29 February 2016

Selama gue ngeblog, gue belum pernah bertemu samasekali dengan blogger di dunia nyata. Wujudnya gimana, orangnya ada atau cuma bot, gue nggak pernah tau. Makanya, waktu ada wacana mau meet up Blogger Jabodetabek, gue pengen ikut. Tapi ada satu yang mengganjal, pasti nggak bakal bisa karena ada latihan drama, pikir gue. Kenyataan berkata lain. Semesta mengizinkan gue buat ikut kopdar karena pada hari yang sama nggak ada latihan drama. Berangkaaat!


Gue sempat bimbang setelah solat Subuh. Mau ikut nggak, ya, batin gue. Tapi kalo nggak ikut pasti cuma nyesel doang. Mumpung acaranya masih di daerah Jakarta, nih, bisikan itu terus terngiang. Gue langsung ingat, dulu Bang Yoga pernah ngajak gue kalo kopdar diadain di Jakarta. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya gue tidur. Nggak tau, dodol banget gue waktu itu.

Tidur pun cuma sebentar, belum sampai mimpi. Selagi merem, gue terus terbayang suasana ngumpul. Mengingat-ingat muka mereka yang sering dipajang di blog masing-masing. Tidur gue nggak nyenyak. Walaupun pada akhirnya gue tidur juga 15 menit. Gue liat jam:7.00
Gue langsung siap-siap. Untung jamnya gue cepetin 30 menit.

Maaf, mas. Ini mana cerita kopdarnya, ya?

Sabar. Ini mau berangkat.

Untuk menuju halte Rawa Buaya, gue naik angkot. Jam 7 pagi di dalem angkot belum terlalu rame, cuma gue dan beberapa orang bapak-bapak. Di depan gue ada seorang bapak, umurnya sekitar 30-an, pakai polo shirt sambil menggendong tas, di dalamnya ada tas raket sehingga muncul keluar.

Sampai di halte, gue ngecek isi tas. Astagfirullah, gue lupa bawa e-ticket. Gue mulai panik. Karena syarat utama buat masuk TransJakarta harus bayar, sedangkan pembayaran harus pake e-ticket (yang bentuknya berupa kartu). Tiba-tiba mental minta dikasihani gue berbicara. Gue nyari orang yang keliatannya baik. Sambil masang muka panik, gue liat ada ibu-ibu. Aha! Ibu-ibu, kan, selalu baik. 

"Bu, boleh nggak saya bayar tiket sekalian pake kartu ibu? Saya nggak bawa tiket," kata gue sambil dimelas-melasin. Mata gue harus meyakinkan dalam berperan kali ini. Harus banget dikasihani.
"Saldonya tinggal 3900," ucap ibu-ibu itu. Herannya, ibu-ibu itu nyengir. "Coba ke orang di belakang."
Sedih amat, Bu, batin gue. Gue melihat satu orang di belakang gue. Bapak-bapak berpolo shirt biru belang-belang, berdiri tepat di belakang gue. "Ini, kan, orang yang tadi seangkot sama gue?" batin gue. Gue minta tolong, mengulangi perkataan sewaktu meminta tolong ke orang sebelumnya. Bapak itu diam, seperti berpikir sesuatu. Dengan satu anggukan dan senyuman, dia bilang, "Ya udah."
Gue tersenyum. Kemudian datang pemuda berbaju rapi, mengajak bapak itu ngobrol menjauhi gue, lalu dia dapat uang. Oh, ternyata bapak itu masuk acara Minta Tolong. 

Kita berdua berdiri nunggu bus datang. Selagi menunggu, bapak itu nanya ke gue. Mau ke mana, tanyanya. Gue jawab, Grogol. Bapak itu tersenyum lagi. Bapak itu sangat murah senyum. Jadi pengen bilang, "Adopsi saya, Pak! Adopsi saya!!" Tapi gue inget masih punya bapak di rumah.

Seharusnya sewaktu ditanya, gue menjawab Garuda Taman Mini. Berhubung transit dulu di Grogol, makanya gue bilang turun di Grogol. Sampai di halte Grogol, gue ketinggalan bus. Untungnya bus itu nggak melewati Garuda Taman Mini, gue agak lega. Bus berikutnya datang, tujuannya sama. Gue naik, melihat kursi kosong. Nggak ada. Tapi, gue ngeliat bapak-bapak berpolo shirt itu lagi. Udah sampe Grogol masih ketemu juga? Apa ini kebetulan? Setelahnya gue nggak liat dia lagi.
Singkat cerita, gue tiba di pintu masuk 3 TMII. Yang gue tau, TMII itu luas banget. Yang gue nggak tau, gue harus mulai semua ini dari mana?

Di grup WhatsApp udah muncul beberapa orang.


Sekitar 15 menit gue duduk, makan roti goreng yang mama gue beli tadi pagi. Sambil makan roti, gue ngeliatin tukang gelembung sabun. Gue menyapun pandangan ke area sekitar sini. Gue liat ada dua orang lagi foto tugu itu. Keduanya pake kacamata. Dia berjalan kemudian menghilang. Gue ngecek hape, ada chat masuk yang nomornya nggak gue ketahui. Gue liat nomornya, ada di grup WA. Bang Dika.

(((Tawaf monas monasannya)))
.
Setelah gue ngirim pesan begitu, ada dua orang melambaikan tangan ke gue. Gue datangi tempatnya berasal. Seseorang menyambut gue dan mengulurkan tangan, "Robby ya? Gue Darma."
Darma? Darma Kusumah, nih. Blogger pertama yang gue jabat tangannya. Asyik dah.
Gue salaman ke semua orang. Mereka nyebutin nama, begitu juga gue. Satu orang membuat gue kaget. "Yoga," kata orang berkacamata itu. Gue liat mukanya, "Perasaan ini orang yang gue liat waktu gue makan roti, deh."

Sambil nunggu yang lain, kami saling kenalan. Di sini, gue nggak terlalu banyak ngomong, cuma dengerin mereka doang. Kadang sesekali ikutan nimbrung. Baru mau ngomong kalo udah ditanya. Cowok banget, kan?

Kami semua pindah sambil nyari tempat ngobrol yang lebih enak lagi, namun gerimis turun. Kami semua berteduh di dalam di Museum Penyiaran, sekalian nunggu teman-teman yang lagi di jalan.

Gerimis berhenti. Kami berkumpul di dekat danau di anjungan Sumatra Barat. Selain gue, kopdar diikuti oleh Yoga, Haw, Dicky, Reza, Darma, Salam, Dian, Dibah, Lulu, Aziz, Rizal, Dika, dan 3 teman Lulu. Hmmm... harusnya gue nulisnya pake "kak" atau "bang" gitu. Secara, mereka lebih tua daripada gue. Masih melakukan hal yang sama: ngobrol, perkenalan diri, sharing ilmu, diskusi kecil-kecilan, dan tentu saja.. menggibah.

Makanan ber-MSG dikeluarkan. Oh, makanan yang kadang bikin bego ini membuat obrolan kadang ngawur. Ya, beberapa obrolan seru mungkin karena dipengaruhi makanan ber-MSG ini. Sayang banget, nggak bisa gue tulis di sini karena sifatnya rahasia. Cukup kami aja yang menikmati itu semua. Muehehehe.

Obrolan asin
Setelah solat Zuhur, kami pindah ke Istana Anak-anak buat makan siang. Kami memilih tempat yang mirip panggung sambil nonton mbak-mbak nyanyi lagu Rita Sugiarto yang judulnya Oleh-oleh.

Apa yang kami lihat?

Subhanallah

Di sini, gue ingat percakapan yang agak lumayan.
"Lu masih sekolah, Rob?"tanya Bang Aziz
"Masih. Kelas 2 SMA, bang."
"Loh, gue kira udah kuliah semester 4."
Jleb!

Ya, percakapan yang bakal gue ingat. Selamanya. Huhuhu.

Di Istana Anak-anak, kami nggak naik wahana-wahana, seperti gondala (kereta gantung), atau yang lain. Alasannya mahal. Gue lupa siapa yang ngomong, ada percakapan begini:
Orang 1: Berapa naik gondala?
Orang 2: 30 ribu
Orang 1: Itu kalo naik kereta api bisa sampai Bandung.

Gue ketawa. Sampai sekarang gue masih ingat itu, dan tetap lucu. Ya kali, dibandinginnya sama kereta api

Pokoknya, kopdar kemarin gue kenyang foto. Setiap lewat tempat bagus, ambil gambar. Sempat ada ketegangan ditunjukkan Bang Rizal waktu mau motret pake kameranya. Kamera dia hampir jatuh dan kami semua syok. Yang tegang nggak cuma dia, tapi ikut terasa ke kami.
Semua foto yang di-share di grup WA gue simpen semua. Hasil jepretannya Bang Aziz dan Bang Rizal bagus-bagus. Beda banget sama kamera hape gue.

Ini di deket musola Istana Anak-anak

Ini di kastil peninggalan Prancis :p

Di depan Mueseum Penyiaran

Nyasar ke Padang. KITA DI MANAAA??!

Shooting azan Indosiar
ki-ka: Dika, Salam, Gue, Darma, Haw

Gue pulang dibonceng Bang Aziz sampai perempatan Tamini, kemudian gue lanjutkan naik TransJakarta. Masih dalam kepanikan yang sama, gue minta tolong ke orang lain biar gue bisa naik TransJakarta. Orang baik itu adalah seorang bapak. Hari itu, hampir semua laki-laki berbuat baik kepada gue. Uuuhh, akhirnya gue tau harus mencintai siapa. Ya, PEREMPUAN LAH!

Sampai di depan rumah, gue mampir ke warung langganan beli minum. Saat gue membayar minuman yang gue beli, penjaga warungnya nanya ke gue, "Udah kuliah ya? Kuliah di mana?"
"Masih sekolah, bang."
Cukup deh hari itu gue dianggap sebagai mahasiswa. Yang penting gue suka kopdar.

Spesial gue tulis ini di tanggal 29 Februari. Nggak tau alasan pastinya, lagi kepengen nutup akhir Februari dengan tulisan yang mengenang.

Kalo ada cerita yang kurang, bisa cek blog yang namanya tadi gue sebutin. Daya ingat gue kurang kuat. Buat yang lain, kutunggu tulisannya ;)

26 February 2016

Hujan yang mengguyur Jakarta sepanjang Jumat (26/2) pagi membuat beberapa daerah terkena banjir. Dampaknya, gue harus bangun cepet biar nggak kelabakan kalo misalnya nggak ada angkot lewat. Ya, ini demi ngejar waktu untuk nggak terlambat, karena mulai hari ini sampai minggu depan, gue menghadapi UTS. Ya Allah, beri hambaMU kekuatan.

Imbasnya, mes tempat gue tinggal, kebanjiran.

Gambar diambil dari depan rumah | Takut ada buaya lewat situ

Ada yang sadar nggak, sih, bulan Februari ini ada hal istimewa apa? Ya, Februari ini ada 29 hari.

Oh, biasa aja ya? Nggak istimewa banget dong.

Nggak usah banyak babibu lagi, gue mau share mini-podcast gue yang ketiga, membahas tentang makanan. Kenapa makanan? Karena gue tertantang dengan sebuah kalimat di blognya Yoga Akbar Sholihin. Klik ini untuk baca.

Langsung aja, podcastnya ada di bawah. Selamat mendengarkan.



Kalo nggak bisa, klik ini.

Dengarkan juga podcast dari teman-teman blogger lainnya:

About Moderation Comment - Heru Arya

PKK EP.3 - Chitato Rasa Indomie Goreng, Rio Haryanto, dan Masa SD - Kresnoadi DH

24 February 2016

Tono mengakui dirinya lemah di pelajaran Ekonomi. Baginya, semua teori-teori yang ada hanyalah bacaan sementara yang mudah dilupakan begitu saja. Seringkali Tono mendapat nilai jeblok di ulangan Ekonomi. Pak Dudung, guru Ekonominya, sudah pasrah setelah melihat track record buruk yang ditunjukan Tono.

Tono bukanlah anak yang nakal. Tono cenderung menjadi anak pendiam di kelas. Tono punya teman namanya Sandi. Bagi Tono, Sandi adalah orang yang selalu memiliki kesamaan pola berpikir. Sandi sangat sebal dengan tukang parkir di sekolah, Tono juga. Tono suka dengan Sosiologi, begitu pun dengan Sandi. Untung keduanya nggak saling suka satu sama lain.

Pak Dudung masuk kelas dengan wajah datar. Nggak ada tanda-tanda mau ulangan harian. Dia mengeluarkan setumpuk kertas yang telah dijepit paper clip di ujung kiri atas. Dia membuka kertas perlahan. "Hari ini bapak mau salah dua dari kalian melihat soal ini," Pak Dudung mengangkat kertas itu ke udara, "ini soal buat besok ujian akhir."
Seisi kelas heboh. Mereka langsung main tunjuk-tunjukan.
"Ini penentuan untuk naik kelas. Saya mau nilai kalian tuntas semua."
Tono menggelengkan kepala, kemudian melirik Sandi yang masih tercengang.
"Nggak nyangka, begini cara guru kita demi nilai siswanya bagus," ujar Sandi. Tono hanya mengangguk.

"Ayo, siapa yang mau liat soal ini," kata Pak Dudung sambil tersenyum. Cewek-cewek di kelas berebut agar bisa melihat soal itu. Saya, pak! Saya, pak, teriak mereka. "Saya mau, dua orang aja yang ngeliat soal ini. Satu cewek dan satu cowok."
Ditunjuklah Wanda dari pihak cewek. Wanda maju ke depan kelas, Pak Dudung memberinya soal. Wanda membalik-balik kertas, memaksa semuanya masuk ke dalam ingatannya. Dua menit telah usai, Wanda kembali ke tempat duduk, dan menulis sesuatu di buku yang diikuti oleh kerumunan cewek-cewek di kelas.

"Sekarang giliran cowok."
Semua cowok di kelas saling menatap. Dari tatapan mereka mengisyaratkan menunjuk orang lain untuk maju. Cowok-cowok di kelas ini memang suka jual mahal dan gengsian. Tono dan Sandi khususnya, yang selalu menolak mendapatkan bocoran mengenai ujian. Mereka paling anti dengan namanya contekan saat ujian.

"Lelaki di kelas ini nggak ada yang mau liat soal? Nggak berani atau gimana?" tanya Pak Dudung dengan nada menyindir. Perdebatan mulai panas. Pihak cewek menyudutkan para cowok di kelas untuk segera ke depan melihat soal. Sedangkan para cowok menunjuk temannya satu sama lain untuk disuruh maju ke depan. Ditunjuklah Tono oleh Lisa.
"Buruan, Ton, ke depan!" paksa Lisa. Dia memang kadang suka memaksa orang.
Tono menggeleng, "Nggak mau!"
"BANCI LO! BURUAN SANA!"
Tono hanya diam. Hati kecilnya berkata ingin melawan. Tapi percuma, karena cewek selalu benar.
"Sabar, Ton. Biar lo dibilang banci, tapi lo punya ideologi!" Sandi menepuk bahu Tono, mencoba menenangkannya. "Sekarang mah, yang salah jadi benar, yang benar nggak dianggap. Lo nggak perlu ikut ambil bagian ke pihak yang salah. Karena, gue sangat setuju dengan pendirian lo yang menolak bocoran soal, apalagi nyontek saat ujian."

Sandi dan Tono dicacimaki oleh teman-teman ceweknya. Sedangkan cowok lain di kelas nggak bisa berkata banyak. Mereka hanya diam saja. Semua cacian tertuju pada Sandi dan Tono. "Sok suci, paling ujung-ujungan mau juga. Munafik!" kata salah satu cewek di kelas. Cacian itu terdengar di telinga Sandi. "Jujur aja, gue kesel dengernya. Mau gue tampol mulutnya!" gerutu Sandi.

"Beneran nih nggak ada yang mau ngeliat soal? Cowok-cowoknya mana? Cemen banget, sih." Pak Dudung terus memaksa. Semua cowok masih diam. Cewek-cewek masih saja menyudutkan Sandi dan Tono agar mau ngeliat soal ujian akhir. Benar-benar soal yang nantinya akan dikerjakan saat ujian.
"Ah, cemen banget cowoknya!"
Tono memundurkan kursinya, berdiri, kemudian mengangkat tangannya. "Saya, pak."
"Nah, gitu dong. Kan jadi cepet."
"Saya mau ngomong dari sini aja," kata Tono dengan suara lantang. "Menurut saya, penilaian bapak dan beberapa teman yang menganggap saya cemen adalah penilaian yang wajar. Saya, lelaki biasa yang sering jeblok di ulangan Ekonomi."
Tono menyambung perkatannya, "Saya menolak dengan tegas cara bapak ini. Saya memang bodoh, tapi saya nggak bisa dipaksa mau untuk mengikuti cara ini. Bagi saya, cara ini malah membuat saya tambah bodoh. Cukup saya bodoh karena sulit memahami materi Ekonomi, bukan ditambah oleh bocoran soal."
"Satu lagi," Tono menelan ludah, "kata ibu saya, yang namanya ujian nggak ada istilah bocoran. Karena ujian diciptakan agar kita mau belajar dari pengalaman, bukan disuapi oleh contekan."

20 February 2016

Untuk saat ini, gue nggak akan nulis dengan satu topik. Cuma mau nulis apa aja yang ada di kepala, menyeleksi, dan.... semoga suka. Ehehe.

Pertama, datangnya dari sendal gue. Gue punya sendal jepit favorit (dan satu-satunya), merknya Bata. Sendal andalan setiap pergi keluar rumah, selain sekolah. Ke tempat les, Indomaret, dan kadang mushola. Iya dong, ke mushola harus pake sendal yang terbaik.

Bisa dibilang, sendal ini jadi obat sakit hati gue dari kehilangan sendal Carvil yang hilang waktu bulan Ramadan di Bekasi. Ceritanya pernah gue tulis di sini. Makanya, gue cinta banget sama sendal ini. Sayangnya, sendal ini pernah putus di bagian depannya. Ironisnya, sendal itu putus waktu gue dateng ke acara stand up comedy. Pertama, sebelah kiri putus di acara Stand Up Festival 2015. Kedua, sendal sebelah kanan di acara lomba stand up comedy di Museum Nasional, Jakarta Pusat. Keduanya berhasil disol sama mama gue. Makasih banyak untuk Mama. Love-love lah pokoknya.
 
Karena dua kejadian itu, gue jadi takut buat ikut acara stand up lagi. Bisa aja, kalo gue udah punya pacar, kemudian kita nonton acara stand up, berakhir dengan putus hubungan. Agak serem juga, nih, mitos dalam hidup gue.

Pagi ini gue ada les. Seperti biasa, gue naik angkot, kemudian jalan sekitar 5 menit. Begitu jalan di trotoar BSI Cengkareng,

DUKKKK

Kaki kiri gue kesandung. Gue ngeliat ke bawah, lalu melihat kenyataan pahit... dua tali sisi sendal lepas. Gue coba masukin tali ke lubangnya, tapi tetep aja lepas. Ini perjalanan ke tempat les masih jauh, masa gue harus maksain pake sendal. Terpaksa deh, gue nyeker satu kaki. Begitu deket tempat les, gue paksa make sendal yang lepas. Jadinya, jalan gue mesti nyeret-nyeret dulu. Sendal begini mah, jadiin gawang aja dah. Kalo nggak buat nyambit mangga, batin gue, kesal.

Bata: tidak sekuat yang dibayangkan

***
 
Akhir-akhir ini, rumah gue selalu rame. Ini karena kedatangan dari sebuah speaker yang baru dibeli Bapak. Tiap malem dengerin lagu dangdut koplo yang dia dapet dari temennya. Hal ini juga jadi penghalang gue buat bikin rekaman podcast, ketunda mulu jadinya. Gue sih seneng-seneng aja kalo disetelin dangdut koplo, malah gue suka sama genre lagu itu, masalahnya cuma satu: kadang lagu dangdut koplo suka nambahin lirik seenaknya.

Sambil nulis tentang sendal gue lepas, yang baru aja kalian baca, gue dengerin lagu yang disetel bapak gue di kamar depan. Lumayan lah, ada lagu pengiring sambil nulis, kata gue. Sampai lagu itu terus berganti, kemudian berputar lagu Satu Jam Saja, tapi versi koplo. Lebih tepatnya, waktu konser live direkam. Nggak yakin konser juga, sih. Paling hajatan.

Untuk dua reff pertama, gue serasa lagi nulis di tengah-tengah acara hajatan. Di depan laptop, ngetik-ngetik, dengan iringan dangdut koplo. Asyik banget.
Seperti dangdut koplo pada umumnya, sang backing vokal, mengeluarkan lirik-lirik aneh. Tau, kan, yang biasanya ada di acara YKS. "Jigidaw.. jigidaw.. awwweee awwwweee." Yang gitu-gitu deh, nggak tau pastinya gimana.
Di lagu itu, dia niruin suara monyet (tadinya mau gue tulisin, tapi bingung juga gimana suara monyet kalo ditulis. Masa begini: "U u aaak aaaak".)
Setelah reff kedua, penyanyi utama nambahin lirik.
"SEEKOR KERA TERPURUK TERPERANGKAP DALAM GUA..."

Lagu Satu Jam Saja dicampur soundtrack opening Kera Sakti. Nyambung banget, kan. Bisa jadi, si penyanyi ini penggemar serial Kera Sakti. Dia nyanyi sesuai dengan durasi Kera Sakti, satu jam saja. Bisa jadi.

Belum selesai sampai di situ, sambil nulis ini, gue mendengar percakapan antara Mama dan Bapak.

Mama: Pak, denger-denger ada kuntilanak, ya, semalem? Kamu ngeliat nggak?
Bapak: Ngeliat. Di kandang ayam
Mama: Kok kamu nggak takut?
Bapak: Ngapain takut. Malah kuntilanaknya yang takut, kalo saya telanjang.

Gue dari dalem kamar cuma tepuk tangan, geleng-geleng keheranan. Ini bisa jadi cara cemerlang saat menghadapi ketakutan; dengan nakutin balik, atau pura-pura kesurupan. Mungkin ini pengaruh dari berita yang sering dia tonton di TV. Lebih kurang beritanya kayak gini:



Hmm... gitu aja sih yang bisa gue tulis. Kadang ide waktu nulis bisa bertumpuk, dan semuanya pengen dikeluarin. Ya udah, gue keluarin semua deh yang ada.

Bentar lagi UTS. Oke, akan ada pertumpahan keringat sepertinya. Gerah.

18 February 2016

Ada sebagian orang bilang, "Turunnya air dari langit ke bumi, berbarengan dengan menguapnya kenangan". Bagi gue, "Turunnya hujan, naiknya air got, menimbulkan kepanikan hebat". Gimana nggak panik, daratan di daerah rumah gue termasuk rendah. Bisa dibilang, hujan deres sejam bisa bikin banjir seharian.

Namun, di sela-sela hujan beberapa hari yang lalu, gue merenung. "Alhamdulillah, tahun ini nggak banjir." Ya, jelas gue bersyukur karena tahun ini nggak banjir. Bisa dibayangin gimana repotnya kalo semua jalanan tergenang air. Belum lagi, penyakit yang datang setelahnya; kaki kena kutu air, diare berkepanjangan, sampe badan gatel-gatel kena air banjir.


Cerita tentang banjir paling banyak datangnya dari zaman gue SD sampe SMP.

Dulu, waktu di mes (tempat tinggal kayak kontrakan, tapi dibuat khusus untuk para pekerja perusahaan) masih rame, gue sering banget main banjiran. Pokoknya, kalo udah tau di dalem rumah banjir (iya, rumah gue kemasukan air), pasti gue bakal keluar, main sama temen-temen. Paling mainstream; nyari ikan. Nyari got yang dikerumuni orang, terus ikut-ikutan nyari ikan. Nggak cuma nyari ikan, kami juga nyari korban. Lebih tepatnya, ngorbanin temen biar diomelin mamanya. Misalnya, diceburin ke banjiran sampe badan basah semua. Teman macam apa ini.

Temen-temen gue emang kadang jahat sama temen sendiri. Contohnya, waktu itu temen-temen baru aja keluar mes, menuju jalan raya. Kami semua ngerencanain mau ke mana banjir-banjirannya. Kami bingung. Tiba-tiba, Herman (nama disamarkan) berlari, ngejar-ngejar mobil satpol pp yang jalannya terhambat banjir. Mobil satpol pp itu terbuka di bagian belakang, cuma ada bangku panjang, dan nggak ada petugas di sana. Herman berlari, akhirnya berhasil naik. Dia duduk, lalu melambaikan tangan ke kami semua.

Kayaknya ini adegan banjir-banjiran paling manis yang pernah ada.

Begitu mobil itu jalan jauh, seorang temen gue berlari, masuk ke mes menuju rumah Herman. Ternyata, dia ngadu ke bapaknya Herman. Sekitar setengah jam meninggalkan kami, Herman balik lagi ke mes. Belum sampe rumahnya, Herman dicegat bapaknya. Bapaknya Herman nyamperin anaknya yang dalam keadaan nggak tau apa-apa sambil cengengesan, ditendang bapaknya sampe kecebur di air banjiran. Bapaknya Herman ngomel-ngomel, Herman mencoba bangun, kemudian lari menuju rumah. Tetep, dia masih cengengesan.

Kayaknya ini adegan banjir-banjiran paling menyedihkan yang pernah ada.

Sejak kecil gue udah dipertontonkan contoh penghianatan seorang teman. Seandainya waktu itu Herman diselamatkan ke langit, kemudian temen gue yang ngaduin mukanya diubah jadi mirip Herman, dan dia ditendangin. Wow, seperti kisah yang pernah gue baca.

Selain nyari ikan, kegiatan gue saat banjir adalah berenang-berenangan. Atau di daerah gue disebut ngobak. Gue paling sering diajakin sama temen-temen mes. Ritual paling pertama kami lakukan adalah kabur diam-diam biar nggak ketauan orang tua. Karena kami tau, ngobak saat banjir sangat dilarang orang tua. Bisa-bisa ditendangin kayak Herman. 

Tempatnya selalu sama: di jalan yang bersebelahan dengan kali. Setiap air kali meluap, jalan di sana selalu banjir. Nggak tanggung-tanggung, biasanya ketinggian banjir bisa sampe dada orang dewasa.
Gue pernah ikut ngobak sampe bolos ngaji. Dengan gembira, gue pegangan sterofoam yang ceritanya jadi pelampung. Nggak mikirin gimana reaksi orang tua, gimana anaknya malah lebih milih ngobak dibanding ngaji. Bayangin, seandainya gue mati saat ngobak, apakah ada nilai pahala di dalamnya? Tentu tidak!

Wow, barusan gue ngomong apa?

Setelah ketauan gue nggak mau ngaji, mama gue nggak marah. Cuma, dia bilang gini, "Kalo besok mau ngobak di deket kali lagi, ya udah. Tapi, denger-denger, katanya di sana ada buaya putih."
Namanya anak kecil, dibilangin begitu pasti takut. Gue nggak mau ngobak lagi.

Orang udah surut. 


Tapi, di umur-umur belasan, gue mulai mikir, "Kan kali itu airnya kotor, banyak limbah, mana ada buaya putih, ya?!" Anak-anak gampang banget ditakutin sama hal-hal yang berbau buaya. Gue takut aja kalo suatu saat nanti, pemikiran bahwa buaya adalah hewan menakutkan, bakal terbawa sampe dewasa. Nggak bakal ada yang namanya upacara seserahan roti buaya pas lamaran.

"Ih, nggak mau. Takut buaya! Gak mau nikah! Bisa nggak roti buayanya diganti aja sama kue cincin?"
 
Waktu rumah gue paling rendah di antara rumah orang-orang di mes, dapur gue pernah kemasukan ikan betok. Masih hidup. Berenang, seolah gangguin mama gue masak. Mama gue berhasil nangkep ikan itu, dan yeah, dipamerin ke gue. Akhirnya gue seneng. Seneng itu sederhana.
Pernah ada ikan yang masuk ke dalem rumah, tapi cuma ikan gapi. Gue tangkep, dan gue lepasin. Percuma juga, sih, kalo gue lepasin. Bisa aja ikannya masuk lagi.

Itu semua saat gue masih SD. Menginjak jenjang SMP, gue mulai berpikiran maju, dengan cara nyari duit saat banjir.

Kebanyakan temen seangkatan gue waktu SD dulu udah pada pindah rumah. Jadi agak nggak seru, soalnya di lingkungan mes cuma gue yang udah SMP. Kalo mau tetep seru-seruan waktu banjir, gue cuma bisa ngajak anak-anak SD kelas 2 sampai 3.

Nyari duit emang bisa di mana aja, dan kapan aja. Kita semua tau, contoh besarnya ada di depan minimarket kesayangan kita. Ya.. tukang parkir yang tiba-tiba nadahin tangan.
Gue juga dulu begitu waktu banjir. Dorongin motor yang mogok, tanpa dikasih komando. Dateng-dateng ngedorong motor. Giliran motornya udah nggak mogok, gue nadahin tangan, motornya jalan. Ya sudahlah, gue mencoba ikhlas. Padahal dalam hati, "Gue sumpahin kecebur di area banjir selanjutnya lo! Kalo bisa dimakan sama buaya putih!"

Dapet duit, pernah kok. Waktu itu, gue ngedorong motor. Pengendaranya bapak-bapak keturunan Tionghoa. Gue ngedorong motor ini bertiga. Selesai ngedorong, kami dikasih 10 ribu. Otomatis bagi-bagi warisan dilakukan. Seperti pada permasalahan bagi-bagi warisan pada umumnya, kami bertiga berantem. Gue, dengan label orang tertua di kelompok ini, meminta jatah lebih.
"Apa-apaan lu, mas. Gue tadi ngedorong paling kenceng." Moncos (nama samaran) marah-marah ke gue.
"Gue, kan, paling tua," kata gue, tersenyum licik.
"Ah, bodo amat! Gue mau dapet lebih, atau gue bilangin mama gue," ancam Moncos, seperti seorang anak seusianya. Suka ngadu ke orang tua.
Tiba-tiba Ramdan (nama samaran) datang, melerai. "Udah, udah. Jangan ribut. Mending kita beliin gorengan atau es, nanti dinikmatin bareng-bareng."
"GAK MAU!" jawab gue dan Moncos kompakan.

Akhirnya, dengan kelapangan hati, kita semua sepakat, uangnya dibagi rata 3 ribu. Seribunya buat beli es, dengan bergantian nyedot.

Kalo dipikir-pikir, seru juga waktu zaman masih polos. Tapi, jadi nggak seru kalo misalnya gue menikmati banjir di usia sekarang. Dikira nggak punya perasaan, seneng-seneng di atas penderitaan banyak orang. Jadi, gue cukup senang dengan banjir, dulu, waktu masih belum mikir.

16 February 2016

Setiap media sosial punya cirinya masing-masing. Facebook identik dengan orang-orang setia. Kenapa gue bilang gitu? Sebelum media sosial semeledak sekarang, Facebook-lah yang pertama kali digandrungi. Makanya, keren gitu kalo ada yang masih jadi pengguna tetap Facebook sampe sekarang. Tenang, Facebook masih seru, kok. Kecuali kalo masih berteman dengan akun yang namanya aneh-aneh.

Selanjutnya, Twitter, yang lebih identik dengan orang-orang kreatif. Bayangin, batasan karakter membuat penggunanya mikir berulang-ulang untuk nge-twit. Gila, nge-tweet aja harus mikir dulu. Udah kayak ulangan harian aja. Ya, emang harusnya gitu, sih. Sebelum berkicau, dipikir-pikir dulu. Jangan sampe karena salah berkicau malah bikin hidup jadi kacau.

Lalu, gue baru install aplikasi yang udah nge-hits di kalangan anak muda. Yak, adalah Path yang membuat gue penasaran pada media sosial yang satu ini. Bagi sebagian orang, mereka bilang kalo Path cuma diisi orang-orang kaya. Path nggak bersahabat dengan kaum menengah. Sebenernya bisa-bisa aja buat semua orang. Misalnya, pengemis.

"Ngemis pagi. Location: Lampu merah Cengkareng."

Dulu gue sempet nolak dengan tegas main Path. Bukan pertama kalinya gue jilat ludah sendiri karena ngecap akun media sosial yang alay, dulu gue pernah bilang yang  main ask.fm itu norak. Nyatanya gue malah ketagihan kalo ada yang nanya-nanya di ask.fm.

"Kak, ngemis di mana pagi ini?" - Anon

Syetaaan. 

Gue penasaran dengan kata-kata teman gue. Naluri pemuda gue yang suka coba-coba membuat gue meng-installnya. Sejam setelah berhasil di-install, gue add satu temen gue. Abis itu, gue nggak nemuin keseruan apa-apa. Akhirnya, berujung dengan uninstall. Kalo diitung-itung, belum ada sejam aplikasi ini nangkring di hape gue.

Sekitar dua bulan kemudian, gue mendapat bisikan iblis. Bisikannya berbunyi, "Ayo, Rob. Install Path."
"Ah, males. Udah pernah nyoba."
Gue ngeliat temen gue yang lagi buka Path. Kemudian dia scroll down timeline. Gue meninggalkan dia dan fokus ke hape gue sendiri.
Besoknya, gue install Path. Lagi.

Untuk kedua kalinya, temen Path gue bertambah jadi 4. Gue mulai nyoba buka-buka fitur Path yang sebelumnya nggak sempet gue buka. Ternyata, asyik juga, pikir gue saat itu. Kayaknya warna merah (warna dominan tampilan Path) yang menghipnotis gue berpikiran seperti itu. Entah warna merah itu bisa menghipnotis atau nggak, tapi keliatannya keren di mata gue.

Merasa nggak puas dengan isi timeline yang cuma dia dia doang, gue nyoba buka Path di hape temen gue yang lain. "Gila, timelinenya berwarna banget," kata gue. Momen yang di-share juga bervariasi. Ada yang dengerin musik, ada yang share foto, dan satu menurut gue yang aneh, ada yang ngasih tau... kalo dia lagi nonton Dora The Explorer. Penting banget. Di sana tertulis:

Now watching Dora The Explorer. Lengkap dengan icon kecil bergambar Dora yang keliatan pusernya. 

Menurut gue, orang ini nggak bisa milih kegiatan yang bermanfaat sedikit. Kita semua tau (atau cuma gue), kalo Dora The Explorer tayang pagi hari. Nah, kenapa orang ini nggak milih tidur aja dibanding nontonin anak-cewek-bawa-bawa-monyet-yang-kerjaannya-nanya-mulu? Minimal bantu-bantu ibunya nyuci gitu.

Kalo ternyata nggak nonton di TV, ternyata nonton streaming itu lebih parah lagi. Kenapa harus nonton Dora secara streaming? Ditambah share momen di Path. Kuota lebih boros dua kali!

Path masih tersimpan di memori hape gue. Gue ingat, beberapa hari sebelumnya, gue mulai nyoba share momen. Waktu itu gue iseng, kemudian buka Path. Berhubung gue lagi jatuh cinta sama lagu The Rain yang Gagal Bersembunyi, gue nge-share lagu itu di timeline. Di situ tertulis:

Sedang mendengarkan The Rain - Gagal Bersembunyi

Astagfirullah, gue baru sadar... kalo gue lagi nggak denger musik! Dosa banget nih gue, ngebohong di Path.

Lalu, gimana dengan orang-orang lain?

Mungkin, orang yang tadi juga lagi bohong. Sebenernya dia nggak lagi nonton Dora. Cuma karena iseng kayak gue, dia share momen.

Jadi, gue mulai berkesimpulan, "Kebanyakan orang-orang di Path adalah fake people". Gue juga sempat membuat kepanjangan dari kata Path.

 
1) PATH: Perkumpulan Anak Tidak Hemat
Gimana nggak hemat, apa pun yang di-share pasti belinya pake duit. Misalnya, iseng nggak punya bahan buat di-share, tapi duit melimpah. Akhirnya pergi ke Mekkah, cuma buat share momen. Dengan foto Ka'bah plus caption: "Kebetulan mampir sini."

2) PATH: Pamer Apa Pun Tak Heran
Ada lagi, gue pernah liat di hape temen gue, foto orang. Tapi cuma kaki doang. "Maksudnya apa nih?" pikir gue. Apa emang anggota tubuhnya cuma kaki doang, atau gimana. Ini share momen yang paling dibikin-bikin. Udah gitu, pamer lagi.

Foto kedua kaki yang selonjoran dengan caption "Berangkat sekolah".

Ingatlah sodara, jika kamu mau berangkat sekolah, janganlah pamer. Karena berangkat sekolah ada suatu kegiatan ibadah yang tidak perlu diketahui banyak orang. Cukup Tuhan, orang tuamu, sopir angkot atau tukang ojek aja yang tau. Ya, itu sih kalo kamu naik ojek atau angkot. Kalo naik kereta, berarti cukup masinis aja yang tau. Tapi nggak yakin juga kalo masinis ngeliatin satu-satu penumpang.

3) PATH: Pamer Aja Terus, Hih!
Masih dari timeline Path temen gue (Path gue bener-bener sepi. Makanya gue bisa tau dari temen gue), ada yang nge-share momen dengan rentang waktu beberapa menit. Mending kalo yang dipamerin bermutu. Misalnya pamer foto berduaan sama lawan jenis dengan jeda waktu yang singkat dengan caption yang sama: "Bareng pacar."

Wow!

Sebenernya Path, dan media sosial yang lain, bisa jadi media yang bermanfaat untuk menyebarkan informasi yang lebih bermanfaat. Contohnya, kalo ada mudik gratis, infoinlah ke timeline. Kita semua kan tau kalo tiket bus waktu lebaran mahalnya bukan main.

Oke, ini serius ya. Gue nggak main-main.

Hmmm.. cukup segini aja pandangan gue tentang Path. Gue nggak mau dikecam sama temen-temen yang mengaku dirinya "anak hitz". Nanti blog gue dipamerin di timeline-nya lagi. Hahaha, mana mungkin juga begitu.

13 February 2016

Kegiatan sekolah membuat minimnya "me time" yang gue miliki. Biasanya, tiap malem bisa nulis draf, tiba-tiba ketiduran karena udah kecapekan sekolah. Giliran pas nggak sekolah, nggak ada yang sama sekali ditulis karena keasyikan main becekan di luar rumah. Nggak, nggak segitunya kok, mentang-mentang Jakarta lagi hujan terus. Alhamdulillah, cuma becekan aja yang ada di daerah rumah gue. Belum banjir.

Bukan cuma kegiatan belajar di sekolah aja yang bikin gue kekurangan waktu intim dengan diri sendiri. Tapi, ada kegiatan lain. Misalnya, persiapan lomba yang mau diadakan ekskul gue, KIR, bulan Mei nanti. Oiya, buat yang masih SMA sederajat, bisa banget daftarin diri ke lomba itu.

Gue nggak nulis bukan berarti gue nggak berkarya. Gue mulai nyoba mengekspresikan diri ke media yang lebih luas lagi, yaitu audio. Ya.. ceritanya bikin mini podcast gitu di soundcloud. Berkat bimbingan dari Kresnoadi, gue memantapkan diri bikin mini podcast.

Sebuah nama sangatlah penting. Begitu juga dengan podcast gue, yang gue beri nama "<10 M", yang kalo diartikan: "Kurang dari 10 menit." Keliatannya emang udah ketauan banget ya, kalo gue ngerekam suara cuma kurang 10 menit. Nyatanya emang begitu.

Alasan dari gue memilih durasi 10 menit sebagai batas maksimal adalah, gue nggak bisa ngomong lama-lama di depan laptop. Sendiri. Ngomong doang sendiri di depan laptop bener-bener ngenes. Ehm.

Tapi, asyiknya adalah, gue bisa ngomong tanpa harus natap mata lawan bicara gue. Jujur aja, gue nggak kuat natap mata lawan bicara. Apalagi yang gue tatap matanya Kakashi. Eh, Kakashi atau kakasih ya?

Ya udah, biar keliatannya gak kepenuhan tulisan, gue mau share mini podcast gue yang pertama, membahas tentang Valentine


Kalo nggak muncul, bisa klik ini.

Oiya, besok valentine ya. Ngingetin aja sih. Doain aja biar gue nggak ngelupain blog. Nanti keasyikan bikin podcast, ngeblognya ditinggalin. Kan namanya kacang lupa kulitnya.

Yak selamat malam minggu!

Komen-komen boleh kok. Biar gue makin berkembang bikin podcast-nya.

10 February 2016

Kayaknya gue orang yang mulai menyukai sekolah. Selain alasan mainstream, seperti ketemu temen-temen, alasan gue yang lain adalah, di sekolah, gue bisa dapet ide nulis. Mungkin yang sering baca blog gue, udah sering banget baca cerita tentang kehidupan sekolah gue. Pernah ngomongin temen sekelas, pernah ngomongin temen yang ngeselin, bahkan sampai ngomongin guru. Asli, semua orang yang ketemu gue jadi nagih-nagih, "Kapan nama gue dimasukin blog lu?", atau, "Kapan gue dimasukin blog lu?" 
Gue jawab, "Nggak muat."

Krik.

Baiklah, gaya bercandaan gue akhir-akhir ini lagi turun. Kebanyakan galau di Facebook kayaknya. 

Sebelumnya, hari ini gue kembali sekolah setelah dua hari nggak masuk. Senin, karena tanggal merah. Selasa, karena kelas 12 lagi try out dan kelas 11 kebagian libur. Pas hari Rabu, kelas 11 masuk. Seneng rasanya.

Sore ini, gerimis turun di daerah sekitar sekolah. Harusnya gue udah berangkat ke tempat les biar sekalian bisa neduh. Berhubung gue harus ke Indomaret untuk bayar tagihan pembelian buku Blogger Baper, gue langsung jalan cepet ke Indomaret. Untung aja jaraknya nggak terlalu jauh dari sekolah dan tempat les.

Sampai di Indomaret, masih mengenakan seragam pramuka, gue langsung nyamperin kasir nanya ke Mbak-mbak Kasir. "Mbak, di sini bisa bayar tagihan Tokopedia nggak?" 
"Bisa, kak."
Oh my God, gue dipanggil kakak. Mau terbang rasanya.
"Nomor kodenya, kak," kata Mbak-mbak Kasir itu. Jilbab birunya bikin teduh di tengah turunnya gerimis di luar. Matanya... ah, biasa aja. Jilbabnya, sih, oke!
Kemudian gue nyebutin empat digit kode, perpaduan huruf dan angka, di email yang gue buka dari hape.
"Atas nama Robby Haryanto," katanya, gue mengangguk, "... pembelian novel Blogger Baper."
"Iya, mbak." Gue melihat monitor muncul tulisan detail barang yang gue pesan. Mbak-mbak Kasir juga melihat monitor sambil tersenyum.
"Kakak ini suka yang baper-baper ya?" tanyanya menggoda. 
Gue kikuk ditanyain begitu. "Eh... ah.. a-anu," gue berusaha menyusun kata-kata itu sambil melihat Mbak-mbak Kasir. Ah susah!
"Ini... beli karya temen-temen."
"Oh, gitu." Mbak-mbak Kasir masih tersenyum. Dia sukses bikin gue salah tingkah.

Keluar dari Indomaret, gue disambut bapak-bapak bertopi hijau dan peluit yang dikalungkan. Orang itu menadahkan tangannya ke gue.
"Maaf, pak, gak bawa motor," kata gue, kemudian berjalan cepat meninggalkan Indomaret. Sialan, orang nggak bawa motor tetep dimintain juga.

Gue lihat di layar hape, udah jam 4.45. Gue mempercepat langkah menuju tempat les sambil menghindari basah kuyup kena gerimis. Sambil jalan, gue menunduk. Ngebayangin betapa kampretnya Mbak-mbak Kasir bikin gue salah tingkah di Indomaret. Sambil mempraktekkan ulang perkataannya tadi, gue senyum-senyum sendiri.

Kok gue malah baper ya?

Sekitar sepuluh langkah bertahan dalam posisi seperti itu, tiba-tiba di jalan raya lewat dua temen sekolah gue naik motor, berlawanan dengan arah gue jalan. Dua-duanya cewek. Mereka nutupin mulut, nahan ketawa ngeliat gue yang dari tadi nggak sadar udah ngulang perkataan Mbak-mbak Kasir sampe 5 kali. Asem banget dah.

Ini apa-apaan dah? Masa gue baper sama Mbak-mbak Kasir Indomaret. Rese banget.

05 February 2016

Jujur, gue orangnya gampang haus. Selain itu, gue juga orangnya sering nggak fokus.
Setiap nulis, minimal gue minum 20 menit sekali. Setiap baca buku, 30 menit sekali gue harus minum. Bahkan setelah makan pun gue harus minum. Eh, itu mah semua orang juga begitu.

Kalo udah begini, jadinya gue sering banget minum. Karena keseringan minum, gue sering keabisan air minum di sekolah.
Contohnya, setiap hari Rabu, adalah hari yang paling melelahkan bagi gue. Dimulai dari pagi ikutan senam bersama, dilanjutkan dengan pelajaran Bahasa Indonesiayang membutuhkan konsentrasi tinggi. Setelah itu Penjaskes, udah pasti gue banyak gerak dan ngerasa cepat haus. Belum selesai di situ, sorenya gue harus les sampe malem. Sebenarnya, antara jam pulang sekolah dengan mulai les ada jeda dua jam. Seharusnya gue bisa pulang dulu. Tapi karena jarak rumah ke tempat les jauh, jadinya gue nggak pulang. Pulangnya sekalian malem. Sekalian, irit ongkos naik angkot.

Udah pasti air minum gue sering abis duluan sebelum sampai waktunya les tiba. Otomatis, saat istirahat les gue cuma minum air keran musholla.

***

Gue jadi inget cerita temen gue di SMP.

Namanya Herman, sebut saja begitu. Temen sekelas gue sewaktu kelas 9 ini punya cara keren dalam bertahan hidup. Misalnya, waktu di kelas nemuin astor baru jatuh, dia langsung ngambil... kemudian dimakan. Padahal itu tinggal remukkannya. Parah banget, sampe segitunya.

Kurang lebih, gue juga begitu. Setiap kali nemuin sebutir kacang di lantai rumah, kadang gue makan. Kecuali kalo udah bener-bener nggak layak, kayak udah berjamur atau kena tanah.
Makanan yang paling sering gue ambil di bawah adalah permen.  Tentunya yang masih dibungkus. Jujur aja, pasti ada yang pernah nginjek bungkus permen, terus ada rasa deg-degannya.

"Ada orang yang liat nggak ya?" Akhirnya diambil, lalu dimakan setelah pergi jauh dari TKP.

Nggak cuma astor, Herman pernah melakukan cara yang "nggak banget" setiap jam istirahat. Biasanya, gue dan temen-temen nongkrong di sekitaran kantin. Pasti gue nemuin Herman lagi duduk di samping orang yang lagi makan mi rebus.

"Lagi ngapain, Man?" tanya gue yang datang dari belakang Herman.
"Nungguin kuah, nih."
Gue cengok.

Anjriiiit, nungguin kuah katanya. Abis gue tanyain, gue sedikit menjauh dari tempat Herman duduk. Begitu orang yang ditunggin Herman selesai makan dan menyisakan kuah di mi rebusnya, Herman langsung nuang sedikit saos ke mangkuk.

BUSET! DITAMBAHIN SAOS PULA! Dia nyeruput kuah mi sampai habis. Mukanya bahagia di seruputan terakhir.

Tapi, bukan berarti Herman nggak jajan. Dia cuma kadang-kadang aja ngelakuin hal itu. Orang yang ditungguin pun orang yang dia kenal banget. Nggak mungkin semua orang yang lagi makan mi ditungguin sama dia. Bisa-bisa diguyur pake kuah.

Kebiasaan itu berhenti sejak kejadian jahat dari seorang temen gue. Kejadiannya, waktu itu Herman udah berhasil menguasai kuah mi dari temennya. Kemudian merasa yang dia konsumsi sama sekali nggak ada gizinya, dia pergi beli gorengan, ninggalin mangkuk yang berisi kuah mi miliknya. Dateng temen gue yang iseng nuang saos dan sambel banyak banget, sampe kuahnya berubah merah banget (selain merah marun, ada lagi namanya merah banget).

Sontak melihat warna kuah miliknya telah berubah warna, Herman langsung merengut. Temen gue yang iseng ngetawain Herman. Akhirnya, Herman cuma makan gorengan. Bagus lah, biar nggak minumin kuah mulu.

***

Apa yang dilakukan Herman, hampir mirip yang gue lakukan di SMA.

Rabu lalu, materi pelajaran Penjaskes adalah tentang sepakbola, materi yang yang paling disenangi kaum lelaki, termasuk gue, yang mengartikan materi ini sebagai materi lari-larian. Emang itu kebiasaan gue kalo main sepakbola atau futsal, cuma lari-lari aja. Nendang bolanya jarang, nendang kaki orang yang sering.

Gue udah menduga kalo hari ini bakal capek dan ngabisin banyak air minum. Botol tupperware gue cuma nampung 500 ml. Mana bisa bertahan sampe nanti pulang les, pikir gue.

Benar kenyataannya. Gue main bola cuma lari-larian aja. Main 4 vs 4, dengan teman setim 3 cewek, dan lawan 4 cewek. Yak, hanya gue cowok sendiri di lapangan ini. Ngejar-ngejar bola, ngerebut bola, tabrakan sama lawan. Eh, yang kemarin gue tabrak itu lawan apa teman ya? Yang penting nabrak cewek. (Huaaalaaah, niat buruk mode on)

Setelah itu kaki gue langsung kayak nggak bisa berhenti lari. Kaki maunya lari terus, susah terkendali. Beruntung gue bisa duduk, ngelurusin kaki sebentar. Keringet udah membasahi muka gue, dan tenggorokan gue kering. Gue haus.

"Air siapa nih? Gue minum ya," kata gue sambil menunjukkan sebotol air merk kiitavit. Keliatannya air ini baru banget dibuka. Baru berkurang sedikit.
Temen-temen gue nggak ada yang ngakuin air itu miliknya. Akhirnya gue minum sedikit, kemudian gue taruh lagi di tempat semula, di atas mimbar pembina upacara.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, gue langsung nyamperin temen ekskul buat kumpul ngomongin bank sampah. Gue ngeliat mimbar pembina upacara, masih ada air yang tadi gue minum. Nggak berkurang.
Dengan asumsi nggak ada status kepemilikan di sana, gue langsung menyambar botol itu, kemudian menuangkannya di botol minum gue yang udah kosong. Botol gue kembali penuh. Gue nggak kehausan lagi.

Terimakasih kepada orang yang menaruh air di atas mimbar pembina upacara pada Rabu, 3 Februari 2016! Kamu baik sekali.

Sebelumnya, gue juga pernah melalukan hal serupa di kelas, pada hari Rabu. Entah kenapa hari Rabu jadi hari yang bikin gue cepet haus, sehingga setelah pelajaran Penjaskes selesai air minum gue langsung abis.

Semua orang di kelas udah meninggalkan ruangan. Tinggal gue, beberapa teman, dan beberapa botol minuman yang tersisa di ruangan ini. Gue yang niatnya mau mulungin botol, terkejut setelah ngeliat botol yang berisi air di dalamnya. Masih nyisa setengah botol, langsung gue ngeluarin botol tupperware dari dalem tas, gue tuang semua air di botol minuman ke botol tupperware. Nggak cuma satu botol, gue nemuin sampe dua botol. Sehingga botol minum gue telah penuh diisi oleh air minum sisa temen sekelas gue. Kan lumayan.

Dalam keadaan tangan masih memegang botol tupperware, tiba-tiba muncul ide cemerlang di kepala gue. Aha! AC masih nyala.

"Ngapain, Rob?" tanya temen gue.
"Ngedinginin air nih," kata gue sambil menaruh botol tupperware tepat di bawah AC.

Ternyata, gue nggak jauh beda dengan Herman.

Kalo kata orang dulu, masa-masa SMA adalah masa yang menyenangkan dengan alasan puncak-puncaknya jatuh cinta, kalo gue beda. Menurut gue, masa-masa SMA disebut menyenangkan karena banyak banget orang yang nyisain air minum, dan bisa gue minum. Asli, ini menyenangkan. Gue nggak perlu keluar duit lagi.

Dengan begitu, gue siap deh ngalahin Tuan Krab di Festival Kepiting Pelit.


Cubit penny, cubit penny. Sumber

Gue mau ngsaih perenungan buat orang-orang yang sering banget ninggalin air minum yang tersisa. Betapa kasihannya orang-orang kayak gue, yang buat beli air minum aja berat banget. Sedangkan mereka seenaknya ninggalin air minum yang baru diminum setengah, bahkan baru diminum sedikit.

Atau jangan-jangan..., pelit adalah cara gue bertahan hidup? Ya Allah, hamba bimbang. Mau ngasih wejangan kok gini amat ya?

03 February 2016

"Lu ikut ekskul apa?"

Kadang pertanyaan itu bisa jadi tolok ukur kepopuleran seorang siswa. Bisa dipastikan orang yang mendengar jawaban bakal dibuat kagum, atau malah dibuat ketawa. Biasanya ekskul olahraga jadi jawaban yang bikin terkagum-kagum. "Anjrit, lu pasti keren". Jawaban yang bakal diketawain: "Gue cuma satpam di sini. Gak ikut ekskul" (Ya iyalah, satpam!)

Di sekolah, gue ikut ekskul Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Di pikiran gue, mungkin sebagian orang juga, anak KIR selalu main-main di laboratorium, bikin uji coba nuklir, atau bikin kloning antara monyet dengan ayam. Kenyataannya nggak begitu, setelah ada bank sampah.

Sekolah gue ditunjuk sebagai sekolah bank sampah. Nah, sebagai penggeraknya, ditunjuklah ekskul KIR. Seharusnya, anggota KIR cuma bertugas memilah sampah yang udah dikumpulin oleh seluruh warga sekolah. Jadi, anak KIR tinggal ngangkut, milah-milah sampah, selesai.

Kenyataannya pahit banget. Anggota KIR malah harus mulung-mulung ke tempat sampah. Iya, ngubek-ngubek. Kegiatan itu kadang diliatin orang-orang. Sampai pernah ada cerita dari temen ekskul bilang, ada yang ngelempar botol ke arah temen gue. Katanya biar dipulungin. Jahat banget ya.

Semua bayangan gue tentang ekskul KIR berubah. Begitu juga dengan temen ekskul gue. Dia bilang, "Ini ekskul KIR atau ekskul mulung sih?"

Yah, gitulah. Gue mah seneng-seneng aja.

Sekarang mulai bicara soal ekskul yang lain...

Beberapa hari ini, gue melakuan pengamatan, tepatnya saat acara Maulid Nabi Muhammad SAW di sekolah gue. Ketika itu, di panggung ada tim marawis sekolah. Seperti biasa, mereka tampil dengan seragam warna biru. Ditambah ikat kepala yang berwarna sama. Kecuali seragam yang dipake pada orang bagian depan, mereka warna putih.

Yang baju kuning itu guru | Sumber


Penampilan marawis di sekolah gue selalu ditunggu. Ibarat grup musik, marawis di sekolah gue itu kayak Slank: jarang tampil tapi dinanti penampilannya. Bagian yang paling ditunggu adalah saat masuk koreografi.
Sumber

Begitu masuk koreografi, semua penonton cewek teriak histeris. Nggak mau kalah, gue juga teriak, karena jempol kaki gue kedudukan... pantat sendiri. Nggak deng.

Cewek-cewek menjerit setelah anak marawis ngeluarin koreo andalannya. Gue curiga, cewek-cewek ini adalah K-Popers, yang biasanya kalo ngeliat personil boyband joget-joget, mereka ngejerit sambil jambakin temennya. Bedanya, anak marawis ini lebih unggul. Selain ada koreonya, anak marawis bisa sambi mukul-mukul alat. Keren, kan? Morgan bisa nggak? Eh iya, Morgan bukan personil boyband lagi.

Dari situ gue membuat hipotesis sederhana, yang berbunyi, "Ekskul yang paling keren adalah marawis."

Kayaknya di tiap sekolah, marawis selalu rame (Ya iyalah rame. Masa sendiri!). Maksud gue, setiap kali marawis tampil, penonton selalu heboh; cewek-cewek teriak histeris; cowok-cowok tepuk tangan sendiri, seakan-akan lagi main marawis; anak punk moshing sambil nenggak bir. Pokoknya heboh lah.

Gue bicara berdasarkan pengalaman asli. Dulu, sewaktu SMP, gue adalah anak marawis. Setiap kali demo ekskul atau maulid, penampilan marawis selalu ditunggu. Alasannya karena ada satu orang di tim marawis sekolah gue yang mukanya ganteng. Bukan, bukan gue orangnya. Gue mah apa atuh, cuma simbal di atas markis.

Selain jadi anak marawis, gue dulu anak hadroh, sejenis rebana dan cara mainnya dipukul. Pengalaman gue jadi bagian tim hadroh lumayan lama, sekitar lebih kurang setahun. Dalam waktu segitu, gue pernah main di acara kawinan (lho, kok kayak ambigu ya?). Maksudnya perform. Tiga kali.

Biasanya, cewek-cewek nggak cuma nunjukin kehebohan di bawah panggung, kadang berlanjut di media sosial. Contohnya begini,

"Anak hadroh yang itu kereeeen bingitzzz."

"Yang pake peci main markis hidungnya mancung. Future husband banget"

"Coba aja kalo pacar gue anak marawis, nanti gue sewa buat acara nikahan gue sama selingkuhan. #KetawaJahat"

Minimal satu dari sekian banyak anak marawis, pasti punya fans tersendiri. Gue nggak tau ini berlaku di Indonesia doang atau nggak, pokoknya anak marawis pasti punya fans. Sayangnya dulu gue nggak punya fans pas masih jaman-jamannya main hadroh dan marawis. Orang-orang ngira gue cuma orang yang bawa alat.

Pokoknya, kalo mau punya fans atau jeritan dari remaja putri, masuk ekskul marawis. Inget, jangan cuma bawa-bawa alatnya doang.

Lah, gue malah promosi ekskul lain. Ekskul gue sendiri gimana?

"Mulung aja dulu," kata seorang teman, setelah menepuk pundak gue.