24 February 2016

Menggugat Bocoran Soal

Tono mengakui dirinya lemah di pelajaran Ekonomi. Baginya, semua teori-teori yang ada hanyalah bacaan sementara yang mudah dilupakan begitu saja. Seringkali Tono mendapat nilai jeblok di ulangan Ekonomi. Pak Dudung, guru Ekonominya, sudah pasrah setelah melihat track record buruk yang ditunjukan Tono.

Tono bukanlah anak yang nakal. Tono cenderung menjadi anak pendiam di kelas. Tono punya teman namanya Sandi. Bagi Tono, Sandi adalah orang yang selalu memiliki kesamaan pola berpikir. Sandi sangat sebal dengan tukang parkir di sekolah, Tono juga. Tono suka dengan Sosiologi, begitu pun dengan Sandi. Untung keduanya nggak saling suka satu sama lain.

Pak Dudung masuk kelas dengan wajah datar. Nggak ada tanda-tanda mau ulangan harian. Dia mengeluarkan setumpuk kertas yang telah dijepit paper clip di ujung kiri atas. Dia membuka kertas perlahan. "Hari ini bapak mau salah dua dari kalian melihat soal ini," Pak Dudung mengangkat kertas itu ke udara, "ini soal buat besok ujian akhir."
Seisi kelas heboh. Mereka langsung main tunjuk-tunjukan.
"Ini penentuan untuk naik kelas. Saya mau nilai kalian tuntas semua."
Tono menggelengkan kepala, kemudian melirik Sandi yang masih tercengang.
"Nggak nyangka, begini cara guru kita demi nilai siswanya bagus," ujar Sandi. Tono hanya mengangguk.

"Ayo, siapa yang mau liat soal ini," kata Pak Dudung sambil tersenyum. Cewek-cewek di kelas berebut agar bisa melihat soal itu. Saya, pak! Saya, pak, teriak mereka. "Saya mau, dua orang aja yang ngeliat soal ini. Satu cewek dan satu cowok."
Ditunjuklah Wanda dari pihak cewek. Wanda maju ke depan kelas, Pak Dudung memberinya soal. Wanda membalik-balik kertas, memaksa semuanya masuk ke dalam ingatannya. Dua menit telah usai, Wanda kembali ke tempat duduk, dan menulis sesuatu di buku yang diikuti oleh kerumunan cewek-cewek di kelas.

"Sekarang giliran cowok."
Semua cowok di kelas saling menatap. Dari tatapan mereka mengisyaratkan menunjuk orang lain untuk maju. Cowok-cowok di kelas ini memang suka jual mahal dan gengsian. Tono dan Sandi khususnya, yang selalu menolak mendapatkan bocoran mengenai ujian. Mereka paling anti dengan namanya contekan saat ujian.

"Lelaki di kelas ini nggak ada yang mau liat soal? Nggak berani atau gimana?" tanya Pak Dudung dengan nada menyindir. Perdebatan mulai panas. Pihak cewek menyudutkan para cowok di kelas untuk segera ke depan melihat soal. Sedangkan para cowok menunjuk temannya satu sama lain untuk disuruh maju ke depan. Ditunjuklah Tono oleh Lisa.
"Buruan, Ton, ke depan!" paksa Lisa. Dia memang kadang suka memaksa orang.
Tono menggeleng, "Nggak mau!"
"BANCI LO! BURUAN SANA!"
Tono hanya diam. Hati kecilnya berkata ingin melawan. Tapi percuma, karena cewek selalu benar.
"Sabar, Ton. Biar lo dibilang banci, tapi lo punya ideologi!" Sandi menepuk bahu Tono, mencoba menenangkannya. "Sekarang mah, yang salah jadi benar, yang benar nggak dianggap. Lo nggak perlu ikut ambil bagian ke pihak yang salah. Karena, gue sangat setuju dengan pendirian lo yang menolak bocoran soal, apalagi nyontek saat ujian."

Sandi dan Tono dicacimaki oleh teman-teman ceweknya. Sedangkan cowok lain di kelas nggak bisa berkata banyak. Mereka hanya diam saja. Semua cacian tertuju pada Sandi dan Tono. "Sok suci, paling ujung-ujungan mau juga. Munafik!" kata salah satu cewek di kelas. Cacian itu terdengar di telinga Sandi. "Jujur aja, gue kesel dengernya. Mau gue tampol mulutnya!" gerutu Sandi.

"Beneran nih nggak ada yang mau ngeliat soal? Cowok-cowoknya mana? Cemen banget, sih." Pak Dudung terus memaksa. Semua cowok masih diam. Cewek-cewek masih saja menyudutkan Sandi dan Tono agar mau ngeliat soal ujian akhir. Benar-benar soal yang nantinya akan dikerjakan saat ujian.
"Ah, cemen banget cowoknya!"
Tono memundurkan kursinya, berdiri, kemudian mengangkat tangannya. "Saya, pak."
"Nah, gitu dong. Kan jadi cepet."
"Saya mau ngomong dari sini aja," kata Tono dengan suara lantang. "Menurut saya, penilaian bapak dan beberapa teman yang menganggap saya cemen adalah penilaian yang wajar. Saya, lelaki biasa yang sering jeblok di ulangan Ekonomi."
Tono menyambung perkatannya, "Saya menolak dengan tegas cara bapak ini. Saya memang bodoh, tapi saya nggak bisa dipaksa mau untuk mengikuti cara ini. Bagi saya, cara ini malah membuat saya tambah bodoh. Cukup saya bodoh karena sulit memahami materi Ekonomi, bukan ditambah oleh bocoran soal."
"Satu lagi," Tono menelan ludah, "kata ibu saya, yang namanya ujian nggak ada istilah bocoran. Karena ujian diciptakan agar kita mau belajar dari pengalaman, bukan disuapi oleh contekan."

8 comments:

  1. Oke, gue salut sama pendiriannya si tono, nyontek dan dapet hasil skor yang gede emang enak, kalo pas ujian nyontek ngapain belajar senin sampe sabtu. Oh iya, ini ceritanya masih ada sambungannya atau selesai sampe disini min?

    Oh iya, blognya udah gue follow ya, thanks buat artikelnya, bagus dan menginspirasi, ditunggu follow backnya.

    Salam kenal
    Agung Kharisma
    Daily Blogger Pro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, kok min? Nggak ada admin di sini -_-

      Makasih ya!

      Delete
  2. Rob, ini lu nggak lagi mabok lem Fox, kan? :))

    Keren. Gue suka cerpen ini. Yeah, hidup Tono! Meskipun pada kenyataannya kalau melawan guru itu durhaka, tapi bela terus kebenaran. MERDEKA! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barusan abis ngirup tanki motor tetangga nih :))

      Wuidi, ayo kita bela terus kebenaran!

      Delete
  3. Anjay! Keren nih Rob!
    Lebih baik bodoh daripada curang.
    Kalo boleh tau, terinspirasi dari apaan nih? Hahah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwaaah, makasih, bang!

      Setuju! Jangan curang dalam hidup.

      Inspirasi dari... SETELAH PESAN-PESAN BERIKUT INI~

      Delete
  4. Terakhirnya bikin senyum. Senyum kagum sama Tono ya. Bukannya senyum mesum karena Kalijodo kayak postingan kemaren.

    Ternyata cerpen bertema sekolah-sekolahan, nggak harus ada cinta-cintaannya ya. Yang kayak gini malah lebih ngena. Tono menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Murid yang kayaknya udah jarang banget di jaman sekarang :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hueeheey, perbaikan ending rupanya :))

      Yoi dong, kak. Banyak realita yang harus dikuak, dibahas, dan dikupas setajam silit.

      Maap, typo.

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.