Classmeeting 2015

Gue percaya, setiap kejadian yang pernah kita lalui di masa lalu akan kembali diingat pada masa mendatang. Berhubung gue orangnya agak lupaan, maka gue harus menulis kejadian yang pernah gue lalui biar bisa dibaca kembali dan gue ceritakan pada orang banyak. Oke, gue mau cerita banyak di post ini.

Jangan di-close dulu, bentar lagi mulai.

Here we go..

UAS udah selesai. Rasanya semua beban rontok begitu aja setelah hari terakhir ujian, padahal masih ada pekan remedial. Setelah pekan remedial usai barulah semuanya benar-benar lega. Nah, biasanya setelah itu ada kegiatan yang paling seru sebelum ngambil rapor, yaitu classmeeting.

Sekolah gue ngadain tiga lomba di classmeeting, yaitu futsal, voli, dan tarik tambang. Kelas gue ikut semua lomba, dengan orang yang hampir itu-itu aja. Gue nggak ngerti kenapa bisa begini, entah dasarnya anak MIPA nggak doyan acara beginian atau emang mereka merasa nggak diajak. Bodo amat, yang penting gue main.

Untuk lomba voli, kelas gue udah kalah di pertandingan pertama lawan kelas 10 IPS 2 (kalo nggak salah). Parah, ya, masa kalah sama kelas 10. Udah gitu pemain lawan make dua orang cewek di timnya. Belakangan gue baru tahu, ternyata dua orang itu anak voli.  Pantes gue kalah.

Senasib dengan voli, lomba tarik tambang juga kalah di pertandingan pertama lawab kelas 10 MIPA 2. Parah, ya, masa kalah sama kelas 10? Kenapa dari tadi gue ngomong "parah, ya, masa kalah sama kelas 10"? karena udah jadi gengsi anak sekolah nggak boleh kalah lawan adik kelas. Bagi adik kelas, yang bisa ngalahin kakak kelas, saatnya mereka ngeledek kakak kelasnya.
Untuk laga voli dan tarik tambang selanjutnya, gue cuma jadi penonton.

Ah, masa cuma jadi penonton. Harus jadi pemain juga dong. Gue datang ke sekolah sebagai pemain, bukan penonton. Setelahnya gue bakal cerita sebagai pemain. Pemain futsal.

Pertandingan futsal pertama kelas gue melawan kelas 11 BB, atau lebih dikenal dengan jurusan Bahasa. Gue nggak tau "B" yang satunya apalagi, entah Bahasa Betawi atau Bahasa Belanda. Kayaknya Budaya dan Bahasa.

Pertandingan pada pagi itu berjalan canggung bagi gue karena udah lama nggak main futsal. Apalagi untuk laga bergengsi sekelas classmeeting, grogi gue makin parah. Makin parah setelah ngeliatin orang-orang yang nonton rame banget. Gue tau, mereka semua bukan suporter kelas gue, tapi mereka dari kelas lain yang iseng nonton futsal karena nggak dibolehin pulang sama satpam. Kalian pasti tau nggak semua orang suka futsal dan classmeeting. Keduanya beralasan sama: sama-sama buang waktu.

Beberapa kali kegrogian gue menimbulkan kerugian tim. Gue sering gagal menahan bola, penjagaan gue ke striker lawan sering lepas. Selain grogi, ada faktor lain yang nggak enak buat diceritain. Dari faktor internal, celana boxer gue sering melorot. True story, tiap kali gue lari boxer gue mau lepas. Untung gue pake celana training. Semenit-dua menit gue naikkin celana. Bentar-bentar, megangin celana. Kalo ada orang yang ngeliat mungkin mengira gue lagi nahan boker di lapangan.
Beruntung, pertandingan itu diakhiri dengan skor 3-2 untuk kemenangan kelas gue. Kelas gue main lagi sore hari.
Masih hari yang sama, pertandingan selanjutnya adalah antara kelas gue melawan 11 IPS 2. Karena main sore, jadinya kelamaan nunggu mengingat kami semua datang dari pagi. Kalo pulang dulu bisa aja sebenernya, tapi takut ketiduran.
Itu yang terjadi pada tim lawan. Mereka kekurangan pemain pada saat pertandingan seharusnya dimulai. Setelah berunding, mereka main hanya dengan 4 orang.

Kelas gue berhasil menang 2-0 sebelum peluit babak pertama bunyi. Beberapa menit sebelum babak pertama beakhir, satu orang dari tim lawan hadir. Setelah mereka main dengan lengkap, skor jadi imbang. Gue mulai takut kalah.
Setelah balas-balasan hingga 3-3, kelas gue mencetak dua gol tambahan. Di pertandingan ini, gue nyetak satu gol. Hahaha lumayan, buat ngebanggain diri. Kali aja ada tukang ojek nanyain gue di jalan, "Dek, berapa gol yang kamu cetak di perjalanan karir futsalmu?" Lalu gue menjawab sambil mengangkat kerah, "Sudah banyak gol yang saya cetak ke gawang lawan. Satu yang saya ingat adalah satu gol ke gawang 11 IPS 2." Kemudian gue dibonceng touring ke Lombok. Wuidih, keren kali, ya.
Skor akhir pertandingan sore hari itu adalah 5-3 untuk kemenangan kelas gue. Kelas 10 IPS 1 telah menunggu besok di perempat final.

Keesokannya, gue melawan 10 IPS 2. Karena hujan turun dan lapangan jadi basah, terpaksa pertandingan terus-terusan diundur. Seharusnya bisa main jam 10, tapi kegeser terus waktunya. Jam 1 siang bisa main, tapi hujan turun. Akhirnya, baru main jam 5 setelah nunggu dari pagi. Ah, rasanya pengen jadi pawang hujan biar bisa menangkal hujan. Eh iya, hujan itu, kan, rahmat. Kedatangannya nggak harus disyukuri dan nggak boleh dicegah. #EdisiBener

Biarpun kelas 10, tapi mereka gue takuti. Soalnya gue pernah main lawan kelas itu, kelas gue kalah. Makanya gue agak ngeri. Tapi semangat teman-teman yang membawa gue untuk berani meneruskan perjuangan hingga sini. Gue harus maju,... maju, mundur, mundur, cantik... cantik.

"Sebelum memulai pertandingan, marilah kita berdoa agar pulang membawa kemenangan," kata Wahyu. "Berdoa mulai."
"Selesai."
Kemudian Ikhsan memberi yel-yel penyemangat, "Sebelas MIPA satu..."
"WOYY... WOYY... WOY... WOWOYY." teriak kami semua.

Itulah ritual awal pertandingan dari kelas gue. Entah kenapa, teriakan itu membuat kegrogian gue rontok, keluar bersama teriakan yang menggema ke seluruh penjuru sekolah. Cuma itu yang bisa jadi peningkat semangat gue setelah teman-teman sekelas nggak ada di pinggir lapangan untuk mendukung. Sedih ya, punya temen sekelas nggak ngedukung.

Tugas gue simpel. Gue hanya terus menempel pergerakan lawan-yang-make-celana-boxer-hitam. Setiap ke mana pun dia bergerak, gue ikuti. Bahkan, gue rela nggak dioper demi terus mengikuti. Bukan karena dia jago, tapi gue takut kalo ngikut nyerang nanti gue jatuh karena lapangan masih licin. Lawan-yang-make-celana-boxer-hitam sempat emosi ketika gue pegang lengannya. Ya, mungkin dia takut kalo gue apa-apain di tengah lapangan.

Nggak, kejadiannya nggak kayak yang kalian bayangin kok. Sumpah, gue nggak nafsu sama orang itu.

Licinnya lapangan nggak menghalangi usaha kami. Satu gol tunggal dari Wahyu membawa kelas gue melaju ke semifinal yang dilaksanakan Kamis.

Kamis pagi, langit terlihat mendung ketika gue berangkat sekolah. "Paling cuma mendung, hujannya nanti siang," pikir gue. Sekitar jam setengah 7 gerimis turun, membuat lapangan becek. Kemudian hujan turun nggak lama. Lapangan harus diburu-buru dikeringkan karena nanti jam 8 akan ada acara lain di sekolah gue.

Setelah lapangan hanya tersisa sedikit genangan air, barulah semifinal pertama dimulai antara 11 MIPA 1 lawan 12 MIPA 4.  Lawan kami ini adalah kelas yang biasa jadi lawan kami saat jam pelajaran olahraga, dan hasilnya selalu kalah. Gue agak ciut ngadepin kenyataan itu.

Seperti biasa, tugas gue hanya terus menempel pemain lawan. Giyats membuka gol untuk tim gue. Selanjutnya dibalas tim lawan. Kejar-kejaran skor hingga 2-2, hingga akhirnya Giyats mencetak gol terakhir menutup kemenangan untuk tim kami. Nggak disangka, kelas gue masuk final!

Selanjutnya semifinal kedua, yan menandingkan derby 12 IPS, antara 12 IPS 1 vs 12 IPS 1. Pertandingan ini pasti bakal sengit, soalnya kedua kelas punya pemain-pemain yang masuk tim futsal sekolah. Kalo dibandingin sama kelas gue, cuma Wahyu yang masuk tim sekolah. Gue sih, cuma masuk kantin sekolah aja udah bangga. Hehehe.
Pertandingan ini dimenangkan 12 IPS 1, yang akan jadi lawan kami di final. Ekstrim, nih, kelas. Isinya anak futsal semua.

Mengetahui kenyataan berat itu, mental gue jadi turun. Apalagi di hari sebelumnya kelas 12 IPS 1 baru aja menang 10-0 lawan kelas 11 MIPA 2, yang merupakan kelas tetangga gue. Gue makin takut setelah lapangan kembali diguyur hujan. Bikin gue takut lari-larian ngejar pemain kelas 12 yang lincah-lincah.

Pertandingan final diawali dengan foto bersama. "Anjrit, gue belum pernah ngerasain ini semua," kata gue dalam hati. Ternyata ini yang namanya final. Ditonton banyak orang, semua mata tertuju ke lapangan. Untung hari ini celana gue udah ganti.

"Pokoknya jangan takut. Skill bakal kalah sama semangat," kata Wahyu memberi suntikan semangat.
"Ayok," kata Ikhsan, menaruh tangannya di bawah, kemudian disusul tangan kami di atasnya, "Sebelas MIPA satu... WOYY... WOYY... WOY... WOWOYY."

Teriakan itu kembali berefek positif pada gue. Pendukung 12 IPS 1 lebih siap untuk ngasih semangat. Mereka ada yang bawa tam-tam. Gue nggak tau namanya, pokoknya alat musik yang dipukul dan biasanya ada di stadion. Cuma lebih kecil.

Kick off dari tim lawan. Kami langsung cepat menempel satu per satu tim lawan. Sampai sini, strategi itu masih works. Gerimis turun membuat gue terpacu untuk tampil terbaik. Kalo pun harus jatuh-jatuhan, gue rela. Demi juara 1.

Wahyu berada di sisi kanan pertahanan lawan. Melihat gue longgar penjagaan, dia langsung mengoper ke gue. Di depan gue ada Yuda, pemain lawan yang paling jago. Dia gagal mencegah bola, kemudian bola berhasil ada di kaki gue. Gue menggiring sedikit ke kanan, langsung gue tembak,

GOLLLLL

Teriakan komentator membuat gue nggak percaya. Gue nyetak gol di partai final. Gue reflek mencium jari telunjuk kanan, lalu mengangkat kedua jari telunjuk ke udara, mengikuti selebrasi dari pemain favorit gue, Ricardo Kaka.

Pemain idola gue
Gue langsung membayangkan karir gue selanjutnya. Gue dikontrak Real Madrid, kemudian cedera 8 bulan. Kasian.

Gol itu membuat lawan makin ngotot. Serangan demi serangan terus diberikan ke tim gue. Beberapa kali Eza menyelamatkan gawang. Sampai akhirnya, bola mengenai tangan Giyats di kotak penalti. Tendangan penalti diberi untuk tim lawan. Dan... gol. Skor 1-1. Mental gue turun drastis, seperti gerimis yang nggak kunjung berhenti.

Nggak lama kemudian, tim lawan mencetak gol kedua. Gol terakhir untuk babak pertama yang berakhir dengan skor 1-2 untuk tim lawan.

"Semangat terus. Cuma beda satu gol." Wahyu kembali menyemangati.

Sayangnya, kata-kata itu nggak mempengaruhi gue lagi. Gue jadi makin loyo, nggak bisa ngejar pemain yang lawan yang gerakannya lebih lincah. Dua gol bertambah ke gawang Eza. Skor 1-4 untuk tim lawan.

Peluang 12 IPS 1 makin banyak. Ketika pemain lawan tinggal satu lawan satu melawan Eza, pemain lawan memberi plesing ke pojok kanan gawang. Beruntung bola itu tertahan Eza dan pantulannya menuju keluar. Gue yang sedang lari dari belakang panik ingin cepat membuang bola ke arah corner. Kemudian gue tendang,.... dan..., MASUK KE GAWANG SENDIRI!
Saat-saat ketinggalan jauh begini gue malah nyetak gol ke gawang sendiri. Gue kesal, menepuk genangan air lalu airnya menyiprat ke muka gue. Gue lemas.

Dua gol lagi dicetak tim lawan. Gue udah nggak berani ngeliat papan skor. Begitu gue lari mendekati papan skor, gue diam. Gue teringat dengan perempat final Liga Champions 2006/2007.

Gue yang AS ROMA
Pertandingan berakhir. Semua pemain saling tos-tosan. Ini momen yang paling keren bagi gue. Tanpa alasan jelas, ini keren banget.

Wahyu yang dari tadi paling semangat tiba-tiba jadi lesu. "Ya udah, nggak papa. Yang penting juara 2."

Well, semua kerja keras dan keyakinan ini membawa tim ke final. Gue pengen menambahkan kata-kata yang pernah Wahyu bilang.
"Skill bakal kalah sama semangat." Seharusnya ditambah menjadi, ".... semangat juga bisa kalah kalau mental udah turun."

Yeah, gue udah selesai nih ceritanya. Terimakasih telah membaca curhatan gue ini.

PS: Besok hari pengambilan rapor. Persiapan gue cuma satu: baik-baikin orangtua biar efek marahnya berkurang sampai besok.

UPDATE!!!

Foto gue pas pertandingan pertama. Baju AC Milan hitam.





18 komentar:

  1. Class meeting emang kadang keliatan gak menarik bagi orang yang gak punya kepentingan apa2 di dalamnya, atau mungkin lebih tepatnya gak punya skill apa2 untuk diikutkan dalam perlombaan.. :D

    btw, gue bisa ngerti gimana rasanya futsal beginian, ya gue juga pernah nulis kisah futsal gue di buku 'Lelaki Gagal Gaul' #halah

    udah minder mulu tiap ketemu lawan, tapi eh menang mulu, pas udah banyak berharap, eh kalah banyak...

    Tapi usaha lo keren Rob, nyetak gol di final dan juga bunuh diri di final. Super~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, lebih tepatnya orang yang bisanya cuma ngatain dan nggak bisa apa-apa.

      Wuidih, promosi terselubung ehehehe.

      Hahaha, malunya juga super, bang.

      Delete
  2. Jadi flashback~
    Classmeeting bagi aku seru, bisa ke sekolah tanpa belajar dan tentunya dapet uang jajan. Ahehe. :|

    Acieee main futsaaal. Aku juga dulu main futsal, loh. Classmeetingnya ada futsal untuk cewek. Aku main, jadi back. Ahehehe. Seruuu. Aku lupa waktu itu menang atau kalah. Gak penting, sih. Yang penting itu saat-saat yang keseruannya nggak bisa dilupakaaan. Pas kuliah, jurusan aku nggak ada yang ngadain futsal cewek. Padahal jurusan lain ada. Aku kangen. Pengin main futsal lagi sampe mukanya pink kayak pig. Bhahaha. :')

    Lah, jadi curhat. Hahahaa. Kamu keren, Rob. Nyetak gol di gawang sendiri. Ngahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. #OrangnyaNggakMauRugi :D

      Keren juga ya. Cewek main futsal itu ngegemesin, lho :))

      Nyindir secara halus ini namanya. Tapi, makasih ya~ Bwehehe

      Delete
  3. tahun ini clasmeeting terakhir gue men.. dan emang bener, kalau udah ngedown mentalnya udah susah. udah nggak pede buat main soalnya.. yang tadinya nggak dijagoin menang bahkan bisa jadi juara. meskipun futsal selalu menjadi salah satu yang terseru, tapi semenjak kelas voli selalu menjadi olahraga gelar juaranya udah dikunci..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cieee, bentar lagi lulus. :D

      Oh iya, lu kan anak voli. Eh tapi lu jago main futsalnya. Voli juga seru kok (padahal gue kalah)

      Delete
  4. Classmeeting emang seruuu xD apalagi lihat cowok-cowok futsal :') duh, mimin jadi flashback~ x'D

    Bantu share ya, kak: Yang hobi baca buku maupun tidak, boleh minta waktunya sejenak untuk mengisi kuesioner singkat mengenai minat baca di Indonesia. Untuk data pendukung untuk program mengenai minat baca. Mau buku gratis? Ada 3 buku gratis 3 pengisi kuesioner terpilih. berikut link formnya >>> Http://goo.gl/forms/8QdMG7KvZS
    Jawaban kalian sangat berarti. Tolong bantu share lagi ya. =d

    ReplyDelete
  5. Kok zaman aku sekolah dulu ngga ada classmeeting yak? ._. *angkatan tua*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu nama sekolahnya Sekolah Rakyat, ya? :p

      Delete
  6. Lapangam sekolah lu bagus juga yaaa... Iri gua. Haha

    ReplyDelete
  7. Duh, jaman gue stm malah kelas gue yang sering menanng juara volly...
    kalau futsal masih baru baru ini :))
    hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuidih, keren nih. Kayaknya lu anak voli, bisa menang. :D

      Delete
  8. Gua dulu juga futsal waktu classmeeting. Dan gak grogi. Soalnya muridnya cowok semua. Haha.

    ReplyDelete
  9. Kalo masih kalah ama adek kelas mending nyemplung ke ciliwung aja hahaha

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.