Mudik Story: Bahasa Masalah Segalanya

Alhamdulillah, tahun ini keluarga gue mudik ke Grobogan, Jawa Tengah. Seperti yang para perantau lakukan di hari lebaran, keluarga kami ikut-ikutan bikin macet jalur pantura. Berangkat dari Jakarta di hari terakhir puasa, sampai sana siang, membuat gue nggak sholat Ied.

Gue kira perjalanan bakal macet parah, ternyata cuma sebentar. Dalam kondisi macet gue udah cemas dan banyak-banyak doa, semoga nggak ada yang muntah. Biar pun nggak ngeliat atraksinya, tetep aja suaranya ganggu. Kalo udah kedenger suara "Hooeeekk.... hoeeeek", gue bakal komat-kamit, "Jangan keluar, jangan keluar."

Yang bikin kesel dalam perjalanan adalah bukan karena macet, tapi kecelakaan. Bus yang kami tumpangi nabrak mobil Avanza hitam di Batang, kota di Jawa Tengah. Dua jam di sana nungguin negosiasi antara pihak bus dan pihak Avanza sangat menguji kesabaran. Mau nonjok, tapi suasana masih lebaran.

Renyek. Kayak cinta yang ditolak.

Sampai di kampung, seperti biasa, nggak ada spesial-spesialnya. Gue kadang ngiri sama orang-orang yang pamer foto dengan background keramaian. Captionnya "Alun-alun (nama kota)". Di kota ini mungkin ada, tapi kayaknya jauuuuuuuuh banget dari rumah. Diliat dari kondisi geografis kampung ini, sangat nggak mendukung buat pergi ke mana-mana. Jaraknya jauh ke area kota. Jalanan masih berupa batu-batu, nggak diaspal dan nggak mulus. Kucing lewat sana mungkin bisa kesandung. Kanan-kiri jalan ada jurang, di depan juga.

Ternyata emang lagi di jurang.


Pokoknya, jalan-jalan adalah hal yang nggak mungkin dilakukan.

Di kampung, kegiatan gue sangatlah membosankan. Kegiatan gue cuma makan, tidur, ngabisin isi toples (toples gula dan teh termasuk), nonton TV, baca buku, denger lagu, tiduran, ngabisin kue. Harusnya, selama lebaran gue menjadi "lebar-an". Pengennya gitu malah. Malu kalo ketemu sodara dibilang kurus mulu.

Meskipun gue nggak jalan-jalan ke tempat wisata, tapi paling nggak gue ke rumah sodara. Masa iya mau ngedekem di rumah terus. Kalo bertelur, kan, repot.

Ada satu malam yang gue ingat. Waktu itu gue rumah sodara bersama bapak dan mama gue. Kami bertiga jalan kaki. Kebetulan jaraknya nggak jauh jadi masih lumrah jalan kaki dalam kondisi jalan nggak rata. Banyak perubahan di kampung ini selama setahun. Termasuk lampu penerangan jalan yang dipasang setiap kurang lebih 20 meter. Serius, lho. Tahun kemarin belum ada. Wajar kalo kampung ini dibilang kampung tertinggal. Internet susah. Di sini bakal susah nonton Youtube, lebih gampang nonton tayub.[1]

Sampai di rumah sodara, ngapain lagi kalo bukan ngobrol. Jati diri gue sebagai orang yang suka ngobrol diuji. Kita semua tau, obrolan antara orang dewasa adalah obrolan mengenai kehidupan, keuangan, keluarga, dan lain-lain. Itu topik-topik yang gue senangi daripada ngobrolin game atau segala macem. Itu gue nggak paham. Oh iya, kadang orang dewasa juga suka ngomongin orang,... dan gue suka itu.

Sebenernya apa yang diuji dari kondisi gue saat ini? Ya, bahasa. Orang-orang di sini ngomongnya pake bahasa Jawa. Ngomongnya fasih banget lagi. Pengetahuan gue akan bahasa Jawa cetek banget. Baru ngikuti satu-dua kalimat, gue nggak tau artinya. Masa gue nyuruh orang itu ngomong dari ulang.
Meskipun kedua orang tua gue besar dengan bahasa Jawa, gue jarang ngomong pake bahasa Jawa. Sebagai anak keturunan orang Jawa, gue gagal.

Dan, ini yang paling nggak enak. Gue cuma bisa nyimak setiap orang-orang ngomong. Manggut-manggut cengengesan, sambil bilang "Iya." Padahal nggak diajak ngobrol.

Bahasa Jawa yang gue tau salah satunya adalah tawaran makan. Mau sesusah apa pun tenses-nya, gue pasti ngerti kalo itu lagi nawarin gue makan. Seandainya ditawarin makan, gue bilang "Nggak usah". Lalu, jika gue rasa topik udah mulai berubah, gue bilang, "Tadi di rumah udah makan." Bodo amat deh dia ngomong apa soal nggak jelasnya gue ini. Komunikasi nggak berjalan dua arah. Mereka ngomong, gue diem.

Satu jam berada di rumah saudara, kami nyambung ke rumah kakak dari bapak gue. Di rumahnya, ada tempat makan lontong dan gorengan. Pas gue ke sana, kebetulan lagi rame kumpulan pemuda nongkrong di sana. Ada yang makan lontong sayur, ada yang ngerokok, ada yang nonton TV. Nggak ada yang main hape. Beda sama tongkrongan yang sering gue liat di Sevel.

Seperti biasa, setiap gue ke tempat ini pasti ditawarin makan. Karena dari rumah gue udah makan, gue menolak. Disuruh minum juga gue menolak karena baru aja ngabisin segelas kopi di rumah saudara sebelumnya. Dengan sedikit paksaan, akhirnya gue disuguhin sebotol fanta dengan segelas es batu. Alamat kena pilek ini mah, pikir gue.

Suasana di kedai semakin rame. Mereka ngomongnya kenceng-kenceng, dan tetep... gue nggak ngerti apa yang mereka omongin. Kata bapak gue, sore ini lagi ada rapat karang taruna di balai desa. Ini kenapa anak mudanya pada nongkrong? Tanya gue dalam hati. Sampai sini gue nggak mau mikirin. Takut mikir kejauhan, lalu jadi suuzon.

Menurut pemikiran (positif) gue, mungkin mereka udah pulang. Suasana semakin malam mendadak berubah jadi bar layaknya film-film koboi. Teriakan di sana-sini. Asap rokok mengepul. Apalagi ditambah adegan gue nuang fanta ke gelas berisi es batu, seolah-olah gue lagi nuang alkohol ke gelas, semakin kuat nuansa barat di sini. Tinggal ditambah suara petasan teko aja biar ada efek-efek tembakan.

Ada satu orang anak kecil, gue prediksi sekitar umur 5-8 tahun. Anak ini bercanda sama orang-orang yang lebih tua daripada dia. Sepertinya dia pelanggan lama di sini. Dia menatap satu orang berkaus hijau, yang duduk di belakang gue. Sedari tadi dia nggak bicara, tapi tangannya terus berisyarat.

Si anak kecil memeragakan orang merokok dengan tangannya. Dia ngomong dalam bahasa Jawa, "Kamu nggak beginian?"
Orang itu menggeleng.
Gue melewati banyak percakapan. Nggak lama kemudian, dengan nada meremehkan, si Anak Kecil bilang, "Lah, kamu orang kere! Kamu tuh cuma nerima uang dari orang tua doang."

Gue tersedak. Kaget mendengar anak yang belum berumur dua digit ngomong kayak preman terminal. Untuk kali ini gue sangat mengerti bahasa Jawa.

--BERSAMBUNG-- 

PS: Beberapa hari ke depan, mungkin gue masih akan cerita soal mudik. Seru aja, kayak lagi nulis cerita yang biasanya disuruh waktu awal masuk liburan saat SD. Lebih lepas.

***

[1] Semacam pertunjukan tari dengan iringan musik gambang. Jadi menu wajib di setiap acara hajatan di kampung.


12 komentar:

  1. Ternyata kau punya darah Jawa. Mmmmhhh sudah kuduga. Dari dulu aku curiga, semenjak melihat nama belakangmu.

    Haha itu anak kecil songong amat bicaranya. Kenapa enggak kamu pelintir aja cees? Apa karena takut? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kirain bakal ngira gue orang Brazil. Hehehe. Waduh dosa dong, cees. Nggak masuk surga nanti.

      Delete
  2. tu anak kecil kampreet belum pernah keselek bungkus rokok kali ya :D

    ReplyDelete
  3. wahahah, jaguan tu bocah. antimainstream ya mudiknya, nunggu lama bukan karena macet tapi karena kecelakaan. gokil..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apaanya anti-mainstream... nyiksa fisik dan batin, Jev.

      Delete
  4. Bagi anda yg berminat belajar bahasa jawa
    Silahkan hubungi ahlinya
    Karena saya juga g bisa bahasa jawa
    Sekian

    ReplyDelete
    Replies
    1. ^ salah satu bentuk pamflet kursus bahasa Jawa

      Delete
  5. hal yang paling enak dilakukan di rumah pas mudik adalah hibernasi. Asli deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mamalia banget. Berpetualang dong. \m/

      Delete
  6. Bhahaha ngalah-ngalahin semut, toples gula sama teh juga di embat. Sama, aku juga banyak makan tapi gak pernah gemuk, padahal mah gak cacingan :(

    Bener, kalo udah ngumpul sama sodara dan keluarga besar pasti pada ngomongin tentang kehidupan dan keluarga gitu yak. Biasanya obrolan seputar itu selalu menimbulkan pertanyaan 'kapan nikah?' :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih, kenapa banyak banget orang macam kita, ya? :((

      Hohoho, saya masih pelajar, belum ditanya gituan.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.