04 September 2016

3 Hal Berwarna di Minggu Terakhir Agustus 2016

Dalam seminggu terakhir bulan Agustus sampai tanggal 2 September, setidaknya ada 3 hal yang bagi gue cukup berwarna. Ini bukan tentang sidang kopi sianida yang nggak ada habisnya, virus zika, atau masalah lainnya. Seperti biasa, ini berdasarkan kejadian sehari-hari. Di antaranya:

1.
Sudah jadi kebiasaan gue bila sudah berseragam olahraga akan mengalami perubahan perilaku. Beberapa orang nggak sadar, tapi gue sepenuhnya sadar: gue pecicilan waktu pelajaran olahraga.
Dulu, waktu kelas 10, gue pernah salah jatuh waktu main voli. Bukan karena selesai men-smash atau terkilir, melainkan karena salto. Ceritanya pernah gue tulis di sini.  

Kelas 12 kembali berulah di pelajaran bola voli. Dan gue yakin, ini karena pengaruh angka 30.

Kejadiannya tanggal 30 Agustus. Sudah jadi kebiasaan Pak Tri, guru olahraga gue, menyuruh anak yang bernomor urut sama seperti tanggal hari itu untuk memimpin pemanasan. Nomor urut gue di kelas adalah 30 dan hari itu tanggal 30. Jadilah gue sebagai pemimpin pemanasan.

Gue bingung harus apa.

Singkat kata, gue nggak terlalu berhasil. "Apa motivasi lu melakukan gerakan itu?" tanya teman gue mengkritik gerakan gue yang ngasal. Sejujurnya, gue pernah melihat gerakan itu, entah di mana. Namun, gue belum pernah melihat gerakan itu dilakukan di sekolah. Mungkin mereka belum familiar. Menanggapi pertanyaannya, gue jawab, "Itu tadi senam Kolombia."

Hari itu kami belajar tentang smash. Setelah semua orang mendapat gilirannya, dilakukan permainan yang dimainkan 6 orang dalam satu kelompok. Cara bermainnya, kelompok itu diharuskan mengembalikan bola yang di-passing Pak Tri dari seberang net sendirian. Sebelum mengembalikan, minimal harus ada tiga sentuhan. Pada akhirnya, semua kelompok merasa dibuat cemen oleh Pak Tri--yang cuma sendirian di seberang net.

Kami, yang telah selesai main langsung mengambil bola, bermain bareng tanpa Pak Tri. Tiba-tiba permainan ini diketahui banyak orang. Yang tadinya isinya cuma cowok, datang beberapa cewek ikutan main. Ketika ada bola melambung, gue memukul bola dengan telapak tangan. Gue baru saja mengamalkan pelajaran hari ini, yaitu men-smash. Namun, bola malah melambung tinggi, kemudian... buuuuuuuum. Bola mengenai kepala Pak Tri.

Teman-teman ketawa seolah memojokkan gue, sedangkan gue panik nggak karuan. Takut ditonjok pake bola voli, gue langsung lari, sembunyi di balik pohon.

Setelah kepanikan reda, gue meminta maaf... dari jauh. Minta maaf yang asal-asalan. Cuma bilang, "Maaf ya, Pak. Tadi saya cuma bercanda." Sungguh anak yang tidak beradab. Kemudian, latihan lagi. Bola di-passing teman-teman. Setiap orang bisa memantulkan bola ke arah teman lainnya. Begitu gue memukul kembali, bola mengenai muka Nadien. Dia langsung nutupin mukanya. "Aduuh, alamat bakalan nangis ini mah." Gue panik lagi.

"Robby mainnya anarkis ya. Udah dua orang kena bola. Satu lagi dapet gelas, nih," kata Nadien.

Nggak lama setelah Nadien bilang begitu, gue menendang bola dengan kaki kiri, lalu mengenai Mufi. Astaga! Kena lagi. Gue guling-guling nggak karuan. Heran, apa yang terjadi dengan tangan dan kaki gue sampai bisa mengenai bola ke tiga orang?

Ternyata disuruh mimpin pemanasan, secara tidak sadar, membuat kaki dan tangan jadi sensi. Maunya gebok orang terus.


2.
Kadang over pede bisa berakhir buruk. Gue cukup percaya diri dapat mengerti materi ulangan Fisika. Sehingga, begitu berhadapan dengan 5 soal uraian... mampus! Apaan, nih?! Semua rumus yang pernah gue terima tiba-tiba hilang. Muncul pertanyaan sederhana: Ini soal enaknya diapain?

Akhirnya dengan memanfaatkan sisa-sisa ingatan rumus gue ngisi soal dengan terpaksa. Untungnya ini soal uraian, yang bisa diisi seenaknya. Namun, ada sisi kelemahan ketika mengerjakan soal uraian atau essay tipe eksak, yaitu nggak bisa diisi bebas dengan opini sotoy. Kalau PPKN atau Sejarah masih enak. Kalau Fisika, Kimia, atau Matematika, nggak akan bisa dijawab pake jawaban "Apa gunanya ilmuwan bila tidak mau menghitung soal-soal ini? Coba Bapak berikan soal ini ke mereka".
Selesai ulangan, Rohim berbisik ke gue, "Gue nggak yakin dapat nilai di ulangan ini. Kayaknya nol deh."
Gue mencerna kalimat Rohim. "Iya, gue juga."
 
Seminggu kemudian, lembar jawaban dikoreksi. Gue nggak mengharapkan sesuatu yang bagus. Gue cuma pengin guru gue nggak keabisan kesabaran pas liat nilai anaknya yang menakjubkan. Sangat-sangat hopeless.

Lembar jawaban yang telah dinilai diberikan. Nggak butuh waktu lama buat nama gue dipanggil. Melihat kertas jawaban, di kiri atasnya tertulis nilai bertinta merah.

Nilai gue pas KKM.

Tapi dibagi 5.

KKM Fisika adalah 75.

75 dibagi 5 = 15.

Nilai ulangan Fisika < umur.

MALU WOY!

Pasti nilainya karena hasil upah nulis. Untung sempat nulis jawaban (meskipun jawabannya ngaco). Untuk pihak terkait: Mama, Bapak, Pak Guru, Einstein, Lorentz, Awkarin maafkan saya.

3.
Salah satu keinginan gue di umur 17 tahun adalah pengin punya rekening sendiri. Kebetulan, organisasi yang gue ikuti menyarankan untuk memiliki rekening segera. Alasan lain gue pengin punya rekening adalah biar kalau sewaktu-waktu gue mendapat penghasilan lewat blog bisa pake rekening sendiri. Ini yang jadi masalah saat gue dapat tawaran lalu gue tolak.

Ciye, nolak tawaran. Bukannya sombong kok, karena nggak punya rekening aja. Mau pinjam rekening orang tua nggak dibolehin.

Atas dasar itu, Jumat kemarin gue pergi ke bank. Kebetulan, setelah salat Jumat nggak ada lagi proses KBM. Hanya ada kegiatan Pramuka. Awalnya agak bimbang, mau langsung ke bank atau ikut Pramuka. Tapi mengingat lebih cepat lebih baik, gue harus ke bank

Sudah jadi jadwal rutin setiap Jumat kelas 12 ada kegiatan Pramuka setelah selesai salat Jumat. Pramuka adalah kegiatan wajib di setiap sekolah. Nggak ikut Pramuka = kena poin. 

Keluar dari masjid, gue melakukan survei kepada anak-anak kelas 12 yang gue temui. Gue mengajukan pertanyaan: "Lu ikut pramuka nggak?" Sebenarnya buat nyari teman bolos aja. Sialnya, kebanyakan jawab ikut Pramuka. Kalau gue ketauan bolos, gue siap ke ruang BK sendirian.

Gue cuek-cuek aja jalan menuju pintu gerbang depan sekolah. Udah dekat pos satpam, ada yang memanggil gue. "Robby! Robby! Jangan kabur Pramuka! Ada Pramuka hari ini." Sialan. Siapa sih yang manggil? Gue tetap cuek. Namun suara itu makin kencang. Gue berbalik ke belakang, ternyata orang itu adalah Ipul dan Pak Roy, guru kesiswaan.

Ipul adalah teman gue juga di organisasi yang gue maksud di atas. Gue lagi mau buat rekening, eh dijegal sama anak ini. Hmmm, orang-orang kayak gini enaknya dimusuhin dari pergaulan, sih.

"Pak, saya mau buat rekening. Saya izin Pramuka," mohon gue ke Pak Roy.
Ipul tiba-tiba nyamber. "Wuih, kuylah buat rekening."
Gue memberi isyarat wajah seakan berkata, "Taik lo! Cukup tau aja. Dasar cepu (kalau kata cabe-cabean). Kompor. Lelaki kardus."
"Jangan bohong kamu, Robby," kata Pak Roy. "Kan, kalo mau buat rekening harus pake KTP, mana KTP kamu?"
Sekarang gue merasa seperti lagi ditilang. Dicek kelengkapan surat.
"Terus, harus bawa duit juga. Emang bawa duit?"
"Bawa, Pak." Gue membuka tas, menunjukkan isi dompet. Ada 200 ribu lebih.
"Oh ya udah. Nanti Senin, Bapak mau lihat rekening kamu."
"Iya, Pak. Santai aja." Gue cium tangan ke Pak Roy dan bilang makasih.


Sampailah gue ke bank. Di sini nggak terlalu ramai. Prosesnya baik-baik aja. Kendalanya hanya gue merasa lebih tegang. Menghadapi mbak-mbak teller bikin gue deg-degan, melebihi deg-degannya sebelahan sama orang yang disukai pas upacara.

Nggak disangka, mbak-mbaknya cukup asyik. Dia ngasih beberapa pertanyaan. Misalnya, "Sekolah di mana, Mas?", "Sekarang kelas berapa?", dan "SMA Negeri 33 (sekolah gue) itu di mana, ya?". Heran, katanya sekolah favorit, tapi masih aja ada yang nggak tau. Dan herannya lagi, kok gue dipanggil "mas", sih? Gue yakin dia lebih tua dari gue, harusnya panggil "Dek". Oke, Robby banyak mau.

Begitu selesai, gue menunggu proses selanjutnya, yaitu pencetakan tabungan. Nggak terlalu lama nama gue dipanggil. "Tabungan baru atas nama Bapak Robby Haryanto," kata seseorang dari balik meja.

"Itu, gue yang dipanggil?" tanya gue dalam hati, heran.

Gue menghampiri sumber suara. "Atas nama Bapak Robby Haryanto. Betul?"
"Iya," ucap gue pasrah. Bisa-bisanya dia manggil gue "Bapak" untuk yang kedua kalinya. Padahal gue masih berseragam sekolah.


---

Kayaknya gue nggak bisa lepas dari nulis tentang kegiatan sehari-hari deh. Ya, mau diapain lagi, emang nyamannya di situ kali ya. Hehehe. Maaf kepanjangan jadinya.

14 comments:

  1. ko bisa ya absen, tgl yg sama jadi pemimpin pemansan :D
    btw, gpp biar terlihat semua orang.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu sesuka guru olahragaku hehehe.

      Tapi malunya itu. :(

      Delete
  2. guru olahragamu namanya Pak Tri ya, hmmm guru olahraga SMA ku namanya juga Pak Tri, guru olahraga SMP ku namanya juga Tri tapi perempuan, jadi Bu Tri.

    Hmmm mungkinkah ini sebuah konspirasi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan aja kali ya. :D

      Walikota Surabaya juga Tri. Ibu Tri Risma Today.

      Delete
  3. Ternyata 3 hal ini lumayan membuat lo kelihatan sibuk banget, ya Rob. :D Yang pertama itu lo beneran ya, sampe disuruh jadi Instruktur senam. Apa jadinya Rob? Malu gak? Gue sih, pernah. Tapi satu kelas di depan. Jadi, gak terlalu kelihatan. :D

    Kedua, itu kamfret, sih. Udah sok-sokan, tapi malah... :D

    Yg ketiga gue ngerasa lo emang udah terlalu tua untuk Usia lo Rob. Maaf, bohong dosa. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((Kelihatan sibuk)))

      Sibuk apaan. Tiap malem ngetwit mulu begitu. Hahaha. Seru dong! Semua yang baca ini mesti coba~

      Delete
  4. Bahahaha Mas Robby! Segala minta maaf sama Awkarin. Minta maaf aja lah lagi sama tiga orang yang udah kamu anarkisin. Sebagai manusia yang beradab, Bapak Robby Haryanto lebih berhati-hati ya dalam pelajaran olahraga. Semangat, Pak. Hahaha.

    Waduh. Sayang banget nolak tawaran karena belom buka rekening. Untungnya sekarang udah ya, Rob. Hmm... berapa semalam?

    *itu komen apa dah*

    *kabur aja ah naik buraq*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangatku seperti Kojiro Hyuga! Membara seperti lidah api tugu monas. Gebok bola sampai tiga orang. Muahaha.

      Semalam? 1,5 juta, tapi sekalian beasiswa kuliah di Oxford ya.

      Delete
  5. Sebentar, kamu ngapaen minta maaf sama Awkarin hahaha ya Allah :))

    ReplyDelete
  6. Kadang overpede bisa berakhir buruk, iya juga sih.

    Untungnya, gue ngga pernah jadi pemimpin pemanasan olahraga. Ngga cocok. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga nggak pernah, lho (seharusnya). Ini karena disuruh aja. :(

      Delete
  7. Wahahaa, Itu jgn2 seragam olahraga itu semacam baju power rangers gtu yah? Lu jd punya kekuatan tak trduga klo pake baju olahraga. Dahsyat bgt tgn kakinya klo kena bola malah ngenain org mulu mulu. Ajaib! Itu klo gue yg jd guru yg kena gebok bola, gue suruh lu remed seumur idup, Rob! :'D Bhahaha.

    Jahaha, nilai lu cakep amat robb.... pas kkm dibagi 5 :'D Iya, mstinya lu berguru dlu sama awkarin biar nilai lu ketularan cakep2. Hahaha,

    Ciyeeh yg sudah jd bapak2. Udh pnya rekening buat menafkahi anak istrinya. (INI APAAH??)

    Lah emgnya knp rob klo nulis keseharian? Gapapa kali, ttep pada gaya pnulisan lu biasanya aja. Biarpun keseharian lu, tp lu ngebawainnya ttep asik dan kocak kok. Seru :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buseeet. Mengabdi pada kertas ulangan itu perih, Jenderal! Hahaha, gak tau juga tuh. Jahil banget tangan gue. :(

      Biar cakep kertasnya di-make up-in. Sip.

      Oke. Hehhee. Mau keluar dari zona nyaman sebenernya~

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.