28 December 2015

Akibat Terlalu Sering Nonton Film Gangster

Siang itu, gue sedang duduk di depan toko material sambil menunggu Herman mengambil uang kembalian membeli pylox. Ya, sebagai anak yang sering melakukan vandalisme, kami berdua suka mencoret-coret dinding di pinggir jalan. Biasanya coretan itu menunjukkan suara-suara kami yang provokatif, seperti Pelanggan Remedial Was Here, Hapuskan Guru Killer, dan Turunkan Harga Susu Kedelai di Kantin.

Selesai mengambil uang kembalian, kami bergegas pulang dengan menggunakan sepeda mini milik Herman, dengan posisi Herman sebagai pengemudi dan gue menjadi penumpang. Dalam perjalanan, kami melihat kanan-kiri jalan, melirik dinding yang masih bersih untuk di-pylox nanti malam.

Sayangnya, semua dinding yang kami lalui telah diisi oleh coretan lain yang memang udah terkenal di kalangan dinding Jakarta. Semisal, XTC, BOEDOET, dan KENTOET. Terpaksa, kami harus nyari dinding yang lebih jauh.

"Kenapa nggak dinding rumah lu aja yang gue coret," kata gue sambil berada di boncengan Herman.
"Sembarangan," kata Herman dengan nada ketus. "Mendingan lu aja bikin tembok sendiri, baru deh bisa bebas dicoret-coret."
"Oke," kata gue setuju, "tapi sepeda lu gue jual dulu."
"Mending lu yang gue jual."

Rute menuju rumah kami masing-masing harus melewati area geng 2000, yang dikenal sebagai geng penjambret uang dua ribuan. Konon, pernah terjadi korban di sini, tepatnya di minimarket yang berdiri di area tersebut. Ceritanya, ada seorang pengunjung minimarket parkir di sana. Begitu dia keluar, ada lelaki menodong pengunjung tersebut agar segera menyerahkan selembar uang dua ribuan.

"Rob, hati-hati tas lu. Jagain bener-bener," kata Herman sambil mengayuh sepeda.
"Iya, duit dua ribuan udah gue pegang nih," jawab gue sambil mengepal kedua tangan, memegang uang dua ribuan. 
"Bagus."

Begitu masuk area geng 2000, gue mulai merasakan sesuatu yang nggak enak. Tas yang gue gendong menghadap ke belakang, tiba-tiba ada bergerak mencurigakan. Begitu juga dengan suara knalpot bobokan yang mengikuti kami, makin membuat gue cemas. Angin begitu kuat berhembus. Kayuhan sepeda Herman makin cepat. Aroma bangke ayam tiba-tiba tercium.

"Man, lu kentut, ya?" tanya gue.
"Sorry, kelepasan. Hehehe."
"Brengsek."

*NGOEEEENGGGGG*

Tiba-tiba dari arah samping kanan sepeda, melaju motor Satria dengan cepat. Pengendaranya sendiri, berbadan besar, dan hanya memakai kaos kutang. Tubuhnya berkulit gelap. Kepalanya ditutupi helm berwarna hijau. Celananya boxer dengan logo Arsenal.

Motor Satria itu kini sejajar dengan kami posisinya. Abang-abang Berkaos Kutang itu berteriak, "MAU KE MANA LO!"
Sepeda Herman goyah. Bukan karena Herman panik, tapi sepedanya Herman ketakutan digentak Abang-abang Berkaos Kutang.
"Rob, gi-gimana nih?" kata Herman ke gue, suaranya gemetar.
"Buruan ngebut!"
"Mana bisa! Pasti kekejar, bego!"

Tanpa basa-basi, Abang-abang Berkaos Kutang langsung menendang sepeda Herman. Kami berdua terpental cukup jauh. Gue bangun dan lari meninggalkan Herman dan sepedanya.
"Woi, jangan kabur!" teriak Herman. "Sepeda gue gimana."
"Tinggalin aja. Ini urusannya nyawa."
Herman langsung berlari cepat. Kini dia sejajar dengan gue. Sedangkan Abang-abang Berkaos Kutang langsung mengejar kami dengan motornya.

Gue melihat ke kiri ada sebuah kali yang airnya keruh. Gue menepuk pundak Herman, lalu mengacungkan jempol kiri ke arah kali tersebut.
"Maksudnya... ki-kita nyebur?" tanya Herman dengan napas tersengal-sengal
"Buruan. Ini urusannya nyawa," kata gue mantap.
Kami berdua langsung lompat ke kali sesaat sebelum Abang-abang Berkaos Kutang sampai di pinggir kali. Kami menceburkan diri ke kali yang tingginya sedada.

"YES!" teriak gue sambil mengepalkan tangan ke udara, "kita bebas."
"YIHAAA!" Herman nggak kalah heboh. Kemudian tangan gue menantang Abang-abang Berkaos Kutang yang masih berdiri di pinggir kali. Dia mengambil sesuatu dari kantong boxernya. Dia mengeluarkan pistol.

"Mampus! Dia punya pistol."
"Aduh, gimana dong." Herman panik.
"Mau nggak mau, kita--"
"Harus nyelem? Nggak mau, ah," tolak Herman. "Kali di sini airnya bau."

Abang-abang Berkaos Kutang mengarahkan pistol ke arah kami.

"BURUAN SELAMETIN NYAWA LO!!" Herman telah berenang meninggalkan gue.
"Kampret! Tunggu gue."

Abang-abang Berkaos Kutang menembakkan pistolnya ke arah gue. Dia menyeringai.






"ARGHH!" gue menjerit. Gue memegangi perut, kesakitan. "Anjrit, pagi-pagi gini malah kebelet boker."

Mimpi gue semalem nyeremin. Buru-buru ke kamar mandi deh mendingan, menuntaskan hajat.

13 comments:

  1. Serem juga mimpi lo Robb, makanya kalau mau tidur baca doa dulu. kurang kurangin deh buat nonton film gengster

    ReplyDelete
    Replies
    1. (sebenernya, gue pun nggak pernah nonton film gangster)

      Delete
  2. Huaanjirrr! Mimpi doang keren amat, Rob! Macem film2 action gtuu. Tp ini mimpinya udh dimodif lah yaa psti, kalo enggak mah biasanya mimpi suka ngawur alurnya._.
    Itu pencopetnya kenapa demen duit 2000an?? 2000 mah cuma buat jajan ciki ama wafer doang kali. Kecuali nyolong duit 2000nya 2000 biji. Baru mantep. Hahaay.

    Efek tembakannya mantep jg ya, Rob. Gak bkin mati, cuma bkin mules pgn boker doang. Gue rasa itu tembakannya angin doang kali yak? Angin kentut~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan yang lebih keren, dikasih bumbu komedi. Gue sempet cengar-cengir. :D

      Delete
    2. (((mimpi dimodif)))

      Motor kali dimodif~ Bwehehe

      Hahahaha, biar beda gitu lho. Kan biar anti-mainstream.

      Anjir, mana ada tembakan yang cuma angin doang. Nggak asik banget itu mah :D

      Bang Yoga: Makasih, ya, personil WIDY!

      Delete
  3. Di paragraf ke berapa gue langsung sadar, "Ini kayak tulisan gue yang CFD. Hahaha."


    Tapi gue tetep menikmati ceritanya. Keren, Rob! Meskipun ujung-ujungnya, mimpi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, mungkin karena postingan kampret itu yang bikin gue nulis ini, bang Yog. Tulisanmu menginspirasi :D

      Delete
  4. Rob, Herman kenapa brandingnya sebagai cowok nggak setia gitu ya? Kemarin nggak setia sama ibu soto. Sekarang sama temennya sendiri. Ninggalin gitu aja. Keren deh Herman! *loh?

    Bener tuh kata Lulu. Mimpinya keren amat. Segala ada genrenya. Genre action. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya sama gue gitu? Untung cerita ini cuma mimpi *elus dada*

      Ini mimipi yang dirancang :D

      Delete
  5. Buset seru gila itu mimpinya. Nggak sekalian di film-in? Kan mayan duitnya bisa buat wujudin mimpi. *ini apasih*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadiw, sayang banget duitnya buat wujudin mimpi. Mending buat kipas-kipas, eh ketiduran deh. Hahaha

      Delete
  6. Kayaknya ini Lucid Dream deh... soalnya asyik banget bisa mimpi gitu terus bisa becanda lagi sama si herman.

    Lucu juga buat copetnya soalnya cuman copet uang 2000an . dan gang nya dinamain gang 2000. ngakak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak lucid dream juga kali ya. Ini cuma imajinasi dalam konteks mimpi~ Ehehe

      Delete

Terimakasih sudah membaca. Jangan malu-malu buat komen, karena komentarmu adalah semangat untukku.

Kamu mau, kan, jadi penyemangatku? Silakan berkomentar dengan sopan.