Cerita Jumat: Budek dan Kuis Menegangkan

thumbnail-cadangan
"HERMAN!! (nama disamarkan) Sini kamu!" Mrs. Devi memanggil Herman dengan kesal. Baru saja maju ke depan mengumpulkan soal ulangan Fisika dan LJK-nya, Herman harus ke depan lagi.
"Sini kamu," kata Mrs. Devi, kemudian melanjutkan sambil menunjukkan kertas soal yang tadi Herman kumpulkan. "Ini maksudnya apa?! Soal digambar-gambar nggak jelas."
Herman cuma diam.
"Heh, jawab?!"
Herman nggak peduli dengan ucapan Mrs. Devi, kemudian dengan tak acuh dia balik ke tempat duduknya.
"HEH! SINI KAMU!"
Suasana jadi tegang. Gue nggak konsen setelah mendengar bentakan Mrs. Devi. Sambil menggerutu, Herman kembali ke meja guru.
"KAMU GILA YA?! Ditanya nggak ngomong apa-apa."
Herman masih diam, memasang raut wajah nggak peduli. Herman mengambil hapusan dari kantong celananya, kemudian menghapusnya.
"Jangan dihapus dulu gambarnya!" perintah Mrs. Devi. Namun Herman tetap keras kepala, dia melanjutkan menghapus gambarnya.
"KAMU INI KEPALA BATU YA!"
Herman kabur dengan ekspresi nggak bersalah.
"Bener-bener gila itu anak. Nggak habis pikir.."

***

Walaupun gue jarang  pake headset, tapi gue ngerasa sering ngerasa budek. Setiap kali orang nanya, respon gue yang pertama adalah, "Hah?". Apalagi kalo diajak ngobrol di atas motor pas ngebut, gue pasti nyodorin kuping ke temen gue sambil teriak "APAAAN??? GAK KEDENGERAAAAN."

Beneran, jadi orang yang budek itu nggak pernah enak. Selalu dianggap telat mikir karena paling lambat menangkap informasi pembicaraan. 

Pernah, dulu waktu gue jadi ketua kelas, gue ketauan budek di depan guru. Ceritanya, Bu Septi manggil gue. Kondisi kelas berisik banget.
"Ketua kelas mana?" tanya Bu Septi.
Gue lagi ngobrol dengan temen sebelah gue di barisan belakang, jadi gue fokus dengan temen gue. Sampai temen gue yang duduk di depan manggil, "ROBBYYY... dipanggil Bu Septi."
"Oh.. i.. iya, bu," kata gue kayak orang abis bangun tidur. 
"Sekretaris mana?"
"Ilang, bu," jawab gue dengan cepat. Semua orang ngeliatin gue. 
"Sekretaris, Robby," temen-temen nyautin gue dengan kesal. "Itu, si Afifah."
"Oh, sekretaris. Gue kira buku tulis."

Parah. Antara sekretaris sama buku tulis itu beda jauuuuh. Eh, nggak jauh-jauh amat, sih. Soalnya sekretaris kalo nulis di buku tulis  #TetepBelaDiri

Pendengaran gue yang minus ini bikin gue terhambat dalam listening test. Bahkan, setelah selesai tes.
Ceritanya, seminggu yang lalu, hari Jumat, gue listening test Bahasa Inggris. Semuanya harus ngejawab pertanyaan sebanyak 100 butir di lembar LJK. 100 soal itu dibagi ke dalam empat bagian. Setiap soal harus didengerin bener-bener. Kalo kelewat dikit, ancur konsentrasinya. Apalagi harus ngerjain 100 soal, dalam waktu 1 jam.

Gue sering kelewat ketika bagian kedua yang bener-bener harus dengerin semua yang ada di rekaman. Untuk bagian yang lain, kita masih bisa liat petunjuk yang ada di kertas yang dibagiin. Entah soal atau pilihan jawabannya. Sedangkan di bagian kedua, soal dan pilihan jawaban ada di rekaman. Jadi, setelah selesai rekaman bacain soal, gue langsung konstentrasi ke pilihan jawaban. Pilihan jawaban selesai dibacain, giliran soalnya gue lupa. Mana ngomongnya pake bahasa Inggris lagi. Jadi nggak inget apa-apa.

Seminggu kemudian, nilai udah keluar dan satu per satu dibacakan. Di luar dugaan, gue mendapat nilai di atas harapan sebelumnya. Nilai gue... 49. Harapan gue cuma 45. Setelah dikoreksi lagi, ternyata ada dua soal yang seharusnya gue jawab benar. Dihitung-hitung lagi, jumlah jawaban benar setelah dikoreksi manual adalah 51. Wow, ada peningkatan!

Ternyata, itu semua palsu. Setelah gue mengetahui... gue salah ngisi kode peserta. 

Setelah dikoreksi manual, nilai kembali diinput ulang. Gue masih seneng-seneng aja karena ternyata nilai gue harusnya lebih bagus dari sebelumnya.

"Ini siapa nomor siapa  2-1-11281?" tanya Mrs. Devi.
Semua lirik-lirikan. Memikirkan siapa yang nomor pesertanya seperti yang disebutkan Mrs. Devi.
"28? Itu, mah, absennya Robby," kata temen gue.
"Gue?" tanya gue. Padahal ini baru absen-absen atas, sedangkan gue ada di barisan bawah. Aneh, batin gue.
Gue langsung nyamperin Mrs. Devi. DEG! Gue keinget dengan kejadian yang terjadi pada Herman sebulan sebelumnya. Ketika dia nyamperin Mrs. Devi lalu dibentak-bentak. Apalagi tingkahnya Herman mirip-mirip gue. Langkah gue nggak santai. Gemeteran.
"Ini nomor kamu bukan?" tanya Mrs. Devi sambil menunjukkan kertas hasil scanning LJK.
Lho, kampret. Itu kan nomor peserta yang gue isi. Kok nggak kayak seharusnya.
"Iya, Miss..."
"Nih, nomor peserta kamu salah. Harusnya 2-1-12811."
"Oh, salah nomor, ya, saya?"
"Iyalah! Nilai kamu nih," kata Miss Devi setengah sebal.
Gue melihat di ujung nomor 2-1-11281 ada angka 53.
"Nilai kamu setelah dikoreksi berapa?"
"51, Miss."
"Berarti nilai kamu minus 2."

Oh, kampret! Udah seneng-seneng tau karena nilai gue lebih bagus dari hasil scan, ternyata kebalikannya. Ah, yang penting masih di atas ekspektasi.

"2-1-11272." Mrs. Devi menyebutkan nomor peserta yang lain.
"67."
Udah nyampe nomor absen 27. Aduh, berarti abis ini nomor absen gue disebut dong. Tapi, barusan gue udah konfirmasi nilai, batin gue mulai bimbang.
Tiba-tiba kelas jadi berisik. Suara Mrs. Devi jadi samar dari tempat duduk gue di belakang. Ah, itu nomor gue yang disebut!
"Fifty one, Miss.."
"Heh, lu udah, Robby."
"KAMU UDAHAN TADI!" Miss Devi menggelengkan kepala.
"Oh, maap, Miss. Maap."
Kampret! Malu banget gue. Ini semua karena budek!! Aaaarrrgggghh. 

*** 

Setelah kaki gue cukup lemas menahan malu saat pelajaran Bahasa Inggris dan naik tangga ke lantai tiga, gue langsung berhadapan dengan pelajaran Sejarah Indonesia, yang kabarnya bakal ada kuis. Ya, gue merasa nggak kuat buat jalan lagi setelah naik tangga tadi. Jadi merasa umur lebih tua lima puluh tahun

"Robby ke mana?" tanya Pak Hakim di depan kelas. Gue mengangkat tangan sambil memegang tutup botol. Orang lagi minum dicariin.
"Tumben nggak duduk di depan?"
"Nggak ada bangku, pak," jawab gue sambil menutup botol tupperware hijau. 
"Oke, nanti setelah solat Jumat kita ada kuis. Sekarang belajar dulu," kata Pak Hakim, kemudian nggak lama setelah itu beliau turun ke ruang guru.

Selagi solat Jumat, gue berdoa biar nggak ada kejadian sepert kuis yang terakhir terjadi kembali. Itu malu banget.

Kemudian tibalah kuis yang ditunggu. Ditunggu kapan selesai maksudnya. Jujur aja, gue minim persiapan buat kuis kali ini. Aduh, hal-hal buruk udah kebayang duluan.
Seorang temen gue bertanya, "Pak, nanti kalo ada yang nggak bisa jawab disuruh berdiri nggak?"
"Nggak," kata Pak Hakim. Gue seneng nggak ada acara berdiri-berdiri lagi.
".... kecuali Robby," sambungnya.

Tetep. Buntutnya nggak enak.

Nama-nama orang di kelas hampir udah disebutin semua. Sebarisan tinggal gue yang belum disebut. Kaki gue gemeteran. Darah gue ngalir cepet banget. Apakah ini rasanya jatuh cinta? Apakah belahan jiwa gue adalah yang selama ini ada di dekat gue? Apakah... botol tupperware yang gue maksud? Oh, bukan.

Kembali ke jalan yang benar. 

Ada kejadian yang bikin kelas rame. Gara-gara ulah Fachri, temen gue. Fachri berhasil ngejawab pertanyaan yang tadinya nggak bisa dijawab sama orang yang ditunjuk Pak Hakim. Begitu tau pertanyaan nggak kejawab, Fachri langsung angkat tangan,
"HOS Cokroaminoto."
"Ya, benar," kata Pak Hakim. Seisi kelas langsung riuh tepuk tangan merayakan keberhasilan Fachri menjawab pertanyan. Fachri langsung seneng bukan main. Dia mengepalkan tangannya dan berkata, "YES!!"
"Siapa tadi nama kamu?" tanya Pak Hakim.
"HOS COKROAMINOTO," jawab Fachri dengan semangat. Sontak sekelas langsung rame lagi. Bedanya, sekarang ngetawain Fachri. Gue ngakak nggak abis-abis, bahkan sambil nulis ini gue sambil nginget lagi, dan masih lucu. Pecah parah!
"Bukan jawaban kamu, tapi nama kamu," Pak Hakim cuma bisa bergeleng.
Okay, akhirnya gue punya temen seperbudekan. 

Gue masih nggak tahan ketawa gara-gara Fachri. Tapi kaki gue nggak bisa bohong, gue masih gemeteran nama gue kapan dipanggil. Sampai bel ganti pelajaran berbunyi, nama gue nggak disebut. Yes, gue nggak kebagian pertanyaan kuis!

Untungnya ini cuman kuis biasa. Berhasil jawab, dapet tambahan nilai. Kalo nggak bisa, ya nggak papa. Itung-itung latihan buat minggu depan ulangan harian.

Semuanya udah beres-beres, tiba-tiba,
"Selanjutnya... Robby Haryanto."
Aseeeeem, INI KONSPIRASI!!! Dari tadi nama gue nggak disebut-sebut, giliran udah bel bunyi baru disebut. Musnah semua kebahagiaan gue.
"Jawab pertanyaan ini," kata Pak Hakim. "Berapa jumlah pertanyaan yang saya kasih dari awal sampe akhir?"
INI KONSPIRASI!!! Pertanyaan macam apa ini?!
"Lima belas," kata gue dengan asal sebut.
"Nggak jadi, ganti pertanyaan." Pak Hakim berdiri, kemudian bertanya ke gue, "Apa arti dari sakti, budi, bakti?"
Sambeeel, gue belum baca sampe situ
Tiba-tiba, berbeda dari kuis sebelumnya, orang-orang yang di deket gue langsung ngasih jawaban. Mungkin mereka pengen cepet-cepet selesai, lalu pindah ruangan ganti pelajaran. Gue ngejawab pertanyaan itu. Respon Pak Hakim cuma ngangguk. Nggak tau jawaban itu bener atau nggak, pokoknya yang penting ngangguk. (Gue lupa jawab apa, coba aja googling yak! Ehehehe)

Yeah, gue ngerasa lima Jumat yang gue lalui di tahun 2016 bener-bener seru. Misalnya, Jumat pertama, yaitu tanggal 1 Januari adalah tahun baru. Jelas serunya gimana. Tidur seharian kayak nggak punya kehidupan. Eh iya, solat Jumat nggak lupa dong. Nggak lupa buat tidur pas khotbah.
Barulah setelah itu, kebanyakan ngenes semua. Tapi, kok tetep seru ya? Mungkin ini bisa jadi senjata pamungkas gue kalo kebuntuan ide melanda. Nggak ada ide, ya tinggal nginget-nginget apa aja yang ada di hari Jumat. Ya, minimaaal gue bisa cerita tentang solat Jumat karena selalu ada pengalaman berbeda dari khotib yang berbeda pula.

"Ya Allah, ini khotibnya lama bener." Kira-kira begitu isinya.


27 komentar:

  1. ahahaha pea' dah :'D
    Tapi kalo gue sih cenderung seneng banget kalo pas listening section di pelajaran Bahasa Inggris. Rasanya tuh kayak ada lagu melodi syahdu yang bikin gue ngantuk dan merasa ada di negeri penuh kapas ahahhahaa molor dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serasa dongeng berbahasa Inggris ya? Ini gak bisa gue lakuin :(

      Delete
  2. hahahaha idup budeg!!!
    yang diatas gw seneng kalo ikut listening, gw sebaliknya malah engga ngerti b inggris wkwkwkw
    dasar pak hakim, cuma bisa menghakimi siswany sendiri hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tumben komen di blog gue bener. Alhamdulillah...

      Delete
    2. Ini agak bener. Alhamdulillah yah rob haha :D

      Delete
  3. wkwkwk pura2 budeg aja kalo listening b.inggris. gokil.
    oh iya bisa minta folbacknya kak? :D

    ReplyDelete
  4. Gue sering bgt bilang "HAH?" jangan jangan...... Eh tp gue jd ada ide mau nulis tentang HAH itu. Wakakaka thanks, Rob.

    Gue jg ngakak yg si Fachri jawab Hos Cokroaminoto pas ditanya nama bahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ...jangan-jangan kita budek. Capek deh kalo ngbrol bareng.

      Delete
  5. Gue sering bgt bilang "HAH?" jangan jangan...... Eh tp gue jd ada ide mau nulis tentang HAH itu. Wakakaka thanks, Rob.

    Gue jg ngakak yg si Fachri jawab Hos Cokroaminoto pas ditanya nama bahahaha

    ReplyDelete
  6. ya sama si, kalo tiba-tiba di ajak ngomong orang pasti ber "Hah?-Hah?" dulu.
    kalo listening basa inggria, bukan budeg gua mah emang ga bisa aja pasrah.

    ReplyDelete
  7. Gile tuh guru, konspirasi banget. Emangnya dia jengkel banget sama kau Rob? Atau gimana?

    ReplyDelete
  8. Wuiiih. Perasaanku aja atau apa ya. Tumben postingan kamu kali ini panjang, Rob. Oh ternyata kamu suka yang panjang-panjang juga kan. Ngaku deh~

    Bahahahahaha. Setelah Herman, Robby, trus Fachri bikin ngakak. Fix itu jodoh kamu bukan botol tupperware, tapi Fachri. Fix kalian sepersaudaraan perbudegan.

    Ibu Devi sangar banget ya jadi guru Bahasa Inggris. Beliau memang gitu atau lagi PMS? :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. APAAN, NEH. Ngomongin panjang-panjang :')

      Wadaaaay, Fachri orangnya lucu juga ya. Semoga orangnya baca~

      Aslinya baik kok <- ini wajib sebagai pencitraan

      Delete
    2. (((Aslinya baik kok))) ini biar kalau ditanya mana blognya gak nulis yang aneh aneh tentang guru ya rob? EH.

      Delete
    3. Wuaah, tanpa tau maksud aslinya, kayaknya udah ketauan. HAHAHA

      Delete
  9. Nggak sakit bud*gpun aku kalau ngerjain soal listening, pertanyaan belum selesai alu selesai duluan, parah nggak tuh, semoga kuat ya dengan sakitnyaaaa, aku juga kuat baca ceritanya, lucuuuuu bangeeeettt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Parah.. parah banget nih. Mana ada gitu -_-

      Delete
  10. Wkwkwk parah Rob :D wkwkw kamu kayaknya udah mendapat imej buruk dari guru-guru, makanya kamu diperlakuin gitu sama guru-gurumu wkwkwk :D

    ngakak parah ini kelakuan si bocah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, iya kayaknya nih. Takut jadinya :(

      Delete
  11. Hah hah ?
    Ini kepedesan *ngeles*
    Bukan budeg, hahaa kocak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Minum dulu biar nggak kepedesan, kak...

      Delete
  12. Terkadang gue juga suka refleks ngomong HAH? kok rob.
    Terlebih lagi kalau ditelpon. Ini orang ngomong apa kumur kumur make air kobokan rumah padang ya.
    Itu FACHRI malu pisan pasti jir. Salah tapi pede mampus lagi hahaha.
    Temen seperbudekan ada gitu ya rob.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kirain cuma gue yang suka "hah-heh-hoh". Ternyata ada juga.

      Hahaha, gue juga tengsing beraat itu. Pasti dah :D

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.