Sahabat Lama

thumbnail-cadangan
Tiba-tiba gue pengen nulis cerpen. Mumpung lagi kepengen dan gue sangat kangen sama sahabat lama, gue dedikasikan kepada sahabat lama gue. (Cerita ini nggak sepenuhnya real, tapi inti ceritanya benar. Nama orang disamarkan, kecuali gue.)

--------

Gue memiliki seorang tetangga sekaligus teman bermain. Namanya Herman. Herman lebih tua dua tahun daripada gue. Badannya kekar, kulitnya hitam, dan betisnya besar. Itu hasil dari seringnya dia main bola. Atau ternyata dia diam-diam selama ini jadi kuli panggul beras di pasar.

Dialah yang sering mengajak gue main bola. Dia juga yang mengajak gue ikut main bola melawan anak gang sebelah, sampai kadang ada perkelahian setelahnya. Bisa dibilang, Herman adalah orang yang bertanggung jawab atas diri gue.

Suatu sore, kami tanding bola lima lawan lima dengan anak Gang Mawar. Di tim kami, semuanya anak kelas 6 SD, cuma gue yang masih kelas 4. Begitu pun dengan tim lawan, yang merupakan anak seusia Herman dan musuh bebuyutan dia dari sekolah sebelah.

Laga berjalan keras. Antara tim kami dengan tim lawan seringkali terjadi benturan. Paling sering mengadu tulang rawan. Pertandingan bola sore itu lebih mirip baku hantam antarkampung.

Kami unggul dengan skor 9-7. Butuh satu gol lagi untuk memenangkan pertandingan, sesuai dengan kesepakatan skor harus mencapai 10. Bola sedang ada dalam penguasaan gue. Gue menyisiri sisi kanan pertahanan lawan. Seorang bek lawan melakukan sliding tackle, beruntung gue bisa berkelit ke arah kanan.

Sambil menggiring, gue berlari menuju ke depan gawang agar tembakan yang akan gue lakukan berbuah gol. Di hadapan gue sekarang, ada pemain betubuh besar dari tim lawan. Gue nggak mungkin meneruskan penguasaan bola. Gue lihat ada Herman nggak jauh dari sebelah kanan gue berteriak, "Bagi gue." Menuruti kata Herman, langsung gue beri ke Herman. Herman berlari ke kanan hingga sekarang dia berada di sisi kiri pertahanan lawan. Herman melakukan crossing, bola itu melambung di atas kepala gue. Gue hebat dalam spesialisasi menyundul, langsung melompat. Di belakang gue ada pemain bertubuh besar tadi ikut melompat. Sikutnya masuk ke pipi sebelah kiri gue.

BRAAAAAKKK

Gue terjatuh terkena sikutan si pemain besar. Kiper lawan tertawa atas kegagalan gue menyundul bola, diikuti teman-temannya. Herman berlari menuju si pemain besar. Tangannya mengepal kuat dan menghantam pelipis kanan si pemain besar.


"WOYYYY, MAINNYA SANTAI DONG! GAK USAH SIKUT-SIKUT SEGALA," teriak Herman.
Si pemain besar terpental jatuh. Pelipisnya dia tutupi, terlihat sedikit darah. Temannya langsung menghampiri Herman, dan mendorong Herman.

"Apa-apan lo, nampol temen gue! Sini kalo berani lawan gue!" tantang pemain lawan yang rambutnya paling rapi.
"NIH," Herman menjambak dan mengusap kasar rambut lawannya, "rambut lo terlalu rapi buat ngelawan gue!"
Si rambut rapi menangis setelah dijambak dan diacak-acak rambutnya. Dia lari meninggalkan lapangan. Diikuti teman-temannya yang mengejar. Dramatis.

"Langsung kabur mereka? Gila, lo, Man," kata gue terkagum-kagum.
Teman-teman Herman langsung menepuk pundak Herman.
"Udah seharusnya gue ngebela temen yang lagi kesakitan." Herman mengajak kami pergi meninggalkan lapangan.

Di dalam lapangan bola, Herman sangar seperti macan. Tapi di luar lapangan, Herman unyu seperti kucing. Ya, dia sangat baik pada siapa pun, bahkan kepada hewan.

Suatu siang setelah pulang sekolah, gue dan Herman udah punya janji untuk makan bareng di sebelah lapangan. Tempatnya teduh, banyak rerumputan, dan ada kolam ikan di sana. Konon, di sini seringkali menjadi tempat favorit pacaran. Kali ini, gue dan Herman akan makan bersama di sana. Semoga nggak ada yang menuduh kami pacaran.

Selalu sama. Pasti kita berdua makan dengan kertas nasi. Kata Herman, "Biar ngerasain kayak mas-mas kuli." Gue paham kenapa waktu itu Herman mukul lawan sampai berdarah. Mental kuli.

Saat sedang asyik menggeroti ayamnya, Herman dikejutkan dengan sentuhan halus di punggungnya.

"Rob, lo nggak meper ke punggung gue, kan?" tanya Herman.
"Nggak. Gue malah lagi ngegaruk punggung sendiri." Gue menjawab sambil merem melek ngegaruk punggung.

Padahal gue lagi makan. Kenapa sempet-sempetnya ngegaruk punggung?
Tiba-tiba ada seekor kucing menghampiri makanan Herman. Gue langsung buru-buru mengusir kucing untuk menjauh dari kertas nasi milik Herman.

"Syuhhh... pergi. Ganggu orang makan aja," usir gue.
"Heh, jangan diusir. Biarin aja," bantah Herman.
"Loh, kok?"
"Biarin dia di sini," Herman membuka botol minumnya. "Kucing yang suatu waktu nyamperin ke kita saat makan itu tandanya ada hak rezeki untuk kucing itu. Kita nggak boleh ngusir."
"Tapi, kan..."
"Dia kucing? Sama aja kali. Sama-sama makhluk Allah." Kemudian dia melanjutkan, "Kalo lo pelit sama hewan, apalagi sama manusia yang katanya lebih mulia dari hewan?"
Gue menelan buru-buru kangkung yang gue makan. Nggak nyangka punya teman sekeren Herman. Mungkin sewaktu manggul beras Herman sering dengerin ceramah dari radio.

Herman berbagi tempat dengan kucing itu dia ngebiarin kucing itu makan satu kertas dengannya.

"Lagian kucing ini sering kok makan bareng gue kalo gue ke sini sendiri," katanya.
"Udah lu anggap adek sendiri ya?" tanya gue.
"Kayaknya iya. Malah udah gue kasih nama buat kucing ini. Lu tau nama kucing ini apa?"
"Apa?" gue penasaran.
"Hermandez. Karena nama pemiliknya Herman."
"Terserah lo aja, deh, Man." Gue nyerah.

Selesai makan, kucing itu menjilati pantatnya. Herman pun nggak mau kalah. Herman menjilati pantat kucing itu. Gue pengen muntah ngeliatnya.

"Hehehe, sorry. Kelepasan." Herman nyengir kuda.

Sejak Herman memasuki jenjang SMP, gue udah nggak pernah main bareng dia. Kondisi itu makin parah setelah Herman pindah rumah tanpa gue ketahui rumahnya di mana. Pernah suatu hari, gue melihat Herman sedang dibonceng motor oleh temannya. Ingin gue kejar, tapi gue cuma naik sepeda. Susah buat ngejar motor itu yang jalannya ngebut banget.

Setelah lulus SD, gue masuk SMP Sederhana. Gue agak menyesal masuk sekolah ini. Gue  takut terkena pengaruh dari lingkungan sekolah yang buruk. Sekolah gue terkenal sebagai daerah pemasok narkoba nomor satu se-kecamatan. Konon, belum lama ini ada orang Kuba datang ke lingkungan sekolah gue. Dia menyamar menjadi tukang es potong depan SD dekat sekolah gue.

Suatu hari, pada jam istirahat, gue menyempatkan diri ke lapangan bola. Udah lama gue nggak nonton bola. Semenjak Herman pindah, gue udah nggak pernah main, bahkan nonton bola. Di lapangan, sedang bertanding antara kelas 9 melawan kelas 8. Kata orang-orang, kelas 9 punya jagoan yang gaya mainnya mirip Didier Drogba. Bukan, bukan mirip orangnya. Apalagi dakinya.

Bola dilempar kiper tim kelas 9 ke seorang striker. Penonton menyoraki, "HERMAN!! HERMAN!!" Ada juga yang menyoraki "Ayo, Drogba!"

"Tunggu. Herman? Jangan bilang dia Herman yang pernah gue kenal dulu?" tanya gue dalam hati.

Bola itu ditahan dengan dada oleh orang yang disebut-sebut sebagai Herman. Orang itu langsung bersiap untuk melakukan salto. Tiba-tiba, seorang teman setimnya mengangkat kaki. Kaki itu menghujam perut Herman. Herman langsung tersungkur, bola jatuh tanpa penguasaan.

"BANGSAT! NGAPAIN LO NENDANG PERUT GUE!" teriak Herman sambil memegangi perut.
"Gue kesel sama lo, Man! Tiap main nyetak gol terus, sedangkan gue temen setim lu cuma bisa ngerebut bola doang!"
"TAPI NGGAK GINI CARANYA, ANJ!" Belum selesali teriak, Herman berdiri kemudian memukul temannya. Beberapa pukulan menghantam wajah orang itu. Pukulan paling sering diarahkan ke pelipis. Gue melihat itu, kemudian yakin, ia Herman yang pernah gue kenal. Pukulan Herman yang pernah menolong gue dari sikutan pemain lawan. Gue harus memberhetikan pukulan Herman ke temannya, sebelum temannya mati dengan keadaan bonyok di muka.

"Herman, berhenti, Man!" gue mendorong pundak Herman, kemudian dia tersungkur.
Herman hampir melayangkan pukulan ke arah gue. "Lo nggak usah--," tangan Herman masih melayang, tapi tertahan melihat tangan gue berusaha menutupi wajah. Gue takut keadaan muka gue jadi makin bonyok.

"Robby? Lo Robby?" tanya Herman.
Gue membuka wajah dari tutupan tangan. "Iya, Man. Gue Robby. Temen lo masa kecil."
Herman menelan ludah. Kemudian dia memeluk tubuh gue, menangis di pelukan gue. "Kehidupan gue sekarang hancur banget, Rob," katanya sambil terisak.
"Tenang dulu. Lo jangan nangis di sini. Ini lapangan, tempat kekuasaan lo. Malu diliatin anak satu sekolahan."
"Iya..." Herman menyeka matanya dengan tangan.

Orang-orang yang ada di dalam dan di pinggir lapangan bersorak, "DROGBA CENGENG! HUUUU!" Kemudian sepi.

"Bentar lagi bel masuk, gue mau cerita panjang. Pulang sekolah bisa ketemu gue nggak?"
"Boleh."

Sesuai dengan janji, gue dan Herman ketemuan di warkop yang nggak jauh dari sekolah. Suasana canggung.
"Bang, kopi item satu ya," kata Herman ke mas-mas warkop. "Lu mau apa? Gue bayarin nih."
"Hmm... aqua gelas aja."
"Aqua gelas satu, bang."

Kemudian Herman mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Gue kaget. "Buset, sekarang lo ngerokok, Man?"
"Iya. Gue udah kecanduan sejak kelas 7."

Herman bercerita, sejak pindah rumah dia nggak punya lagi kehidupan seperti dulu masa kecil. Nggak ada lagi yang namanya makan-makan bareng kucing. Walaupun masih sering main bola, Herman lebih sering main bareng orang-orang 10 tahun di atasnya. Paling kecil dia sendiri. Tiap kali timnya menang taruhan bola, Herman pasti disuruh ikutan ngerokok.

Herman juga jadi sering berantem. Gue nggak heran dengan kebiasaannya, sejak kecil udah terlihat bakat menjadi atlet UFC. Suatu hari, dia pernah menolak tawaran untuk nggak mau ngerokok. Abang-abang yang nyuruh Herman, merasa tawarannya nggak dihargai. Herman dipukul hingga babak belur. Keesokannya, Herman balas dendam dengan memukuli abang-abang itu ketika tidur. Dia pukuli pelipisnya hingga berdarah. Abang-abang itu melapor ke orang yang lebih tinggi kekuasaannya di gank (tentunya abang-abang juga). Herman dipukuli hingga bonyok. Bahkan, hingga nggak masuk sekolah seminggu.

"Kenapa lo nggak balik lagi ke rumah yang dulu?"
"Maunya begitu. Ini semua karena kondisi keluarga yang nggak mungkin gue ceritain."
"Oh gitu."
"Beruntung gue bisa satu sekolah sama lo, Rob. Gue merasa ada harapan untuk hidup lebih baik."
Gue menyedot air hingga habis.

Bagi Herman, gue adalah cahaya baru yang memberi harapan hidup kelamnya. Sedangkan bagi gue, Herman adalah seseorang yang berani melawan ketidakadilan. Gue belajar untuk nggak menjadi cowok lemah. Kalo lo dipukul cowok, pukul balik, begitulah kata-kata yang pernah gue dengar dari Herman yang terus melekat pada gue.

Ada orang yang paling prihatin dengan perubahan sikap kita di masa dewasa, yaitu sahabat kita masa kecil.


6 komentar:

  1. Dan adanya sahabat baru pun tidak akan bisa menggantikan sahabat yang lama~

    ReplyDelete
  2. Makan bareng kucing dan membela temen sungguh laki-laki keren :-)

    Iya, jadi laki jangan banyak cakap, pukul selesai. Hehehe

    Sahabat lama emang yang paling berkesan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap! Permasalahan selesai, berlanjut ke rumah sakit.

      Delete
  3. Herman memang bermental kuli, tapi baik hati ya :)))

    Trenyuh baca ini, Rob. Kisah persahabatan yang terpisah lalu disatukan kembali bikin mengharu biru. Dan ya, pergaulan bisa mempengaruhi kepribadian seseorang. Kalau seandainya Herman nggak pindah rumah, mungkin dia nggak kecanduan rokok. Dia malah kecanduan kamu. *ini apa sih*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muka beton, hati gulali, ya. Hahaha..

      .... apa yang bisa bikin Herman kecanduan gue? #SoalUN

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.