20 August 2016

Bernostalgia di Hari Kemerdekaan

Sebagai pembukaan, gue mengucapkan Dirgahayu RI ke-71. Semoga Indonesia jaya selalu, pendidikan semakin membaik, dan kesejahteraan segera merata. Aamiin

Kemarin, mungkin akan menjadi upacara kemerdekaan bagi gue yang terakhir di sekolah. Di sekolah gue setelah upacara disambung dengan lomba-lomba. Ralat, maksud gue, lomba-lomba yang hanya bisa diikuti orang tertentu. Yang ikutan cuma orang-orang yang biasa nampang di sekolah, alias terkenal. Orang yang sering tidur di kelas kayak gue mustahil bisa ikut.

Sayangnya, gue baru boleh pulang pukul 10. Menjelang pintu gerbang dibuka, gue bimbang antara pengin ke Gramedia atau langsung pulang. Tapi firasat mengatakan gue harus segera pulang. Selain firasat, uang gue juga lagi nggak mendukung. Di dompet pas banget cuma ada tiga ribu rupiah buat sekali naik angkot. Kalo ditagih bayar lagi, gue harus siap-siap tenaga buat lari sekuat-kuatnya.

Sampai rumah, bapak gue bilang, "Tadi ada Wulan ke sini.”
“Ngapain?” tanya gue penasaran.
“Nggak tau.”

Oke. Ini jawaban yang bagus. Mana ada orang bertamu dengan nggak ada alasan.

Nggak lama kemudian, Wulan chat gue. Katanya di chat, “Ada Mas Nova. Gue otw rumah lu yak.”

Nah, Wulan dan Mas Nova itu salah dua teman gue sewaktu tinggal di mes. Mas Nova lebih dulu pindah ke Malang karena kuliah di sana. Jadi, sewaktu gue denger kabar dia ke sini, gue antusias mau ketemu. Anak kuliahan jarang punya kesempatan gitu, lho.

Sampai di depan rumah gue, keduanya ternyata ngajak main. “Main? Duh, dompet masih mendukung nggak ya?” batin gue.

“Ayo, Bi. Kita main-main ke mana gitu,” ajak Mas Nova.
“Ya udah, mau izin dulu ya.” Gue langsung nyamperin Mama. Dengan mudah, gue mendapat izin (dan uang) dari mama gue. Kita bertiga langsung pergi ke mes sebagai titik temu.

Singkatnya, total 6 orang berkumpul: gue, Mas Nova, Sofyan, Wulan, Mbak Ayu, dan Mbak Ema. Tiga cowok dan tiga cewek. Orang-orang akan mengira kita sedang triple dating.

“Emang mau ke mana?”
“Ke Ragunan.”

Saat itu sudah pukul 1. Keraguan muncul di benak gue. Perjalanan paling cepat ditempuh kira-kira 2 jam. Paling nggak, pukul 3 sore baru sampai Ragunan. Jam segitu hewan-hewan di sana kayaknya udah pada tidur deh. Persiapan ronda.

Ada keunikan harga tiket Transjakarta pada hari ini. Biasanya biaya masuk dikenakan Rp3.500,00. Khusus di hari Kemerdekaan, harga tiket Transjakarta menjadi Rp1.708,00. Artinya, 17 Agustus (bulan 8). Ini kan formatnya hari/bulan. Biar lebih spesial harusnya formatnya jadi bulan/hari.

Sampai di halte Grogol, kami kebingungan: Ke mana rute yang bisa menunjukkan ke arah Ragunan?

Gue, sebagai traveler-wannabe, mengusulkan mengganti tujuan menjadi ke Monas. Selain jaraknya dari sini lebih dekat, juga lebih hemat. Muahahaha. Yang penting, kan, ngumpulnya.

“Di Monas lagi ada rame-rame gitu, sih,” kata gue sambil jalan di halte Grogol.
“Ada apaan emang, Bi?” tanya Mas Nova.
“Tadi liat di Facebook ada yang bilang, ‘Ada apa sih di Monas?’. Nah, berarti, kan lagi rame.”
“Iya, rame apaan?”
“Nggak tau. Namanya juga tempat wisata, ya pasti rame.”
“....”

Sampai di Monas, kita bingung mau ngapain selanjutnya. Namanya juga kumpul mendadak dan nggak direncanakan, jadi ala kadarnya deh. Akhirnya, jalan-jalan sambil ngobrol jadi pengisi kegiatan kita hari ini.

Selain ngobrol, foto adalah wajib hukumnya. Ide ini diusulkan oleh Tim Cewek. Sudah ditakdirkan mereka menjadi yang paling ribet dalam urusan foto. Tim Cowok cuma nurut.

Untuk kali pertama, megang tongsis.
(depan-belakang) gue, Mbak Ayu, Sofyan, Mbak Ema, Mas Nova, Wulan.

(kiri ke kanan)
Sofyan - Mas Nova - Tukang Gelembung Sabun
Tim Cowok. *pamer jakun*
Sambil melanjutkan perjalanan, ide-ide diusulkan. Salah satunya adalah usulan untuk naik ke puncak Monas. Tapi setelah melihat antrean yang sangat panjang, ide itu perlahan dibuang. Sofyan, yang usinya lebih muda di antara kami, nyeletuk. “Ah, ngapain naik ke atas. Yang keliatan dari atas, kan, cuma gedung-gedung doang. Mending liat dari Google Maps. Sama-sama keliatan juga.”

Eh, si Sofyan bener juga. Buat apa ngantre lama-lama.

Sembari foto-foto, gue melihat lelaki berkulit hitam sedang berfoto dengan dua orang. Nampaknya dia turis asing. Muncul sebuah keinginan norak: ngajak dia foto bareng. Gue bilang ke Mas Nova, "Mas, foto sama dia yuk." Gue melirik ke belakang, Mas Nova juga. "Tuh, dia aja foto bareng."
"Ya udah. Tapi lu yang ngomong ya."

Gimana ya? Di pikiran gue tentang bahasa Inggris pasti muncul, “Hei, let’s we f*cking now,” atau “Please, f*cking in the right place.” Yang sedang gue hadapi adalah lelaki, sebisa mungkin kalimat itu nggak keluar. Malu sama Indonesia.

Gue berpikir sejenak. "Oke," ucap gue mantap. "Tapi gimana ngomongnya? Kalo bilang 'I want take some photo with you' gimana?"
"Ya udah gitu. Dia pasti ngerti kok," katanya meyakinkan gue.

Dengan keberanian tinggi, gue samperin dia setelah foto dengan dua orang tadi. Si bule menyalami orang itu, kemudian bilang, "I’m from South Africa."

"Hi, mister," sapa gue pede. Padahal dahi udah banjir keringat. Si bule berbalik arah ke gue. Tatapannya ramah. Nggak seperti bayangan gue akan Didier Drogba: suka marah-marah dan mukanya nggak nyantai.

"Uhmmmm...” gue mencoba menyusun kalimat. Sial, gue nge-blank. Cuma satu kata yang keluar dari mulut gue. “Photo?"

"Ok." Si Bule mengangguk. Kayaknya dia seneng-seneng aja diajak foto sama anak SMA, yang bahkan nilai ulangan Bahasa Inggrisnya seringkali nggak tuntas.

Mas Nova yang menjadi cameraman bersiap mengambil gambar. Kita berlima plus Si Bule menjadi objek. "Yang mana kameranya?" tanya Si Bule dalam bahasa Inggris.

"His camera," gue menunjuk ke Mas Nova. Maklumin kalo gue salah pake bahasanya.
"Coba dong, ganti posisinya,” kata Mas Nova ke kami. “Ngebelakangin Monas."
Gue menyadari kalau gambarnya diambil nggak akan keren karena di belakangnya nggak ada Monas.

"Mister... uhmmmm..."
"Yes?"

Saat ini gue harus memberi tahu apa yang harus dilakukannya, yaitu memutar posisi membelakangi Monas. Dan kenyataannya, gue nggak tau harus ngomong apa. "Uhhhhhh, can you...”
“....” Si Bule ngeliat gue kebingungan.
“Can you,” gue sambil mengarahkan dengan kedua tangan masih mencari kata yang tepat. “... can you... ke sono."

Semuanya ketawa. Sialan, gue malu sendiri. Gue baru aja mengeluarkan kata yang, bahkan, di kamus pun nggak ada. Ke sono, bahasa sehari-hari yang nggak pantas diucap saat bertemu turis luar mancanegara. Pejuang masa lalu nampaknya kecewa bila mendengar ini. 12 tahun belajar bahasa Inggris, ilmu yang baru gue aplikasikan ngucap ke sono. Oke. Ini awal yang memalukan.

Beda tipis lah gue sama Si Bule
Hadiah memalukan diri sendiri
Selanjutnya, secara ajaib Tim Cewek misah. Setelah dicari sama Mas Nova, mereka lagi makan. Dasar cewek-cewek tidak berprinsipil! Sebagai penebusan dosa, mereka membelikan minuman buat Tim Cowok. Es berwarna oranye. Seperti semestinya orang-orang yang suka menganalisis, gue sok-sok meneliti es yang berada di genggaman. "Ini asam sitrat. Ini pasti sirup ABC rasa jeruk dituang 3 gelas takaran."
Mas Nova melepas sedotan dari mulut. "Apaan, sih, Bi. Ini, kan, nutrisari."

Sip. Sotoyku membawa malu.

Tim Cowok dan Tim Cewek misah lagi. Tim Cewek karena lagi nggak salat, mereka milih nonton acara Penurunan Bendera lewat giant screen yang dipasang di area sekitar Monas. Sedangkan Tim Cowok menuju Istiqlal untuk salat Asar dan makan mi ayam.

Karena tanggung menuju waktu Magrib, kami (Tim Cowok) tetap berada di Istiqlal. Kita bertiga nyantai di latar Istiqlal yang luas. Menjelang azan, Sofyan ke kamar mandi, lalu kembali dengan membawa kabar. "Bi, bule yang tadi ketemu ada lagi." Gue langsung penasaran. Cepet-cepet ngambil wudu, kebetulan azan telah berkumandang. Bedanya dia pake sarung. Gue salat sunnah qobliyah di sebelah Si Bule. Pengin negur, cuma takut salah ucap lagi. Saat salat Magrib berjamaah kita nggak sebelahan. Kemudian, gue baru nyesel tentang sesuatu: gue lupa nanya nama dia.

Jadilah dia, Lelaki Tanpa Nama.

Intinya, kegiatan kita kumpul ini bener-bener nggak jelas tujuannya. Tapi ada tujuan tersirat, yaitu tetep bisa ngobrol dan tatap muka. Saking serunya ngobrol sampe ngomongin ke topik-topik remeh. Misalnya, ngomongin air Kali Ciliwung yang dikonsumsi.

“Itu, kan, air keruh banget. Mesti disaring, dimasukin ke pasir, segala macam,” kata Mas Nova.
“Iya. Sama kayak cewek jelek mau upload foto. Mesti difilter berkali-kali biar cakep,” ucap gue enteng.

Sekarang mes udah ditinggal kita semua. Belum tentu setahun-dua tahun lagi kita bisa ketemu. Untuk mengenang sejenak, kami nggak langsung pulang ke rumah masing-masing. Kami ngobrol-ngobrol seru di mes sampai pukul 9 malam sambil ngabisin snack yang dibawa ke Monas tadi. Mengenang kembali. Menengok ke beberapa tahun lalu, saat masih kecil.

“Biasanya jam segini masih main, mama gue bakal nyamperin, nih,” kata gue, kemudian menirukan bicara mama gue. “Eh, kirain lagi ngapain. Pulang yuk, besok, kan, sekolah.”

Ah, selalu seru bila ketemu teman-teman masa kecil. Banyak banget yang mau diceritain. Sebagai penutup, gue akan memberikan sebuah foto mencengangkan.


#UpinGantiPartner #UpinUdahPuber

Terakhir, terima kasih telah membaca kegiatan gue. Semoga kalian nggak lupa sama teman masa kecil kalian.

8 comments:

  1. bulenya paham bener.. cuma "hi mister" dah ngerti.. jng2 dia deddy cobuzer bisa baca pikiran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ye kali. Harusnya dia ngajakin diet. :D

      Delete
  2. ANJIIIIR..... kocak banget dah ini. Hahahaha. Ada bonus foto Upin ena sama Masha segala. Itu Wulan bukan Rahayu Wulandari blogger cantik idaman fak pencitraan nakal tapi sopan kan, Rob?

    Yang paling bikin ngakak itu yang pas sama bule. Huahahaha. Itu bule kalau dilihat-lihat mirip Abbas yang di NET TV yak. :D

    Jalan-jalan dadakan menurutku memang lebih seru sih. Walaupun tujuan jalannya nggak sejelas jalan yang direncanakan, tapi sensasi yang didapatin nggak terduga gitu. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. BUKAN DIA. Kan Wulan yang itu tidak menyukai udara panas Jakarta. Hahaha, sotoy amat ini.

      Kenapa setiap kali ngeliat bule kulit hitam dibilang mirip Abbas? Aduuuh, kayaknya gue iteman dikit dibilang mirip semir sepatu nih. :')

      IYA! Itu seru. Dan juga ke bioskop sendirian. Wohooo!

      Delete
  3. Pertama-tama terimakasih telah membuatku dengki wahai anak muda. betapa inginnya aku bertemu dengan teman-teman sepermainan dimana ada dia selalu ada akuu..
    dia amat maniss..

    kenapa gue jadi nyanyi.
    btw, makasih lho sudah membuat saya baper lagi mikirin Ya Allah, temen main gue dulu pada dimana sih?
    Jadi itu beneran tiket TJ jadi Rp1.708,00?? tau gitu kaaan aku mau jalan-jalan putar-putar Jakarta hari ituuuh :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok jadi inget lagunya Ratu. "Aku punya teman. Teman sepermainan. Ahhh... ahhh... ahhhh." Ah, sudahlah. :'D

      Tetep aja kenanya dua ribu. Tapi kapan lagi keliling Jakarta dua ribu. Padahal buat naik angkot aja pasti ditagih lagi tuh. :D

      Delete
  4. Buwakakakakakaka, can we ke sono?! Good damn it. Untung loe gak digeret ke puncak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puncak Monas? Untung ngantre dong. Hahahaha.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.