Pergi

thumbnail-cadangan

"Dek, kita sama-sama terus, ya. Kita bareng terus sehidup-semati. Janji?"
"Iya, Mas. Aku janji." Kelingking Sri berpagutan dengan kelingking Sonny.

Keesokan harinya, gelagat Sri mulai aneh. Wajahnya seperti sedang mencari-cari sesuatu. Suara bising motor cukup mengganggu di depan rumah Sri. Sonny datang menjemput Sri.

"Kamu udah siap ke pasar?" tanya Sonny.
"Udah," jawab Sri singkat. Namun kecemasan pada wajahnya masih terlihat. Sri duduk di motor Sonny, memegang besi pegangan motor. "Berangkat, Mas."
"Oke, Dek."

Di perjanan menuju pasar, Sonny dan Sri nggak berbincang samasekali. Hanya suara bising jalan dan mesin yang mengisi kesunyian mereka. Tidak biasanya Sri menjadi pendiam seperti ini di atas motor Sonny.

"Kamu kenapa, toh, diem aja dari tadi?" tanya Sonny.
"Nggak papa, Mas."
"Beneran? Kamu sakit, ya?"
"Nggak, Mas. Aku nggak papa. Kamu fokus nyetir aja." Sri menjawab agak ketus.
"Loh, ya udah. Jangan marah-marah."

Mereka sampai di pasar. Sri turun dari motor, tapi Sonny tidak.
"Aku di sini aja, ya. Nanti pulang ke sini lagi. Aku anterin. Daripada pulang naik angkot, bahaya. Bisa diculik ke rumah sopirnya."
"Iya, Mas. Aku cuma sebentar di pasar. Mau beli terasi," jawab Sri. Kemudian Sri masuk ke dalam pasar.

Di depan warteg, Sonny belum beranjak dari motornya, menunggu Sri. Untuk mengusir kejenuhan, dia mengutik-utik kukunya. Itu juga dilakukannya untuk menahan godaan cewek-cewek yang melewatinya. Hanya Sri yang aku cintai, katanya dalam hati.

Sudah 30 menit Sri belum kunjung kembali. Sonny masih bersabar. Dia tetap berpikiran positif, siapa tau di dalam pasar lagi ada barongsai, dan Sri keasyikan nonton, lupa beli terasi.

Satu setengah jam telah berlalu. Sonny mulai bosan. Matanya mulai berat. Pandangannya mengabur ketika melihat lorong menuju area dalam pasar.

Dua jam. Dua jam setengah. Tiga jam. Sri belum kembali. Sonny akhirnya beranjak dari motornya lalu masuk ke dalam pasar. Ditemuinya satu per satu lapak telah menutup tokonya. Semua dagangan telah rapi dikemas untuk dijual besok. Termasuk tukang bumbu masakan yang menjual terasi.

Sri ke mana?

Sonny langsung menyalakan motornya menuju rumah Sri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab bapaknya Sri dari dalam rumah, sedang memakai sarung.
"Pak, Sri udah pulang belum?" tanya Sonny.
"Belum," bapaknya Sri menggeleng. "Bukannya pergi bareng kamu tadi?"
"Iya, tadi bareng aku. Tadi bilangnya mau beli terasi."
Kemudian ibunya Sri datang.
"Pak, ada kertas ini di atas meja makan," ibunya Sri memberi secarik kertas ke suaminya.
Bapaknya Sri membaca keras-keras. "INGIN ANAK ANDA LULUS UJIAN NASIONAL DENGAN NILAI TERBAIK?"
"Lho, bukan itu, Pak. Di baliknya," kata ibunya Sri mengkoreksi.
"Ih, si ibu. Bilang dong." Bapaknya  Sri membalik kertas.
"Untuk Mas Sonny.." Bapaknya Sri langsung menyerahkan kertas itu ke Sonny. "Kamu aja deh yang baca. Saya lagi sibuk di dalem, main Solitaire di komputer."
Sonny membaca isi kertas itu perlahan sambil bersandar di dinding.

"Mas Sonny, aku minta maaf atas kehilanganku. Aku tau, aku salah baru ngasih tau ini semua. Aku kesulitan buat bicara jujur. Akhirnya aku cuma ninggalin surat ini buat Mas Sonny.
"Aku mau pergi dari semua ini. Aku mau sendiri. Bahkan aku pergi meninggalkan keluargaku, terutama kamu, calon suamiku. Aku udah pesan tiket pesawat ke Manado. Aku nggak tau mau ngapain di sana. Aku mau, kamu lupain aja aku. Maaf membuat kamu kecewa, Mas."

Air keluar dari ujung mata Sonny. Disekanya menggunakan jari telunjuk. Sonny rubuh di sana. Perasaannya hancur seketika.

Sri, tego temen kowe minggat ninggali aku

***

Cerita ini gue buat setelah bertahun-tahun ngedengerin lagunya Sonny Josz berjudul Minggat. Sejak gue kecil, setiap pulang kampung pasti denger lagu ini.

Terimakasih kepada Sonny Josz yang menginspirasi gue membuat cerita ini. Lagunya juga bikin nagih. Nggak pernah bosen dengerin walaupun udah dari dulu.



10 komentar:

  1. Dari si sri bilang mau beli trasi gua udah nebak nih..

    Sri, kapan kowe bali~
    Kowe lungo ora pamit aku~
    Jarene neng pasar, pamit tuku trasi~
    Nganti saiki kowe durung bali~

    Dulung sering diledekin pake lagu ini, karna mamah namanya emang Sri. tapi ga mempan, gua malah ikut nyanyi kalo diledek.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, tau juga lagunya. Lha iya, wong Pekalongan mesti tau :))

      Wuadih, nama ibunya Sri. Cieee, Sri :p

      Delete
    2. HEH APA URUSANNYA BAWA-BAWA PEKALONGAN!!

      Delete
    3. Hahaha, nggak papa. *langsung jiper*

      Delete
  2. Masih ketebak nih, Rob. Buat cerita yang susah ditebak, biar kita lebih fresh bacanya.

    Bdw, inspirasinya bagus juga. Inspirasi bisa datang dari mana aja~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm, oke, Pak Rahul. Tapi biar fresh lagi minum cappucino cincau, sob. Ehehe.

      Delete
  3. Laaah Sri pergi jauh bener. Ke Manado pula. Kasihan Sonny :(

    Sensitif nih kalau baca cerita tentang minggat mendadak kayak begini. Takut kejadian di aku :( Btw, kamu bakat deh nulis cerpen, Rob. Tiap cerpen ada aja ceritanya. Lanjutkan! Lanjutkan main Solitaire juga, Bapaknya Sri! *ini apa dah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perginya nggak tanggung-tanggung, kak. Hwaaah :(

      Wah, wah, makasih, ya. Takut juga kejadia sama "Sri"-ku di masa mendatang *ett, apaan ini?*

      Delete
  4. mas Sonny, kamu harus bisa move on :')
    kalo perlu ganti nama kamu jadi Sonny Ericsson :'D
    boleh juga nih bikin cerpen2 gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadaw, jadi inget hape lama yang merk SE :')
      Mas Sonny harus cepet-cepet punya pacar yang namanya Motorola.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.