Cara Terdamai Menerima Kekurangan

Apa kamu merasa sempurna? Nggak ada yang jawab ya gue rasa. Gue yakin semua orang akan menemui kekurangannya dan mau nggak mau harus mengakuinya. Bedanya, seberapa mampu mereka menerima kekurangan itu. Gimana kalau kekurangan itu malah menghambat kehidupan seseorang? Kita butuh cara mengatasinya. Menerimanya sebagai karunia Tuhan yang nggak bisa kita tolak.

Namun, cara setiap orang berbeda. Gue nggak tau gimana cara seseorang dalam menghadapi kekurangannya. Tapi gue percaya ini: Menerima kekurangan dengan menertawakannya. Dilihat secara kasat mata memang terkesan seperti mengumbar aib sendiri. Nggak papa dong. Toh, ini aib kita, bukan aib orang lain. Sederhananya seperti itu.

Dari refrensi mengenai komedi mengatakan, bahwa lelucon yang paling aman mendapat tawa adalah dengan menertawakan diri sendiri. Gue setuju. Dengan begitu kita punya ketulusan untuk ditertawai dan sudah siap akan hal itu. Bahkan, gue pernah membaca di sebuah media, secara psikologis orang yang berani menertawakan kekurangan diri sendiri punya jiwa besar.

Dalam kasus sehari-hari, orang yang kekurangan memang sering menjadi bahan tertawa. Karena sesungguhnya, orang yang kurang punya kelebihan. Gue menyebutnya selangkah lebih lucu. Dari kenyataan yang sering ditemukan, kekurangan seolah tercipta untuk ditertawakan. Lihatlah gimana lakunya jokes mengenai kaum-kaum kekurangan kasih sayang atau jomblo. Ke mana-mana kerjaannya cuma ngaku jomblo, terus diketawain. Udah ada hasrat pada semua orang untuk mengejek jomblo-jomblo yang ada. Untuk itu, jangan ngaku-ngaku jomblo kalau nggak kuat ditertawai banyak orang. Soalnya orang jomblo pasti diketawain.

Jadilah jomblo yang menghibur. Punya keikhlasan untuk ditertawakan. Siapa tau, setelah punya pasangan, jiwa para jomblo menjadi lebih dewasa.

Sebuah komedi kadang harus bertabrakan dengan batas (biasanya mengenai norma). Ada batas yang membuat kita ragu untuk tertawa. Dalam benak kita muncul perkataan, "Asem. Omongannya dia lucu banget, tapi kok agak riskan?" Akhirnya kita ketawa aja karena emang beneran lucu. Kalo kata Pandji Pragiwaksono, lucu, ya, lucu aja. Nggak bisa membohongi diri untuk nggak ketawa.

Nah, akhir-akhir ini gue lagi seneng nonton stand up comedy yang "nabrak". Walaupun agak susah dicari karena jarang ada di Youtube. Salahsatunya adalah penampilan dari Akim Bagil di Playoff Street Comedy 5. Ini yang paling sinting. Kalo penasaran, coba tonton. Rasanya kayak nonton secara live, dan beda daripada comic yang biasa kita tonton di TV.



Ada beberapa orang yang dalam lingkup masyarakat tidak diperbolehkan untuk ditertawai. Misalnya, orang-orang difabel. Kalau di antara kita ketemu orang yang ke mana-mana pergi naik kursi roda, lalu kita meneertawai orang difabel itu, respon yang pantas kita terima adalah mulut kita ditabok.

Lalu bagaimana dengan orang yang kekurangan sejak lahir? Apakah pantas untuk ditertawakan?

Dani Aditya memberi sudut pandang berbeda. Comic asal Malang ini memberi cara baru dalam melihat orang yang memiliki kemampuan khusus atau difabel (differently able). Ada satu jokes dari Dani yang paling gue ingat.
Saya ini anak yang cacat fisik. Jadi orang cacat fisik itu enak. Kalo gak percaya coba aja sendiri.
Menggelitik, seolah mengajak kita masuk ke dunianya. Dani memberi sudut pandang bahwa orang yang cacat fisik tidak harus selalu dikasihani, tetapi terkadang perlu ditertawakan. Dani nggak ingin dengan ketidaksempurnaannya menjadi penghalang untuk menjadikannya orang-orang normal, seperti kita.

Lalu, bagaimana dengan orang yang enggan berusaha karena takut ditertawakan?

Di setiap kelas, kita sering menemukan orang-orang yang seperti ini. "Saya nggak mau jawab. Malu. Nanti diketawain orang sekelas." Nggak begitu seharusnya. Jangan takut. Jawaban yang salah adalah jawaban yang masih punya kemungkinan untuk benar. Kalau diam aja, bisa jadi jawaban yang dipendam akan salah selamanya, tersesat.

Kalau memang takut ditertawakan orang lain, tertawakan dirimu sendiri. Agar nantinya orang yang menertawakanmu nggak membuat sakit hati. Lebih bijak lagi, ajak orang-orang tertawa bersamamu menertawakan kekurangan masing-masing. Hidup terasa damai tanpa perlu ditutup-tutupi dan ada yang tersakiti.

Oke, sekian pendapat gue mengenai kekurangan. Bagaimana cara kalian dalam menerima kekurangan?

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian gue di sini.


18 komentar:

  1. Memang manusia tidak ada yang sempurna, pasti ada kekurangan tetapi di balik kekurangan itu pasti tersimpan kelebihan yang luar biasa
    contoh orang yang menjelek-jelekan diri sendiri itu saya lihat di stand up ciomedy :D

    ReplyDelete
  2. jomblo yang menghibur, asik. jadi jomblo memang harus anggun, rela dan ikhlas untuk ditertawakan. itu street comedy nya gue udah pernah liat, keras tuh bit nya. kalau orang religius yang baperan nonton pasti rusuh tuh, hahaha~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, jadi jomblo yang berfaedah ya. Wuih, udah nonton juga. Ngeri, kan, Jev? Hahaha

      Delete
  3. Kalo kurang tidur termasuk kekurangan juga bukan, Rob?

    Atau kurang karung. Apaan?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jelas. Namanya juga kurang, bang. Kurang karung,... hmmm.

      Delete
  4. gue menerima kekurangan gue dengan cara "menerimanya"
    :)

    ReplyDelete
  5. Heheh bener sih :D banyak orang yang berdamai dengan kekurangannya dengan menertawainya :) aku salah satunya deh pokoknya :) lebih enak menertawai diri sendiri kan dari pada menertawai orang lain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, tos dulu dong. Kita sependapat~

      Delete
  6. Postingan ini bijak juga, Rob. Menerima kekurangan dengan menertawakannya. Semacam dibawa happy aja gitu ya. Dan iya juga sih, orang yang kekurangan itu selangkah lebih lucu. Aku malah lebih ikhlas ketawa gara-gara komika yang mukanya 'kurang' daripada yang lebih ganteng. Kayak misalnya Ardit. Aku agak gimana gitu sih. Kayak nggak ikhlas aja dia lucu. Hahaa. Aneh ya.

    Sama kayak kalau kita lagi ngalamin hari buruk, yaudah kita ketawain aja. Hari yang buruk itu bisa jadi hari yang berkesan. Eh iya nggak sih. Maafkan atas kesotoyanku. Diketawakan aja kali ya. Hahaha. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, biar nggak pusing mikirin gimana cara nutup kekurangan, akhirnya nyari gampangnya: ditertawai. Eh, tapi ganteng-ganteng begitu masuk final. Uh, sempurna. *kayak homo gini*

      Ah, bener kok. Hahaha. Ketawa meninggalkan kesan, ya.

      Delete
  7. Roby postinganya dewasa bgt, mantap.
    Menertawakan kekurangan diri sendiri ternyata org yg bijak ya

    ReplyDelete
  8. waah apa yang kamu tulis ini ada yang mirip wejangan mama saya lho :)
    "Kalau memang takut ditertawakan orang lain, tertawakan dirimu sendiri." kutipanmu aku setuju.. kadang kita takut diketawain orang ain karena rasanya kayak dipermalukan...
    tapi pas menyadari dan menerima kekurangan rasanya jadi lebih asik.

    kalau versi mama saya gini : "kalau kamu dibilang jelek, egois, keras kepala dll, jangan diambil hati.. terima saja ejekan mereka dengan lapang, dan bilang 'iya' nanti hati kamu lebih mudah ridho dan terlihat lebih luwes ngejalanin hidup, Jangan apa-apa dibawa emosi, itu jelek buat hati"

    dan sepertinya..... butuh proses agak panjang untuk sampai kesitu >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, kayaknya wejangan orang tua di mana pun mirip-miirp ya. Mama gue juga begitu kok bilangnya.

      Delete
  9. Gue juga bi, gue sebisa mungkin lo di blog ya ngeguyonin atou ngece diri s3ndiri aja, kan biasanya ada tu yang nulis tentang temennya di blog dan dijadiin bahan cerita, klo gue mending bahannya gue aja deh, biar ga da prasangka ama yang diceritain di blog wakakkakaka
    Toast

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, kalo ngomongin temen rada gimana gitu. Banyak maunya dan banyak permintaan. Namanya juga temen~

      Toast!

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.