Bicara Soal Kenaikan Harga Rokok

Gue bukan seorang perokok. Kalau ditanya pernah atau belum, gue pernah merokok. Pastinya gue menyesal. Tapi kalau diingat lagi kejadian saat itu, gue pasti ketawa-ketawa sendiri.

Ceritanya, gue diem-diem curhat soal pernahnya gue merokok ke seorang teman. Saat itu gue belum mengerti apa enaknya ngerokok. Gue tanya ke teman, “Gue, kan pernah ngerokok, nih. Kok gue nggak tau enaknya di mana, ya?” Dia bilang, “Di filternya itu enak. Manis. Terus kalo asapnya masuk ke tenggorokan rasanya enak. Begitu caranya ngerokok.”
Gue cuma manggut-manggut.

Oh, begitu ternyata. Pantes gue nggak ketemu enaknya. Cara gue ternyata salah. Yang gue lakukan adalah, mengisap kemudian langsung mengeluarkan. Ya sama aja kayak dukun nyembur pasien. Masuk mulut lansgung dikeluarin lagi.

Ya, kira-kira begitulah masa-masa suram gue. Makanya gue nggak akan jengkel atau heran ngeliat anak kecil ngerokok. Gue cuma bisa berharap anak itu cepat disadarkan dan kembali ke jalan yang benar. Konsumsi mereka yang seharusnya adalah choki-choki, bukan rokok.

By the way, karena rokok, ada anak di bawah umur bisa terkenal. Mungkin karena industri musik anak-anak susah ditembus, anak ini menembus pasar yang lebih luas dengan merokok (dan melaporkan guru ke polisi).

Mulut asem, ye, om~

Hehehehe, maap.

Belakangan ini sedang marak berita tentang kenaikan harga rokok. Sebagai minoritas, para perokok dan orang-orang yang terlibat di dalamnya nggak setuju. Dalam hal ini, gue mengambil sikap untuk menyetujui kenaikan harga rokok.

Alasannya banyak.

Paling nggak, semakin mahal rokok, (semoga) semakin sedikit rokok yang beredar karena daya beli masyarakat yang rendah. Nggak, ini nggak bermaksud bilang “KALIAN MISKIN!”. Gue sudah cukup muak dengan asap. Di angkot, di rumah, di jalan terlalu sumpek sama asap.

Alasan lain gue setuju harga rokok dinaikkan adalah biar bapak gue nggak sering beli rokok lagi. Semoga kepikiran di benak beliau: “Daripada ngabisin 50 ribu buat beli rokok mending duitnya dibeliin martabak ketan. Yang nikmatin sekeluarga.” Uuuuh, semoga aja kejadian.

Tapi sebagian lainnya meragukan harga rokok dinaikkan. “Percuma juga kalo dinaikkan jadi 50 ribu. Masih banyak yang mampu”. Bener juga, sih. Sekarang Liga Inggris udah mulai. Belum lagi nanti Liga Champions. Ladang mendapatkan uang dari taruhan bola semakin terbuka lebar. Kalo ada dua orang taruhan dengan nominal 50 ribu, salah satu di antaranya berhasil beli sebungkus rokok.

Nah lho, sungguh dilematis.

Ya, mari kita doakan saja para pemenang taruhan adalah bukan perokok.

Atau nantinya, rokok akan tetap laku, tapi dibeli dengan asas kekeluargaan (baca: patungan). Hal ini bisa saja terjadi. Secara kesolidan antarlelaki dalam hal merokok itu sangat kuat. (Dibuktikan dari kasus pinjem korek sesama perokok walau nggak saling kenal.)

Kalo gitu, mending naikin aja harganya jadi 1 milyar. Berharap nggak bakal ada yang menang kuis Super Deal atau Who Wants to Be a Millioner.

Kita tunggu aja, apakah 50 ribu cukup menekan jumlah perokok atau masih kurang.

Kemudian, kenaikan harga rokok ini akan mengubah setiap kebiasaan banyak orang. Akan dikhawatirkan bila rokok sudah berkurang, para perokok pasif mengalami semacam shock culture. Biasanya nemuin asap rokok, eh udaranya bersih-bersih aja. Akhirnya bakar ban buat dinikmatin asapnya. Sendirian.

Dalam tradisi di masyarakat, kita dengan mudah menemui rokok di acara tahlilan. Biasanya rokok-rokok ditempatkan di sebuah gelas bening. Lalu, ketika harga rokok dibuat mahal, apakah tuan rumah akan tetap menyediakan rokok di gelas-gelas bening itu? Gue rasa bakal diganti milkita deh. 3 buah milkita setara dengan segelas susu.

Rokok yang kita kenal biasanya dijual dalam dua bentuk: per bungkus dan satuan (atau yang lebih dikenal dengan ketengan). Gue memprediksi, metode penjualan ketengan akan lebih populer dibanding per bungkus. Kalau gue ambil satu contoh, misalnya Surya Pro Mild isinya 16. Harga sebungkusnya 50 ribu. Kalau dibeli satuan berarti Rp50.000,00 dibagi 16 = Rp3.125,00 per buah. Masih termasuk murah, kan? Coba bandingkan dengan harga sebuah Soyjoy.

Pilih rokok ketengan atau ini?

(Sengaja gue ambil contoh Soyjoy buat perbandingan. Kalo dibandingin sama harga nasi uduk, udah jelas orang lebih milih beli nasi uduk. Karena soyjoy nggak ngenyangin, sama kayak rokok.)

Yang paling pasti, untuk beberapa waktu ke depan rokok nggak akan bisa jadi alat kembalian.

Rasanya nggak asik bila gue kabur tanpa memberi solusi bagi para pengusaha rokok. Berikut dua solusi untuk pemilik perusahaan rokok agar bisa terus berproduksi, tapi tetap laku.

1. Beli rokok bonus kuota
Kebutuhan masyarakat akan internet sangatlah besar. Coba bayangkan, ambil contoh sederhana; saya sendiri. Butuh kuota lebih untuk saya online Facebook—sekadar me-like status teman. Apalagi sekarang yang namanya Instagram Stories lagi rame dipake banyak orang. Pastilah kita membutuhkan kuota lebih.

Sayangnya, dengan naiknya harga rokok membuat para perokok menjadi mempertimbangkan apakah uangnya harus dibelikan rokok atau kuota. Tentu sangat membuat dilema para perokok. Harusnya, pebisnis melihat ketakutan ini sebagai peluang usaha. Menginovasikan rokok bonus kuota sangatlah sebanding bila harga rokok dinaikkan. Perokok pun akan lebih tenang.

2. Metode Cicilan
Gue mempelajari ini dari sebuah produk panci dua sisi, atau merk-nya lebih dikenal dengan “senang memanggil”. Terkesan mahal memang, bila melihat harga tunai produk tersebut. Namun, produk itu bisa dibeli dengan mencicil. Lalu begitu presenter mengumumkan "30 menit lagi pemesanan ditutup!" ibu-ibu langsung memesan via telepon. Sebegitu saktinya kekuatan cicilan. Hebat, bukan?

Bila sebagian masyarakat menganggap sebungkus rokok adalah mahal, pengusaha rokok khususnya pemilik warung bisa menerapkan sistem cicilan. Dengan begitu, harga rokok yang mahal akan menjadi terasa ringan.

YEEEE, APA-APAAN. JANGAN DIPAKE LAH CARA GUE. IDE BRILIAN, TUH! NANTI ROKOK TETEP RAME, MAKIN BANYAK ASAP.

Sekarang, gue akan memberi solusi bagi para perokok yang mungkin dengan kenaikan harga rokok akan menghentikan kebiasaannya.

Selanjutnya, saya harus apa?

Beruntung bagi Anda yang membaca tulisan ini. Gue melihat peluang menjadi blogger adalah pilihan yang tepat bagi para perokok untuk menghilangkan hasrat merokoknya.

Jadilah healthy blogger. Dengan mengangkat tema seperti ini, apalagi latar belakang Anda adalah mantan pecandu rokok, dapat menjadikan Anda sebagai blogger yang disegani para perokok. Selain itu, Anda akan menjadi contoh perokok yang dapat bangkit dari kebiasaan hidup yang tidak sehat. Hidup blogger!

Mungkin itulah opini dari gue. Bila ada yang tidak mengenakkan hati, silakan tulis di kolom komentar.

Yang penting, hidup blogger!


38 komentar:

  1. Wah, keren tuh kalau para perokok pada jadi blogger. :D

    ReplyDelete
  2. Berapapun harga rokok, masyarakat akan tetap menyesuaikan. Nggak serta-merta konsumsi rokok jadi berhenti. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah kebutuhan, ya, Mas? Jadinya sulit. Hohoho.

      Delete
  3. Ngomongin prahara ini, jadi keingetan salah satu episode anime Gintama. Karena di Bumi ada larangan ngerokok, si Hijikata sampe ngebela-belain pergi ke planet Namek terus bertarung lawan Freeza supaya bisa dapetin sebatang rokok haha.

    BTW, isu semacam ini mah gak ada bener/salah. Gak bisa dianalisis dari segi 'dampak' atau 'manfaat'. Soalnya kita gak bisa memposisikan diri sebagai pihak netral. Soalnya di setiap komunitas/profesi/pribadi, baik kalangan bawah, menengah, maupun atas, pasti diantara mereka ada yang merokok, ada juga yang gak merokok.

    So, sulit jika dianalisis secara pure dan objektif.

    Ehh perasaan udah lama gak maen kesini deh cees.. Haha apa kabar nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadaaay, filmnya ngocok abis. Andai semua orang kayak begitu, planet Namek laku ya.

      Eh, iya. Kabar baik, cees. Udah lupa nih ya sama blog ini hahaha

      Delete
  4. rokok daging naik juga ga ya? he he he.

    ReplyDelete
  5. sebetulnya menaikkan harga rokok bukan solusi tepat, yang pecandu rokok mau harganya selangit mah dibeli beli aja. kalau tujuannya untuk menggurangi jumlah perokok, cuma satu kok sulisinya. TUTUP PABRIK ROKOK. gak akan ada yang ngerokok lagi karena emang rokoknya udah gak dijual, tapi emang pemerintah berani? mennnnnn, pajak rokok yang menjadi pemasuk pendapatan negara ini luar biasa besarnya. dan lagi kalau pabrik rokok ditutup selamat menjemput para pengangguran yang mencapai ribuan, pertanyaannya kembali ke asal : PEMERINTAH BERANI?



    GAKKKKKKKK MUNGKIN


    berkunjunglah ke ke blog gw yang ini : www.mefriendsandthecity.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. KAGAK! *ceritanya pemerintah ngejawab*

      Nah, begitu masalahnya. Pengangguran banyak yang terlantar setelahnya. Nutup rokok juga bukan solusi deh kayaknya. :))

      Delete
  6. Hahaha solusinya oke juga ya, Rob :") bahahak

    Ya semoga aja naiknya harga rokok beneran bisa bikin perokok jadi dikit.

    Kalo ayah gue sih dulunya perokok berat, bisa abisin banyak batang rokok sehari (denger cerita aja, soalnya dulu gue belom brojol). Nah sejak berhenti, jadinya rokok diganti pake permen. Gituuuhhh.


    Bener tuh beneerrr! Daripada ngerokok mending ngeblog ajaaa! Hidup blogger! Hohoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidup blogger!

      Ih, kepengen lah punya bapak kayak begitu. Bisa ganti rokok dengan permen. Kan enakan permen.

      Delete
  7. kaung akan rame lagi.. ngelinting sendiri lebih jozzzz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar lebih menarik, pake kertas origami diisi teh celup yang udah dijemur. :))

      Delete
  8. Gue paling diam kalo masalah begini. Jadi, yah mengikuti arus aja~

    ReplyDelete
  9. Beli rokok bonus kuota
    ((BONUS KUOTA))

    kalau ini terjadi, gue..
    langsung cari gebetan yang demen ngerokok. biar bonusnya dihibahin ke gue
    Bahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeee, malah nyari kesempatan si Kak Awkarin(a). :D

      Delete
  10. Harga rokok naek itu hoax bro... katanya juga sih....

    ReplyDelete
  11. Iya harga rokok naik 50 ribu cuman hoax Rob, soalnya saya suka merokok hehehe... Tapi usulan metode cicilan itu lucu juga Rob hehehehe... (semoga harga rokok nggak naik) hehehehehehehehehehehehehehe.. maaf kita nggak sependapat Rob... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huuuh, beda pendapat. Hahaha, gapapa. Karena kita berbeda-beda.

      Rokok dua sisi kayaknya unik nih. :))

      Delete
  12. Tapi kata temen gue yang seorang seniman (serius seniman beneran), dia butuh rokok dan kopi untuk membuatnya lebih jernih berpikir dan mendapatkan inspirasi. :/

    Kalo kata Dijeh, di dalam rokok ada kembaliannya 30 rebu. Wqwqwq

    Robby ini boleh juga, pinter bikin tulisan yang lagi rame. :)

    Gue, sih, emang udah dari dulu jadi blogger sehat. Uhuy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmmm, kita mah apa, ngopi dikit puyeng malahan. :(

      Hahaha, sialan emang idenya. Boleh juga. :))

      Nyari perhatian doang sebenernya. Muahaha. *eh* Yoi, dah. CFD aja sepedaan. Sehat banget!

      Delete
  13. Rokok nggak ngerokok tetap saja batuk!
    itu kata teman sekaligus guru gue waktu SMP sob... hahahhaa...

    Terlepas dari benar atau tidaknya nih berita, yg jelas sudah sedikit bikin gaduh di negeri para badut... mbahahhaa....

    Gue mantan smokers sob... aseli, makan lebih enak dari pada ngerokok... mbuehhehee....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeee, lagian minum es mulu. Jadinya batuk lah. :))

      Nah, enakan makan kan. Ngerokok dapet asep daong. Muehehe.

      Delete
  14. Tumben ih tulisannya berat banget bahasannya. Aku mendadak pusing. Rokok gaperlu dinaikin harganya lah. Nanti duit habis buat jajan rokok dan susu buat anak malah nggal kebeli. *lha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yiahahha, alat makeup boleh naik nggak, kak? :p

      Delete
  15. Seharusanya bukan harga rokok yg naik. Naikin aja harga korek. Orng ga bisa ngerokok kalo gada korek. Bisa sih pake gas elpiji. Tapi, ya masa kemana2 bawa tabung gas.....

    Gue baru kesini atau baru tau blog ini yak, salam kenal deh rob, mancabbb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, meleduk nanti. Berat lagian. :')

      Udah pernah kok. Cuma lupa orangnya kali. Salam kenal juga, Ayam Sakit dari Samarinda!

      Delete
  16. Ooh ternyata tekniknya bgitu rob, diisep ke tenggorokan hoho
    Yang ada batuk

    Hmm gue suka soyjoy palagi yg rasa pisang, wangi...tapi muahaall
    E gue jg suka choki choki lo, apa yg warna warni adeknya coki2 si choyo choyo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, makanya itu. Pantes gue nggak batuk karena itu kali ya.

      Soyjoy mahal doang, gak bikin kenyang. :/

      Delete
  17. bodoamat lah harga rokok naik, gue gak ngerokok ini :p
    yang gue takutin sih, harga qwota naik, baru gue panik :((

    ReplyDelete
  18. Bangkeeee..... ujung-ujungnya ke blogger juga. Jadi healthy blogger. Mancap! Blogger blogger blogger lebih dari vlogger BOOM!

    Rob, aku kalau masalah ginian, aku diem kalem aja sih. Nggak ikutan berkomentar setuju apa enggak. Aku juga bukan perokok. Tapi aku setuju sih kamu bandinginnya sama soyjoy. IYA ITU NGGAK NGENYANGIN ANJIR. Mendingan Snickers dah. Huhuhuhu.

    Oh iya, aku nggak ngerokok. Tapi kalau ngerokokin.... boleh lah. Huahahaha. Eh, maaf. Aku lupa kamu masih polos, Rob :((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kata Bang Daus, "Sesuatu banget, sob!"

      Naaah, emang gak ngenyangin kan? Makanan itu gak cocok buat perut kuli macam saya. :'D

      HEEEEH! Sembarangan. Udah punya KTP, nih. :))

      Delete
  19. Hahahaha anak di bawah umur terkenal karena rokok :-(

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.