Mudik Story: Ke Pemalang, Nasibku Malang

thumbnail-cadangan
- Melanjutkan dari post sebelumnya -

Baca juga: Mudik Story: Bahasa Masalah Segalanya

Benar aja, firasat gue nggak salah. Minum kopi bikin gue nggak bisa tidur. Terpaksa bergadang sambil nonton semifinal Euro antara Perancis versus Jerman. Subuhnya baru bisa tidur.

Bangun sekitar pukul 10 dengan keadaan pilek. Ini pasti ada hubungannya dengan fanta dingin yang gue minum semalam. Ah, sial. Niat gue untuk pulang kampung salah satunya adalah dengan mengembalikan pola tidur. Nyatanya, nggak berhasil, malah jadi lebih parah. Jadi pengen buru-buru ke Jakarta.

Mama gue merasa ada yang nggak beres pada diri gue; bersin-bersin dan suara bindeng. Dia mulai khawatir. "Sakit kenapa, sih?"

Gue nggak akan mungkin bilang sakit karena suguhan tuan rumah semalam. "Nggak tau, Ma. Kangen Jakarta kayaknya."

Sejujurnya, gue emang kangen. Dan ini nggak bisa ditolak, persis waktu gue disuguhin kopi dan fanta dingin semalam.

"Besoklah pulangnya," kata mama gue singkat. Gue tau mama masih betah di sini.

Akhirnya, gue meninggalkan kampung. Namun sebelum ke Jakarta, gue dan keluarga besar menghadiri acara pernikahan sepupu gue di Pemalang, Jawa Tengah. Di luar dugaan, perjalanan lebih lama karena macet.

Dalam perjalanan gue duduk di depan bersama adik dari bapak gue. Gue berada di tengah-tengahnya dan sopir. Saat macet, sopir memacu mobil dengan kecepatan sekitar 10 km/jam, begitu yang gue liat di speedometer. Entah ngantuk atau gimana, si sopir meleng, dan hampir nabrak. Sebagai orang yang duduk di depan, gue panik. Ngebayangin adegan-adegan di sinetron, setiap kali nabrak yang duduk di depan kepalanya berdarah-darah. Begitu mobil semaki mendekat, gue makin takut. Secara refleks, gue menginjak sendal sangat kuat sambil mata melotot. "LHO, LHO, REM! Injek remnya, Pir!" teriak gue dalam hati. Beruntung sopir segera sadar dan ngerem. Selamat.

Perjalanan hampir 12 jam. Dan selama itu gue nggak bisa tidur. Mata melek ngeliatin jalan terus. Kepala nahan sakit karena jok mobil nggak ada senderan kepala. Sebenernya ada, tapi udah dipake buat adik bapak gue. Sebagai lelaki budiman, gue ngalah.

Ternyata nahan kepala tegak selama hampir 12 jam pegel juga. Udah gitu, rasanya ngantuk berat. Pas orang-orang pada istirahat makan, gue baca buku di dalem mobil. Emang dodol deh, bukannya nge-rileks-in kepala. Sampai di Pemalang, sekitar pukul 10 pagi, gue merasa dibebaskan dari pasung. Begitu disuguhin segelas teh, gue langsung habisin. Soto tauco yang masih panas nggak gue sisain. Walau kata orang-orang pedes, gue nggak ngerasain lagi rasa pedes. Rasanya udah ketutup sama rasa lapar.

Tuan rumah, adik bapak gue yang lain, menunjukkan tempat istirahat kami. Berhubung kami ini datang rombongan, dia udah nyediain satu rumah yang disewa. Hal yang gue cari di rumah ini adalah: tempat tidur. Gue pikir, bisa tidur sekalian nge-charge handphone, mumpung acara akad nikahnya nanti pukul 1 siang. Untuk pulang ke Jakarta, sang tuan rumah minta ke bapak gue untuk pulang besok pagi.

Gue sangat bersyukur bisa tidur. Gue terbangun sendiri dalam kondisi rumah udah sepi. Ke mana mereka semua, batin gue. Gue tengok jam di handphone, pukul 1.30. Masih ada setengah jam lagi, kok udah sepi. Niatnya, gue mau keluar ngeliat kondisi di luar rumah, tapi yang gue temui... pintu udah dikunci. Gue panik. Jangan-jangan gue ditinggal. Apakah ini rencana keluarga besar buat menyesatkan gue? Hmmm, harusnya gue udah menduga sejak perjalanan. Oke, ini udah kejauhan dugaannya. Nggak baik suuzon ke satu keluarga besar.

Firasat gue bilang, acara udah dimulai. Kenapa gue nggak dibangunin? Gue ikut ke sini mau liat acara akad nikah, bukan buat numpang tidur. Aduh, gimana, sih? Padahal tadi tidur gue nggak nyenyak amat. Gue inget ada nenek-nenek minta tolong buat angkatin telepon, terus tidur lagi.

Ah, gue semakin kesal. Jauh-jauh ikut ke Pemalang nggak ikut acaranya... malah keenakan tidur siang. Rencana foto seragaman batik antara gue, bapak, dan kakek pupus sudah.

Begitu ketemu mama dan bapak gue, gue langsung ngambek. “Parah, nih, nggak bangunin,” kata gue ke mama. Dengan begitu gue bisa mengungkapkan kekecewaan ini pada orang tua. Biar mereka yang merasa bersalah.

“Ih, orang udah dibangunin juga. Tiga kali malah,” kata Mama membela diri.

“Tapi, kan, saya ke sini mau ikut acaranya, bukan buat tidur siang.”

“Beneran. Tadi Mama udah bangunin. Yang pertama, mama bangunin Robby buat mandi. Robby bilang, ‘Nggak mau.’ Yang kedua, ‘Robby mau makan nggak?’ Ketiga kalinya, ‘Beneran nggak mau ikut?’ jawabnya, ‘Nggak.’”

Gue diem, lalu cemberut. Gue nggak pernah bertingkah sebocah ini. “Robby nggak merasa jawab begitu.”

Mama melembutkan nada bicaranya. “Lagian, Mama nggak maksa juga. Semalem, kan, Robby nggak tidur. Kasian kalo nanti ikut tapi ngantuk. Ya udah, dibiarin tidur."

Penjelasan yang menampar. Gue salah menduga. Ternyata ada alasan lain di balik kejadian sesungguhnya. Dan, ternyata... semua pertanyaan yang Mama tanyakan, dijawab oleh ketidak sadaran gue. Ajaib, kayak dihipnotis.

“Ya udah, maunya apa sekarang?”

“Mau pulang ke Jakarta.”

“Ya udah, mandi dulu. Nanti pamit.”

Malamnya gue udah duduk di dalam di bus Sinar Jaya kelas ekonomi. Rencana pulang besok pagi dipercepat menjadi pada malam hari yang sama. Gue nempelin kepala di kaca jendela, sambil mikir. Sedamai-damainya kehidupan di kampung, gue tetep kangen kehidupan di Jakarta. Kangen teriakan sopir angkot, sepedaan sambil nyanyi, ngisengin kucing, dan lain-lain.

Perjalanan nggak lama. Sampai di terminal bus Pulogadung pukul 2 pagi. Selanjutnya membingungkan, dari Pulogadung ke Kalideres jam segini harus naik apa? Kopaja atau Metromini nggak ada. Taksi kemahalan. Bapak gue menyarankan ke gue. Dia bilang, “Coba dong, pesen Grebek dulu.”

“Grabbike kali,” kata gue tak acuh.

Singkat cerita, kami naik Transjakarta, lalu menyambung angkot. Kembali lagi ke rumah, dan bersiap menghadapi sekolah. Masuk ke rumah, gue melihat kenyataan pahit: “Ini kok toples wafer pada berantakan, ya? Kerjaan tikus pasti.”


14 komentar:

  1. Itu saat di mobil yang duduk di depan dekat-dekat supir, ia pasti cemas tuh Rob, kerasa nih, injek injek remnya hehehehehe...

    Pola tidur yang di semi final, ampir mirip tuh, sama gue juga...

    Toples berantakan? gue juga curiga pasti tikus tuh hehehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kaget gitu, lho... Hahaha. :D

      Yoi. Tapi Portugal juaranya. Seneng bisa liat Ronaldo angkat piala. :))

      Delete
  2. Hahaha ketiduran, dan susah dibangunin itu aku banget rob haha X)
    Muka bantal

    ReplyDelete
  3. Wwkwkwk udah dibangunin tiga kali, tapi kamu nggak sadar kalau ternyata kamu udah njawab ._. wkwkw aku pernah beberapa kali kayak gitu, tapi akhirnya beberapa lama kemudian nyadar 'oh iya, tadi aku sempet bangun tapi tidur lagi' wkwkw yaudahlah ya wkwk

    Grebek :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang sedih, loh, kalo diinget-inget. :(

      Huhuhu... tapi kita ngerti lah, ya. :')

      Delete
  4. Grebek??? hahaha.. itu bahasa Pemalang, ya?

    ReplyDelete
  5. wkwkkw tapi kalo ngomong cepet emang jadi grebek sih, rob :D haha. Welcome home, Rob

    ReplyDelete
  6. Mudiknya failed banget yah, Rob. Udah sakit, ngga ikut acara, pulang2 toples wafer diberantain tikus~

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.