thumbnail-cadangan
"HERMAN!! (nama disamarkan) Sini kamu!" Mrs. Devi memanggil Herman dengan kesal. Baru saja maju ke depan mengumpulkan soal ulangan Fisika dan LJK-nya, Herman harus ke depan lagi.
"Sini kamu," kata Mrs. Devi, kemudian melanjutkan sambil menunjukkan kertas soal yang tadi Herman kumpulkan. "Ini maksudnya apa?! Soal digambar-gambar nggak jelas."
Herman cuma diam.
"Heh, jawab?!"
Herman nggak peduli dengan ucapan Mrs. Devi, kemudian dengan tak acuh dia balik ke tempat duduknya.
"HEH! SINI KAMU!"
Suasana jadi tegang. Gue nggak konsen setelah mendengar bentakan Mrs. Devi. Sambil menggerutu, Herman kembali ke meja guru.
"KAMU GILA YA?! Ditanya nggak ngomong apa-apa."
Herman masih diam, memasang raut wajah nggak peduli. Herman mengambil hapusan dari kantong celananya, kemudian menghapusnya.
"Jangan dihapus dulu gambarnya!" perintah Mrs. Devi. Namun Herman tetap keras kepala, dia melanjutkan menghapus gambarnya.
"KAMU INI KEPALA BATU YA!"
Herman kabur dengan ekspresi nggak bersalah.
"Bener-bener gila itu anak. Nggak habis pikir.."

***

Walaupun gue jarang  pake headset, tapi gue ngerasa sering ngerasa budek. Setiap kali orang nanya, respon gue yang pertama adalah, "Hah?". Apalagi kalo diajak ngobrol di atas motor pas ngebut, gue pasti nyodorin kuping ke temen gue sambil teriak "APAAAN??? GAK KEDENGERAAAAN."

Beneran, jadi orang yang budek itu nggak pernah enak. Selalu dianggap telat mikir karena paling lambat menangkap informasi pembicaraan. 

Pernah, dulu waktu gue jadi ketua kelas, gue ketauan budek di depan guru. Ceritanya, Bu Septi manggil gue. Kondisi kelas berisik banget.
"Ketua kelas mana?" tanya Bu Septi.
Gue lagi ngobrol dengan temen sebelah gue di barisan belakang, jadi gue fokus dengan temen gue. Sampai temen gue yang duduk di depan manggil, "ROBBYYY... dipanggil Bu Septi."
"Oh.. i.. iya, bu," kata gue kayak orang abis bangun tidur. 
"Sekretaris mana?"
"Ilang, bu," jawab gue dengan cepat. Semua orang ngeliatin gue. 
"Sekretaris, Robby," temen-temen nyautin gue dengan kesal. "Itu, si Afifah."
"Oh, sekretaris. Gue kira buku tulis."

Parah. Antara sekretaris sama buku tulis itu beda jauuuuh. Eh, nggak jauh-jauh amat, sih. Soalnya sekretaris kalo nulis di buku tulis  #TetepBelaDiri

Pendengaran gue yang minus ini bikin gue terhambat dalam listening test. Bahkan, setelah selesai tes.
Ceritanya, seminggu yang lalu, hari Jumat, gue listening test Bahasa Inggris. Semuanya harus ngejawab pertanyaan sebanyak 100 butir di lembar LJK. 100 soal itu dibagi ke dalam empat bagian. Setiap soal harus didengerin bener-bener. Kalo kelewat dikit, ancur konsentrasinya. Apalagi harus ngerjain 100 soal, dalam waktu 1 jam.

Gue sering kelewat ketika bagian kedua yang bener-bener harus dengerin semua yang ada di rekaman. Untuk bagian yang lain, kita masih bisa liat petunjuk yang ada di kertas yang dibagiin. Entah soal atau pilihan jawabannya. Sedangkan di bagian kedua, soal dan pilihan jawaban ada di rekaman. Jadi, setelah selesai rekaman bacain soal, gue langsung konstentrasi ke pilihan jawaban. Pilihan jawaban selesai dibacain, giliran soalnya gue lupa. Mana ngomongnya pake bahasa Inggris lagi. Jadi nggak inget apa-apa.

Seminggu kemudian, nilai udah keluar dan satu per satu dibacakan. Di luar dugaan, gue mendapat nilai di atas harapan sebelumnya. Nilai gue... 49. Harapan gue cuma 45. Setelah dikoreksi lagi, ternyata ada dua soal yang seharusnya gue jawab benar. Dihitung-hitung lagi, jumlah jawaban benar setelah dikoreksi manual adalah 51. Wow, ada peningkatan!

Ternyata, itu semua palsu. Setelah gue mengetahui... gue salah ngisi kode peserta. 

Setelah dikoreksi manual, nilai kembali diinput ulang. Gue masih seneng-seneng aja karena ternyata nilai gue harusnya lebih bagus dari sebelumnya.

"Ini siapa nomor siapa  2-1-11281?" tanya Mrs. Devi.
Semua lirik-lirikan. Memikirkan siapa yang nomor pesertanya seperti yang disebutkan Mrs. Devi.
"28? Itu, mah, absennya Robby," kata temen gue.
"Gue?" tanya gue. Padahal ini baru absen-absen atas, sedangkan gue ada di barisan bawah. Aneh, batin gue.
Gue langsung nyamperin Mrs. Devi. DEG! Gue keinget dengan kejadian yang terjadi pada Herman sebulan sebelumnya. Ketika dia nyamperin Mrs. Devi lalu dibentak-bentak. Apalagi tingkahnya Herman mirip-mirip gue. Langkah gue nggak santai. Gemeteran.
"Ini nomor kamu bukan?" tanya Mrs. Devi sambil menunjukkan kertas hasil scanning LJK.
Lho, kampret. Itu kan nomor peserta yang gue isi. Kok nggak kayak seharusnya.
"Iya, Miss..."
"Nih, nomor peserta kamu salah. Harusnya 2-1-12811."
"Oh, salah nomor, ya, saya?"
"Iyalah! Nilai kamu nih," kata Miss Devi setengah sebal.
Gue melihat di ujung nomor 2-1-11281 ada angka 53.
"Nilai kamu setelah dikoreksi berapa?"
"51, Miss."
"Berarti nilai kamu minus 2."

Oh, kampret! Udah seneng-seneng tau karena nilai gue lebih bagus dari hasil scan, ternyata kebalikannya. Ah, yang penting masih di atas ekspektasi.

"2-1-11272." Mrs. Devi menyebutkan nomor peserta yang lain.
"67."
Udah nyampe nomor absen 27. Aduh, berarti abis ini nomor absen gue disebut dong. Tapi, barusan gue udah konfirmasi nilai, batin gue mulai bimbang.
Tiba-tiba kelas jadi berisik. Suara Mrs. Devi jadi samar dari tempat duduk gue di belakang. Ah, itu nomor gue yang disebut!
"Fifty one, Miss.."
"Heh, lu udah, Robby."
"KAMU UDAHAN TADI!" Miss Devi menggelengkan kepala.
"Oh, maap, Miss. Maap."
Kampret! Malu banget gue. Ini semua karena budek!! Aaaarrrgggghh. 

*** 

Setelah kaki gue cukup lemas menahan malu saat pelajaran Bahasa Inggris dan naik tangga ke lantai tiga, gue langsung berhadapan dengan pelajaran Sejarah Indonesia, yang kabarnya bakal ada kuis. Ya, gue merasa nggak kuat buat jalan lagi setelah naik tangga tadi. Jadi merasa umur lebih tua lima puluh tahun

"Robby ke mana?" tanya Pak Hakim di depan kelas. Gue mengangkat tangan sambil memegang tutup botol. Orang lagi minum dicariin.
"Tumben nggak duduk di depan?"
"Nggak ada bangku, pak," jawab gue sambil menutup botol tupperware hijau. 
"Oke, nanti setelah solat Jumat kita ada kuis. Sekarang belajar dulu," kata Pak Hakim, kemudian nggak lama setelah itu beliau turun ke ruang guru.

Selagi solat Jumat, gue berdoa biar nggak ada kejadian sepert kuis yang terakhir terjadi kembali. Itu malu banget.

Kemudian tibalah kuis yang ditunggu. Ditunggu kapan selesai maksudnya. Jujur aja, gue minim persiapan buat kuis kali ini. Aduh, hal-hal buruk udah kebayang duluan.
Seorang temen gue bertanya, "Pak, nanti kalo ada yang nggak bisa jawab disuruh berdiri nggak?"
"Nggak," kata Pak Hakim. Gue seneng nggak ada acara berdiri-berdiri lagi.
".... kecuali Robby," sambungnya.

Tetep. Buntutnya nggak enak.

Nama-nama orang di kelas hampir udah disebutin semua. Sebarisan tinggal gue yang belum disebut. Kaki gue gemeteran. Darah gue ngalir cepet banget. Apakah ini rasanya jatuh cinta? Apakah belahan jiwa gue adalah yang selama ini ada di dekat gue? Apakah... botol tupperware yang gue maksud? Oh, bukan.

Kembali ke jalan yang benar. 

Ada kejadian yang bikin kelas rame. Gara-gara ulah Fachri, temen gue. Fachri berhasil ngejawab pertanyaan yang tadinya nggak bisa dijawab sama orang yang ditunjuk Pak Hakim. Begitu tau pertanyaan nggak kejawab, Fachri langsung angkat tangan,
"HOS Cokroaminoto."
"Ya, benar," kata Pak Hakim. Seisi kelas langsung riuh tepuk tangan merayakan keberhasilan Fachri menjawab pertanyan. Fachri langsung seneng bukan main. Dia mengepalkan tangannya dan berkata, "YES!!"
"Siapa tadi nama kamu?" tanya Pak Hakim.
"HOS COKROAMINOTO," jawab Fachri dengan semangat. Sontak sekelas langsung rame lagi. Bedanya, sekarang ngetawain Fachri. Gue ngakak nggak abis-abis, bahkan sambil nulis ini gue sambil nginget lagi, dan masih lucu. Pecah parah!
"Bukan jawaban kamu, tapi nama kamu," Pak Hakim cuma bisa bergeleng.
Okay, akhirnya gue punya temen seperbudekan. 

Gue masih nggak tahan ketawa gara-gara Fachri. Tapi kaki gue nggak bisa bohong, gue masih gemeteran nama gue kapan dipanggil. Sampai bel ganti pelajaran berbunyi, nama gue nggak disebut. Yes, gue nggak kebagian pertanyaan kuis!

Untungnya ini cuman kuis biasa. Berhasil jawab, dapet tambahan nilai. Kalo nggak bisa, ya nggak papa. Itung-itung latihan buat minggu depan ulangan harian.

Semuanya udah beres-beres, tiba-tiba,
"Selanjutnya... Robby Haryanto."
Aseeeeem, INI KONSPIRASI!!! Dari tadi nama gue nggak disebut-sebut, giliran udah bel bunyi baru disebut. Musnah semua kebahagiaan gue.
"Jawab pertanyaan ini," kata Pak Hakim. "Berapa jumlah pertanyaan yang saya kasih dari awal sampe akhir?"
INI KONSPIRASI!!! Pertanyaan macam apa ini?!
"Lima belas," kata gue dengan asal sebut.
"Nggak jadi, ganti pertanyaan." Pak Hakim berdiri, kemudian bertanya ke gue, "Apa arti dari sakti, budi, bakti?"
Sambeeel, gue belum baca sampe situ
Tiba-tiba, berbeda dari kuis sebelumnya, orang-orang yang di deket gue langsung ngasih jawaban. Mungkin mereka pengen cepet-cepet selesai, lalu pindah ruangan ganti pelajaran. Gue ngejawab pertanyaan itu. Respon Pak Hakim cuma ngangguk. Nggak tau jawaban itu bener atau nggak, pokoknya yang penting ngangguk. (Gue lupa jawab apa, coba aja googling yak! Ehehehe)

Yeah, gue ngerasa lima Jumat yang gue lalui di tahun 2016 bener-bener seru. Misalnya, Jumat pertama, yaitu tanggal 1 Januari adalah tahun baru. Jelas serunya gimana. Tidur seharian kayak nggak punya kehidupan. Eh iya, solat Jumat nggak lupa dong. Nggak lupa buat tidur pas khotbah.
Barulah setelah itu, kebanyakan ngenes semua. Tapi, kok tetep seru ya? Mungkin ini bisa jadi senjata pamungkas gue kalo kebuntuan ide melanda. Nggak ada ide, ya tinggal nginget-nginget apa aja yang ada di hari Jumat. Ya, minimaaal gue bisa cerita tentang solat Jumat karena selalu ada pengalaman berbeda dari khotib yang berbeda pula.

"Ya Allah, ini khotibnya lama bener." Kira-kira begitu isinya.
Read More »

Biar pun Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW udah lewat dari akhir 2015, tapi tetep aja bisa dilakukan kapan pun, bahkan sebulan setelahnya. Seperti di sekolah gue yang Kamis kemarin ngadain Maulid.
 
Acaranya sendiri dimulai pukul 8 pagi. Tapi tetep aja masuk jam 6.30. Dimulai dengan belajar Biologi, yang ternyata nggak efektif banget karena mepet sama acara. Gurunya juga males-malesan, muridnya apalagi. Malah ada yang nggak bawa buku karena mengira hari itu nggak ada KBM. 
Hmm... kalo ngomongin belajar kayaknya nggak seru. Gue mau langsung cerita aja di bagian acara yang ditunggu hari ini.
Acara ini bisa dibilang jadi semacam tetesan air yang berusaha mengikis batu besar yang menghalangi gue untuk mengingat Tuhan. Sejak masuk SMA, gue udah nggak pernah ngaji lagi. Solat kadang suka bolong. Baca Al-Quran cuma malem Jumat, itu juga cuma Yasinan. Selain itu, nggak pernah sama sekali. Gue merasa jauh dengan Tuhan.
Sepanjang acara, gue merenungi semua keburukan yang pernah terjadi dalam hidup gue. Bagaimana gue membuang waktu tanpa memikir dampak selanjutnya. Bagaimana ketika gue lebih mementingkan tidur dibanding solat Zuhur. Dan, lebih memilih chattingan dibanding baca Al-Quran. 
Astagfirullah. Aku dosa sekali.
Sampai akhirnya di bintang tamu paling ditunggu. Seorang ustadz yang udah sering muncul di TV, yang mungkin kita semua tau. Gue kasih tau nih clue-nya:
- Pernah main sketsa komedi Ramadan bareng Adul dan Komeng.

Udah kebayang?

Nih, deh, gue kasih fotonya...  


Ust. Subki Al Bughury

Ya, beliau adalah pengisi acara di sekolah gue. Dan ternyata, beliau termasuk kakak kelas gue! Bayangin, KAKAK KELAS GUE!!! Oke, mulai berlebihan. 

Beliau adalah lulusan SMAN 33 tahun 1991. Bisa dicek kebenarannya di profil yang gue ambil dari website beliau. Klik ini.

Sebelum mulai ceramah, beliau cerita tentang masa-masa sekolahnya dulu. Beliau bilang, dia pernah minta boncengan ke kepala sekolah. Sambungnya, hanya ada beberapa anak yang berani minta boncengan ke kepala sekolah. 

Coba kalo sekarang, mana ada yang kayak gitu? pikir gue.

Kemudian, beliau juga sempat cerita, kaligrafi yang ada di mimbar masjid adalah karyanya bersama temannya. Masih awet dan warna catnya belum pudar.
 
Acara selesai nggak langsung bikin gue bisa bebas pulang. Masih ada jam lintas minat Ekonomi yang bikin gue tertahan. Huh, nggak mau rugi nih sekolah. Udah ada acara masih aja ada belajar siangnya, batin gue.

"Nggak ada lintas minat, kan?" tanya gue ke Rohim.
"Nggak ada."
"Baguslah." Gue mengepal tangan, tanda bahagia setelah tau kabar nggak ada lintas minat.

Nggak ada lintas minat, adanya rejeki. Temen sekelas gue, Rini, ngebawa empat tumpuk kotak snack, lewat di depan gue dan Rohim yang masih duduk di depan masjid. Kayaknya dia seksi konsumsi acara Maulid, jadi bawa-bawa tumpukan kotak itu. Tiba-tiba, ada hasrat yang muncul dalam diri gue.
Kurang lebih ada percakapan seperti ini.

Rohim: Masih ada isinya nggak?
Rini: Masih
Rohim: Gue bagi satu dong
Rini: Nih, ambil aja.

Rohim langsung ngambil sekotak. Terus, gue cuma berkata dalam hati, "Kayaknya enak nih!"

Rini: Lu mau juga?
Gue: Boleh deh
Rini: Nih, bawa lagi deh, Him.

Rohim megang kotak yang kedua.

Rini: Lu juga *ngasih kotak terakhir ke gue*

Dan akhirnya, gue pulang membawa dua kotak snack. Wuheheheh.

Sebagai anak yang udah lama nggak ngaji, ini salah satu yang bikin gue kangen sama nuansa pengajian. Biasanya, waktu zaman sering ngaji, guru gue sering ngajak gue dan temen-temen ikutan tahlilan. Katanya, biar banyak yang doain. 

Padahal, ujung-ujungnya ngabisin makanan juga. Mana pulangnya terakhir banget. Sok-sokan beres-beres, bantuin tuan rumah. Tujuan utamanya: dapet makanan lebih banyak. Hasilnya? Kue-kue yang ada di piring ludes dibungkus kresek, dimasukin ke tas ngaji. Kadang kalo nggak ada kresek, langsung masukin tas gitu aja. Lebih parah lagi, masukin ke kantong. Jadinya kayak anak abis ngejambret warteg.

Well, gue adalah anak yang besar dari nasi kotak. Eh, bentar. Kok kesannya kayak orangtua gue nggak ngempanin gue ya? Cuma ngarepin nasi kotak dari tahlilan.

Berikut penampilan snack dalam kotak yang gue dapet...



Minus risol yang udah dimakan

Read More »

thumbnail-cadangan
Gue mau memulai dengan membahas hal-hal ringan.
Gue memprediksi, sampai akhir Februari gue bakal diterpa banyak kegiatan, baik sekolah dan hal lain. Kegiatan itu di antaranya:
1) Sekitar bulan Februari awal atau pertengahan akan ada pagelaran drama musikal. Ini seru, tapi melelahkan. Latihan sampe sore dengan keadaan banyak PR. Itu semua bikin gue lupa caranya tidur jam 9 malam. Tiap malem selalu tidur di atas jam 11, paginya bangun jam 5.30, langsung buru-buru bersiap ke sekolah. Akhirnya... lupa boker.
2) Ada acara keluarga di Jawa Tengah bikin gue lepas sebentar dari urusan sekolah. Kabar baiknya: gue ngerasain naik kereta lagi! Wohooo!
3) Gue lagi merencanakan penelitian skala besar dengan tema "Hubungan Antara Banyak Tugas yang Diterima Siswa dengan Tingkat Keganasan Mereka Pada Malam Hari".

Nggak deng. Yang ketiga nggak termasuk.

Ya, kadang setiap malam gue menjadi ganas. Nyeruput kopi punya Bapak dengan leluasa. Bahkan, pernah di suatu malam, bapak gue baru nyeduh Indocafe mix-nya. Kemudian dia pergi ke kebun (iya, bapak gue ngurusin kebun malem-malem) meninggalkan kopinya yang masih panas. Nggak membuang kesempatan emas ini, gue nyeruput kopinya pelan-pelan. Lama-lama keenakan, akhirnya... abis. Tanpa sisa ampas. Oh iya, indocafe nggak ada ampasnya. Hidup Indocafe!

Namun, makin ke sini gue jadi nggak berani minum kopi lagi. Gara-gara masalah yang sama, nyeruput kopi Bapak secara diam-diam, kepala gue langsung pusing. Lebih serem lagi, dada gue langsung sesak. Perut gue mules. Mulai saat itu, gue kapok minum kopi.
Kemudian gue beralih ngemut permen kopiko. Efek buruk kembali mendatangi gue. Setelah permen abis di mulut, perut gue langsung mules. Apakah ini pertanda bahwa gue nggak bisa menyatu dengan kopi? Emang nggak ditakdirin jadi pengopi kayaknya.

----

Ada yang pernah nanya ke gue, "Rob, lu pernah nggak sih suka sama cewek?"
Seperti lelaki normal pada umumnya, gue pernah suka sama cewek. Bahkan sampai saat ini masih. Dan jawaban ini sekaligus sebagai klarifikasi kalo gue bukan homo.

Lagian, menurut gue, cowok kalo lagi suka sama cewek kayaknya jarang ada yang bilang-bilang ke temennya. Biasanya paling cuma dipendam, lalu nama cewek itu diselipkan di doanya.

"Ya Allah, kapan dia (menyebut nama cewek) bayar utang-utangku?"

Romantis, kan?

Kalo gue beda. Dengan jatuh cinta, gue membuat semuanya jadi tulisan. Biasanya berupa cerpen atau puisi, tapi nggak gue share di blog ini.

"Rob, kok lu nggak pernah nulis tentang cinta-cintaan di blog?" seorang teman tiba-tiba nanya hal itu di sela obrolan serius. Kenapa nanya begini coba?

Orang ini mungkin baru sedikit baca post blog gue. Sebenernya, dulu gue seriiiing nulis tentang cinta-cintaan. Setelah salah satu tulisan itu dibacain temen gue waktu kelas 10, gue langsung berhenti nulis cinta-cintaan. Bayangin aja, dibacain di dalem kelas. Dibaca keras-keras! Saat itu gue malu dan nggak tahan. Ya udah, gue apus pas malemnya. 

Seperti di angkot sore ini. Gue duduk berhadapan dengan teman gue, Oky. Di sebelah gue ada cewek berjilbab bersama temannya yang duduk di hadapannya, di sebelah Oky. Tasnya dipangku, lalu kepalanya ditaruh di atasnya. Sepertinya dia anak sekolah sebelah.

Begitu Oky turun dari angkot, cewek ini manggil gue.
"Ini Robby, kan?" tanya cewek itu sambil menunjuk, kemudian dilanjutkan, "yang nama blognya www robby haryanto?"
Gue kaget dan gugup. Nggak biasanya ditanyain ginian di angkot. Biasanya kalo di angkot cuma ditanyain, "Turun di mana, Dek?"
"Iya.." jawab gue singkat sambil tersenyum canggung. Gue melirik ke arah wajahnya. Sekilas gue pernah kenal dengan cewek itu. Lebih tepatnya, gue lebih kenal dengan orang yang ada di samping Oky, yang merupakan temen SMP gue. Dulu cewek itu penah nyapa gue di angkot juga.
"Nah, tulis di blog dong," cewek itu berhenti bicara seperti memikirkan kalimat selanjutnya, "tentang pertama kali jatuh cinta. Kan seru tuh buat pembacanya."
Gue cuma mengangguk dan tertawa kecil. Gue masih heran dengan cewek itu. Gimana bisa dia ngenalin gue yang cuma pernah ketemu di angkot? Apalagi saat itu keadaan di angkot gelap. Ngebedain gue dengan jok mobil, kan lumayan susah.
"Jangan cuma yang lucu-lucu aja," sambungnya.
"Hmmm.. oh iya deh. Hehehe." Gue keabisan kata-kata.

Turun dari angkot, gue masih kepikiran dengan kata-kata cewek itu. Nulis tentang jatuh cinta, gue mana bisa??! Pengetahuan dan perasaan gue tentang cinta belum dalem. Biasanya kalo orang yang jago banget ngomongin cinta, dialah yang pernah dibuat tinggi, sekaligus disakiti oleh cinta. Sedangkan gue, udah lama nggak ngerasain patah hati. Dikecewakan? Pernah. Cemburu? Sering. Malah kasus cemburu ini yang paling banyak. Misalnya, tiap gue berangkat atau pulang sekolah, gue ngeliat orang yang gue suka dibonceng motor. Mau cemburu, tapi gue bukan siapa-siapanya. Mau gue labrak yang bonceng, ternyata itu bapaknya. Nggak pantes juga, kan.

Kalo ada orang yang minta curhat ke gue tentang cinta-cintaan, gue paling cuma ngangguk-ngangguk aja. Padahal, mah, nggak bisa ngasih solusi. Ya.. minimal jadi pendengar setia. Atau, gue sok-sokan bijak dengan mengluarkan kata-kata emas yang sering gue baca di timeline media sosial.

Asli, banyak banget orang kayak gini.


Jadi, kapan gue mau nulis tentang cinta-cintaan di blog ini? Nanti aja deh kalo lagi pengen. Untuk sementara, gue lagi suka nulis tentang cinta-cintaan di blog yang satunya. Klik ini aja.

---- 

Gue lega setelah mendengar kabar dari temen gue yang baru aja kena gatel-gatel gara-gara post gue yang ini. Di rumahnya, dia ditanya ibunya kenapa pulang lebih cepet. 
"Tenang aja, hari ini ibu lagi baik. Jadinya temen kamu nggak ibu laporin," cerita temen gue menirukan suara ibunya.

Gue bersyukur, nggak dipenjara karena bikin anak orang gatel-gatel.
Read More »

thumbnail-cadangan

Minggu lalu, kelompok gue kebagian materi bikin makalah dan presentasi Agama tentang dosa-dosa besar. Dengan tema itu, gue langsung berpikiran, "Manusia itu tempatnya salah dan dosa. Kayaknya banyak banget dosa-dosanya, apalagi yang besar."

Mengenai dosa besar dan kesalahan, gue mengakui, pada post terakhir gue melakukan kesalahan. Bisa dibilang kesalahan besar.

Di post ini, gue membahas tentang trypophobia. Di dalam post, ada gambar yang bikin seorang pengidap trypophobia bisa gatal-gatal. Padahal niat gue adalah mau nunjukin gimana gambar yang bisa bikin trypophobia. Nah, kejadian itu malah berujung fatal. Itu terjadi di sekolah.

Senin pagi, dalam keadaan nggak ada guru, temen-temen gue ngomongin kejadian hari Sabtu. Ada beberapa orang yang langsung melipir ke blog gue. Ada yang cuma dengerin temen gue cerita, lalu dia penasaran. Akhirnya dia buka hapenya, dia liat gambar itu, dan... dia ngomel-ngomel ke gue yang duduk tepat di sebelahnya.
"Lu gimana sih, kenapa dimasukin gambar ituan? Kalo tangannya si Giyats gak papa deh, gak takut."
"Ya, kan biar orang-orang tau," dalih gue. "Lagian lu penasaran."

Sampai guru masuk, temen gue itu cuma garuk-garuk. Gue jadi ketakutan ngeliatnya. Takut kejadian buruk akan terjadi.

Gue langsung mikir, "Mending gue apus aja deh gambarnya." Gue takut korban jadi tambah banyak.

Akhirnya, temen gue itu langsung minta izin pulang ke guru piket. Gue makin takut. Padahal, gambarnya baru aja gue apus.

Ternyata nggak cuma gatal-gatal, migrain, dan nangis kejer, efek dari para pengidap trypophobia bisa langsung izin sekolah.

Dari kejadian ini, gue jadikan pelajaran buat bikin konten yang lebih aman. Gue mikir, pembaca blog gue nggak mungkin cuma satu-dua orang. Gimana kalo di antara mereka semuanya mengidap trypophobia? Wah, blog gue langsung ditinggal.

Sampe post ini mau berakhir, gue masih ketakutan. Takut kalo temen gue ngadu ke ibunya, lalu ibunya ngelapor ke pihak berwajib, dan berujung dengan penutupan blog gue karena dianggap menyakiti seseorang. Bisa kena pasal, tuh.

Anggap saja, ini dosa besar yang pernah gue lakukan selama jadi blogger. Namun, tak ada dosa yang tidak diampuni selain menyekutukan Allah. Jadi, gue minta maaf seiring dengan berakhirnya post ini.

Read More »

thumbnail-cadangan
Orang kalo udah nggak nyaman dengan suatu hal, pasti bakal ngejauhi segala yang berhubungan dengan hal itu. Rasa nggak nyaman itu bisa berupa malu, jijik, dan takut. Misalnya, teman gue, sebut saja Herman. Herman takut sama bencong. Untungnya, ketakutan Herman masih bisa ditolerir. Herman akan takut dengan bencong yang dadanya rata, kakinya belang-belang, suka nongkrong di genangan air, dan suka nyedot-nyedot darah. Bentar, ini bencong atau nyamuk aedes aegypti?

Suatu hari, pipi Herman dicium oleh bencong berkriteria tersebut. Sontak dirinya langsung syok, kemudian tak sadar diri. Sejak saat itu, Herman berjanji untuk menjauhi yang namanya bencong, apalagi menjadikannya pacar. Herman bakal ketakutan, bahkan lari-lari nggak jelas, kalo kebetulan ngeliat bencong di jalanan.

Gue nggak tau pasti, apakah ada yang namanya fobia terhadap bencong. Tapi, dari kejadian di atas menjelaskan bahwa Herman takut dengan bencong. Lalu, kenapa bahas fobia segala? Jawabannya: sama-sama ketakutan.

Fobia menurut wikipedia:

Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti.
Di kalimat selanjutnya, para pengidap fobia seringkali jadi bulan-bulanan teman-temannya. Contohnya yang baru-baru ini terjadi di sekitar gue.

Ikhsan diduga mengidap trypophobia. Hal itu diketahui setelah dia ngasih liat foto di timeline Instagramnya.
"Gimana?" katanya sambil menunjukkan sebuah gambar.
Gue yang terlanjur ngeliat gambar itu langsung bergidik ngeri. "Anjassss." Lalu gue menjauh dari Ikhsan. Gue menggaruk bagian belakang kuping, kemudian ke kepala.
Ikhsan, yang nunjukin gambar itu, ikutan garuk-garuk. Sedangkan Giyats, yang tau akan fobia Ikhsan, langsung membuat gambar yang persis ada di hape Ikhsan di tangannya. Dengan pulpennya, Giyats membentuk gambar di bawah mirip aslinya.

(Ps: mohon maaf untuk gambar contohnya udah gue apus. Karena banyak temen gue yang langsung gatel-gatel)


Memang, efek dari penderita trypophobia adalah garuk-garuk sendiri. Badannya merasa merinding di sekitar kepala. Malah, gue baca di suatu website, bisa langsung migrain.
Keisengan Giyats berlanjut. Dia nyodorin tangannya yang udah digambar ke Ikhsan. Ikhsan langsung kabur dan mohon-mohon ke Giyats buat ngapus gambar itu. Gue, yang diam-diam ikut-ikutan ngerasa trypophobia, langsung buru-buru kabur. Gue nggak mau garuk-garuk di lingkungan sekolah. Nanti dikira belum mandi.

Gue nggak nyangka, kalo trypophobia bisa bikin orang nangis kejer.

Ceritanya tadi siang, hari Sabtu. Gue dan setengah orang di kelas ada kerja kelompok latihan drama musikal. Di sela-sela sebelum mulai latihan, Giyats iseng mainin pulpen nyoret-nyoret tangannya. Gue penasaran, langsung ngeliat gambar apa yang ada di tangan Giyats. Apakah gambar robot? Atau gambar kelabang? Jangan-jangan lagi ngelukis gue.

"Yats, lu mah bikin gituan lagi aja. Gue merinding jadinya," kata gue sambil menggaruk belakang kuping. Namun, rasa gatalnya nggak sehebat sebelumnya.
Giyats nggak menggubris. Dia masih asyik dengan pulpennya.
Bersamaan dengan selesainya gambar yang dibuat Giyats, Ikhsan menghampiri. Karena gambarnya udah jadi, Giyats langsung nakut-nakutin Ikhsan.
"WOYY, APUS GAMBARNYA!!"
Giyats masih nyodorin tangannya ke Ikhsan seperti nggak ngasih ampun. Ikhsan masih mohon-mohon.

Gue nggak tau kelanjutan kisah mereka, tau-tau latihan udah dimulai. Gue duduk di lantai bersebelahan dengan Giyats. Kami bersandar di bagian bawah bangku yang dijejer. Tangan kiri Giyats masih menyisakan gambar-trypophobia-nggak-modalnya.

Lama-lama, gue mulai nggak takut dengan gambar yang ada di tangan Giyats. Gue pernah dengar kata-kata seseorang, katanya, "Sentuhan bisa memperbaiki sebuah hubungan." Karena gue mau berdamai dengan gambar itu, maka gue ngelus-ngelus tangannya Giyats.

FYI, Giyats itu cowok. Gue juga cowok. Gue ngelus-ngelus Giyats. Jadinya.... *nggak tega nerusin*

Tiga kali gue melakukan itu membuat gue terbiasa dengan gambar itu. IYA, SAMPE TIGA KALI! Sampai di sentuhan keempat,

"IIHHH... ITU DI TANGANNYA GIYATS ADA APA??!!!" suara jeritan H (temen gue yang nggak mau gue tulis namanya) pecah. H berlari menuju temen-temennya yang ada di depan dengan penuh ketakutan. Tangisnya pecah sesampainya di sana. Nangis kejer.

Ternyata, H ada di belakang gue dan Giyats. Dia duduk di bangku sebelah bangku yang gue jadiin senderan. Makanya begitu ngeliat pemandangan aneh (baca: gue ngelus-ngelus tangan Giyats), pandangan H jadi fokusnya ke situ. Dan ternyata, si H juga mengidap trypophobia. Malah lebih hebat efek ketakutannya.

H masih juga nangis. Sedangkan gue, dengan bodohnya, tertawa terbahak sampe guling-guling. Bagi gue, ini sangat konyol. Gue yang niat awalnya mau berdamai dengan gambar yang ada di tangan Giyats, malah secara perlahan ngasih tau ke si H kalo ada gambar-nakutin-di-tangan-Giyats. Entah sih, gue juga nggak tau pasti apa penyebab si H nangis segitu kejernya. Persepsi orang-orang saat itu: dia takut sama gambarnya Giyats.
Pendapat gue beda. Bisa jadi si H takut dengan kelakuan gue... yang menjurus ke adegan panas. Mungkin kalo dia nggak nangis, gue bisa berbuat lebih jauh. Hmmm... Astagfirullah. Gue cuma mau berdamai sama gambar berengsek itu doang, kok.

Giyats langsung berlari menuju kamar mandi buat ngapus gambarnya. Sekembalinya dari kamar mandi, dia langsung nyalah-nyalahin gue.
"Lu ngapain ngelus-ngelus tangan gue. Kan, jadinya si H tau kalo ada gambar ginian!"
"Lha, mana gue tau ada si H di belakang," bantah gue. "Lagian, gue begini biar gue nggak takut lagi." Teman-teman yang lain masih berusaha menenangkan H. Akhirnya H bisa berhenti nangis dan latihan dilanjutkan.

"Liat deh," kata Giyats mengarahkan mulutnya ke H, "si H jadi diem aja."
"Iya, jadi murung."
"Gue takut, kalo nanti dia malah takut sama gue," kata Giyats penuh ketakutan.
"Lah, gue malah takut, kalo dia nyangka gue homo." Sampe sini, gue tetep membela diri nggak mau disebut homo karena ngelus-ngelus tangan cowok sampe empat kali dalam waktu singkat.

H tetep nggak ngubah tatapannya. Masih kosong. Kayak ada yang dibayangin.
"Kayak orang yang nyawanya nggak nyatu sama raganya," celetuk Diki.
"Gue takut kalo dia terus-terusan ngebayangin."
"Iya, gue juga takut." Yang ada di pikiran gue masih sama: takut dikira homo.
"Coba dong, By. Biasanya, kan lu suka nulis-nulis di blog, bikin post tentang ini."
"Ah, nggak lah. Gue takut."
"Ayolah, By. Sekalian minta maaf."
"Kenapa nggak di chat aja?"
"Nanti dia malah musuhin gue."
Gue nggak melanjutkan. Kita pindah fokus ke teman gue yang lagi latihan dialog.

Okay. Untuk post kali ini, gue mau minta maaf untuk H karena udah menunjukkan dua hal yang nggak ngenakin: 1) gambar yang ada di tangan Giyats; 2) perilaku yang keliatan "homo banget". Dan, ini pesan dari Giyats:
Giyats juga minta maaf karena bikin gambar-gambar gituan. Maaf banget.
Semoga orangnya baca dan nggak ngeliat gambar yang ada di atas.
Read More »

thumbnail-cadangan
Waktu kecil, pola tidur gue cukup baik. Tidur jam 9 malem bangun jam 5 pagi. Meskipun kadang masih dibangunin Mama, gue rutin bangun jam 5. Sekalinya nggak dibangunin, bangun jam 6 kurang. Dulu mah belum ngerti sholat Subuh, makanya sering banget ninggalin.

Kecil-kecil udah kafir, gimana gedenya??!

Yah.. abaikan aja itu.

Pola tidur gue sempat rusak setelah gue mengenal kehidupan malam. Bukan, maksudnya bukan kehidupan malam yang itu. Yang nongkrong sampe pagi pulang bau alkohol. Maksud gue adalah bergadang. Tepatnya setelah nge-fans sama tim bola.

Waktu SD, gue nge-fans sama Manchester United dan AC Milan. Setiap dua tim itu ditayangin di TV, gue selalu nonton, sekalipun tayang dini hari. Kadang, gue sengaja minta bangunin Bapak buat nonton bareng (yang sama-sama fans AC Milan). Kalo MU main tengah malam, pasti gue nggak dibangunin. Karena dia juga termasuk fans Chelsea. Bapak dan anak yang bersebrangan.

Masuk SMA, gue malah sering bergadang. Ngerjain tugas, ngeblog, dan lain-lain. Bergadang bikin gue sering bangun mepet sama jam berangkat sekolah. Berangkat jam 6, baru bangun jam 5.30. Itu belum termasuk beresin buku, mandi, pake baju, nyisir (ini bisa ngabisin waktu 10 menit sendiri), dan makan.

Padahal, gue selalu punya target bangun jam 4.30. Itung-itung bisa sholat Subuh di awal waktu, kalo sempet bisa baca buku. Lebih keren lagi, bisa lari pagi dulu. Tapi, ya, mau gimana lagi... bangun jam 5.30 terus.

Pernah, kejadian ini rutin. Gue bangun lebih awal dari biasanya. Gue bangun jam 4 pagi, tanpa bantuan apa pun dan siapa pun. Gue bangun cuma buat nyalain lampu atau ngecas hape. Abis itu, tidur lagi. Bangun jam 5.30 lagi. Sama aja, sih sebenernya.

Akhir Desember 2015, gue punya janji sama diri gue, harus bisa menyanggupi target yang gue buat. Caranya, dengan masang alarm. Paling nggak, gue bisa ngurangin beban Mama yang biasanya ngebangunin gue.

Sayangnya, gue tetep nggak bisa bangun sesuai target. Gue pernah baca di internet, kalo otak yang mengatur kita untuk bangun tidur selalu aktif sesuai pola. Pola bangun tidur gue yang selalu jam 5.30 belum bisa diubah. Alarm aja nggak cukup ngubah.

Mungkin, kalo alarmnya ada dua bisa ngubah, pikir gue dengan lugu.

Ya, mulai saat itu gue nyalain dua alarm hape dengan jarak 5 menit. Satu pake hape gue, satunya lagi pake hape Mama. Bakal bisa bangun lebih pagi, nih.

Dua alarm udah gue buat malamnya. Hape Mama gue taruh di dekat tempat Mama tidur, dan hape gue ada di samping tempat gue tidur. Keduanya gue setel jam 4.30. Dengan begitu, Mama juga bisa ikutan bangun pagi karena alarm di hapenya.

"Berasa udah pagi." Gue masih seperempat sadar dari tidur. Baru meningkat kesadaran gue jadi setengah sadar setelah lampu kamar dinyalain Mama. Tapi gue tetep dalam posisi tidur.

KOKOKOKOKKK.... KOKOKOKOKKK...

Suara alarm dari handphone gue berbunyi keras tepat di kuping gue. Ternyata, setelah nyalain lampu, Mama langsung dengan sengaja naruh handphone deket kuping gue. Ya Allah, tega banget mamaku ini.

"Alarmnya doang yang bunyi, orangnya nggak bangun," sergah Mama. Kayaknya dia ikutan kesel gara-gara alarm ini udah bunyi tiga kali. Ya, sekarang gue liat jam...

5.30. Bener-bener nggak ketolong.

Kejadian alarm-tempel-kuping nggak cuma itu aja, Dulu, waktu zamannya lagu Alamat Palsu-nya Ayu Ting-ting baru booming, semua bapak-bapak nyetel lagu itu. Sepanjang hari, gue selalu denger "Ke mana... ke mana... ke mana". Ramai orang-orang bluetooth-an lagu itu di gang-gang sempit dan gelap. 
"Ada barang bagus, nih. Mau coba?"
"Apa tuh?"
"Coba pake," kata sang pengedar sambil memberikan earphone ke pemakai.
"YOWMAN... Nge-fly, mamen~"
Halah, ini lebay banget. Mau bluetooth-an lagu apa beli ganja?

Sama seperti orang lain, bapak gue juga ikut-ikutan punya lagu Alamat Palsu di hapenya. Tiap sore atau menjelang tidur, pasti nyetel lagu Campursari (Emang enak gue bohongin~).

Waktu itu gue sengaja tidur lagi setelah sholah Subuh karena gue masuk sekolah agak siangan. Di dalam mimpi gue, ada alunan yang familiar. "Ke mana... ke mana... ke mana". Begitu gue buka mata, ternyata suara itu makin keras. Ada sesuatu yang nindihin kuping gue.

AAAAHHHH!!! Ada hape Bapak di kuping gue!! Lagu Alamat Palsu berkumandang membangunkan gue dengan tega.

"INI APAAN SIH??!" gue sewot sambil megang hape Nokia milik Bapak. Tadinya mau ngebanting, cuma takut rusak. Nanti gue nggak dipinjemin main Real Football.
"Jeeh, bangun. Udah jam 7."
"MASUKNYA NANTI JAM 11." Gue tidur lagi.
"Hahahaha." Bapak tertawa puas.


Alarm hape dan gue belum bisa bener-bener bersahabat. Buktinya, gue masih sering nyuekin dia. Mau bunyi empat kali, tetep aja mama gue yang bangunin.

Btw, cukup segini aja post gue kali ini. Jari gue masih sakit gara-gara kecengklak ngerebut bola basket.
Read More »

Hwoaaah, minggu ketiga tahun 2016 jadi minggu yang sangat campur aduk bagi gue. Kenapa gue bilang campur aduk? Soalnya hari Senin gue praktek Kimia nyampurin larutan kimia ke botol minum temen.

Bukan. Maksudnya bukan begitu. Gini maksudnya...

Pertama, pada hari Jumat, gue harus presentasi Bahasa Inggris untuk kali kedua. Untuk minggu ini cuma mengulang materi minggu sebelumnya. Apa yang gue ucapin minggu lalu, sama persis dengan minggu ini.

Setelah semua materi selesai, kelompok gue nampilin video contoh dari bentuk-bentuk conditional sentence. Bagi gue, video yang kami buat itu sangat bagus (lebih tepatnya, editan dan kameranya yang bagus). Sayangnya, video itu sempat dinodai oleh suara yang amat berengsek. Yaitu, dalam adegan, ada dua temen gue ngobrol di kelas. Kebetulan, saat take videonya, ada gue lagi main game perang di belakang kedua temen gue. Berhubung gue anaknya norak, pas kena tembak, gue langsung teriak-teriak, "GOBLOK.. GOBLOK!" yang secara nggak sengaja terekam. Untungnya di video itu nggak keliatan muka gue. Jadi nggak ketauan banget kalo gue yang abis ngomong.

Masih dalam video yang sama. Di bagian selanjutnya, diceritakan ada seorang cewek yang mau ngasih duit ke pengemis. Berhubung waktu take video nggak ada pengemis, secara sukarela gue beradegan jadi pengemis. Berbekal muka melas, celana ngatung pinjaman teman, kaki nyeker, dan perut lapar, gue sukses... mempermalukan diri sendiri di depan teman-teman sekelas. Seisi kelas pecah, ngetawain adegan tanpa dialog gue yang dimelas-melasin gitu.

Seharusnya gue bisa melihat ini sebagai peluang kerja setelah lulus. Bukan, maksudnya bukan jadi pengemis, tapi jadi aktor. Keren, kan. Nanti gue bakal menang penghargaan "Pemeran Tanpa Dialog Terbaik".

***

Selama ini, nggak banyak yang tau gue punya blog. Kalo dulu kelas 10, gue rajin banget nyampah di BBM nyebarin link. Sekarang gue nggak pake BBM lagi, otomatis gue cuma nyebar di media sosial lain.

Di kelas 11, gue nggak yakin ada yang tau kalo gue punya blog. Kalo pun ada yang tau, paling dari status Line yang tertulis "robbyharyanto.com" di bawah foto profil gue. Itu juga kalo ada yang merhatiin. Yang ada di pikiran gue, mereka mengira gue adalah cuma anak sekolah yang jarang ngomong, suka cengengesan, dan mojok di kelas. Plis, jangan salah fokus pada kata "mojok". Maksudnya suka duduk di pojok, mepet ke tembok.

Selama aktif ngeblog, gue jarang promosi blog ke temen-temen secara langsung, termasuk selama kelas 11 yang nggak pernah sama sekali. Dari sekian banyak orang yang gue promoin secara langsung, kebanyakan yang nolak. Semua penolakan pernah gue terima. Dari penolakan halus sampe meludah ke muka. Hmmm... yang meludah belum pernah deh.

Yang paling sering nerima cuma temen deket. Makin lama, temen deket mulai sering baca. Makin luas lagi, temen kelas 10 banyak yang tau. Kemudian kakak gue secara nggak sengaja juga pernah baca. Sekarang... guru gue ikut-ikutan tau kalo gue ngeblog! Masalah gue timbul: abis deh bahan buat ngomongin mereka di blog. Kalo ketauan, pasti diomongin di dunia nyata. Apalagi kalo ketauan ngomongin guru, bisa-bisa nilai rapor gue cuma pas KKM

Makanya, mulai sekarang gue mau nulis yang baik-baik tentang guru. Nyiahahaha, pencitraan dimulai.

Contoh kejadiannya pada hari Jumat, setelah pelajaran Bahasa Inggris.

Kejadiannya waktu gue pindah ruang 4 lantai tiga. Sekarang sudah masuk pelajaran Sejarah Indonesia. Guru gue, Pak Hakim, masuk ke kelas dengan bawa laptop (atau netbook, atau notebook. Pokoknya itulah) warna merah bertuliskan Lenovo. Seperti biasa, gue duduk paling depan, di sebelah pojok. Suara seorang teman gue membuat gue penasaran. "Pak, masa ada nama bapak di blognya si Robby."

Waduuh, diaduin nih ceritanya, ucap gue dalam hati. Gue cuma cengengesan dan geleng-geleng kepala. Sedangkan Pak Hakim, dia cuma senyum-senyum aja. Senyumnya persis kayak minggu kemarin (Sebelumnya gue emang pernah nyeritain Pak Hakim di post ini). Nah, ada temen gue yang kebetulan baca, kemudian bilang ke Pak Hakim. Amsyong dah kalo sampe dia tau ada namanya di blog gue.

Gue ngegeletakin hape di atas meja, ngecek apakah hape gue udah melendung atau belum. Tiba-tiba, Pak Hakim menjulurkan tangannya, seolah meminta hape gue. "Coba, Robby, saya mau liat blognya," kata Pak Hakim.
Haduh, gimana, ya? batin gue. Gue buru-buru mikir nyari alasan supaya blog gue nggak dibaca. Apa gue harus ngebuang hape ini? Apa gue harus ngapus blog sekarang juga? Apakah gue harus mengakui kalo gue seorang homo? Ya sudah, hati gue berkata: "Kasih aja hapenya. Kasih liat deh blog lu."

"Bentar, Pak," kata gue sambil membuka blog gue di Opera Mini. Nggak lama kemudian loading blog gue selesai. Langsung gue buka post yang ada nama beliau. Beliau langsung ngambil hape gue, mulai baca-baca. Jempolnya terus men-scroll ke bawah. "Ya Allah, kalo emang nilai Sejarahku harus pas KKM, aku terima, Ya Allah." Gue pasrah kalo misalnya beliau marah saat itu juga. Kemungkinan paling baiknya adalah gue masih dibolehin masuk pelajaran beliau sampai hari ini. Minggu depan? Belum tentu.

Semua dugaan gue salah. Nggak ada reaksi marah dari beliau. Beliau cuma senyum-senyum aja. Persis seperti minggu lalu. Gue aman.

***

Puncak dari taunya guru akan blog gue adalah hari Selasa. Tepatnya pada saat pelajaran Prakarya.

Pelajaran Prakarya siang itu seharusnya presentasi nampilin blog masing-masing kelompok. Blog yang dimiliki tiap kelompok berisi tugas-tugas yang lalu. Kemudian, dipresentasikan tampilannya. Ibu Niaguru Prakarya— nanya, "Denger-denger di sini ada yang punya blog sendiri. Siapa namanya? Rudi atau siapa?"
"Yes, Rudi. Berarti bukan gue." Gue girang karena bukan nama gue yang disebut.
"Robby, bu," kata temen-temen gue kompak.
"Nah, iya, Robby. Coba presentasiin blog kamu."
Gue terperangah.

Gue paling nggak bisa untuk ngomong di depan kelas, apalagi diliatin guru. Biasanya tiap presentasi kelompok, gue yang paling sedikit ngomong. Ngejelasin paling cuma 2-3 slide. Selebihnya gue gugup dan grogi. Kadang lebih ekstrim, keringet ngucur sendiri dengan derasnya.
Setelah ngumpulin keberanian, niat untuk berbagi pengalaman, laptop pinjaman, dan koneksi internet punya teman (iya, gue nggak modal), gue maju untuk presentasi blog.

Gue langsung kebingungan mau mulai bahas dari mana. Mulai dari tampilan atau isi. Ah, gue bingung. Untung ada Ibu Nia yang jadi jembatan antara gue dan teman-teman. Gue bakal ngomong kalo dipancing dulu sama Ibu Nia.

Ibu Nia nyuruh gue ngejelasin apa aja yang ada di home blog gue. Gue sebutin satu per satu, meskipun nggak gue sebutin fungsinya apa aja. Baru kepikiran sekarang, kenapa gue cuma nyebutin aja saat itu. Ketika semua bagian udah gue sebutin, gue bingung lagi. Semua kebingungan gue pecah setelah Ibu Nia bilang, "Ada yang mau nanya tentang blognya Robby?"

Wow. Ada sesi tanya jawab. Apa gue bisa jawab? Untuk saat ini, gue cuma bisa ngelap keringet yang udah ngebasahin jidat.

Seketika suasana kelas jadi terasa kayak seminar dari blogger. Pertanyaan-pertanyaan hadir ditujukan ke gue. Gue masih ragu, apa gue bisa jawab? Secara, ilmu gue masih sedikit.

Tapi selanjutnya, sesi ini yang paling seru menurut gue, ngejawab pertanyaan temen. Mereka kebanyakan nanya tentang pengalaman gue ngeblog. Emang dasarnya suka curhat, pas ditanya-tanya gue malah kayak orang curhat. Malah jadi tenang kalo begini, meskipun keringet tetep ngucur.

Ada beberapa pertanyaan yang menurut gue menarik (dan gue ingat) yang gue tulis di sini.

1. Apa sih tanggapan orang tua dengan seringnya lu nge-blog? Terus, gimana cara ngatur waktunya?
2. Apa tujuan lu nge-blog?
3. Punya haters nggak?
4. Pernah dapet tawaran iklan nggak? Atau pernah ngasilin uang dari blog?
5. Gimana cara narik pembaca buat mau baca blog?
6. Dari mana dapet inspirasi?
7. Ini pertanyaan dari Ibu Nia. Kenapa kamu nggak ngisi blog kamu dengan materi pelajaran?

Gue menjawab pertanyaan saat itu juga. Mereka nanya, gue langsung jawab. Sambil ngelap keringet, gue mikir gimana ngejelasin yang enak didenger. Ingat, jangan ada kata-kata "GOBLOK... GOBLOK!".

1. Tanggapan dari orang tua sebenernya nggak ada, karena orang tua nggak tau kalo gue punya blog. Orang tua taunya cuma "Oh, si Robby lagi di depan laptop, ngetik-ngetik. Paling lagi ngerjain tugas." Akhirnya mereka asik sendiri. Nontin TV misalnya.

Untuk ngatur waktu, jujur sampe sekarang itu masih jadi masalah dalam diri gue. Biasanya kalo lagi mau belajar, ya belajar. Kalo udah jenuh baru deh nulis sampe tengah malem. Yang penting, sehari ada hal yang ditulis. Entah satu paragraf atau nyatet poin-poin penting.

2. Tujuannya buat curhat sekalian ngasah kemampuan nulis.

3. Kalo haters, belum punya. Atau mungkin nggak keliatan. Tapi, yang mencemooh pernah. Dulu ada yang mencemooh secara langsung. Dia ngomong ke gue, "Ah, curhat mulu lu di blog." Gitu deh.

4. Tawaran iklan belum ada. Kalo tawaran yang lain pernah. Jadi ceritanya ada tawaran nge-review pembayarannya via transfer rekening. Karena gue nggak punya rekening, gue nyoba minjem ke ortu. Ternyata mereka nggak ngizinin. Yang ada di pikiran mereka, blog adalah semacam Facebook. Sampe sekarang, mereka tetep nggak tau yang namanya blog.

Kalo ngasilin duit, kayaknya belum dulu deh. Blog gue rame, dan itu tadi.. belum punya rekening. Mungkin nanti gue bakal masang iklan... setelah ada yang nawarin.

5. Sering promosi. Biasanya gue promo di media sosial dengan nyebar link post terbaru. Cara ini yang paling enak. Soalnya tinggal nyebar link, bisa narik pembaca. Tapi, lebih sering dicuekkinnya. Jangan terlalu sering, nanti dikira nyepam. Kesannya ngebet mau nyari pembaca. Terus juga bisa secara langsung. Nyamperin ke orang, "mau baca blog gue nggak?".

Satu lagi, ningkatin kualitas konten.

6. Biasanya dari blog orang lain. Sering juga di kamar mandi, dan di pojokan kelas.

7. Ini masalahnya, bu: saya nggak pinter-pinter amat. Takut salah ngasih pelajaran, nanti malah bikin sesat.

Ada blog gue di layar...
Sebenernya ada lebih dari ini. Banyak banget yang antusias pengen tau tentang blog. Kira-kira ada dua sampe tiga pertanyaan lagi yang gue lupa pertanyaannya, tapi gue inget jawabannya.

Efek dari presentasi blog di kelas: 1) temen-temen gue jadi sering nagih nama mereka untuk ditulis di blog;  2) mereka, yang kebetulan lagi ada di deket gue, bakal bilang, "Tulis, dong, di blog" setelah mengalami suatu kejadian.

Oke, segitu aja cerita gue untuk minggu ini. Selamat malam minggu dan selamat berakhir pekan.

Quote untuk post ini: Ternyata seru juga punya blog!
Read More »

Perpindahan, perpisahan, dan kesedihan seringkali datang bersamaan. Banyak orang yang menghindari itu semua. Padahal, secara nggak sadar, pasti setiap manusia akan mengalami ketiga hal itu.

Tahun 2016 ini, di awal semester dua, ada 3 guru di sekolah gue yang dirotasi ke sekolah lain. Ada guru PPKN, guru Sejarah, dan terakhir yang nggak bisa gue relain kepindahannya adalah guru Bahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia itu namanya Pak Prasito.

Sebenernya guru-guru yang dirotasi itu bikin gue dilema. Antara sedih dan seneng. Sedih... karena belum tentu bisa dapet guru baru yang sesabar guru lama. Ya tau sendiri dong, anak zaman sekarang kayak apa. KAYAK GUE! Kayak gue ini maksudnya gimana ya?

Seneng... kalo ternyata yang pindah adalah guru yang nyebelin (Ini mah muridnya aja yang kurang ajar). Bahkan, gue pernah denger berita serupa di sekolah lain, siswa berteriak-teriak merayakan kepindahan guru killer. Baginya, kemerdekaan telah datang. Guru killer telah hilang. Tak ada lagi spidol melayang. Yeaaah.
Malah, guru-guru nyebelin yang masih bertahan buru-buru didoain: "Kenapa guru itu gak ikut dipindah, Ya Allah? Udah nggak betah nih tiap masuk kelasnya dibentak-bentak mulu."

Kepindahan Pak Prasito ini termasuk yang menyedihkan bagi gue. Gimana nggak sedih, beliau adalah wali kelas gue setahun di kelas 10 dan seminggu di kelas 11. Kenapa cuma seminggu di kelas 11? Jadi, waktu awal kenaikan kelas, semua kelas masih belum tetap. Kebetulan, di kelas 11 wali kelas gue Pak Prasito lagi. Begitu seminggu setelah masuk tahun ajaran baru, kelas diacak lagi. Gue nggak bareng Pak Prasito lagi. Pernah gue tulis di sini ketika kelas diacak kembali.

Selain wali kelas, beliau juga guru Bahasa Indonesia gue saat kelas 10. Beliau termasuk guru Bahasa Indonesia yang menurut gue sangat keren. Wawasannya luas. Cara bicaranya santai sekaligus bikin penasaran. Pokoknya, tipikal guru Bahasa Indonesia yang oke punya.

Dulu, waktu kelas 10, pelajaran Bahasa Indonesia ada di hari Selasa jam pertama. Sayangnya, banyak temen gue yang nggak semangat. "Pagi-pagi dengerin orang ngomong di depan kelas, siapa sih, yang betah?" Mungkin itu yang ada di dalam pikiran orang-orang. Makanya, banyak dari temen gue yang udah nempelin kepala di meja, terus nutupin muka pake buku atau jaket. Kemudian, Pak Prasito bilang, "Orang Indonesia kebanyakan nggak bisa maju karena malas."

Beuh, dalem banget, kan sindirannya?

Pesan yang paling gue inget dari Pak Prasito adalah pentingnya makan pagi. Kan, ada tuh, orang-orang yang sok-sokan nggak makan pagi, baru makan nanti siang. Orang kayak gitu mana ada tenaganya, makanya ngantukan.

Waktu itu gue pernah jadi penyelamat temen-temen sekelas di pelajarannya Pak Prasito. Ceritanya, pas awal pelajaran beliau, suasana di dalem kelas berisik. Pak Prasito masuk kelas sambil bawa laptop. Biasanya kalo Pak Prasito udah bawa laptop, pasti bakal make layar proyektor buat ngajar. Pak Prasito udah nyalain laptopnya, tapi proyektor belum dinyalain.

Gue lupa persisnya, pokoknya sekelas gue nggak ada yang nyalain proyektor. Tiba-tiba Pak Prasito macem ngambek gitu. "Kelas ini nggak ada yang inisiatif!" Lalu, hasrat gue bergejolak. Dorongan untuk berbuat kebaikan muncul. Sebagai ketua kelas saat itu, gue buru-buru mindahin kursi ke lantai yang persis di atasnya ada proyektor. Gue naik ke kursi, lalu mencet tombol on di proyektor. Layar proyektor udah muncul gambar.

"Cuma Robby doang yang punya inisiatif." Begitulah kata Pak Prasito. Entah gue harus apa saat itu. Yang penting gue nggak kena marah.

Keren ya?

Oh... ternyata pamer. Iya deh, iya.

Pesan lainnya adalah saat masuk musim penghujan. Banyak temen-temen gue yang nggak masuk karena sakit.
"Seharusnya kita bisa beradaptasi. Kita semua tau kalau bulan Januari sudah masuk musim penghujan. Jadi, kita harus pintar menyiasati bagaimana kondisi tubuh tetap sehat," kata Pak Prasito di jam pelajarannya.
"Selain itu, mengenai macet, kita harus bisa menyiasati" sambungnya. "Bagaimana caranya supaya nggak datang terlambat. Bisa tau mana jalan yang macet dan mana yang nggak. Semua itu bisa dilakukan karena adaptasi."

Mengenai macet, gue pernah sekali dateng terlambat gara-gara macet. Untungnya, bukan pas ada pelajaran Bahasa. Tapi, tetep aja kena saat bimbingan dari wali kelas.
"Kamu ke sekolah naik apa, By?" tanya Pak Prasito, setelah melihat nama gue ada di catatan siswa yang datang telat.

Gue menjawab, "Naik angkot, Pak. Waktu itu lagi macet."
"Besok-besok kalo tau jalanan macet, kamu berangkat jam 6 kurang dari rumah."
"Iya, Pak."

Bener, besoknya gue berangkat jam 5.58 pagi.

Gue pernah sekali ngebantuin beliau ngisi data rapor dua hari sebelum pengambilan rapor. Ceritanya, waktu itu gue berdua sama Oky, lagi ada di deket kantor. Tunggu, jangan ada yang mikir yang nggak-nggak karena gue lagi berduaan. Dia cowok, dan gue pilih-pilih tempat kalo mau berduaan.
Lanjut. Pak Prasito ngeliat kami. Lalu, kami dipanggil ke kantor. Gue dan Oky jalan menuju mejanya Pak Prasito.

"Tolong, ya, bantuin bapak," pinta Pak Prasito. "Tolong masukkan data-data teman kamu ke laptop."
"Oh, iya, Pak."

Gue dan Oky ngerjain apa yang diperintah Pak Prasito. Nggak lama kemudian, Pak Prasito ngebawain dua gelas ukuran pop ice. Warnanya ijo. Gue tebak isinya jus alpukat.
"Ini buat kalian berdua."
"Makasih, Pak."
Seumur-umur, itu pertama kalinya gue minum jus di sekolah. Ya, ini karena gue nggak pernah bawa duit banyak ke sekolah, atau gue pelit buat jajan.

Gue nggak sempet foto, dan gue nggak pernah foto sama beliau. Jadi, yang gue punya cuma paraf penilaian doang.


Sekian curhatan gue tentang pindahnya salah satu guru yang deket dengan gue. Jujur, masih belum rela.
Read More »

Udah seminggu masuk setelah liburan sekolah, gue ngerasa hampir semua guru nggak memulai dengan langsung banyak belajar materi. Iya, emang bener nggak belajar banyak, tapi tugasnya yang banyak. Mulai dari tugas kelompok sampe tugas individu. Dari ngerjain soal-soal sampe presentasi di depan kelas. Semua tugas menumpuk. Dan, gue masih sempet-sempetnya ngeblog daripada ngerjain tugas. Kalo ada nilai rapor gue yang nggak tuntas, kayaknya gue tau harus nyalahin siapa.

Nggak deh. Gue nggak mau nyalahin siapa-siapa. Gue cuma mau menumpahkan keluh kesah. (Bahasanye nggak nahan!)

Seperti yang udah gue bilang, beberapa guru masih banyak yang santai-santai di kelas. Contohnya Pak Hakim, guru Sejarah Indonesia gue. Tadi siang, dia ngajar di kelas gue.

"Hari ini nggak ada materi dulu," kata Pak Hakim.
Kami semua senang. Bisa nyantai untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini.
"Tapi, saya mau panggil nama-nama tertentu, buat ngejawab pertanyaan tentang materi semester lalu."
Gue ngedenger kata Pak Hakim, langsung deg-degan. "Mampus, gue lupa materi semester satu," kata gue dalam hati.

Pak Hakim mengambil kertas yang berisi daftar nama dan nilai dari tasnya. "Saya cuma nyebutin nama-nama yang kemarin remedial UAS," kata Pak Hakim.
"Yah, pasti gue kena ini mah," batin gue.
Gue yakin banget kalo gue bakal ditanyain sama Pak Hakim. Mengingat nilai gue yang nanggung waktu UAS lalu. Gue orangnya sadar diri, kok.
Sementara temen-temen yang lain panik. Mereka bertanya-tanya berapa nilainya.
"Pak, nilai saya berapa? Saya remedial nggak?" seorang teman nanya ke Pak Hakim.
"Waduh, saya nggak tau. Hehehe." Pak Hakim menunjukkan kertas tadi ke temen gue. "Yang ini, lho, nilainya."
"Nih, Rob, nilai lu segini," kata Silvi, temen sebangku gue, sambil menunjukkan foto nilai di handphone.
Sebelum melihat layar handphone-nya Silvi, gue bilang ke dia, "Iya, gue remed."

Gue cuma bisa berdoa semoga gue nggak ditanya-tanya. Karena gue hampir lupa semuanya. Cuma beberapa bagian aja yang inget. Misalnya: Bendera negara Indonesia warnanya merah putih.

Orang pertama mulai dikasih pertanyaan, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ciri khas dari Pak Hakim adalah ngasih pertanyaan yang bikin ngantuk duluan ngedengernya, sebelum akan dijawab. Contohnya gini:

"Gubernur jenderal pertama VOC adalah..." perkataannya dijeda, bikin kita seolah mau ngejawab. "Pieter Both," sambungnya. "Kemudian, VOC mengalami kebangkrutan karena korupsi para pegawainya." Lalu, dia melanjutkan, "Pertanyaannya, siapa nama tukang serabi di depan kantor VOC?"

Pokoknya gitu deh.

Setelah ngasih pertanyaan yang didahului pernyataan panjang lebar, orang pertama bisa jawab. Dia dibolehkan duduk kembali. Padahal gue ngarepnya dia nggak bisa jawab. Kalo nggak bisa jawab, dia disuruh tetep berdiri sampe waktu yang ditentukan Pak Hakim. Pokoknya, nggak boleh duduk sebelum Pak Hakim nyuruh duduk. Di situlah serunya. Tapi, di situlah sedihnya... kalo gue yang nggak bisa jawab.

Orang kedua dipanggil. Namanya Giyats. Sama seperti biasanya, Pak Hakim ngasih kalimat-kalimat pernyataan panjang lebar, dan ujungnya dia nanya, "Negara mana yang menerapkan merkantilisme kuno?".
"Sial! Itu gue tau jawabannya. Kenapa nggak gue aja yang ditanya?!" gerutu gue.
"Eeeeh... uuhhh...," Giyats kebingungan, kemudian dia jawab, "Spanyol dan... Belanda."
"ADUH! PORTUGIS DONG, MAS!" teriak gue dalam hati. Gemes ngedengernya.
"Ya, jawabannya salah. Yang benar adalah Spanyol dan Portugis." Sesuai perjanjian, terpaksa Giyats harus berdiri karena salah jawab.

Orang-orang selanjutnya disebutkan namanya. Satu per satu dari mereka bisa menjawab. Setiap mereka yang berhasil menjawab, dikasih pilihan: mau ngasih kesempatan orang yang berdiri untuk duduk atau duduk untuk sendiri. Kalo ngasih kesempatan orang yang berdiri untuk duduk, otomatis dia (si penjawab yang benar) bakal berdiri dan dikasih pertanyaan lagi. Kalo bisa jawab bener untuk kedua kali, nggak masalah. Kalo nggak bisa? Ya, harus berdiri.

Saat itu cuma Giyats yang berdiri. Teman-teman gue setelah Giyats bisa menjawab dengan benar. Setiap temen-temen gue selesai menjawab, Pak Hakim bakal ngasih pilihan: "Kamu punya satu tiket duduk untuk diberikan buat Giyats, atau kamu pakai buat sendiri. Kamu pilih mana?"

Mereka milih ngasih duduk... buat sendiri. Parah.

Kalo gue jadi Giyats, gue bakal dendam sama mereka sampe jam pulang. Ya iyalah, jangan lama-lama dendanmnya.

Malah, ada satu teman yang lebih sadis. Setelah jawab pertanyaan dengan benar, temen gue itu langsung duduk sebelum dikasih pilihan. Orang bener mah bebas!

Gue meniatkan diri. "Kalo nanti gue ditanya dan jawaban gue bener, gue bakal ngasih Giyats kesempatan duduk." Niat yang cukup mulia, tapi membebankan. Gimana bisa jawab, wong hampir semua materinya lupa!

Nama-nama lain disebutkan. Sampai pada temen gue, namanya Gadis. Ternyata, Gadis nggak bisa jawab pertanyaan dari Pak Hakim. Dengan terpaksa, Gadis harus berdiri sampai ada orang yang mau ngebela dirinya dengan ngasih kesempatan duduk.

Nggak jauh setelah nama Gadis dipanggil, nama gue disebut. Jantung gue berdegup kencang. Makin kencang lagi setelah gue berdiri. Lebih kencang lagi setelah Pak Hakim memulai membacakan soal. Pernyataan demi pernyataan yang gue anggap nggak penting, gue simak bener-bener. Siapa tau ada jawaban dari situ, pikir gue.

Sampailah pada pertanyaan inti: "Pertanyaannya, sebutkan satu peraturan tanam paksa."
"Aduh," kata gue karena lupa. Saking nggak bisa tertahan, akhirnya keceplosan dan terdengar Pak Hakim yang duduk di depan gue.
"Aduh katanya. Hahaha." Pak Hakim tertawa ngeliat ekpresi pasrah gue. Sedangkan temen-temen yang duduk di belakang gemes ngedenger pertanyaannya. "Iiihhh... itu, kan gampang."
"Apa, ya?" Gue menunduk, mata gue menatap meja. Nggak ngerti harus ngomong apa, akhirnya keceplosan lagi, "Nyerah, pak."
"Lah, udah kalah gitu aja?" kata Pak Hakim dengan nada heran. "Ini jangan-jangan kalo si Robby punya pacar pasti kalo pacarnya direbut dia cuma bilang, 'udah ambil aja, deh'."

Mampus.

Gue malu setengah mampus setelahnya. Gue berdiri ngeliat muka temen-temen di belakang dan di samping, dan mereka kompakan masang muka yang seolah berkata, "BEGO LU!" yang cuma bisa gue jawab dengan senyum-senyum seolah berkata, "YAA, MAKASEH."

Setelah gue masih ada temen yang disebutkan namanya. Temen gue ini menjawab dengan benar. Masih dengan pola yang sama, temen gue milih duduk buat sendiri. Oke, di kelas ini nggak ada yang sama sekali mau mengorbankan dirinya demi orang lain.

Sekarang, di kelas ini, gue, Giyats, dan Gadis berdiri di tempat duduk masing-masing. Kali ini, Pak Hakim memberi kesempatan bagi orang lain untuk menyelamatkan orang-orang yang berdiri. Masih dengan menjawab pertanyaan, penjawab yang benar berhak memeberi kesempatan orang yang dia pilih untuk duduk. Sistemnya rebutan.

Pertanyaan pertama dilempar. Dian, temen yang sering sekelompok sama gue di pelajaran-pelajaran tertentu, menangkat tangan. Dia menjawab pertanyaan, dan jawabannya benar. Gue langsung berdoa. "Ayo, Dian. Tunjukkan siapa temen sejatimu. Pasti mau dong nyelametin gue."
"Jadi, siapa yang mau kamu selamatkan?" tanya Pak Hakim.
"Giyats, pak," Dian menjawab sambil menunjuk Giyats.

Mampus lagi. Pokoknya, lo-gue-end!

Pertanyaan kedua dilempar. Kemudian, muncul suara dari belakang, "Saya, pak!" Ternyata itu suara Annisa yang ingin menjawab. Bagi gue, nggak mungkin kalo gue yang diselametin, karena Gadis temen deketnya Annisa dari kelas 10. Ah, mustahil bagi gue untuk duduk.

Bener aja, Annisa milih nyelametin Gadis. Giyats dan Gadis telah diselamatkan. Jadi, cuma tersisa gue. Sendiri. IYA, SENDIRI. Berdiri. Nggak ada yang nyelametin. MAMPUS. Tinggal dilemparin tip-ex dari tempat duduk masing-masing aja, nih.

"Nah, semua nama telah disebutkan. Sayangnya, nggak ada lagi nama yang remedial. Lalu pertanyaannya, kamu udah nggak punya siapa-siapa lagi, siapa yang akan bantu kamu?"
Spontan gue menjawab, "Allah."

Beuh, cewek-cewek langsung meleleh. Cowok-cowok nggak mau kalah (lho?). Mereka langsung rame-rame gitu. Antara mencela "najis, sok alim" atau "sok alim banget, najis". Eh, nggak segitunya juga, sih.

Pak Hakim cuma senyum-senyum heran. Mungkin dalam hatinya, "Ini anak rada-rada tapi lumayan juga, ya. Untung masih inget Allah."

Pak Hakim akhirnya berbaik hati. Beliau ngasih gue pertanyaan lain yang lebih gampang. Akhirnya... gue bisa jawab. "Makasih, Ya Allah." Lagi-lagi ucap gue spontan.

Pak Hakim ngecek daftar nama lagi. "Ini masih ada lagi satu nama yang belum disebut." Kemudian dia menyebut nama seseorang. "Wahyu."
Wahyu dikasih pertanyaan. Gue nggak tau apa jadinya kalo ternyata nama Wahyu disebut sebelum gue dikasih pertanyaan kedua yang lebih mudah. Mungkin, gue bakal berdiri lebih lama. Makanya, gue ngarep... DIA NGGAK BISA JAWAB! Biar berdiri. Ngerasain ada di posisi gue.

Doa yang jahat nggak akan dikabulkan Allah. Begitulah yang terjadi pada doa gue. Doa gue ditolak, setelah Wahyu bisa ngejawab pertanyaan dengan benar. Dengan begitu, selesai semua kegiatan ini. Kegiatan yang bikin deg-degan, terharu (pas momen-momen nyelametin temen), dan sedih (ketika tau, gue nggak diselametin). Suasana kelas kemudian jadi agak sepi.

Gue menengok ke arah Wahyu. Dia ngomong ke gue dengan nada sedikit sarkas, "Tadi mah gue ngasih lu duduk aja, ya. Gue kan punya tiket duduk. Nanti gue kasih lu. Hahaha."
Kembali, gue menjawab dengan spontan, "Apaan, sih? Gue masih punya Allah."

Seisi kelas rame kembali. Bedanya, sekarang banyak yang tepuk tangan. Tapi tetep, ada yang bilang, "Robby sok alim!"

Nggak kebayang aja, suatu saat nanti gue udah berumah tangga. Istri gue ngeluh nggak punya beras, terus gue jawab dengan spontan, "Tenang, sayang... kita masih punya Allah. Tahan dulu laparmu. Kita puasa full seminggu ini. Allahu Akbar." Gue yakin istri gue langsung diem. Diem-diem pulang ke rumah orang tuanya.

Btw, kalo calon istrinya begini, gimana?

Alyssa Soebandono dan Robby Herlino
Setelah sholat Jumat, bantuan operasi plastik, dan Photoshop.

Seh iya, gue masih sekolah, woooi! Belum waktunya mikirin begituan.
Read More »

Hampir setiap awal tahun pasti ada ramalan tentang kehidupan setahun yang akan terjadi ke depannya. Biasanya, para peramal akan meramalkannya, lalu dipublikasikan ke televisi, media cetak, dan internet.
Spesial awal tahun, kali ini gue akan meramalkan tahun Monyet Api di blog gue. Biar dikira peramal beneran, gue akan mengganti nama menjadi Suhu Oy.

Tunggu dulu. Apa tadi nama tahunnya? Monyet Keramas? Oh, Monyet Api. Biar kalian tau, nih gambarnya. Hasil dari Googling.

Sumber

Baiklah. Mari kita mulai.

Menurut Suhu Oy, tahun ini akan menjadi tahun yang berat bagi orang yang tidak bisa mengontrol emosi. Khususnya ketika sedang berada di jalan. Karena di jalan raya seringkali terjadi keributan antarpengendara, baik mobil maupun motor.

Yang paling sering Suhu lihat adalah, pengendara motor sering menyerempet angkot. Karena dikuasai amarah, lalu sopir angkot memaki pengendara motor dengan kata-kata "MONYET LO!". Menurut Suhu Oy, jangan lakukan seperti itu. Sebisa mungkin kontrol emosimu. Biarkan orang lain yang mengatakan seperti itu pada kita. 

Konon, ketika kata-kata "MONYET LO!" ditujukan pada kita, di saat yang bersamaan Dewa Monyet tengah memberi rezeki berupa setandan pisang di depan rumahmu.

Pada tahun Monyet Api, Suhu Oy meramalkan keberuntungan ada pada atlet lompat jauh, lompat harimau, dan olahraga yang membutuhkan gerakan lompat lainnya. Kemudian, banyak orang yang banting setir menjadi atlet olahraga tersebut. Dalam mimpi Suhu, Cristiano Ronaldo ikut pindah profesi menjadi atlet lompat gawang. Di mana dia akan melompati gawang seusai mencetak gol ke gawang lawan.

Bagi orang-orang yang nggak punya pasangan, segeralah cari. Jangan sampai hilang momen di tahun monyet api ini. Suhu Oy mengamati sifat pasangan seperti monyet: suka berpindah ke pohon yang banyak tersedia pisang. Untuk itu, persiapkan dirimu dengan menyediakan banyak pisang. Sehingga, pasanganmu nanti akan betah denganmu. Kecuali kalau udah masuk tahun Macan Logam, cara itu nggak berlaku lagi. Karena macan nggak doyan pisang. 

Btw, apa ada yang namanya tahun Macan Logam?

Untuk yang belum dapat kerjaan, tenang aja. Jika semua perusahaan menolakmu, jangan patah semangat. Kalau Kantor PBB belum menerima, mungkin bukan di situ rezekinya. Tenang, panggung hiburan adalah tempat kalian mengais rezeki. Segeralah berlatih bermacam-macam gerakan akrobat untuk ikut klub sirkus atau jadi topeng monyet. 

Tren yang akan meledak di tahun Monyet Api adalah posisi berjalan seperti monyet. Rumah-rumah akan dipindahkan ke atas pohon agar lebih menyatu dengan alam. Artis-artis memelihara rambut di seluruh tubuh, serta tak malu memamerkannya. Cabe-cabean memelihara ekor, di belakang maupun di depan.

Suhu Oy meyakini banyak orang pintar hadir di tahun Monyet Api. Sifat monyet yang cerdas, memberi banyak pengaruh pada pelajar Indonesia. Menurut isu yang Suhu buat sendiri, mengatakan, akan ada beasiswa yang sekolah-sekolah sediakan untuk siswa berprestasi. Semoga benar adanya.

Suhu Oy menyarankan pada umat manusia untuk hidup rukun dalam bersosial. Sifat monyet yang kadang-kadang berubah menjadi ganas (ketika diinjek buntutnya) bisa mempengaruhi umat manusia meniru sifat monyet tersebut. Jangan sekali-kali melakukan tindakan provokasi. Contohnya, ada seorang yang sedang tidur, kalian injek perutnya.

Terakhir, semangat yang ditunjukkan api dan keceriaan yang diperlihatkan monyet harus menjadi kekuatan kita dalam menjalani hidup. Percayalah, jika kedua hal itu bisa beriringan sejalan dalam hidup kita, semua pisang (baca: kebahagiaan) akan datang, memberikan rasa manis tak terhingga.

Saik, Suhu!

Semoga keimanan kalian masih normal seperti sebelum membaca post ini.
Read More »