07 May 2016

Kemampuan Utama Seorang Host Acara Kuliner

... adalah bicara dan bertingkah berlebihan. Semua orang setuju bila kerjaan mereka sangat menyenangkan; makan makanan enak dan gratis, dan jalan-jalan. Berkat acara yang gue tonton tadi pagi, gue jadi pengen nulis tentang host acara kuliner. Untung aja tadi pagi gue nggak nonton acara gosip, kan, bisa-bisa gue ngebahas kehidupan artis di blog ini. Bayangkan isi blog gue kayak gini:

"Hai sahabat-sahabat pembacaaaaaaaaaaa ('A'-nya wajib banyak. Biar lebay). Tahukah kalian, kini Zaskia Gotik menjadi duta pancasila. Sedangkan, Kiki Coboy Junior yang tiap minggunya minimal sekali membaca pancasila di sekolahnya tidak diangkat jadi duta pancasila. Di mana keadilan bernegaraaaaah? Simak liputan selanjutnya."

Sampah.

Di acara kuliner yang gue tonton, si host berada di sebuah kafe bilangan Jakarta, entah di mana tepatnya. Si host, bareng temennya, buru-buru mencicipi es krim yang pelayan sediakan. Dia sok-sokan mengajak pemirsa. "Yuk pemirsa. Kita coba es krimnya." Kemudian, si host mengeluarkan suara sangat nggak penting saat makanan masuk mulut. "AAAAMMMMMM."

Stop. Kemudian kita telaah. Sebagai pemerhati gerak bibir, gue menduga... si host nggak baca doa. Mampus. Es krim lu nggak berkah!

Setelah menciduk dengan sendok beberapa kali, host beralih pada topping di es krimnya. "Pemirsa, kita coba topping coklatnya yuk." Mengikuti perintah si host, pandangan gue beralih ke piring yang ada di hadapan. "Di sini nggak ada coklat. Gue lagi makan daging. Ini alot, lho!"

Es krim beserta butir coklat masuk ke mulut si host. Lagi-lagi, dengan eskpresi yang bener-bener nggak penting setelahnya; kipas-kipas ke mata pake tangan, sambil nunjukin muka kayak kucing minta kawin. Pokoknya, mukanya itu kayak abis mencapai kenikmatan tiada tara. Sedangkan gue, masih dalam rangka menggigit daging yang alot, terpaksa ikut-ikutan masang muka kayak host. "Hmmmpphhh... ALOT! AAAAHHH, MERDEKA ATAU MATI!"

Si host langsung memberi komentar pada suapan terakhirnya. Dia bilang ke temannya, "Eh, ini, ya..., euuummmm... coklatnya meledak di mulut. Enak banget!” Gue langsung mikir, "Jangan. Jangan sampe gue dibohongin sama si host. Di mana-mana coklat itu lumer, bukan meledak. Acara apa ini?! Penuh pendustaan!" Temannya yang penasaran, buru-buru nyendok es krim dan coklat. "Uhhh... iya. Meledak di mulut. Hihihi," kata teman si host sambil menutup mulutnya.

Gue langsung berpendapat: "Kalo emang berniat soft selling, ya, lu cukup bilang lumer dan meleleh kita semua percaya, kok. Kalo emang meledak, gue malah jadi nggak percaya." Atau, gue nggak tau yang sebenarnya terjadi. Siapa tau kejadian sesungguhnya adalah memang ada ledakan di mulut si host dan temannya. Jadi, waktu bulir coklatnya dikunyah, BOOM. Mulutnya ilang. Coklat itu isinya dinamit. Hahahaha, gue jadi inget sesuatu.

Sumber di sini

Kalo ternyata kata "meledak" menjadi mesin penggerak penjualan, gue akan memakainya di restoran gue kelak. Nanti gue akan menambah divisi pada karyawan. Nama bagian itu adalah: divisi peledak.

Kerjanya gampang. Kalo ada pengunjug lagi makan, seseorang dari divisi peledak akan bekerja sesuai tugasnya yang khusus. Gue akan membuat tingkatan “meledaknya”.

1. Meledak dalam artian sesungguhnya
Misalnya, ada konsumen duduk di meja. Dari divisi peledak udah menyiapkan bom tempel di bawah meja jauh dua hari sebelumnya. Bahkan harus dilakukan gladiresik enam kali. Ketika makanan sampai di meja, pelayan berucap, “Selamat menikmati” kemudian pelayan berlari.

BOOM! Meja itu meledak. Itulah kalimat perpisahan dari seorang pelayan. Tabur bunga.


2. Meledak emosinya
Untuk mendapatkan pekerja sepeti ini, sangatlah susah. Pertama, kami (selaku menajamen) harus mengimpor langsung dari tempat-tempat berbahaya. Kami rela blusukan ke pasar-pasar, Indomaret, stasiun, dan terminal. Karena, orang yang kami cari adalah... preman. Ya, dengan ini konsumen akan bergidik ngeri bila melihat pegawai kami.

Pegawai yang bekerja di divisi ini akan ditempatkan di masing-masing meja, berdiri di belakang kursi. Jika konsumen melakukan kesalahan, seperti mengeluarkan dahak di tempat, pegawai langsung menempeleng konsumen. Atau, ini yang akan dilakukan sang pegawai...

Suplex

3. Meledak emosi konsumen
Sedangkan ini, pegawailah yang membuat konsumen meledak emosinya. Kami sengaja untuk mengetes keimanan dan kesabaran para konsumen, khususnya pada bulan Ramadan. Bila ada seorang konsumen makan di tengah hari bolong, pegawai kami akan melayani dengan seburuk-buruknya. Misalnya, menyajikan makanan dari penggorengan langsung. Kalau kurang, si pegawai akan menumpahkan minyak sayur ke muka konsumen. Tenang, pegawai di divisi ini udah siap mati bonyok, kok. Udah terasuransi dan kehidupan keluarganya terjamin... menjadi salahsatu pegawai di restoran gue. Tujuh turunan keluarganya mati di tangan pengunjung.

Jangan lupa, minta cuciin penggorengan sekalian. Niscaya para pengunjung langsung emosi.


4. Meledak meledek
Lho, bingung, ya? Sesuai dengan namanya, pegawai ini akan meledek para pengunjung yang sedang makan. Sama seperti pegawai tipe nomor 2, orang ini akan tetap memberi kejutan di belakang pengunjung.

“Mbak, mbak. Tebak, saya ini cowok atau cewek?” tanya pegawai pada konsumen.
“Dari penampilan fisik..., cowok, Mas.”
“Huuuh, salah,” pegawai melepas bajunya, “dari penampilan dalam..., saya cewek, Mbak. Saya pake beha, nih,” dengan tangkai manggis menyembul dari sela-sela beha.

Eh, maap. Selera humor gue kenapa jadi begini? Tolonglah. Jorok banget, ya. :(

Sampe lupa kalo gue lagi pengen bahas tentang host acara kuliner, bukan pegawai-pegawai khayalan gue.

Sampai kapan pun, kayaknya gue nggak akan pernah jadi host atau pengkritisi kuliner. Gue kalo dikasih makanan apa pun, pasti dimakan dan bakal bilang enak-enak aja. Asalkan halal. Kayak kukis kokola. Tau, kan, siapa yang ngiklanin.


MAMAH TAU SENDIRI!

Misalnya, dulu Mama gue pernah masak nasi (setiap hari juga masak kali!). Pas banget gue lagi laper-lapernya, gue ciduk nasi dan ditaro di atas piring. Begitu nasi masuk mulut, kedengaran suara berisik di mulut gue. Padahal gue nggak makan pake kerupuk, batin gue.
Nggak lama kemudian, Mama gue ikut makan bareng gue. Dia nanya, “Nasinya enak nggak, Bi?” gue jawab, “Enak.” Mama gue buka magic com, kemudian nanya, “Tadi kamu makan nasi ini?”
“Iya, Ma,” kata gue ngelanjutin makan.
"Ini setengahnya masih beras, lho."
Gue berhenti ngunyah. Pantes keras.

Nggak cuma di situ aja. Pernah sekali dan nggak bakal mau gue ulang kembali, gue makan sayur (sayur apa gue lupa). Selesai gue makan, Mama gue nyodorin hidung ke mangkok berisi sayur yang barusan gue makan. “Bi, tadi makan sayur ini?”
“Iya, Ma.”
“INI UDAH BASI SAYURNYA.”

Gue diem. Menyesali semuanya. “Pantes rada asem. Kirain itu efek jeruk nipis.” Harusnya di saat seperti ini gue buru-buru mencet belakang leher sambil kipas-kipas mata.

Nah, makanya, gue gampang banget dipuasi oleh rasa nafsu perut, sampe rasa makanan aja gue nggak ngerti. Bahkan yang paling buruk sekali pun, gue nggak bisa bedain mana makanan basi dan layak. Gue merasa cocok-cocok aja kalo ada makanan. Kalo lagi laper, langsung samber. Urusan rasa, udah nggak peduli lagi.

Satu lagi yang paling penting bagi host acara kuliner adalah pandai berekspresi. Kita mungkin bisa nggak percaya dengan perkataan “enak” dari host, tapi muka-si-tukang-makan bisa bikin kita kepengen nyicip. Karena kita, cenderung lebih percaya pada apa yang kita lihat, bukan apa yang kita dengar. Halah, sok-sokan nge-quote.

Kondisi perut juga sangat penting. Sebelum makan, para host itu, mungkin, ngabisin waktu berjam-jam di toilet. Dalam benak mereka, “Perut gue harus kosong. Selamat datang makanan enak.”

Oke, sekian pengamatan gue tentang host acara kuliner. Nggak sepenuhnya, sih, tapi lumayanlah. Membuka pengetahuan... kalo gue bener-bener cowok yang doyan nonton TV. Dulu nonton Katakan Putus. Sekarang nonton acara kuliner. Besok apa lagi? Ada saran? Iklan panci happycall kayaknya seru buat dibahas.

16 comments:

  1. Wkwkwk iya juga ya :D aku merhatiin, kebanyakan host acara makanan itu terkesan sedikit hiperbolis dalam menyampaikan suatu rasa makanan wkwkw :D

    Ini sumpah kamu sampai kemana-mana banget :' ada cewek buka beha, ada tangkai buah manggis :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, itu daya tariknya mungkin. Tapi itu lucunya di situ. Huehehe.

      Haduh, maafkan. Ngaco banget saya. :(((

      Delete
  2. Anjritt, Robby! Ada lagi yak orang kalo laper maen samber aja gak mikir tuh makanan layak apa enggak. Gue curiga, mgkin tai kucing digoreng pake tepung trs ditaro dimeja makan bakal lu embat jg kali, ya??

    Host kuliner emg suka lebay dan bikin orang ngiler! Tp kalo makan sambil nntn acara kuliner dijamin sih, biasanya rasa makanan yg kita makan bakal sama kyak rasa makanan yg ada ditipi *sotoy banget* yaaa, smbari menghayal gtu deh. Kalo lu makan daging alot sambil nnton coklat mledak sih agak gak nyambung. Kalo gue biasanya makan pake telor dadar doang, trs nntn acara kuliner yg makanannya steak, ayam bakar, dll. Nah, itu baru pas :D Makan jd terasa nikmat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, apes banget tuh. Jangan sampe kalo udah berumah tangga kayak gitu juga. Nanti istri gue masak batu tetep gue makan. Kan bisa mati. :(

      Hmmm... boleh juga tuh. Makan telor sambil nonton orang makan steak langsung berasa makan steak. Sip! Ini keren. :D

      Delete
  3. Lebay biar terkesan seru dan mudah diingat. Tapi kalau ada host yang makannya "jijik" aku kurang sreg, sebut aja benuxxxx hahaha.

    Robby... selera humor mu bukan jorok lagi tapi porno tingkat dewa! Hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oooh, dia yaa. Rada aneh dan lucu aja ngeliatnya. Hahaha.

      Oh, Tuhan. Apakah ini pujian?

      Delete
  4. Itu nomor satu parah amat ya, konsumen pada modar kena boom!!

    Ada lagi pake di smack down segala... Sekumpulan karyawannya mirip The Undertaker, The Rock, Triple H, John Cena sama Brock Lesnar. SAUS TIRAM!!! Ini restoran apa panggung Smack Down????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, mantep kan. Restoran masa depan kayaknya begitu deh. Buahaha. :))

      Delete
  5. Itu acara kuliner yang di stasiun tv yang ada angka 7-nya bukan sih? Huahaha.

    BAHAHAHAHAHA! Robby bahaya kalau buka usaha rumah makan. Membahayakan pekerjanya sendiri dan juga konsumen. Trus bahaya kalau jadi host acara kuliner. Membahayakan dirinya sendiri. Bisa-bisa makanan nggak layak makan malah dibilang enak :'D

    Bisa banget makan nasi setengahnya masih beras, trus makan sayur basi. Bahahhahahaa. Tapi nggak papa, Rob. Untung Mama kamu jujur kasih tau itu. Dan itu masih halal. Halalnya nggak bohong. Mamah tau sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woaaaw, nonton juga ya? Hahaha, bener tuh!

      Pokoknya jangan percayakan saya jadi host acara kuliner dan membuka restoran. Bisa rusak citra kuliner di Indonesia. Hahaha.

      Yawla, mamah saya bukan Mamah Dedeh. :(

      Delete
  6. Hahah :D
    iya bener si, kadang aku juga suka mikir, jadi host acara kuliner musti banget ekspresif. sedangkan gue kalo makan mukanya biasa aja, tapi ga kaya lu juga ya sayur basi masih aja di embat.

    Robby sekarang dewasa yaa becandaanya. hhmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maafkan nafsu binatang saya :( gue juga sedih kalo diinget lagi. Racun di sistem pencernaan.

      Aduh, bukan dewasa. Tapi..., apa ya pembelaan yang tepat? Nggak ada deh.

      Delete
  7. Emang beneer, mesti hiperbola tapi kadang nggak persuasif sih hahaha. Adv iklan indo emang suka lucu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting lucunya, ya, kak. Orang Indonesia suka yang lucu-lucu soalnya. Hehehe.

      Delete
  8. Wakaaakk mana ada gerakan kucing minta kawin kipas2 mata rob hahaha

    Wah lu ga bisa beneran ngerasaan makanan enak dan gaenak ya, ampe beras n sayur basi bisa masuk ekekeekk

    Bisa jadi, si host sebelom makan kudu puasa dulu berapa jem
    Lah bsyangin aca 1 durasi scara dia menclok ke tukang makanan berapa kali
    Gue ngebsyanginnya aja pa ga full tu perut hahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, ada kok. Cuma jarang aja.

      Iya, sedih nggak tuh. Sama kayak orang yang abis dikebiri. :(

      Paling setelah take langsung muntah tuh orang. Hahaha.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.