26 December 2015

Gara-gara Nilai

Bel berbunyi. Semua siswa berhamburan menuju gerbang sekolah. Namun, ada di antara mereka yang mampir ke kantin. Herman berjalan sendiri menuju kantin. Dia ada janji untuk berduaan dengan gebetannya di depan warung soto. Yap, ibu penjual soto adalah gebetannya.

Belum sampai di warung soto, Herman melihat cewek berambut panjang dan memakai tas hitam dengan sedikit warna merah di tali bawahnya, sedang duduk di meja panjang menutupi wajah dengan tangannya. Herman buru-buru mendekati cewek itu, dia mengenalinya. Namanya Laksmi, teman sekelasnya.

"Laksmi," panggil Herman, "ngapain lo di sini sendirian? Pake nutup-nutupin muka lagi."
Laksmi buru-buru membuka wajah dari tangannya. Mengusap air mata yang tersisa di pipinya.
"Nggak... ngg.. cuma duduk aja di sini," jawab Laksmi terbata-bata.
"Pasti lu ada masalah, ya? Cerita ke gue, siapa tau gue bisa ngasih solusi."
"Gue malu."
"Jangan bilang lu gak mau cerita karena lu abis dipasung di kamar mandi. Nggak, kan?"
"Nggak, lah, gila!" Laksmi buru-buru membantah.

Herman duduk di kursi panjang seberang, berhadapan dengan Laksmi. Dia menunggu Laksmi bercerita, tapi Laksmi nggak kunjung mau bercerita. Herman lupa apa tujuan awalnya ke kantin.

"Laksmi, cerita dong. Gue kepo nih," paksa Herman. "Gue rela deh ngedengerin semuanya."
Dengan nada mengancam, Laksmi mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Herman. "Tapi, jangan bilang ke semua orang," tatapannya makin tajam, "terutama ke orang sekelas."
"Iya." Herman menjawab ketakutan. Bicaranya seperti anak yang udah nggak bayar SPP tiga bulan.

Laksmi menarik nafas panjang. Dia terbatuk sekali. Sedangkan Herman mukanya makin penasaran.

"Gini... lu tau kan tadi kita baru aja ulangan harian Matematika?" tanya Laksmi.
"Iya, emang kenapa?" Herman menanya balik.
"Lu tau kan nilai-nilai orang di kelas gimana?"
"Ancur."
'Nah... karena itu," jeda, "gue nangis di sini."

Memang, pagi tadi ulangan Matematika di kelas 11 MIPA 7 sangat ancur. Nggak ada yang mendapat nilai tuntas.

"Lu tau kan gimana sakit hatinya gue?"
"Nggak tau."
"Ish, lu mah nggak ngerti!"
"Kenapa sih emang?"
"Selama gue sekolah 11 tahun, gue nggak pernah dapet nilai jelek ulangan Matema–."
"Tunggu," Herman memotong cerita Laksmi. "Berarti,... lu nggak pernah TK dong?"
"Nggak!" jawab Laksmi cepat. "Ini apaan sih? Masalah gue bukan itu!"
"Oke, lanjut..."
"Sebentar." Laksmi mengambil handphone dari dalam tasnya.

Sambil menunggu Laksmi melanjutkan cerita, Herman memainkan handphone-nya. Mengetik pesan yang dikirim untuk seseorang. Tertulis di layar: My lovely.

My lovely: Sayang, kamu kok asik banget, sih, ceritanya sama temen kamu? Aku merhatiin loh dari jauh.
Herman: Iya, sebentar ya. 15 menit lagi aku ke warung kamu.
My lovely: Bener ya? 15 menit kamu nggak ke warung aku, kamu nggak boleh makan di warung aku 5 tahun.
Herman: Tapi, setahun lagi aku lulus
My Lovely: :(

"Udah sms-annya?"
"Eh, u–udah kok." Herman langsung menaruh handphone di saku celananya. "Ayo, lanjut ceritanya."
"Susah ya, punya gebetan yang posesif. Udah gitu, lebih tua lagi. Hahaha."
"Udah deh, ayo lanjut.

Laksmi memasukkan handphonenya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Matanya menjadi lebih basah.

"Gini, Man. Ada yang bikin gue tambah dilema." Laksmi mulai bicara dengan wajah serius. "Barusan bapak gue sms... nanyain nilai ulangan Matematika."

Herman menelan ludah. Laksmi melanjutkan ceritanya. Katanya, sewaktu bapaknya Laksmi masih sekolah dulu, beliau punya pengalaman buruk sama Matematika.
Bapaknya Laksmi pernah dapat nilai ulangan harian Matematika paling buruk berturut-turut dari awal masuk SMA hingga lulus sekolah. Nggak tanggung-tanggung, paling buruk satu angkatan. Padahal, zaman SMP, bapaknya Laksmi selalu paling atas kalau urusan nilai Matematika. Minimal peringkat tiga seangkatan.

"Buset, bapak lu jago juga ya, Mi." Mata Herman berbinar-binar. "makannya apa sih, gue juga mau kayak gitu."
"Makan mah biasa," jawab Laksmi. "Makanya, jangan makan kuah soto mulu. Hahaha."
"Jangan bahas ke situ dulu. Please."

Bapaknya Laksmi sering diejek oleh teman-temannya yang dapat nilai lebih bagus. Dibilang pinternya udah kadaluarsa, pinternya cuma nyampe SMP doang, dan kemampuan otaknya melemah. Itu membuat bapaknya Laksmi stres. Pelajaran Matematika seolah menjadi musuh besar yang siap memangsanya kapan pun. Setiap kali mendengar rumus-rumus, dia langsung pergi menjauh. Setiap kali mau nyebrang, dia tengok kanan-kiri.

Herman mengangguk. Kini tangannya mengusap daun telinga, kemudian jari kelingkingnya masuk, mengorek telinga bagian dalamnya.

"Gue harus gimana, Man? Gue takut ngecewain bapak gue karena nilai ulangan hari ini."
Herman diam, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Tiba-tiba Laksmi menangis. Dia menutup mukanya dengan tangan kembali.
"Eh, eh, kok lu nangis? Jangan nangis dong."
"Gue malu, Man. Gue takut diomelin bapak gue. Hiksss~"

 Herman cemas dan bingung. Belum pernah dia menghadapi cewek nangis. Sama sekali.

"Jangan nangis, Mi." Herman menggoyangkan kedua pundak Laksmi. Kemudian meraih tangan Laksmi yang menutupi wajahnya.
"Jangan nangis lagi dong,"
"Tapi nilai gue,"
Herman semakin panik. Dia mengusap air yang keluar deras dari hidung Laksmi menggunakan dasi abu-abunya.
"HERMAN!"
"Ya, sorry deh. Gue nggak ngerti cara nenangin cewek nangis."

Laksmi menghentikan tangisannya. Hidungnya masih kesulitan bernapas.

"Saran buat gue dong, Man. Gue takuut."
"Apa ya, Gue juga bingung." Jawaban Herman makin menyudutkan Laksmi. "Lu kan tau sendiri kalo nilai gue selalu suram, nggak cuma Matematika. Tapi semua pelajaran."
"Kalo gitu... KOK LU BISA NAIK KELAS SIH?!" Laksmi mulai sewot.
"Ya, mana gue tau. Orangtua gue nyogok kepala sekolah kali."

Herman menggaruk-garuk jidatnya. Ada satu jerawat yang kena garuk. Berdarah.

"Gini aja deh, bilang ke bapak lu kalau nggak selamanya orang bisa dapat nilai bagus. Ada saatnya dapet nilai yang nggak memuaskan buat lu, buat bapak lu."
Sambungnya, "Hidup itu harus ada variasi. Nggak melulu bisa dapet apa yang kita mau. Siapa tau, dengan nilai lu yang nggak bagus bisa bahan pelajaran. Mungkin waktu itu lu lengah, lu kurang persiapan."

Laksmi cuma diam.

"Emang nilai lu berapa sih?" tanya Herman.
"60."
"Segitu mah nggak jelek, woy!" kata Herman setengah marah. "Lu cuma nggak beruntung buat mencapai tuntas. Liat nilai gue," Herman mengeluarkan kertas hasil ulangannya, "Cuma 45. Biasa aja. Gue lebih ngambil hikmahnya, berarti rejeki gue bukan di Matematika."

Handphone Laksmi bunyi. Ada sms masuk di handphone-nya. Dia membaca dan mengetik cukup lama, kemudian menaruh kembali handphone ke dalam tas.
"Makasih, ya, Man, udah mau dengerin curhatan gue, plus ngasih solusi. Gue mau pulang dulu, udah dijemput." Laksmi segera berdiri dari tempat duduk.
"Oke, hati-hati, ya. Kalo lu diomelin bapak lu, kasih tau apa yang gue omongin tadi."
"Oke." Laksmi mengacungkan jempolnya ke Herman. Dia jalan menuju pintu gerbang belakang sekolah, kemudian tangannya melambai ke Herman.

Herman masih duduk di kursi panjang sambil senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba ibu-ibu berdaster ungun dengan motif bunga warna putih datang menghampiri Herman,
"Oh gitu ya sekarang, udah dapet cewek baru. Kita putus!"
"Kita... KITA BELUM PACARAN, BU!"
"Jadi kamu anggap aku apa?"
"Cuma sekedar pelanggan dan penjual aja, kok. Nggak lebih."
"Jangan pernah beli soto di aku lagi." Herman buru-buru lari.

Sejak saat itu, Herman memutuskan untuk nggak pernah ke kantin lagi hingga dia lulus. Ya, dia takut badannya dicincang untuk dicampurin ke kuah ibu penjual soto.
"Duh, gue kapok deh ke kantin lagi."
"Kenapa lu?"
"Nanti aja. Gue trauma sama penjualnya."
"Hahaha, segitunya amat nge-php-in ibu soto."
"Jadi lu tau ceritanya?"
"Semua orang yang ngeliat poster pagi ini, pasti tau."

Herman langsung pucat wajahnya. Nggak bisa berkata-kata lagi.

"Eh, kemarin gue bilang ke bapak gue semua yang lu omongin ke gue," kata Laksmi.
"Terus kata bapak lu apa?" tanya Herman.
"Lu disuruh nemuin dia. Mau diceramahin kayaknya."
"Mampus gue..." Herman menepuk jidatnya. Empat jerawat pecah, kemudian berdarah.

20 comments:

  1. AHhaahhahaa lucu banget. Sekarang gue tau ternyata elo menjalin hubungan dengan ibu penjual soto. Duh bro...ga ada yang laen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan gitu ceritanya. Kan di situ Herman, bukan gue -_-

      Nggak ada niat buat macarin tukang soto kok. Suer.

      Delete
  2. Gara-gara nilai jadi dapat banyak masalah. Ini cerpen atau gimana sih Rob ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau deh. Enak-enakin aja, seadanya :D

      Delete
  3. Hahaha, hidup emang kudu ada variasinya kayak motor. Biar apa? Ya biar bisa beda lah sama motor lain yang bentuk, warna, jenis kelaminnya sama. Kalo si Herman politisi, udah gua dukung dia jadi presiden lah. wkwkwk

    Salam kenal, bro.
    http://penjajakata.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Errrr... ini maksudnya apa ya? Kok nyerempet ke motor-presiden segala?

      Terus, pacaran sama ibu penjual soto termausk variasi hidup? Ngeri ngebayanginnya.

      Delete
  4. Bahahahahaa. Bicaranya si Laksmi seperti anak yang nggak bayar SPP tiga bulan. Untung nggak seperti anak yang telat tiga bulan ya, Rob. Ternyata kamu belum mesum. Alhamdulillah....

    Si Herman PHP in ibu soto :( Btw itu cerpennnya emang udah sampe situ? Atau ntar ada lanjutannya? Penasaran si Herman bakal kayak gimana ngadapin Bapaknya Laksmi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amit-amit deh kalo sampe telat tiga bulan. Alhamdulillah ya. Tapi jangan gitu dong, nanti jadi mesum beneran :(

      Uh.. nggak tau juga nih cerpen mau dibawa ke mana. Kayaknya nyampe sini aja. Endingnya? Mungkin si Herman dipenggal. Who knows? :p

      Delete
  5. gebetan lo itu lho keren.
    Biar dapet gratisan makan terus kan.. dasar modusss.. wkwkwkw

    Bro... Blogwalking yukk.. blog lo udah gue tempel di blog gue..
    Gantian ya brooo.. thanks

    cek disni banyolanesia.blogspot.co.id/p/blogwalking.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. KOK GEBETAN GUE, SIH??! Sakit loh digituin. Perih :(

      Delete
  6. wkakakak seru juga nih, kire-kire gimana yak nasip si herman itu selanjutnya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak berkelanjutan kayaknya. Tergantung mood ngelanjutin ehehehe

      Delete
  7. cerpen yak? lucu juga sih kalo di baca baca. alur ceritanya enak dibaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm, nggak tau juga. Apa ini bisa disebut cerpen? Hahaha. Tapi, makasih ya~

      Delete
  8. Wih, gue baru baca cerpen di blog lagi nih setelah sekian lama. Biasanya baca yang curhatan mulu. Lucunya dapet, alurnya bikin penasaran, dan ending-nya boleh juga. Hm... tapi menurut gue agak terlalu banyak dialog yang agak kurang penting ya, Rob?
    Jadi kayak bertele-tele gitu, sih.

    Namun, karena itu ngawurnya untuk komedi mungkin dimaklumi. Overall, keceh!

    Ini gue apaan coba ya komentar kayak juri? Maafkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wih, dikomentarin sama salah satu personil WIDY. *terharu*

      Ini sebenernya karena pelarian dari bosennya liburan. Nggak asik aja kalo curhat, tapi isi cruhatannya cuma tidur aja <- ketauan males.

      Makasih atas komentarnya yang membangun ini. Sering-sering aja ada yang komen begini hehehe.

      Delete
  9. Hermaaaann. Aku mau curhat sama herman juga. Hahahaha. Pea banget dia pacaran sama mbak kantin. :))

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.