Berlibur Menikmati Norwegian Wood

Wah, udah bulan April. Tanggal 5 pula. Nggak biasanya blog gue melakukan start yang lambat begini. Hmmm, gue mau ngucapin sukses ya untuk kelas 12 yang lagi Ujian Nasional. Adikmu ini percaya, kalian semuanya bisa. 

Tahun depan giliran gue deh ikut UN.

Biar pun libur, tetep aja guru-guru bilangnya 'belajar di rumah". Hasilnya, selama di rumah gue disibukkan dengan tugas. Liburan ini terasa tak menarik lagi. Teman-teman gue ada yang pergi ke luar kota, gue cuma di depan rumah. Nyari angin. 

Nggak, libur gue nggak melulu soal ngerjain tugas. Gue tau, ini saatnya maraton baca novel yang belum gue tamati. Setidaknya, gue punya satu novel yang belum selesai, bahkan sampai post ini di-publish. Ya, gue mau ngomongin novel ini. Ini dia penampakannya:

Bukan yang di bawah

Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Jonjon Johana
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Cetakan keenam, Agustus 2015
Tebal: 423 halaman.
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-979-91-0835-7

Gue beli buku ini di salahsatu toko buku online. Tumben-tumbenan gue mau beli buku yang nggak komedi begini. Alasannya: Pertama, gue sering penasaran dengan Haruki Murakami, yang sering disebut di blognya Raditya Dika. Katanya, Murakami termasuk penulis idolanya. Kedua, cuma iseng-iseng aja mau ngikutin rekomendasi. Ketiga, dari dulu gue tertarik dengan sesuatu yang berbau Jepang. Begitu mendengar Murakami, gue langsung nyari-nyari di toko buku online. 

Buku ini gue beli bulan Januari 2016, dan sampai sekarang emang belum selesai. Bahkan, kalah cepat sewaktu gue baca ulang buku Babi Ngesot. Sebenernya penundaan ini karena bukunya lumayan tebal. Entah kaget atau gimana, gue agak menjauh sama bukunya.

Dikisahkan seorang lelaki bernama Toru Watanabe, 37 tahun. Begitu mendengar lagu Norwegian Wood dari The Beatles, pikirannya mengawang ke masa mudanya. Watanabe terkenang akan Naoko, sahabat SMA sekaligus cinta pertamanya, yang merupakan kekasih sahabatnya, Kizuki, yang meninggal karena bunuh diri. Selain ditinggal kekasihnya, Naoko juga ditinggal kakaknya yang bunuh diri di rumahnya sejak lama. Sepeninggal dua orang terdekatnya, Naoko menjadi wanita yang depresif. Pada suatu hari, Naoko berjalan-jalan bersama Watanabe. Dia menumpahkan segalanya kemudian tidur bersama Watanabe. Namun, itu menjadi hari terakhir keduanya bersama. Watanabe berpisah dengan Naoko.

Kuliah di Tokyo membawa Watanabe bertemu dengan Midori yang--menurut gue--cerewet, tapi tetap menyenangkan. Berbeda dengan Naoko yang lebih terkesan dingin, Midori sangat ceria. Cerewetnya Midori termasuk yang benar-benar keterlaluan. Dia seringkali penasaran pada imajinasi seksual lelaki karena sewaktu SMA dia kuliah di sekolah wanita.  

Selain bertemu Midori, Watanabe juga berteman dengan Kopasgat. Kopasgat adalah teman lelaki seasrama dengan Watanabe yang suka senam di pagi hari. Kopasgat lebih suka memajang lukisan alam di dinding dibanding teman-temannya yang memajang foto model seksi. Selain Kopasgat, ada juga Nagasawa-san. Kalo boleh disebut, dia ini "bad boy". Dia mengaku selama hidupnya pernah meniduri puluhan wanita. 

Secara isi, gue kagum banget sama Murakami. Walaupun ini buku terjemahan, tapi penerjemahannya ke bahasa Indonesia lumayan bagus. Detail deskripsinya tajam. Gimana cara Murakami menggambarkan situasi sangat patut diacungi jempol. Kadang, ada bagian yang terlalu "membosankan", tapi terbayar dengan kejutan yang ada. Saking detailnya penggambaran yang dituliskan, adegan seks yang Watanabe lakukan pun dijelaskan terang-terangan.

Dengan latar belakang kehidupan remaja Jepang, kita benar-benar seperti akan dihadapkan dengan kondisi Jepang saat itu. Seks bebas, mabuk-mabukan, dan kehidupan malam lainnya. Sampai gue membaca halaman 264, total ada 2-3 kali adegan seks digambarkan. Busyet, ngilu banget.

Kalo ada yang follow Twitter-nya Bernard Batubara, dia sering banget bahas buku Haruki Murakami. Bagaimana tentang tulisan Murakami yang surealis dan absurditas, bikin nalar gue nggak nyampe. "Kok bisa ya?"

Dia juga pernah bilang (di blognya atau di Twitter, gue lupa), "Mengikuti cerita Murakami harus sabar. Alurnya monoton." Kalo gue, jujur aja seneng ngikutin kisahnya Watanabe yang kesepian itu. Contohnya, sewaktu dia pergi menggunakan trem, sendirian. Keluar dari trem, secara kebetulan Watanabe bertemu dengan dua orang wanita. Yang satu akan pergi dan satu lagi hanya menemani. Wanita yang menemani temannya itu akhirnya berkenalan dengan Watanabe. Kemudian diajaknya minum sake, padahal masih pagi. Sampai malam, mereka tidur di sebuah hotel, dan kemudian... adegan seks kembali dimulai. Asem banget dah.

Ah, iya. Baru setengahnya gue baca novel ini. Saatnya menyelesaikan sampai selesai. Mumpung masih banyak waktu kosong. Maaf review gue di sini kebanyakan bahas soal seks. Soalnya jalan cerita yang ekstrim ini membuat gue pengen bahas di blog. Jangan serius baca soal seks-nya, tapi makna kesendirian itu yang nggak selalu menyedihkan.

Untuk gambaran ending, gue sendiri belum tau gimana selesainya. Hahaha, kita sama-sama penasaran jadinya.


28 komentar:

  1. Whaa.. libur UN, belajar di ruang.. yang lain libur ini malah asyik baca novel..

    Busheett tebel bener novelnyaa.. Pantesan dari januari belum selesai..

    Novel jepang, ini memaknai tentang kesendirian yang tak selalu menyedihkan. Hmm sepertinya menarik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, refreshing dong. Bergelut sama buku pelajaran terus bikin pusing.

      Menarik bagi mereka yang sabar :))

      Delete
  2. Pas baca judulnya norwegian food
    Pas baca isinya gtw mah ngereview nopel
    Pas balik lagi keatas liat judulya
    Oh norwegian wood
    Ah pdhal dah seneng loh mau ngebahas makanan norwegia
    Itu pas di depan rumah nyari angin
    Anginya ketemu ga?

    ReplyDelete
  3. Uwuwuw tahun depan giliran kamu UN ya :D bersiap-siaplah wahai sahabat :D wkwkwk

    Haruki Murakami ini kondang banget ya :D beberapa penulis kece (Raditya Dika dan Bernard Batubara) sering banget ngomongin penulis satu ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beri aku wejangan dahsyat, kakanda~

      Yoi. Selain dia, Falen Pratama juga pernah nyebut di list penulis favoritnya.

      Delete
  4. Gue juga kepengen beli buku itu. Tapi, nunggu uang kekumpul dulu. Sebelumnya, gue sudah terhasut membali 3 buku yang di ulas sama bang Bara.

    Selamat membaca dan masuk ke dunia Murakami~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, nyimak juga ternyata. Ayo, kita beli koleksi buku Murakami. Yang terjemahannya aja tapi :D

      Errr... gue udah baca setengahnya. Harusnya gue yang bilang itu ke elu :|

      Delete
  5. Boleh nih dijadikan baacan saat waktu luang/ me time

    ReplyDelete
  6. Rob, kok kamu bacanya beginian si?
    kamu kan belum cukup umur.

    Kamu mending belajar untuk UN taun depan, dan mulai menetukan jurusan kuliah apa nanti. jangan lupa persiapkan SBMPTN. ini kenapa gua kaya guru les. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku bosen baca majalah Bobo terus, kakak~

      Iyak, kayak guru BK :D

      Delete
  7. Wah kayanya bukunya bagus tapi saya lagi baca buku nih dan takutnya kalau beli buku baru yang satunya lagi gak kebaca sampai selesai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Simpen sebagai daftar buku bacaan santai :))

      Delete
  8. Waaah waaah waaahhh itu ada adegan seks watanabe yang dijelaskan secara terang benderang eh terang-terangan ya Rob,,, dijamin itu pasti nggak bikin bosen tuh ya, wkwkwkwkw hehehehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar nggak kaku atau gimana, ya? Selingan aja itu mah.

      Delete
  9. Gue malah belum berani baca novel Haruki. Kelam katanya, sih. Gue takut kebawa suasana.
    Pernah baca salah satu cerpennya yang Kucing apa gitu, itu menurut gue sadis. Gue juga masih belum nyampe buat baca-baca surealis, Rob. Hehe. :))

    Tapi kapan-kapan coba beli buku Haruki, ah. Cuma tersedia di online aja, ya?

    Kalo mau surealis lagi, baca novel Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya deh. Buku Bara yang warna ungu juga tuh. Keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, emang rada kelam. Mesti sabar ngikutin alurnya. Asyik dan nyentrik menurut gue.

      Kalo di Gramed terdekat, gue nggak pernah nemuin. Di toko online jarang juga. Mesti ngubek-ngubek lagi.

      Wah, mungkin nanti gue kepoin deh. Wajib baca kalo udah disaranin gini! Hehehe

      Delete
  10. Pertama kali gue baca judul tulisan ini, gue pikir bakal bahas soal Eropa. Eh ternyata... Hahaha.

    Udah bukan hal unik Jepang bahas seks. Selalu begitu siih. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, terjebak pada judul :))

      Indsutri film porno juga termasuk sektor yang diandalkan perekonomian Jepang. Nggak heran lagi :))

      Delete
  11. emmm.... ini pernah di filmin kan ya? setau gue ada film jepang judulnya norwegian wood, serius. gue pernah liat di streaming, tapi nggak gue tonton. cuma liat trailernya. jadi, haruki ini sosok yan ginspiratif sekali ya, rob. raditya dika sampe jadi fansnnya. jepang sih emang gitu, monoton. film-filmnya jug aalurnya monoton, harus sabar memang betul banget. kenapa harus sbar? bisa biking ngantuk dan agak ngebosenin kalau kit anggak excied dari awal buat ngikutinnya. sekian dan terimakasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ada, Jev. Baru inget. Hehehe.

      Itu udah jadi ciri khas kali ya. Mesti sabar dan mau nungguin.

      Delete
  12. Aaaaa aku kudet tentang hal yang berbau jepang-jepangan :(
    Tapi baca ini, aku jadi penasaran. Gimana endingnya. Gimana Naoko yang jadi wanita depresif dgn cara dia menikmati kesendiriannya.

    Baca sampe habis ya, By. Trus tulis di sini lagi. HAHAAAA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga nggak terlalu update. Paling cuma ngerti harga takoyaki di pinggir jalan.

      Hmmm... jangan dong. Nanti spoiler. Hahaha

      Delete
  13. Whoaaaaa. Kereeeen. Ini novel bisa dibilang novel erotis bukan sih, Rob? Eh tapi yang ditekankan di novel ini tentang kesendiriannya gitu ya. Seks-nya cuma kayak jadi penyedapnya gitu ya.

    Kirain nggak mau kasih tau endingnya gara-gara nggak mau spoiler. Eh ternyata karena belum selesai baca :D

    Btw selera Raditya Dika memang keren. Di majalah Gadis beberapa tahun lalu, ada beritanya kalau dia suka banget sama novel Fight Club-nya Chuck Palahniuk. Itu novel sampe difilmkan juga. Buruan beli Fight Club juga, Rob! Beli beli beli beli!

    *padahal aku juga nggak beli*
    *kabur naik buraq*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, begitulah. Seks-nya nggak jadi bahan utama cerita. Ya, kali nanti jadinya malah yang nggak-nggak :D

      Hahaha, tebeeel banget. Nggak kuat. Woh, catet dulu deh itu judulnya. Tapi yang penting ada versi terjemahannya nggak? Kalo bahasa Inggris nggak paham :(

      *nyusul kabur*
      *naik GoJek*

      Delete
  14. Rob, inget umur rob.. Umur lu di bawah standar untuk baca buku itu. Nanti bisa dewasa sebelum waktunya.
    Btw, lu celana lu sempit gak pas baca adegan2 biru itu?
    Hahaha..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.