Martha yang menolak secara halus.... :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.