Mendadak Alim di Hari Jumat

Udah seminggu masuk setelah liburan sekolah, gue ngerasa hampir semua guru nggak memulai dengan langsung banyak belajar materi. Iya, emang bener nggak belajar banyak, tapi tugasnya yang banyak. Mulai dari tugas kelompok sampe tugas individu. Dari ngerjain soal-soal sampe presentasi di depan kelas. Semua tugas menumpuk. Dan, gue masih sempet-sempetnya ngeblog daripada ngerjain tugas. Kalo ada nilai rapor gue yang nggak tuntas, kayaknya gue tau harus nyalahin siapa.

Nggak deh. Gue nggak mau nyalahin siapa-siapa. Gue cuma mau menumpahkan keluh kesah. (Bahasanye nggak nahan!)

Seperti yang udah gue bilang, beberapa guru masih banyak yang santai-santai di kelas. Contohnya Pak Hakim, guru Sejarah Indonesia gue. Tadi siang, dia ngajar di kelas gue.

"Hari ini nggak ada materi dulu," kata Pak Hakim.
Kami semua senang. Bisa nyantai untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini.
"Tapi, saya mau panggil nama-nama tertentu, buat ngejawab pertanyaan tentang materi semester lalu."
Gue ngedenger kata Pak Hakim, langsung deg-degan. "Mampus, gue lupa materi semester satu," kata gue dalam hati.

Pak Hakim mengambil kertas yang berisi daftar nama dan nilai dari tasnya. "Saya cuma nyebutin nama-nama yang kemarin remedial UAS," kata Pak Hakim.
"Yah, pasti gue kena ini mah," batin gue.
Gue yakin banget kalo gue bakal ditanyain sama Pak Hakim. Mengingat nilai gue yang nanggung waktu UAS lalu. Gue orangnya sadar diri, kok.
Sementara temen-temen yang lain panik. Mereka bertanya-tanya berapa nilainya.
"Pak, nilai saya berapa? Saya remedial nggak?" seorang teman nanya ke Pak Hakim.
"Waduh, saya nggak tau. Hehehe." Pak Hakim menunjukkan kertas tadi ke temen gue. "Yang ini, lho, nilainya."
"Nih, Rob, nilai lu segini," kata Silvi, temen sebangku gue, sambil menunjukkan foto nilai di handphone.
Sebelum melihat layar handphone-nya Silvi, gue bilang ke dia, "Iya, gue remed."

Gue cuma bisa berdoa semoga gue nggak ditanya-tanya. Karena gue hampir lupa semuanya. Cuma beberapa bagian aja yang inget. Misalnya: Bendera negara Indonesia warnanya merah putih.

Orang pertama mulai dikasih pertanyaan, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ciri khas dari Pak Hakim adalah ngasih pertanyaan yang bikin ngantuk duluan ngedengernya, sebelum akan dijawab. Contohnya gini:

"Gubernur jenderal pertama VOC adalah..." perkataannya dijeda, bikin kita seolah mau ngejawab. "Pieter Both," sambungnya. "Kemudian, VOC mengalami kebangkrutan karena korupsi para pegawainya." Lalu, dia melanjutkan, "Pertanyaannya, siapa nama tukang serabi di depan kantor VOC?"

Pokoknya gitu deh.

Setelah ngasih pertanyaan yang didahului pernyataan panjang lebar, orang pertama bisa jawab. Dia dibolehkan duduk kembali. Padahal gue ngarepnya dia nggak bisa jawab. Kalo nggak bisa jawab, dia disuruh tetep berdiri sampe waktu yang ditentukan Pak Hakim. Pokoknya, nggak boleh duduk sebelum Pak Hakim nyuruh duduk. Di situlah serunya. Tapi, di situlah sedihnya... kalo gue yang nggak bisa jawab.

Orang kedua dipanggil. Namanya Giyats. Sama seperti biasanya, Pak Hakim ngasih kalimat-kalimat pernyataan panjang lebar, dan ujungnya dia nanya, "Negara mana yang menerapkan merkantilisme kuno?".
"Sial! Itu gue tau jawabannya. Kenapa nggak gue aja yang ditanya?!" gerutu gue.
"Eeeeh... uuhhh...," Giyats kebingungan, kemudian dia jawab, "Spanyol dan... Belanda."
"ADUH! PORTUGIS DONG, MAS!" teriak gue dalam hati. Gemes ngedengernya.
"Ya, jawabannya salah. Yang benar adalah Spanyol dan Portugis." Sesuai perjanjian, terpaksa Giyats harus berdiri karena salah jawab.

Orang-orang selanjutnya disebutkan namanya. Satu per satu dari mereka bisa menjawab. Setiap mereka yang berhasil menjawab, dikasih pilihan: mau ngasih kesempatan orang yang berdiri untuk duduk atau duduk untuk sendiri. Kalo ngasih kesempatan orang yang berdiri untuk duduk, otomatis dia (si penjawab yang benar) bakal berdiri dan dikasih pertanyaan lagi. Kalo bisa jawab bener untuk kedua kali, nggak masalah. Kalo nggak bisa? Ya, harus berdiri.

Saat itu cuma Giyats yang berdiri. Teman-teman gue setelah Giyats bisa menjawab dengan benar. Setiap temen-temen gue selesai menjawab, Pak Hakim bakal ngasih pilihan: "Kamu punya satu tiket duduk untuk diberikan buat Giyats, atau kamu pakai buat sendiri. Kamu pilih mana?"

Mereka milih ngasih duduk... buat sendiri. Parah.

Kalo gue jadi Giyats, gue bakal dendam sama mereka sampe jam pulang. Ya iyalah, jangan lama-lama dendanmnya.

Malah, ada satu teman yang lebih sadis. Setelah jawab pertanyaan dengan benar, temen gue itu langsung duduk sebelum dikasih pilihan. Orang bener mah bebas!

Gue meniatkan diri. "Kalo nanti gue ditanya dan jawaban gue bener, gue bakal ngasih Giyats kesempatan duduk." Niat yang cukup mulia, tapi membebankan. Gimana bisa jawab, wong hampir semua materinya lupa!

Nama-nama lain disebutkan. Sampai pada temen gue, namanya Gadis. Ternyata, Gadis nggak bisa jawab pertanyaan dari Pak Hakim. Dengan terpaksa, Gadis harus berdiri sampai ada orang yang mau ngebela dirinya dengan ngasih kesempatan duduk.

Nggak jauh setelah nama Gadis dipanggil, nama gue disebut. Jantung gue berdegup kencang. Makin kencang lagi setelah gue berdiri. Lebih kencang lagi setelah Pak Hakim memulai membacakan soal. Pernyataan demi pernyataan yang gue anggap nggak penting, gue simak bener-bener. Siapa tau ada jawaban dari situ, pikir gue.

Sampailah pada pertanyaan inti: "Pertanyaannya, sebutkan satu peraturan tanam paksa."
"Aduh," kata gue karena lupa. Saking nggak bisa tertahan, akhirnya keceplosan dan terdengar Pak Hakim yang duduk di depan gue.
"Aduh katanya. Hahaha." Pak Hakim tertawa ngeliat ekpresi pasrah gue. Sedangkan temen-temen yang duduk di belakang gemes ngedenger pertanyaannya. "Iiihhh... itu, kan gampang."
"Apa, ya?" Gue menunduk, mata gue menatap meja. Nggak ngerti harus ngomong apa, akhirnya keceplosan lagi, "Nyerah, pak."
"Lah, udah kalah gitu aja?" kata Pak Hakim dengan nada heran. "Ini jangan-jangan kalo si Robby punya pacar pasti kalo pacarnya direbut dia cuma bilang, 'udah ambil aja, deh'."

Mampus.

Gue malu setengah mampus setelahnya. Gue berdiri ngeliat muka temen-temen di belakang dan di samping, dan mereka kompakan masang muka yang seolah berkata, "BEGO LU!" yang cuma bisa gue jawab dengan senyum-senyum seolah berkata, "YAA, MAKASEH."

Setelah gue masih ada temen yang disebutkan namanya. Temen gue ini menjawab dengan benar. Masih dengan pola yang sama, temen gue milih duduk buat sendiri. Oke, di kelas ini nggak ada yang sama sekali mau mengorbankan dirinya demi orang lain.

Sekarang, di kelas ini, gue, Giyats, dan Gadis berdiri di tempat duduk masing-masing. Kali ini, Pak Hakim memberi kesempatan bagi orang lain untuk menyelamatkan orang-orang yang berdiri. Masih dengan menjawab pertanyaan, penjawab yang benar berhak memeberi kesempatan orang yang dia pilih untuk duduk. Sistemnya rebutan.

Pertanyaan pertama dilempar. Dian, temen yang sering sekelompok sama gue di pelajaran-pelajaran tertentu, menangkat tangan. Dia menjawab pertanyaan, dan jawabannya benar. Gue langsung berdoa. "Ayo, Dian. Tunjukkan siapa temen sejatimu. Pasti mau dong nyelametin gue."
"Jadi, siapa yang mau kamu selamatkan?" tanya Pak Hakim.
"Giyats, pak," Dian menjawab sambil menunjuk Giyats.

Mampus lagi. Pokoknya, lo-gue-end!

Pertanyaan kedua dilempar. Kemudian, muncul suara dari belakang, "Saya, pak!" Ternyata itu suara Annisa yang ingin menjawab. Bagi gue, nggak mungkin kalo gue yang diselametin, karena Gadis temen deketnya Annisa dari kelas 10. Ah, mustahil bagi gue untuk duduk.

Bener aja, Annisa milih nyelametin Gadis. Giyats dan Gadis telah diselamatkan. Jadi, cuma tersisa gue. Sendiri. IYA, SENDIRI. Berdiri. Nggak ada yang nyelametin. MAMPUS. Tinggal dilemparin tip-ex dari tempat duduk masing-masing aja, nih.

"Nah, semua nama telah disebutkan. Sayangnya, nggak ada lagi nama yang remedial. Lalu pertanyaannya, kamu udah nggak punya siapa-siapa lagi, siapa yang akan bantu kamu?"
Spontan gue menjawab, "Allah."

Beuh, cewek-cewek langsung meleleh. Cowok-cowok nggak mau kalah (lho?). Mereka langsung rame-rame gitu. Antara mencela "najis, sok alim" atau "sok alim banget, najis". Eh, nggak segitunya juga, sih.

Pak Hakim cuma senyum-senyum heran. Mungkin dalam hatinya, "Ini anak rada-rada tapi lumayan juga, ya. Untung masih inget Allah."

Pak Hakim akhirnya berbaik hati. Beliau ngasih gue pertanyaan lain yang lebih gampang. Akhirnya... gue bisa jawab. "Makasih, Ya Allah." Lagi-lagi ucap gue spontan.

Pak Hakim ngecek daftar nama lagi. "Ini masih ada lagi satu nama yang belum disebut." Kemudian dia menyebut nama seseorang. "Wahyu."
Wahyu dikasih pertanyaan. Gue nggak tau apa jadinya kalo ternyata nama Wahyu disebut sebelum gue dikasih pertanyaan kedua yang lebih mudah. Mungkin, gue bakal berdiri lebih lama. Makanya, gue ngarep... DIA NGGAK BISA JAWAB! Biar berdiri. Ngerasain ada di posisi gue.

Doa yang jahat nggak akan dikabulkan Allah. Begitulah yang terjadi pada doa gue. Doa gue ditolak, setelah Wahyu bisa ngejawab pertanyaan dengan benar. Dengan begitu, selesai semua kegiatan ini. Kegiatan yang bikin deg-degan, terharu (pas momen-momen nyelametin temen), dan sedih (ketika tau, gue nggak diselametin). Suasana kelas kemudian jadi agak sepi.

Gue menengok ke arah Wahyu. Dia ngomong ke gue dengan nada sedikit sarkas, "Tadi mah gue ngasih lu duduk aja, ya. Gue kan punya tiket duduk. Nanti gue kasih lu. Hahaha."
Kembali, gue menjawab dengan spontan, "Apaan, sih? Gue masih punya Allah."

Seisi kelas rame kembali. Bedanya, sekarang banyak yang tepuk tangan. Tapi tetep, ada yang bilang, "Robby sok alim!"

Nggak kebayang aja, suatu saat nanti gue udah berumah tangga. Istri gue ngeluh nggak punya beras, terus gue jawab dengan spontan, "Tenang, sayang... kita masih punya Allah. Tahan dulu laparmu. Kita puasa full seminggu ini. Allahu Akbar." Gue yakin istri gue langsung diem. Diem-diem pulang ke rumah orang tuanya.

Btw, kalo calon istrinya begini, gimana?

Alyssa Soebandono dan Robby Herlino
Setelah sholat Jumat, bantuan operasi plastik, dan Photoshop.

Seh iya, gue masih sekolah, woooi! Belum waktunya mikirin begituan.


27 komentar:

  1. Lucu sih bacanya hahaha. Nice share and keep writing, Ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama sob.
      Ohiya salam kenal ya :)
      Semoga bisa mampir ke tempatku hehe.

      Delete
    2. Salam kenal :)
      Barusan abis mampir ke situ nih~

      Delete
  2. ROBBY SOK ALIM! Huahahahahaha. Tapi nggak papa, Rob. Daripada sok cantik.

    Itu Pak Hakim kok nggak suka to the point gitu ya. Lucu banget dah. Udah kayak cewek ditembak aja, jawabnya bukan iya atau tidak, tapi "Aku pikir-pikir dulu ya." :(

    Segala nyebutin tiket duduk. Jadi ingat golden ticket audisi SUCI. Jangan-jangan Pak Hakim itu juri SUCI? Om Indro? *ini apa dah*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah, siapa tuh yang sok cantik? :p

      Persis. Bikin ngebingungin orangnya. Serba salah juga jadinya.

      Hahahaha, bukaan. Doi Raditya Dika~

      Delete
  3. Ih anjir banget ceritanya. Hahaha

    ReplyDelete
  4. Idaman sekali dirimu ini Rob, inget sama Allah :') hahahaha
    Btw, itu kenapa foto gue diedit-edit gitu woyyyy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, pencitraan yang (keliatan) sukses. Astagfirullah, niatnya buruk.

      Hahaha, siapa tau aja gitu, dapet yang mirip Alyssa.

      Delete
  5. wah.. kampret juga ya. jawab yang religius-religius dibilang sok alim :")
    lah itu siapa yang tau nama tukang serabi di depan gedung voc siapa. nama bendahara voc aja belum tentu ada yang tau lah ini TUKANG SERABI -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serba salah ya. Kalo jawab yang mesum-mesum dikira nggak punya moral (LAH EMANG IYA GITU MAH!!)

      Wah... anak IPS mulai angkat bicara. Iya juga ya, di buku gue nggak dikasih tau nama bendahara VOC :D

      Delete
  6. Ya Allah.
    harusnya pas temen lu jawab salah lu berargumen gini rob,
    " Bapak gak bisa gitu aja ya nentuin jawaban temen saya benar atau salah, jangan merasa paling benar pak. Ingat pak masih ada Allah"

    ReplyDelete
  7. Seru juga ya jawab pertanyaan gitu. Muahaha. Woy, sok alim lu, Rob!
    Duh, sedih yaaa. Ending ceritanya kenapa harus ada foto lu? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daripada ngejawab kalimat mesum. Digebukin gue :(

      Sedih yaaa. Untung ditaro di terakhir. Huhahaha

      Delete
  8. Metodenya pak hakim keren juga yah(=^ ^=) hehehe
    Tapi ngenes juga nasib lu, gak ada yang nolongin muahahahaha

    Keep blogging ya :) lucu gue suka cara nulisnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Caranya asik, cuma temen gue yang nggak asik :(

      Yoi. Keep blogging juga, Kak Vira. Makasih udah mau baca :)

      Delete
  9. ROBBY SOK ALIIIIIM. ALIM AJA NGGAK SOK ROBBY! #APASIHRIM ._.

    Sedih lihat fotonyaaa. Sediiiih. :(

    Anak sekolah sekarang pikirannya udah terlalu progress banget, ya. Udah mikirin nikah dan nggak ada beras. Huhuuuu.

    Tiap mampir sini selalu rindu suasana sekolah. Hahaha. TANGGUNG JAWAB KAMU, ROOBB!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiyaaaaah, apaan dah sok Robby. Kacau nih hahaha.

      Kayaknya dewasa sebelum waktunya. Jangan deh, jangan sampe begitu.

      Ayo sekolah lagi! Ambil Paket C juga nggak papa xD

      Delete
  10. HAHAHAAA BHANGKAY. ROBY SOK ALIM HAHAHAA

    Sedih amat berdiri sendiri. Nggak ada yg nyelamatin. :D
    Pak Hakim seru juga By cara ngajarnya.

    Jadi, siapa nama tukang serabi yang jualan di depan kantor VOC? Siapa By? Siapaah???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sediiiiih rasanyaaaa~

      Emang, menurut gue juga seru. TAPI TEMEN GUE YANG NGGAK SERU. *sorry, emosi*

      BELOM TAUU. Ayo cari sama-sama *eaaaak

      Delete
  11. hahahaha
    pak hakim pak hakim
    itu sampe setahun y bro berdiri di depan kelasnya?
    makanya jangan sok alim hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak setahun juga, keleuz~ -_-

      IYA DEH, IYA. Nggak sok alim lagi.

      Delete
  12. wkwkwk by by ngakak lu sumpah namanya kagak disensor, tapi gokil bacanya sampe ade gua ikut ketawa waktu gua bacain cerita diblog lu wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bisa aja lu, Rel. Jangan aduin lagi ke Pak Hakim, ya~ Hahaha :p

      Delete
  13. ya gapapa mendadak alim dari pada mendadak ndangdut

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.